Beautifully Painful

Beautifully Painful
38. Don't Wanna Cry (2)



Anja


Ia menatap marah dengan ekspresi tak percaya kearah Cakra yang begitu melihatnya telah berdiri di depan pintu toilet, langsung melepaskan cengkeraman yang mengungkung Dipa.


Mata Cakra seolah mengatakan, "I can explain this shitty shit!"


Namun matanya langsung membalas sengit, "I don't care!"


Bertepatan dengan gerakan cepat sekaligus tak terduga Dipa yang balas memukul sekuat tenaga hingga membuat kepala Cakra terlempar ke belakang. Telak -lagi-lagi- !


Berhasil mengalirkan darah segar dari hidung Cakra akibat pukulan keras yang baru saja dilayangkan oleh Dipa.


"ADIPATI!"


Kali ini hanya terdengar pekikan kaget Bunda Dipa seorang. Karena Mama dan Teh Dara hanya bisa diam terlolong. Namun sedetik kemudian dengan cekatan Teh Dara mengangsurkan sekotak tissue kearah Cakra untuk menyusut darah yang keluar.


Sementara ia tak lagi mempedulikan apa yang sedang terjadi. Sudah cukup baginya melihat Cakra hampir mati dipukuli oleh Mas Sada. Ia takkan sanggup lagi melihat wajah Cakra yang masih menyisakan beberapa luka memar itu kembali dipukul oleh orang lain. Lebih memilih untuk berjalan ke tempat tidur dengan suasana hati yang keruh. Sangat kelam, hitam pekat.


Meski begitu, demi melihatnya kesulitan menyimpan kantung infus, inisiatif Cakra langsung muncul dengan bergerak mendekat bermaksud untuk membantu. Namun matanya lebih dulu membeliak marah seolah berucap, "Leave me alone! Go away!"


Tapi Cakra tak mengindahkan kemarahannya, tetap saja mengambil kantung infus untuk kemudian menyimpan di tempat yang semestinya.


Ketika ia hendak naik ke atas tempat tidur, Cakra kembali mengulurkan tangan bermaksud membantu. Tapi ia keburu mengibaskan dengan marah. Meski begitu Cakra seolah tak peduli, terus berusaha untuk membantunya.


"Biar saya aja," suara Teh Dara terdengar menengahi ketika mereka berdua saling melempar tatapan sengit. Sorot matanya yang diselimuti kekecewaan cukup lama bertautan dengan Cakra yang menatapnya penuh penyesalan. Eyes talk. Enough.


"Nggak papa biar saya aja," ulang Teh Dara sambil tersenyum kearah Cakra yang masih menatapnya dengan sorot menyedihkan. Namun ia memilih untuk tak peduli. Lebih suka membuang muka meski hatinya nyeri. Pertemuan yang diangankan sejak dua hari lalu kini justru berakhir buruk. Sangat buruk.


Dan ia benci dengan semua ini. Karena tadi dengan mata kepala sendiri, jelas melihat perilaku tak terpuji Cakra terhadap Dipa. Oh, come on! Apakah kaum Mars selalu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan semua persoalan? Itu kalau mereka berdua -Cakra dan Dipa- memiliki masalah. Dan apa sesungguhnya masalah mereka berdua? Ia benar-benar tak mengerti. Goddamned!


Waktu terus berjalan, kini Teh Dara telah beralih menyetel hospital bed melalui remote, namun Cakra masih saja termangu menatapnya.


"Segini cukup?" tanya Teh Dara yang langsung disambut oleh anggukan kepalanya.


"Makasih, Teh."


"Ya ampun, ini ada ribut-ribut apa sih?" tanya Bunda Dipa yang rupanya masih terheran-heran dengan keadaan membingungkan yang baru saja terjadi. Sambil mendekat ke arah tempat tidurnya mengikuti Mama yang telah lebih dulu melangkah. "Adipati Megantara??"


Namun Dipa tak menjawab. Mungkin tahu pasti jika Bunda memanggil dengan nama lengkap itu berarti sedang dalam kondisi sangat marah. Dipa hanya menunduk sambil meringis kesakitan memegangi pipi sebelah kanan yang tadi sempat dipukul oleh Cakra.


"Biasa, Tante," justru Teh Dara yang menjawab sambil tertawa sumbang. "Anak muda."


"Teu kenging kitu (nggak boleh begitu)!" sergah Bunda Dipa dengan kening mengkerut. "Budak baong (anak nakal)!" kali ini sambil menjewer telinga Dipa yang terlihat makin meringis kesakitan.


"Kamu siapa Jang (dari kata Ujang, sebutan untuk anak laki-laki, bahasa Sunda)?" tanya Bunda Dipa kearah Cakra yang masih termangu menatapnya.


"Teman sekolah, Tante," jawab Cakra dengan nada suara sopan sambil menundukkan kepala tanda menghormati.


"Teman sekolah kok malah gelut (berkelahi) ini gimana?!" Bunda Dipa semakin mengernyit bingung.


"Maaf," ujar Cakra lagi. "Saya yang salah."


"Jelas lo yang salah!" diluar dugaan Dipa membentak dengan wajah penuh emosi. "Ngapain lo disini?! Keberadaan lo sama sekali nggak diharapkan disini!"


"Adipati Megantara!!" namun justru Bunda Dipa yang balas membentak anaknya sendiri. "Jaga bicara kamu!!"


"Bun....," Dipa menghembuskan napas kesal. "Dia itu a...."


"Ntos (udah)...ntos (udah)," Bunda Dipa menggelengkan kepala dengan wajah memperingatkan. "Teu kenging (nggak boleh) gelut (berkelahi). Ini lagi di rumah sakit!"


Kemudian Bunda Dipa beralih kearahnya, "Anja sakit apa sayang?"


"Banyak istirahat sama minum air putih ya," lanjut Bunda Dipa lagi sambil membelai rambutnya. "Cuaca sekarang ekstrem. Jadi daya tahan tubuh harus bagus. Salah satu caranya banyak minum air putih."


"Iya, Tante," ia tersenyum mengangguk. "Makasih udah datang kesini."


"Harus dong," seloroh Bunda Dipa. "Kan Anja menantu kesayangan....," kali ini sambil terkekeh senang. Membuat Dipa tersenyum sinis penuh kemenangan, sementara Cakra hanya bisa menundukkan kepala sambil mengusap tengkuk dengan ekspresi canggung.


"Maafin Dipa ya Ceu (kakak perempuan)," Bunda Dipa menepuk bahu Mama. "Hari ini nggak tahu kenapa jadi agresif begitu."


"Ngerakeun kolot (memalukan orangtua)," lanjut Bunda Dipa sambil memberi tatapan menuduh kearah anaknya sendiri.


"Wios Ceu (tidak apa-apa)," jawab Mama yang memasang senyum penuh pengertian.


"Anja..."


Ia bisa mendengar dengan jelas gumaman Cakra yang memanggil namanya meski dengan suara pelan. Namun ia pura-pura tak peduli. Lebih memilih untuk tersenyum kearah Mama yang kini tengah membelai rambutnya dengan lembut.


"Ja..."


Kali kedua, telinganya masih sempat menangkap suara Cakra yang kembali memanggil. Namun bersamaan dengan Mama dan Bunda Dipa yang mulai menanyakan banyak hal tentang kondisi kesehatannya. Membuatnya -lagi-lagi- tak menghiraukan.


Ia masih tersenyum sambil menjawab sederet pertanyaan dari Bunda Dipa ketika sudut matanya berhasil menangkap bayangan Teh Dara yang tengah mengajak Cakra dan Dipa untuk bersama-sama keluar ruangan.


***


Dipa


Ia berdiri dengan amarah yang menggelegak sambil bersandar di salah satu sisi dinding ruang tunggu rumah sakit, sementara Teh Dara mengatakan hal-hal yang sama sekali tak ingin ia dengar.


"Sekarang yang paling penting kesehatan Anja."


"Cakra!"


"Harusnya kamu paham apa yang harus dilakukan! Bukannya nambah masalah kayak gini!"


Cakra yang berdiri lumayan jauh darinya dan Teh Dara, juga tengah bersandar di salah satu sisi dinding, terlihat hanya bisa menunduk tanpa berusaha membela diri sedikitpun.


"Sebenarnya kalian berdua ada masalah apa sih sampai berantem begitu?!"


"Saya nggak rela Anja dipeluk-peluk sama orang random kek dia, Teh!" tunjuknya emosi kearah Cakra yang masih diam dengan kepala tertunduk.


"Asal Teteh tahu," lanjutnya dengan mata nyalang dan telunjuk mengarah kepada Cakra. "Dia itu sama sekali nggak berhak ada disini, apalagi di dekat Anja!"


"Dia itu orang asing!"


"Dipa....," Teh Dara berusaha memegang bahunya, bermaksud untuk menenangkan. "Tolong kecilin suara kamu, ini kita lagi di rumah sakit."


"Sekarang saya yang nanya sama Teteh," ujarnya tak mempedulikan permintaan Teh Dara. "Ada urusan apa dia bisa ada disini?!"


"Di sekolah kami nggak pernah saling kenal! Kenapa tiba-tiba dia bisa menemui Anja trus main peluk-pelukan kayak tadi?!"


"Masalah lo apa hah?!" hati yang telah dikuasai oleh gelegak kemarahan menggerakkan dirinya untuk merangsek maju berusaha memiting Cakra yang dengan gesit berhasil menghindar terlebih dahulu.


"Eh, udah! Udah!" sergah Teh Dara yang langsung melerai mereka berdua.


"Ini di rumah sakit! Nggak boleh ribut!!" Teh Dara memposisikan diri diantara mereka berdua dengan wajah tak percaya. "Teteh anggap kalian udah sama-sama dewasa! Jangan jadi kayak anak kecil begini!"


Membuatnya membuang muka dengan kesal.


"Tadi Teteh udah bilang ke kamu, kalau Cakra sama Anja ada sedikit urusan yang harus diselesaikan," ujar Teh Dara sambil menatapnya tajam.


"Iya! Tapi urusan apa?!" ia menggelengkan kepala tak percaya.


"Jangan bilang lo lagi PDKT sama Anja!" bentaknya kearah Cakra yang masih saja berdiri tanpa ekspresi.


"Dipa...," Teh Dara meraih bahunya. "Tolong tenang."


"Saya nggak bakal bisa tenang!" sergahnya cepat. "Selama dia masih ada disini!" telunjuknya kembali mengarah pada Cakra yang masih terdiam tanpa ekspresi.


"Iya...iya...," Teh Dara menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Teteh tahu kamu cuma bermaksud melindungi Anja."


"Kalau gitu sekarang lo bisa pergi!" geramnya kearah Cakra. "Nggak ada urusan lagi disini!"


"Dipa," Teh Dara kembali meraih bahunya. "Baiknya sekarang kamu masuk ke dalam dulu. Biar Teteh bicara sebentar sama Cakra."


***


Dara


Ia menatap Cakra yang masih berdiri dengan punggung menyandar pada salah satu sisi tembok ruang tunggu dengan wajah tertunduk.


"Kita perlu ngobrol," ia berusaha membuka pembicaraan. Disusul anggukan Cakra yang mengikuti langkahnya berjalan menuju sofa ruang tunggu.


"Saya Dara," ujarnya setelah mereka berdua duduk di sofa ruang tunggu. "Kamu Cakra?"


Cakra mengangguk.


"Saya memang bukan kakak kandung Anja," lanjutnya sembari tersenyum. "Tapi saya pingin ngobrol sebentar sama kamu. Karena kemarin suami saya belum sempat ngobrol banyak kayaknya ya?"


"Keburu dihajar," lanjutnya lagi sebelum Cakra sempat menjawab. Membuat Cakra melihat kearahnya dengan pandangan terkejut.


"Saya istri Mas Sada, yang kemarin sempat gebukin kamu."


Kali ini Cakra tertawa.


"Nah, gitu dong, jangan kaku. Saya kan nggak akan gebukin kamu," selorohnya berharap bisa mencairkan suasana. "Udah cukup kemarin suami sama kakak ipar saya."


"Kamu kena hantam Mas Tama juga kan?" tebaknya sambil tertawa.


Hm, bagus. Jawaban Cakra mulai panjang. Ini bisa jadi awal yang baik.


"Kalau gitu untung dong."


"Kenapa untung?" Cakra mengernyit heran.


"Karena Mas Tama lebih serem daripada suami saya," jawabnya sambil tak bisa menahan tawa. "Kamu disenggol dikit aja bisa langsung roboh."


"Jatuh, tanpa tahu kenapa bisa jatuh," sambungnya menggunakan ungkapan hiperbola.


Sontak membuat mereka berdua tertawa lepas. Meski Cakra sesekali meringis kesakitan, mungkin akibat bekas pukulan Dipa yang mulai meninggalkan rasa pedih.


Sejenak kemudian mereka berdua terdiam. Masing-masing melempar pandangan kearah jendela kaca yang menyajikan hamparan kota Jakarta dari ketinggian lantai 8 gedung rumah sakit.


Perlahan Cakra mengambil sesuatu dari saku celana, yang ternyata sebuah dompet. Kemudian membuka dan menarik selembar kertas foto dan langsung meletakkannya di atas meja.


"Apa itu?" ia mengernyit heran.


"Hasil USG," jawab Cakra dengan kepala tertunduk.


Membuat tangannya bergerak untuk mengambil lembaran tersebut.


"Cute," desisnya sungguh-sungguh sambil memandangi foto hasil USG Anja dengan mata berbinar. Memandang foto hasil USG selalu berhasil membuat hatinya menghangat. Demi mengingat ada kehidupan baru yang akan segera terlahir ke dunia. Bagaimanapun caranya kehidupan itu bisa ada. Apakah dengan cara yang benar atau salah.


"Kamu cinta dia?" tanyanya sambil terus mencermati tanggal pemeriksaan USG, due date, dan ukuran janin. Yang berarti saat ini telah memasuki minggu ke 14, hampir 15.


"Siapa Kak?" Cakra balik bertanya.


Ia melambaikan lembaran foto hasil USG, "The baby."


Cakra kembali menundukkan kepala sambil tersenyum samar, "Saya mencintai dia beberapa hari setelah tahu dia ada."


Ia mengangguk mengerti.


"Karena hari pertama tahu dia ada, saya benar-benar bingung dan nge blank. Nggak tahu harus bagaimana," lanjut Cakra yang terus menunduk.


"Yang akhirnya memicu salah paham diantara kami berdua."


"Anja?" tanyanya.


Cakra mengangguk. "Anja mengira saya nggak menginginkan anak ini karena respon pertama saya yang sangat buruk."


"Padahal saya nggak bermaksud untuk lari atau apa," suara Cakra mulai bergetar. "Saya cuma kaget dan nggak nyangka kalau bakal begini kejadiannya."


"Saya cuma butuh waktu untuk berpikir dan...."


Ucapan Cakra terpotong sejenak. Namun ia masih diam menunggu. Tak ingin memotong semua unek-unek yang mungkin akan diungkapkan oleh Cakra.


"Saya minta maaf telah mengacaukan kehidupan Anja," ujar Cakra akhirnya dengan suara lirih.


Ia kembali mengangguk mengerti.


"Awalnya Anja sempat mau aborsi."


"Apa?!" ia terperanjat. "Kamu nggak larang?! Aborsi itu bisa mengancam nyawa kalau dilakukan sama sembarang orang!"


"Saya larang, tapi Anja tetap mau aborsi."


"Terus?" ia menunggu kelanjutan kalimat Cakra dengan gelisah. Jangan bilang sakitnya Anja sekarang karena efek aborsi. Very bad news.


"Saya berkali-kali bilang mau bertanggungjawab. Tapi Anja tetap pada pendiriannya."


"Anja marah karena semua ini terjadi hanya tiga bulan sebelum kelulusan."


"Pastinya!" ia menggelengkan kepala setuju. "Ini benar-benar tornado bagi hidup Anja."


"Jadi, saya mulai nyerah," Cakra kembali melanjutkan kalimat. "Saya pikir, nggak akan bisa merubah keinginan Anja."


"Batu emang dia!" potongnya sambil tertawa. "Persis Kakaknya," kali ini tawanya makin keras.


Selorohannya membuat Cakra ikut tersenyum.


"Udahlah anaknya manja, kepala batu," tambahnya sembari menggelengkan kepala membayangkan sikap Anja. "Kamu harus punya banyak stock sabar buat ngadepin Anja."


Senyum Cakra sontak berubah menjadi tawa.


"Saya berusaha selalu nanya ke Anja, kapan mau aborsi," ucap Cakra seraya kembali menunduk. "Minimal saya bisa antar Anja ke tempat aborsi."


"Meski sebenarnya saya nggak pernah setuju. Apalagi saya udah janji ke Mamak untuk bertanggungjawab dan nggak menutupi aib dengan dosa yang lebih besar."


Ia mengangguk setuju, "Jadi, orangtua kamu udah tahu? Apa kata mereka?"


Cakra terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkata, "Ayah saya sudah meninggal. Sekarang tinggal Mamak yang pasti sakit hati melihat saya begini."


"Kamu berani jujur sama orangtua," ia menatap Cakra yang kini matanya tengah menerawang melihat di kejauhan. "Langkah bagus dalam menyelesaikan masalah. Saya setuju."


"Tapi Anja tetap nggak mau ngasih tahu ke saya kapan rencana aborsi. Sampai tiba-tiba hari Sabtu sore, Anja datang ke rumah katanya habis kehilangan uang karena nggak jadi aborsi."


"Alhamdulillah," ia bernapas lega. "Kadang jalan keluar tak selalu seperti yang kita pikirkan."


Cakra mengangguk setuju, "Hari yang sama saat Om eh maksud saya...Papa Anja kena serangan stroke."


"Kamu yang ngantar Papa ke rumah sakit malam itu?" ia kini mulai bisa mengambil benang merah dari cerita Cakra.


Cakra kembali mengangguk.


"Besoknya kamu ketemu Mas Sada, trus tanpa ba bi bu langsung main hantam begitu?!" tanyanya sambil tertawa.


"Memang harus begitu, Kak," Cakra kembali tertunduk malu. "Saya pantas mendapatkannya."


Ia masih tertawa sambil menggelengkan kepala, "Begitu malamnya Mas Sada pulang ke Jogja, Anja kabur dari rumah?"


Cakra mengangguk.


Membuatnya kembali menggelengkan kepala, "Sampai akhirnya kalian keburu kepergok sama Mas Tama?"


Lagi-lagi Cakra mengangguk, "Sebenarnya besok paginya Anja udah mau pulang ke rumah. Tapi malamnya keburu ketahuan sama Mas Tama."


"Kamu cinta sama Anja?" tembaknya langsung tanpa tedeng aling-aling.


Cakra yang sejak awal obrolan lebih banyak menunduk, mengangguk atau menggeleng, kini berani menatapnya sambil tersenyum.


"Udah pernah bilang ke Anja kalau kamu cinta sama dia?" tanyanya sambil tersenyum simpul. Hm, dasar anak-anak ABG.


Cakra menggelengkan kepala.


"Bilang dong," selorohnya sambil terus mengu lum senyum. "Cewek itu butuh kepastian."


Sontak membuat Cakra tersenyum malu.


"Anja emang kepala batu," sambungnya. "Tapi kalau ayah bayinya bilang cinta, dia pasti bahagia."


"Yakin deh."


Ucapannya membuat kepala Cakra semakin menunduk sambil terus tersipu malu.


"Ya, meski saya nggak tahu, Anja juga cinta sama kamu atau enggak," lanjutnya berusaha sediplomatis mungkin. "No hurt feeling ya."


"Iya, Kak," Cakra mengangguk mengerti. "Saya paham posisi saya bagaimana."


"Terus, sekarang rencana ke depannya gimana?" ia kembali bertanya.


"Nanti malam saya janjian ketemu sama Mas Sada buat ke notaris."


Ia mengernyit. Untuk bagian yang ini Mas Sada sama sekali belum memberitahunya.


"Untuk?" tanyanya heran.


"Bikin surat perjanjian atau pernyataan saya kurang tahu," jawab Cakra. "Intinya biar saya nggak ingkar janji."


"Oh," ia mengangguk mengerti. Suaminya itu memang tipikal hitam diatas putih. Mungkin karena tak mau kecolongan. Not bad.


"Habis itu?" tanyanya lagi.


"Ya, saya bersedia bertanggung jawab sampai anaknya lahir. Setelah itu...," Cakra menghela napas sebentar. "Terserah Anja mau gimana. Saya ikut aja."


Ia kembali mengangguk-angguk. Penjelasan Cakra lebih dari cukup untuk meyakinkan dirinya bahwa dia anak yang baik dan sungguh-sungguh ingin bertanggungjawab. Ini membuatnya sedikit lega. Karena minimal, pribadi Cakra tak seburuk yang dibayangkan sebelumnya. Jawaban dan respon yang diberikan Cakra bahkan cenderung lugas, tak ada yang ditutupi.


"Ya udah, mungkin sebaiknya kamu pulang aja dulu. Nanti malam biar diobrolin sama Mas Sada gimana teknis ke depannya."


"Iya, Kak," Cakra mengangguk.


"Yang pasti sekarang, saya minta kamu ngadepin Anja yang sabar. Maklum, udah dari sananya tipe keukeuh (ngotot), ditambah hormon kehamilan. Pasti beda sama orang bi...."


"Dara?" sebuah panggilan membuatnya terkesiap. "Siapa yang lagi hamil?"


Dengan khawatir ia menengok ke belakang, berharap fungsi pendengarannya sedang terganggu. Namun nasib baik rupanya enggan berpihak. Karena kini, tepat dibelakang punggungnya, telah berdiri Mama dan Bunda Dipa dengan ekspresi terkejut dan wajah pucat pasi.


"Siapa yang lagi hamil?!?" ulang Mama sambil menatapnya tajam.