Beautifully Painful

Beautifully Painful
43. The Real Problem



Sada


"Siapa?!?" tanyanya terkejut. Tapi Mas Tama telah lebih dulu memutuskan sambungan telepon.


Samar-samar ingatannya seperti pernah mendengar nama Hamzah Ishak disebut oleh beberapa kolega. Baik dalam obrolan ringan, santai, bahkan serius. Tapi masalahnya adalah, siapa dia? Otak ruwetnya saat ini benar-benar tak mampu mengingat satu hal pun berkaitan dengan nama tersebut.


Jadi, sambil memijat-mijat kepala yang mulai penat, ia mencoba mencari tahu. Dan informasi yang keluar di layar ponsel justru makin membuat otak ruwetnya bertambah berkali lipat.


Hamzah Ishak adalah tokoh GNM (gerakan nasional merdeka) atau oleh media luar disebut juga NLF (national liberation front) paling fenomenal sepanjang konflik militer bersenjata dengan pemerintah RI.


Hamzah Ishak menjadi salah satu panglima GNM paling cerdas dan pemberani.


Pasukan gerilya GNM pimpinan Hamzah Ishak beberapa kali berhasil lolos dari kepungan pasukan gabungan TNI dan Polri.


"The real problem, here we go," gumamnya sambil berdecak sekaligus menggelengkan kepala ketika membaca baris demi baris informasi yang ditampilkan oleh layar ponselnya.


***


Cakra


Ia hanya menatap Anja yang marah-marah dan kini kembali setengah berbaring sambil memunggunginya. Dan lebih memilih untuk duduk di sofa daripada meladeni kekesalan Anja yang sama sekali tak berdasar. Ia bahkan belum selesai menjelaskan semua, tapi gadis itu sudah main ambil kesimpulan sendiri berdasarkan asumsi yang jelas keliru.


"Kamu harus punya banyak stock sabar buat ngadepin Anja."


Begitu kalimat kakak ipar Anja tadi pagi yang menjadi pedoman agar ia tak ikut tersulut emosi. Karena sungguh sangat menyebalkan sekali ketika harus menghadapi tingkah polah gadis itu. Ia bahkan belum pernah bertemu seorang gadis yang memiliki sifat sebegitu keras kepala seperti Anja.


Ia pun mulai menyalakan televisi yang sengaja di setel dengan volume suara sedang cenderung lemah, karena khawatir Anja akan terganggu. Dan menjatuhkan pilihan pada chanel tv khusus olahraga luar negeri yang tengah menayangkan liputan tentang road to Big Match EPL Derby Manchester yang akan berlangsung akhir pekan ini.


Ia berniat untuk menunggu disini hingga pukul 9 malam. Itu berarti sekitar satu jam lagi. Sembari berharap semoga selama satu jam ke depan Anja sudah tertidur nyenyak, agar tak merasa sendirian ketika ia harus pulang sementara Mas Sada belum datang.


Pikirannya memang fokus pada pembahasan man to man marking tiap lini dari dua team sekota itu. Tapi matanya sesekali melihat kearah Anja yang masih saja memunggunginya.


Jujur saja, tadi siang sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, ia terus memikirkan pertanyaan kakak ipar Anja.


"Kamu cinta sama Anja?"


"Udah pernah bilang ke Anja kalau kamu cinta sama dia?"


"Cewek itu butuh kepastian."


"Kalau ayah bayinya bilang cinta, dia pasti bahagia."


Jatuh cinta? Apakah itu berarti selalu teringat padanya? Memikirkannya setiap waktu? Mencemaskan keadaannya? Menginginkan kebaikan untuknya?


Karena semua perasaan itulah yang kini sering mengusik hatinya.


Tapi, menyatakan cinta jelas bukan keahliannya. Selama ini ia bahkan tak pernah menyatakan cinta kepada siapapun, kecuali Mamak tentunya. Itu pun bukan pernyataan cinta secara verbal yang mengharu biru menggetarkan sukma. Tapi lebih ke sikap dan perbuatan yang bisa membuat Mamak merasa bahagia.


Karena justru ia yang selalu diberi pernyataan cinta oleh orang lain. Iya, oleh cewek-cewek yang acap kali menyambangi rumahnya, atau menemuinya di sekolah, di Retrouvailles, dimanapun. Baik secara verbal, secara langsung face to face, atau melalui media seperti pesan chat, kado, bingkisan, bahkan buku, kaos, dan kemeja. Menggambarkan situasi dengan jelas bahwa ia sama sekali tak memiliki jam terbang dalam hal pernyataan cinta.


Jadi, ketika ia merasa telah jatuh hati dengan gadis berbahu seputih susu itu -Ah, ya, tentu, ia sungguh tak dapat melupakannya. Sama sekali tidak. Barang sedetikpun. Yah, sialan memang-. Ia sama sekali tak bisa berkutik. Lidahnya mendadak membeku. Otaknya bahkan tak mampu memikirkan satu kalimat pun.


Namun masalah sesungguhnya jelas bukan kemampuan verbal yang minim. Tapi lebih pada ketidakyakinan hati, sama sekali tak memiliki rasa percaya diri. Ditambah ketika pertama kali masuk ke dalam ruangan tadi, mata kepalanya menyaksikan sendiri bagaimana kedekatan hubungan antara Anja dan Dipa.


"Gue sayang elo, Ja."


"Gue nggak terima lo diginiin."


"Gue nggak terima lo jadi kayak gini."


"Apa kita masih bisa sama-sama, Ja?"


Ya, tentu, siapapun orang yang melihat bisa dipastikan akan mengambil kesimpulan dengan sangat yakin tentang keserasian mereka berdua, Anja dan Dipa. Secara kasat mata dari tiap segi, sudut, dan sisi. Tak diragukan lagi.


Membuatnya cukup tahu diri untuk -sementara- menjaga jarak. Tak berusaha memaksakan keinginan dengan cepat-cepat memberitahu Anja tentang perasaan mendebarkan yang kini mulai mengusik hati dan pikirannya. Maybe, someday.


***


Anja


Meski tak berbicara, ia tahu Cakra masih duduk di sofa. Sembari menonton tayangan televisi yang presenternya berbicara dalam bahasa Inggris. Karena sayup-sayup masih bisa terdengar oleh telinganya.


"Lo nggak pulang?!" tanyanya ketus. Diam sama sekali tak menyenangkan dan jelas bukan dirinya.


"Nanti jam sembilan."


"Kenapa mesti jam sembilan?!"


"Sekalian nunggu Mas Sada datang biar kamu nggak sendirian."


Ia hanya mencibir sambil memandangi Nemo dan Grizzly yang seolah sama-sama sedang melempar senyum kearahnya.


"Kamu tidur aja. Aku masih disini sampai kamu tidur," ucapan Cakra entah mengapa terdengar menyenangkan di telinga. Meski tetap tak mampu mengurangi mood buruknya akibat sikap Cakra yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam tak ceria seperti biasanya.


Lagipula ia sama sekali belum merasa mengantuk. Kedua matanya bahkan masih membulat sempurna meski tubuh terasa lelah karena dalam sehari berkali-kali menangis.


"Gue nggak bisa tidur!" sungutnya kesal.


Langkah Cakra terdengar mendekat, "Kamu mau aku ngapain?"


Ia mencebik kesal dengan posisi tetap memunggungi Cakra, "Tahu! Bukannya lo lebih tahu cara bikin orang cepat tidur?!"


Terdengar suara tawa tertahan dari balik punggungnya.


"Eh! Gue tahu ya lo lagi ngetawain di belakang!" bentaknya makin kesal.


"Nggak ada yang ketawa, Ja," gumam Cakra dengan suara yang jelas-jelas menahan tawa.


"Udah lo pulang aja deh daripada disini juga nggak guna!" kali ini ia merasa sedikit keterlaluan. Tapi sepertinya Cakra tak merasa keberatan atau tersinggung. Karena kemudian Cakra berucap tenang, "Nangis udah."


"Yang ketiga jelas nggak mungkin," lanjut Cakra dengan suara kembali menahan tawa.


Membuatnya mencibir sebal.


"Tinggal yang kedua."


"Buruan ih!" gerutunya makin sebal.


"Aku bacain buku, mau?"


Ia tak menjawab.


"Kamu mau dibacain buku apa?"


"Terserah!" jawabnya masih sebal.


Suasana mendadak hening. Sepertinya Cakra sedang berpikir hendak membacakan apa. Hingga beberapa menit kemudian ia mulai tak sabar dan akhirnya membalikkan badan menghadap Cakra yang ternyata sedang asyik memelototi layar ponsel.


"Lo bukannya bacai...."


Kalimatnya terpotong di udara karena Cakra keburu menyahut, "Bumi Manusia nya Pramoedya Ananta Toer mau nggak? Keren lho."


Ia mengernyit sambil mencebik "Lo mau bikin gue tidur apa mau bikin gue mikir?!"


Cakra terkekeh, "Brothers Grimm? Alice in wonderland? Rapunzel?"


"Tahu ah!"


"Nah!" tiba-tiba Cakra berseru senang. "Ini aja."


"Apa??"


"Totto Chan," Cakra tersenyum, kemudian tanpa menunggu persetujuannya mulai membacakan cerita dari layar ponsel.


"Totto Chan, gadis cilik di jendela. Karya Tetsuko Kuroyanagi."


"Kamu mau minum dulu nggak sebelum ntar ketiduran?" tanya Cakra sembari menahan senyum.


"Buru ih!" ia melotot kesal.


"Cakra!"


"Oke, kalau gitu berdoa dulu. Biar tidurnya nyenyak."


Membuatnya memutar bola mata.


Cakra masih menahan senyum, tapi sedetik kemudian kembali melihat layar ponsel, "Oke, bedtime stories buat tuan putri dimulai."


"Eh!" ia melotot marah. Tapi Cakra tetap fokus pada layar ponsel seraya berkata, "Bab 1. Stasiun kereta."


"Mereka turun dari kereta Oimachi di Stasiun Jiyugaoka. Mama menggandeng Totto ch...."


"Gue udah pernah baca tapi lupa!" potongnya dengan nada suara tak sabar. "Bisa pilih bab yang seru aja nggak?"


"Semua se....," Cakra tak jadi melanjutkan kalimatnya demi melihat ia melotot kesal. "Oke. Kita mulai dari....."


Cakra terlihat menscroll layar ponsel memilih bab yang seru, "Bab 4. Aku suka sekolah ini."


Ia pun mulai berusaha untuk memejamkan mata, meski sulit. Sembari telinganya bersiap mendengarkan cerita Totto Chan yang akan dibacakan oleh Cakra.


"Sesaat kemudian, Totto Chan menjerit kegirangan lalu berlari cepat ke arah 'sekolah kereta'. Dia menoleh ke belakang dan berteriak pada Mama."


"Ayo, Ma, cepat! Cepat! Kita naik kereta yang tidak bergerak itu!"


Awalnya ia merasa aneh mendengar suara berat Cakra membacakan cerita. Tapi lambat laun telinganya mulai bisa menerima dengan baik. Meski sesekali intonasi Cakra tak sesuai dengan kalimat yang sedang dibacakan. Apa istilahnya? Kurang menjiwai. Bukan! Tapi sama sekali tak menjiwai. Dasar!


"Eh, udah dibacain cerita masih juga cemberut," protes Cakra di tengah-tengah membacakan cerita.


"Udah deh!" sungutnya sebal. "Tugas lo cuma baca aja! Nggak usah lihatin muka gue!"


"Gimana nggak dilihat, orang di depan mata begini."


Membuatnya melempar Grizzly yang tanpa dinyana tepat mengenai wajah Cakra.


"Eh..."


"Ape lo!" sebelum Cakra kembali melancarkan protes ia lebih dulu membentak kesal.


Cakra hanya menggelengkan kepala sambil memegang Grizzly dan kembali fokus ke layar ponsel. Namun sebelum mulai membacakan cerita lebih dulu bergumam, "Awas kalau nggak tidur-tidur."


Tapi ia hanya memutar bola mata, "Buruan!"


"Belajar di sini rasanya seperti akan melakukan perjalanan yang menyenangkan. Di atas deretan jendela masih ada rak barangnya...."


Cakra kembali melanjutkan membaca kisah Totto Chan. Masih dengan intonasi yang sama. Tak terlalu enak didengar. Namun meski begitu, tak tahu mengapa suara Cakra lama kelamaan terdengar sedikit menenangkan. Membuat kedua matanya mulai terasa berat, makin berat, hingga akhirnya sangat berat sampai tak bisa lagi menahan kelopak agar tetap terbuka.


Ia masih bisa mendengar Cakra membaca, "Aku sangat gembira! Sangat gembira aku. Kenapa aku gembira? Karena...."


Namun sedetik kemudian justru melihat bayangan Dipa yang berlari kearahnya sembari tersenyum, 'Gue sayang elo, Ja."


Hmmm, sungguh mimpi yang sangat indah.


***


Sada


Ia mengucek mata yang terasa pedas setelah membaca email dari Mas Tama. Informasi lengkap tentang Cakradonya Ishak sejak lahir hingga usia 19 tahun sekarang ini. Tak terkecuali termasuk bibit, bebet, bobot keluarga. Siapa saja temannya, para tetangganya, aktivitasnya, hingga catatan keburukan selama di sekolah. Tanpa kecuali.


"Coba kamu sekali aja ngobrol sama Cakra. Sepuluh menit aja deh."


Kalimat Dara hampir sejam yang lalu kini kembali berputar di kepalanya.


"Apa kamu masih nyebut dia cowok brengsek?"


Ia harus menghembuskan napas panjang sambil memijit kening yang terasa makin penat. Kini semua mulai terang, kehamilan diluar dugaan Anja telah menduplikasi diri menjadi masalah bertingkat yang luar biasa kompleks. Andai Papa dalam keadaan sehat wal 'afiat, bisa dipastikan jalan keluar utama persis seperti yang direncanakannya. Dan ABG tanggung itu habis tak bersisa.


Tapi sekarang?


Tak ada yang berjalan dengan baik. Mama bahkan sudah membuat keputusan sendiri. Kini ia hanya bisa menunggu kedatangan Mas Tama. Mungkin kakaknya itu bisa memberi sedikit masukan agar Mama tak bertindak gegabah.


Ia kembali menghembuskan napas panjang, sembari melihat arloji di pergelangan tangan kanan, 20.50. Kemudian bangkit menuju family room untuk mengecek keadaan Mama. Yang ternyata telah terlelap dengan wajah letih.


Setelah mencium kening Mama ia segera beranjak ke ruang ICU untuk melihat keadaan Papa.


"Aman, Pak," ujar perawat jaga yang kini tengah mengecek tanda vital Papa.


"Semakin stabil."


Ia tersenyum mengangguk, "Makasih, Sus. Kalau ada apa-apa, tolong langsung hubungi ponsel saya. Kemarin nomornya sudah saya simpan di meja depan."


Perawat mengangguk, "Baik, Pak. Tapi semoga tidak perlu ya. Karena kondisi Pak Setyo hari ini lumayan stabil."


"Semoga saja, Sus."


Dari ruang ICU ia langsung menuju ke lantai 8. Karena Anja pasti telah menunggunya sejak tadi. Dan kehadirannya di room perawatan Anja ternyata disambut dengan pemandangan paling mencengangkan.


"Mari kita lihat apa yang kalian bawa."


"Kata kepala sekolah. Lalu dia berjalan di dalam lingkaran dan melihat isi setiap kotak bekal sementara anak-anak berteriak-teriak kegirangan."


Mata telanjangnya jelas menangkap Cakra yang duduknya memunggungi pintu masuk, tengah membacakan cerita untuk Anja yang terlihat telah tertidur nyenyak.


"Aneh sekali, pikir Totto Chan. Apa maksudnya dengan sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan?"


Ia masih terdiam berdiri di depan pintu ketika Cakra menyelesaikan ceritanya dengan menyimpan ponsel ke dalam saku, kemudian berdiri untuk membetulkan letak selimut Anja yang sedikit turun ke bawah.


Ia berniat akan langsung menerjang jika ABG tanggung itu melakukan hal lain terhadap Anja. Tapi nyatanya tidak.


Setelah Anja terselimuti dengan baik, Cakra langsung berbalik dan terkejut begitu mendapatinya telah berdiri di depan pintu.


"M-maaf, S-saya...."


"Duduk!" perintahnya singkat sambil berjalan kearah sofa dan mendudukkan diri terlebih dahulu.


Ia sempat menatap cowok yang tertunduk di hadapannya sebelum akhirnya berkata, "Besok bawa orang tua kamu kesini untuk ketemu dengan Mama saya."


Cakra mengangguk dengan mata terus tertunduk.


"Jam sembilan."


Lagi-lagi Cakra mengangguk.


Ia sempat terdiam sebentar sebelum kembali angkat bicara, "Kamu tahu siapa ayah kamu sebenarnya?"


Cakra jelas terkejut lalu menatapnya sambil mengernyit sebelum mulai menjawab dengan suara terbata, "T-tahu. S-saya tahu siapa ayah saya. M-meski beliau meninggal saat saya masih berusi....."


"Bagus!" potongnya cepat. "Sekarang apa kamu tahu siapa Papanya Anja?"


Cakra kembali menatapnya kaget, namun sedetik kemudian mengangguk.


"Kamu pikir kalau saat ini Papa kami dalam keadaan sehat, apa yang akan dilakukan terhadap kamu?"


Cakra hanya terdiam.


"Kita mungkin nggak akan bisa ngobrol santai kayak gini!"


"Karena kamu nggak akan bisa melangkah sampai sejauh ini!"


Diluar dugaan Cakra berani mengangkat kepala untuk menatapnya, "Saya minta maaf karena suda...."


Ia mengibaskan tangan tak suka, "Yang harus dimintai maaf berkali-kali itu Anja! Karena kamu sudah merusak masa depannya!"


"Ya sudah, sekarang kamu pulang!"


"Besok, waktu orangtua kamu ketemu sama Mama, kita ngobrol bertiga!"


"Kamu, saya, dan Mas Tama!"