Beautifully Painful

Beautifully Painful
39. Mama Knows Best



Anja


Ia tengah terpingkal-pingkal mendengarkan cerita Dipa tentang hal random yang dilakukan oleh anak-anak basket saat jeda antar babak di gelaran Championship Series HSBL beberapa waktu lalu. Ketika Bunda Dipa yang sekitar lima belas menit lalu pergi ke Cafetaria rumah sakit bersama Mama, kini kembali masuk ke dalam ruangan dengan wajah pias.


"Lho, cepet amat udah balik lagi Bun?" tanya Dipa heran. "Ada yang ketinggalan?"


Namun Bunda Dipa tak menjawab. Justru mendekat kearahnya dengan wajah seperti mau menangis.


"Anja sayang, cantiknya Tante," ujar Bunda Dipa sambil memeluknya erat.


"Apapun yang terjadi, Tante tetep sayang sama Anja," kali ini sambil menciumi pipinya.


"Tante tahu Anja anak baik," lanjut Bunda Dipa dengan suara menyayangkan. "Semua ini pasti karena pengaruh orang lain."


"Tante?" ia mengernyit heran karena Bunda Dipa semakin erat memeluknya. Ia pun beralih memandang Dipa guna meminta informasi apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi Dipa hanya mengangkat bahu dengan wajah bingung. "Tante, ada apa?"


Bunda Dipa menyusut mata yang sedikit berair, sambil terus memeluk tubuhnya. Sesekali ia merasa punggungnya diusap dengan penuh perasaan.


"Ada apa sih, Bun?" Dipa ikut mengernyit heran. "Meni mellow gitu?"


Tapi Bunda Dipa tetap tak menjawab, meski telah melepaskan pelukan. Kini Bunda Dipa beralih mengusap pipinya lembut, "Baik-baik ya sayang. Sehat-sehat, gangsar (lancar, tidak ada halangan) sampai waktunya nanti."


"Bun?" Dipa semakin mengernyit bingung.


"Jangan banyak pikiran," namun perhatian Bunda Dipa tetap terpusat padanya, sama sekali tak menghiraukan keheranan Dipa.


"Apapun yang terjadi harus tetap happy dan enjoy," lanjut Bunda Dipa sambil mencium keningnya lembut. "Semua pasti akan baik-baik saja."


Membuat dirinya dan Dipa kembali saling melempar tatapan penuh keheranan karena sikap berlebihan yang ditunjukkan oleh Bunda Dipa.


"Sekarang Bunda pulang dulu ya," ujar Bunda Dipa yang kembali menyusut mata berairnya. "Dipa juga kan mesti Jum'atan."


"Nanti malam Tante suruh Dipa kesini lagi buat nemenin Anja," lanjut Bunda Dipa sembari tersenyum. "Nanti mau dibawain apa? Anja lagi kepingin makan apa atau ingin punya sesuatu?"


Ia yang masih terheran-heran melihat tingkah tak lazim Bunda Dipa hanya bisa meringis bingung, "Enggak Tante, makasih banyak. Nggak usah repot-repot."


"Nggak repot kok," Bunda Dipa terkekeh tapi dengan wajah pias. "Nanti bilang ke Dipa ya mau dibawain apa pas malam."


Meski masih tak paham dengan apa yang sedang terjadi, ia mengangguk saja agar cepat selesai dan keadaan tak semakin membingungkan.


Sepeninggal Dipa dan Bunda Dipa, ruangan mendadak sepi. Mama dan Teh Dara belum juga datang. Ia pun memilih untuk mengambil ponsel yang tersimpan di atas nakas. Berniat menjawab chat Hanum dan Bening yang sepulang sekolah nanti akan menjenguknya di rumah sakit.


Namun sebelum tangannya berhasil meraih ponsel, matanya lebih dulu tertumbuk pada Grizzly yang tengah duduk manis di samping pinggangnya.


"Grizzly temani Anja ya!"


"Jangan sampai tuan putri kita yang satu ini sedih trus nangis nangis lagi."


Ia langsung mencibir sebal karena masih mengingat ucapan Cakra saat menyerahkan Grizzly tadi.


"Temani apaan?!" sungutnya makin sebal sambil memelototi Grizzly yang seolah justru membalasnya dengan senyuman.


"Ditinggal bentar aja langsung main hajar orang!" sungutnya lagi sambil menoyor kepala Grizzly.


Ia masih menggerutu panjang pendek ketika pintu ruangan terbuka, disusul dengan masuknya Teh Dara dan Mama yang langsung menghampirinya.


"Udahan Ma?" tanyanya. "Enak-enak nggak makanannya disana?"


Tapi Mama tak menjawab, justru meraih tangannya kemudian mengusap perlahan, "Mama udah tahu."


"Tahu....apa?" tanyanya makin heran demi melihat raut wajah Mama yang tak lagi seceria tadi. Ada sekelumit kabut yang kini telah menghisai kedua mata Mama.


Tapi lagi-lagi Mama tak menjawab, justru mulai menggenggam erat tangannya seolah sedang memberi kekuatan. Atau malah sedang mencari kekuatan? Entahlah.


Suasana hening dan Mama yang tetap membisu membuatnya melempar pandangan kearah Teh Dara yang berdiri di belakang Mama. Matanya jelas-jelas bertanya, "What happened?"


Teh Dara hanya menggelengkan kepala sembari memberinya tatapan penuh penyesalan seolah sedang mengatakan, "Mama knows."


Dalam sekejap air mata yang baru saja kering kini kembali berderai, tangisnya pecah saat itu juga. Dengan tangan Mama yang meraih ke dalam pelukan.


"Maaf, Ma," bisiknya diantara linangan air mata.


Mama hanya mengangguk-anggukkan kepala sembari mengusap-usap punggungnya perlahan.


"Maafin Anja....," ulangnya dengan suara tersendat.


Namun yang paling menyedihkan dari semua ini adalah Mama sama sekali tak memaki atau memarahinya. Mama terus saja mengusap punggungnya seolah sedang memberi kekuatan.


Kini Mama kembali menggenggam erat tangannya sambil berkata, "Anja ingat sama Kak Zivara?"


Ia mengernyit sebentar sebelum akhirnya bisa mengingat kalau Kak Zivara adalah, "Anaknya Om Hermawan?" -Om Hermawan adalah salah satu rekanan Papa-


Mama mengangguk.


"Kak Zivara itu mahasiswi FKU. Tapi waktu semester dua...," Mama menghela napas sebentar. "Hamil sama pacarnya."


Ucapan Mama membuatnya tertunduk malu.


"Tapi nggak berani cerita sama Tante Widi. Akhirnya diam-diam aborsi."


"Malam setelah aborsi, Kak Zivara tiba-tiba gemetaran sampai nggak bisa bangun dari tempat tidur."


"Waktu ketahuan sama Tante Widi, Kak Zivara udah kejang-kejang. Langsung dibawa ke Rumah Sakit."


Mama mengusap kepalanya sebelum kembali berkata, "Di Rumah Sakit Kak Zivara pingsan. Lalu koma."


"Ginjal, hati, dan paru-paru Kak Zivara sempat tak berfungsi. Tapi Tante Widi dan Om Hermawan nggak mau menyerah."


Ia menghela napas.


"Setelah dua minggu koma, Kak Zivara langsung dipindah ke rumah sakit lain di luar."


"Dokter mendiagnosis Kak Zivara mengalami septic shock."


"Sepsis parah yang infeksinya bisa menyebar melalui aliran darah. Yang bisa membuat kerja organ tubuh gagal karenanya."


"Dan sepsis itu banyak terjadi pada perempuan yang melakukan aborsi."


Ia kembali menghela napas.


"Dokter yang menangani Kak Zivara curiga kalau infeksi disebabkan oleh peralatan klinik aborsi yang tidak steril."


"Kalau saja terlambat ditangani, infeksi bisa menyebar ke hati dan otak."


Kini Mama beralih mengusap pipinya lembut, "Mama nggak mau sedih seperti yang dialami Tante Widi waktu Kak Zivara koma."


"Mama juga nggak mau, Anja mengalami sakit seperti yang Kak Zivara alami."


"Mama sayang sama Anja jauh sebelum Anja lahir."


"Harusnya Anja nggak usah takut kalau mau cerita hal ini ke Mama."


Kalimat terakhir yang baru saja ia dengar membuatnya kembali menghambur ke dalam pelukan Mama.


"Maafin Anja, Ma...."


Mama kembali mengusap punggungnya perlahan, "Mama akan selalu ada di samping Anja apapun yang terjadi."


"Anja salah," ujarnya kembali terisak.


"Mama juga salah," bisik Mama sambil mengusap kepalanya. "Mama terlalu sibuk. Papa juga. Kami semua terlalu sibuk dengan urusan masing-masing jadi kurang memperhatikan Anja."


Tapi ia menggeleng, "Mama, Papa dan semua nggak ada yang salah. Anja sendiri yang salah. Juga Cakra....," gumamnya lirih sambil memperhatikan pintu ruangan. Sembari hatinya bertanya-tanya, dimanakah Cakra saat ini? Semoga tak sedang dipukuli Dipa.


Setelah saling melepas pelukan, Mama kembali bertanya, "Anja masih ingat sama Kak Naura?"


Ia mengernyit sebentar, "Kak Naura anaknya Om Ridho Ma?"


Mama mengangguk, "Kak Naura juga begitu. Tapi pacarnya kabur nggak mau tanggung jawab."


"Om Ridho udah usaha bagaimanapun caranya. Tapi tetap saja...," Mama menghela napas. "Akta kelahiran cucunya hanya bisa ada nama Kak Naura saja. Tanpa nama ayah."


Ia menunduk dalam-dalam membayangkan dua anak kenalan Mama yang bernasib sama seperti dirinya. Sungguh menyedihkan. Sudah sedemikian tua kah dunia tempatnya berpijak hingga hal buruk kini seakan menjadi sesuatu yang lumrah?


"Anja juga ingat sama Kak Syaira nggak? Anaknya Tante Susi?" tanya Mama lagi.


Ia mengangguk.


"Kak Syaira juga sama, waktu kuliah di Jogja begitu sama pacarnya."


"Tapi nggak pernah terus terang sama Tante Susi dan Om Kusuma."


"Habis wisuda, langsung dijodohkan sama Kak Baruna anaknya Om Topan."


"Semua udah dirancang semeriah mungkin sampai ada undangan untuk Pak Presiden dan wakil juga."


"Tapi seminggu sebelum akad nikah, nggak tahu gimana ceritanya tiba-tiba Kak Baruna tahu kalau ternyata.....Kak Syaira udah punya anak perempuan umur 3 tahun yang tinggal di Jogja."


Ia kembali menghela napas.


"Om Topan sekeluarga nggak mau terima kalau calon menantu ternyata sudah punya anak. Akhirnya pernikahan yang udah tinggal menunggu waktu batal."


"Dua keluarga besar sama-sama malu. Kak Syaira menyesal, Kak Baruna sedih dan marah."


"Semua kebahagiaan yang sudah di depan mata hancur dalam sekejap."


"Maaf....Anja udah bikin malu Mama sama Papa," ujarnya memberanikan diri untuk berbicara meski sambil menundukkan kepala dalam-dalam dengan jemari tangan yang saling menjalin berharap bisa mengalihkan kegugupan.


Ia tentu harus meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Mama dan Papa karena telah mencoreng nama keluarga. Ia juga pantas untuk diusir jauh-jauh dari rumah karena telah mempermalukan keluarga. Ia bahkan sangat pantas untuk tak diakui sebagi anak karena telah melemparkan aib ke muka orangtua. Sungguh sangat mengecewakan. Sama sekali bukan anak berbakti.


"Maaf....Anja udah bikin Mama marah, sedih, malu, kecewa....."


"Anja udah me....me.....," ia menggigit bibir dengan air mata berlinang karena tak sanggup lagi berkata-kata.


"Saking marahnya sampai nggak bisa marah lagi."


Membuat air matanya semakin berderai demi mendengar kalimat yang persis sama seperti yang pernah Cakra katakan padanya tempo hari.


"Apa Mama sedih? Iya, Mama sedih tahu Anja begini."


"Mama bahkan berharap apa yang Mama dengar dari Tetehmu Dara, itu nggak benar."


"Apa Mama kecewa? Jujur, Mama kecewa."


"Karena Anja anak perempuan satu-satunya Mama dan Papa. Kami punya impian besar untuk Anja."


"Apa Mama malu?" Mama menghentikan kalimatnya sejenak. "Mungkin iya."


"Tapi Anja....," Mama menghela napas sambil menatapnya lembut. "Rasa marah Mama, kecewa Mama, sedih Mama, malu Mama....nggak sebesar rasa sayang Mama ke Anja."


Ucapan Mama sontak membuatnya kembali memeluk tubuh wanita berhati paling lembut yang pernah ada. Mama....maafin Anja.


"Ini bukan cuma masalah Anja seorang. Ini masalah Mama juga. Masalah kita sekeluarga," ujar Mama lembut sambil mengusap punggungnya.


"Mama, Papa, Mas Tama, Mas Sada....nggak akan ninggalin Anja sendirian menghadapi masalah ini."


"Kita sama-sama...."


"Kita pasti bisa melalui ini semua sama-sama....."


Mama melepas pelukan untuk kemudian menyusut air matanya, "Anja dengar cerita Mama tadi tentang anak-anak teman Mama?"


"Ada banyak cerita sedih dan menyakitkan tentang hal ini, sayang."


"Kebanyakan karena nggak berani jujur di awal. Terutama sama orangtua."


"Ditutup-tutupi lalu dicari jalan keluarnya sendiri."


"Padahal perbuatan itu saja sudah sangat salah."


"Jadi sebisa mungkin...jangan diselesaikan dengan cara yang salah. Apalagi ditutup-tutupi dengan dosa yang lebih besar."


"Sudah banyak contoh di sekitar kita, sayang."


Membuatnya kembali menunduk tak berani menatap kabut yang masih menggelayut di mata Mama.


"Yang penting sekarang....Anja sehat, baby nya juga sehat. Itu udah lebih dari cukup buat Mama," Mama kembali menggenggam erat tangannya.


"Jangan kita tambah dengan kesalahan yang lain."


"Kita hadapi ini sama-sama. Kita terima ini sama-sama."


Ia mengangguk sambil terus menunduk. Sementara Teh Dara mulai mendekat ke sisi tempat tidurnya untuk kemudian mengusap punggungnya perlahan memberi dukungan.


"Tadi Mama sempat bicara sebentar sama Cakra."


Membuatnya terkejut dan mendongak untuk mendapati Mama yang tersenyum tipis.


"Sejak awal Mama tahu Cakra anak yang sopan."


Membuatnya kembali menunduk.


"Dan Mama sudah memutuskan....."


Ia kembali menatap Mama dengan perasaan yang tak karuan.


"Kalian harus sudah menikah sebelum Papa dirawat di Singapura."


"Biar Mama tenang ninggalin kamu disini. Tenang juga nungguin Papa disana."


"Mama udah hubungi Mas masmu tentang masalah ini."


"Nanti malam kita bicarakan semuanya sama-sama."


"Sekarang Anja istirahat. Mama mau nengokin Papa dulu. Udah kelamaan ditinggal. Berapa jam ini Mama keluar?" Mama melihat kearah arloji di pergelangan tangan kiri. "Dara tolong temani Anja ya."


***


Dara


Setelah Mama meninggalkan ruangan, ia berinisiatif untuk menyisiri rambut Anja yang mulai terlihat kusut.


"Apa semua selalu semudah ini Teh?" tanya Anja dengan kepala tertunduk sambil tangannya mempermainkan boneka beruang warna cokelat.


"Mudah gimana?" ia mengernyit.


"Mama nggak marah waktu tahu aku...."


Ia tersenyum, "Kan Mama udah bilang tadi. Bukannya nggak marah. Tapi, rasa marah Mama nggak sebesar rasa sayang Mama ke Anja."


"Kalau kayak gini aku jadi makin ngerasa bersalah," kini Anja mulai mencubiti boneka beruang warna cokelat itu.


"Mama baik banget mau ngertiin aku. Ibunya Cakra juga nggak marah ke aku."


"Tapi ini malah bikin aku jadi tambah sedih."


"Karena itu artinya....aku udah ngecewain mereka semua," Anja mendongak dengan mata menerawang.


"Ngecewain Mama. Ngecewain ibunya Cakra."


"Mungkin kalau Mama teriak marah-marah terus ngusir aku. Aku jadi lebih lega. Karena udah dapat hukuman yang setimpal."


"Iya, berarti bener kata Cakra. Mas Sada memang udah seharusnya mukul dia. Kalau nggak mukul malah aneh."


"Cakra untung babak belur dipukuli Mas Sada sampai mau mati. Bisa mengurangi rasa bersalah."


"Kalau aku?" Anja menatapnya nanar. "Sikap Mama yang terlalu sempurna jadi malah bikin aku tambah sedih dan ngerasa bersalah."


Ia yang telah selesai menyisiri rambut hitam dan tebal milik Anja mencoba tersenyum, "Iya Teteh ngerti."


Anja menoleh kearahnya sambil memberengut, "Ngerti apa?!"


Melihat ekspresi merajuk Anja membuatnya tertawa, "Gini deh....emang kalau diusir sama Mama, kamu tahu mau pergi kemana?"


Anja masih memberengut saat menggelengkan kepala pelan.


"Nanti mau melahirkan dimana kalau diusir sama Mama?"


"Sekolah kamu juga gimana?"


Membuat Anja kembali menundukkan kepala dengan wajah murung.


"Mama bisa bersikap sempurna seperti kamu bilang barusan, itu juga bukan tanpa alasan," ujarnya sambil menghembuskan napas.


"Karena Mama sudah tahu bagaimana pengalaman teman-teman Mama yang anaknya begitu."


"Tuh, menurut pengalaman yang sudah-sudah malah ada yang sampai koma gara-gara aborsi. Ada juga yang cowoknya kabur nggak mau tanggung jawab."


"Itu kan ibarat udah jatuh, kepleset, masuk gorong-gorong, ketimpa tangga, hanyut kena banjir, akhirnya kelaut," lanjutnya melalui perumpamaan yang ternyata berhasil memancing tawa sumbang Anja.


"Teteh ih, serius dong," sungut Anja yang kembali memberengut.


"Anggap saja ini rezeki kamu sama baby, Ja," ujarnya sambil tersenyum.


"Rezeki gimana?!" Anja mengernyit.


"Rezeki baby karena orang-orang di sekeliling kamu dilembutkan hatinya oleh Sang pemilik hati."


"Mama yang sedih tapi masih bisa ngerti. Cakra yang mau bertanggung jawab. Ibu Cakra yang kata kamu juga nggak marah."


"Nggak marah bukan berarti memaklumi apalagi membenarkan ya, Ja," ia tentu harus mengingatkan di titik ini. Karena perbuatan terlarang yang telah dilakoni Anja dan Cakra jelas sangat sangat sangat tercela.


"Ini murni karena besarnya kasih sayang orang-orang yang mengelilingi kamu sekaligus hati yang dilembutkan, jadi sikap mereka bisa menerima keadaan kamu dengan harapan kamu....juga Cakra.... bisa memperbaikinya."


"Mereka nggak mau kalian, jatuh ke dalam hal buruk lain yang lebih menyengsarakan."


"Kenapa Teteh bilang ini rezeki, karena nggak semua orang yang mengalami masalah yang sama seperti kamu....juga dikelilingi oleh orang-orang yang berhati lembut."


"Yang mensupport apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaannya."


"Kamu pikir waktu pertama kali Mas Sada bilang kamu begini, Teteh nggak kaget?"


"Teteh kaget banget lah. Nggak nyangka. Tapi ya mau gimana lagi?"


"Masa iya mau tambah ngerusak keadaan dengan emosi dan marah-marah."


"Oh ya," potongnya cepat. "Bagian baku hantam udah ada spesialisasinya sendiri sih ya," sambil menahan tawa. "Tokoh antagonis udah habis diborong sama Mas-masmu. Kompak mereka berdua."


Selorohannya kali ini berhasil membuat Anja tersenyum.


"Let by gone be by gone, Ja," ia tersenyum sambil menepuk bahu Anja. "Sekarang waktunya kamu buat nerima keadaan, hadapi, dan pertanggungjawabkan."


"Sebagai tanda cinta kamu untuk orang-orang berhati lembut yang ada di sekeliling kamu. Yang dengan besar hati menerima perbuatan kalian tanpa syarat."


"Dua ibu yang luar biasa, Mama dan ibunya Cakra."


Diluar dugaan Anja langsung memeluknya erat, "Apa Teteh sebenarnya adalah kakakku yang tertukar?"


Membuatnya mengernyit heran, "Maksudnya?"


"Kayaknya kakakku yang asli Teteh deh, bukan si duo baku hantam itu."


Sontak membuat mereka berdua tertawa.