
Anja
"Abang?!?" ia tersentak kaget. Ketika Cakra dalam hitungan detik, telah berhasil memposisikan mereka berdua menjadi begitu dekat.
"Abang, ih!!" ia memukuli dada Cakra yang justru terkekeh-kekeh dengan memasang ekspresi wajah menggoda.
"Kenapa nggak bilang dari tadi pagi kalau udah beres sih, Neng?" gumam Cakra sembari menyembunyikan wajah dalam-dalam di sepanjang lehernya.
"Ish!" namun ia masih berusaha memberontak.
"Abang!!" gerutunya yang tengah bekerja keras meloloskan tangan dari himpitan dada Cakra.
"Nanti Aran lihat!" kali ini tangannya telah terbebas lalu buru-buru memukuli bahu Cakra.
"Aran masih melotot tuh!! Nanti kalau dia lihat ayah bundanya lagi begini...aduuhhh, Abang!!" ia semakin kesal, karena kini Cakra tak hanya menyembunyikan wajah tapi juga mencecapi lehernya.
"Mau main rahasia-rahasiaan heh?" gumam Cakra dengan bibir menempel di sepanjang lehernya.
"Issshhh!!" ia berusaha menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri agar Cakra beranjak. Tapi yang ada justru kian menempel erat.
"Rahasia-rahasiaan gimana?!" sungutnya dengan napas memburu. Mau tak mau mengakui jika ia kalah daya dibandingkan cengkeraman Cakra.
"Abang tahu sendiri tadi aku sholat Subuh! Trus ikut sholat Id! Gimana sih?!?" salaknya sebal atas ketakpekaan Cakra.
Tiba-tiba saja Cakra mengangkat wajah dari lehernya. Lalu tertawa bingung, "Oh, iya ya? Kenapa aku nggak nyadar?"
"Ish!" ia kembali memukul dada Cakra.
"Awas ah! Itu Aran bisa lihat Ayahnya lagi berbuat tak senonoh tuh!!!" gerutunya sambil menunjuk ke arah Aran yang sedang membelalakkan mata dan bermain-main dengan lidahnya sendiri.
Tapi Cakra justru terkekeh. Dengan gerakan yang sangat halus, Cakra meraih guling yang berada di samping kiri mereka. Lalu meletakkan guling tersebut di antara tubuhnya dan Aran. Memposisikan sedemikian rupa agar ia bisa terlindung dari pandangan mata Aran.
"Sekarang amaaan....," seloroh Cakra seraya mengedipkan sebelah mata. Ish!
Dan sebelum ia sempat melancarkan protes, Cakra telah lebih dulu menggapai wajahnya dengan sentuhan hangat nan lembut, dalam, sekaligus melenakan.
Entah berapa lama. Terasa lama sekali sampai ia hampir kehabisan napas. Barulah Cakra bersedia melepaskan diri.
Lalu Cakra tersenyum menatapnya. Dengan kening mereka berdua yang saling bersentuhan.
Sedangkan ia masih kerepotan mengatur napas, yang seolah terus berkejaran.
"Aku cinta kamu," bisik Cakra seraya menyunggingkan senyum penuh arti.
"Iya, tahu," ia menjawab sekenanya. Sebab masih bersusah payah menormalkan napas yang memburu.
"Aku sayang kamu," bisik Cakra lagi.
"Tahuuuu," ia mendecak sebal. Karena Cakra kembali mengatakan hal-hal yang sudah pernah didengarnya.
Kini Cakra tak lagi menyentuhkan kening mereka berdua. Namun masih dengan bertumpu pada kedua lengan yang mengungkung tubuhnya, Cakra kembali tersenyum penuh arti.
"Aku udah pernah bilang belum, kalau aku beruntung memiliki kalian berdua?"
Ia tak menjawab. Karena telah tersihir oleh tatapan mata Cakra yang melangutkan jiwa.
Kini Cakra mengusap pipinya melalui ujung jari, "Cantik, baik, lembut, dari keluarga terhormat...."
"Bisa jatuh ke pelukan orang yang nggak punya apa-apa, keturunan pengkhianat negara, bermasa depan suram....
Tangan kanannya mendadak tertarik untuk merapikan rambut gondrong Cakra yang jatuh menutupi kening.
"Udah sampai sejauh ini, masih membahas hal basic kayak begini?" sungutnya tak mampu menyembunyikan kekesalan. "Mau digetok palanya heh!"
Namun sedetik kemudian, tawa mereka berdua justru pecah secara bersamaan.
"Kamu nggak nyesel?"
Tawanya sontak berhenti demi mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Cakra.
Ia tersenyum. Sembari terus merapikan rambut tak beraturan Cakra. Yang meski telah ia rapikan, namun kembali jatuh menutupi kening.
"Pastinya nyesel banget," gumamnya yakin.
Cakra tersenyum namun dengan ekspresi wajah penuh tanya.
"Kenapa nggak notice sama Abang dari dulu," lanjutnya tak kalah yakin.
"Biar Abang nggak kelamaan jadi anak nakalnya PB, biar rekor Abang jadi penghuni tetap ruang Kesiswaan bisa dikejar sama anak PB yang lain."
Ia terdiam sebentar. Menatap Cakra yang tengah tersenyum memandanginya.
"Nggak kayak sekarang," cibirnya sebal. "Orang jadi susah kan kalau mau melampaui rekor Abang di ruang Kesiswaan!!"
Cakra tertawa seraya menggelengkan kepala.
"Nyesel kenapa nggak dari dulu kita ketemu," lanjutnya kali ini dengan mata memanas.
"Biar Abang cepet sadar dengan kelebihan yang dimiliki."
"Biar Abang nggak apatis trus ujung-ujungnya nyalahin dunia dengan semua yang Abang alami."
"Biar Abang yang harusnya naik ke atas panggung waktu pelepasan siswa kelas XII," sambungnya dengan suara tercekat.
"Buat nerima penghargaan sebagai lulusan terbaik."
"Masuk kuliah lewat jalur undangan."
"Biar Abang bisa bikin bangga Mamak, Kak Pocut....," kini ia tak mampu lagi untuk melanjutkan kalimat. Karena air mata keburu berhamburan tanpa bisa dicegah.
Entahlah, sejak melahirkan Aran, ia merasa semakin mudah menangis hanya karena hal sepele dan pastinya gampang melow.
Cakra tersenyum seraya menyusut buliran air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Aku juga nyesel," ucap Cakra yang terus menyusut air matanya. "Nyesel banget."
"Kenapa harus jadi orang brengsek dulu baru bisa ketemu sama Neng cantik yang satu ini."
Ia pun langsung memukuli dada Cakra sambil terus menangis.
"Sebel, ih!" salaknya di sela isakan.
Cakra tersenyum. Lalu dengan gerakan yang sangat halus, tiba-tiba saja Cakra telah menguburkan wajah dalam-dalam di sepanjang lehernya sambil berbisik,
"I love you now, tomorrow and for so on (aku mencintaimu sekarang, besok, dan seterusnya)."
Ia hanya bisa mengangguk-angguk tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menjawab pernyataan Cakra yang menghangatkan hati.
"Hatsyiii! Hatsyiii!"
Suara bersin khas bayi yang berasal dari mulut Aran sontak membuat mereka tertawa bersama.
"Aran tahu kalau Ayahnya lagi ngegombal," candanya dengan pipi yang terasa lengket akibat bekas lelehan air mata.
"Aran nggak cs ah," gumam Cakra dengan wajah masih terkubur di sepanjang lehernya.
"Sekarang ya," bisik Cakra hampir tak terdengar.
Ia masih berusaha mencerna maksud dari kalimat yang dibisikkan oleh Cakra. Ketika dalam hitungan sepersekian detik, wajah Cakra sudah beralih ke bagian lain dari dirinya.
"My beautiful wife (istri cantikku)," desisan lembut Cakra membuatnya tersentak. Sebab sengatan arus listrik tiba-tiba menjalar di keseluruhan tubuhnya.
Tok! Tok! Tok!
"Anja! Cakra!"
Tok! Tok! Tok!
"Anja! Cakra!"
Suara ketukan di pintu sontak membuat Cakra menjatuhkan diri padanya sambil terkekeh, "Ya ampun."
"Tuh, kan," cibirnya penuh kemenangan. "Makanya...."
Tok! Tok! Tok!
"Anja! Cakra!"
"Awas Abang, ih!" ia berusaha mendorong bahu bidang Cakra yang masih rebah di atas dirinya. "Mama manggil tuh!"
Dengan gaya malas Cakra beringsut. Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka.
Mama sempat melotot melihat posisi mereka berdua yang memang kurang menguntungkan. Karena Cakra baru saja bangkit meninggalkan dirinya yang setengah terbuka di bagian sensitif.
"Ehm," Mama berdehem sebentar sebelum berkata, "Jam berapa ke hotel?"
"Biar Aran di rumah sama Mama."
Dengan wajah memerah menahan malu sembari berusaha secepat mungkin menutupi dada yang terbuka, ia pun bangun dari tempat tidur.
Sementara Cakra duduk di sisi lain tempat tidur sambil mengusap tengkuk. Pastinya juga sedang menahan malu.
"Siapa yang ke hotel, Ma?" tanyanya tak mengerti.
Mama mengernyit, "Lho, itu tadi Dara nelepon. Katanya kalian mau ke hotel mumpung lagi ketemu."
"Besok kan kita udah ke Jakarta lagi," lanjut Mama.
"Jadinya mau ke hotel jam berapa? Mumpung sekarang masih sore."
-------------------------------
Ia memperhatikan Cakra yang sedang memakai riding gloves (sarung tangan motor).
"Bandung dingin. Tiap berangkat ke kampus pagi atau pulang malam, nggak kuat kalau nggak pakai sarung tangan," celoteh Cakra seolah mengerti apa yang sedang dipikirkannya.
---
Tadi, ia dan Cakra sempat menolak tawaran Mama tentang mengambil hadiah menginap di hotel pemberian dari Teh Dara dan Mas Sada. Tapi Mama bilang,
"Kalian manfaatkan sebaik mungkin. Mumpung lagi ketemuan kan."
Ia dan Cakra sempat saling berpandangan lama. Meninggalkan Aran bersama Mama di rumah memang bukan hal asing baginya. Tapi itu untuk pergi ke Kampus. Jelas kebutuhan primer.
Sementara untuk sekedar menginap di hotel bersama Cakra seperti sekarang ini? Bisa disebut kebutuhan tersier dengan urutan yang ke sekian. Pastinya bukan prioritas.
"Jadi sebelum pergi, pumping dulu ya."
"Ma?" ia sempat ingin menyanggah.
Tapi Mama keburu menutup pintu sambil berkata, "Selamat bersenang-senang ya."
---
"Siap, Neng?" selorohan Cakra berhasil membuyarkan lamunannya.
Ia mengangguk. Tak menyangka jika Cakra akan memeriksa pengait helm yang sedari tadi sudah menutupi kepalanya. Lalu mengakhiri dengan mencubit sebelah pipinya.
"Cantik."
"Hih!!" ia memukul lengan Cakra yang terkekeh.
Kini Cakra mulai menstater motor. Ketika ia telah naik di atas boncengan, Cakra menoleh ke belakang.
"Ngedate pertama kita, ke mana nih?"
***
Cakra
Ia tersenyum karena Anja tak menjawab. Tapi justru meletakkan dagu di sepanjang bahunya.
"Terserah sama yang punya Bandung," gumam Anja dengan hembusan napas hangat yang terasa membelai daun telinganya.
Ia pun terkekeh. Mendadak sebuah ide melintas, "Nonton yuk. Kita belum pernah nonton berdua kan?"
"Siapa takut," jawab Anja dengan ekspresi wajah mencibir.
Ia kembali terkekeh. Lalu meraih tangan Anja agar melingkari pinggangnya, "Pegangan sama Abang, Neng. Mau ngebut nih kita."
"Gaje banget ih!!" sebuah pukulan mendarat di punggungnya. Namun sepasang tangan mungil tetap bersedia melingkari pinggangnya.
Ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Anja...Anja...dari dulu tak pernah berubah. Selalu saja memukulinya jika merasa sebal.
"Let's go," gumamnya seraya memacu motor melewati pintu gerbang rumah. Yang langsung ditutup kembali oleh Mang Ujang.
"Nuhun, Mang," serunya sebelum motor bergerak semakin menjauh. Dari kaca spion ia bisa melihat Mang Ujang melambaikan tangan pada mereka berdua.
"Mau nonton di Twenty one apa Blitz?" tanyanya di antara deru mesin motor.
"Terserah!" jawab Anja setengah berteriak.
"Atau mau jalan ke Mall dulu?" tawarnya sungguh-sungguh. Sejak mereka bersama, ia jelas belum pernah mengajak Anja jalan ke Mall.
"Mall sejuta umat ada di Dago," ia kembali memberi pilihan.
"Tapi Mall favorit anak-anak kalau nongkrong di Cihampelas atau Sukajadi," lanjutnya lagi. "Neng cantik mau pilih di mana?"
"Terserah!" jawab Anja yang teriakannya semakin keras terdengar.
Ia tertawa, "Kalau yang terdekat aja gimana? Biar searah sama hotelnya."
"Ntar kapan-kapan kalau banyak waktu, aku ajak jalan keliling Bandung."
"Kalau sekarang rada mepet waktunya."
Sebuah cubitan tiba-tiba saja mampir di pinggangnya. Disusul bisikan gemas di telinga, "Udah dibilang terserah ya terserah. Bawel banget sik!"
Ia terbahak. Hingga hembusan dingin angin malam terasa ikut masuk ke dalam mulutnya yang sedang tertawa lebar.
Ia pun segera memacu motor menembus kegelapan malam. Menyusuri jalanan dengan kondisi lalu lintas yang ramai lancar.
"Dingin."
Meski lirih, namun gumaman Anja dari balik punggungnya, bisa terdengar dengan baik oleh telinganya.
Ia pun meraih tangan Anja yang melingkari pinggangnya. Lalu memasukkan ke dalam saku jaket yang kini sedang dikenakannya. Seraya berjanji dalam hati, sesampainya di Mall akan membeli sarung tangan untuk Anja. Sebab Bandung memang dingin bagi pendatang seperti mereka.
"Tempat nonton paling dekat tapi jalannya mesti muter balik jauh," selorohnya sambil melepas helm dari kepala Anja.
"Nanti pulang ke hotel juga mesti putar balik lagi," lanjutnya kali ini sambil melepas helm yang dipakainya sendiri.
Anja hanya mengangkat bahu tak menanggapi selorohannya.
Dari tempat parkir motor di basement, mereka naik lift menuju ke lantai satu.
"Kita beli gloves dulu buat kamu ya," gumamnya seraya menggenggam erat tangan Anja. "Biar pas naik motor nggak kedinginan."
Setelah berkeliling di beberapa toko yang ada di lantai 1, mereka akhirnya menemukan toko yang menjual perlengkapan untuk berkendara.
"Yang ini?" ledeknya sambil menunjukkan riding gloves yang terbuat dari bahan kulit khas para rider.
Anja hanya mencibir. Kemudian mengambil gloves wanita berwarna dusty dan merah bata.
"Bagusan yang mana?"
Ia tersenyum. Sama sekali tak menjawab pertanyaan Anja. Lebih memilih untuk meraih dua gloves tersebut dan membawanya ke kasir.
"Ih! Abang! Aku kan cuma nanya. Kenapa langsung dibayar?!" Anja menarik tangannya agar mengurungkan niat menuju ke kasir.
"Lho, kamu suka dua-duanya kan?" tanyanya bingung.
"Siapa bilang!" Anja mendecih sebal. Menyeret lengannya agar kembali ke etalase gloves wanita. Lalu mengambil gloves berwarna ungu muda.
"Orang aku sukanya yang ini!" sungut Anja.
Ia tertawa sebal, "Kalau sukanya yang warna ungu kenapa yang jadi pilihan dusty sama merah bata, Neng cantiiiik?!?"
Namun Anja sama sekali tak menanggapi keheranannya. Malah berjalan melenggang mendahuluinya menuju ke kasir.
"Beli dua ya, buat persediaan," ucapnya sambil mengacungkan gloves warna dusty ketika berhasil menyamai langkah Anja.
Dari toko perlengkapan berkendara, mereka naik ke lantai tiga, di mana bioskop Twenty One berada.
"Ini?" tanyanya seraya meraih bahu Anja. Sambil menunjuk pada sebuah poster film action.
Anja menggeleng. Sembari menunjuk pada poster film fiksi ilmiah yang beritanya sedang trending di jagat maya.
"Oke," ia mengangguk setuju.
Tapi sayang, film yang Anja tunjuk baru akan tayang satu setengah jam ke depan. Begitu pula dengan film action incarannya.
"Masih mau nonton?" tanyanya sambil menatap Anja. Sebab film yang memiliki jam tayang paling dekat hanyalah film tentang zombie dan film horror misteri.
"Yang zombie aja deh," jawab Anja seraya mengangkat bahu. "Aku nggak suka nonton film horror. Takut ah serem."
Namun tak dinyana, pilihan menonton film zombie yang awalnya hanya iseng, ternyata bisa mereka nikmati.
Sebab film zombie kali ini bukan lagi mengisahkan tentang kejar-kejaran antara zombie dan manusia. Namun, permainan pikiran yang bisa mengacaukan jalan hidup manusia.
"Seru juga filmnya," gumam Anja ketika tayangan film baru berjalan kurang dari setengahnya.
Ia mengangguk setuju. Tak menjawab apapun. Lebih memilih untuk mencium puncak kepala Anja yang kini tengah bersandar di bahunya.
------------------------
"Kamu lapar nggak? Aku lapar nih," gumamnya ketika mereka baru saja keluar dari bisokop. Tengah menanti lift yang akan membawa mereka turun ke basement.
"Traktir ya?" jawab Anja setengah berseloroh.
Ia tertawa seraya meraih bahu Anja, "Mau makan di mana? Jamuan spesial buat anak gaul Jekardah yang lagi main ke Bandung."
Namun karena jam operasional Mall sebentar lagi tutup. Dan yang tersisa hanyalah restoran cepat saji. Ia pun menawarkan pilihan tempat makan lain, yaitu di warung tenda kaki lima. Dimana banyak berjajar di sepanjang sisi jalan yang mengarah ke tol Pasteur ini.
"Terserah Abaaang," jawab Anja sedikit ketus. "Bisa nggak sih kalau nggak balik nanya?!"
Setelah membongkar memori di kepala, ia akhirnya menepikan motor ke sebuah warung tenda yang namanya sempat dibicarakan oleh anak-anak maba (mahasiswa baru) saat event challenge kuliner Bandung di Kampus.
Ia tersenyum senang, karena Anja bahkan menambah nasi dan ayam bakar lagi. Itu berarti, cita rasa makanan di warung tenda ini memang enak bukan?
"Apa?!" Anja mencibir mungkin karena melihatnya tersenyum-senyum sendiri.
"Orang semungil kamu makannya sebanyak ini," gumamnya sambil menggelengkan kepala. "Lari ke mana semua makanan?"
"Ke sini?" ia membusungkan dada. Yang langsung disambut pukulan Anja di lengan.
"Ngeselin ih! Jadi bikin nggak napsu makan tahu!"
"Becanda...becanda....," ia buru-buru mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Karena Anja terus saja memukuli lengannya dengan tangan dipenuhi bumbu lumuran ayam bakar.
"Becandanya nggak lucu!" gerutu Anja yang kini tak lagi memukuli lengannya.
"Abang tahu nggak kalau orang lagi menyusui tuh bawaannya lapar terus!"
Ia tersenyum mengangguk, "Iya, Ja. Iya."
***
Anja
Ia duduk di atas sofa berwarna hijau yang berada di lobby. Menikmati welcome drink berupa secangkir wedang jahe. Yang terasa hangat ketika melewati kerongkongan. Cukup membantu menghangatkan badan usai naik motor di tengah udara dingin malam hari.
Sambil memperhatikan punggung Cakra yang kini sedang melakukan proses check in. Punggung tegap itu menggendong back pack sekaligus mencangklong cooler bag.
Back pack karena besok pagi Cakra berencana berangkat kuliah langsung dari hotel. Sedangkan cooler bag sudah menjadi amunisi andalannya tiap kali berpergian.
Ingatannya pun kembali melayang pada masa silam. Di mana suasana yang hampir sama namun dengan keadaan yang jauh berbeda.
Terutama setelah Cakra selesai melakukan proses check in. Kemudian mengulurkan kartu berwarna silver bertuliskan logo dan nama hotel yang mereka kunjungi ini.
"Bukan lagi kunci gudang bernomor 27?" selorohnya dengan pipi memanas.
Cakra terkekeh sambil mengulurkan tangan, "Come on (ayo)."
"Lantai berapa?" tanyanya ketika mereka telah masuk ke dalam lift.
"Dua belas," jawab Cakra sambil memencet angka 1 dan 2.
Mungkin karena hari telah beranjak malam, lift hanya berisi mereka berdua sampai ke lantai 12. Selama itu pula, Cakra terus menggenggam erat tangannya seakan tak ingin terlepas.