
Tama
..........Flashback.........
"Kinan kemana nggak pernah ikut?" tanya Mama suatu saat. Ketika untuk yang ke sekian kalinya, ia pulang ke Jakarta sendirian.
"Lagi sibuk jadi residen Ma," jawabnya jujur. Karena memang Kinan sedang menjalani PPDS (peserta pendidikan dokter spesialis).
Mama masih sempat bertanya beberapa kali ketika lagi-lagi ia hanya datang seorang sendiri ke Jakarta, saat ada acara keluarga besar.
Tapi untuk selanjutnya, Mama tak lagi sering bertanya. Hanya berpesan,
"Menikah itu bukan hanya memberi nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga."
"Tapi juga mencintai, menghargai, mendampingi."
Kinan istri yang baik. Setiap mereka saling bicara, kata-kata Kinan selalu sopan. Tak pernah berperilaku kasar ataupun membentaknya.
Hanya saja,
"Maaf, Mas. Tapi jauh sebelum ketemu sama Mas, aku udah punya cita-cita."
"Dan aku harus mencapai semua yang telah direncanakan dalam peta perjalanan hidup."
"Mas juga udah janji, kalau kita akan saling mendukung bukan?"
"Mas sendiri yang bilang, kalau aku boleh menjadi apapun yang kuinginkan."
"Selama dalam koridor kebaikan, Mas nggak akan melarang. Itu kata-kata Mas yang selalu kupegang."
Ia tahu. Dan ingat betul. Pertemuan kedua mereka yang dilakukan di sebuah restoran keluarga. Memakan waktu lumayan lama.
Hampir tiga jam mereka membicarakan tentang sekarang dan hari esok. Terutama tentang cita-cita Kinan untuk menjadi seorang optalmologis.
Waktu itu ia berpikir, bukankah semua orang memiliki cita-cita? Tapi ketika akhirnya dihadapkan pada kenyataan dan harus memilih. Perpaduan akal dan hati yang akan menjadi penuntun.
Dan ia berkesimpulan, jika Kinan adalah sosok cerdas dengan hati yang lembut.
Namun ternyata ia salah besar.
Kinan memang cerdas dan berhati lembut. Tapi juga penuh dengan ambisi. Ini yang luput dari perhatiannya.
Jadi ketika di tahun ketiga pernikahan, ia dipindahtugaskan ke sebuah kota kecil di daerah Jawa Timur bagian selatan. Kinan terang-terangan menolak untuk ikut.
"Aku di Surabaya aja."
"Mas bisa pulang seminggu sekali kan?"
"Reka umurnya belum satu tahun."
"Lebih nyaman di sini. Gampang kemana-mana. Apalagi kalau Reka sakit."
"Lagian beberapa bulan lagi aku udah ambil spesialis."
Oke. Ia setuju. Selain Reka yang masih kecil, Kinan juga tengah melanjutkan pendidikan spesialis.
Ia pikir setelah Kinan menyelesaikan pendidikan spesialis dan Reka semakin bertambah besar, mereka bisa kembali berkumpul menjadi keluarga utuh.
Namun kenyataan jauh dari harapan. Karena usai menempuh pendidikan spesialis, Kinan kembali melanjutkan studi ke Strata tiga di Kampus Jakun. Kemudian memilih untuk mengikuti program fellowship di Lyons Eye Institute, Perth, Australia. selama 9 bulan.
Sejak saat itu, mereka menjadi seperti orang lain. Tak ada lagi perasaan yang melingkupi di setiap pertemuan. Hanya sebatas menggugurkan kewajiban tanpa getaran cinta.
Tak ada lagi percikan yang menggetarkan. Tiba-tiba semua terasa hampa, kosong, asing.
Sebagai gantinya, ia mati-matian mengabdikan diri pada tugas dan pekerjaan. Untuk mengalihkan pikiran dari rasa marah yang mau tak mau muncul ke permukaan.
"Udah sih lepas aja kalau udah nggak ada cinta," begitu seloroh Rajas, sahabatnya, tiap kali mereka bertemu.
"Percuma juga lu hidup kayak bujangan begini."
"Lebih ngenes dari bujangan malah!" ledek Riyadh sambil terbahak.
Ia hanya tertawa sumbang. Sama sekali tak mendengarkan nasehat sesat yang diberikan oleh Rajas, pemilik DNA player sejati. Ataupun ledekan dari para sahabat gesreknya yang lain.
Terlebih Mama sempat mewanti-wanti, "Om Sungkawa (Bapaknya Kinanti) itu sahabat Papa dari SMP. Jangan sampai mengecewakan kami semua, Tama."
"Cepat selesaikan masalah kalian secara baik-baik."
"Kalau bisa bikin adek buat Reka."
Ia akhirnya memutuskan untuk memaksakan diri menabung. Dari gaji PNS golongan III/B sebagai penata muda tingkat I. Bertekad untuk membangun istana mereka sendiri. Dan berharap, semua akan membaik ketika mereka menempati rumah hasil keringatnya sendiri. Bukan rumah pemberian Papa seperti yang selama ini mereka tempati.
Namun ketika bakal istana mereka bahkan masih berbentuk tanah kavling. Kinan mengatakan hal yang sangat di luar nalar.
"Kalau nanti rumah ini jadi, Mas mau keluar?"
"Keluar?" ia sama sekali tak mengerti.
"Keluar dari Kepolisian."
Ia langsung tertawa, "Maksudnya apa De?"
Kinan menghela napas panjang. Sebelum akhirnya berkata dengan nada lirih. Namun bagi telinganya terdengar seperti petir menyambar.
"Aku....nggak nyaman jadi istri polisi."
Ia hanya terlolong.
"Sejak dulu...aku nggak pernah mau jadi istri polisi ataupun tentara."
Ia hanya tertawa sumbang, "Apa lagi ini De??"
"Mas tahu? Ada satu profesi yg di akhir zaman, yang ketika pergi di pagi hari berada dalam kemurkaan, dan pulangnya di sore hari dalam kemarahan."
"Banyak yang menafsirkan jika itu adalah penegak hukum."
Tawanya semakin sumbang, "Bapak kamu sendiri seorang polisi De."
"Karena itu aku nggak mau punya suami polisi!"
Malam itu ia hanya bisa pergi dari hadapan Kinan dengan gusar. Lalu membanting pintu sekeras mungkin.
Belakangan ia baru tahu, jika Kinan mempunyai kenangan masa kecil yang kurang mengenakkan dengan sang Bapak. Dan itu menimbulkan trauma mendalam.
Meski selama ini Kinan selalu berusaha menekan seluruh kenangan buruk tersebut. Namun di satu titik, ketika ada hal yang memicu, kegelisahan di masa lalu akan muncul ke permukaan. Lalu menimbulkan ketidaknyamanan.
"Kita harus ke psikolog," ujarnya setelah bisa menenangkan diri. "Aku antar kamu ke psikolog."
"Aku baik-baik saja, Mas."
"Kamu nggak baik-baik aja," geramnya mulai kehilangan akal.
"Mas keluar dan case closed!" pekik Kinan sambil menutup kedua telinga dan menggelengkan kepala berkali-kali.
"Aku ikut kemanapun Mas mau, dan jadi istri yang baik!"
Ia berusaha meraih dan memeluk. Sekedar berbagi perasaan yang sama. Tapi Kinan bahkan langsung menolak dan menepis uluran tangannya.
"Waktu kecil aku juga sering dipukul sama Papa," ia mencoba memberi pengakuan.
"Pernah dikunciin dari dalam sampai harus tidur di luar semalaman."
"Pernah juga dikunciin di dalam kamar mandi sampai berjam-jam."
"Kalau aku ketahuan nggak mengerjakan PR karena keasyikan main bola, Papa langsung merobek bukuku."
"Papa juga ma...."
"Tapi Papa Setyo sayang sama kamu, Mas," Kinan memotong kalimatnya dengan mata berkaca.
Ia mengangguk tanda setuju.
Ia tahu. Dibalik sikap tegas dan disiplin yang ditunjukkan, Papa adalah sosok ayah yang sangat penyayang.
Bahkan selama 15 tahun ia tinggal di rumah (karena sejak usia 16 tahun ia telah menetap di asrama), tak pernah sekalipun ia mendengar Papa membentak Mama. Apalagi berlaku kasar. Tidak sama sekali.
"Sementara Bapak enggak," lanjut Kinan dengan air mata berlinang.
"Darimana kamu tahu Bapak enggak sayang?" tanyanya tak mengerti. "Mana ada Bapak yang nggak sayang sama anaknya?"
Ia tetap melanjutkan proses pembangunan rumah. Yang seluruh desain ruangan dan detailnya di rancang sendiri oleh Kinan. Sementara Riyadh (sahabatnya yang berprofesi sebagai Arsitek) hanya memberi pertimbangan dari segi manfaat dan efektivitas.
Namun di tengah proses pembangunan rumah, hal yang selama ini mengganggu pikiran dan selalu ia khawatirkan. Akhirnya terjadi juga. Yaitu pengakuan Kinan.
"Maaf, Mas....tapi rasa itu telah hilang."
"Aku nggak mau kita sama-sama terluka."
Ia ingin menghancurkan semua barang yang ada di sana. Tapi yang terjadi justru ia menertawakan diri sendiri dengan penuh kegetiran.
"Jadi segala kisah akhir jaman...polisi....dan cerita tentang Bapak itu hanya mengada-ada?"
Kinan menggeleng, "Semua nyata."
Tangannya refleks menggebrak meja, "Lalu kenapa baru sekarang?!"
Kinan sempat terkejut dengan sikap kasarnya. Tapi langsung bisa menguasai diri.
"Aku pikir akan bisa melaluinya sama Mas. Tapi ternyata....enggak."
"Siapa dia?!" geramnya tanpa bisa menguasai diri. "Sesama dokter?! Rekan kerja di Rumah Sakit?! Mahasiswa kamu?!?"
"Apa-apaan sih Mas?! Kenapa jadi nuduh aku begini?!"
"Kamu jelas berubah," gumamnya dengan hati remuk redam. "Sangat berubah."
"Terserah apa kata Mas!" jawab Kinan sengit. "Yang penting aku udah ngasih pilihan. Mas keluar dan kita tetap sama-sama."
"Tapi Mas ternyata lebih memilih pekerjaan Mas daripada...."
"Demi Tuhan Kinan!" ia tak lagi memanggil Kinan dengan sebutan Ade seperti yang selama ini dilakukannya.
"Ini bukan cuma pekerjaan! Ini semua aku raih nggak cuma-cuma!"
Kinan jelas memberanikan diri untuk menatap matanya sembari bergumam, "Aku nggak akan minta cerai."
"Karena itu perbuatan buruk."
"Tapi kalau Mas mau bercerai.....aku siap kapanpun Mas mau!"
Hari itu juga Kinan pergi membawa Reka ke rumah ibunya (Bapak dan ibu Kinan telah berpisah). Dan tak pernah kembali. Ibu mertuanya bahkan sudah angkat tangan.
"Maafkan Kinan ya nak Tama," begitu berkali-kali Ibu Kinan meminta maaf padanya.
Sampai akhirnya istana impian selesai dibangun. Namun kehidupan rumah tangga mereka justru seperti berada di dasar neraka.
Dan apa statusnya?
Rumit yang pasti.
Sangat rumit.
-----------
...........Masa Sekarang..........
Ia menghisap rokok untuk yang terakhir kali. Sebelum menggerusnya ke dalam asbak. Ketika tiba-tiba seseorang berusaha menutup pintu teras. Namun langsung diurungkan begitu melihatnya masih duduk di sana.
***
Beberapa hari lalu ia iseng bertanya pada Bang Nugie, "Bisa ngajuin ijin nggak, Bang?"
"Apa dulu nih keperluannya?"
Setelah memberi penjelasan singkat. Akhirnya ia berhasil memperoleh cuti selama dua shift. Yaitu untuk hari ini dan besok. Meski minggu depan harus menutup jam kerja yang ditinggalkan dengan over time.
Kini Aran telah tertidur nyenyak dengan perut kekenyangan karena ASI. Namun Anja justru meminta bantuannya.
"Ini ku mulai lecet," keluh Anja. "Pedih kalau di nen."
"Tolong olesin pakai tea tree oil dong."
Siap. Ini jelas hal yang menyenangkan. Meski ia takkan sampai kemanapun.
"Kamu juga boleh kok nyobain," kerling Anja dengan wajah menggoda.
Tapi ia hanya tertawa.
"Beneran nih nggak tertarik?" Anja jelas semakin berani.
"Kasihan nanti Aran minum bekas ayahnya," ia balas berseloroh.
"Kan habis itu bisa dicuci," Anja menatapnya lekat-lekat melalui sepasang mata bulat yang indah.
"Udah berani ya sekarang," ia menyentuhkan jari telunjuk mengenai puncak hidung Anja.
"Habis kasihan lihat kamu mupeng terus tiap Aran nen."
Jawaban Anja jelas membuatnya tergelak.
"Sssttt!" Anja mengkerut. "Jangan berisik nanti Aran bangun."
Dan ia memilih untuk segera menyatukan wajah mereka berdua. Mencecapi rasa manis Anja yang melenakan.
1 detik. 5 detik.
Namun ia harus rela melepaskan karena mereka mulai kehabisan napas.
"Bener nih nggak mau nyoba?" bisik Anja di telinganya. "For free...."
Ia terkekeh. Lalu mencium kening Anja seraya berbisik, "Sayaaang Bunda Aran...."
"Orangtua bilang nggak boleh coba-coba," lanjutnya sambil menahan geli. "Nanti kucing garong malah mau nambah lagi...dan lagi...."
"Siap, Neng?" selorohnya lagi seraya menempelkan kening mereka berdua.
Membuat Anja ikut tertawa, tapi sambil memukul dadanya sebal.
Dan begitu prosesi mengoleskan tea tree oil selesai, ia segera membantu Anja mengancingkan baju.
"Aku ambil minum dulu," ujarnya sambil menunjuk teko kaca di atas meja yang telah kosong. "Kamu mau diambilin apa?"
Anja menggeleng, "Nggak, makasih."
Ia pun beranjak keluar kamar dan langsung menuju ke dapur. Untuk mengisi teko kaca dengan air putih.
Namun ketika hendak kembali ke kamar, dilihatnya pintu yang menuju ke teras samping terbuka lebar. Padahal lampu ruang tengah telah dimatikan. Menandakan jika tak ada orang lagi di sana. Hanya terdengar suara para pekerja vendor yang masih sibuk mendekor tenda.
Ia segera menyimpan teko kaca di atas meja makan. Lalu melangkah menuju ke ruang tengah, bermaksud untuk menutup pintu.
Tapi ia justru terkejut ketika mendapati seseorang tengah duduk di teras samping. Dan itu adalah Mas Tama.
"Maaf, Mas," ujarnya spontan. "Saya kira nggak ada orang."
Mas Tama yang sedang menggerus rokok ke dalam asbak terbatuk sebentar. Lalu berkata, "Sini sebentar."
Ia pun langsung melangkah keluar. Dan mengambil duduk di seberang Mas Tama.
"Sada bilang kamu masuk Ganapati?"
Ia mengangguk.
"Kapan ke Bandungnya?"
Ia mengernyit, "Ke Bandung...buat apa Mas?"
"Daftar ulang lah. Apalagi?"
Ia semakin mengernyit, "Saya...nggak akan daftar ulang, Mas."
"Nggak akan daftar ulang gimana maksudnya?"
"Ya....saya nggak akan ambil."
"Nggak ambil gimana?"
"Saya baru dua bulan lalu tanda tangan kontrak. Nggak mungkin keluar."
"Kata siapa nggak mungkin? Udah nanya ke atasan kamu?"
"Belum."
"Waktu kamu tanda tangan kontrak, ada klausul nggak boleh resign selama waktu kontrak?"
Ia menggeleng karena tak bisa mengingatnya. Benar-benar lupa.
"Lupa, Mas."
"Kalau gitu cari info," ujar Mas Tama cepat. "Boleh resign nggak?"
"Kalau boleh apa syaratnya. Apa harus mengganti sejumlah rupiah tertentu?"
"Kalau nggak boleh apa alasannya."
Ia menghela napas panjang sebelum memberanikan diri untuk berkata, "Tapi saya memang nggak akan keluar dari Axtra, Mas."
Mas Tama menatapnya tak mengerti, "Kamu lebih milih kerja di pabrik daripada kuliah?"
Ia mengangguk, "Kuliah bisa kapan aja, Mas."
"Terus terang untuk tahun ini...saya belum siap."
"Kamu kontrak berapa lama di Axtra?"
Ia mengingat sebentar, "Kalau nggak salah 10 bulan."
Mas Tama mengernyit, "Sampai April?"
"Iya."
"Terus habis itu kamu mau ngapain?"
"Kerja lagi kalau bisa."
"Langsung bisa perpanjang kontrak?"
"Nggak juga, Mas."
"Paling mulai dari awal lagi. Ngelamar lagi, tes...."
"Mau sampai kapan begini?"
"Atau kalau enggak....saya bisa cari kerja di tempat lain yang lebih baik."
"Pakai ijazah SMA?"
Ia mengangguk.
"Terus Anja kuliah Kedokteran Gigi, tapi kamu cuma punya ijazah SMA, ngelamar kerja kesana kemari?"
Ia hanya menghela napas mendengar kalimat yang diucapkan oleh Mas Tama.
"Ini kesempatan berharga buat kamu."
"Saya belum punya biaya untuk kuliah, Mas."
"Kita nggak lagi ngomongin biaya di sini!"
Ia kembali menghela napas. Lalu bergumam pelan, "Tapi itu di Bandung, bukan Jakarta."
"Bandung-Jakarta cincai lah," sergah Mas Tama cepat.
Ia kembali terdiam. Tak lagi menjawab sanggahan Mas Tama.
"Coba kamu pikirin lagi," ujar Mas Tama kemudian. "Obrolin berdua sama Anja."
"Ini tuh masa depan," Mas Tama meletakkan telunjuk di atas meja.
"Dan kesempatan nggak datang dua kali," lanjut Mas Tama dengan mimik serius.
"Kamu mungkin mikir, kalau kerja lebih baik."
"Saya harus menafkahi Anja dan A..."
Namun kalimatnya terpotong di udara karena Mas Tama keburu menyahut, "Iya, tahu!"
"Tapi setelah 10 bulan? Apa yang akan terjadi?"
"Terus tahun depan, apa kamu bisa menjamin, bakalan masuk ke Ganapati lagi?"
"Kalau kubilang nih ya perumpamaannya, sekarang kamu pilih kerja, itu ibarat kamu lagi jalan kaki ke Bekasi."
"Sementara kuliah.....itu ibarat kamu mundur lima sampai sepuluh menit ke belakang untuk ambil mobil atau motor. Terus kamu pergi ke Bekasi."
"Duluan nyampai yang mana?"
Ia kembali menghela napas mendengar perumpamaan yang diberikan oleh Mas Tama.
Kini diantara mereka tak ada lagi yang berbicara. Hanya terdengar suara obrolan para pekerja vendor yang hampir menyelesaikan tugasnya.
"Dapatnya jurusan apa?" pertanyaan Mas Tama memecah kesunyian.
"Kalau di Ganapati belum masuk ke jurusan, Mas. Tapi masih setara fakultas."
"Iya, apa?"
"Teknik elektro dan informatika."
Mata Mas Tama langsung membulat begitu mendengar jawabannya. Lalu berkata dengan penuh keyakinan, "Kamu tahu nggak kalau Ayah kamu dulu lulusan teknik elektro?"
Meski Mamak sama sekali tak pernah menceritakan riwayat pendidikan Ayah, namun ia pernah membaca di sebuah artikel, jika Ayah pernah berkuliah di jurusan teknik elektro.
Dan ini membuatnya menganggukkan kepala.
"Kamu itu mikir buat jauh ke depan," lanjut Mas Tama dengan nada berapi-api.
"Bukan untuk hidup sehari dua hari."
***
Keterangan :
Residen. : atau dokter residen adalah seorang dokter yang sedang menjalani pendidikan untuk menjadi seorang dokter spesialis