
Anja
Entah angin apa yang membuatnya melepas dress floral hadiah dari Cakra lalu mengganti dengan kemeja putih lengan panjang milik Cakra. Bahan kain kemeja yang masih agak kaku itu jelas kebesaran di tubuhnya. Hampir tiga kali lipat dari ukuran baju miliknya.
Ia masih berusaha mengancing kemeja milik Cakra sambil berdiri di depan kaca yang menempel di pintu lemari, ketika matanya tak sengaja menangkap deretan buku yang berada di rak paling atas. Sedikit luput dari perhatiannya tadi ketika memeriksa keseluruhan isi rak.
Tulisan berbunyi Stephen Hawking lah yang membuat tubuhnya memutar dari depan pintu lemari ke rak buku. Ia bahkan harus menengadahkan kepala untuk melihat deretan buku tebal tersebut karena letaknya yang cukup tinggi. Tak mampu digapai meski kakinya sudah berjinjit semaksimal mungkin.
Membuatnya memutuskan untuk mengambil kursi lipat lalu mengggunakannya sebagai pijakan.
Hmm, ternyata ada banyak buku dengan judul lumayan populer di sini selain yang berbau matematika dan turunannya. Ia bisa menyebut populer karena pernah melihat buku dengan judul serupa di rak buku Mas Sada.
Selain itu, beberapa judul buku yang berada di rak paling atas ini, seingatnya pernah dipajang di etalase utama jaringan toko buku terkemuka. Yeah, meski sama sekali tak pernah tertarik untuk membaca buku-buku tersebut. Karena pasti isinya berat, tak ada asyik-asyiknya dan sama sekali tak memuat sisi romantis. Definitely not her type.
Dari ujung kiri telunjuknya mulai mengurutkan, The Grand Design - Stephen Hawking, A Brief History of Time - Stephen Hawking, The Universe in A Nutshells - Stephen Hawking, dan....ada novel juga ternyata. Meski bukan jenis novel romance.
Dibacanya buku tebal berbahasa Inggris keluaran lama yang sampulnya sudah mengelupas di sana-sini, The Firm - John Grisham.
Lagi-lagi tak terlalu menarik baginya. Membuatnya segera beralih ke sebelah. Dimana terdapat sebuah buku paling tebal yang disimpan dalam posisi tertidur. Tidak diberdirikan seperti buku-buku lain. Mungkin karena ukurannya paling besar dengan ketebalan menyamai bantal.
"Tebal banget?" gumamnya heran seraya mengambil buku tersebut dengan kedua tangan karena bobotnya yang lumayan berat.
"Uhuk...uhuk!!" ia bahkan terbatuk-batuk karena debu mendadak beterbangan ketika buku berhasil diraih.
"Ih! Jorok!" desisnya kesal.
"Nggak pernah beberes pasti nih. Debunya tebel banget!" sungutnya yang harus mengipas-ngipas tangan kanan agar debu tak menghampiri hidungnya.
Setelah debu mulai berkurang, diperhatikannya sampul buku setebal bantal yang berwarna kuning cerah itu. Bergambar seorang pria menyeramkan yang sedang menghunus pedang panjang (sebenarnya itu adalah samurai) bertuliskan Mahakarya Eiji Yoshikawa - Musashi.
Iseng dibukanya buku tersebut. Karena penasaran dengan isinya. Ingin tahu sebenarnya menceritakan tentang apa sampai bisa memiliki ketebalan yang luar biasa.
Namun matanya justru terbelalak demi membaca lembar pertama. Dimana terdapat tulisan tangan yang begitu manis berbunyi,
Dear Agam,
Happy belated birthday.
Yeayyyy.
Ini buku favorit kamu kan?
Happy reading 👓
From Salma with love
Sontak membuatnya mencibir dan buru-buru menyimpan kembali buku setebal bantal itu ke dalam rak dengan gerakan sedikit kasar.
"With love," cibirnya sebal dengan hati memanas.
"Begitu ngaku cuma teman," gerutunya dengan jantung berdegup kencang akibat emosi yang mulai membakar.
Sambil terus menggerutu tangannya kembali mengambil sebuah buku secara acak. Kali ini The Grand Design nya Stephen Hawking. Buku yang persis sama seperti yang dimiliki Mas Sada.
Dengan hati yang masih kesal ia pun membuka lembaran pertama. Hanya sekedar ingin tahu seperti apa isi buku tersebut. Namun lagi-lagi ia menjumpai tulisan tangan yang sama.
Just for Agam
[ tanda tangan ]
Salma
Idih?!?
Dengan membabi buta ia pun mulai mengecek satu per satu deretan buku yang tersimpan di rak paling atas. Dimana hampir 90% dari buku-buku tersebut, lembar pertamanya berisi jenis tulisan tangan yang sama. Meski dengan bunyi berbeda.
Special to Agam
From : Salma
Agam,
Buku ini sebagai tanda persahabatan kita.
With love,
Salma
Hubert H. Humphrey said hadiah terbesar dalam hidup adalah persahabatan.Â
Thanks for having me, Agam.
Forever : Salma
Tangannya mendadak gemetaran ketika membaca tulisan tangan yang terakhir. Ada sejumput rasa berbeda turut menguasai hati dan kepalanya yang kian mendidih akibat amarah.
Memancing sekelumit kegelisahan yang mendatangkan rasa nyeri di sudut hati. Menghadirkan perasaan terancam yang berakibat buruk pada penguasaan diri. Membuatnya memutuskan untuk mengembalikan buku ke dalam rak dengan cara dilempar. Sontak berhasil merusak deretan buku yang sebelumnya telah berjajar rapi. Beberapa bahkan mulai berjatuhan dengan dua buah buku tepat mengenai dadanya. Sialan!
Sambil menggerutu panjang pendek dengan terpaksa ia mulai merapikan kembali jajaran buku yang berantakan terkena lemparannya tadi.
Menyusun secara sembarangan tanpa memperhatikan besar kecilnya bentuk buku hingga penampilan rak terlihat sangat tak beraturan.
Emangnya gue pikirin! sungutnya dalam hati sembari tangannya terus bergerak merapatkan buku. Sebelum nanti harus turun dari kursi guna memunguti buku-buku yang terjatuh di lantai. Ampun deh, nambah-nambahin kerjaan aja sih!
Ia pun masih berusaha merapikan buku di dalam rak dengan hati dongkol, ketika telinganya menangkap suara handle pintu yang terbuka.
***
Cakra
Tadi Andri mengajaknya untuk bertandang ke rumah Ustadz Arif. Bersama Iyan, Toni, dan Dafa, mereka berempat adalah pengurus Karang Taruna RW 3, RW dimana lingkungan tempat tinggalnya berada.
"Tiga minggu lagi ada PHBI (peringatan hari besar Islam)," terang Andri ketika ia bertanya maksud kedatangan mereka ke rumah Ustadz Arif.
"Pak RW minta remaja buat ngadain kegiatan."
"Kita mesti konsul dulu sama Ustadz. Biar nggak salah langkah yekan."
"Lu ikut lah," begitu kata Andri. "Sekalian kasih ide."
Usai dari rumah Ustadz Arif, mereka beranjak menuju ke warung kopi milik kakak Iyan yang terletak di dekat pasar. Tempat nongkrong favorit anak-anak muda di daerah sekitar sini.
Apalagi malam panjang seperti sekarang ini. Suasana Warkop bisa dipastikan penuh sesak dan riuh rendah oleh suara canda dan tawa. Lengkap dengan kepulan asap rokok yang memenuhi seantero ruangan.
Ia pun turut larut dalam obrolan seru anak-anak. Sesekali ikut terbahak jika mereka mulai saling melempar jokes kotor yang menjurus. Khas anak muda jika sedang berkumpul dengan sesama.
Namun demi melihat jam di pergelangan tangan kanan, ia pun memutuskan untuk segera menghabiskan segelas kopi pesanannya dan pamit pulang.
"Gua cabut dulu!"
"Masih sore, Gam! Mau kemana?!" teriak anak-anak.
"Nemuin bini dong. Si Agam udah punya bini sekarang!" tapi justru Andri yang menjawab.
"Sumpeh lu?!"
"Kecelakaan lu makanya kawin duluan?!" teriak seseorang dengan tawa berderai.
"Telat ngangkat lu!" balas yang lain tak kalah tergelak.
Membuatnya menggelengkan kepala sambil tertawa sumbang.
"Kapan kawinnya sama Salma lu?!" tanya seseorang menyelidik.
"Nggak mungkin orang sekelas Pak Neswan ngawinin anaknya nggak pakai pesta gede-gedean. Ya nggak?!?" sambar yang lain ikut kepo.
Namun Andri kembali tampil menjadi juru bicara, "Bukan Salma. Tapi orang lain."
"Lu ninggalin Salma, Gam?!"
"Lagi patah hati dong si Salma?! Wah, kesempatan emas buat gua nih!"
Ia masih menggelengkan kepala sambil tertawa-tawa sumbang. Sama sekali tak berniat untuk meladeni keriuhan yang ditimbulkan akibat mulut besar Andri. Memilih untuk beranjak pergi dari dalam Warkop. Meski begitu, sayup-sayup telinganya masih bisa mendengar Andri berseloroh.
"Bininya Agam gila cakep parah!"
"Beeeniiiingnyaaaa!"
"Tiap hari mandi pakai air galon kali bisa sebening itu!"
Disusul derai tawa anak-anak se-Warkop yang saling menyahut riuh rendah mengomentari informasi faktual tentang dirinya.
Ia pun berjalan kaki dengan tergesa menuju ke rumah. Meski mungkin Anja telah tertidur karena tadi sempat mengeluh pegal-pegal.
Dan demi mengingat pegal-pegal yang dikeluhkan Anja, membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
"Woi, Gam!" teriak seseorang dari arah pos ronda. "Kesambet apa lu senyum-senyum sendiri?!"
Dilihatnya Cang Romli tengah duduk-duduk bersama beberapa orang di depan pos ronda. Membuatnya terbahak dan melambaikan tangan, "Duluan, Cang!"
Begitu sampai di depan rumah, keadaan telah sepi. Lampu ruang tamu sudah dimatikan berganti dengan bohlam 5 watt yang temaram. Dan semua pintu serta jendela juga telah tertutup rapat.
Ia masuk ke dalam dan segera mengunci pintu. Langsung disambut dengan suara dengkuran halus Ichad dan Umay yang memilih tidur di depan televisi hanya dengan beralaskan kasur Palembang yang telah menipis.
Dari sudut mata terlihat sorot lampu terang masih menyala dari dalam kamarnya. Berarti Anja belum tidur. Atau sudah tidur tapi lupa mematikan lampu?
Namun sebelum memasuki kamar ia berjalan menuju ke kamar mandi terlebih dahulu. Untuk mencuci tangan dan kaki. Juga melepas kaos yang terasa lengket akibat keringat dan bau asap rokok.
Dengan bertelanjang dada ia pun membuka pintu kamar. Dan terkejut demi mendapati banyak buku berserakan di atas lantai. Dengan Anja yang tengah berdiri di atas kursi.
"Ja?" tanyanya heran.
"Eh?!" Anja menengok ke arahnya dengan ekspresi terkejut.
Namun bukan reaksi kaget Anja ataupun buku-buku berserakan yang menyita seluruh perhatiannya. Tapi penampilan menarik Anja yang berhasil memancing semacam reaksi kimia di dalam tubuhnya.
Pemandangan visual Anja yang hanya berbalut kemeja putih kebesaran miliknya langsung mengaktivasi bagian tertentu dari otak dan mengacaukan sistem pertahanan diri. Menguarkan aroma feromon yang begitu kuat.
Mendorong kakinya untuk segera bergerak mendekat. Melewati dress floral yang teronggok begitu saja di atas lantai. Juga buku-buku yang berserakan dimana-mana.
"Kamu lagi apa?" tanyanya dengan nada suara tak terkontrol.
"Eh....ini....," Anja terlihat makin salah tingkah sembari menunjuk rak buku. "Lagi lihat-lihat buk...."
"Mau turun?" tawarnya seraya mengulurkan tangan.
Anja tersenyum mengangguk dan mulai berpegangan pada kedua lengannya. Namun ini justru menjadi masalah besar yang sebenarnya. Karena ketika membungkukkan badan untuk turun, kian terpampang nyata jika Anja sama sekali tak mengaitkan tiga kancing teratas kemejanya. Membuat keindahan yang seharusnya tersembunyi menjadi terang benderang.
***
Anja
Pasti kini wajahnya sudah merah padam saking malunya karena terpergok oleh Cakra sedang mengacaukan isi kamar.
Tapi Cakra sama sekali tak tertarik untuk membahas buku yang berserakan di atas lantai. Justru mendekat dan menawarkan bantuan padanya untuk turun dari kursi dengan suara yang terdengar lebih serak dan semakin dalam.
"Mau turun?"
Ia menganggukkan kepala dan mulai membungkukkan badan untuk berpegangan pada lengan Cakra kemudian turun. Tapi terkadang, niat lurus tak selalu berjalan sesuai rencana. Karena kini ia justru memekik kaget demi menyadari belum mengaitkan tiga kancing kemeja paling atas. What the hell, Anja!
"Sstttt," Cakra menempelkan telunjuk di depan bibirnya agar tak berteriak. Namun sentuhan sekilas yang dilakukan oleh Cakra sambil lalu justru kian memancing gelenyar aneh yang berhasil membuat tubuhnya menjadi panas dingin hanya dalam sekejap.
"Dindingnya terbuat dari kayu," terang Cakra setengah berbisik. "Kalau kamu teriak nanti semua orang bangun."
Ia pun menganggukkan kepala dengan bodoh. Kembali berpegangan pada lengan Cakra. Meski itu artinya salah satu unsur penting yang harusnya tersembunyi menjadi terekspose dengan begitu bebasnya. Dan mata Cakra jelas merekam dengan baik visualisasi dirinya saat ini. Ditandai dengan mengerasnya rahang menawan itu dan juga pupil mata yang membesar.
Kini telapak kakinya telah menyentuh lantai. Namun kedua tangan masih tetap bertumpu pada bahu Cakra, seolah enggan terlepas. Momen yang benar-benar tak disia-siakan. Karena dengan gerakan yang begitu halus, Cakra perlahan mulai menyatukan mereka berdua untuk kemudian sama-sama terhanyut dalam pusaran arus paling memabukkan yang pernah ada.
Bisakah semua ini berlangsung selamanya? batinnya penuh harap.
Karena sungguh sentuhan Cakra telah berhasil melambungkan dirinya terbang ke awang-awang dan tak ingin kembali. Menetap di angkasa dengan penuh rasa ketersanjungan.
Dan sikap terbuka serta penerimaannya berhasil memancing Cakra untuk makin menjelajah lebih dalam. Menelusuri inci demi inci telaga keindahan. Menggali, menjejaki, merambah, kemudian mengakhiri gejolak dengan gigitan manis yang teramat dalam.
"Sakit nggak?" Cakra tersenyum sembari mengusap pipinya lembut.
Dengan bibir membengkak yang terasa begitu panas membara, ia menggelengkan kepala seraya tersipu. Meski sanubarinya kini bahkan berteriak menjijikkan tanpa rasa malu sedikitpun, "Lagi, please."
Tapi tak keburu terucap karena tiba-tiba Cakra telah mendudukkannya ke atas meja. Menenggelamkan diri padanya. Kembali menelusur dan membelai. Menjelajah lebih dalam untuk kemudian menyesap penuh kelembutan.
Memancing mulutnya untuk mengeluarkan suara asing. Namun dengan secepat kilat Cakra buru-buru membungkamnya seraya menggelengkan kepala.
Ya, tentu, baiklah. Akan sangat memalukan bukan jika ia mengeluarkan suara aneh di tengah kamar sempit yang berhawa panas ini. Sementara dinding yang membatasi mereka dengan kamar sebelah terbuat dari kayu.
Mungkin esok hari Kak Pocut akan berubah masam padanya. Jika suara mengerikan yang berasal dari mulutnya sampai lolos terdengar hingga keluar. Tentu tak boleh terjadi.
Membuatnya harus menggigit bibir keras-keras tiap kali Cakra mengayunnya ke udara. Dan itu tak cukup sekali dua kali. Tapi sering kali bahkan berulang kali. Membuatnya kian tak berdaya dan harus memohon dengan sangat, "Cakra....."
"Lakukan sekarang juga....."
***
Cakra
Beberapa kali ia harus membekap mulut Anja agar tak mengeluarkan suara-suara mengundang yang bisa membuat orang-orang terbangun dari tidur nyenyaknya. Kondisi kamar yang sempit dan rumah yang tak terlalu luas serta berdempetan dengan tetangga, jelas bukan setting sempurna untuk meluapkan perasaan yang membuncah.
Sangat jauh berbeda dengan peristiwa -menyenangkan- yang terjadi dini hari tadi di rumah Anja. Luas kamar Anja yang hampir mencakup keseluruhan rumahnya, juga tembok pembatas yang kokoh, membebaskan Anja untuk mengekspresikan rona tanpa ragu. Karena kecil kemungkinan bisa terdengar oleh orang lain.
Namun saat ini keadaan jauh berbeda. Ia tentu tak ingin membuat Mamak dan Kak Pocut merasa jengah jika mengetahui apa yang sedang diperbuatnya terhadap Anja. Jadi menutup mulut rapat-rapat adalah jalan keluar yang terbaik.
"Cakra....," bisikan suara Anja terdengar malu-malu sembari menatapnya dengan raut merah merona.
"Lakukan sekarang juga....."
Membuat dadanya meluap dipenuhi rasa sukacita. Sure, baby. Your wish is my command.
***
Anja
Tubuhnya kini seolah mempunyai kendali tersendiri yang berada di luar kuasa dirinya. Memiliki ketergantungan yang begitu kuat akan sen tu han lembut Cakra. Rasanya tak pernah ada puasnya. Meletup-letup kemudian berteriak menginginkannya lagi, lagi, dan lagi. Sungguh memalukan.
Namun kini semua telah usai. Tinggal menyisakan rona bahagia dan senyum penuh sukacita yang sepertinya akan menetap lama saking hatinya teramat berbunga-bunga.
Dengan perlahan Cakra meraih kepalanya agar bersandar di dada. Hingga bisa mendengar degup jantung milik Cakra yang berdetak dengan sangat beraturan. Membuat senyumnya kembali terkembang. Apakah memang seindah ini menikah? Yeah, di luar perjalanan kisah mereka yang berliku dan berhias airmata. Namun satu yang harus disyukuri, karena ternyata Cakra memang terasa begitu spesial baginya.
Oh, apakah Cakra adalah kado terindah yang jatuh dari langit untuknya? Semoga memang benar adanya.
Bibirnya masih menyunggingkan senyum ketika perlahan mulai terdengar kesibukan orang-orang di luar kamar.
"Ini jam berapa?" tanyanya heran.
"Kenapa?" Cakra balik bertanya dengan suara serak karena sudah setengah tertidur.
"Udah ramai di luar."
Cakra mengecup keningnya sembari berbisik, "Udah, tidur aja. Itu suara Mamak sama Kak Pocut mau masak."
"Masak? Malam-malam begini?!" tanyanya tak mengerti.
Namun Cakra tak lagi menjawab keingintahuannya. Bahkan sejurus kemudian mulai terdengar dengkuran halus.
Tapi ia tak marah meski Cakra terlelap lebih dulu. Dengan senyum yang terus terkembang ia pun mulai memejamkan mata. Mengikuti langkah Cakra yang telah lebih dulu terbang ke alam mimpi. Alangkah indahnya.