Beautifully Painful

Beautifully Painful
47. Starting The Countdown



Anja


Ia baru menyelesaikan fitting baju untuk acara besok ketika Cakra muncul dari balik pintu sambil tersenyum malu. Hmm.


"Wah, belum selesai ya, Teh? Saya mesti keluar lagi?" tanya Cakra dengan gaya akrab kearah Teh Dara yang masih berbincang dengan Cik Lily, pemilik modiste langganan Mama.


Ya, ia jelas menolak mentah-mentah saran Teh Dara tentang memakai kebaya untuk besok. Memangnya ia sudah emak-emak pakai kebaya? Nggak mau dong ah. Inginnya pakai baju yang nyaman dan yang ia suka. Seperti gaun cantik berbahan lembut yang dipakainya saat perayaan sweet seventeen hampir setahun lalu.


Alhasil pegawai butik yang sudah keburu datang ke rumah sakit untuk fitting harus pulang dengan tangan kosong. Disusul kehectican Teh Dara menghubungi beberapa penjahit yang dirasa sanggup untuk membuat baju hanya dalam waktu semalam.


Dan pilihan akhirnya jatuh pada Cik Lily, pemilik modiste langganan Mama yang memang selalu welcome tiap keluarga mereka memiliki hajat genting dan mendadak. Seperti saat ini contohnya.


"Nggak...nggak...," geleng Teh Dara. "Kita udah selesai kok. Masuk aja. Duduk dulu," jawab Teh Dara sembari menoleh sekilas kearah Cakra, juga dengan gaya yang tak kalah akrab.


Hmm, sejak kapan Cakra akrab dengan Teh Dara? Sepertinya ia ketinggalan banyak informasi, cibirnya sembari mencubiti Grizzly.


"Oh, iya Teh," Cakra lagi-lagi tertawa malu kemudian mengambil kursi yang terletak tak jauh dari pintu lalu mendudukkan diri disana. Berjarak sangat jauh dengan dirinya yang kini sedang duduk di atas tempat tidur dan sama sekali tak menyapanya. Bagus!


Selama beberapa menit Teh Dara masih berbincang dengan Cik Lily, sementara ia menggerutu panjang pendek sambil pura-pura sibuk sendiri dengan duduk memunggungi Cakra yang juga berdiam diri sama sekali tak mengajaknya bicara.


Bagus sekali! Besok siang mereka akan menikah, tapi komunikasi sama sekali tak berjalan menyenangkan.


"Dah Anja," pamit Cik Lily sembari melambaikan tangan. "Sampai ketemu besok ya."


Ia tersenyum sambil balas melambaikan tangan, "Dah Cici."


"Lho, kok pada jauh-jauhan gini sih duduknya?" tegur Teh Dara begitu Cik Lily keluar dari ruang perawatan. "Lagi berantem?"


Terdengar suara Cakra tertawa kecil sembari menjawab, "Enggak, Teh."


"Sini dong," ujar Teh Dara yang kini telah berdiri di samping tempat tidurnya.


"Mau ganti baju dulu nggak?" tawar Teh Dara padanya bersamaan dengan Cakra yang meletakkan kursi di sisi lain tempat tidurnya kemudian mendudukkan diri disana.


Ia menggeleng sembari terus mencibir karena Cakra tak kunjung menyapanya meski sudah duduk berdekatan.


"Oke, masih ada setengah jam sebelum jadwal praktek dokter Stella. Teteh ke depan dulu ya mau pinjam kursi roda."


"Saya saja, Teh," tawar Cakra cepat sembari bangkit.


Tapi Teh Dara mengibaskan tangan, "Udah, kamu duduk aja."


"Ngobrol dong kalian berdua. Besok kan udah mau nikah. Masa masih malu-malu aja sih?" seloroh Teh Dara sambil membuka pintu keluar dan menghilang di baliknya.


Ia masih mencibir sambil mencubiti Grizzly dan Nemo secara bergantian ketika Cakra bergumam pelan, "Mm...Ja...."


"Apa?!" sungutnya sedikit kesal.


"Ehm....," langkah Cakra terdengar mendekat.


Dan tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya, "Bisa coba ini?" sembari mengulurkan telapak tangan yang berisi tiga buah cincin mainan berwarna perak. Persis seperti cincin yang pernah ia lihat dijual di kios aksesoris Pasar Malam dekat rumah Cakra beberapa hari lalu.


"Buat?!" membuat keningnya mengkerut heran.


Cakra meringis malu sambil berkata lirih seolah takut didengar orang lain, "Tadi mau beli cincin buat kamu, tapi kata yang punya toko suruh diukur dulu biar pas."


"Khawatir kebesaran apa kekecilan."


Ia memutar bola mata namun sembari mengambil tiga cincin yang ada di telapak tangan Cakra kemudian mulai mencobanya.


Cincin pertama, terlalu longgar dan jelas kebesaran. Yang kedua, sempit sekali bahkan tak bisa masuk seluruhnya. Membuat kepalanya spontan mendongak kearah Cakra yang ternyata sedang memperhatikannya lekat-lekat.


"Kekecilan ya?" gumam Cakra dengan suara bingung.


Kini cincin yang ketiga. Bisa masuk ke jari manisnya tapi terasa begitu mencengkeram kulit jarinya.


"Kekecilan juga?" tanya Cakra demi melihat reaksi wajahnya yang mengernyit.


"Sempit banget," jawabnya sembari mengembalikan cincin yang ketiga.


Membuat Cakra memandangnya bingung, "Atau aku pinjam cincin kamu buat tahu ukurannya?"


Ia menggeleng, "Gue nggak punya cincin dan nggak pernah pakai cincin."


"Kenapa?"


"Nggak cocok," jawabnya jujur. "Nggak betah pakainya. Gatel."


Jawaban yang diberikannya membuat kening Cakra mengkerut, "Kulit kamu alergi logam mulia?"


Ia mengangkat bahu, "Tahu. Tapi kalau gelang, gue pakai dan fine fine aja," ujarnya sembari menunjukkan pergelangan tangan kanan yang berhiaskan gelang.


Cakra menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca. Namun sedetik kemudian beranjak kearah meja yang berada di tengah ruangan, dimana diatasnya tersimpan sisa menu makan malamnya yang belum dibereskan oleh petugas.


"Diukur pakai kertas dulu ya, biar lebih akurat. Kalau nyari tali nggak keburu," ujar Cakra yang tanpa meminta persetujuannya telah meraih tangan kirinya, kemudian dengan penuh kehati-hatian mulai melingkarkan sobekan kertas panjang bekas tulisan menu makan malamnya tadi.


Ia yang tak pernah menduga Cakra akan melakukan ini hanya bisa terkesiap menahan napas karena sentuhan hangat tangan Cakra entah kenapa membuat jantungnya mendadak berdebar tak karuan.


Oh, ya ampun, Anja!


"Kalau cincin yang ketiga tadi masuk tapi sempit?" tanya Cakra tak mempedulikan wajah dan pipinya yang mulai memanas karena tangan mereka berdua masih saling bertautan.


Ia hanya bisa mengangguk sambil berusaha menetralkan degup jantung namun gagal.


Cakra ikut mengangguk, "Jadi tolok ukurnya cincin yang ketiga tapi nanti pilih yang lingkarnya lebih lebar sedikit sama ini," Cakra mengangkat kertas yang barusan dipakai untuk mengukur jarinya.


"Buat lebih mastiin biar nyaman dipakai."


Ia hanya menelan ludah dan tak menjawab apapun. Terlebih karena Cakra masih memegang tangannya meski urusan ukur mengukur keliling jari telah usai. Membuat kinerja jantungnya terus berpacu tiga kali lipat lebih cepat dibanding waktu normal. Yang benar saja, Anja.


Cakra masih saja memegang tangannya sembari tersenyum dengan mulut yang seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi keburu pintu ruangan terbuka disusul kemunculan Teh Dara.


"Ayo, siap meluncur ke bawah," ujar Teh Dara riang diikuti seorang perawat yang mendorong sebuah kursi roda.


Membuat Cakra langsung melepaskan genggaman tangannya dengan ekspresi kaget dan buru-buru menyimpan cincin serta kertas pengukur lingkar jarinya ke dalam saku kemeja.


"Udah siap kan? Atau masih ngobrol?" seloroh Teh Dara mungkin demi melihat ekspresi salah tingkah mereka berdua.


"Siap, Teh," jawab Cakra sambil berjalan untuk mengambil alih kursi roda dari tangan perawat.


"Oke," Teh Dara tersenyum.


"Makasih ya, Sus," ujar Teh Dara kearah perawat. "Biar ke bawahnya kami sendiri saja nggak perlu diantar."


"Baik, Bu," perawat tersenyum mengangguk kemudian keluar dari ruangan.


"Yuk?" kali ini Teh Dara telah meraih lengannya membantu turun dari tempat tidur. "Mama sama Mas udah nunggu di bawah."


Ia duduk di atas kursi roda yang didorong oleh Cakra menuju ke lantai 2, tempat dimana dokter Stella praktek.


Benar saja, Mama dan Mas Sada telah duduk di kursi tunggu poli kandungan yang terletak persis di depan pintu ruang praktek dokter Stella. Sementara Mas Tama tak terlihat, mungkin sedang pergi mengurus sesuatu.


Karena Teh Dara telah mendaftarkan namanya sekaligus membuat janji temu dengan dokter Stella, begitu ia sampai di poli kandungan, seorang perawat langsung menghampiri untuk melakukan pengecekan awal, yaitu memeriksa tensi dan berat badan.


Setelah selesai, perawat langsung mengarahkannya untuk memasuki ruang praktek dokter Stella.


"Rombongan ini Dok," seloroh Mama begitu mereka memasuki ruang praktek dokter Stella, kecuali Mas Sada yang tetap menunggu di luar.


"Wah, ibu Yuniar," sambut dokter Stella yang langsung berdiri dan memeluk Mama. "Apa kabarnya?"


"Baik, Alhamdulillah," jawab Mama seraya tersenyum. "Dokter apakabarnya? Dokter Juan juga apakabar?"


"Dulu terakhir Dara ya waktu periksa baby yang kedua?" seloroh dokter Stella.


"Iya, Dok," Teh Dara tertawa. "Sekarang anaknya udah TK, lagi lasak-lasaknya."


"Udah punya adik juga," timpal Mama.


"Oya?" dokter Stella menggelengkan kepala. "Sada rajin produksi ternyata."


Disusul tawa mereka bertiga. Sementara ia dan Cakra hanya bisa saling berpandangan sambil melempar senyum bingung.


Dokter Stella langsung memintanya untuk berbaring telentang di atas meja periksa. Kemudian seorang perawat mulai mengoleskan pelumas berupa gel yang terasa dingin ketika menyentuh permukaan kulit. Setelah itu barulah dokter Stella menggerakkan alat USG di atas permukaan perutnya.


Dan terlihatlah kondisi janin melalui gambar pada layar monitor sekaligus bisa mendengar suara denyut janin secara langsung.


"Wah, aku sudah sebesar buah mangga," gumam dokter Stella riang. "Usianya sekarang 23 minggu 2 hari."


"Panjangnya sudah 25 cm, beratnya 440 gram."


"Detak jantung bagus....plasenta bagus...kepala...kaki....tangan...itu kelihatan kan?" seloroh dokter Stella. "Lambaikan tangan sayang. Halo?"


Sementara ia tanpa sadar meraih tangan Cakra yang memang berdiri tepat di sampingnya lalu meremas tangan lebar dan kokoh itu kuat-kuat.


Begini rasanya mengetahui ada kehidupan lain di dalam tubuhnya. Meski ini adalah kali kedua melakukan pemeriksaan USG, namun suasananya jauh berbeda dibanding saat pertama. Dimana ia masih merasa marah dan tak terima dengan apa yang telah terjadi.


Tapi sekarang semua telah jauh berbeda. Hatinya mulai bisa menerima, meski belum sepenuhnya rela. Rasa sayang dan cinta pada makhluk kecil yang kini sedang berenang-renang dengan lincah di dalam rahimnya mulai terbentuk dengan indahnya.


Benar-benar definisi nyata dari a picture describe million words. Membuatnya bergumam dalam hati, hello tiny human? I think i love you now.


***


Cakra


Setelah mengantarkan Anja kembali ke ruang perawatan, ia langsung pamit pulang agar bisa beristirahat di rumah untuk mempersiapkan acara besok. Karena ia masih harus pergi membeli cincin dan beberapa keperluan lainnya. Tapi Mas Sada keburu memanggilnya dan mengajak duduk di sofa ruang tunggu.


"Besok akad nikah jam dua siang."


Ia mengangguk.


"Kamu jam satu udah harus disini."


Lagi-lagi ia mengangguk.


"Jangan lupa bawa persyaratan yang belum. Jangan sampai ada yang ketinggalan."


"Sudah saya serahkan ke Teh Dara, Mas," jawabnya. "Pasfoto, fotocopy KTP dan KK."


"Oke."


"Acaranya di lantai 5," lanjut Mas Sada. "Cari aja conference room 1. Ruangnya persis sebelah-sebelahan sama ruang komisaris dan direksi."


Ia kembali menganggukkan kepala.


"Kamu cukup bawa keluarga inti. Nggak perlu banyak orang. Lagian ini rumah sakit bukan hotel."


"Kalau kebanyakan juga percuma. Karena ini bukan pesta, cuma akad aja."


"Baik, Mas."


"Cukup orang dewasa, tanpa anak-anak," lanjut Mas Sada kembali menegaskan.


Ia pun mengangguk.


"Sekarang bagian yang paling penting," ujar Mas Sada dengan suara tegas.


"Pastikan kamu nggak lupa dengan janji kemarin. Kalau ini hanya pernikahan di atas kertas. Bukan sesungguhnya!"


Ia harus menelan ludah sebelum lagi-lagi kembali menganggukkan kepala.


"Saya bisa pegang kata-kata kamu?!"


"B-bisa, Mas."


"Bagus! Karena setelah hari besok, saya dan Mas Tama nggak akan bisa ngontrol kamu secara langsung."


"Pertama, kami harus mengurus perpindahan Papa dan semua hal yang mengikutinya."


"Kedua, kami juga harus kembali bekerja seperti biasa. Jauh dari Jakarta. Jadi tolong jangan kecewakan kami berdua!"


Ia harus menelan ludah berkali-kali untuk kemudian mengangguk.


"Besok kamu antar Anja pulang ke rumah. Cukup diantar. Nggak ada yang lain!"


"Setelah itu kamu langsung pulang ke rumah kamu sendiri!"


"Terserah mau cari alasan apa kalau orangtua kamu heran dan bertanya-tanya. Kenapa kalian tidak bersama, kenapa begini, kenapa begitu."


"Tapi ingat!" ujar Mas Tama dengan nada memperingatkan.


"Kalau Mama bilang sesuatu, kamu cukup iya kan. Nggak usah banyak bacot!"


"Kalau Mama nyuruh sesuatu, kamu segera lakukan, nggak perlu banyak nanya yang nggak penting!"


"Cukup, iya...iya...iya!"


"Dan sekali lagi saya tekankan, kalian berdua, nggak ada namanya tinggal bersama. Harus tetap masing-masing sampai anaknya lahir!"


"Saya tegaskan disini!"


"Karena saya nggak mau Anja dua kali dihinakan sama kamu!"


"Sudah cukup sekali!"


"Dan intinya jangan sampai Mama tahu!"


"Biar saja Mama menganggap kalian sudah menikah betulan. Seperti layaknya orang menikah yang lain."


Mas Sada sempat terdiam sebentar, tapi tak selang berapa lama mulai berkata lagi, "Kamu bisa tetap sekolah seperti biasa."


"Bisa ikut ujian."


"Saya pastikan kamu juga bisa lulus."


"Itu semua cukup kan?"


"Maksudnya?" ia harus bertanya karena memang tak memahami maksud dari kalimat yang baru saja diucapkan oleh Mas Sada.


"Cukup buat kamu berterima kasih karena nggak harus drop out!"


Mas Sada masih menjelaskan beberapa hal yang harus dilakukan olehnya setelah pernikahan nanti. Tapi tak ada satupun yang berhasil nyangkut di kepalanya. Semua ucapan Mas Sada seolah masuk ke telinga kanan dan langsung keluar di telinga kiri. Tanpa berniat untuk singgah dalam ingatannya sedikit pun.


Tak apa. Tak masalah. Ini hanya hal teknis. Karena intinya sudah sangat jelas. Yaitu ia jelas tak diterima dan tak diakui menjadi bagian keluarga oleh Mas Sada dan Mas Tama meski kelak sudah menikah dengan Anja.


Baik. Ia mengerti. Sangat mengerti. Dan sepertinya tak akan menjadi masalah karena ia sendiri juga tak yakin dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Apakah akan tetap bertahan dengan kepura-puraan ini. Atau lebih baik memilih untuk pergi saja. Atau justru memperjuangkan apa yang menjadi haknya.


Entahlah. Karena semua masih samar. Sangat samar. Gelap bahkan pekat. Tak terlihat apapun di masa depannya. Jadi sekarang, yang harus dilakukannya adalah tetap mengikuti kemana arah angin berhembus. Tak perlu melawannya. Karena hanya akan menghabiskan tenaga dan menghancurkan diri sendiri.


Baiklah, Anja. Kita begini saja dulu. Semoga kamu mau mengerti.