
Anja
Ia ingin bertanya apa itu PD. Tapi Bidan Karunia sudah keburu memberi instruksi.
"Pakaian dalamnya dilepas dulu ya."
Entah muncul darimana, tiba-tiba asisten Bidan Karunia sudah berdiri di samping tempat tidurnya. Dan dengan gerak cekatan mulai membantu melepas pakaian dalam yang sedang dikenakannya.
"Maaf ya Mba," begitu kata asisten sambil tersenyum ramah.
Meski ia menurut saja diperlakukan demikian. Namun matanya mendelik ke arah Cakra yang sedang berdiri di samping kepalanya dengan wajah gugup. Berusaha meminta penjelasan.
Tapi Cakra hanya menggelengkan kepala dengan wajah pias. Membuatnya mencibir sebal.
"Kaki boleh dilipat," Bidan Karunia kembali memberikan instruksi. Dengan kedua tangan telah mengenakan sarung tangan steril.
Membuatnya kembali melihat ke arah Cakra. Yang malah menggenggam tangannya erat-erat.
"Dan membuka," lanjut Bidan Karunia. "Seperti orang mau melakukan persalinan."
Mendadak jantungnya berdegup kencang begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Bidan Karunia.
Ia ingin bertanya. Tapi mulutnya terkunci. Hanya bisa bergetar saking takutnya mendengar kata 'seperti orang mau melakukan persalinan.'
"Ini namanya posisi Litotomi," terang Bidan Karunia sambil tersenyum ke arahnya.
"Kaki dilipat dan membuka," lanjut Bidan Karunia yang terlihat siap untuk melakukan sesuatu.
"Tenang saja. Rileks," ujar Bidan Karunia sambil membersihkan bibir bawahnya dengan kain kassa atau kapas. Entahlah. Ia tak tahu karena tak bisa melihat.
"Jangan tegang. Lemas saja....," lanjut Bidan Karunia sambil mengusap pahanya.
"Justru kalau tegang nanti malah terasa sakit."
"Rileks saja."
Ia menelan ludah berkali-kali dalam waktu singkat. Sementara genggaman tangan Cakra terasa kian erat.
"Tarik napas....," ujar Bidan Karunia lagi.
"Hhh!" ia sempat terkejut ketika sesuatu terasa memasuki dirinya. Tapi yang ini terasa jauh berbeda. Sangat menegangkan. Tak semenyenangkan seperti ketika Cakra melakukannya.
Oh, well done Anja. Di saat seperti ini masih bisa mengingat hal seperti itu! rutuknya pada diri sendiri.
1 detik, 2 detik....
Kini jantungnya makin berdegup kencang. Keringat dingin mulai terasa membanjir di seluruh permukaan dahi. Sementara gerakan Bidan Karunia justru terlihat seperti dalam mode slow motion.
Lambat sekaligus menegangkan.
Ia masih menggigit bibir keras-keras. Berusaha mendistrak pikiran dari sesuatu yang terjadi di bawah sana. Ketika Bidan Karunia tersenyum sembari melepas sarung tangan karet dan berkata,
"Bagus."
"Mba Anjani tadi sudah makan atau belum?"
"Kalau belum, nanti biar disiapkan."
Ia makin mengernyit tak mengerti. Mengapa tiba-tiba jadi membahas tentang sudah makan atau belum?
"Karena harus punya banyak tenaga."
***
Cakra
Usai melakukan PD (periksa dalam) pada Anja, Bidan Karunia langsung menarik tangannya agar keluar dari ruang periksa.
"Rasa sakit perut seperti mulas yang dirasakan oleh Mba Anjani itu akibat kontraksi."
"Barusan saya periksa sudah bukaan enam."
Ia mengernyit tak mengerti.
"Sepertinya kontraksi sudah dari semalam."
"Tapi nggak dirasa."
"Mungkin karena ini baru pertama kali."
Sederet kalimat yang diucapkan dengan nada cepat oleh Bidan Karunia terasa seperti ratusan orang sedang melempar jumrah pada tubuhnya secara bersamaan. Mengejutkan sekaligus menakutkan.
"Karena normalnya untuk proses persalinan pertama. Kontraksi terasa sekitar 18 sampai 24 jam sebelum persalinan."
"Pembukaan 1 sampai 4 kira-kira 8 jam."
"Sementara Mba Anjani sekarang sudah bukaan enam."
"Dan kepala bayi juga sudah masuk ke rongga panggul."
"Barusan waktu saya cek sudah kelihatan kepala dede bayinya."
"Bagus posisinya."
"Siap untuk lahir normal."
Ia masih melongo karena sama sekali tak memahami maksud dari kalimat yang diucapkan oleh Bidan Karunia.
Mungkin karena melihatnya terpana, Bidan Karunia menepuk bahunya, "Istri kamu sebentar lagi mau melahirkan."
"Mungin sekitar tiga sampai empat jam lagi, sudah masuk bukaan sepuluh."
"Kalau menurut perkiraan saya, Ashar bayinya sudah bisa lahir."
Dengan tangan gemetaran ia segera menghubungi nomor ponsel Kak Pocut.
"K-kak....b-bisa tolong kemari?"
Lalu menulis pesan chat pada Teh Dara dengan jantung berdegup kencang.
Cakra. : 'Bidan bilang Anja sudah bukaan enam, Teh.'
Namun Teh Dara tak kunjung membaca pesannya. Bahkan sampai ia kembali masuk ke dalam ruang periksa bidan untuk menemani Anja yang tengah meringis menahan sakit.
"Sakit lagi?" tanyanya sambil menelan ludah.
Anja menganggukkan kepala. "Pinggangku terasa panas."
"Sampai ke belakang sini nih," lanjut Anja sambil menekan-nekan pinggang bagian belakang.
Ia pun segera mengusap pinggang Anja.
"Kurang keras. Nggak terasa!" sungut Anja.
Membuat usapannya berubah menjadi pijatan lembut.
"Sakit banget, Ja?" tanyanya seperti orang bodoh.
Anja menganggukkan kepala. "Kalau pas sakitnya terasa. Tapi kadang hilang. Terus tiba-tiba muncul lagi."
Lagi-lagi ia hanya bisa menelan ludah sambil terus memijat pinggang Anja yang masih berbaring miring.
"Bu Bidan bilang apa?" tanya Anja dengan mata penuh selidik.
"Kenapa ngomongnya harus di luar?!" sambung Anja lagi dengan wajah mengkerut campur meringis. Sepertinya karena kontraksi kembali datang.
Ia harus menghela napas terlebih dahulu sebelum menjawab. Namun keburu asisten bidan masuk ke ruang praktek sambil berkata dengan wajah ramah,
"Silakan sudah bisa pindah ke dalam."
"Sudah saya bereskan."
Meski dengan wajah penuh tanda tanya, Anja menurut untuk bangun dan pindah ke kamar lain.
Ia pun menggamit lengan Anja ketika mereka berjalan dengan sangat perlahan, keluar dari ruang periksa. Mengikuti langkah asisten bidan.
Melewati pintu bertuliskan 'Ruang Tindakan' yang terbuka lebar. Dan ketika ia sempat melirik, ruangan tersebut berisi berbagai macam obat serta peralatan medis.
Lalu ada 'Toilet'. Hingga akhirnya asisten bidan memasuki pintu bertuliskan 'Ruang Perawatan.'
"Boleh pilih tempat tidur mana saja yang paling nyaman," ujar asisten bidan mempersilakan.
"Sekarang saya ambilkan makan dulu ya. Biar nanti ada tenaga," lanjut asisten bidan pamit undur diri.
Kamar berukuran kurang lebih 9x6 M bercat putih bersih ini berisi 3 tempat tidur yang berjajar. Dengan sebuah meja sekaligus lemari kecil untuk tiap satu tempat tidur.
Dengan perlahan Anja melangkah menuju tempat tidur yang berada di dekat jendela.
"Ini kebetulan lagi kosong," ujar asisten bidan yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang mereka sambil membawa nampan. Sepertinya beliau tipikal orang cekatan dengan gerak penuh kegesitan.
"Jadi lebih tenang dan nyaman."
"Kalau lagi banyak pasien, sampai penuh ada yang nggak kebagian tempat tidur," lanjut asisten bidan sambil meletakkan nampan di atas meja yang terletak di sebelah tempat tidur Anja.
"Makasih, Bu," ujarnya sambil tersenyum.
"Nama saya Mardiyah. Panggil saja Ceu Mar," asisten bidan itu tersenyum ramah.
"Oh iya, makasih banyak Ceu Mar," ralatnya cepat.
"Dimakan ya. Kalau bisa dihabiskan," ujar Ceu Mar sembari menunjuk nampan di atas meja.
"Saya tinggal dulu. Masih ada pasien yang datang."
"Baik, Ceu."
"Nanti kalau ada perlu panggil saja. Saya dan Bu Bidan ada di ruang periksa."
Ia menganggukkan kepala tanda mengerti.
Setelah Ceu Mar keluar dari ruang perawatan, Anja kembali meringis sambil memegangi pinggang.
Membuatnya segera memijat pinggang Anja. "Sakit lagi, Ja?"
Anja mengangguk.
"Makan ya," tawarnya sambil menunjuk nampan berisi sepiring nasi putih, semangkok sop, dan sepotong ayam goreng yang masih mengepulkan asap.
Tapi Anja menggelengkan kepala, "Nggak lapar."
"Aku suapin."
Kini Anja justru melotot. "Aku bilang nggak lapar ya nggak lapar!"
Ia menghela napas sambil terus memijat sekeliling pinggang Anja.
Suasana mendadak hening. Anja sesekali meringis menahan sakit. Sementara ia tak tahu harus berkata apa. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Sebentar," ia menghentikan kegiatan memijat pinggang Anja untuk mengambil ponsel.
Teh Dara Calling....
Ia kembali lagi dan lagi harus menelan ludah begitu melihat caller id di layar ponsel. Entah sudah berapa liter ludah yang ditelan paksa olehnya selama satu jam terakhir.
"Siapa?" tanya Anja curiga.
Namun ia tak menjawab. Hanya bisa melihat ke arah Anja yang sesekali meringis menahan sakit.
"Aku terima telepon dulu di luar."
"Kenapa mesti di luar?!" sergah Anja curiga. "Di sini aja kenapa sih?!"
"Sebentar, Ja," ia memohon. "Sebentar...."
Anja langsung cemberut. Namun ia tak mau ambil resiko kemungkinan Anja bisa histeris jika mendengar percakapannya dengan Teh Dara.
Membuatnya dengan langkah panjang dan terburu segera keluar dari ruang perawatan.
"Lima menit," ujarnya sebelum menghilang di balik pintu. Menatap penuh permohonan ke arah Anja yang merengut marah.
"Halo, Teh?"
"Kalian di mana? Masih di bidan?"
"Masih, Teh."
Teh Dara terdengar menghela napas panjang.
"Fasilitas di bidan lengkap?"
"Maksudnya gimana, Teh?"
"Ada mobil ambulance yang ready kalau-kalau ada keadaan darurat dan Anja harus segera dibawa ke Rumah Sakit?"
Ia lagi dan lagi harus menelan ludah yang tiba-tiba terasa sangat pahit.
"Gini," Teh Dara seperti memahami kebingungannya.
"Coba kamu tanya ke bidannya, kalau Anja mengalami kondisi darurat, apakah bisa langsung dirujuk ke Rumah Sakit?"
"Apakah ada mobil ambulance yang ready?"
"Dirujuknya ke rumah sakit mana?"
"Lalu kamu cek lewat aplikasi lalu lintas. Jarak dan waktu tempuh dari tempat bidan ke Rumah Sakit rujukan berapa lama."
"Kalau udah tolong kabari Teteh ya, Cak."
"Ini Mas lagi nyari tiket. Sepertinya kami pulang duluan."
"Secepatnya ya, Cak. Teteh tunggu."
"I-iya, Teh," jawabnya tergeragap.
Ketika ia menyimpan ponsel ke dalam saku dan berniat kembali ke ruang perawatan, terdengar suara orang saling tertawa dan berbicara.
"Lho, ini ternyata ya," tiba-tiba saja Bidan Karunia muncul dari arah ruang tunggu bersama Mamak.
"Kamu itu anaknya Mak Agam," ujar Bidan Karunia sambil menatapnya tak percaya.
"Iya, ini yang namanya Agam, Bu," Mamak tersenyum. Membuatnya ikut tersenyum malu.
"Pantesan, waktu tadi muncul di depan pintu. Saya pikir siapa. Sepertinya pernah lihat," Bidan Karunia menepuk-nepuk bahunya sambil tersenyum lebar.
"Ternyata Agam sudah sebesar ini," Bidan Karunia masih memandang takjub ke arahnya. "Sudah mau punya bayi lagi."
Ia hanya bisa tertawa malu.
"Ingat sama Ibu nggak?"
"Ingat, Bu," ia menganggukkan kepala.
-------
Bidan Karunia adalah ibu dari Tamim. Teman sekolahnya semasa SD. Namun mereka tak pernah akrab. Karena Tamim termasuk anak yang bandel dan nakal. Senangnya membuat ulah di sekolah dengan menjahili teman-temannya.
Namun ketika duduk di bangku SMP, Bidan Karunia pernah datang ke rumah. Sengaja memintanya untuk mengajari Tamim pelajaran eksakta.
"Saya ingin ada penerus," ucap kata Bidan Karunia saat itu.
"Tamim anak saya satu-satunya harus jadi orang bener. Saya ingin dia jadi dokter."
"Tolong ajari Tamim ya, Gam."
"Biar nilainya bagus."
"Rencana mau ibu masukkan ke SMA favorit."
"Biar nanti mudah masuk ke Universitas Negeri."
Sejak saat itu ia jadi sering bertandang ke rumah Bidan Karunia. Jadwalnya seminggu tiga kali. Yaitu setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at.
Dan Tamim versi SMP ternyata jauh berbeda dengan Tamim versi SD. Tamim SMP sangat serius, tak lagi jahil, dan memiliki visi jauh ke depan.
"Gua mau membahagiakan nyokap," begitu Tamim pernah berkata di sela-sela mereka mengerjakan soal-soal matematika.
"Gua harus masuk FKU (Fakultas Kedokteran Umum) di PTN (Perguruan Tinggi Negeri)," lanjut Tamim dengan penuh keyakinan.
Akhirnya Tamim berhasil masuk ke SMA Negeri yang cukup favorit. Dan sekarang sudah menjadi mahasiswa FKU di sebuah Kampus Negeri yang terletak di Jawa Tengah.
-------
"Maunya ibu, Tamim kuliah di tempat yang dekat aja. Di Jakarta juga banyak Fakultas Kedokteran," Bidan Karunia masih menatapnya takjub.
"Tapi anaknya mau kuliah di Kampus Negeri."
"Ya sudah. Diterimanya juga jauh di Jawa Tengah sana."
"Yang penting anaknya niat."
Ia tersenyum mengangguk.
"Wah, malah jadi saya yang ngobrol panjang lebar ini," Bidan Karunia tertawa.
Tapi sejurus kemudian menepuk bahunya, "Kamu lho, Gam. Sampai pangling ibu."
"Dulu waktu SMP masih imut-imut."
"Sekarang sudah sebesar ini."
Bidan Karunia dan Mamak saling melempar tawa.
"Sudah mau jadi Ayah," Mamak tersenyum.
"Eman kamu, Gam...Gam," Bidan Karunia mengkerut. "Nggak sekolah aja yang bener. Malah mau punya bayi."
Ia hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam.
Tapi Bidan Karunia justru kembali menepuk bahunya, "Harusnya tadi bilang dari awal. Bu, saya Agam temannya Tamim."
Kali ini ia tersenyum malu.
"Ya sudah, saya masih ada pasien yang menunggu," Bidan Karunia menutup obrolan.
"Saya bisa bicara sebentar Bu," ujarnya sebelum Bidan Karunia berlalu.
"Kenapa....kenapa?"
"Di ruangan ibu," jawabnya berusaha tetap sopan.
"Boleh...boleh...."
"Terimakasih, Bu," ia menganggukkan kepala. "Saya antar Mamak dulu ke ruang perawatan."
"Ya. Nanti langsung masuk saja ke ruang periksa," pungkas Bidan Karunia sebelum melangkah pergi.
"Baik, Bu," jawabnya seraya mengambil alih tas warna hijau yang dibawa oleh Mamak.
"Mak bawa apa?" tanyanya heran.
"Kain untuk melahirkan, baju bayi, selimut," jawab Mamak. "Kau benar-benar tak ada persiapan apa-apa?!"
Ia menggelengkan kepala. "Nggak kepikir sampai sana."
"Untung saja Pocut bisa ketok toko Bang Ahmad buat beli perlengkapan bayi."
"Kalau tidak, entah bisa dapat dimana musim Lebaran begini. Orang-orang banyak yang masih mudik dan liburan. Toko pada tutup."
"Makasih, Mak," gumamnya merasa tak enak karena telah merepotkan Mamak dan Kak Pocut.
"Anjani tak apa?" kini Mamak menatapnya dengan raut cemas.
"Anjani belum tahu kalau sebentar lagi mau melahirkan," jawabnya masygul.
"Kenapa tak kau kasih tahu?!" Mamak jelas tak menyetujui langkah yang diambilnya.
"Bagaimanapun Anjani harus tahu keadaan yang sebenarnya. Kau tak boleh menutup-nutupi."
"Aku takut Anja histeris," gumamnya cemas.
Mamak menghela napas panjang. "Dimana Anjani sekarang?"
"Di ruang perawatan."
"Biar Mamak kesana sendiri. Kau temui lah dulu Bu Bidan. Tadi katanya mau membicarakan apa."
Ia mengangguk lemah. Kembali menyerahkan tas warna hijau pada Mamak.
"Nanti aku menyusul," ujarnya sebelum berbalik menuju ruang periksa.
"Ya," Mamak mengangguk. "Kalau bisa jangan lama-lama."
"Anjani membutuhkan kau ada di sampingnya."
***
Keterangan :
Litotomi. : posisi kaki dilipat dan membuka seperti saat persalinan
Lempar jumrah. : sebuah kegiatan yang merupakan bagian dari ibadah haji tahunan ke kota suci Mekkah, Arab Saudi. Para jemaah haji melemparkan batu-batu kecil ke tiga tiang yang berada dalam satu tempat bernama kompleks Jembatan Jumrah, di kota Mina yang terletak dekat Mekkah (sumber : Wikipedia)
Yang juga menjadi sumber untuk bertanya : readers tersayang yang berprofesi sebagai bidan. Haturtengkiuu Mam 🤗