Beautifully Painful

Beautifully Painful
105. "Jangan Panik!"



Cakra


Usai Mamak mengucapkan kekhawatiran tentang perkiraan waktu melahirkan Anja. Ia segera menghubungi nomor ponsel dokter Stella.


Namun hanya menemui mesin penjawab. Sama sekali tak bisa tersambung langsung dengan dokter Stella.


Membuatnya memberanikan diri untuk menelepon Rumah Sakit tempat Anja menjalani proses persalinan tanggal 11 esok.


"Bisa kami informasikan, jika saat ini dokter Stella sedang dalam masa cuti," begitu jawaban yang diperolehnya dari customer service Rumah Sakit.


"Dan akan kembali aktif bertugas di Rumah Sakit pada tanggal 9 Juli."


"Untuk selanjutnya ada yang bisa kami bantu lagi Pak Cakra?"


"B-begini, Mba," ia harus mengontrol suara yang mulai gemetaran demi mengetahui jika dokter Stella kemungkinan besar sedang berada di luar negeri. Tak bisa membantu proses persalinan Anja.


"I-istri saya....maksud saya....kami sudah booking paket melahirkan Caesar 4 hari 3 malam."


"Baik, saya cek dulu."


"Atas nama siapa bookingnya, Pak?"


"Anjani Prameswari."


"Tuan Teuku Cakradonya Ishak dan Nyonya Anjani Prameswari?"


"Betul."


"Suite room untuk persalinan Caesar 4 hari 3 malam dengan dokter obgyn Stella Pudika?"


"Betul."


"Baik, ada yang bisa kami bantu perihal booking tersebut Pak Cakra?"


"Kalau istri saya ternyata melahirkan sebelum tanggal 11, apakah tetap bisa memanfaatkan fasilitas yang sudah kami booking?"


"Maksud saya, apakah kami bisa sewaktu-waktu datang ke rumah sakit untuk melakukan proses persalinan? Meskipun dokter Stella sedang tidak ada di tempat?"


"Baik. Untuk perihal melakukan proses persalinan di luar waktu yang telah Pak Cakra booking. Terlebih dahulu kami harus mengcrosscheck dengan kondisi di lapangan."


"Apakah masih tersedia kamar operasi atau kamar bersalin yang dimaksud. Serta room perawatan yang diinginkan."


"Jika memang masih tersedia, Ibu Anjani bisa langsung melakukan proses persalinan di Rumah Sakit kami."


"Dengan dibantu oleh dokter obgyn yang sedang bertugas. Bukan dokter Stella."


"Baik, terimakasih," sahutnya cepat. Merasa sedikit lega karena mendapat informasi yang cukup lengkap.


"Mungkin ada hal lain lagi yang bisa kami bantu Pak Cakra?"


"Tidak. Terimakasih."


Namun karena hatinya masih diliputi oleh kekhawatiran. Ia pun kembali memberanikan diri untuk mengirim pesan chat kepada Teh Dara. Yang saat ini masih berada di Singapura.


Tak dinyana Teh Dara justru langsung menghubunginya.


"Ada apa Cakra?"


Dengan berat hati ia mulai menceritakan tentang keadaan Anja sekaligus kekhawatiran Mamak. Dan informasi dari pihak Rumah Sakit tentang keberadaan dokter Stella yang sedang dalam masa cuti.


"Oke," Teh Dara terdengar menghela napas panjang.


"Kamu harus tenang."


"Jangan panik."


"Nggak usah mikir macam-macam."


"Nanti begitu Anja bangun, kalian harus segera pergi ke bidan terdekat untuk memastikan."


"Ada bidan di dekat situ?"


"A-ada, Teh."


Kepalanya langsung mengingat nama bidan Karunia Sejati yang rumahnya berada satu deret dengan rumah Salma. Bidan senior paling terkenal di seantero Pasar Kemiri. Tempat di mana Kak Pocut melahirkan Icad, Umay, juga Sasa.


"Bagus."


"Nanti jawaban dari bidan, akan menentukan langkah kamu selanjutnya."


Kini ia tengah duduk bersimpuh di lantai. Dengan dagu menempel di atas tempat tidur. Memandangi Anja yang tengah terlelap. Paras ayu itu terlihat pucat dengan beberapa titik keringat di kening.


Sedari tadi tangannya sudah gatal ingin mengusap kening seputih susu itu dengan sapu tangan. Agar anak-anak rambut Anja tak ikut basah akibat terkena tetesan keringat.


Namun ia terpaksa mengurungkan niat. Karena tak ingin mengusik lelap Anja. Khawatir malah membangunkan. Membuatnya lebih memilih untuk membiarkan titik-titik keringat bertambah kian banyak.


"Ssshhhh....," desisan halus terdengar keluar dari mulut Anja.


"Masih sakit perut?" tanyanya cemas begitu Anja membuka mata.


"Eh," tapi Anja justru tersenyum. "Kamu udah pulang?"


Ia menganggukkan kepala dengan wajah cemas.


"Udah lama pulangnya?" tanya Anja dengan mata berkeliling mencari sesuatu. "Jam berapa gitu sekarang?"


"Setengah sepuluh," jawabnya usai melihat jam di pergelangan tangan kanan.


"Mamak bilang, dari Subuh kamu sakit perut," ujarnya cepat sebelum Anja kembali berkata.


Anja mengangguk lemah. "Rasanya ingin ke belakang tapi nggak keluar."


"Sekarang masih sakit?"


Anja mengusap puncak perutnya perlahan. Namun sedetik kemudian menggeleng.


"Barusan pas baru bangun agak sakit. Tapi sekarang enggak lagi."


Ia pun menghembuskan napas panjang. "Kamu udah sarapan?"


Anja menggelengkan kepala. "Lagi nggak enak perut. Males sarapan."


"Makan surabi mau?" tawarnya sembari mengusap kening Anja dengan sapu tangan.


"Kamu yang beli?"


Ia mengangguk. "Beli di depan pabrik. Ada nenek-nenek yang jualan."


"Mau," jawabnya cepat.


"Mau yang rasa apa? Biar aku bawain ke sini."


"Ih!" Anja mencibir. "Ngapain pakai dibawa ke sini. Aku mau makan di luar."


Ia pun membantu Anja untuk bangkit dan berdiri. Namun baru juga duduk di tepi tempat tidur, tiba-tiba Anja memegangi perutnya.


"Kenapa?" tanyanya cemas.


"Mules."


"Mau ke kamar mandi?"


Tapi Anja menggeleng.


Setelah berdiam selama beberapa menit. Barulah Anja mencengkeram erat lengannya. Bermaksud untuk berdiri.


"Sekarang udah nggak sakit lagi," ujar Anja sambil tersenyum.


Membuatnya menggamit lengan Anja. Untuk sama-sama melangkah keluar kamar.


"Mau yang rasa apa?" tawarnya setelah Anja duduk di kursi.


"Yang pakai kuah enak kayaknya," jawab Anja sembari tangannya menunjuk surabi putih polos dan mangkok berisi kuah kinca.


"Mau dihangatin dulu?" tawarnya serius. Tahu betul jika Anja kurang suka menyantap makanan yang telah dingin.


"Nggak usah," Anja mengibaskan tangan.


Ia pun segera mengambil mangkok kosong. Menyimpan surabi putih polos. Lalu menyiramnya dengan kuah kinca.


Namun Anja langsung melotot ketika ia bermaksud menyuapi.


"Aku bisa makan sendiri!" sungut Anja sambil merebut mangkok dari tangannya.


Sementara ia hanya bisa tersenyum sambil mengelus pipi Anja. Lalu pura-pura menyibukkan diri dengan melihat-lihat isi ponsel.


"Kok sepi?" tanya Anja sambil mengedarkan pandangan ke seantero ruang tamu. "Pada kemana?"


"Kak Pocut belum pulang dari Keude," jawabnya dengan mata tetap berkonsentrasi di depan layar ponsel. Dimana Teh dara mengirim pesan chat.


Teh Dara. : 'Kalau udah ke bidan kabar-kabar ya, Cak.'


Cakra. : 'Baik, Teh.'


"Mamak di dapur nggak tahu lagi beresin apa."


"Anak-anak?" kening Anja mengernyit. "Tumben sepi. Biasanya rame."


"Lagi pada main di rumah sebelah kali," jawabnya sambil lalu.


Dan begitu Anja meletakkan mangkok yang telah kosong ke atas meja. Ia langsung menyimpan ponsel ke dalam saku.


"Kita ke bidan yuk," ujarnya harap-harap cemas. Khawatir Anja salah pengertian.


"Ngapain ke bidan?"


"Periksain sakit perut kamu."


"Ih!" Anja mencibir. "Orang sekarang udah nggak sakit kok."


Ia menghela napas panjang. "Tapi nanti kalau terasa sakit lagi, kita pergi ke bidan ya."


***


Anja


Karena sepuluh menit kemudian perutnya kembali terasa mulas. Ia akhirnya menyetujui usul Cakra untuk pergi ke bidan.


"Kita naik motor ya," dengan gesit Cakra bangkit untuk mengambil kunci motor yang tergantung di belakang pintu ruang tamu.


Namun ia menolak, "Jalan kaki aja deh."


"Masih bisa jalan?" Cakra menatapnya cemas.


"Ya bisa lah!" salaknya cepat. "Emangnya aku orang sakit, sampai nggak bisa jalan!"


Cakra tak menjawab apapun. Langsung menyimpan kembali kunci motor di gantungan.


Tapi sejurus kemudian, "Aduduh....," perutnya mendadak diserang mulas yang sangat. Namun kali ini tanpa disertai bunyi 'kruwuk-kruwuk.'


"Kenapa? Sakit lagi?" tanya Cakra dengan wajah penuh kekhawatiran.


Ia menghirup napas panjang sebentar. Sambil memegangi pinggangnya yang mendadak terasa pegal.


Cakra mengusap perutnya dengan wajah memucat, "Sakit dimananya?"


Ia mengkerut, "Perutnya nggak sakit! Tapi pinggang nih! Pegal!"


Cakra langsung mengusap pinggangnya dengan gerakan seperti orang memijat.


"Sekarang masih pegal?" tanya Cakra sembari terus memijat pinggangnya.


Ia menggelengkan kepala. Karena memang rasa pegal tiba-tiba saja menghilang.


"Kayaknya aku semalem salah posisi tidur deh," ia mencoba mengingat. "Jadi pegal-pegal begini."


Cakra menghembuskan napas panjang. Bersamaan dengan munculnya Mamak dari arah dapur.


"Anjani sudah bangun nak?" tanya Mamak seraya mengambil duduk di sampingnya.


Ia mengangguk sambil tersenyum.


"Masih sakit perut?" tanya Mamak lagi sembari mengusap perutnya.


"Barusan sakit. Tapi sekarang udah enggak," jawabnya sambil memegangi pinggangnya yang tiba-tiba kembali terasa pegal.


"Pinggangnya sakit?" kini Mamak menatapnya dengan awas.


Ia mengangguk. "Pegal, Mak."


"Iya, ini mau pergi," jawab Cakra gugup yang segera meraih tangannya untuk bangkit dari duduk.


"Naik motor sajalah," ujar Mamak tak sabar demi melihat mereka berjalan kaki keluar teras.


"Anjani tak mau naik motor," Cakra menatapnya masygul.


Ia pun menggelengkan kepala, "Takut kalau naik motor lewat gang, Mak."


Mamak menghela napas panjang, "Ya sudah, kalian jalannya pelan-pelan saja."


"Anjani masih kuat berjalan?" tanya Mamak penuh kekhawatiran.


"Masih, Mak," jawabnya seraya mengangguk.


Membuat Cakra segera merengkuh bahunya. Dan mereka pun mulai melangkahkan kaki secara perlahan di sepanjang gang.


"Sakit perut tuh periksanya ke dokter, bukan ke bidan," sungutnya dengan tangan bertumpu pada lengan Cakra erat-erat. Sementara tangan Cakra yang lain terus menggenggam tangannya tak kalah erat.


"Di daerah dekat sini cuma ada bidan, Ja," jawab Cakra sambil menganggukkan kepala ke arah deretan kakek-kakek yang sedang duduk-duduk di depan sebuah warung.


"Misi, Kong."


"Mo kemana lu, Gam?!"


"Ke depan bentar, Kong."


"Gandengan terooos kayak truk aja lu, Gam!" seloroh salah satu kakek yang sedang merokok.


"Takut hilang, Kong," jawab Cakra seraya mengerling ke arahnya. "Paling berharga soalnya."


"Adoooooh! Parah ini!" seru kakek yang lain. "Jago ngegombal juga lu, Gam!"


Diiringi gelak tawa Cakra dan seluruh kakek yang sedang nongkrong.


Setelah mereka berjalan cukup jauh dari deretan kakek-kakek gaul di depan warung. Cakra mengusap tangannya pelan sambil berkata,


"Lagian ini masih suasana lebaran. Tempat praktek dokter banyak yang masih tutup."


Namun ia hanya mencibir.


Dari ujung gang mereka berbelok ke arah timur. Berlawanan dengan jalan menuju ke pasar.


Setelah melewati sekitar tiga sampai empat rumah. Cakra mengajaknya memasuki sebuah pagar besi berwarna cokelat. Dengan tiang plang nama berlampu neon di bagian depan pagar bertuliskan,


...BIDAN...


...Karunia Sejati, Amd.Keb...


...No. SIPB : 501.100.DINKES.BD.2xxx...


...Melayani :...


...Ibu Hamil, Persalinan,...


...KB, Imunisasi...


...Jl. Ps Kemiri No.123A, RT 05 RW 03...


...Kembangan Utara...


Mereka berjalan melewati halaman depan yang banyak ditumbuhi oleh tanaman hijau serta dihiasi banyak pot bunga. Dengan papan nama berwarna pink yang menempel di dinding depan rumah bercat putih bersih ini bertuliskan,


...BIDAN ADA...


Teeeeet! Teeeeet!


Cakra telah memencet bel yang terletak di samping pintu. Lalu tak lama kemudian muncul seorang wanita paruh baya menemui mereka berdua.


"Mau periksa? Silakan masuk."


Mereka pun melepas sandal untuk memasuki ruang tunggu yang lantainya bersih.


"Ditunggu dulu. Bu bidannya sedang ada pasien."


Setelah menunggu selama hampir sepuluh menit. Sepasang suami istri keluar dari dalam ruang praktek. Disusul wanita paruh baya yang tadi menyambut kedatangan mereka.


"Silakan masuk."


Namun Cakra keburu menahan lengannya sebelum ia sempat beranjak.


"Tunggu sebentar."


"Kenapa?" tanyanya tak mengerti.


"Kamu tunggu di sini sebentar, aku masuk dulu."


Meski tak mengerti dengan maksud Cakra, namun ia menurut dengan tetap duduk di kursi tunggu.


Beberapa menit kemudian, Cakra muncul dari dalam ruang praktek. Diikuti oleh seorang wanita seusia Mama yang memakai jas berwarna putih.


***


Bidan Karunia


Ia sedang membereskan peralatan yang baru saja dipakai untuk memeriksa pasien terakhir. Ketika terdengar pintu diketuk.


"Ya?"


Matanya sontak mengernyit saat mengidentifikasi seorang pemuda tanggung dengan paras rupawan telah berdiri di depan pintu sambil menganggukkan kepala.


"Permisi, Bu...."


Namun sebelum ia menjawab, Ceu Mar asistennya, keburu berkata, "Lho, Mas, istrinya nggak diajak masuk?"


"Saya mau ngobrol dulu sebentar dengan Bu bidan," jawab pemuda itu sopan.


"Masuk...masuk...," ia pun segera mempersilakan pemuda itu untuk memasuki ruang praktek.


"Ada yang bisa dibantu?" lanjutnya setelah mereka duduk berhadapan.


"Begini, Bu...."


Raut rupawan itu mendadak gelisah.


"Jadwal persalinan istri saya tanggal 11 besok."


"Ya?"


"Tapi sejak Subuh perutnya mulas."


"Kalau begitu suruh masuk saja istrinya. Biar langsung kita periksa."


Pemuda itu terlihat gugup, "Tapi ma'af sebelumnya, Bu."


"Istri saya takut merasakan sakit saat melahirkan."


"Dan persalinan di tanggal 11 itu rencananya melalui operasi Caesar."


Ia menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Saya boleh minta tolong sama ibu?"


"Minta tolong apa?" tanyanya heran.


Pemuda rupawan itu pun mulai mengutarakan keinginan. Agar ia bisa memberi rasa nyaman pada istrinya. Tak menimbulkan rasa takut atau kekhawatiran. Entah istrinya harus melahirkan hari ini atau tidak.


Baru kali ini ia bertemu dengan pemuda tanggung yang memiliki gerik sopan dan ucapan tertata yang penuh santun. Mencerminkan karakter baik dan kuat dalam satu waktu.


"Ya...boleh...boleh...," jawabnya sambil menganggukkan kepala.


"Sudah biasa itu, anak muda jaman sekarang banyak yang nggak mau merasakan sakit saat melahirkan," lanjutnya sambil beranjak.


"Mana istrinya? Suruh masuk ke sini saja langsung."


Ia berjalan mengikuti pemuda rupawan yang keluar dari ruang praktek terlebih dahulu. Dan langsung menemukan gadis cantik berwajah pucat yang tengah duduk di ruang tunggu.


"Ini istri saya, Bu," pemuda tersebut mengulurkan tangan untuk membantu gadis cantik berwajah pucat itu berdiri.


"Yuk langsung masuk saja," ia pun kembali memasuki ruang praktek.


***


Anja


Wanita paruh baya yang mengenakan jas putih bersih itu tersenyum lebar ke arahnya.


"Yuk langsung masuk saja."


Dengan berpegangan erat pada lengan Cakra, ia pun berjalan memasuki rumah praktek.


"Perkenalkan, nama saya Bidan Karunia. Dengan Mba siapa?"


"Anjani," jawabnya sambil memegangi perut yang kembali terasa mulas.


"Baik, Mba Anjani, apa yang dirasakan?" tanya Bidan Karunia sembari mempersiapkan alat tensi.


"Mulas, Bu," jawab sambil mengelus perut yang terasa seperti sedang kram.


"Sakit perut seperti mau ke belakang tapi nggak keluar," tambahnya kali ini sambil memegangi pinggang yang tiba-tiba terasa nyeri dengan panas menjalar.


"Baik," Bidan Karunia telah siap dengan peralatannya. "Kita cek tensi dulu ya."


Ia pun menganggukkan kepala.


"Tensinya bagus, 120/80," ujar Bidan Karunia sambil melepaskan alat pengukur tekanan darah yang menempel di lengannya.


"Sekarang kita periksa dulu ya."


"Periksa, Bu?" tanyanya kurang yakin.


"Iya, biar tahu sakit perutnya karena apa."


Dengan dibantu oleh Cakra, kini ia telah merebahkan diri di atas tempat tidur bersprei putih.


"Permisi ya Mba Anjani," Bidan Karunia mulai memeriksa dadanya menggunakan stetoskop.


Kemudian menyentuh seluruh permukaan perutnya.


"Sejak terasa mulas, dedenya masih aktif bergerak nggak?"


Ia sempat berpikir sebentar. Sebelum akhirnya menggelengkan kepala. "Gerakannya nggak seaktif biasanya, Bu."


Bidan Karunia menganggukkan kepala sembari mengambil tali meteran dari atas meja.


"Kita ukur tinggi fundusnya dulu ya."


Ia pun memperhatikan Bidan Karunia yang tengah merentangkan tali meteran dari bagian atas rahim hingga ke simfisis pubis. Mengukur jarak diantara keduanya.


"39 Minggu?"


"Betul, Bu," kali ini Cakra yang menjawab.


"Rasa mulasnya sering?" tanya Bidan Karunia sambil kembali meraba sekeliling perutnya.


Ia mencoba berpikir.


"Kira-kira berapa menit sekali?"


"Lima atau sepuluh menit," jawabnya kurang yakin.


"Tadi sempat keluar lendir nggak dari jalan lahir?" Bidan Karunia menatapnya ingin tahu.


"Maksudnya gimana Bu?" tanyanya benar-benar tak mengerti.


"Mungkin waktu Mba Anjani ke kamar mandi, apa sempat keluar lendir atau darah?"


"Oh," ia mendadak teringat sesuatu. "Tadi sebelum Subuh waktu saya buang air kecil keluar lendir, Bu. Saya pikir keputihan biasa."


Bidan Karunia menganggukkan kepala dan mulai memasang sarung tangan karet.


"Kita PD (periksa dalam) dulu ya."


***


Keterangan :


Simfisis pubis. : gabungan antara dua tulang pubis