Beautifully Painful

Beautifully Painful
142. (He) Cares For You **



Tama


Ia pulang ke rumah dalam keadaan lelah, pusing, dan mengantuk sebab tak bisa tidur semalamam. Ditambah insiden (menyenangkan) tak terduga di pagi buta. Membuat kepalanya bertambah ruwet.


"Gimana Sasa?" sambut Mama begitu melihatnya muncul dari arah garasi.


Ia menguap sebentar sebelum menjawab, "Lukanya lumayan parah. Jadi jarinya harus diamputasi."


Mama yang sedang menyiram tanaman bunga di halaman samping menatapnya dengan wajah menyesal.


"Tapi Sasanya sendiri gimana?" tanya Mama menyelidik. "Baik-baik aja kan?"


Ia mengangguk, "Baik, Ma. Baik."


"Nggak rewel atau apa?" tanya Mama lagi. "Biasanya anak kecil kalau habis operasi suka minta ditemenin terus. Bekas lukanya minta ditiup-tiup."


"Karena akan terasa sakit begitu efek biusnya hilang."


Ia tersenyum karena Mama begitu memahami kondisi anak kecil.


"Ya...biasa rewel sedikit. Tapi nggak nyusahin kok."


"Anaknya kalem persis ibunya."


Mama langsung menghentikan kegiatan menyiram sederet tanaman bunga. Lalu menatapnya dengan kening mengernyit.


"Kamu..."


Namun ia yang menyadari telah keceplosan, langsung melangkah pergi meski Mama belum selesai bicara.


"Oke, Ma. Aku tidur dulu ya. Ngantuk," ujarnya cepat seraya berlalu dari hadapan Mama yang memasang wajah penuh rasa ingin tahu.


"Gimana?" tanya Papa ketika ia lewat di hadapan Papa. Tengah melakukan olahraga ringan dengan dibantu oleh Sada.


"Beres?" tanya Papa lagi.


Ia mengangguk, "Beres, Pa."


Sementara Sada menatapnya sembari mencibir campur tertawa mengejek. Tahu pasti apa yang ada dalam pikiran adiknya ini.


Tapi ia memilih untuk pura-pura tak memahami maksud dari ejekan tawa Sada barusan. Tetap melangkah pergi. Namun diam-diam sambil mengayunkan kaki guna menendang bo kong Sada.


"Oiii!" Sada langsung protes tapi dengan tawa yang semakin tergelak.


See? Kecepatan mulut Sada selangkah lebih maju dibanding ketangkasan geraknya. Sejak dulu selalu begitu. Alih-alih langsung membalas seperti yang sering dilakukannya. Respon pertama Sada justru berteriak. Sudah bawaan orok memang.


"Kalian ini kayak anak kecil saja," gerutu Papa yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua.


Begitu masuk ke ruang tengah, dilihatnya Anja sedang duduk sambil memangku Aran. Sementara Dara terlihat menenangkan Lana yang merengek entah sedang meminta apa.


"Wah, Pakde udah pulang," seru Anja riang. "Gimana Sasa Mas?"


Ia pun kembali menerangkan hal yang sama seperti yang tadi ia jelaskan pada Mama.


"Kasihan Sasa.....," wajah Anja langsung berubah muram begitu mendengar penuturannya.


"Sasa udah sembuh, Bun?" tanya Lana yang tak lagi merengek begitu mendengar nama Sasa disebut-sebut.


"Belum, sayang. Masih sakit," jawab Dara sambil membelai rambut Lana.


"Mau nengok Sasa. Mau nengok Sasa," Lana tiba-tiba melompat-lompat dan kembali merengek ke arah Dara.


Sementara ia mendekati Anja untuk mengusap pipi bulat Aran, "Bayi jam segini udah bangun...."


"Pakde tidur dulu ya. Ngantuk..."


"Lembur tuuuuuh....," seloroh Sada setengah berteriak dari arah teras. Diikuti gelak tawa yang membahana.


Tapi lagi-lagi ia tak ambil peduli. Lebih memilih untuk naik ke lantai dua. Menuju kamar yang biasa ditempatinya jika sedang pulang ke rumah ini.


Berniat untuk meluruskan tubuh barang sejenak. Tapi tak berhasil juga. Justru kedua matanya semakin nyalang tak mau terpejam.


Dengan gelisah ditatapnya langit-langit kamar. Putih, bersih, jauh berbeda dengan langit-langit kamar di rumah Cakra.


Tapi posisi ini hanya bertahan selama beberapa menit. Hingga akhirnya memilih untuk mendudukkan diri sembari menyandarkan punggung ke kepala tempat tidur. Kemudian meraih remote yang tersimpan di atas nakas lalu menyalakan televisi.


"Puncak arus balik Lebaran tahun ini diperkirakan jatuh pada akhir masa cuti yaitu tanggal 12 Juli yang jatuh pada hari Minggu besok."


Ia pun mengganti chanel yang lain.


"Kominfo menyatakan, Facebook sudah melaporkan penyelidikan awal kasus kebocoran data ini. Tidak ada akun dari Indonesia yang bocor terkait kasus Cambridge Analytica. Namun Kominfo memperpanjang batas aduan data konsumen yang bocor oleh pihak ketiga pada jejaring sosial Facebook hingga akhir Agustus." ©©


Ia menghembuskan napas panjang sambil terus menggonta-ganti chanel televisi.


Namun sejurus kemudian ia justru mematikan televisi. Sebab tak kunjung menemukan berita menarik. Berita yang diharapkan mampu mengurai keruwetan isi kepala.


Sambil mendesis di sibakkannya korden yang menutupi sepasang jendela besar. Hingga cahaya hangat kekuningan mentari pagi menerangi seluruh penjuru ruangan kamar.


Lalu dibukanya kaca jendela lebar-lebar. Sambil menyulut sebatang rokok.


Dan dari tempatnya berdiri saat ini, bisa terlihat dengan jelas suasana di halaman samping. Papa yang masih melakukan gerakan ringan dengan dibantu oleh Sada. Mama yang menyiangi tanaman bunga. Juga Anja yang sepertinya hendak menjemur Aran.


Dddrrrttttttt! Dddrrrttttttt! Dddrrrttttttt!!


Suara getaran ponsel yang tersimpan di atas nakas membuatnya beranjak dari sisi jendela.


Rumah Surabaya Calling


Ia mengernyit sebentar sebelum mengangkat panggilan, "Halo?"


"Assalamualaikum, Mas Tama!" seru seseorang dengan suara lugas dari seberang.


"Waalaikumsalam. Kenapa Yu?" tanyanya begitu mengenali jika yang meneleponnya adalah suara Yu Adah. Asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.


"Mas Tama, ini di teras ada Mba Kinan."


"Mau masuk ke rumah, katanya mau ambil barang yang ketinggalan."


"Masuk aja," jawabnya enteng. Toh itu juga masih menjadi rumah Kinan. Meski selama ini tak pernah pulang.


"Tapi nganu, Mas....," suara Yu Adah terdengar ragu-ragu.


"Mba Kinan datang ke sini sama lanangan (pria). Eh, maksudnya....sama bapak-bapak yang kulitnya putih dan wajahnya ngganteng nggak tahu siapa."


"Pasti bukan saudaranya, lha wong saya tahu semua saudaranya Mba Kinan."


"Lha kalau kayak gini apa boleh masuk ke rumah ta, Mas?"


"Nanti kalau ada apa-apa malah saya yang disalahin."


"Lha Mas Tama a....."


Telinganya tak lagi bisa menangkap suara Yu Adah yang terus nyerocos. Karena kepala yang sudah ruwet kini semakin bertambah kusut dan juga kalut.


***


Anja


Tak lama setelah mobil yang dikendarai oleh Pak Cipto keluar dari pintu gerbang. Untuk mengantarkan Mamak, Icad, dan Umay pulang ke rumah. Mas Tama masuk ke ruang tengah melalui teras samping.


Sempat mengobrol sebentar membahas tentang Sasa. Lalu mengusap pipi bulat Aran sambil menjitak (sayang) kepalanya. Setelah itu, ia tak sempat bicara berdua lagi dengan Mas Tama.


Dan jelang siang ini, selama melakukan pengisian data pra registrasi secara online melalui laptop, ia menitipkan Aran pada Teh Dara. Setelah sebelumnya mengASIhi Aran sampai kenyang.


Namun melakukan registrasi online tanpa bantuan Cakra ternyata cukup merepotkan. Karena ia harus melakukan semuanya sendiri. Mulai dari mendownload, mencetak, menyecan, lalu mengupload seluruh berkas kelengkapan pengisian formulir pra registrasi.


Padahal biasanya, ia cukup duduk manis memperhatikan Cakra melakukan semuanya.


Well, mungkin ini latihan pertama baginya agar bisa bersikap lebih mandiri. Tak terlalu bergantung pada keberadaan Cakra di sisi.


Setelah hampir satu jam berkutat di depan laptop, ia akhirnya berhasil menuntaskan pengisian formulir. Dan mengakhirinya dengan meng klik 'Cetak Bukti Pra Registrasi'. Dimana ia mendapat jadwal registrasi administrasi dan pemeriksaan kesehatan pada tanggal 29 Juli. Bertempat di Balairung Kampus Jakun.


Ketika keluar kamar, dilihatnya Aran tengah dikerubuti oleh banyak orang di ruang tengah.


"Eh, itu Bunda udah selesai....," seloroh Teh Dara begitu menyadari kehadirannya.


Ia tersenyum malu sambil berjalan mendekati sofa ruang tengah. Dimana Papa, Mama, Mas Tama, Mas Sada, Teh Dara, dan Bi Enok tengah mengobrol.


"Nangis nggak Teh?" tanyanya sambil menjulurkan kepala melihat Aran yang tengah bermain-main sendiri di atas bouncer.


"Enggak.....main sendiri dia...bageur (baik) ya sayang ya....," jawab Teh Dara sambil mengusap pipi bulat Aran.


"Nah, ini nih....," seru Mama riang ketika seorang wanita berusia awal 30 tahunan bergabung dengan mereka di ruang tengah.


"Ja, kenalin nih anaknya Bi Enok," Mama memintanya untuk duduk.


"Kadieu (sini) kadieu," Mama juga meminta wanita yang disebut sebagai anaknya Bi Enok untuk duduk berdampingan dengan mereka.


"Anja inget nggak sama Teh Cucun?" seloroh Mama.


Ia hanya meringis karena benar-benar lupa dan tak tahu siapa wanita yang kini telah duduk di sebelah Mama.


"Kapungkur mah Neng Anja alit keneh Ibu (Dulu mah Neng Anja masih kecil, Ibu)," jawab Bi Enok sambil tertawa.


"Hilap deui (lupa lagi)," sambung Bi Enok masih tetap tertawa.


"Ini namanya Teh Cucun, Ja," Mama tersenyum ke arahnya. "Yang mau nemenin Aran."


"Oh," ia mengangguk mengerti.


"Neng Anja lupa ya sama saya?" Teh Cucun tersenyum. "Dulu kalau Bapak lagi lihat kebon kan Neng Anja sering main sama saya."


Ia menggeleng namun sembari tersenyum. Merasa senang dan lega. Sebab yang akan menemani Aran selama ia beraktivitas di luar rumah bukanlah orang lain.


Kenyataan ini berhasil membuat hatinya tenang. Karena kelak ketika mulai disibukkan oleh jadwal perkuliahan, Aran benar-benar berada di tempat yang aman dan nyaman.


***


Tama


Ia sengaja berangkat lebih awal dari rumah. Dan meminta sopir Taxi untuk pergi menuju ke sebuah Mall terlebih dahulu.


Mengubek beberapa gerai sekaligus di Lower Ground. Pertama, ia membeli semua makanan dan minuman ringan yang kemungkinan besar disukai oleh anak kecil di Karrefour. Lalu memesan beberapa jenis menu Xings Jr sekaligus di Burger Xings. Terakhir, ia memilih ice cream kesukaan Reka di Gaskin Robbins dalam ukuran half gallon.


Dari Mall, ia meminta sopir Taxi untuk melanjutkan perjalanan menuju ke daerah sekitar Pasar Kemiri. Tapi begitu sampai di tempat tujuan, ia justru diam dan termenung. Merasa tak yakin dengan apa yang sedang dilakukannya saat ini.


"Pak?" tanya sopir Taxi untuk ke sekian kalinya.


Ia mengangkat tangan kanan meminta waktu sebentar.


Dari kejauhan, diperhatikannya neon putih dan spanduk warna biru yang menjadi penanda gang menuju ke rumah Cakra. Rasa hati ingin menuju ke sana, tapi kakinya seolah terpaku di tempat.


Ia hanya bisa memijit pangkal hidung sambil berpikir keras.


Apakah sebaiknya datang ke sana atau tidak?


Mungkin untuk berpamitan pada Sasa?


Kenapa harus ada acara berpamitan segala?


Bukankah ini terlalu aneh?


Namun keputusan tak juga bisa diambil. Karena kepalanya justru dipenuhi oleh suara Yu Adah yang mengatakan,


"Mba Kinan datang ke sini sama lanangan (pria). Eh, maksudnya....sama bapak-bapak yang kulitnya putih dan wajahnya ngganteng nggak tahu siapa."


"Bapak pesawat jam berapa?" pertanyaan dari sopir Taxi berhasil membuyarkan lamunannya.


"Saya hanya mengingatkan, khawatir terlambat."


Sambil menghela napas panjang ia melirik arloji di pergelangan tangan kanan. Masih cukup waktu untuk sampai ke Bandara tanpa harus ketinggalan pesawat.


Akhirnya setelah berpikir dan menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk memesan jasa pengiriman paket, Do-send.


"Jadinya mau dikirim ke alamat mana, Pak?" tanya pengemudi Do-send ketika melihatnya kebingungan dalam menentukan alamat.


"Saya ingat nama gang nya, tapi lupa RT/RWnya," keluhnya lebih kepada diri sendiri. Karena pikiran yang ruwet berhasil membuat konsentrasinya menurun drastis.


Padahal semalam ia telah mengingat baik-baik alamat lengkap rumah Cakra yang terpasang di dinding rumah. Termasuk RT/RWnya. Sayangnya ia lupa untuk mendokumentasikan.


"Nomor rumahnya aja, Pak," pengemudi Do-send mencoba memberikan solusi. "Sama namanya."


"Biasanya kalau di kampung banyak tetangga yang kenal."


Ia pun menuliskan nama lengkap Pocut beserta nomor rumahnya, yaitu 173. Lalu mengirimkan ke akun Do-send milik si pengemudi.


"Tapi Bapak rugi nanti," sela pengemudi Do-send. "Di aplikasi tertulis ke alamat lain yang lebih jauh."


"Ongkosnya beda, Pak. Kalau dekat gini sih paling cuman be...."


"Nggak apa-apa," jawabnya cepat. "Saya bayar sesuai dengan yang tertera di aplikasi."


Ia bahkan memberikan tips lebih pada si pengemudi. Sembari berpesan, "Harus benar-benar sampai ke tangan penerima!"


"Baik, Pak," pengemudi Do-send mengangguk mantap.


"Siap. Pasti. Yakin dah sampai," lanjut pengemudi Do-send dengan wajah berseri. Mungkin karena mendapat tips yang berjumlah cukup besar darinya.


***


Pocut


Ia baru selesai menyeka tubuh Sasa yang berkeringat akibat kegerahan. Kemudian memakaikan Sasa baju yang baru. Ketika sebuah teriakan terdengar dari luar.


"Permisi Pakeeeet!!!"


"Ma! Ma!" Icad berlari menghampirinya ke dalam kamar.


"Mama pesan paket?"


"Paket?" ia malah balik bertanya.


"Enggak, Cad," ia langsung menggelengkan kepala. "Mama enggak pernah pesan paket. Kenapa?"


"Itu di luar ada Om-Om yang nganterin paket," ujar Icad dengan tangan kanan menunjuk ke luar.


"Pocut," panggil Mamak sambil membuka korden kamar.


"Iya Mak?"


"Itu ada orang mengantarkan paket di depan."


"Sebentar," jawabnya dengan kening berkerut-kerut. Karena ia benar-benar tak pernah memesan paket apapun sebelumnya.


"Aku menyisir rambut Sasa dulu," lanjutnya sambil mengancingkan kemeja lama Umay, yang kali ini dipinjam oleh Sasa. Agar tak kesulitan saat memakai dan melepas pakaian. Sebab jari bekas operasi Sasa masih belum sembuh. Agak repot jika harus memakai baju resleting belakang seperti yang banyak dimiliki Sasa.


Setelah menyisir rambut panjang Sasa, yang kali ini sedikit kusut. Agak susah untuk di sisir. Sering menyangkut sebab belum keramas. Ia beranjak keluar untuk menemui pengirim paket.


"Mba Pocut Halimatussadiah?" tanya seorang pria berjaket hijau begitu melihatnya berdiri di depan pintu.


"Iya," ia masih mengernyit heran.


"Ini ada paket untuk Mba," pria tersebut mengangsurkan beberapa kantong kresek ukuran besar sekaligus padanya.


Tapi ia menolak untuk menerima, "Maaf, Bang. Saya nggak pernah pesan paket."


Pria itu bengong sebentar, sebelum kembali berkata, "Wah, saya nggak tahu ya Mba. Yang penting diterima dulu dah."


"Nanti saya lagi yang kena kalau Mba nggak mau terima nih paket."


"Memang paket dari mana, Bang?" tanyanya dengan kening tetap mengkerut. Sebab merasa aneh dengan bentuk paket yang tak dikemas rapi. Masih berbentuk kantong kresek seperti orang baru pulang berbelanja.


***


Tama


Ia mendapat tempat duduk di samping jendela, tepat di belakang sayap. Dengan kursi sebelah yang masih kosong.


Ia masih memandang ke luar jendela. Ketika pramugari mulai memberi sambutan pada penumpang pesawat sebelum penerbangan.


Namun kali ini bukanlah sambutan biasa. Karena beberapa orang penumpang langsung tersenyum sembari menggelengkan kepala. Bahkan ada yang terpana saking takjub dan tak pernah menyangka.


Termasuk dirinya, yang hanya bisa menertawakan diri sendiri. Sambil terus membuang pandangan ke luar jendela. Dengan hati yang membenarkan tiap kata sambutan penuh makna dari sang pramugari.


"Selamat malam para penumpang yang terhormat yang cintanya tak kunjung merapat." ##


"Selamat datang di penerbangan kerapuhan dengan tujuan mengikhlaskan."


"Penerbangan ke hati yang ditinggalkan kemudian disia-siakan."


"Ditempuh dalam waktu kurang lebih hanya sekadar teman, tanpa sapaan, dan berakhir pesan di-read kemudian."


***


Pocut


"Wah, banyak makanan?!?" Umay berulangkali mengatakan hal yang sama. Sambil memandangi seluruh isi kantong kresek dengan mata membelalak takjub.


"Es krimnya gede bangeeeet," seru Umay lagi. "Seember penuh."


"Sasa mau es krim yang di ember. Sasa mau es krim....."


"Aku mau cokelat," seru Umay.


"Aku juga mau!" pekik Sasa riang.


Sementara Icad hanya melirik dua adiknya yang sedang kegirangan. Lalu bertanya dengan nada meragukan, "Mama beli darimana sebanyak ini?"


Ia hanya bisa memandangi Umay dan Sasa yang kini tengah asyik membongkar seluruh isi kantong kresek dengan hati tak karuan. Sementara dari sudut mata ia tahu pasti jika Mamak sedang menatapnya tajam.


"Dari siapa?" bisik Mamak ketika Icad, Umay, dan Sasa tengah asyik menyantap es krim yang kata mereka,


"Wah....es krim embernya enaaak....."


"Lembuuuuut....."


"Kayak lagi makan susu ya, Bang," seloroh Sasa sambil terkekeh-kekeh.


"Beda sama es krim dua ribuan yang biasa kita beli ya, Sa," timpal Umay sambil menyendok besar-besar lalu menyuapkan ke dalam mulutnya. "Hmmm.....enyaaaaak......"


Ia balas menatap Mamak masygul. Lalu bergumam pelan, "Dari keluarga Anjani, Mak."


Mamak masih menatapnya curiga tapi tak mengatakan apapun.


Sementara anak-anak masih saja ramai. Saling bercanda dan berseloroh.


"Hei...ucapkan Alhamdulillah, udah belum?" seru Icad berusaha mengingatkan dua adiknya yang sedari tadi tertawa-tawa riang.


***


Keterangan. :


**. : (dia) peduli padamu


©© : cuplikan berita di bulan Juli 2018 (sumber : antaranews.com)


##. : dikutip dari Guideku.com yang diambil dari video viral akun Twitter @peduli_amat_