Beautifully Painful

Beautifully Painful
54. 17 Missed Calls



Cakra


Istirahat kedua ini ia sedang duduk menyendiri di sudut terfavorit sekolah, yaitu berteduh di bawah pohon Johar. Pohon dengan dedaunan rimbun dan bunga malai yang berwarna kuning ini jelas menjadi tempat paling ideal untuk melepas lelah di siang hari sembari membaca-baca buku atau sekedar memperhatikan keramaian sekolah di jam istirahat dari kejauhan.


Disandarkannya punggung ke batang pohon Johar yang berkayu keras. Tepat di samping papan bercat putih bertuliskan deskripsi pohon yang telah dihapalnya luar kepala akibat terlalu sering duduk disini.


Pohon Johar / Senna Siamea


Famili : Fabaceae


Divisi. : Magnoliophyta


Ordo. : Fabales


Manfaat :


Ekstrak daun dan akar dapat menurunkan kadar gula darah, kadar trigliserida dalam darah dan meningkatkan produksi insulin.


Kini ia tengah membaca Man's search for meaning nya Viktor E. Frankl. Buku hadiah dari Salma saat kali terakhir gadis itu datang ke rumah beberapa waktu lalu. Ketika matanya tanpa sengaja menatap bayang-bayang Anja yang baru saja keluar dari Perpustakaan. Berjalan menyusuri taman sekolah hingga kini tengah melintasi sisi luar lapangan basket bersama Faza, sang mantan Ketua OSIS.


Mereka berdua terlihat sedang mengobrol serius. Sesekali diselingi tawa dan saling melempar canda. Sungguh pemandangan yang sangat biasa, namun entah mengapa membuat hatinya mendadak mencelos. Seperti yang tiba-tiba terasa deg. Satu sensasi asing yang akhir-akhir ini kerap mengusik jiwa.


Pandangannya terus saja memperhatikan gerik Anja hingga tubuh mungil gadis itu menghilang di balik pintu ruang kelas XII IPA2. Meninggalkan satu ruang kosong di hati. Membuat akal pikirnya sama sekali tak bisa berkonsentrasi di dua jam terakhir.


Kini saatnya pulang sekolah, ia hanya bisa berdiri di kejauhan memperhatikan langkah Anja dan dua temannya berjalan pulang. Sekedar memastikan Anja benar-benar menaiki mobil yang dikemudikan oleh Pak Cipto untuk kemudian pulang ke rumah.


Ia masih memperhatikan Anja yang tengah mengobrol di pelataran sekolah ketika seseorang tiba-tiba menabrak lengannya dengan cukup keras.


DUG!


"Beraninya cuma lihat dari jauh?" desis si penabrak dengan nada suara mengejek,


yang kini telah berdiri di sampingnya, Dipa.


Tapi ia memilih untuk tak peduli. Karena matanya sedang berkonsentrasi penuh memperhatikan gerik Anja yang saat ini mulai menaiki mobil seraya saling melambai dengan dua orang temannya.


"Bisa dilihat, tapi nggak bisa disentuh," desis Dipa lagi dengan nada suara tak kalah mengejek dari yang pertama tadi.


"Apa namanya kalau bukan sia-sia?" sambung Dipa sambil tersenyum miring.


Tapi lagi-lagi ia memilih untuk tak peduli. Karena pengalaman mengajarkan, jangan coba-coba melawan arus jika tak memiliki pelampung. Karena hanya akan mengundang malapetaka. Atau ibarat ungkapan, menyimpan tenaga lebih utama daripada melawan arah mata angin lalu terhempas.


Yeah, seperti yang sering dialaminya selama ini. Terlalu berhasrat untuk melawan apapun yang tak sesuai dengan hati, tapi endingnya selalu saja kalah hingga babak belur tak karuan.


"Eh! Gua lagi ngomong sama lo!" bentak Dipa kesal karena ia langsung ngeloyor pergi begitu mobil yang ditumpangi Anja meninggalkan tempat parkir, sama sekali tak mempedulikan keberadaan Dipa.


Membuatnya menghela napas lalu menjawab singkat, "Gua nggak ada urusan sama lo."


"Bacot lo!" bentak Dipa makin kesal. "Nantangin gua?!"


"Kalau akhirnya kita ada urusan, itu karena elo yang mulai duluan. Bukan gua," jawabnya yang terpaksa menghentikan langkah.


"Brengsek!" maki Dipa dengan wajah memerah lalu berjalan menghampirinya.


"Nggak usah belagu mentang-mentang udah bisa memiliki Anja!" gumam Dipa tajam.


"Kenapa?" tanyanya sambil tertawa sinis. "Merasa terganggu dengan status gue sekarang?"


"Bangs...."


"Oi, Dip! Dipa!" teriakan seseorang berhasil menghentikan ayunan tangan Dipa yang hampir mendarat di wajahnya.


"Dicariin dari tadi!" gerutu Marshall dengan setengah berlari menghampiri mereka berdua. "Anak-anak udah pada nungguin tuh!"


Dengan tanpa berkata apapun Dipa langsung pergi meninggalkannya. Sementara Marshall melambaikan tangan untuk sekedar menyapa, "Hai, Cak?" sebelum kembali berlari mengikuti langkah panjang Dipa menuju parkiran roda 4.


Matanya mulai menerawang di kejauhan. Semakin menyadari jika alur yang hendak ditempuh bisa dipastikan takkan pernah berjalan dengan mudah. Ada begitu banyak aral melintang dan onak berduri yang siap menghadang. Can i?


Dari sekolah ia melajukan motor menuju Retrouvailles. Bermaksud melakukan kewajibannya, yaitu bekerja. Karena beberapa minggu ke belakang acap kali mengambil ijin. Membuat rekap absensi banyak yang kosong. Jelas berbanding lurus dengan jumlah nominal yang akan diterimanya akhir bulan nanti.


Bisa dipastikan bukan hal yang bagus jika fee nya memiliki banyak potongan akibat absen yang kosong. Karena ia telah menikah. Wajib memberi nafkah lahir meski bisa dipastikan Anja tak membutuhkan uang receh darinya. Tapi kewajiban tetaplah harus ditunaikan bukan? Agar janji suci yang telah diucapkannya di hadapan penghulu tak tercederai gara-gara ia mangkir dari memenuhi hak istri.


Istri? Hmm....


Di dalam kepalanya mendadak melintas wajah Anja yang sedang tertawa sembari melambaikan tangan kepada dua orang temannya di tempat parkir tadi. Sesaat berhasil menyunggingkan seulas senyum menghiasi wajahnya. Siap untuk melakukan tugas rutin di Retrouvailles. I'm ready.


Dan ramainya pengunjung di hari i love monday membuat waktu berjalan begitu cepat. Ia bahkan hanya sempat rehat di waktu-waktu sholat selama beberapa menit, bergantian dengan Malik dan Restu.


"Di Retrouvailles, everyday is a holiday," seloroh Malik yang sejak seminggu lalu naik pangkat menjadi team service, untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan olehnya akibat sering ijin tak masuk kerja di beberapa waktu terakhir.


"Biar mencapai target dong," Restu ikut berseloroh. "Berbanding lurus dengan bonus."


"Gue udah mendengar sayup-sayup suara mesin ATM yang lagi ngeluarin duit nih," gumam Malik lagi dengan mata berbinar. "Suara paling indah di muka bumi."


Ia hanya tertawa menggelengkan kepala mendengar selorohan Malik dan Restu. Lebih memilih untuk terus bergerak melakukan tugas bersama dengan Novi dan Alika melayani pengunjung yang seolah tiada habisnya.


Tepat jam 9 malam ketika jadwal shiftnya berakhir. Pengunjung pun tak lagi ramai seperti beberapa jam yang lalu. Kepalanya mendadak dipenuhi oleh rencana mampir ke Indoapril guna membeli snack kesukaan Sasa, lalu singgah sebentar untuk mengantarkannya. Sekedar menengok suasana rumah yang hampir dua hari telah ditinggalkan. Menyisakan rindu yang menggebu.


Atau langsung pulang ke rumah Anja? Khawatir Anja sedang menunggu kedatangannya. Dan perlukah ia membawa oleh-oleh saat pulang nanti? Martabak mungkin? Tapi, apakah orang seperti Anja doyan martabak?


Ah, ya, tentu saja. Semelimpah apapun kehidupan Anja, toh dia masih manusia biasa. Pastinya tak jauh beda dengan orang kebanyakan. Apalagi martabak adalah salah satu jenis makanan kesukaan sejuta umat.


Hm, kira-kira martabak seperti apa yang menjadi kesukaan Anja? Yang mahal kah? Atau justru lebih mementingkan rasa dan sama sekali tak mempermasalahkan harga? Tapi bukankah harga hampir selalu berbanding lurus dengan rasa?


Ya, benar. Memikirkan tentang jenis martabak seperti apa yang disukai Anja membuatnya sadar jika pengetahuan yang dimilikinya tentang Anja amat sangat minim sekali. Ia bahkan tak tahu hobi Anja, warna kesukaan Anja, makanan favorit Anja selain bakso tentunya. Dan banyak hal lain lagi tentang Anja yang sama sekali belum diketahuinya.


Atau, wow! Di dalam kepalanya mendadak melintas ide cemerlang! Begini saja, ia mampir ke Indoapril membeli snack untuk Sasa. Lalu mengantarkannya ke rumah. Melepas rindu barang sejenak dengan Mamak. Kemudian pulangnya mampir ke gerobak baso Mas Warno di Pasar untuk oleh-oleh pulang ke rumah Anja. Bukankah tempo hari Anja bilang baso disana enak?


Ia pun tersenyum-senyum sendiri dan siap untuk berganti baju agar bisa secepatnya merealisasikan rencana yang baru saja disusunnya, ketika Malik berteriak memanggil, "Cakra, ada yang nyari!"


Dan penglihatannya langsung mendapati sosok Salma telah berdiri di samping Malik dengan wajah murung.


"Aku sebenarnya nggak ada rencana kesini," Salma membuka pembicaraan setelah mereka hanya duduk berdiam diri selama hampir lima belas menit lamanya di meja paling ujung.


"Tapi justru bikin hatiku makin gelisah."


Ia hanya bisa menunduk sembari menekuri secangkir espresso yang terletak di hadapannya.


"Bikin aku nggak tenang."


Ia masih menunduk meski tahu Salma sedang menatapnya lekat-lekat.


"Makanya selarut ini baru bisa nemuin kamu."


"Karena sampai barusan pun aku masih ragu. Apa kita memang harus ketemu?"


Sejurus kemudian Salma terdiam selama hampir lima menit. Membuatnya menghela napas panjang untuk berkata pelan, "Maaf."


"Maaf?" ulang Salma cepat dengan suara bergetar. "Maaf untuk apa, Gam?"


Ia mengangkat wajah guna memandang Salma yang terlihat hampir menangis kemudian berkata, "Maaf nggak ngasih tahu kamu sebelumnya kalau aku mau me...."


"Ya ampun, Agam!" suara Salma mendadak kesal. "Maaf aja nggak cukup!"


"Terus apa arti kebersamaan kita selama ini?!"


Namun sedetik kemudian Salma menganggukkan kepala, "Oke. Aku paham selama ini kamu bahkan nggak pernah ngomong apapun ke aku."


"Nggak pernah declare apapun."


"Oke. Bagian ini aku paham sekarang."


"Nggak lebih."


"Meski kita sering pergi bareng, kemana-mana berdua, ngobrolin semua cita-cita dan keinginan, berbagi tentang harapan di masa depan."


Salma kembali menganggukkan kepala sebanyak beberapa kali, "Oke, aku bisa ngerti. We're friend, right? Just friend?"


"Kamu sama sekali nggak ada rasa lebih ke aku selain teman."


"Tapi, Agam? Married?!" Salma hampir memekik ketika menyebut kata married.


"Kalau kubilang nih ya," gumam Salma sengit. "Kamu tuh tega sama aku! Tega banget!"


"Jadi selama ini aku dianggap apa?!"


"Iya teman, aku tahu?!"


"Cuma teman masa kecil kan?!"


"Tapi bukan berarti kamu nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba married! Nggak ngasih tahu lagi!"


"My God, Agam!"


Kali ini ia memilih untuk menghembuskan napas panjang sebelum merespon dengan mengatakan, "Maaf, aku nggak ngasih tahu kamu sebelumnya kalau aku mau me...."


"Aku bahkan ketemu dia waktu di rumah kamu!" potong Salma cepat.


"Iya betul Anja yang itu kan??"


Ia tak menjawab. Kembali menunduk menekuri cangkir espresso.


"Tapi kamu nggak ngomong apa-apa ke aku," desis Salma seraya tertawa sumbang. "Bo dohnya aku, harusnya tahu kalau kalian bukan cuma teman sekolah!"


"Waktu itu kami belum ada rencana apa-apa," jawabnya jujur. Ya, waktu Salma dan Anja tak sengaja bertemu di rumahnya, keadaan belum terang benderang seperti sekarang ini. Semua masih gelap tak ada sedikitpun asa yang terlihat.


"Something happened, right?" gumam Salma cepat. "Kalian nggak akan married secepat ini kalau nggak ada sesuatu yang terjadi."


Kalimat yang diucapkan Salma membuat kepalanya kembali tertunduk. Menyadari jika waktu penghakiman telah tiba.


"Gila, Agam!" desis Salma penuh kekecewaan begitu melihat ekspresi penyesalannya.


"Kamu?! Kalian berdua?!?" Salma tak sempat meneruskan kalimat karena keburu terisak. Membuatnya refleks menyorongkan tissue namun langsung ditepis.


Ia diam menunggu hingga Salma selesai dengan isakannya. Tak berniat membuat pembelaan apapun karena kesalahan memang ada padanya. Tak dipungkiri lagi.


"Selama ini aku pikir diantara kita berdua ada sesuatu yang spesial," Salma kembali membuka pembicaraan.


"Yang bikin aku yakin kalau di masa depan kita akan bersama."


"Meski kamu memang nggak pernah ngomong apapun ke aku."


"Tapi aku masih punya keyakinan suatu saat kita pasti akan bersama."


"Meski entah kapan."


Kini gantian Salma yang menundukkan kepala, "Tapi ternyata aku salah."


"Karena masa depan yang kuimpikan nggak akan pernah terjadi."


"Kamu....cinta sama dia?" tanya Salma tiba-tiba.


"Sesuatu yang terjadi diantara kalian berdua, itu karena kamu cinta sama dia?"


Ia tetap diam tak menjawab.


"Aku harus pastikan kamu bahagia, Gam," gumam Salma lirih.


"Aku baru bisa bener-bener ikhlas ngelupain kamu kalau kamunya juga bahagia."


"Kamu harus bahagia, Gam."


Kali ini ia mengangguk.


Selang beberapa saat kemudian, mereka sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga tanpa disadari malam terus bergerak kian larut.


"Aku antar kamu pulang," ujarnya membuat keputusan karena Salma tak juga mengatakan apapun.


"Aku ambil tas dulu di belakang, kamu tunggu di sini," lanjutnya sembari beranjak ke ruangan dalam.


Kini ia telah mengganti seragam Retrouvailles dan mulai berkemas. Namun langsung terkejut ketika tak sengaja mengecek ponsel yang seharian tersimpan di dalam loker, demi mendapati notifikasi masuk yang tertera di layar.


Anja


17 Missed Calls


Anja


2 unread messages


Dengan tangan gemetar karena takut telah terjadi sesuatu, ia mendial angka 1 untuk menelepon Anja. Tapi begitu terdengar nada sambung, panggilannya langsung di reject.


Membuatnya kembali mencoba. Lagi-lagi langsung di reject begitu terdengar nada sambung.


Kali ketiga, masih dengan pola yang sama. Automatically rejected.


Anja, please, batinnya gugup.


Dan begitu panggilan keenamnya lagi-lagi di reject, ia pun memutuskan untuk membuka pesan chat.


Anja. : 'Kamu bawa jas hujan nggak? Disini gerimis.'


Anja. : 'Kamu pulang jam 10 kan?'


Sembari bernapas lega karena isi pesan chat ternyata tak seburuk dugaannya, dengan tergesa dibalasnya pesan chat dari Anja.


Cakra. : 'Bawa.'


Cakra. : 'Kayaknya agak telat. Ini mau ngantar teman dulu.'


Cakra. : 'Tidur duluan, Ja.'


Setelah yakin balasan pesan darinya benar-benar terkirim, ia pun kembali mendial angka 1.


Tuuuut! Tuuuut!


Begitu nada sambung mulai terdengar.


"Angkat, Ja," gumamnya penuh harap.


Tuuuut! Tuuuut!


Ia sedikit lega karena panggilan tak lagi automatically rejected. Tapi meski begitu, jawaban yang diterima jelas bukan yang diharapkannya.


"Nomor yang anda tuju, sedang tidak dapat dihubungi. Silakan tekan satu, untuk meninggalkan pesan."


"Ja," ujarnya cepat setelah menekan angka 1. "Kamu baik-baik aja kan?"


"Maaf aku pulang telat. Mau ngantar teman sebentar."


"Tidur aja dulu. Nggak usah nungguin aku."