
Readers tersayang ๐ค,
It's me again ๐ jangan bosen yahโ๏ธ๐ค
Dunia Beautifully Painful (keindahan yang menyakitkan) Anja-Cakra akan End di akhir periode ini. Doakan nulisnya lancar ya readers tersayang ๐ค.
Semoga di episode sekitar 150an itu, semua pertanyaan bisa terjawab, semua harapan bisa terkabul, dan semua tebakan bisa betul ehehehe. Kalaupun enggak, author serahkan pada interpretasi masing-masing readers ๐ค (jan ngambek yaa sini sini Big Hug dulu ๐ค).
Setelah itu author minta ijin break sesaat. Libur seminggu ya ya ya ๐ค. Oceh ๐.
Mau merefresh pikiran dan menanggalkan feel Beautifully Painful yang sudah selama 4 bulan lebih ini melekat erat ๐คง.
Untuk menuju novel baru dengan kisah yang lebih fresh dan menyenangkan. Couple dadakan yang berhasil menyisihkan kandidat kuat lainnya (halah ๐) Yang berhasil mencuri spot light Anja-Cakra di BP ๐. Yes, the one and only ๐๐ค yang tiba-tiba menjadi favorit kita semua ๐ค Mas Tamaโค๏ธKak Pocut ๐๐.
Doakan lancar ya readers tersayang.
Thank you for always supporting me ๐ค
See you when i see you ๐ค
With love,
Sephinasera ๐ค
ย -----------
ย Tama
Malam semakin larut. Hujan juga sudah berhenti. Tinggal tersisa air yang menggenang di jalanan sepanjang gang. Sisa luapan dari got ketika hujan deras tadi.
Ia telah menghabiskan tiga batang rokok dan menandaskan sebotol air mineral. Ia juga hampir selesai menonton sebuah film bertema kriminal dan detektif. Dari layanan streaming film berbayar, Getflix.
Hampir satu jam yang lalu Sada menelepon balik. Memberi tahu jika Cakra sedang bersiap untuk datang ke sini. Agar ia bisa pulang ke rumah.
Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kemunculan Cakra. Sampai ketika suara langkah kaki dari ujung gang terdengar kian mendekat. Kemudian berhenti tepat di depan teras.
"Maaf, Mas, tadi ponselnya lagi di charge," ujar Cakra dengan wajah gugup. "Jadi nggak tahu kalau ada telepon."
"Nggak apa-apa," jawabnya santai sambil menekan icon pause di layar ponsel.
"Kenapa bawa motor malam-malam begini?" tanyanya heran ketika Cakra menstandarkan motor yang sedari tadi dituntun saat melewati gang.
"Besok pagi mau sekalian berangkat kerja, Mas."
"Lho, udah nggak libur?"
"Liburnya sudah habis, Mas. Cuma dua hari," jawab Cakra sambil berjalan menuju pintu dan membuka handlenya.
"Kenapa nunggu di luar, Mas?" tanya Cakra keheranan.
"Nggak di dalam saja," Cakra mempersilakannya untuk masuk ke ruang tamu.
Ia hanya menghela napas panjang. Sama sekali tak berminat menjawab. Lebih memilih untuk melihat arloji di pergelangan tangan kanan. Namun sebelum sempat mengucapkan selamat tinggal, Cakra lebih dulu bertanya.
"Kopi atau teh, Mas?"
Ia harus segera pulang ke rumah Papa. Meski sebagian hatinya masih ingin tinggal di sini.
"Saya bawa roti bakar panas," Cakra menunjuk kantong kresek yang menggantung di setang motor.
Ia sempat memandang korden warna biru lusuh yang menutupi pintu kamar kedua, sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan,
"Kopi."
***
Cakra
Tadi ia sempat heran, ketika Mas Tama bersikeras untuk tetap menunggu di teras. Selama ia memindahkan mobil ke pekarangan Haji Murod. Namun tak terlalu ambil pusing.
Mungkin bagi orang seperti Mas Tama, ruang tamu rumahnya yang tak terlalu luas dan sempit, bukan merupakan tempat yang nyaman untuk menunggu.
Hingga lebih memilih duduk menghadap udara bebas di depan teras. Meski harus melawan hawa dingin.
Kini ia telah selesai merebus air. Lalu menyeduh dua cangkir kopi gayo oleh-oleh dari Yah Bit Hamdan. Dan menyajikannya di atas meja ruang tamu bersama sepiring roti bakar.
Harumnya aroma kopi yang khas, dipadu dengan hangatnya roti bakar. Menjadi teman sempurna malam panjang mereka kali ini.
"Sasa harus diamputasi," gumam Mas Tama setelah mereka saling berdiam diri dalam waktu yang cukup lama.
"Jarinya," lanjut Mas Tama ketika menangkap ekspresi keterkejutannya. Sambil menunjuk jari manis tangan kiri.
"Satu ruas," sambung Mas Tama seraya menelusuri ruas teratas di jari manis tangan kiri.
"Karena lukanya lumayan parah."
"Tulangnya hancur terjepit besi poros yang lumayan tajam."
Ia hanya bisa menelan ludah berkali-kali mendengar penuturan Mas Tama.
"Jaringan syarafnya juga sudah mati. Nggak bisa replantasi. Jadi ini yang terbaik."
Ia mengangguk.
"Tiga hari ke depan jadwal Sasa kontrol perban. Tolong kamu yang antar. Bisa?"
"Ambil yang pagi aja."
Ia kembali mengangguk, "Baik, Mas. Nanti jadwal shift nya saya sesuaikan."
"Sama minta nomor rekening kamu."
"Untuk?"
"Biaya kontrol Sasa dan selanjutnya."
"Oh, nggak usah Mas. Kami bis...."
"Nomor rekening," potong Mas Tama cepat.
Pastinya sedang tak ingin didebat.
Ia berdehem sebentar sebelum menjawab, "Tapi Mamak dan Kak Pocut pasti ti..."
"Ini antara kita berdua," Mas Tama mengambil ponsel dari saku.
"Nggak usah kasih tahu ibu atau kakak kamu."
"Bilang aja itu uang dari kamu."
Ia sempat tertegun dan tak langsung menjawab. Sampai akhirnya tak bisa berargumen lagi. Dengan berat hati bersedia menyebutkan nomor rekening Anja.
"Kalau nomor Anja aku udah tahu," jawab Mas Tama cepat.
"Nomor rekening kamu berapa?"
"Nomor rekening Anja saja, Mas," jawabnya semakin merasa tak enak hati.
Dan tak sampai lima menit kemudian, ponsel di sakunya bergetar. Tanda ada pesan masuk.
"Aku udah kirim ke nomor rekening Anja. Besok tolong kamu urus semuanya sampai Sasa sembuh."
"Bilang itu uang dari kamu."
Dengan berat hati ia terpaksa menyetujui permintaan Mas Tama.
"Oya, satu lagi."
"Tiap habis dari Rumah Sakit, tolong kamu ajak Sasa mampir ke McD apa KFC."
Ia semakin mengernyit tak mengerti.
"Deket dari Rumah Sakit. Nggak usah jauh-jauh."
"Kalau uangnya kurang langsung hubungi aku."
Ia menunduk memandangi layar ponsel yang tengah menampilkan tangkapan layar bukti transfer ke nomor rekening Anja. Dengan jumlah nominal yang tertera sebesar gajinya di AxHM selama satu bulan penuh.
***
Tama
Baiklah, menginap di rumah Cakra memang ide paling buruk yang pernah ada. Tapi intuisi jelas-jelas membimbingnya untuk memilih ide buruk ini.
Tadi Cakra memintanya untuk tidur di kamar paling depan. Kamar nomor satu. Meski ia merasa baik-baik saja jika harus tidur di atas kursi rotan.
Dan sedari tadi matanya tak kunjung terpejam. Hanya bisa menatap nyalang. Memperhatikan langit-langit rumah yang bentuk eternitnya telah usang dan lapuk karena dimakan usia. Dengan sebuah kipas angin gantung tepat berada di tengah-tengahnya.
Dilihatnya arloji. Yang saat ini telah menunjukkan pukul 01.54 WIB. Sudah hampir pagi. Jelas bukan hal yang baik. Karena besok ia harus pulang ke Surabaya. Kembali menjalani pekerjaan dan rutinitas sehari-hari.
Dengan berbantalkan kedua lengan. Matanya masih saja nyalang memandangi langit-langit kamar. Ketika terdengar suara langkah kaki. Kemudian disusul suara kucuran air dari dalam kamar mandi.
***
Pocut
Tidurnya semalam jelas terlampau nyenyak. Mungkin karena kondisi tubuh yang cukup penat. Ditambah sempat menangis sebelum tidur. Membuat lelapnya semakin menjadi.
Terlebih Sasa tak serewel seperti yang sempat dibayangkan. Hanya sesekali merengek minta ditiup dan dielus jarinya. Itupun tak lama. Sebelum lewat tengah malam, Sasa tak lagi merengek. Telah tertidur pulas. Mungkin karena sudah kelelahan.
Dilihatnya jam weker yang tersimpan di atas meja. Menunjukkan angka 01.40 WIB. Memang waktu bangun tidurnya setiap hari.
Tapi kali ini sedikit berbeda. Karena tak ada suara seretan sandal Mamak yang baru selesai mengambil air wudhu di kamar mandi.
Dengan perlahan ia mencoba bangun. Berusaha sehati-hati mungkin agar Sasa tak ikut terbangun.
Lalu berdiri di depan kaca. Yang dini hari ini sedikit berbayang sebab udara lembab. Dan mulai melepas peniti yang mengaitkan hijabnya di bawah dagu.
Kemudian membuka ciput yang menurutnya terlalu erat mencengkeram. Membuat kepalanya terasa agak pusing.
Ia sempatkan untuk memandangi pantulan cermin yang buram itu sebentar. Menatap wajah tirus dengan sepasang mata lelah yang terlihat menyedihkan.
Ia menghela napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan. Semua ini dilakukan secara berulang-ulang. Persis seperti cara mengatur pernapasan bagi ibu yang sedang mengalami kontraksi dan hendak melakukan proses persalinan.
Setelah suasana hati yang sempit terasa sedikit lega. Ia pun melangkah keluar kamar. Berniat untuk mengunci pintu depan. Dengan harapan, semoga Mas Tama sudah pulang. Tak lagi duduk menunggu di teras seperti yang sempat dilihatnya semalam.
Namun ia tertegun ketika melihat motor milik keluarga Anjani yang biasa dipakai oleh Agam terparkir di ruang tamu. Dengan Agam yang tertidur di atas kursi rotan panjang.
Ia tersenyum mengangguk.
Alhamdulillah, batinnya lega.
Berarti apa yang dilihatnya semalam, ketika Mas Tama duduk di teras. Bukan sedang menemani Sasa dan dirinya agar merasa aman. Tapi tengah menunggu kedatangan Agam.
Sambil terus tersenyum lega, ia kembali berbalik ke kamar. Bermaksud untuk mengambil baju ganti. Sebab udara jelang pagi hari yang cukup hangat, ditambah rasa lengket dan gerah. Menjadi perpaduan sempurna baginya untuk mandi.
Mungkin keramas bisa sedikit membantu melancarkan sirkulasi darah di daerah sekitar kepalanya. Agar rasa pusing dan ruwet yang sejak semalam dirasakan bisa segera menghilang.
***
Tama
Karena disaat mata mulai mengantuk, justru terbit keinginan untuk buang air kecil.
Namun karena terdengar suara orang sedang berada di dalam kamar mandi. Ia pun berniat menunggu sampai orang tersebut selesai.
Setelah hampir sepuluh menit tak terdengar aktivitas berarti. Baik dari dalam kamar mandi maupun di luar kamarnya. Ia segera melangkah keluar.
Cahaya lampu bohlam warna kuning berdaya 5 Watt langsung menyambutnya begitu keluar dari dalam kamar. Dan ini sedikit menyilaukan. Membuatnya refleks menutup mata.
Setelah mengucek beberapa kali, dan sensitivitas terhadap pantulan warna kuning yang berasal dari lampu bohlam berkurang. Ia buru-buru melangkah menuju ke kamar mandi.
Tapi berjarak sekitar beberapa meter sebelum berhasil mencapai pintu kamar mandi, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam. Diikuti dengan munculnya seseorang.
***
Pocut
Benar kan. Usai keramas kepalanya tak sepenat tadi. Terasa lebih ringan dan nyaman.
Sambil mengeringkan rambut yang basah dengan handuk, ia pun membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar.
Kepalanya menunduk karena masih berusaha mengeringkan rambut. Ketika bayangan sesosok hitam menjulang tiba-tiba menghalangi langkahnya.
***
Tama
Kedua kakinya mendadak terpaku di tempat. Tak bisa digerakkan. Dan tak mampu pergi kemanapun.
Sementara matanya jelas-jelas sedang membelalak lebar. Demi melihat pemandangan paling tak terduga di hari yang masih terlalu pagi.
Seorang wanita, cantik, dengan rambut hitam legam yang masih basah, baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Dan wanita (cantik) itu tak kalah terkejut begitu melihat dirinya.
Satu
Dua
Tiga
Tanpa sadar ia menghitung di dalam hati. Seperti saat melakukan operasi penggrebekan target kelas kakap yang membekali diri dengan senjata api guna melawan petugas.
Memperhitungkan golden times di tiap detiknya.
Agar jangan sampai berbuat kesalahan. Sekecil apapun. Atau bahkan terluka sebab kesilapan sendiri.
Ia masih terpana (dan mungkin saja air liurnya telah menetes). Ketika wanita cantik di depannya yang tak lain dan tak bukan adalah Pocut, membelalakkan mata dengan ekspresi marah.
Sangat marah.
Membuat dirinya refleks memejamkan mata. Lalu memalingkan muka. Sementara tangan kiri memijat pangkal hidung keras-keras.
Berusaha memberitahu meski tanpa suara. Jika ia benar-benar tak melihat apapun.
Ia masih saja berdiri di sana. Memejamkan mata sambil terus memijat pangkal hidung. Tengah menanti reaksi apa yang akan diberikan Pocut padanya.
Pastinya marah.
Lalu berteriak mungkin.
Atau memaki bisa jadi.
Tapi detik yang seakan berjalan begitu lambat tak jua memberitahunya apapun.
Suasana masih tetap sunyi seperti semula. Sepi. Hanya terdengar suara tetesan air yang membentuk irama cukup teratur. Berasal dari kran kamar mandi yang belum sepenuhnya tertutup rapat.
Ia masih berusaha menunggu. Amat berharap Pocut tak melakukan hal-hal yang bisa membuat orang lain salah paham terhadap keberadaannya di ruangan ini.
Ketika hembusan angin dengan aroma keharuman sampo khas wanita berjalan cepat melewatinya.
***
Pocut
Ia menutup kain korden kamar rapat-rapat dengan degup jantung yang seolah berlomba ingin berlompatan keluar.
Apa lagi ini?!
Bagaimana Mas Tama bisa berada di dalam rumah ini?
Bukankah semalam ia melihatnya di teras?
Siapa yang mengijinkan Mas Tama masuk ke dalam rumah?
Agam?
Tapi yang paling penting adalah, mengapa Mas Tama bahkan belum pulang?
Dan semua yang terjadi jelas akibat kebodohannya sendiri. Hingga Mas Tama berhasil memergokinya tanpa mengenakan hijab.
Ia menggelengkan kepala tak percaya.
Sejumput penyesalan mulai bermunculan.
Seharusnya ia langsung memakai jilbab bergo ketika keluar dari kamar mandi.
Seharusnya ia tak nekat mandi di hari yang masih sepagi ini.
Seharusnya ini semua tak terjadi.
Ia merasa malu.
Amat sangat malu.
***
Tama
Satu-satunya hal yang patut disyukuri adalah, wanita cantik itu telah mengenakan pakaian lengkap.
Ia benar-benar tak bisa membayangkan, jika Pocut keluar dari kamar mandi dalam keadaan lain. Seperti layaknya orang yang baru saja selesai mandi.
Ah, sial!
Otaknya memang sudah terkena racun.
Racun yang perlahan namun pasti, berhasil membuat hatinya semakin tak karuan.
Poor you, Tama! batinnya resah.
***
Pocut
Ia sengaja berdiam diri di dalam kamar. Meski adzan Subuh telah berkumandang di kejauhan.
Untung saja ia selalu mempunyai wudhu tiap kali keluar dari kamar mandi. Tindakan preventif menjaga wudhu yang diajarkan oleh Mamak.
Hingga ia bisa tetap melaksanakan ibadah Shalat Subuh meski di dalam kamar. Dengan memakai mukena yang masih tersimpan di dalam lemari. Bukan mukena yang biasa dikenakannya di bilik tempat shalat.
Ia baru berani keluar dari dalam kamar setelah yakin Mas Tama sudah pamit pulang. Dengan Agam yang melihatnya keheranan.
"Kenapa tak keluar menemui Mas Tama, Kak?"
Ia hanya menjawab sambil lalu, "Siapa yang memintanya menginap di sini?"
"Kupikir semalam sudah pulang."
"Aku," jawab Agam masih dengan nada keheranan.
"Aku sampai di sini terlalu malam. Dan Mas Tama terlihat sudah lelah. Jadi aku minta untuk istirahat di sini saja."
"Kenapa Kak?" Agam menatapnya bingung.
"Tidak apa-apa," jawabnya berusaha menghindar.
Dan Agam pun tak memperpanjang lagi. Lebih memilih untuk membuka kain korden kamar agar bisa melihat keadaan Sasa.
"Sasa gimana keadaannya Kak?"
Ia hanya menghela napas panjang.
"Sudah tahu kalau jarinya hilang seruas?"
Ia menggeleng.
"Tak apa," Agam justru menjawab pertanyaan yang dilontarkannya sendiri. "Biar nanti kuhibur."
"Sasa anak periang ini."
Ia tersenyum, "Kamu katanya mau kerja. Ini sudah jam berapa?"
Agam melihat ke arah jam dinding yang menempel di salah satu sisi ruang tamu. Kemudian mulai berkemas.
"Hari ini aku masuk dua shift. Jadi Mamak, Icad, sama Umay nanti diantar ke sini sama Pak Cipto."
"Iya."
"Oya, sama hari Senin....katanya Sasa jadwal kontrol perban?" tanya Agam yang sedang memakai sepatu.
"Kakak mau jam berapa ke rumah sakitnya? Biar kuantar."
"Kita lihat hari Senin saja gimana baiknya," jawabnya sembari menunjuk ke arah jam dinding.
"Cepat berangkat nanti terlambat."
***
Keterangan :
Kopi Gayo. : varietasย kopi arabika yang menjadi salah satu komoditi unggulan yang berasal dari Dataran tinggiย Gayo,ย Aceh Tengah (sumber : Wikipedia)
Replantasi : tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengembalikan bagian tubuh yang terpisah, contoh : jari, gigi, tangan (sumber : PF Faranita, Amputasi jari)
Transplantasi : pemindahan sebagian atau seluruh bagian organ dari satu tubuh ke tubuh yang lain melalui proses pembedahan (sumber : B.Wibisono, jurnal kedokteran Tunas Medika)
Jilbab bergo. : kerudung yang jenisnya langsungan atau kerudung instan siap pakai
Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mom Dyani ๐ค readers tersayang yang telah bersedia menjadi narasumber ๐ค terutama dalam menjelaskan detail luka yang dialami oleh Sasa menurut bahasa medis ๐ค hingga author bisa menuangkan ke dalam bentuk tulisan.
BIG HUG ๐ค