
....Flashback....
Setyo Yuwono
Dairah aceh, tanoh lon sayang
(Daerah aceh, tanah (air)ku sayang)
nibak tempat nyan, lon udep matee
(di tempat itu, aku hidup (dan) mati)
Tanoh keuneubak, indatu moyang
(Tanah leluhur, warisan nenek moyang)
lampoh deungon blang, luah bukeon lee
(lapangan dan sawah, luas bukan main)
Tanoh keuneubak, indatu moyang
(Tanah leluhur, warisan nenek moyang)
lampoh deungon blang, luah bukeon lee
(lapangan dan sawah, luas bukan main)
Keureuja udep, na so peutimang
(Selagi hidup, ada yang peduli)
na so peuseunang, keureuja matee
(ada yang menghibur, saat kematian (datang))
Hate nyang susah, lon rasa seunang
(hati yang susah, kurasa senang)
aceh lon sayang, sampo’an matee
(Aceh kusayang sampai (hari aku) mati)
Hate nyang susah, lon rasa seunang
(hati yang susah, kurasa senang)
aceh lon sayang, sampo’an matee
(Aceh kusayang sampai (hari aku) mati)
(Teuku Djohan&Anzib Lamnyong, Aceh Lon Sayang)
Awal tahun 80an, ia berhasil menyelesaikan pendidikan di AKABRI bagian Kepolisian (sekarang AKPOL) dengan gemilang.
Dan berdasarkan instruksi dari Kapolri, lulusan AKABRI bagian Kepolisian akan langsung ditempatkan di lima Polda yang dikenal rawan konflik.
Yaitu Aceh, Kalimantan, Maluku, Irian Jaya (sekarang disebut Papua), dan Timor Timur (sudah memisahkan diri dari Indonesia dan menjadi negara berdaulat sejak ditandatanganinya referendum pada tanggal 30 Agustus 1999. Sekarang bernama Timor Leste).
Tujuannya adalah agar mereka memiliki mental yang kuat. Menjadi perwira berdedikasi, tangguh, dan tidak cengeng.
“Kuatkan mentalmu karena kau sudah memilih jalan untuk mengabdi. Jangan kau jadi anak mama, belum apa-apa kau sudah merengek sama orangtua!" tegas Kapolri saat memberi wejangan di acara wisuda AKABRI.##
Dan dari lima sahabat semasa menempuh pendidikan di AKABRI, tak satupun ditempatkan di daerah yang sama.
Puguh Koesdiharjo sebagai pemegang Adhi Makayasa (penghargaan tahunan kepada lulusan terbaik dari setiap matra TNI dan Kepolisian) ditempatkan paling jauh. Yaitu di Polda propinsi ke 27 Indonesia (pada waktu itu) Timor Timur.
Hartadi Megantara ditempatkan di Polda Kalimantan.
Gorda Megistra ditempatkan di Polda Maluku.
Antonius Raksaka ditempatkan di Polda Irian Jaya.
Sementara ia ditempatkan di Polda Aceh.
Lima sekawan akhirnya tercerai berai demi mengemban tugas negara. Namun mereka berlima berjanji untuk tak lupa saling memberi kabar penting dan tetap menjalin persahabatan.
"Terutama kalau mau pada kawin ya!" seloroh Gorda yang terkenal paling berisik. "Jangan lupa undangannya!"
"Ente kawin melulu pikirannya!" Anton yang selalu berseberangan dengan Gorda menggeleng tak setuju. "Cuci otak dulu sono biar mikirnya agak jauh dikit dari itu!"
Sementara ia, Puguh, dan Har, hanya bisa tertawa getir. Karena ini bukan hanya perpisahan usai kelulusan pendidikan. Tapi persimpangan jalan menuju masa depan masing-masing. Dan entah kapan mereka berlima bisa bertemu lagi.
Mungkin tahun depan? Atau beberapa tahun lagi ketika posisi jabatan mulai stabil? Entahlah. Tak ada yang tahu.
Dan surat tugas pertama yang diterimanya menuliskan jika ia ditempatkan di Polres Langsa. Kota kecil yang berjarak kurang lebih 400 Km dari Banda Aceh.
Di mana di bagian barat dan utara berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur. Di bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tamiang. Sementara di bagian timur berbatasan dengan Selat Malaka.
Terhitung hanya 6 bulan ia ditempatkan di bagian administrasi penerimaan pengaduan masyarakat di Polres Langsa.
Setelahnya ia kembali mendapat surat tugas untuk ditempatkan di Polsek Idi Rayeuk, Kab. Aceh Timur. Yang berjarak sekitar 70 Km dari Langsa. Dan bisa dicapai dengan menempuh perjalanan darat selama hampir 3 jam lamanya.
Minggu kedua bertugas di Polsek, dini hari ketika ia sedang mendapat giliran jaga piket bersama Sersan satu (sekarang Briptu : brigadir polisi satu) Badrudin. Seorang pemuda tiba-tiba muncul di depan pintu kantor sambil memiting seorang pria yang wajahnya babak belur berdarah-darah.
"Loen kemeng melapor Pak Polisi! Loen ba pancuri nyang tedrop basah!" seru pemuda tersebut lantang.
(Lapor Pak Polisi! Saya bawa pencuri yang tertangkap basah!)
Namun ia yang masih kesulitan mempelajari bahasa Aceh selama hampir 7 bulan bertugas di pulau paling barat ini. Sama sekali tak bisa memahami maksud dari ucapan pemuda tersebut. Terlebih sejak setengah jam lalu, Badrudin yang asli orang Meulaboh pamit ke belakang dan tak kunjung kembali.
"Bisa pakai bahasa Indonesia?!" tanyanya cepat sambil matanya awas memperhatikan pria babak belur yang terus memberontak berusaha melepaskan diri.
"Ada pencuri tertangkap basah!" jawab pemuda tersebut tak kalah cepat. "Usai mencuri mau memperkosa pemilik rumah!"
Dengan sekali terjang ia langsung membantu meringkus pria babak belur tersebut untuk memakaikan borgol. Ketika tiba-tiba terdengar keriuhan di luar kantor.
"Ada apa?!" tanyanya sedikit panik.
Bulan ketujuh resmi bertugas menjadi abdi negara. Dan minggu kedua berada di tempat baru. Suasana mencekam seperti ini tentu baru kali pertama dialaminya.
"Warga menginginkan dia!" jawab pemuda tersebut sambil menunjuk pria babak belur yang terduduk di lantai.
"Karena sudah terlalu meresahkan!" lanjut pemuda tersebut dengan mata menyala.
"Dia sangat licik! Sering mencuri, memalak, membakar tempat usaha orang!"
Sementara suara teriakan di luar kantor semakin riuh terdengar.
"PAT JIH (dimana dia)?!?"
"POH JIH (bunuh saja dia)!!!"
"BI NATANG PALEH (bi natang celaka)!!"
"BEUBAGAH MATE KEUH (semoga cepat mati kau)!!"
Dengan tanpa berpikir ia langsung memasukkan si pencuri yang telah babak belur ke dalam sel. Lalu segera menguncinya.
Kemudian bergegas keluar kantor. Menemui massa yang sedang emosi meluapkan kemarahan. Berusaha menenangkan dan menjelaskan jika si pencuri sudah berhasil diamankan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena proses penyidikan pasti akan segera dilakukan.
Namun karena ia sama sekali tak bisa berbahasa Aceh. Dan suaranya teredam oleh teriakan amarah massa. Yang berteriak penuh emosi sembari mengacung-acungkan rencong (senjata khas Aceh). Penjelasannya menguap di udara.
Ia hampir menyerah ketika massa berusaha menyerbu masuk ke dalam kantor. Tapi teriakan keras pemuda yang pertama kali datang membawa si pencuri berhasil menenangkan emosi warga.
Sejak saat itu mereka berteman. Ia dan pemuda jangkung yang berhasil menyerahkan pencuri tepat waktu sekaligus menghindarkan si pencuri dari amuk massa.
"Hamzah."
"Setyo."
Dari Badrudin yang di malam kejadian datang sangat terlambat itu ia bisa mendapat informasi. Jika nama lengkap Hamzah adalah Teuku Hamzah Ishak. Anak pertama dari mantan Keuchik (kepala desa) Buket Meulinteung. Yang setahun lalu secara tak terduga tewas terbunuh akibat ditembak oleh orang tak dikenal. Dan sampai saat ini pelakunya belum berhasil ditemukan.
"Kasus paling misterius di Idi Rayeuk," gumam Badrudin berapi-api.
"Kalau berdasar cerita dari sumber terpercaya yang kutahu," Badrudin mendadak merendahkan suaranya. "Ini perbuatan petrus (penembakan misterius)."
"Karena Keuchik Zul (Teuku Zulkifli Ishak, ayah Hamzah Ishak) terlalu vokal menantang kebijakan pemerintah."
"Seolah tak punya rasa takut dia!"
"Akhirnya kan.....," Badruddin memasang tampang ngeri. "Jadi begini."
Sejak kematian ayahnya pula, Hamzah memilih untuk menjadi nelayan dan menjual ikan keliling gampong (desa). Sambil mengajar mengaji anak-anak di surau selepas Ashar.
Setiap hari Senin dan Kamis, sepulang dari melaut, Hamzah akan menggelar hasil tangkapan ikannya di TPI (tempat pelelangan ikan) Idi.
Dengan memikul dua ember berisi air dan ikan yang beberapa diantaranya masih hidup. Hamzah berjalan puluhan kilometer sampai seluruh ikan hasil tangkapannya terjual habis.
Biasanya Hamzah membawa ikan jerbok (tongkol), ikan reugak (selayang), ikan tuna, sotong/cumi-cumi dan terkadang udang. Yang dalam sekejap habis diserbu oleh ibu-ibu di Aspol (asrama polisi) Idi Rayeuk.
Selain karena kualitas ikan yang dijajakan Hamzah masih segar. Juga karena pembawaan riang Hamzah yang selalu santun dalam melayani pembeli.
"Bukan karena wajah penjual yang rupawan kan Kak?" seloroh Badrudin jika para istri sedang mengadakan giat di kantor Polsek.
Para istri itu biasanya masing-masing membawa masakan andalan. Untuk kemudian disantap bersama usai giat. Dan yang paling lucu adalah kebanyakan makanan berbahan dasar ikan. Tentu saja karena mereka membeli di tempat yang sama, yaitu Hamzah.
"Hamzah itu pemuda soleh," gerutu salah satu istri yang suaminya di kantor berpangkat Sersan mayor (sekarang disebut Bripka : brigadir polisi kepala).
"Sebanyak apapun perempuan yang menggoda, tak ada satupun yang diladeni sama si Hamzah."
"Jadi aman lah bapak-bapak, tak perlu repot-repot cemburu dengan si penjual ikan tampan."
"Atau jangan-jangan si Hamzah tak doyan perempuan pula," seloroh Badrudin yang langsung mendapat pelototan dari semua ibu-ibu yang ada di sana.
"Heh! Jangan sembarangan ngomong kau ya!" gerutu ibu-ibu yang serempak terlihat ingin menggeplak kepala Badrudin.
Selain melaut dan berjualan ikan. Hamzah juga terkadang mendapat panggilan dari orang-orang yang ingin membetulkan sepeda atau radio yang rusak.
Dari sanalah Hamzah memperoleh penghasilan untuk menghidupi ibu dan satu adik perempuannya. Yang kini tengah menimba ilmu di sebuah pesantren yang terletak di lereng bukit.
Dan setelah kejadian pencuri yang hampir diamuk massa beberapa waktu lalu. Tercatat beberapa kali Hamzah kembali berhasil meringkus pencuri, perampok, dan pemerkosa (di tahun tersebut banyak berkeliaran) yang meresahkan warga.
Lalu membawanya ke kantor polisi. Hingga para penjahat tersebut masih bisa hidup karena berhasil lolos dari amukan massa yang marah. Diselamatkan oleh Hamzah sang jagoan.
"Kita tak boleh main hakim sendiri," begitu kata Hamzah berulang kali. "Penjahat harus dihukum oleh yang berwajib."
Membuat Hamzah memiliki kedekatan dengan mereka semua yang ada di kantor. Tak terkecuali Pak Kapolsek dan jajarannya.
Siang ini ketika ia sedang beristirahat di belakang meja usai menyelesaikan beberapa berkas BAP (berita acara pemeriksaan). Terlihat Hamzah baru keluar dari ruangan Kapolsek.
"Wah, cair nih," selorohnya. Paham betul jika Hamzah terkadang mendapat persenan khusus dari Kapolsek jika berhasil menyerahkan penjahat ke kantor polisi.
Namun Hamzah justru memintanya untuk keluar ruangan.
"Minggu depan aku hendak menikah," ujar Hamzah ketika mereka sama-sama berdiri di halaman kantor. Sambil menyerahkan selembar kertas undangan berwarna merah muda.
"Kau dapat undangan khusus," seloroh Hamzah. "Kalau yang lain cukup ramai-ramai lewat Pak Kepala."
Ia tersenyum menerima kertas undangan dari Hamzah.
"Berani kawin kau."
Hamzah tertawa, "Mamakku sudah semakin renta. Sementara Sarah (adik Hamzah) masih terlalu muda untuk menikah."
"Padahal harapan Mamak sebelum wafat, ingin menimang cucu."
"Alasan!" cibirnya.
Lalu mereka tergelak bersama.
Hamzah jelas lebih muda darinya. Mungkin usia Hamzah dua atau tiga tahun di bawahnya. Tapi sudah memiliki keberanian untuk mengakhiri masa lajang.
Sementara ia masih sangat ragu-ragu. Meski tahu nun jauh di sana, kekasih hati sedang menunggu pinangan darinya.
Ia pun menghela napas sambil merogoh dompet di saku belakang celana. Lalu mengambil selembar pasfoto hitam putih. Bergambar wajah cantik yang hampir setiap malam dirindukannya.
"Siapa?" tanya Hamzah heran ketika ia mengulurkan pasfoto tersebut.
"Calon istriku," jawabnya bangga.
Hamzah tersenyum lalu membalik lembaran pasfoto, "Yuniar Kosasih?"
"Mahasiswi Fakultas Ekonomi di Bandung," jawabnya lagi dengan hidung terkembang.
"Cantik," ujar Hamzah singkat seraya menyerahkan kembali pasfoto keramat miliknya.
Yang dengan cepat langsung ia simpan di dalam dompet. Khawatir jatuh lalu hilang. Tentu tak terbayangkan kekecewaan yang muncul. Karena selembar foto inilah satu-satunya obat mujarab di kala rindu.
"Bandung?" tanya Hamzah dengan mata menerawang.
"Seperti apa kota Bandung? Jakarta? Surabaya?" lanjut Hamzah lagi.
Ia tersenyum, "Orang-orang Belanda dulu menyebut Bandung adalah Parijs Van Java."
"Jakarta banyak gedung bertingkat."
"Surabaya rumah orangtuaku."
"Kau beruntung bisa pergi ke tempat-tempat itu," gumam Hamzah.
Ia kembali tersenyum, "Kau beruntung tinggal di tempat ini. Berkumpul dengan ibu dan keluarga."
"Tak seperti aku," ia menghembuskan napas panjang. "Jauh dari sanak saudara."
"Apa kelak aku bisa pergi ke tempat-tempat itu?" tanya Hamzah dengan penuh keraguan.
"Nanti kuundang kau ke Bandung waktu aku menikah," jawabnya cepat. "Serius ini."
"Dan kau harus datang!"
Hamzah justru tertawa mendengar perkataannya, "Berapa hari perjalanan bisa sampai ke Bandung? Seminggu?"
Kini ia yang tertawa, "Yang penting kuundang kau saja dulu. Perkara sampai ke Bandung berapa lama itu bukan masalah besar."
Lalu mereka kembali terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Apalagi dirinya. Sedang berusaha keras memilih untuk menyatakan keinginan terpendamnya pada Hamzah atau tidak. Karena terus terang ia merasa malu.
"Kau pernah mendengar tentang salah satu kewajiban suami terhadap istri adalah membimbingnya?" tanyanya dengan sedikit ragu.
Hamzah tertawa, "Apa pula kau ini. Serius sekali kedengarannya."
"Aku sama sekali tak bisa mengaji," sahutnya cepat sebelum hilang keberanian.
Membuat Hamzah segera menghentikan tawanya. "Tapi kau mengerjakan sholat kan?"
"Kadang-kadang," jawabnya jujur. Ia jelas bukan kategori orang yang taat beribadah. Keluarga besarnya jelas priyayi abangan. Bukan kalangan santri.
"Kalau ingat dan hati sedang gundah," lanjutnya pelan.
Hamzah menggelengkan kepala.
"Jadi...maksudku....sebelum nanti aku menikah...dan harus membimbing istri.....," ia menghembuskan napas panjang dengan berat.
"Aku ingin belajar mengaji."
Hamzah menoleh ke arahnya.
"Ajari aku membaca Al Qur'an."
***
Keterangan (dari berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya) :
**. : artinya Acehku sayang
Makna dari lagu Aceh Lon Sayang adalah menceritakan tentang gambaran kecintaan warga Aceh terhadap tanah leluhurnya, dimanapun berada tetap cinta Aceh sampai akhir hayat
Arti lirik lagu Aceh Lon Sayang dikutip dari mfzuhri.wordpress.com
AKABRI. : Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, adalah pusat pendidikan militer.
Pada tanggal 14 Juni 1984, dalam rangka reorganisasi di lingkungan ABRI (sekarang disebut TNI), AKABRI berubah nama menjadi AKMIL (Akademi Militer) (sumber : Wikipedia)
AKABRI bagian Kepolisian berubah nama menjadi AKPOL pada tanggal 29 Januari 1984.
Dan AKPOL dinyatakan terpisah dari AKMIL sejak tanggal 10 April 1999 (sumber : jurnalsrigunting.wordpress.com)
##. : dikutip dari liputan6.com 8 Juli 2020
Petrus. : penembakan misterius, suatu operasi rahasia pada tahun 1980-an untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada saat itu (sumber : Wikipedia)
Abangan. : adalah sebutan untuk golongan penduduk Jawa muslim yang mempraktikkan Islam dalam versi yang lebih sinkretis bila dibandingkan dengan golongan santri yang lebih ortodoks.
Atau julukan kepada para orang yang sudah masuk Islam tetapi tidak menjalankan syariat (sumber : Wikipedia)
Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mom Siska 🤗 readers tersayang yang asli Aceh 🤗 Teurimong gaseh Mam sudah menjadi narasumber 🤗 terutama dalam menterjemahkan bahasa Aceh 🤗 BIG HUG 🤗
##jika ada kekeliruan penulisan atau kesalahan dalam menerjemahkan realita sejarah dan kepangkatan dalam kepolisian, feel free untuk PC author ya readers tersayang 🤗 dengan senang hati akan author revisi