
Cakra
Hari ini, Senin, 13 April adalah hari yang paling dinanti oleh Anja. Yaitu pengumuman hasil seleksi SNMPTN. Dan sudah sejak hari Sabtu Anja bahkan memintanya untuk mengambil shift pagi di Retrouvailles.
"Shift pagi sampai jam empat sore kan?" tanya Anja antusias. "Pengumuman bisa dilihat mulai jam lima sore."
Ia memang masih bekerja di Retrouvailles. Rencananya sampai berhasil mendapatkan pekerjaan baru yang lebih menjanjikan dari segi pendapatan.
Sembari menunggu pengumuman kelulusan. Untuk memperoleh SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional). Yang bisa dipergunakan sebagai pengganti ijazah ketika melamar pekerjaan.
Jam 16.00 tepat setelah menyelesaikan semua tugas di Retrouvailles, ia langsung teng go. Menghambur keluar kemudian tancap gas dengan kecepatan maksimum agar bisa segera sampai di rumah Anja.
Sempat melirik pergelangan tangan kanan, 16.41 WIB. Sebelum mencuci tangan dan kaki di teras. Kemudian masuk ke dalam rumah. Dimana ia mendapati Anja sedang duduk di ruang tengah dengan laptop menyala.
"Aku ganti baju dulu ya," ujarnya sambil masuk ke dalam kamar.
Ia terlebih dahulu pergi mengambil sebotol air dingin di kulkas sebelum akhirnya mendudukkan diri di sebelah Anja yang tengah menggonta-ganti chanel televisi.
"Aku nggak berani lihat," gumam Anja yang sedari tadi terus mengganti chanel televisi tanpa berniat untuk menonton satu chanel pun.
"Kalau gitu nggak usah lihat," selorohnya seraya meneguk air putih.
Anja seperti biasa hanya mencibir. Sambil terus memindahkan chanel televisi dengan wajah galau.
Tepat pukul 17.00 WIB, Anja semakin gelisah.
"Tunggu sebentar," ujarnya menenangkan sambil meraih laptop.
"Sekarang semua yang daftar SNMPTN lagi mengakses situs yang sama."
"Sebesar apapun situs, kalau lalu lintas pengaksesnya padat, bikin server down terus error."
"Iya...iya...serah!" gerutu Anja sambil memberengut.
"Situs Jakun juga susah dibuka nih meski nggak down," gumamnya ketika mencoba membuka situs snmptn.jakun.ac.id.
Ia bahkan sempat sholat Maghrib di masjid. Makan malam dengan lauk kakap asam manis masakan Bi Enok yang lezat.
"Lho, Neng Anja kok malah melamun sih?" seloroh Bi Enok ketika menyimpan sepiring Cap cay yang masih mengepulkan uap panas karena baru matang.
"Tadi pagi minta dibuatin ikan asam manis sama cap cay," lanjut Bi Enok. "Sekarang malah cuma dilihatin aja."
Anja tak menjawab dan tetap memberengut. Membuatnya tersenyum ke arah Bi Enok, "Lagi berdoa sebelum makan, Bi. Sebentar lagi juga habis."
Yang berhasil memancing Anja untuk memelototinya setelah Bi Enok pergi ke dapur.
Situs pengumuman.snmptn.ac.id bahkan masih error ketika ia mencoba membukanya kembali sepulang dari sholat Isya di Masjid.
Membuat Anja semakin gelisah. Sementara di grup kelas IPA6 beberapa orang telah mengucapkan selamat pada Gamal, Lukman, dan Nidia yang berhasil lulus SNMPTN di tiga kampus berbeda.
Namun ia tak mengatakan apapun. Karena tak ingin membuat kegelisahan Anja semakin menjadi.
Baru setelah mereka bersiap untuk tidur. Anja juga sudah meminum vitamin yang diresepkan oleh dokter Stella. Ia baru bisa membuka situs snmptn.jakun.ac.id.
Membuatnya segera meraih kartu tanda peserta SNMPTN yang sengaja disimpan di atas nakas oleh Anja. Ia pun mulai mengetik di kolom yang tersedia.
Nomor Pendaftaran : 101-0357417
Tanggal Lahir . : 21/03/2xxx
Lihat Hasil Seleksi
Kemudian keluarlah kotak putih. Dengan kop surat berlogo LTMPT (Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi) di bagian kanan atas. Dengan sederet tulisan di bawahnya yang berbunyi,
Data Siswa Pendaftar :
Nomor Pendaftaran. : 101-0357417
Nama Siswa. : Anjani Prameswari
NISN Siswa. : 9920057611
Asal Sekolah. : SMA Pusaka Bangsa
Kabupaten/Kota. : Jakarta Barat
Provinsi. : DKI Jakarta
Anda dinyatakan tidak lulus seleksi SNMPTN. Silakan mengikuti SBMPTN.
Ia baru akan menoleh ke arah Anja karena mengira telah tertidur. Sama sekali tak pernah menyangka jika ternyata Anja tengah duduk di belakang punggungnya dengan mata berkaca-kaca.
"Tuh kan, aku nggak lulus," desis Anja dengan air mata berurai.
Membuatnya buru-buru menutup laptop lalu menyimpannya di atas nakas. Kemudian berusaha meraih bahu Anja yang berguncang naik turun karena terisak.
Namun Anja justru mengendikkan bahu dan menjauhinya. Meski berkali-kali ia berusaha kembali meraih, tapi Anja selalu menolaknya.
Anja bahkan langsung memunggunginya. Sementara ia hanya bisa memandangi bahu Anja yang masih terus berguncang.
Hingga entah berapa lama ia memandangi punggung cantik itu. Yang lambat laun mulai tenang. Tak lagi terguguk menangis.
Membuatnya berdehem untuk kemudian berkata, "Besok kita langsung daftar SBMPTN sama-sama."
***
Anja
Ia tertidur dengan wajah penuh air mata. Meski sejak awal tak terlalu yakin dengan hasil SNMPTN. Namun ia tentu saja masih banyak berharap ada sebuah keajaiban. Yang akhirnya harus kandas semalam.
"Hari ini aku libur," ujar Cakra ketika ia keheranan mengapa sudah jam 7 pagi tapi masih memakai celana pendek sedang menyirami tanaman di halaman samping.
Kemudian ia memilih untuk duduk di ayunan gantung rotan berwarna putih yang ada di teras samping. Mengecek notifikasi di ponsel sekaligus menscroll time line sosmednya. Sambil sesekali memperhatikan Cakra yang sedang menyiram sederet tanaman bunga milik Mama.
Kini jarinya sedang mengklik tautan yang dikirim oleh Agung si ketua kelas di grup IPA2. Daftar siswa lulus SNMPTN official website Pusaka Bangsa. Dengan nomor paling atas tertulis,
1. 101-0357391/Adipati Megantara/ XII IPA1/Kampus Jakun/Pendidikan Dokter
Kemudian di susul dengan puluhan nama lain di bawahnya. Banyak bahkan yang ia kenal dengan baik. Antara lain Faza di FTMD Ganapati, Agung di Teknik Industri Kampus Biru, Lakesya di FEB kampus DU. Dan masih banyak lagi.
Lalu yang paling ia inginkan yaitu Pendidikan dokter gigi Kampus Jakun. Dimana terdapat nama Dwini Meirisa dan Egya Siramma. Menerangkan dengan jelas bahwa ia dan Arumi sama-sama tak lulus.
Kini ia beralih melihat isi sosmed. Dimana notifikasi riuh oleh anak-anak yang mengucapkan selamat atas keberhasilan Dipa. Membuat jarinya gatal untuk mengetikkan sesuatu di kolom komentar.
'Congrats, Dipa.'
Kemudian ia mengklik -send-. Dan kembali memperhatikan Cakra yang kini tengah merapikan ranting-ranting kering dari sederet pohon jambu kristal milik Papa.
Namun keasyikannya memperhatikan kerajinan Cakra tak bisa berlangsung lama, karena keburu ada notifikasi masuk ke dalam ponselnya.
'Thanks, Anja. Never ever give up. See you there!'
Begitu balasan Dipa yang membuatnya tersenyum. Berhasil memancingnya untuk berteriak ke arah Cakra yang masih saja asyik menyiangi tanaman.
"Kapan mau daftar SBM nya?!?"
"Habis ini," jawab Cakra balas berteriak. "Tanggung."
"Buruan!" serunya lagi sambil beranjak masuk ke dalam rumah. Dan mulai mempersiapkan segalanya.
"Siap?" tanya Cakra dengan wajah tanpa dosa. Padahal ia telah menunggu hampir 1 jam lamanya.
Karena usai berkebun, Cakra justru membantu Pak Cipto mencuci mobil. Kemudian memanaskan semua kendaraan yang ada di garasi. Lalu mandi. Dan baru sekarang duduk di sebelahnya dengan membawa KTP dan kartu NISN.
"Sebentar banget?!?" sindirnya dengan wajah cemberut. Sontak membuat Cakra tergelak.
"Pakai laptopku aja," ujarnya cepat. "Kalau pakai punya kamu nanti nge lag lagi!"
Cakra kembali tergelak.
Ia pun mulai membuka website resmi di www.pendaftaran.sbmptn.ac.id. Kemudian mengisi seluruh kolom yang ada. Hingga layar menampilkan tulisan,
Slip Pembayaran Biaya Seleksi SBMPTN
Kini ia beralih membuka mobile banking di dalam ponsel. Namun Cakra keburu mengulurkan ponsel hitam dengan layar retak ke arahnya.
"Pakai punyaku," ujar Cakra.
Ia sempat mengernyit sebentar. Tapi karena tak ingin menunggu lama, ia pun segera menyambar ponsel warna hitam milik Cakra. Karena yang didaftarkan sebagai peserta M-banking rekening tabungan milik Cakra adalah nomor ponsel Cakra. Mereka belum sempat merubahnya ke customer service Bank yang bersangkutan.
"Besok sekalian aku berangkat kerja," lanjut Cakra lagi. "M-banking nya ganti pakai nomor kamu."
Ia tak menjawab. Karena sedang mengetikkan angka 200.000 di kotak masukkan jumlah transfer. Untuk membayar biaya pendaftaran SBMPTN.
"PIN nya?" tanyanya karena memang belum mengetahui PIN ATM Cakra. Kemarin waktu ia memeriksakan kandungan ke dokter Stella, Cakra yang membayar di kasir. Sementara ia hanya duduk manis di ruang tunggu.
"210300," jawab Cakra tak kalah cepat.
Setelah pembayaran berhasil. Ia pun kembali melakukan hal yang sama untuk mendaftarkan nama Cakra.
Kemudian barulah ia mengisi lembar pendaftaran SBMPTN online. Yang berisi data diri lengkap termasuk pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan orangtua.
Namun ketika ia hendak meng-upload foto terjadi kendala. Karena fotonya tak kunjung muncul di kotak tersedia. Membuat Cakra mengambil alih laptop lalu memeriksanya.
Dan tak sampai lima menit kemudian, Cakra telah berhasil meng-upload fotonya dengan background warna biru di laman pendaftaran online.
"Barusan kenapa susah?" tanyanya ingin tahu.
"Tadi ukuran foto kamu lebih dari 100 KB," jawab Cakra yang kembali menyerahkan laptop padanya. "Maksimal ukuran file 100 KB. Kalau lebih bakalan gagal."
"Oh," ia menganggukkan kepala tanda mengerti. Lalu mengklik save untuk semua data yang telah terisi.
Langkah selanjutnya setelah data diri dan data sekolah lengkap adalah memilih tempat mengikuti ujian. Yaitu panlok (panitia lokal) wilayah 1 Jakarta. Dilanjutkan dengan mengisi pilihan program studi.
Dengan mata terpejam ia pun langsung meng klik Kampus Jakun/Pendidikan Dokter Gigi. Dan pilihan kedua adalah Kampus Nangor/Pendidikan Dokter Gigi.
"Kamu mau ke Bandung?" tanya Cakra heran.
"Aku mau ke Jakun."
"Tapi pilihan kedua?!"
"Mau nggak mau," ia hanya mengangkat bahu.
"Paling dekat sama Jakarta ya Bandung. Kalau Jogja kejauhan. Meski Mas Sada bilang punya banyak teman yang jadi dosen di Kampus Biru," jawabnya sambil lalu.
"Kalau memang mau ke Jakun, kamu bisa ambil jurusan yang lain," suara Cakra terdengar mengeras. "Kamu bisa ambil campuran, jadi ada tiga pilihan. Salah satu bisa sosh...."
"Aku mau jadi dokter gigi!" sanggahnya cepat. "Bukan yang lain!"
"Tapi Bandung?!" mata Cakra mendadak menyala. Membuatnya sedikit terkejut.
"Aduh, Cakra?!" ia menggerutu sebal. "Ini kan cuma daftar doang. Bel...."
"Kalau kamu keterimanya di Bandung gimana?!"
"Aku mau di Jakun!"
"Kalau ternyata yang masuk di Bandung?!'
"Pokoknya aku mau ke Jakun! Titik!" ujarnya setengah membentak. Merasa kesal karena Cakra mempermasalahkan hal yang bahkan belum terjadi.
"Kamu secara sadar milih di Bandung, berarti udah siap kalau ternya...."
"Aku nggak akan ambil!" potongnya cepat dengan mata melotot marah. "Aku mau FKG dan Jakun! Bagaimanapun caranya!"
"Kenapa sih kamu ribet banget?!" sungutnya kesal. "Orang test juga belum! Udah rese dari sekarang!"
"Nih, nanti juga kamu pilih Bandung satu! Biar kita impas!" ujarnya cepat sambil buru-buru meng klik save agar tak terpengaruh dengan kekhawatiran tak berdasar Cakra.
Kini ia tengah memeriksa kembali jika data yang dimasukkan dari langkah pertama hingga kelima benar dan sesuai dengan dokumen yang sah.
Kemudian meng klik UTBK (ujian tulis berbasis komputer) untuk pilihan jenis ujian. Lalu meng klik proses kartu tanda peserta SBMPTN. Dan terakhir tekan cetak kartu hingga terdengar suara desisan halus yang berasal dari printer yang tersimpan di dalam kamarnya.
"Bereees," ujarnya senang. Namun langsung menghentikan senyum begitu menyadari Cakra justru bermuram durja.
"Aku daftarin kamu ya," lanjutnya berusaha mengabaikan kemuraman wajah Cakra. "Ntar aku pilihin program studi yang passing grade nya paling tinggi se Indonesia."
***
Cakra
Setelah Anja terlelap ia meraih selembar kartu warna putih yang tadi di simpan Anja di atas nakas.
Lalu memandangi kartu tampak dua muka dengan judul besar di bagian atas, Kartu Tanda Peserta SBMPTN dengan masygul. Karena pilihan program studi yang tadi di klik Anja adalah, STEI Ganapati dan Matematika Jakun.
"Tahun lalu, passing grade STEI paling tinggi," ujar Anja yakin. "Skor rata-rata UTBK 698,75!"
"Bisa jadi aktualisasi diri kamu buat membuktikan ke semua orang."
"Aku nggak perlu buktiin apa-apa terlebih ke semua orang, Ja," gumamnya getir.
"Aduh, Cakra!" Anja kembali merajuk. "Daftar doang seribet ini sih?!"
"Kan belum tentu juga keterima!" sungut Anja lagi.
"Sekarang tinggal berdoa, biar kita berdua sama-sama masuk ke Jakun," ujar Anja yakin sambil tersenyum.
Namun yang ada di dalam kepalanya justru tentang bagaimana bisa lolos job interview untuk salah satu posisi bagi lulusan SMA di PT. Axtra Group. Sebuah perusahaan multinasional yang salah satunya bergerak di bidang otomotif pembuatan spare part dan perakitan kendaraan.
Ia pun meraih ponsel dari atas nakas. Kemudian membuka pesan chat yang dikirimkan oleh Andri beberapa hari lalu.
Andri. : 'Gam, ini lowongan di Axtra yang kemarin gue bilang.'
Andri. : 'Siapa tahu ente tertarik.'
Andri. : 'Tunjangannya lumayan.'
Andri. : 'Abang gue punya anak bini bisa ambil KPR type 21 di Cikarang coret.'
Andri. : PT Axtra Group sedang membuka lowongan kerja pada bulan ini dengan beberapa posisi sebagai berikut :
1. Operator produksi
2. Quality Control
3. Operator Gudang
4. Staff Produksi
5. Staff Gudang
6. Administrasi
Kualifikasi Umum :
1. Pria/Wanita
2. Pendidikan minimal SMA / SMK Sederajat semua jurusan
3. Tinggi badan minimal 160 cm Pria 153 cm Wanita
4. Usia maksimal 23 tahun
5. Tidak berkacamata
6. Tidak bertato dan bertindik
7. Bebas narkoba
8. Sehat Jasmani dan rohani
9. Siap Ditempatkan Di Cibitung , Karawang , Cikarang & Jakarta
Ia menghela napas panjang sembari memandangi Anja yang terlelap dengan pulasnya. Lowongan pekerjaan ini jelas lebih masuk akal dibanding pendaftaran SBMPTN.
Penempatannya juga masih di sekitar Jakarta. Bisa ditempuh menggunakan motor pulang pergi dari rumah Anja. Sementara Anja kuliah dan anak mereka lahir.
Ia pun menganggukkan kepala dan berjanji usai pengumuman kelulusan tanggal 2 Mei mendatang, ia akan langsung meminta SKHUN kepada pihak sekolah agar bisa dipergunakan untuk melamar pekerjaan.
Ia tentu harus bekerja di tempat yang lebih baik. Agar bisa menghidupi Anja dan anak mereka kelak dengan layak. Dan lowongan dari PT Axtra ini adalah jalan keluar terbaik.
***
Keterangan :
Jakun. : jaket kuning, sebutan untuk universitas negeri di Jakarta yang terkenal dengan jaket kuningnya.
Ganapati. : institut yang terletak di Bandung
Kampus Biru. : sebutan untuk universitas negeri di Jogjakarta
FTMD. : fakultas teknik mesin dan dirgantara
FEB. : fakultas ekonomi dan bisnis
Kampus DU. : sebutan untuk universitas negeri yang terletak di Jl. Dipatiukur, Bandung
Kampus Nangor. : sebutan untuk universitas negeri yang terletak di Jatinangor, Sumedang.
STEI. : sekolah teknik elektro dan informatika