Beautifully Painful

Beautifully Painful
139. Beratapkan Langit Malam



Pocut


Hampir sepuluh menit lamanya ia menunggu di depan teras. Dengan ditemani oleh suara gemuruh derasnya air hujan. Ditambah hawa dingin angin malam yang menusuk tulang. Tapi tunggu punya tunggu, Mas Tama tak kunjung keluar dari dalam kamar.


Ia memang sengaja tidak ikut masuk ke dalam rumah. Karena merasa kurang nyaman jika harus berdekatan dan hanya berdua dengan Mas Tama. Tanpa orang dewasa lain di sekitar mereka.


Sikap Sasa yang langsung akrab dan menyukai Mas Tama, jelas menjadi pertimbangan utama. Karena sebenarnya, Sasa termasuk anak bertipe mesin diesel. Alias lama panasnya. Membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk menerima kehadiran orang baru di dekatnya. Terutama pria dewasa.


Sejak kecil Sasa tak pernah bisa akrab dengan pria dewasa manapun. Termasuk Bang Is, Ayah kandungnya sendiri.


Sebab utamanya jelas pekerjaan Bang Is, yang mengharuskan mereka tinggal berjauhan. Baru bisa bertemu setahun sekali. Membuat Sasa dan Bang Is hanya memiliki waktu kebersamaan yang sangat singkat. Tak cukup untuk menyimpan memori indah dalam benak Sasa.


Apalagi dengan Bang Fahri saudara mereka sendiri. Juga Cing Anwar suami Cing Ella, yang bahkan sudah dianggap seperti layaknya keluarga. Ataupun Cang Romli yang merupakan tetangga paling baik.


Kecuali Agam tentunya. Setiap hari bertemu membuat Sasa amat lengket dan akrab dengan Agam. Bahkan mungkin, sosok pria dewasa yang tertanam di benak Sasa hanyalah Agam seorang.


Tapi saat ini, Sasa bahkan bisa dengan riangnya tertawa dan bercanda dengan Mas Tama. Tanpa rasa takut ataupun jengah sedikitpun. Seperti yang biasa diperlihatkan oleh Sasa jika bertemu dengan orang baru.


Padahal jika diperhatikan secara sekilas, penampilan Mas Tama bukanlah seorang pria berwajah penuh senyum. Atau tipe pribadi banyak bicara sekaligus pandai melucu yang seringkali disukai oleh anak-anak.


Mas Tama jelas menampilkan diri sebagai pria yang kaku, dingin, dan tegas kalau tak mau dibilang galak.


Ia sendiri awalnya sempat ragu, apakah Mas Tama bersedia mendengarkan penjelasannya tentang tradisi peusijuek di hari pertama mereka bertemu atau malah mengabaikannya. Karena dianggap tak penting.


Ia bahkan sengaja memanggil dengan sebutan Bapak pada Mas Tama. Sekedar untuk memperjelas tentang jarak yang membentang lebar di antara mereka berdua.


Namun selorohan suami Dara yang berpembawaan riang, membuatnya bersedia menanggalkan sebutan Bapak meski dengan berat hati. Sebab membuat jarak yang sengaja ia bangun sendiri, dalam sekejap telah berubah untuk kemudian menghilang tanpa bekas.


Seperti saat ini, Mas Tama bahkan sudah masuk ke dalam kamar pribadinya dengan almarhum Bang Is. Jelas bukan hal yang bagus. Karena semua terasa begitu cepat dan mendadak. Terl....


"Ciiiit! Ciiiit! Ciiiit!!!"


Suara dua ekor tikus got yang sedang berkejaran di tengah hujan lebat berhasil membuyarkan lamunannya. Tikus berwarna hitam pekat, berukuran sebesar paha anak-anak itu berlari masuk ke dalam saluran air di depan rumah.


Membuatnya memutuskan untuk melihat ke dalam kamar. Karena keberadaan Mas Tama di dalam kamarnya jelas sudah terlalu lama. Hal buruk kedua yang mungkin bisa menimbulkan masalah besar lainnya.


Dengan langkah kaku yang seolah tak menjejak lantai, dibukanya korden kamar dengan perasaan gugup.


"Kenapa lama sekali?"


"Belum ditidurkan?!" tanyanya heran demi melihat Mas Tama tengah duduk di atas tempat tidur. Dengan masih memangku tubuh Sasa yang merebahkan kepala di leher Mas Tama. Sungguh pemandangan yang membuat sudut hatinya terasa nyeri.


"Maaf," jawab Mas Tama tak kalah kaku. "Saya tunggu sampai nyenyak dulu."


"Kalau ditidurkan sekarang khawatir nanti ba...."


"Tidak apa-apa," jawabnya cepat dengan kesabaran yang hampir habis.


"Tolong tidurkan saja. Biar nanti ditunggui sama saya."


Mas Tama sudah hampir melancarkan protes, namun urung demi menangkap kegelisahannya yang tak lagi bisa disembunyikan.


Dengan perlahan Mas Tama beringsut untuk merebahkan Sasa di atas tempat tidur. Ia pun refleks mendekat guna menyiapkan posisi bantal. Agar Sasa bisa langsung ditidurkan tanpa harus menyulitkan gerak Mas Tama.


"Ehekehekehek....," suara rengekan Sasa langsung terdengar begitu Mas Tama meletakkan kepala Sasa di atas bantal. Dengan tangan Sasa yang menggapai-gapai meminta untuk dipeluk.


Mas Tama sudah hampir kembali memeluk Sasa. Namun ia buru-buru berucap, "Biar sama saya saja."


"Ehekehekehek....,"Sasa kembali merengek karena tangannya tak juga menemukan sosok yang ingin dipeluk.


"Sakit, Ma....Huhuhuhuhu.....," kini Sasa malah kembali menangis dengan keluhan yang sama.


"Maaf," ujarnya dengan kening mengkerut. Karena ingin mendekati Sasa tapi tak bisa. Sebab Mas Tama masih duduk di atas tempat tidur dengan punggung membungkuk seolah ingin segera memeluk Sasa.


"Mama....Sakiiit....."


Dengan wajah yang jelas-jelas menyiratkan keberatan, Mas Tama akhirnya mau bergeser ke samping. Memberi ruang padanya agar bisa mendekati Sasa.


"Iya sayang....ini Mama....," ia buru-buru memeluk Sasa sambil meniupi jari yang diperban. Agar rasa panas yang Sasa rasakan sedikit berkurang.


"Ehekehekehek....Huhuhuhuhu....," Sasa merengek sekaligus menangis.


Membuatnya segera merebahkan diri di samping Sasa. Lalu memeluk tubuh mungil Sasa sembari terus meniupi jari yang baru saja diamputasi. Lupa jika Mas Tama masih duduk di belakang punggungnya.


Ketika teringat, ia sudah berada dalam posisi yang paling tidak menguntungkan. Sebab telah rebah sempurna di atas tempat tidur.


Membuat rok panjang yang dikenakannya agak tertarik ke atas. Sebab pengambilan posisi tidur yang sangat terburu-buru.


Kini semilir angin bahkan terasa menjalar di sepanjang betisnya. Pasti karena kain rok yang tersingkap dan kaos kaki yang melorot hingga ke mata kaki. Lantaran sudah melar dan terlalu kendor akibat terlalu sering dipakai.


"Ehekehekehek....Huhuhuhuhu....," Sasa masih merengek dan menangis.


Tapi ia sudah tak bisa berkonsentrasi lagi untuk menenangkan Sasa. Sebab kini hatinya sedang berdebar tak karuan. Saking khawatirnya Mas Tama melihat keadaan dirinya dalam posisi yang sangat mengkhawatirkan ini.


Ia masih meniupi jari Sasa yang diperban dengan hati tak karuan. Ketika tiba-tiba sesuatu yang hangat terasa menempel di sepanjang kaki hingga pinggangnya.


Ternyata Mas Tama yang menyelimuti kakinya. Dan langsung beranjak pergi ke luar kamar. Dengan tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Terimakasih....," gumamnya cepat sebelum tubuh tegap Mas Tama menghilang di balik korden. "Sudah mengantar kami."


Mas Tama menghentikan langkah meski tak langsung menoleh padanya. Berdiri mematung di depan korden sembari tetap memunggunginya.


"Biaya operasi dan lainnya akan segera saya ganti," lanjutnya dengan gugup. Khawatir menyinggung perasaan Mas Tama.


"Mungkin besok atau lusa," namun kini kalimatnya mulai lancar. "Karena harus ke ATM dulu."


Mas Tama langsung membalikkan badan begitu mendengar ucapannya. Kemudian menatap dengan wajah gusar.


"Nanti tolong pintu depan di tutup yang rapat," mungkin kalimatnya terdengar sangat tidak mengenakkan. Tapi ia tetap harus mengatakannya.


"Tidak perlu dikunci, tidak apa-apa."


"Di sini jarang terjadi pencurian."


"Tetangga kanan kiri juga baik-baik semua."


"Lagipula....tak ada barang berharga yang menarik minat pencuri di rumah i...."


Mas Tama segera memotong ucapannya sembari terus menatap meski tak segusar tadi.


"Aku tunggu di luar."


"Kamu cukup dampingi Sasa. Nggak usah mikir yang lain."


"Apalagi tentang biaya operasi."


"Tidak ada yang perlu diganti."


"Ini sudah menjadi tanggungjawab keluarga kami."


"Aku harap ini menjadi kali terakhir kita membahas tentang masalah biaya."


***


Tama


Dengan tangan kiri, dirapikannya kain korden kamar yang sedikit terbuka. Akibat dilewati oleh tubuhnya tadi. Hingga kini bisa kembali tertutup rapat seperti semula.


Sekedar memastikan agar yang berada di dalam kamar bisa beristirahat dengan tenang. Tanpa terganggu oleh suara derasnya air hujan gara-gara korden yang tak tertutup rapat.


Kini diedarkannya pandangan menyapu keseluruhan isi ruangan. Dimana terdapat sebuah ruang tamu berukuran sempit. Berisi seperangkat kursi rotan yang telah usang dimakan waktu. Juga buffet kayu yang tak kalah usang. Menempel di salah satu sisi dinding. Serta sebuah stand fan dan televisi model tabung ukuran 21 inci.


Sembari berkali-kali menghembuskan napas panjang. Berharap bisa membuang kegundahan hati. Usai melihat pemandangan indah yang baru saja tersaji di depan mata.


Brengsek! Makinya dalam hati.


Mengapa harus merasa gundah gulana hanya karena selembar kain rok yang tersingkap. Hingga memperlihatkan kaki jenjang yang sejak awal bahkan selalu tersembunyi.


Sialan! Gerutunya lagi.


Dilangkahkannya kaki menuju buffet kayu. Berusaha menjernihkan pikiran dengan melihat-lihat isi buffet. Berharap pemandangan yang terekam dengan baik di kepalanya bisa enyah dalam satu kedipan mata.


Buffet kayu yang bahkan sudah tak bisa berdiri dengan baik. Harus diganjal di bagian bawah kakinya agar bisa seimbang itu berisi peralatan pecah belah, foto-foto, piagam, medali, bahkan piala.


Dimana deretan piagam, medali, dan piala itu, sebagian besar bertuliskan atas nama Teuku Cakradonya Ishak. Tepat seperti informasi yang diperolehnya. Jika Cakra memiliki kecerdasan di atas rata-rata.


Not bad, batinnya sembari terus memperhatikan isi buffet. Karena selain atas nama Cakra, beberapa piagam dan piala menuliskan nama Teuku Risyad Ishak di dalamnya.


Siapakah dia?


Entahlah. Mungkin nama salah satu putra Pocut. Karena waktu pertama kali mereka bertemu kemarin, Pocut datang bersama dengan dua orang anak laki-laki dan seorang gadis cilik, yang kini diketahuinya bernama Sasa.


Setelah puas menelusuri isi buffet, dilangkahkan kakinya menuju ke teras. Lalu menutup pintu rapat-rapat. Seperti yang diinginkan oleh Pocut. Kemudian mengambil duduk di sebuah kursi plastik yang tersimpan di teras.


Namun ia harus membersihkan kursi terlebih dahulu menggunakan tangan. Karena dudukan kursi sedikit basah akibat terkena cipratan air hujan.


Setelah yakin kursi aman untuk diduduki, ia segera menempatinya. Lalu mengambil ponsel di saku. Bermaksud untuk menghubungi Sada.


Tapi Sada tak kunjung mengangkat panggilan darinya.


Ia pun mencoba menelepon yang lain. Kali ini ia memilih untuk menghubungi nomor Dara.


Namun lagi-lagi panggilannya tak mendapat sambutan.


Bahkan Cakra.


Tak ada seorangpun yang menjawab panggilannya.


Sepertinya semua orang sedang sibuk sekarang. Ataukah hujan deras memang rata mengguyur seluruh kota? Hingga membuat orang memilih untuk berangkat tidur lebih awal. Sama sekali tak mempedulikan gawai dan lainnya.


Dengan terpaksa disimpannya ponsel ke dalam saku. Dan berencana untuk kembali menghubungi Sada beberapa menit ke depan.


Dan untuk mengisi waktu, menyalakan rokok jelas solusi pertama. Bukan hanya sekedar mengusir rasa sepi dan hawa dingin yang cukup menggigit. Sebatang rokok juga bisa mengalihkan pikiran dari pemandangan indah yang sempat tersaji.


Namun setelah merogoh seluruh saku yang ada, rokok yang digadangkannya tak juga diketemukan.


Ah ya, pasti tertinggal di mobil.


Dipanjangkannya leher ke sebelah kanan dan kiri gang yang membentang di depan rumah Pocut. Sambil mengingat-ingat, saat dalam perjalanan kemari, mereka sempat melewati warung kecil yang masih terbuka pintunya sebagian.


Semoga masih buka, batinnya sambil meraih payung. Lalu melangkah menembus derasnya air hujan.


"Permisi!" serunya yang bernapas lega karena warung masih buka.


Namun ia harus berkali-kali berteriak memanggil pemilik warung sambil mengetuk-ngetuk pintu. Sampai akhirnya seorang kakek muncul dari balik pintu dengan tergopoh-gopoh.


"Maaf, kagak kedengaran dari dalam, Bang."


"Iya, nggak apa-apa."


Ia pun membeli sebungkus rokok, korek gas, dan sebotol air mineral.


Ketika sang kakek masih kesulitan untuk mencari uang kembalian, ia telah meraih payung sambil berseru, "Nggak usah kembalian, Kek. Ambil aja."


Lalu segera melangkah pergi meninggalkan warung. Meski sayup-sayup telinganya masih bisa mendengar suara kakek pemilik warung. Yang dengan setengah berteriak mengucapkan terima kasih padanya.


Sesampainya di teras rumah Pocut, ia langsung mendudukkan diri di kursi plastik. Dan mulai menyalakan rokok untuk mengisi waktu.


Ia bahkan telah berusaha kembali menghubungi nomor Sada, Dara dan Cakra sebanyak tiga kali. Tapi tak ada satupun yang tersambung.


"Kemana orang-orang?" gumamnya heran.


Membuatnya memutuskan untuk menunggu di teras. Sampai ada seseorang yang berhasil dihubungi datang kemari. Untuk menggantikannya menemani Pocut dan Sasa.


Ditatapnya langit di kegelapan malam yang berwarna hitam pekat. Tengah menumpahkan air ke atas tanah yang seolah tiada habisnya.


Dengan kilatan berwarna putih atau kuning yang sesekali menyambar membelah di tengah-tengah. Menimbulkan cahaya lalu disusul suara petir yang menggelegar.


Dihembuskannya asap putih ke udara melalui hidung. Sembari merasakan aroma dejavu yang menguar begitu tajam.


Tentang malam yang sunyi, sepi, dingin, dan ia duduk seorang diri di luar rumah hanya beratapkan langit kelam.


Persis seperti kejadian yang pernah dialaminya puluhan tahun lalu. Saat ia masih duduk di bangku SMP. Terlambat pulang ke rumah lalu dihukum oleh Papa.


Tapi bedanya dengan malam ini adalah, ia duduk di luar rumah bukan karena sedang dihukum. Namun berawal dari kesadaran diri sebab ia sedang mengkhawatirkan orang lain.


Orang lain yang dalam waktu singkat telah berubah menjadi seseorang baginya.


***


Pocut


Dalam waktu lima belas menit terakhir, Sasa telah tertidur dengan pulasnya. Tak lagi kaget lalu terbangun sebab rasa nyeri dan panas di jari bekas luka operasi.


Dengan sangat perlahan dan penuh kehati-hatian. Ia berusaha melepaskan pelukan dengan Sasa. Berniat ingin mengganti baju barang sejenak. Sebab baju dan hijabnya yang sekarang terasa sangat lengket dan juga terdapat banyak noda darah.


Namun sebelumnya, ia ingin pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Untuk mencuci tangan dan kaki yang terasa lengket dan berkeringat.


Tapi langkahnya langsung tertahan begitu keluar dari dalam kamar. Demi melihat dari jendela ruang tamu yang hanya tertutup korden transparan, kepulan asap putih telah memenuhi udara di teras depan. Dengan sesosok punggung yang sedang duduk di atas kursi.


Rupanya Mas Tama belum pulang.


Saat itu juga ia mengurungkan niat untuk pergi ke kamar mandi. Lebih memilih kembali masuk ke dalam kamar lalu memeluk tubuh mungil Sasa erat-erat.


Namun ketika hatinya mulai tenang. Sasa justru menggeliat sambil bergumam dengan mata yang tetap terpejam,


"Ada tempat mainnya, Om..."


"Ada tempat mainnya, Om..."


Sembari tangan kanan Sasa terangkat menunjuk ke satu arah.


Membuat bendungan air matanya jebol tanpa bisa ditahan lagi.


***


Keterangan :


Dejavu. : Déjà vu, berasal dari bahasa Prancis, secara harfiah artinya "pernah dilihat", adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu (sumber : Wikipedia)