Beautifully Painful

Beautifully Painful
126. Rewriting



Cakra


Jam dua siang MUA langganan keluarga Anja yang sengaja dipanggil oleh Teh Dara sudah datang ke rumah. Meski kemarin Anja sempat tak setuju.


"Nggak usah, Teh. Aku make up sendiri aja."


"Cuma keluarga inti ini. Nggak ada orang lain," lanjut Anja sambil mengkerut.


Tapi Teh Dara justru mengernyit, "Biar makin canciiiik."


"Lagian Mama udah manggil Ci Nji buat dua hari sekalian."


Maka Anja pun tak tak dapat menolak.


Dan karena Aran yang habis menyusu tengah tertidur nyenyak, maka ia memilih pergi ke belakang sambil menenteng keranjang baju kotor miliknya dan Anja juga Aran. Sementara Anja mulai di touch up oleh Ci Nji.


"Aduh, Den," Bi Enok menggelengkan kepala ketika melihatnya tengah memasukkan baju kotor miliknya dan Anja. Kemudian mengeset pengaturan mesin cuci.


"Wios ku Bibi (biar sama Bibi saja)."


Ia tersenyum. Meski tak terlalu paham dengan arti kalimat yang diucapkan oleh Bi Enok. Namun feelingnya mengisyaratkan, jika Bi Enok sedang berusaha mencegahnya untuk mencuci.


"Pakai repot-repot nyuci sendiri, Den," Bi Enok masih menggelengkan kepala.


"Sekalian Bi," selorohnya sembari memisahkan popok, baju, dan kain bedong milik Aran ke dalam tiga ember yang berbeda.


Lalu kembali beranjak menuju ke salah satu sisi dinding ruang mencuci. Tempat dimana penyimpanan deterjen dan perlengkapan mencuci lainnya berada.


Diraihnya botol berwarna putih bertuliskan baby liquid detergent. Menuang sesuai takaran ke dalam ember. Lalu mulai mencuci dengan menggunakan tangan.


Usai mencuci dan menganginkan popok, baju, juga kain bedong milik Aran. Bi Enok dengan tergopoh-gopoh berjalan dari bagian belakang rumah melewati ruang mencuci.


"Ada apa Bi?"


"Tamunya sudah datang," jawab Bi Enok. "Mak Aden sudah datang."


"Oh," ia mengangguk.


Namun sebelum ikut bergabung di ruang tamu, ia terlebih dahulu menganginkan pakaian dewasa miliknya dan juga Anja.


Setelah selesai, barulah ia menuju ke ruang tamu. Melewati ruang tengah yang ramai dengan celotehan riang anak-anak.


"Yah bit!!" teriak Sasa begitu melihatnya muncul di ruang tengah.


"Wah, Sasa udah di sini?" serunya senang.


Sasa tersenyum mengangguk. Lalu menarik-narik baju Kak Pocut yang tengah mengobrol dengan Teh Dara.


"Ma...mana kadonya?" rengek Sasa.


Kak Pocut mengalihkan perhatian sebentar dari obrolan dengan Teh Dara. Sempat melihat ke arahnya sebelum mengambil sesuatu dari tas yang tersimpan di atas meja. Yang segera direbut oleh Sasa.


"Makasih, Ma," Sasa berseru riang dan langsung berlari menuju ke arahnya. Diikuti Lana yang juga ikut tertawa-tawa riang.


"Ini Yah bit...," Sasa menyerahkan bungkusan berbalut kertas kado bercorak tokoh kartun anak-anak ke arahnya.


"Wah, apaan nih?" ia mengernyit sambil berjongkok di depan Sasa dan juga Lana.


"Kado buat Dekgam...," seru Sasa yang tertawa riang. "Dari Cutbang, Cutngoh, sama Popoya."


"Wah," matanya langsung membulat. "Makasih banyak ya."


Sasa mengangguk sambil tertawa-tawa riang. Namun Lana justru mengernyit bingung.


"Dekgam itu siapa?"


"Dekgam Aran," jawab Sasa riang.


"Baby Aran?" Lana tambah mengernyit.


"Bukaaaan baby," Sasa menggelengkan kepala berkali-kali. "Tapi...Dekgam, bayinya Tante Anja yang lucuu..."


"Iya," Lana ikut ngotot. "Itu namanya baby Aran."


Ia hanya tertawa sambil menggelengkan kepala ketika Sasa dan Lana pergi meninggalkan dirinya sambil terus memperdebatkan antara Dekgam Aran dan baby Aran.


Lalu berjalan menghampiri Kak Pocut. Yang rupanya sedang menerangkan barang-barang bawaan Mamak pada Teh Dara.


"Ini namanya pulot (pulut) kuning inti kelapa. Untuk nanti waktu peusijuek," terang Kak Pocut sambil mengangkat tudung berhias kain warna merah muda. Memperlihatkan hidangan pulot kuning yang dihias cantik menyerupai kue tart.



kredit gambar pulot bentuk cake : Jolygram.com


"Kak," ia tersenyum.


Kak Pocut balas tersenyum, "Mak masih di depan."


"Lagi ngobrol sama Papa Mama," sambung Teh Dara. "Sok aja ke depan kalau mau gabung."


Ia tersenyum mengangguk dan segera beranjak menuju ke ruang tamu.


Namun langkahnya terhenti sebelum benar-benar sampai di ruang tamu. Hanya bisa memperhatikan dari jarak beberapa meter.


Ketika Mas Tama bangkit dari duduk, untuk mengambil bungkusan warna cokelat yang berada di hadapan Mamak. Lalu menyerahkannya kepada Papa Anja.


Bukan bungkusan warna cokelat yang membuatnya tercekat. Tapi wajah penuh air mata Mamak, Papa dan juga Mama Anja yang membuat kakinya terpaku di tempat.


Apa yang sedang terjadi?


Hati yang beberapa waktu belakangan ini mulai lega, kini kembali diliputi oleh kekhawatiran.


***


Anja


Ia harus berdandan selama satu jam lebih. Untuk menghasilkan natural look dengan lipstik bernuansa pink lembut. Plus rambut yang dijalin hingga membentuk sanggul. Lengkap dengan hiasan hair pin beraksen bunga yang cantik.


Sementara Cakra hanya berganti baju yang memakan waktu tak lebih dari lima menit.


"Curang ih!" sungutnya ke arah Cakra, namun sambil tertawa.


Sementara Cakra hanya terkekeh sembari mengenakan suit.


Kini ia telah siap untuk mengikuti prosesi pernikahan ulang. Mengenakan dress warna putih yang terbuat dari kain satin halus. Dress lama miliknya yang jarang dipakai. Sengaja dipilih karena berbahan halus, takkan menyakiti atau melukai kulit Aran jika ia menggendongnya.


Namun yang menjadi pertimbangan utamanya adalah, dress ini memiliki kancing di bagian depan. Membuatnya bisa dengan mudah menyusui Aran tanpa harus kerepotan.


"Wah, cantiiiknya....," seloroh Teh Dara begitu memasuki kamar bersama dengan Kak Pocut.


"Memang aslinya cantik, mau dibagaimanakan juga tetap cantik," timpal Kak Pocut seraya tersenyum ke arahnya.


Sementara Cakra memilih untuk segera melipir ke luar kamar.


"Saya ke depan dulu Kak...Teh...," ujar Cakra cepat, tanpa menunggu jawaban dari Teh Dara dan Kak Pocut yang sibuk berseloroh sambil menggoda.


Ia tetap menunggu di dalam kamar selama prosesi akad nikah berlangsung. Duduk di sofa sembari menimang Aran yang baru selesai menyusu. Diapit oleh Mama yang setengah memeluknya. Dan Mamak yang mengusap lengannya secara perlahan.


Sementara Teh Dara dan Kak Pocut tengah terlibat obrolan yang cukup mengasyikkan.


Beberapa menit lalu, terakhir kali ia mengintip dari balik pintu kamar, Cakra terlihat masih mengobrol dengan Papa dan Mas Tama.


Entah sekarang, karena suasana ruang tengah yang awalnya riuh rendah oleh suara teriakan anak-anak Mas Sada dan Kak Pocut yang saling berkejaran. Kini mendadak hening.


Sepertinya karena prosesi akad nikah telah dimulai.


Membuatnya refleks memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam.


Memulai kembali, bisiknya dalam hati.


***


Cakra


Tepat pukul 16.00 WIB, acara akad nikah ulang akan segera dimulai. Para pria telah bersiap di ruang tengah. Yang suasananya telah di setting untuk melakukan prosesi akad nikah.


Sebuah meja yang dikelilingi oleh lima kursi tersimpan di bagian tengah ruangan. Sementara deretan kursi lain berbaris rapi di belakangnya.


Kini ia telah duduk di hadapan Papa Anja dan Pak Penghulu. Beserta Pak Hartadi dan Imam Masjid Baiturrahman (Masjid yang terdapat di kompleks perumahan Anja). Yang akan bertindak sebagai saksi bagi kedua mempelai.


Ia sudah pernah melakukan prosesi akad nikah sebelumnya. Dengan mempelai wanita yang sama. Tapi tetap saja hatinya dilanda kegugupan dan kekhawatiran yang tak terdefinisikan.


Bismillahirrahmanirrahim.


Rewriting.


Semoga kali ini, takdir baik berpihak pada mereka bertiga. Anja, Aran, juga dirinya.


***


Tama


Ia duduk di deretan kursi bagian belakang bersama Sada. Yang beberapa kali harus memberi kode pada anak-anak agar tak berisik. Sementara para wanita menunggu di kamar Anja.


Karena memang hanya keluarga inti saja yang menghadiri prosesi akad nikah ulang ini. Kecuali Om Hartadi dan Imam Masjid, yang akan bertindak sebagai saksi dari kedua mempelai tentunya.


Ia menghembuskan napas panjang, tepat ketika Papa mulai mengucapkan lafal ijab dengan suara bergetar.


"Ananda Teuku Cakradonya Ishak bin Teuku Hamzah Ishak. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Anjani Prameswari binti Setyo Yuwono. Dengan maskawin berupa logam mulia seberat 0,5 gram. Tunai."


“Saya terima nikah dan kawinnya Anjani Prameswari binti Setyo Yuwono dengan maskawin yang tersebut di atas tunai.”


"Sah!"


"Barakallahu laka wa baaraaka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir." **


Setelah pembacaan do'a, ia pun segera mempersilakan Om Hartadi, Pak Penghulu, dan Imam Masjid untuk duduk di meja jamuan yang telah dipersiapkan sebelumnya.


Sementara ia dan seluruh anggota keluarga, sesuai dengan arahan singkat yang diberikan oleh Dara sebelum prosesi akad nikah berlangsung. Mulai bersiap untuk melakukan Peusijuek.


Sejenis acara pemberian selamat sekaligus mendoakan kedua mempelai. Yang sangat kental dengan budaya Aceh.


Ia masih duduk menunggu, karena Anja dan Cakra masih melakukan sungkem kepada para orangtua. Ketika wanita cantik yang ternyata adalah kakak ipar Cakra -this is no good- berjalan mendekati mereka.


"Silakan....nanti setelah para orangtua melakukan peusijuek, disusul dengan para saudara...."


Ia mengangguk sambil bertanya, "Siapa dulu? Saya? Atau Sada?" sembari menunjuk Sada yang sedang berbisik-bisik dengan Dara.


"Boleh dengan yang tertua dulu."


Ia kembali mengangguk, "Oke."


Setelah Papa, Mama, dan ibu Cakra selesai mendoakan kedua mempelai. Ia pun segera melangkah maju.


"Gimana nih caranya?" tanyanya kepada wanita itu lagi. Merasa kurang yakin karena baru pertama kali melakukan hal seperti ini. Terlebih ketika melihat berbagai perlengkapan Peusijuek yang tersimpan di atas meja, tepat di sebelah kedua mempelai.




"Bapak maju ke depan untuk mendoakan kedua mempelai."


"Lalu di taburi beras."


"Di ciprati air bedak memakai dedaunan."


"Yang terakhir menyuapkan pulot kuning."


"Oke," ia mengangguk tanda mengerti. "Kedua-duanya ya? Anja sama Cakra?"


"Iya, Pak."


"Oke," ia kembali mengangguk sambil berjalan menuju ke depan, tempat dimana Anja dan Cakra tengah duduk.


Tapi, tunggu sebentar.


Apa tadi sebutan untuknya? Bapak?


Yeah, yang benar saja.


***


Mama Anja


Ia meninggalkan Mas Setyo yang sedang berbincang cukup serius dengan A Hartadi. Untuk melihat sekeliling ruangan yang riuh rendah oleh suara orang saling berbicara.


Lalu tersenyum bahagia ketika melihat Anja dan Cakra, yang beberapa kali dipergokinya tengah saling melempar tatapan penuh cinta satu sama lain.


Juga Aran, cucu kelimanya yang sehat dan tampan. Dimana sepanjang acara pernikahan ulang ini tertidur dengan nyenyaknya. Seolah memberi kesempatan pada Ayah Bunda nya untuk mengikuti keseluruhan acara dengan tenang.


Tak lupa kedua anak menantunya. Tama, Sada, juga Dara. Yang tengah berbincang akrab dengan Pocut. Wanita cantik yang disangkanya masih gadis, namun ternyata sudah memiliki tiga orang anak.


Tak ketinggalan pula para cucu kesayangan, yang sedang asyik bermain bersama. Berkejaran sambil tertawa riang. Bahkan duduk di pojok berdua sambil saling berbisik dan cekikikan, seperti yang dilakukan oleh Lana dan Sasa.


Hatinya mendadak diliputi oleh kehangatan yang begitu menenangkan. Seolah semua kebahagiaan berkumpul menjadi satu di dalam rumah ini.


Alhamdulillahirabbil'alamiin.


Ia tak henti-hentinya mengucap kalimah penuh kesyukuran. Karena beberapa hal yang sempat mengganggu pikirannya, satu persatu mulai terurai. Bahkan pertanyaan yang beberapa waktu lalu seakan tanpa jawaban, kini mulai terang benderang.


Pertama, pastinya keberhasilan proses pengobatan dan terapi yang dijalani oleh Mas Setyo selama hampir 4 bulan.


Ia yang awalnya hampir menyerah. Kini harus banyak-banyak bersyukur. Karena Mas Setyo bisa kembali sehat dan beraktivitas dengan normal.


Yang kedua, tentu saja proses kehamilan dan persalinan Anja. Yang berjalan dengan mudah dan lancar. Meski tanpa didampingi olehnya.


Sepertinya kehadiran Cakra sedikit banyak telah membawa perubahan positif pada bungsu kesayangannya itu. Menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab.


Lalu yang ketiga, hal yang paling dikhawatirkannya. Yaitu ketika Mas Setyo mengetahui, jika Cakra adalah anak dari Hamzah Ishak. Panglima GNM yang menembak Mas Setyo puluhan tahun silam.


Ia bahkan masih ingat betul dengan apa yang terjadi pagi itu. Hari dimana ia mendapatkan kabar, jika Mas Setyo menjadi salah satu korban luka tembak dalam operasi gabungan yang dilakukan oleh ABRI/Polri untuk menumpas gerilyawan GNM.


Namun ia masih bisa bernapas lega, karena Mas Setyo hanya terkena serpihan peluru. Tak sampai mendapatkan luka fatal.


Bahkan tepat seminggu usai penembakan, Mas Setyo langsung dipindahtugaskan ke Padang. Membuat perasaannya semakin tenang. Karena tak harus dicekam ketakutan. Sewaktu-waktu Mas Setyo bisa kembali terluka. Akibat diserang oleh gerilyawan GNM. Yang pada waktu itu sedang gencar-gencarnya melakukan penyerangan terhadap aparat.


Tapi malam-malam panjang tak berkesudahan justru menantinya. Karena sejak mengalami luka tembak, Mas Setyo justru mengidap insomnia onset. Selalu mengalami kesulitan tiap kali menuju lelap. Sering terbangun dalam hitungan menit, yang akhirnya tak bisa kembali tidur sampai pagi.


Mas Setyo bahkan pernah tak bisa tidur sampai tiga hari tiga malam. Entah memikirkan apa. Mas Setyo tak pernah menceritakan padanya.


Setelah berkunjung ke beberapa orang psikolog sekaligus. Lalu meningkat pada terapi pengobatan dengan psikiater. Hampir enam bulan kemudian barulah Mas Setyo dinyatakan sembuh dari gangguan insomnia onset.


Tapi rupanya semua belumlah usai. Karena meski telah bisa tertidur lelap, Mas Setyo selalu mendapatkan mimpi buruk.


Hampir tiap malam Mas Setyo berteriak-teriak mengigau. Dan ini bertahan bertahun-tahun. Sampai ia sendiri lupa, kapan waktu persisnya Mas Setyo berhenti mengigau di malam hari.


Dan pertanyaan di masa lalu, yang seolah tak pernah memiliki jawaban. Kini telah terang benderang. Dengan diceritakannya kisah panjang masa lalu. Tentang persahabatan yang berujung pada rasa sakit.


"Ma?"


Ia terkejut ketika seseorang menepuk bahunya lembut.


"Ada Om Raka sekeluarga di depan," bisik Dara di telinganya.


Ia tersenyum mengangguk. Lalu segera beranjak untuk menggandeng Mas Setyo menuju ke ruang tamu. Sementara gelak tawa dan canda riang anak cucu masih terdengar memenuhi udara di seantero ruang tengah. Menghangatkan hati siapapun yang berada di sana.


***


Keterangan :


Pulot (pulut kuning) : sejenis penganan kecil yang terbuat dari ketan dan diberi warna kunyit sehingga berwarna kuning. Pulut selain sebagai penganan juga menjadi alat seremonial dalam berbagai acara adat Aceh seperti melepas sanak saudara ke tempat lain, pernikahan, sunatan dan lain lain (sumber : Wikipedia)


Peusijuek. : sebuah prosesi adat dalam budaya masyarakat Aceh yang masih dipraktekkan hingga saat ini. Tradisi peusijuek dilakukan pada hampir semua kegiatan adat dalam kehidupan masyarakat di Aceh. Seperti di acara pernikahan, aqiqah, orang yang hendak pergi berhaji atau umrah, dsb (sumber : Wikipedia)


**. : doa yang diucapkan oleh penghulu setelah akad nikah. Yang artinya mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan


Perlengkapan Peusijuek, keterangan dan gambarnya diambil dari sumber : steemit.com.dikkyamiputra


Pulot kuning (nasi ketan kuning) melambangkan persatuan atau keakraban, sebagaimana ketan yang lengket, begitulah harapan nantinya agar merekat selamanya


Dedaunan dan rerumputan melambangkan keharmonisan, keindahan, dan kerukunan yang diikat menjadi satu, sebagai lambang dari kekuatan, serta Campuran air dan tepung tawar, yang bermakna sebagaimana air yang memiliki kesejukan (dingin) begitu juga harapan nantinya semoga tetap dalam kesejukan, rasa sabar dan penuh ketenangan


Beras dan padi bermakna agar dapat subur, makmur dan selalu bersemangat


Insomnia Onset. : adalah kesulitan memulai tidur. Insomnia jenis ini bisa menjadi insomnia jangka pendek atau menjadi kronis.


Masalah psikologis atau kejiwaan adalah penyebab paling umum insomnia ini. Termasuk stres, gangguan kecemasan, atau depresi. Kafein dan stimulan lainnya juga dapat memperburuk jenis insomnia ini (sumber : Wikipedia)


Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mom Siska 🤗 readers tersayang yang asli Aceh 🤗 Teurimong gaseh Mam sudah menjadi narasumber 🤗 terutama dalam menterjemahkan bahasa Aceh dan menjelaskan tentang adat istiadat Aceh 🤗 BIG HUG 🤗


##jika ada kekeliruan penulisan atau kesalahan dalam menerjemahkan bahasa atau tahapan adat, feel free untuk PC author ya readers tersayang 🤗 dengan senang hati akan author revisi