Beautifully Painful

Beautifully Painful
133. What Doesn't Kill You, Makes You Stronger



Anja


Jika permintaan maaf Dipa terjadi di hari kemarin, ia pasti akan langsung menghambur ke dalam pelukan. Lalu menumpahkan rasa sesak di dada dengan menangis sepuasnya dalam rengkuhan Dipa.


Namun kali ini, entah mengapa respons tubuhnya hanya sebatas menerima uluran tangan Dipa. Tanpa dorongan impuls untuk melepas rasa sesak di dada dalam sebuah pelukan. Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang mencegahnya melakukan hal bodoh.


"Gue juga minta maaf," ujarnya dengan air mata yang mulai berjatuhan membasahi pipi.


"Untuk semua kebingungan, keanehan, kejutan, ketaknyamanan, ke....," ia bahkan tak sanggup untuk melanjutkan kalimat.


"Justru gue yang makasih sama elo, Ja," Dipa tersenyum.


Membuat keningnya mengernyit tak mengerti.


Namun Dipa tak menjawab apapun. Hanya terus menyunggingkan seulas senyum sambil berkata, "You're still my lil good friend, right?"


Ia harus menggigit bibir terlebih dahulu guna menghalau isakan demi mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Dipa.


Sebelum akhirnya berucap, "Definitely...since day one...."


***


Cakra


Setelah melepas kepulangan trio Sunter, dengan Sarip yang meminjam helm. Ia segera masuk ke dalam rumah melalui halaman samping. Dimana para petugas catering dan EO tengah hilir mudik mempersiapkan tempat untuk berlangsungnya acara halal bihalal dan syukuran siang nanti.


Kemudian melewati meja yang berisi sederet hampers, yang diperuntukkan bagi para tamu undangan aqiqah tadi.


"Bingkisannya masih banyak, Bi?" tanyanya pada Bi Enok yang tengah menghitung jumlah hampers untuk di cocokkan dengan tulisan di secarik kertas.


"Masih, Den," Bi Enok mengangguk. "Ini Bibi lagi hitung lebihnya berapa."


"Mau di cocokkin sama catatan dari Neng Dara."


"Lebihannya mau dikemanain, Bi?" tanyanya sambil membuka tote bag warna biru untuk memeriksa isi hampers.


Hampers yang disiapkan spesial oleh Teh Dara itu berupa keranjang bambu unik dengan warna natural. Yang barangnya sengaja dikirim dari Jogja. Dipesan langsung pada pengrajin anyaman bambu di desa Brajan, Kec. Minggir, Sleman.


Keranjang bambu unik itu berisi handuk yang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai boneka dinosaurus. Mug cantik dengan tulisan nama mereka bertiga yaitu Triple A : Agam-Aran-Anja.


Kemudian ada juga bantal leher travel inflatable. Bantal leher yang dapat dikempeskan saat tidak digunakan, sehingga mudah untuk disimpan di dalam tas travel.


Yang terakhir adalah tiga buah jar yang dikemas dengan sangat cantik. Berisi overnight oats dan fruity yoghurt. Dua-duanya adalah cemilan favorit Anja selama mengandung Aran.


Kemudian jar yang ketiga berisi rujak Aceh. Special request dari Mama Anja.


Dengan sebuah kartu ucapan menarik bertuliskan,


 -------


...Syukuran Aqiqah...


...Teuku Aldebaran Ishak...


...lahir : Jakarta, 4 Juli 2xxx...


...Semoga menjadi putra yang soleh, cahaya dan penyejuk hati bagi kedua orangtua, serta bermanfaat bagi sebanyak-banyak umat manusia...


...Aamiin...


...Kami yang berbahagia,...


...Teuku Cakradonya Ishak...


...dan...


...Anjani Prameswari...


Turut berbahagia :


Keluarga Komjen Pol (Purn) Setyo Yuwono


Keluarga (alm) Teuku Hamzah Ishak


 -------


"Kata Neng Dara buat dibagiin ke yang belum, Den," jawab Bi Enok yang masih serius mencocokkan tulisan di kertas dengan jumlah hampers tersisa.


"Termasuk ke saudara dan tetangga Aden."


Ia mengangguk, "Kalau gitu saya ambil empat ya, Bi."


"Boleh, Den...boleh," Bi Enok mempersilakannya untuk mengambil hampers.


"Ini juga lebihnya lumayan banyak."


"Neng Dara sengaja bikin lebih katanya."


"Nanti saya ambil sore, Bi," jawabnya karena siang ini masih ada acara halal bihalal sekaligus syukuran pulihnya Papa Anja pasca stroke.


Jadi, ia berencana mengantar hampers untuk Pak Imam, teman-temannya di sel dulu, Pak Irwin Labodas, dan Mr. Sofyan -guru matematikanya saat kelas X dulu-. Usai acara halal bihalal dan syukuran nanti.


"Kalau gitu saya simpankan di belakang ya, Den," Bi Enok mencoba berinisiatif. "Kalau di sini nanti dikira belum ada yang punya."


"Oh iya, makasih banyak, Bi."


Ia pun segera melangkah melewati meja-meja yang telah dikelilingi oleh puluhan kursi. Kemudian masuk melalui teras samping.


Tapi langkahnya langsung terhenti begitu melihat Anja sedang berjabat tangan dengan Dipa di ruang tengah.


Ia tak tahu, apakah harus terus berjalan mendekati Anja. Atau tetap berdiri di depan pintu seperti sekarang.


Hatinya masih dilanda oleh berjuta kebimbangan, saat seseorang tiba-tiba menepuk bahunya.


Ketika menoleh, Teh Dara tengah tersenyum di sampingnya. Sembari terus memperhatikan Anja dan Dipa yang masih saling berjabat tangan.


"Dipa sedang menyembuhkan luka," gumam Teh Dara hampir tak terdengar oleh telinganya.


"Karena dia ingin membangun hati yang baru."


Ia langsung menyetujui ucapan Teh Dara. Tepat di saat Anja dan Dipa saling melepaskan genggaman tangan. Kemudian disusul gerik Anja yang menyusut sudut mata.


I love you so, bisiknya dalam hati.


Sambil memandangi Anja dari kejauhan, dengan rasa bahagia yang meluap-luap.


***


Anja


Usai sholat Jum'at, rumahnya kembali ramai dengan kedatangan para tamu. Kebanyakan adalah keluarga. Baik dari pihak Papa ataupun Mama.


Para pria dewasa terlihat saling berbincang. Ada yang berkelompok lumayan banyak. Ngariung (berkumpul, bahasa Sunda) kalau kata Mama.


Tapi ada pula yang membentuk grup kecil beranggotakan dua atau tiga orang. Awalnya mereka terlihat begitu serius, namun sejurus kemudian, gelak tawa mulai terdengar saling bersahutan.


Sementara para wanita dewasa asyik berkerumun di meja makan. Menyantap rujak Aceh yang segar sambil bertanya tentang resep-resep masakan khas Aceh pada Mamak.


Sedangkan anak-anak terlihat memilih keasyikannya sendiri. Untuk yang hampir remaja kebanyakan duduk menghadap layar ponsel masing-masing.


Yang usia SD riuh rendah saling mengobrol dan bercanda. Terakhir untuk anak-anak yang masih TK dan balita, kebanyakan berlarian kesana kemari atau bertengkar karena berebut mainan.


Suasana riuh ini membuat rumahnya terasa semakin hangat dan menyenangkan. Terlebih ketika ia menoleh ke samping. Dimana Cakra tengah asyik bermain-main dengan Aran.


"Dia kenal sama suaraku," ujar Cakra dengan wajah sumringah.


"Kalau aku ngomong di sebelah sini nih," Cakra bergerak ke sebelah kanan Aran.


"Matanya langsung nyari-nyari."


"Terus kalau aku pindah ke sebelah kiri....," Cakra menunjuk ke arah Aran. "Tuh, dia ngikutin juga."


"Iyalah," cibirnya. "Waktu di dalam perut kan bikin aku nggak bisa tidur kalau belum denger suara kamu."


"Bikin repot aja," sungutnya tapi sambil tersenyum.


Cakra hanya terkekeh. Lalu kembali bermain-main bersama Aran.


Ia pun tertarik untuk memperhatikan cara bermain Cakra. Kali ini dengan sengaja, Cakra tiba-tiba menggerakkan kepala miring ke kanan lalu ke kiri. Yang direspon oleh Aran dengan ikut menggerakkan bola mata tiap kali Cakra berubah posisi.


"Tuh kan....," seru Cakra girang. "Dia tahu kalau aku pindah posisi."


"Iya deh...iya deh...," ia tertawa sambil menggelengkan kepala melihat keantusiasan Cakra.


Setelah bosan bermain mengubah posisi, kini dengan memasang wajah iseng Cakra meletakkan jari di pipi Aran. Yang langsung dikejar oleh mulut Aran, karena mengira itu adalah nen.


Lagi-lagi Cakra terkekeh-kekeh, "Kamu lapar terus ya sayang...."


"Just like meeee....," seloroh Cakra seraya mengerling ke arahnya sambil mengedipkan sebelah mata.


"Ish!" ia lagi-lagi mencibir melihat ulah kekanakkan Cakra.


"Dasar!" gerutunya namun sambil tersipu.


Setelah bosan meledek Aran dengan permainan "nen prank", kini Cakra menyentuhkan telunjuk ke sela-sela jemari mungil Aran. Yang langsung direspon oleh Aran dengan meraih telunjuk Cakra, lalu menggenggamnya erat-erat.


"Yeah....," Cakra tersenyum penuh kepuasan. "Hold me tight."


Aran masih terus menggenggam erat telunjuk Cakra. Sembari kaki Aran bergerak menendang-nendang. Ketika Papa dengan dibimbing oleh Mama mendudukkan diri di sebelah Cakra.


"Belum siap-siap?" tanya Papa ke arah Cakra, yang telah melepaskan telunjuk dari genggaman Aran. Lalu duduk lebih tegak dengan posisi badan menghadap kepada Papa.


"Siap ke mana Pa?" tanya Cakra yang meringis tak mengerti.


"Nanti....Papa mau ngenalin kamu ke teman-teman Papa," justru Mama yang menjawab.


"Karena....," lanjut Papa sembari merangkul bahu Cakra. "Banyak teman lama Papa yang hadir."


"Termasuk teman seperjuangan di AKABRI dulu."


"Ya....sekalian reuni kecil-kecilan."


Cakra menganggukkan kepala, "Baik, Pa."


"Sada, Tama ke mana?" tanya Papa ke arah Mas Sada yang duduk di seberang mereka.


"Tolong panggil ke sini. Papa mau bicara sebentar."


"Tuh, di sana," jawab Mas Sada seraya menunjuk ke salah satu sudut. Dimana terlihat Mas Tama sedang berbincang berdua dengan Kak Pocut.


"Acaranya udah selesai dari tadi....tapi briefingnya masih jalan teroooos....," seloroh Mas Sada yang langsung mendapat hadiah cubitan dari Teh Dara.


Membuat keningnya mengernyit memperhatikan gerik Mas Tama. Yang kini tengah berbicara sembari menggerakkan tangan, seperti sedang menerangkan sesuatu hal yang penting. Sementara Kak Pocut terlihat mengangguk-angguk tanda mengerti.


***


Cakra


Semua kursi telah terisi. Suara dengungan orang saling berbincang memenuhi udara di atas tenda. Ketika Mas Sada memintanya untuk pindah tempat duduk di sebelah Papa Anja.


"Nah, ini....menantuku yang baru....," ujar Papa Anja ketika ia datang mendekat.


"Duduk....," Papa Anja memintanya untuk duduk di salah satu kursi yang masih kosong.


"Jadi ini....yang anaknya Hamzah Ishak?" tanya seorang pria yang baru kali ini dilihatnya.


"Iya," Papa Anja membenarkan.


"Dunia memang sempit," seloroh pria lain yang juga baru diketahuinya.


"Cakra....," Papa Anja menepuk bahunya.


"Yang ini namanya Om Gorda."


"Kalau ini Om Anton."


"Beliau berdua sahabat seperjuangan Papa waktu di AKABRI dulu."


Ia tersenyum mengangguk. Kemudian berdiri untuk menyalami Om Gorda dan Om Anton.


"Om yang dua lagi sudah kenal kan?" seloroh Papa Anja yang diikuti tawa Pak Puguh dan Pak Hartadi.


"Sudah, Pa," ia tersenyum mengangguk.


"Jadi...kuliah di mana?" tanya Om Anton.


"Belum, Om. Baru lulus SMA kemarin."


"Masuk Ganapati dia," justru Pak Hartadi yang menyahut.


"Sudah kerja juga," sambung Papa Anja.


"Lho, kerja di mana?"


"Axtra Sunter, Om."


"Sunter itu yang pabrik sepeda motor bukan?"


"Betul, Om."


"Gimana ini Setyo, punya perusahaan sendiri malah mantunya kerja di tempat orang lain?" seloroh Om Anton sambil menggelengkan kepala.


"Biar belajar dulu di luar," jawab Papa Anja tenang. "Nanti kalau sudah dapat ilmunya tinggal diterapkan di tempat sendiri."


"Bener itu," Pak Hartadi setuju. "Membentuk mental dulu."


"Nanti tinggalnya beda kota dong sama anak istri kalau masuk di Ganapati?" Pak Puguh mengernyit.


Ia hanya tersenyum tak menjawab.


"Lho, Anja memang kuliahnya di mana?" tanya Om Gorda.


"Kedokteran juga?"


"Dipa umum, kalau Anja gigi ya, Yo?"


Papa Anja mengangguk, "Iya, kedokteran gigi."


"Wah, ngumpul nanti anak-anak," seloroh Om Gorda.


"Lho iya, Eril di sana juga?"


Om Gorda mengangguk.


"Eril mana Eril?" Pak Puguh terlihat mencari-cari seseorang. "Belum ketemu dari tadi."


"Aku sudah tadi," sambung Om Anton. "Terakhir ketemu masih SMA. Sekarang sudah persis seperti bapaknya."


"Tadi duduk di belakang sama Dipa."


"Suruh ke sini, biar anak-anak ikut ngumpul."


"Biar saya panggilkan, Om," ia menawarkan diri.


"Sekalian sama Dipa."


"Baik, Om."


***


Eril (Gabriel Gorda Megistra)


Ia sedang mengobrol dengan Dipa tentang kegiatan Ospek di Kampus Jakun. Ketika seseorang datang menghampiri meja tempat duduknya. Orang yang tak pernah disangka.


"Dipanggil sama Om Hartadi."


"Gue?" Dipa menunjuk dadanya.


"Berdua," jawab Cakra dengan wajah tanpa ekspresi. "Diminta gabung di meja depan."


 -------


..........Flashback..........


"Namanya Cakra!" begitu kata anak-anak tentang murid baru di kelas X, yang kabarnya memiliki kecerdasan luar biasa.


"Bukan siapa-siapa."


"Cuma anak dari janda tua yang punya warung nasi di pasar."


"Bisa masuk PB juga lewat jalur beasiswa prestasi."


"Bukan level lu lah, Ril."


"Jauh."


"Anyepin. Anyepin."


Sebagai pemegang mahkota siswa cerdas dan memiliki prestasi paling cemerlang di Pusaka Bangsa. Mendapat saingan yang cukup mumpuni jelas bukan hal yang menyenangkan baginya.


Ia takkan sudi berbagi podium dengan siapapun. Bahkan saudara kandungnya sekalipun jika perlu.


Ambisius dan perfeksionis? Itulah gambaran tentang dirinya.


Terlebih dalam setiap kesempatan, Papi selalu mewanti-wanti pada semua anak-anaknya, "Jadi nomor 1 atau pecundang selamanya!"


"Untuk apa hidup kalau harus berada di posisi kedua...ketiga..."


"Karena anak Papi harus selalu jadi juara!"


Ia hampir melupakan keberadaan Cakra di sekolah Pusaka Bangsa. Sampai ketika team OSN sekolah mulai dibentuk. Dengan nama Cakra di dalamnya.


"Eril...mulai besok kamu pindah ke team fisika."


Ia bahkan masih ingat betul kalimat yang diucapkan oleh Mr. Abraham. Ketua team OSN Pusaka Bangsa waktu itu.


"Karena saya lihat...kamu memiliki kans lebih besar di bidang fisika daripada matematika."


Bullshit!


Sejak awal ia jelas ahli matematika di Pusaka Bangsa. Tanpa seorangpun bisa menandingi. Hasil menduduki peringkat pertama OSN tingkat Provinsi DKI Jakarta saat ia duduk di bangku kelas X adalah bukti nyata kemampuan otak yang dimilikinya.


Lalu tiba-tiba, ketika ia bahkan telah menyiapkan amunisi baru untuk mengikuti OSN tahun ini. Apalagi ia sudah duduk di bangku kelas XI. Lebih matang, lebih berpengalaman, dan lebih bermental baja dibandingkan tahun lalu.


Dalam waktu singkat harus pindah bidang studi? Fisika?


Go to the hell. Ia bahkan tak pernah menyukai fisika dengan segala konsepnya. Tidak pernah.


Ia pun langsung melaporkan keputusan sepihak sekolah kepada Papi. Benar-benar tak sudi jika harus pindah bidang studi hanya gara-gara kehadiran seorang Cakra.


Jelas sebuah penghinaan bagi dirinya.


Dan kedudukan Papi sebagai salah seorang penyandang dana tetap sekolah Pusaka Bangsa, jelas lebih memiliki power dibanding Mr. Abraham yang hanya seorang staf pengajar.


Maka keesokan hari, ia sudah kembali berada di team OSN matematika.


Beberapa waktu kemudian, setelah hari-hari mereka dipenuhi dengan mengerjakan berbagai latihan soal jenis olimpiade, memahami konsep dan materi, tanya jawab langsung, kecepatan mengerjakan berbagai jenis soal dengan tingkat kesulitan berbeda.


Ajang penuh gengsi OSN pun dimulai.


Diawali dari OSN tingkat kota, dimana ia berhasil menjadi juara dan Cakra meraih peringkat kedua.


Dilanjutkan OSN tingkat provinsi. Kali ini tak ada yang meraih gelar juara. Ia harus puas menduduki peringkat ketiga, sementara Cakra kedua. Namun sudah cukup untuk membawa mereka pada ajang tertinggi. Yaitu OSN tingkat nasional.


Di titik ini ia jelas berharap banyak. Bahkan menggantungkan seluruh asa yang dimiliki.


Tapi tanpa dinyana, ia harus terlempar dari kursi 10 besar dengan sangat tragis. Sementara Cakra berhasil meraih gold medal tingkat nasional.


Maka mimpi buruk pun dimulai.


"Mau ditaruh di mana muka Papi?!"


"Bisa sampai kalah dari anak antah berantah!"


"Mau mempermalukan Papi hah?!"


"Mau mencoreng muka Papi dengan ketidakbecusan kamu!!!"


Saat itu juga darahnya menggelegak hingga mencapai titik kulminasi.


Kecerdasan Cakra jelas membuatnya iri.


Cakra menjelma menjadi siswa kesayangan semua guru jelas membuat harga dirinya terkoyak.


Ditambah keberhasilan Cakra meraih gold medal di tingkat nasional.


Ini adalah kiamat.


Maka mau tak mau ia harus bergerak.


Suatu sore jelang petang, ketika anak-anak yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler mulai beranjak pulang ke rumah masing-masing.


Ia mencegat Cakra yang baru keluar dari ruang laboratorium. Usai mengikuti pembekalan jelang training OSN tingkat nasional di Bandung. Lalu menariknya ke halaman belakang sekolah.


"Apa-apaan nih?!" Cakra berusaha memberontak. Tapi cengkeramannya jauh lebih kuat.


"Gua kasih lo dua pilihan," tanpa basa-basi ia langsung menggertak.


"Nggak ikut training dan lo aman di sini."


"Atau sebaliknya."


Tetapi di luar dugaan, Cakra ternyata berani melawan.


"Gua nggak ada urusan sama lo!"


"Gua ikut training atau enggak, itu bukan urusan lo!"


Tanpa berpikir, dengan gerakan cepat, pukulan telah melayang. Telak mengenai rahang bawah. Membuat kepala Cakra terlempar ke belakang.


"Berani lo sama gua?!?" desisnya berusaha menahan diri.


Tapi Cakra justru balas melayangkan pukulan terhadapnya.


Lebih telak.


1:1.


Perkelahian pun tak terhindarkan.


Anak-anak mulai menendang, memukul, meludah, sekaligus melontarkan kata makian.


Keadaan sekolah yang telah sepi jelas menjadi setting sempurna. Apalagi halaman belakang sekolah, tak seorangpun akan tertarik untuk datang ke tempat seperti ini pada petang hari.


 -------


.........Masa Sekarang........


Ia masih duduk termangu. Memperhatikan Cakra yang kini tengah diperkenalkan oleh Om Setyo pada seluruh tamu undangan.


"Gimana dia bisa ada di sini?" tanyanya tak habis pikir. Harus kembali bertemu dengan Cakra. Namun dalam kondisi yang jauh berbeda.


"Siapa?" Dipa balik bertanya. "Cakra?"


Ia tak menjawab.


"Ceritanya panjang," gumam Dipa sembari menghela napas, lalu menghembuskannya perlahan.


***


Cakra


Ia tak pernah menyangka, jika Eril merupakan putra dari sahabat Papa Anja.


Definisi dari dunia benar-benar sempit.


 -------


...........Flashback..........


Satu banding sekitar sembilan atau bahkan sepuluh orang. Jelas bukan pertarungan ideal. Jauh dari kata sempurna.


Pukulan dan tendangan yang datang bertubi-tubi, tak lagi mampu ditolerir oleh tubuhnya.


Ia jatuh.


Lalu tersungkur.


Menyerah tanpa syarat.


Kehancurannya makin lengkap dengan satu tendangan keras di dada.


Menyesakkan.


Sebelum akhirnya semua orang pergi dengan suara tawa membahana.


"Karena lo pilih sebaliknya!" teriakan Eril masih bisa terdengar oleh telinga berdengingnya.


"Siap-siap hancur selama gue masih di sini!"


Seminggu kemudian, ketika jadwal keberangkatannya untuk mengikuti training di Bandung semakin dekat. Kepala sekolah tiba-tiba memanggilnya.


"Sekolah tak bisa mendampingi dan memfasilitasi semua kebutuhan kamu selama mengikuti training di Bandung."


"Jadi, kalau kamu memilih untuk tetap mengikuti training, seluruh biaya ditanggung secara mandiri."


"Sekolah tidak akan ambil bagian."


Tapi yang paling tidak bisa diterima adalah, ketika ia akhirnya nekat mengikuti training di Bandung dengan biaya sendiri. Sekolah justru membuat kebijakan mencengangkan.


"Sekolah dan dewan guru memutuskan, untuk tidak mengirimkan wakil di ajang Asian Olympiad."


"Jadi, kalau kamu lolos training dan tetap mengikuti ajang tersebut...."


Kepala sekolah menghela napas sebentar sebelum melanjutkan, "Kamu pasti sudah tahu...."


"Punishment bagi siswa yang tidak mentaati kebijakan sekolah adalah...."


"Tidak naik kelas."


Rentetan kalimat menyakitkan yang dilemparkan padanya dengan sangat keras berhasil memancing kemarahan.


Detik itu juga ia lepas kendali.


Menjadi titik awal dari kehancuran.


 --------


..........Masa Sekarang..........


Ia masih duduk di sebelah Papa Anja. Sambil sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Atau ikut tertawa jika ada yang berkelakar.


Sementara Dipa dan Eril duduk tepat di seberangnya. Bertingkah sama seperti dirinya. Turut larut dalam perbincangan. Seolah tak pernah terjadi apapun.


***


Keterangan :


Overnight oats. : adalah oat yang direndam dalam cairan (bisa dengan susu atau yoghurt) semalaman, lalu ditambahkan macam-macam topping mulai dari biji chia, buah, sirop, cokelat, almond, dan lain sebagainya.