Beautifully Painful

Beautifully Painful
160. Happy Bestdayyy!



Readers tersayang 🤗,


Teruntuk semua readers tersayang yang bertempat tinggal di Majene, Sulbar ataupun berada dekat dengan pusat gempa kemarin. Juga gempa di Mamuju, Sulbar dini hari tadi, semoga senantiasa berada dalam lindungan Allah, mendapatkan keselamatan, kesehatan, juga kekuatan, aamiin.


Juga teruntuk readers tersayang yang bertempat tinggal di Kalimantan Selatan dan terdampak bencana banjir, semoga Allah karuniakan keselamatan dan kekuatan, aamiin.


Mohon maaf dua hari kemarin zonk 🙏 karena rada paciweuh 🤧.


So sorry atas ke slowmo an author 🙏


Sini BIG HUG dulu satu-satu 🤗🤗✌️🤗🤗


Kita kembali fokus pada kisah Anja-Cakra 🤗 agar bisa segera tuntas.


Semoga berkenan 🤗


Untuk Mas Tama lovers 💕semoga bersedia bersabar menanti di kisah berikutnya setelah BP End 🤗


Happy reading 🤗


 -------------------------


Mamak


Ia sedang menggoreng ayam yang telah diungkep bersama dengan cabai hijau, daun pandan, daun kunyit, dan daun kari (di Aceh disebut daun temurui). Ketika mendengar suara riang Sasa dan Umay dari arah ruang tamu.


"Neneeeek!!" seru Sasa yang tiba-tiba sudah menghambur ke dapur.


"Sudah pulang Sasa?" jawabnya sembari terus mengaduk wajan agar ayam matang dengan sempurna.


"Sasa punya ini, Nek!" seru Sasa lagi. Yang ketika ia menoleh, melihat Sasa sedang mengangkat sebuah celengan berbentuk hewan dan satu kantong plastik yang cukup besar.


"Hadiah dari Om dokter sama O...."


"Sasa!" suara Pocut tiba-tiba menghampiri. "Cuci tangan sama kaki dulu. Terus ganti baju."


"Hadiah dari O....," tapi rupanya Sasa sedang begitu antusias ingin memberi tahu dari mana bungkusan besar itu berasal. Sampai-sampai menghiraukan Pocut.


"Sasa!" namun sebelum Sasa berhasil menyelesaikan kalimat, Pocut sudah keburu menghardik.


Dan hardikan Pocut membuatnya kembali menoleh. Sebab selama ini, ia tak pernah mendengar Pocut menghardik anak-anak. Terlebih Sasa. Gadis cilik cantik kesayangan semua orang di rumah ini.


"Dengar kata Mama?! Cuci tangan dan kaki. Terus ganti baju."


"Iya, Ma," jawab Sasa dengan kepala tertunduk. Buru-buru meletakkan celengan dan kantong plastik besar di atas lantai. Lalu bergegas masuk ke kamar mandi.


"Langsung ganti baju, Sa!" seru Pocut lagi seraya meraih barang-barang yang ditinggalkan Sasa dengan gerakan cepat.


"Simpan baju bekas pakainya di keranjang baju kotor!" imbuh Pocut sebelum beranjak ke ruang tamu. Sambil membawa celengan dan bungkusan milik Sasa.


Ia yang sebenarnya merasa agak aneh dengan sikap tak biasa Pocut. Lebih memilih untuk menyelesaikan menggoreng ayam. Sebab sebentar lagi akan diambil oleh yang memesan.


Dan ketika ia sedang meniriskan ayam yang baru diangkat dari atas wajan, kepala Sasa menyembul dari balik pintu kamar mandi.


"Neek, handuknya mana?"


Namun belum juga ia sempat menjawab, Umay telah lebih dulu menghambur ke dapur sambil berteriak,


"NEK! Ada makanan enak!" seru Umay sembari menunjukkan makanan di tangan kanannya.


"Di dalam nasi ada ikan sama mayonais. Hmmm, lezaaat," sambung Umay seraya melahap potongan besar yang tersisa di tangan kanan.


"Neeek, handuk Sasa mana?" Sasa yang masih tertahan di pintu kamar mandi mulai merengek.


"Nenek mau coba? Aku ambilkan satu ya!" imbuh Umay girang.


"Sebentar, Sasa," ujarnya yang tengah meniriskan gorengan ayam yang kedua ke atas saringan.


"Umay, tolong ambilkan handuk untuk Sasa saja, neuk (nak)," lanjutnya sambil menunjuk pada jemuran handuk yang berada tak jauh dari tempat Umay berdiri.


Namun sebelum Umay berhasil meraih handuk yang dimaksud, Pocut telah lebih dulu menyambarnya.


"Cuci tangannya tadi pakai sabun?" tanya Pocut ke arah Sasa yang mengangguk-angguk.


"Nek! Aku bawakan makanan enaknya ke sini ya!" seru Umay yang sepertinya benar-benar ingin menunjukkan makanan tersebut padanya.


"Jangan dihabisin, Bang!" teriak Sasa yang tubuhnya sedang dililit handuk oleh Pocut. "Sasa juga mau!"


"Nggak akan habis!" jawab Umay sambil berjalan ke ruang tamu. "Banyak ini!"


"Sekarang Sasa ke kamar ya, bajunya sudah Mama siapkan."


Sasa kembali mengangguk-angguk.


Dan sebelum Sasa beranjak, ia sempatkan untuk bertanya terlebih dahulu.


"Bagaimana tadi kata Pak dokter? Sasa sudah sembuh atau belum?"


Dengan senyum lebar Sasa langsung menunjukan jari manis tangan kirinya yang kini tak lagi dibebat oleh perban.


"Alhamdulillah," gumamnya tersenyum lega. "Sudah tak terasa sakit?"


Sasa menggelengkan kepala sambil tetap tersenyum.


"Ya sudah, Sasa pakai baju dulu. Nanti kedinginan," ucapnya sambil menyusun ayam yang telah ditiriskan ke dalam wadah.


Sasa pun beranjak ke ruang tamu. Sementara Pocut sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi.


Ia masih membereskan peralatan bekas memasak ketika Pocut keluar dari kamar mandi. Dengan tanpa mengatakan apapun berjalan melewatinya menuju ke bilik tempat beribadah.


Jika penglihatan sekilasnya tak keliru, wajah Pocut sejak pulang dari Rumah Sakit terlihat kusut serta sedikit kesal. Seperti ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran menantunya itu.


Namun demi mendengar suara riang anak-anak di ruang tamu, ia segera menepis prasangka jauh-jauh. Lebih memilih untuk kembali membereskan dapur.


"Neeek, ada tamu!" seru Umay yang melongokkan kepala ke dapur.


Rupanya pemesan ayam tangkap datang lebih awal dari waktu yang telah disepakati.


Setelah berbasa-basi sebentar dengan si pemesan. Sekaligus menerima pembayaran. Ia pun kembali ke dapur untuk melanjutkan membereskan peralatan bekas memasak.


Tapi baru juga ia memindahkan kloter pertama peralatan kotor bekas memasak ke tempat cucian piring di bagian belakang rumah, Umay dan Sasa sudah kembali menghambur ke dapur.


"Neek! Ini coba makanan enaknya. Maaf, tadi Umay lupa. Keasyikan makan, hehehe....," ucap Umay seraya mengangsurkan sebungkus makanan padanya.


"Neeeek! Sasa dapat hadiah kejutaaan!" seru Sasa dengan wajah berbinar riang. Sembari menunjukkan sebuah baju warna merah muda yang sangat cantik.


"Sasa enak ih, dapat banyak hadiah," gumam Umay sambil melirik ke arah Sasa yang sedang tersenyum lebar dari telinga ke telinga.


"Ini kejutan, Abaaang!" Sasa mengernyit tak terima. "Sasa nggak minta, tapi tiba-tiba baju Cinderella ini udah ada di dalam kantong."


"Bagus ya, Nek? Kayak baju putri raja?" kini Sasa beralih ke arahnya.


"Iya deh hadiah kejutan....," Umay tersenyum sambil merangkul bahu Sasa.


"Umay! Sasa!" sergah Pocut yang kini telah berada di dapur. "Jangan ganggu Nenek."


"Bagus," ia tersenyum mengangguk. Guna memberi jawaban pada Sasa tentang baju cantik yang hingga kini masih ditunjukkan padanya. "Cantik sekali bajunya, Sasa."


"Umay! Sasa!" Pocut kembali menyergah. "Bereskan sampah bekas makanan kalian. Jangan ganggu Nenek."


"Iya, Ma," jawab Umay dan Sasa berbarengan. Dengan masih saling berangkulan, dua cucunya itu berlalu ke arah ruang tamu.


Lalu ia menghembuskan napas panjang ketika melihat Pocut mengambil alih pekerjaannya. Membawa setumpuk peralatan kotor bekas memasak ke tempat cucian piring.


"Biar sama saya, Mak," gumam Pocut hampir tak terdengar.


"Mamak istirahat saja."


Ia masih memperhatikan wajah Pocut yang sejak awal terlihat berusaha menghindari tatapannya.


"Tadi sore Kakak Anjani datang ke rumah."


Pocut yang sedang mengangkat wajan bekas menggoreng untuk dibawa ke tempat cucian piring tiba-tiba menatapnya dengan ekspresi gugup.


"Mamak sampai lupa kalau itu Kakaknya Anjani," sambungnya sambil menatap Pocut lekat-lekat.


"Menanyakan keadaan Sasa."


"Mamak bilang kalau Sa...."


"Maaf, Mak," potong Pocut yang jelas terlihat semakin gugup.


"Aku mau mencuci dulu. Keburu terlalu malam," sambung Pocut yang langsung bergegas membawa wajan bekas menggoreng ayam tangkap ke belakang rumah.


***


Cakra


Setelah acara gathering angkatan, ia benar-benar tak memiliki waktu luang. Sebab sederet kegiatan yang harus diikuti oleh maba (mahasiswa baru) telah menanti.


Mulai dari acara peresmian maba, rangkaian kegiatan pra OBKM (Orientasi Belajar Keluarga Mahasiswa), pembekalan dari LTDB (Lembaga Tahap Dasar Bersama), pengenalan seluruh Fakultas dan Program Studi, pengenalan Perpustakaan, hingga pembekalan dari para kating tentang bagaimana cara mereka agar bisa survive di Ganapati.


Termasuk beberapa tugas kelompok, challenge dari kating, sampai pembahasan tentang pre test TDB (Tahap Dasar Bersama).


Praktis hampir setiap hari ia pergi ke kampus untuk mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Tak ada waktu untuk sekedar pulang ke Jakarta. Walau jarak tempuh kurang lebih hanya sekitar dua jam. Seperti yang sempat diangankannya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bandung.


"Maaf, Ja, aku belum bisa pulang," ia memandangi wajah Anja melalui layar ponsel. Yang malam ini terlihat makin cantik bersinar.


Anja tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun.


Ia pun balas tersenyum.


Lalu seperti biasa, mereka hanya akan saling memandang selama beberapa menit. Tanpa satu katapun yang terucap.


"Kamu belum potong rambut?" tiba-tiba Anja memecah kesunyian dengan pertanyaan yang berhasil memancing tawanya.


"Udah gondrong tuh."


Kalimat Anja membuatnya refleks menyisir rambut bagian depan dengan menggunakan jemari.


"Kalau perlu potong sampai habis."


"Botak?" ia masih tertawa.


"Yap!" Anja mengangguk yakin. "Biar nggak ada yang ganjen."


Ia sontak kembali tergelak.


"Kalau bisa kamu tampil jelek deh," lanjut Anja seraya mencibir. "Dekil gitu, biar nggak ada yang tertarik."


Tawanya mendadak berhenti. Namun masih menyunggingkan senyum sembari menyimpan dagu di atas lipatan tangannya.


Anja juga tak lagi mencibir. Terus saja menatapnya lekat-lekat.


"Gata that tari uroe nyoe (kamu cantik banget hari ini)," gumamnya sungguh-sungguh.


"Dih!" Anja sontak memutar bola mata sambil tertawa. "Artinya apaan tuh? Bukan lagi ngatain kan?"


Tapi ia hanya tersenyum. Sembari terus menatap sepasang bola mata indah milik Anja dalam-dalam.


"Miss you (kangen kamu)," bisiknya dari lubuk hati terdalam.


 --------------


Ia seperti sedang bermimpi ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya berkali-kali. Namun lambat laun justru suara kian menguat dan semakin jelas terdengar.


Tok! Tok! Tok!


Tok! Tok! Tok!


Tok! Tok! Tok!


Tok! Tok! Tok!


Namun tangannya tak juga berhasil meraih ponsel. Sementara ritme ketukan di pintu kian meningkat.


Tok! Tok! Tok!


Tok! Tok! Tok!


Akhirnya dengan tanpa melihat jam terlebih dahulu, ia bergegas bangkit. Dengan terhuyung-huyung berusaha berjalan menuju ke arah pintu.


Tok! Tok!


Ia membuka pintu tepat ketika Mang Ujang kembali hendak mengetuk.


"Aduh, maaf, Den," seru Mang Ujang terkekeh karena hampir saja mengetuk dadanya.


"Ada apa, Mang?" tanyanya bingung. "Jam berapa sekarang?"


Tapi Mang Ujang justru tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya seraya menjawab yakin, "Jam dua belas malam, Den."


"Ada ap...."


"Selamat ulang tahun, Den Cakra!!" seru Teh Juju yang tiba-tiba muncul di belakang punggung Mang Ujang. Sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka 20 di atasnya.


"Wilujeng tepang taun (selamat ulang tahun), Den!" Mang Ujang ikut berseru dengan senyum yang kian merekah.


"Mugia Allah salawasna maparin rahmat sinareng hidayahna (semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan hidayahNya)," sambung Teh Juju.


"Sadaya pamaksadan anu dipikahoyong tiasa kacumponan kalayan aya dina bimbingan Allah (seluruh harapan yang diinginkan bisa tercapai dalam bimbingan Allah)."


"Seueur rezeki (banyak rezeki). Tur sehat lahir sareng bathin (juga sehat lahir dan bathin)."


"Aamiin!" seru Teh Juju dan Mang Ujang bersamaan.


Sementara ia yang masih terkejut sebab tak menyangka akan mendapat ucapan selamat ulang tahun. Sekaligus tak mengerti maksud dari kalimat panjang lebar yang baru saja diucapkan oleh Teh Juju. Ikut bergumam meski terlambat.


"Aamiin. Aamiin. Aamiin."


"Ih, Teh Juju! Cakra nggak bakalan ngerti Teteh ngomong apa!!" seru sebuah suara yang amat dikenalnya. Berasal dari ponsel yang sedang dipegang oleh Teh Juju.


"Aduh, hapunten, Neng," Teh Juju meringis malu. "Ini teh spontan, Neng. Nggak bisa di rem mulut saya."


"Anja?!" ia tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Muhun, Den," Teh Juju tersenyum sembari memperlihatkan layar ponsel. Tengah menampakkan sosok Anja yang sedang menggendong Aran.


"Neng Anja yang ngerencanain semuanya."


"Kita mah cuma ngikutin aja."


"Happy bestdayyy, Abang sayang!!!" seru Anja dengan mata berbinar ketika Teh Juju mendekatkan layar ponsel ke hadapannya.


"Happy birthday, Ayah!" kini Anja sedikit mengangkat Aran dan memposisikan sedemikian rupa agar bisa terlihat jelas di layar ponsel.


"Aran bangun nih, Yah," lanjut Anja dengan nada suara yang terdengar begitu merdu di telinganya.


"Tahu kalau Ayahnya ulang tahun ya sayang ya?" imbuh Anja yang kini tengah menciumi pipi bulat Aran.


Membuatnya tertawa sambil terus menggelengkan kepala.


"I wish every single dreams of yours will come true (aku berdoa setiap mimpimu segera terwujud)," ucap Anja dengan senyum terkembang. Seraya menatapnya lekat-lekat. Dengan menempelkan pipi pada pipi Aran. Hingga layar ponsel di hadapannya benar-benar sedang menampilkan dua orang yang begitu ia cintai.


"Aamiin. Aamiin. Aamiin," sahutnya cepat mengaminkan doa dari Anja dengan suara serak karena terharu.


"Ditiup lilinnya, Den," seru Mang Ujang.


Membuatnya tersadar jika ia tak sedang melakukan video call berdua saja bersama Anja. Ada sosok Mang Ujang juga Teh Juju yang kini masih berdiri di hadapannya dengan wajah sumringah.


"Nanti keburu leleh."


Ia kembali tertawa. Lalu sambil terus menatap wajah Anja di layar ponsel, ia pun meniup lilin berbentuk angka 20 dalam sekali hembusan napas. Yang langsung diikuti oleh sorakan senang Mang Ujang juga Teh Juju.


 -----------------


Kini ia sudah berbaring miring di atas tempat tidur. Memandangi layar ponsel yang tengah menampakkan wajah cantik Anja. Yang juga sama-sama sedang berbaring miring. Menatapnya lekat-lekat dengan mata berkaca.


"Sedih....," gumam Anja sembari menyusut sudut mata.


"Kenapa?"


"Ulang tahun Abang yang pertama, pas kita jauhan."


Ia tersenyum, "Ini bisa ngobrol."


"Tapi nggak bisa meluk!" cibir Anja.


Ia tertawa kecil, "Mau dipeluk?"


"Dih!" wajah Anja yang awalnya sendu kini mendadak berubah mendelik kesal.


"Makasih, Ja," ia tersenyum. "Sampai mengkaryakan Mang Ujang sama Teh Juju."


Anja balas tersenyum, "Kado aslinya nyusul ya."


Ia tertawa, "Memang ada berapa kado?"


Anja menyunggingkan senyum misterius, "Ada deh. R a h a s i a."


Membuatnya semakin tertawa geli.


"Kado yang pertama kan udah," sambung Anja.


Ia mengangkat bahu tanda tak mengerti, "Yang mana?"


Namun wajah Anja justru mendadak bersemu merah, "Kado pertamanya...panggilan Abang...."


Ia sontak tertawa meski tanpa suara. Baru menyadari jika sejak tadi Anja memanggilnya dengan sebutan Abang.


"Teh Dara bilang, kalau udah jadi pasangan...sebisa mungkin ada panggilan spesial."


Ia tersenyum, "Terus...Teh Dara bilang apalagi?"


Anja menggeleng, "Udah gitu doang."


"Teh Dara sempat kaget waktu denger aku masih manggil kamu terus-terusan," lanjut Anja sambil mengangkat bahu.


Ia tertawa, "Nggak apa-apa juga sih dipanggil kamu."


"Nggak seneng nih aku panggil Abang?"


Ia tersenyum penuh arti, "Seneeeeeng banget."


"Dih!" Anja kembali mencibir. "Gaje banget ih!"


Membuatnya terkekeh senang.


Kemudian mereka sama-sama terdiam. Dengan mata masih saling bertautan. Seakan tengah menyelami isi hati masing-masing.


"Ngantuk, Ja?" ia tersenyum ketika Anja menguap. "Tidur aja. Aku lihatin dari sini."


Tapi Anja hanya mencibir.


Ia masih memandangi wajah Anja yang semakin lama semakin terkantuk-kantuk. Sepasang bola mata indah itu bahkan tak kuasa lagi untuk terus terjaga. Telah terlelap dengan sendirinya.


"Sweet dreams (semoga mimpi indah), Anja," bisiknya lirih. "I love you."


 ----------------------


Rupanya Anja benar-benar memperhatikan detail. Sebab pagi harinya, begitu ia masuk ke dalam rumah usai mencuci dan memanaskan mobil. Teh Juju telah menyambutnya dengan seloyang besar tumpeng nasi kuning beserta lauknya.


"Wah, Teh?" ia tertawa.


"Silakan, Den," Teh Juju ikut tertawa. "Tumpeng ulang tahunnya."


Ia akhirnya mengajak Mang Ujang, Teh Juju, dan kedua putri mereka untuk sama-sama menyantap nasi kuning di meja makan.


"Kalau ada sisa, punten bungkus pakai box, Teh," pintanya usai acara menyantap tumpeng bersama selesai. Ia berniat akan menyerahkannya pada sejumlah Satpam yang bertugas jaga di pintu gerbang kompleks.


"Oh, muhun (baik), Den," Teh Juju mengangguk.


Sambil menunggu Teh Juju mempacking nasi kuning. Ia pun iseng membuka ponsel yang sedari tadi berkelap-kelip tanda banyak notifikasi masuk. Yang ternyata berasal dari grup angkatan.


367 unread messages


Ia masih membaca sederet pesan dari bagian teratas. Ketika matanya menangkap sebuah tautan yang diberikan oleh Gagat.


Gagat. : 'How bout you, guys?'


Membuatnya segera mengklik tautan tersebut.


Direktorat Kemahasiswaan


[11 Agustus 2xxx]


Penerima Beasiswa UKT Mahasiwa Baru 2xxx-2xxx


Berikut ini adalah nama-nama penerima beasiswa UKT angkatan tahun 2xxx.


Matanya langsung awas membaca setiap baris nama yang tercantum.


Ada sekitar 400an nama mahasiswa baru yang berhak memperoleh beasiswa UKT.


Ia hampir menyerah. Ketika namanya tak berada dalam sederet nama yang berasal dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika.


Namun di bilangan ke 300an, asanya kembali terjaga. Bahkan sampai harus membelalakkan mata berkali-kali agar yakin dengan apa yang sedang dibacanya.


387. Teuku Cakradonya Ishak / 16518234 / UTBK-SBMPTN / S1 Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)


"Alhamdulillahirabbil'alamiin," bisiknya dengan bibir bergetar. Sebab tak pernah berani berharap, ia bisa memperoleh kemudahan yang begitu bertubi-tubi.


Ia pun kembali melihat layar ponsel untuk memastikan tak salah membaca nama. Melakukan tangkapan layar. Lalu mengirimkannya pada Anja dengan caption,


Cakra. : 'Alhamdulillah, the best gift."


Kemudian segera mendial nomor Kak Pocut.


Ia tentu harus mengabarkan berita paling membahagiakan kepada Mamak. Sekaligus mengucapkan beribu terimakasih.


Sebab tanpa doa Mamak, ia tentu takkan bisa berada di titik ini.


***


Keterangan :


Happy bestday. : sinonim dari ucapan selamat ulang tahun