Beautifully Painful

Beautifully Painful
162. Unforgettable Moments (2)



Anja


"Issh!" ia mendecak ketika merasa sedikit kesulitan saat berusaha melepaskan breast pad yang telah lembab, basah dan menjelly.


Dengan penuh kehati-hatian ia kembali mencoba untuk melepaskan. Perekat belakang yang bagus jelas menjadi keuntungan, karena posisi breast pad tidak akan mudah bergeser atau berpindah posisi. Namun agak sulit ketika hendak dilepas. Sebab terlalu menempel ke baju dalamnya.


"Akhirnya," gumamnya lega ketika breast pad akhirnya berhasil dilepas.


Kemudian segera memasukan breast pad bekas pakai ke dalam kantong plastik. Yang sengaja diselipkan oleh Mama di dalam saku lipatan bagian samping cooler bag.


"Kalau mau buang breast pad, dikantongin dulu ya, Ja," begitu pesan Mama tiap kali ia hendak bepergian.


Jika sedang bepergian ke luar rumah, ia memang memakai disposable breast pad (sekali pakai). Bukan washable breast pad seperti yang sering dipakainya jika sedang berada di rumah seharian penuh.


Ia pun mulai memijat bagian dada dan mengusapnya dengan lembut. Sambil meletakkan handuk hangat basah. Yang sengaja disiapkan oleh Mama. Meski kini sudah tak terasa hangat lagi. Cenderung dingin malah.


Tapi tak apa, minimal bisa membantunya untuk lebih rileks sebelum melakukan pumping (memompa).


Ia juga sempat menghabiskan sebotol kecil air mineral. Yang lagi-lagi telah dipersiapkan dengan sangat detail oleh Mama di sisi bagian luar cooler bag. Sebelum akhirnya mulai melakukan pumping.


Setelah yakin miliknya kosong, dan semua ASI sudah dikeluarkan. Ia segera melepas electric breast pump dari botol yang telah penuh. Dan memasangnya kembali di botol baru yang masih kosong.


Lalu menutup botol yang telah penuh. Menyimpannya ke dalam cooler bag. Menjaga agar suhu ASIP tetap terjaga.


Kemudian mengambil breast pad yang baru. Membuka perekat dan mulai memasangnya dengan perlahan. Memastikan jika telah terpasang dengan benar.


Setelah semua beres, ia kembali melakukan serangkaian hal serupa seperti tadi. Sebelum akhirnya melakukan pumping untuk yang kedua kalinya.


Sembari memejamkan mata, ia mulai membayangkan wajah menggemaskan Aran dengan pipi bulat yang menyerupai tomat. Juga wajah Cakra dalam balutan seragam SMA. Persis seperti yang dilihatnya saat melakukan video call tadi pagi.


Ia tersenyum-senyum sendiri demi mengingat sikap reaktif Aran jika mendengar suara Cakra. Ketika tiba-tiba terdengar langkah kaki memasuki toilet. Diikuti suara dua orang yang saling berbicara dan tertawa.


Membuat lamunannya buyar dalam sekejap. Lalu membuka mata. Menyadari jika botol hampir penuh.


Suara orang saling berbicara dan tertawa kian terdengar bertambah. Pertanda jika pengunjung toilet semakin banyak. Mungkin sesi mentoring sedang break. Yang dimanfaatkan oleh para maba untuk melipir ke toilet.


Setelah ASIPnya mencapai garis batas di angka 100 ml kurang sedikit, ia pun buru-buru menyudahi pumping.


Dengan tergesa berusaha melepas electric breast pump dari leher botol. Namun kali ini ia merasa sedikit kesulitan.


"Hahahaha...sumpe lu?!"


"Yang bener aja deh, kalau emang....."


Suara obrolan dan tawa yang cukup keras terdengar bersamaan dengan terlepasnya electric breast pump dari leher botol.


Tapi sayang, karena terkejut, ia justru tak bisa mengontrol gerakan tangan. Hingga membuat ASIP di dalam botol tumpah membasahi dadanya.


"Aduh! Ampun!" pekiknya tertahan.


Sementara suara obrolan dan tawa masih saja terdengar.


Dengan mata nanar ia menatap isi botol yang kini hanya tinggal seperempatnya. Kurang bahkan. Sebab sebagian besar sudah tumpah membasahi dadanya.


"Ya ampun," gumamnya hampir menangis.


Ketika menyadari jika ASIP yang tumpah ternyata mengenai kemeja putih yang sedang dikenakannya. Meninggalkan bekas kekuningan yang menempel, lengket, dengan bau khas ASI yang meruar tajam.


"Gimana dong?" ia kembali bergumam sendiri.


Dengan panik segera ditutupnya botol berisi ASIP. Menyimpan ke dalam cooler bag. Lalu buru-buru membersihkan electric breast pump dari cipratan ASI. Dengan menggunakan tissue basah yang mengandung antiseptik.


Setelah merapikan kembali perlengkapan pumping ke dalam cooler bag. Ia mulai memasang breast pad.


Tapi terlambat. Sebab tetesan sisa ASI telah lebih dulu merembes. Membasahi kemeja putih yang sedang dikenakannya.


Membuat bagian depan kemeja putihnya semakin basah dan lengket.


***


Cakra


"Kalian bisa mengirimkan challenge Individual Development Plan ke kating terpilih," ucap Keanu usai mereka menyelesaikan sesi diskusi dengan tema Dreams For Indonesia.


"Nanti kalian bisa mendiskusikan skema yang telah kalian buat dengan kating tersebut."


"Dari diskusi itu, semoga kalian bisa memperoleh input dan insight yang lebih mendalam."


"Sebagai bekal perjalanan kalian selama tiga, empat, bahkan lima tahun ke depan selama duduk di bangku kuliah."


Ia pun membaca sederet nama kating yang tercantum di dalam handbook OBKM. Dimana tertulis nama-nama ketua himpunan, ketua unit, dan beberapa anggota kabinet KM (keluarga mahasiswa). Beserta nomor kontak yang bisa mereka hubungi.


Ia masih mengobrol dengan Flacynthia dan Adit, tentang kating yang akan mereka pilih untuk mendiskusikan challenge. Ketika para mentor kembali memobilisasi keluarga 151 menuju ke Garaga.


"Setelah ishoma (istirahat, sholat, makan), kalian segera bergabung dengan Fakultas masing-masing," terang Keanu.


"Untuk mengikuti sesi interfak (interaksi fakultas)."


***


Anja


Salahnya sendiri tak membawa baju ganti. Membuatnya tak bisa melakukan apapun meski sekedar untuk menyamarkan bekas tumpahan ASIP di bagian dada.


Sambil menghembuskan napas panjang ia memandang ke arah cermin wastafel. Di mana terdapat wajah penuh kekesalan dengan dada yang basah kuyup dan juga lengket akibat tumpahan ASIP.


"Sebentar juga kering, Ja," gumamnya berusaha menghibur diri sendiri.


Menghiraukan tiga orang maba lain yang juga sedang sama-sama berdiri di depan wastafel.


Dua orang maba yang persis berada di samping kanan kirinya bahkan menoleh dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Mungkin karena mendengar gumamannya barusan.


Dan sembari terus menggerutu dalam hati, ia pun buru-buru keluar dari toilet. Berharap tak ketinggalan sesi berikutnya.


Namun begitu keluar dari lorong toilet. Seseorang terdengar meneriakkan namanya.


"Anjani! Hei!!"


Ia menoleh ke belakang.


***


Cakra


Bersama sekitar 400an maba STEI lainnya, kini mereka tengah duduk di lapangan Garaga. Mendengarkan sambutan dari ketua himpunan mahasiswa elektro dan informatika.


Dengan dikelilingi oleh beberapa kelompok massa himpunan yang kesemuanya mengenakan jaket almamater.


"Upin Ipin hobinya makan mie


Mienya rasa kari


Selamat datang di STEI


Hati-hati jangan sampai depresi."


Menjadi yel yang diserukan oleh kelompok massa himpunan untuk menyambut mereka para maba.


"Busyet, baru juga masuk, udah ngomongin depresi," menjadi selorohan yang diucapkan oleh hampir sebagian besar maba.


***


Anja


"Kamu sakit?" tanya Erzal dengan mata menyelidik.


"Enggak, Mas," ia menggeleng dengan kikuk. Sebab kemeja bagian depannya yang jelas-jelas basah kuyup.


"Kartu batas aktivitas fisik?" tunjuk Erzal pada kartu yang menggantung di lehernya.


"Iya," ia mengangguk. "Tapi bukan karena sakit. Ada hal lain ya...."


"Kamu habis muntah?" kini pertanyaan Erzal menjadi lebih spesifik.


Ia kembali menggeleng, "Bukan. Ini ka...."


"Kemeja kamu basah kuyup," meski berbicara sambil menatap matanya, tapi ia tahu jika Erzal notice dengan noda kekuningan bekas tumpahan ASIP di dadanya.


"Bawa baju ganti?"


Ia menggeleng.


Tanpa dinyana, Erzal melepaskan jaket kuning yang sedang dipakai. Lalu menyerahkan padanya.


"Pakai ini dulu."


Ia hampir menolak. Namun Erzal keburu kembali berucap,


"Ayo aku antar ke mentor kamu. Sebentar lagi waktunya moving tur kampus."


"Kamu nggak mungkin pakai baju basah begitu."


Saat itu juga ia merasa ingin menangis, sebab merasa sangat tak nyaman sekaligus tak berdaya.


 ----------------------------------


Ia berdiri mengkerut di belakang punggung Erzal. Yang saat ini sedang berbicara dengan Reza dan Rizky.


Sementara seluruh anggota tim 51 jelas-jelas memperhatikan dirinya dengan tatapan penuh selidik.


Namun Aya keburu menghampiri. Lalu membantu mengancingkan jaket kuning agar menutupi bagian dadanya yang basah.


"Nggak apa-apa pakai dulu," gumam Aya.


"Nanti kalau kemeja lo udah kering, almetnya bisa dilepas."


Ia mengangguk lemah, "Makasih, Kak Aya."


Tepat ketika Erzal menyelesaikan pembicaraan dengan Reza dan Rizky. Kemudian berlalu sembari melempar senyum ke arahnya.


"Oya, jangan lupa besok bawa baju ganti," imbuh Aya lagi. "Antisipasi dengan kondisi lo."


----------------------------- 


"Lo pakai almet (almamater) siapa?" bisik Azizah -maba FEB berwajah paling ramah di tim 51- di telinganya. Ketika mereka tengah memulai sesi tur kampus.


"Panitia yang ganteng tadi?" lanjut Azizah membuatnya mengkerut.


"Iya ih aneh," sambung Nuri -maba Fakultas Ilmu Keperawatan yang pertama kali dikenalnya di tim 51- juga ingin tahu. "Kenapa lo bisa tiba-tiba pakai almet panitia?"


"Baju gue basah waktu ke toilet," dengan wajah tetap mengkerut ia berusaha menjawab meski sekenanya.


Azizah terlihat berpikir sebentar, "Tapi...senyum panitia ganteng ke elo tadi kelihatan dalem banget."


"Asli," Nuri ikut menambahkan.


Ia mendadak tertawa sumbang, "Senyum doang. Biasa aja ah. Lebay deh."


"Melted (meleleh) nggak sih disenyumin sepenuh arti gitu sama kating kece?" tapi Azizah jelas menghiraukan tawa sumbangnya.


"Keren lo, Ja," Nuri mengacungkan jempol. "Baru hari pertama udah berhasil menjaring kating keren."


Ia kembali tertawa, "Kerenan juga suami gue."


"Suami?!?" Azizah dan Nuri tiba-tiba menghentikan langkah hanya untuk memelototinya.


"Iya, suami gue," jawabnya enteng. "Sekarang juga lagi ospek. Di Bandung tapinya."


"Lo...udah married?!?" kedua bola mata Azizah seperti hendak melompat dari tempatnya.


"Ah, bercanda lo," Nuri justru tertawa.


Ia tersenyum lebar seraya memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya dengan bangga, "Ini cincin kawin gue."


 --------------------------


Sorenya, usai mengumpulkan kartu tanda kepulangan pada panitia, ia berniat mengembalikan jaket kuning pada Erzal. Namun tak tahu harus ke mana.


"Temenin gue dong," ia akhirnya meminta tolong pada Dipa.


Namun Dipa malah menatapnya dengan kening berkerut, "Lo dipinjamin almet sama Mas Erzal?"


Ia mengangguk, "Buru temenin gue. Udah nggak sabar pingin cepet pulang ketemu sama Aran."


Dipa masih mengkerut menatapnya. Seperti sedang memikirkan sesuatu meski tak terucap.


Namun sejurus kemudian Dipa berkata, "Oke, kita kembaliin almet ke student center. Kalau Mas Erzalnya nggak ada, bisa kita titip ke temannya."


 ---------------------------------


Begitu sampai di rumah, usai membersihkan diri dan berganti baju, ia langsung mendekap Aran yang sedang terlelap.


"Bunda kangeeeeen banget sama Aran," bisiknya hampir menangis. Memperhatikan wajah tenang Aran, yang di matanya terlihat bertambah bulat.


"Aran rewel nggak, Ma?"


"Nangis terus nggak, Ma?"


"Mau minum ASIP pakai botol nggak, Ma?"


Mama hanya tersenyum sembari mengusap lembut rambutnya.


"Den Aran bageur pisan (baik sekali), Neng," justru Teh Cucun yang menjawabnya. "Soleh."


 --------------------------------


Ia memandangi wajah Cakra yang sedang menatapnya lekat-lekat.


Ketika Cakra tersenyum, ia pun balas tersenyum.


"Hari pertama ospek, aman Neng?"


Ia mencibir. Sebab teringat tragedi ASIP tumpah. Namun memilih untuk berkata, "Cape. Habis jalan kaki tur kampus."


Cakra terkekeh, "Ya udah, sekarang tidur. Dilihatin dari sini."


Ia kembali mencibir.


Namun karena memang sudah mengantuk, matanya mulai tak bisa diajak kompromi.


"Bang," gumamnya dengan mata terpejam.


"Ya?"


"Gimana Ospek Abang tadi? Seru nggak?"


Cakra sontak tertawa mendengar pertanyaan yang dilontarkannya.


"Kuliahnya pindah ke Jakarta aja, Bang," gumamnya yang sudah setengah tertidur.


"Jauhan ternyata nggak enak banget."


"Ngerasain ospek sehari rasanya berabad-abad."


***


Cakra


Ia terus menatap wajah cantik Anja yang kini sudah setengah terlelap, tapi masih terus bergumam lirih.


"Kapan pulang ke sini, Bang?"


"Jangan lama-lama. Nanti Aran bisa nggak kenal sama Ayahnya."


Ia tertawa melihat Anja yang masih saja berbicara dengan nada sengau seperti orang mengigau.


"Ospek beres langsung pulang ya, Bang."


"Aku kangen banget."


"Aku juga kangen sama kalian berdua," jawabnya cepat. "Kangen sekali."


Namun Anja tak lagi menjawab. Sebab sudah benar-benar terlelap ke alam mimpi.


Ia tersenyum menatap wajah polos Anja yang jelas terlihat kelelahan. Terus menatapi Anja dengan sepenuh hati. Hingga sepasang mata miliknya terpejam tanpa bisa dicegah lagi.


"Love you both (cinta kalian berdua)," bisiknya sebelum benar-benar terlelap.


 --------------------------------------


Hari Kedua


Hari kedua OBKM, para maba wajib berkumpul di Sabupa jam enam pagi. Dengan ketiga mentor yang telah siap menyambut mereka di halaman depan.


"Apa kabar hari ini?!?" sapa Keanu.


"Luar biasa!!" jawab mereka serempak.


Kemudian Yura dan Edelweiss secara bergantian mulai menjelaskan beberapa poin penting dari kegiatan hari kedua OBKM yang akan mereka jalani.


Selama mentoring itu pula, empat orang panitia berkaos hitam, kuning, dan biru, terlihat mengibarkan bendera berukuran besar dari atap gedung Sabupa.


Bendera berwarna senada dengan kaos yang dikenakan oleh masing-masing panitia tersebut, menjadi penanda tiga bagian kepanitiaan. Yaitu mentor, medik, dan keamanan.


Begitu mentoring selesai, para maba diarahkan untuk memasuki gedung Sabupa. Kali ini mereka kembali duduk menurut Fakultas masing-masing. Mengikuti serangkaian acara mulai dari defile unit, seminar, hingga teaser closing performance.


***


Anja


Hari kedua pelaksanaan OKKJ, ia merasa lebih tenang. Karena telah mempersiapkan diri dengan membawa baju ganti. Dua buah kemeja warna putih sekaligus. Sebab tak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi.


***


Hari Ketiga


Cakra


Hari terakhir pelaksanaan OBKM, para maba dikumpulkan di lapangan Seni Rupa dan Sipil.


Mengikuti mentoring dengan keluarga masing-masing. Membahas tentang Dinamika Kehidupan Mahasiswa Ganapati.


Usai mentoring, seluruh maba mulai dimobilisasi menuju ke Garaga. Dimana mereka harus melewati tiga lorong.


Pertama adalah lorong performance. Diisi oleh puluhan panitia berkostum unik. Yang sesekali mendekati dan menggoda mereka para maba.


Kemudian lorong mentor. Lorong paling aman.


Dan terakhir adalah lorong massa. Yaitu saat para maba harus berjalan satu per satu menuju ke terowongan. Dengan massa himpunan dan massa unit berada di sebelah kanan dan kiri jalur.


"Nametag dibalik dan jangan lupa saling berpegangan dengan teman satu keluarga!" seru para mentor mengingatkan mereka sebelum berjalan melewati lorong massa.


"Jaga jangan sampai terlepas sesama teman!" lanjut para mentor menegaskan.


Dan hiruk pikuk ratusan massa yang memenuhi sebelah kanan kiri jalur, dengan segala teriakan, yel, bahkan nyanyian. Menjadi pengalaman baru yang tak terlupakan bagi mereka para maba.


Sekitar jam lima sore, seluruh maba telah berkumpul di lapangan Garaga. Mendengarkan orasi dari seluruh ketua himpunan yang ada di Ganapati.


Dan kegiatan OBKM akhirnya ditutup dengan Salam Ganapati.