
Anja
Ia masuk ke dalam mobil yang telah dinyalakan mesin dan AC nya terlebih dahulu, sementara Cakra dengan dibantu oleh orang-orang berkemeja batik masih memasukkan beberapa barang ke dalam bagasi.
Lumayan memakan waktu karena memang cukup banyak barang yang harus mereka bawa pulang. Dan ketika ia tengah membalas chat Hanum juga Bening yang menanyakan apakah besok ia masuk sekolah atau tidak, Cakra telah mendudukkan diri di belakang kemudi.
"Langsung pulang?" tanya Cakra yang mulai melajukan kemudi keluar dari parkiran basement.
Tapi ia tak menghiraukan pertanyaan Cakra, matanya tetap berkonsentrasi di depan layar ponsel. Berbalas-balasan chat dengan Hanum dan Bening.
"Kamu langsung pulang atau mau kemana dulu?" ulang Cakra.
Pertanyaan yang membuat keningnya mengkerut. Sungguh percakapan paling aneh bagi pasangan yang baru menikah. Idealnya dengan tanpa bertanya, sang pria akan mengajak wanitanya ke tempat-tempat terindah yang paling spesial untuk honeymoon.
Sementara mereka? Pertanyaan garing Cakra sontak membuat bayangan menyenangkan tentang kehidupan pernikahan indah, romantis, dan dimabuk cinta yang sering dibacanya di novel-novel roman langsung buyar dalam sekejap.
"Ja?"
Ia menghembuskan napas panjang demi mendengar Cakra memanggil namanya.
"Kayaknya kita perlu ngobrol," jawabnya dengan nada tak yakin. "Ada banyak hal yang mesti kita omongin setelah semua ini."
"Aku juga mau ngomong sesuatu," Cakra menganggukkan kepala tanda setuju. "Mau ngobrol dimana?"
Ia mengkerut kearah Cakra, "Bisa nggak sih nggak nanya balik?!" sungutnya kesal.
"Kan kamu yang jadi suami! Yang katanya pemimpin dalam rumah tangga! Tapi tiap ada hal yang harus diputusin, kamu dikit-dikit nanya, bentar-bentar nanya. Buat keputusan sendiri dong!"
"Ntar aku tinggal pilih, setuju atau enggak!"
"Ini malah nanya lagi....nanya lagi!"
Namun Cakra hanya tersenyum mendengar omelannya, "Suami ya?"
"Apa?!" ia menjengit.
"Itu barusan kamu bilang, kalau suami pemimpin rumah tangga," Cakra masih tersenyum.
"Iya kan kata Pak Ustadz yang ngasih khutbah nikah tadi kalau su....," ia mendadak tercekat dengan omongan sendiri. Diliriknya Cakra yang sedang tersenyum-senyum simpul.
"Eh?!" bentaknya kesal. "Aku tahu apa yang ada di dalam kepala kamu ya!"
"Apa?" Cakra mengerling kearahnya dengan senyum yang makin lebar.
Namun ia hanya mencibir, "Itu barusan aku keceplosan! Namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa."
"Kamu juga pasti pernah keceplosan! Semua orang pernah keceplosan! Siapapun pernah!" rutuknya sebal demi mendengar suara tawa tertahan Cakra.
Pipinya bahkan sudah berubah menjadi kepiting rebus begitu menyadari telah sangat salah dalam memilih redaksional kata tadi. Yang sangat dimungkinkan bisa membuat Cakra ge-er setengah mati. Sialan!
"Jadi, jangan sampai kata-kataku tadi kamu putarbalikkan buat keuntungan pribadi!" ancamnya sambil mendecih sebal.
"Awas aja!"
Namun Cakra tak menanggapi kejengkelannya, justru mengerling sembari mengu lum senyum, "Aku nanya ke kamu karena nggak punya tempat yang recommended."
Membuatnya mencibir sembari memutar bola mata.
"Selain gerobak basonya Mas Warno sama Cafe di pinggiran kota yang isinya nenek-nenek sama kakek-kakek semua," lanjut Cakra yang kembali tertawa.
Ia masih memutar bola mata, kemudian berkata ketus, "Aku mau ngobrol serius. Perlu tempat yang nyaman, yang bisa sekalian makan, tapi juga nggak bakalan ketemu sama orang-orang yang kita kenal."
Cakra bukannya menjawab, lagi-lagi malah balik bertanya, "Kamu lapar? Kepingin makan apa?"
Akhirnya, karena pilihan tempat yang mampu mengakomodir semua keinginan hanyalah Cafe di pinggiran kota tempat mereka sering bertemu. Sedangkan jarak yang harus ditempuh cukup jauh, sementara hari sudah beranjak petang. Dan esok pagi mereka sudah harus masuk sekolah.
Akhirnya diputuskan untuk langsung pulang ke rumah. Dan memesan makanan secara online. Karena bagaimanapun, rumah adalah tempat yang paling aman dari kemungkinan bertemu dengan orang-orang yang mengenal mereka berdua. Sekaligus untuk meminimalisir resiko pernikahan mereka terbongkar dan diketahui oleh teman-teman.
Bagaimanapun ia masih belum siap jika seluruh dunia mengetahui keadaan sebenarnya saat ini. Ia masih ingin menikmati kehidupan seperti yang biasa ia jalani sebelum semua ini terjadi. Ia masih ingin berlaku seperti layaknya remaja usia 18 tahun lainnya.
"Gusti nu Agung Neng Anja?" begitu sapa Bi Enok yang langsung memeluknya begitu ia turun dari mobil. Sementara Mang Jaja dengan gesit membantu Cakra menurunkan barang-barang dari dalam bagasi.
"Kamana wae atuh Eneng teh (kemana saja), betah pisan di rumah sakit? Bibi meuni watir," Bi Enok terus saja memeluknya erat-erat.
"Semua orang nanyain Neng Anja ke Bibi," ujar Bi Enok lagi.
"Ari Bibi pan teu terang nanaon (nggak tahu apa-apa). Terangna Neng Anja ada di rumah sakit nungguin Bapak."
"Leres kitu kan, Neng (benar begitu kan)?"
"Kangen sama saya, Bi?" selorohnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Sama sekali tak menanggapi rentetan pertanyaan Bi Enok.
Sedangkan Cakra dengan dibantu oleh Mang Jaja masih sibuk menurunkan barang bawaan yang lumayan banyak. Terutama puluhan kotak bingkisan pernikahan mereka yang tersisa belum ada pemiliknya.
"Siapa tahu kalian berdua mau kirim bingkisan ke orang terdekat. Sengaja Teteh lebihkan ordernya," begitu kata Teh Dara tadi di rumah sakit sebelum mereka pulang.
Setelah mencuci tangan dan kaki, lalu mengganggu Candy yang sedang terkantuk-kantuk di ruang tengah hingga kucing lucu itu mengeong marah namun justru membuatnya tertawa. Ia berjalan menuju ke ruang tamu. Dimana Cakra telah duduk menunggu bersama bungkusan makanan pesanan mereka yang baru saja diantarkan oleh Ojek online.
"Biiii!" ia berteriak memanggil Bi Enok, namun Cakra mencegahnya.
"Eh, nggak usah manggil Bibi. Biar aku aja," begitu kata Cakra. "Boleh masuk ke dalam nggak?"
Ia mengernyit namun sembari mengangguk. Disusul Cakra yang masuk ke dalam. Tak lama kemudian, Cakra kembali muncul di ruang tamu dengan tangan penuh membawa peralatan makan dan air minum untuk mereka berdua.
"Kenapa ambil sendiri? Biar aja sama si Bibi," sungutnya.
Namun Cakra hanya tersenyum, tak mengatakan apapun. Lebih memilih untuk mengatur makanan yang dipesan ke atas meja agar siap untuk dimakan.
"Jangan lupa berdoa," ujar Cakra sembari mengerling ketika ia mulai menyantap makanan.
"Udah!" jawabnya ketus. Dari sudut mata ia tahu Cakra mengu lum senyum mendengar jawaban singkat yang diberikannya.
"Kamu lapar banget?" seloroh Cakra mungkin demi melihat cara makannya yang terburu-buru.
Ia mengangguk. "Makanan di rumah sakit sebenarnya enak. Tapi nggak tahu kenapa malas makan."
"Pelan pelan nanti keselek," gumam Cakra sambil tersenyum.
Namun ia hanya mendelik sebal.
"Kamu mau ngobrol apa?" tanya Cakra di sela-sela mereka makan.
Ia terdiam sebentar, sebelum akhirnya menjawab, "Kamu duluan deh yang ngobrol."
"Yakin aku dulu yang ngobrol?" seloroh Cakra.
Membuatnya merengut sebal, tapi sejurus kemudian mulai bertanya, "Kamu mau tinggal di rumahku?"
"Menurut kamu?"
"Eh! Bisa nggak sih nggak balik nanya?!"
Cakra terkekeh, "Ya kamu maunya aku tinggal dimana. Nanti aku lakuin."
Membuatnya memutar bola mata, "Mama sama Mas-mas nyuruh kamu tinggal dimana?"
Namun Cakra tetap menunduk berkonsentrasi pada makanan. Tak menjawab pertanyaannya.
"Ya udah, kamu ikutin aja apa kata Mama sama Mas-mas," ia kembali bersuara.
Cakra mengangguk, "Kamu nggak keberatan kalau aku tinggal disini?"
"Tinggal disini doang kan, nggak ngapa-ngapain?!"
Cakra kembali terkekeh, "Aku tidurnya di kamar tamu."
"Siapa juga yang minta kamu tidur di kamar aku?!" salaknya sengit. "Dih, ngarep?!"
Cakra hanya tersenyum simpul mendengar salakannya, "Barusan nanya ke Bi Enok, katanya ada kamar kosong di bawah. Aku udah minta ijin buat pakai kamar kosongnya."
Ia hanya mengangkat bahu tak peduli, "Terserah!"
"Aden," panggil Bi Enok yang tiba-tiba muncul di ruang tamu. "Itu kamarnya udah selesai saya bereskan. Tinggal dipakai."
Cakra tersenyum dan mengangguk, "Makasih banyak, Bi."
"Sama-sama," Bi Enok balas tersenyum. "Nanti kalau Aden perlu apa-apa, tinggal panggil saya atau Mang Jaja. Jangan sungkan ya."
"Bibi di belakang ya Neng Anja, kalau-kalau nyari," pamit Bi Enok.
"Iya, Bi," jawabnya. Namun sejurus kemudian konsentrasinya kembali kepada Cakra, "Meski kamu tinggal disini, tapi kita berangkat sekolahnya masing-masing kan?"
"Aku nggak mau anak-anak tahu kalau kita berdua udah menikah."
"Aku nggak mau anak-anak tahu kalau aku lagi hamil."
"Aku nggak mau orang-orang curiga kalau aku sama kamu....kalau kita...."
Cakra mengangguk, "Aku bawa motor. Kamu berangkat dan pulang sekolah seperti biasa sebelum ada aku."
"Bagus deh kalau ngerti," gumamnya pelan namun masih bisa terdengar oleh Cakra.
"Di sekolah juga....," kalimatnya menggantung di udara.
"Aku pingin sekolah seperti biasa. Nggak harus pusing sama komentar orang-orang."
"Iya, Ja, di sekolah kita tetap biasa seperti yang selama ini. Hidup masing-masing. Nggak saling kenal. Begitu?"
"Aku beneran belum siap kalau anak-anak tahu aku udah begini," gumamnya pelan.
"Minimal sampai kita lulus. Aku ingin semua berjalan normal seperti biasa."
"Iya," Cakra mengangguk. "Nggak akan ada orang lain yang tahu tentang kita."
Ucapan Cakra kali ini membuatnya tersenyum lega. Tapi sedetik kemudian kembali bertanya sambil mengernyit, "Kamu nggak bakal ngatur-ngatur aku kan?!"
"Aku masih bisa ngapa-ngapain nggak harus ngasih tahu kamu dulu kan?!"
"Enak aja kalau mesti laporan segala!" sungutnya sembari terus mengkerut.
Cakra langsung mendongak begitu mendengar kalimat yang diucapkannya. Hanya untuk menatapnya dalam-dalam. Yang entah mengapa langsung memantik desiran halus di dada. Desiran yang sama seperti saat ia melihat punggung berbalut jas hitam milik Cakra saat sungkeman tadi. Oh no, go away!
"Asal nggak membahayakan kamu sama yang ada di dalam perut kamu," Cakra berhenti sejenak untuk menghela napas. "Kamu bebas lakuin semua yang kamu suka. Nggak harus ngasih tahu aku."
"Cuma aku minta satu hal," Cakra menatapnya lekat-lekat. "Tolong bantu aku bisa penuhi janji ke Mama kamu, buat jagain kamu selama Mama di Singapura."
Membuatnya menelan ludah sembari mencibir.
"Kamu bisa bantu aku kan, Ja?"
"Iya, iya," sungutnya sebal.
"Meski kamu bebas ngapa-ngapain, tapi tolong jaga diri," ujar Cakra dengan nada serius.
"Kamu sekarang nggak sendirian, ada bayi yang har...."
"Iya...iya!" potongnya cepat. "Nggak usah dikasih tahu juga udah ngerti."
"Sama rutin cek ke dokter ya, Ja," ujar Cakra lagi.
"Iya," jawabnya sembari merengut. "Trus sekarang kamu mau ngomong apa nih?! Buruan, aku mau tiduran! Ngantuk!"
Tangan Cakra bergerak untuk mengambil sesuatu di dalam saku, yang ternyata adalah dompet. Lalu mengeluarkan selembar kartu dan diletakkan di atas meja.
"Tadi Mama kamu ngasih ini ke aku," ujar Cakra sembari menyorongkan kartu berwarna hitam itu padanya. "Bisa tolong titip?"
"Kenapa titip ke aku?!" ia mengkerut.
"Aku nggak biasa pegang kartu warna hitam begini," seloroh Cakra. "Biasa pegang ATM Simpanan Pedesaan yang isinya saldo minimal."
"Eh?!" ia tambah mengkerut.
"Sekali aja nggak nge...," Cakra tersenyum sambil mengatakan hal yang sering diucapkannya. Namun terpotong karena ia keburu melotot kesal.
"Ngapain pakai titip titip segala sih," gerundelnya. "Orang Mama juga ngasih ke aku."
Kini giliran Cakra yang mengkerut, "Serius?"
"Kenapa? kaget?!" ia memutar bola mata. "Udah biasa lagi Mama ngasih kartu kalau mau pergi ke luar agak lama. Kita yang ditinggalin disini kan juga butuh biaya. Emang mau makan daun?!"
Cakra tertawa, tapi sejurus kemudian kembali berkata serius, "Nggak, Ja. Beneran titip di kamu."
"Lagian semua juga buat keperluan kamu. Jadi, titip ya?"
"Nggak ah!" tolaknya cepat. "Ngapain pakai titip segala?!"
"Udah di kamu aja! Kalau emang nggak mau pakai ya udah nggak usah dipakai! Gitu aja ribet amat sih!" gerutunya kesal.
"Aku takut khilaf dan tergoda buat makai untuk hal-hal yang nggak penting," seloroh Cakra.
"Makanya titip di kamu. Biar kalau mau pakai, aku mesti ambil dulu ke kamu."
"Mesti usaha keras dulu. Bersusah payah dulu. Mesti dijutekin kamu dulu. Ujung-ujungnya biar nggak jadi pakai. Begitu."
"Eh?! Apa kamu bilang?!" ia mendelik sebal. "Mesti bersusah payah gimana tuh maksudnya?!"
"Kamu tuh ya kalau nggak ngejek aku pasti ngatain!" gerutunya kesal.
"Kayaknya punya kepuasan batin tersendiri kalau udah ngejek sama ngatain aku?!"
"Kenapa? Nggak bisa tidur kalau belum ngejek sama ngatain aku?!"
Namun rentetan kekesalannya malah membuat Cakra tertawa. Dan sebelum ia sempat menyemburkan protes lagi, Cakra kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam saku.
"Sama ini," sembari meletakkan remote mobil di atas meja. "Di kamu aja. Toh pakainya cuma buat nganterin kamu pergi."
Kali ini ia tak menolak. Diambilnya remote mobil seraya berkata, "Aku simpan di ruang tengah," ujarnya sambil menunjuk ke arah ruang tengah.
"Ada kotak khusus buat nyimpan semua kunci penting," lanjutnya.
"Jadi kalau kamu mau pakai tinggal ambil aja nggak usah bilang ke aku."
Cakra mengangguk.
"Udah, cuma mau ngobrol gini doang?!" tanyanya tak sabar.
Cakra menggeleng, "Ada lagi."
"Apa?!"
"Karena weekend bulan kemarin aku banyak nggak masuk kerja, jadi diganti ke weekdays. Tapi kalau lagi nggak ada jadwal ujian."
"Kalau udah ujian, aku full libur."
"Makanya dikejar sekarang. Biar nggak banyak absen yang bolong."
"Jadi, pulang sekolah aku langsung ke Retrouvailles atau ngantar paket atau kalau ada event tertentu ikut bantu-bantu semisal dipanggil."
"Mungkin tiap hari aku bakal pulang malam."
"Biasanya sampai rumah jam sepuluh an keatas."
"Kamu...nggak keberatan kan?"
"Kamu...kemana-mana masih diantar Pak Cipto atau harus sama aku?"
"Sama Pak Cipto," jawabnya singkat.
"Cuma itu?" ia jadi merasa tak enak hati. Di masa jelang ujian akhir seperti ini, Cakra masih saja bekerja sepulang sekolah. Apa namanya kalau bukan benar-benar bertanggungjawab. Padahal Mama sudah memberi kepercayaan penuh dengan menitipkan kartu pada Cakra. Tapi malah mau dititipkan padanya. Benar-benar cowok yang aneh.
"Sama sekarang, aku mau pulang ke rumah dulu sebentar. Ambil baju seragam sama barang keperluan yang lain. Tadi pagi nggak sempat bawa apa-apa soalnya."
"Oya, sekalian mau ambil motor."
Ia mengangguk, "Ya udah, terserah kamu."
"Sama satu lagi...bingkisan yang sisa," Cakra berhenti sebentar. "Boleh aku ambil dua buat dikas..."
"Ambil semua. Aku nggak perlu ngasih ke siapa-siapa kok. Palingan buat Bi Enok, Mang Jaja, Pak Cipto, sama satpam tiga orang. Sisanya kamu ambil aja. Biar nggak mubadzir."
"Makasih," Cakra mengangguk. "Ya udah sekarang kamu tidur duluan. Aku balik lagi kesini malam banget."
Tapi ia hanya mencibir, "Emang mau tidur. Lagian siapa juga yang mau nungguin kamu. Dih, ge er!"