Beautifully Painful

Beautifully Painful
44. Road to ....



Sada


"Dia bersih."


Ia menatap kakaknya tak mengerti. Semalam begitu sampai di rumah sakit, Mas Tama langsung menemui Mama dan tertidur di samping Mama mungkin karena saking lelahnya. Membuat mereka baru bisa bercakap-cakap pagi ini di Cafetaria sembari menikmati secangkir espresso dan sepiring roti bakar hangat.


"Benar-benar sudah putus hubungan dengan masa lalu ayahnya."


Ia mulai mengerti. Dari data yang dikirim Mas Tama melalui email sudah tertulis dengan jelas, jika Cut Rosyida, satu-satunya istri dari Hamzah Ishak lebih memilih untuk mengungsi ke rumah saudaranya di Muara Bungo daripada mengikuti eksodus para tokoh GNM dan keluarganya mencari suaka ke luar negeri.


Namun hanya bertahan sekitar dua tahun menumpang di tempat saudaranya, Cut Rosyida kemudian memutuskan untuk merantau ke Jakarta dengan membawa serta dua anak lelakinya, Iskandar dan Cakradonya. Yang tak pernah diduga berhasil memasuki kehidupan aman tenteram keluarga mereka melalui sang adik, Anja. Unpredictable.


"Jadi nggak masalah?" ingatannya kembali melayang pada kejadian semalam dimana Cakra tengah membacakan cerita untuk Anja.


"Beberapa mantan tokoh GNM bahkan ada yang jadi pejabat publik," tambahnya sembari menyesap espresso yang masih mengepulkan uap panas. "Case closed with happy ending."


Tapi Mas Tama menggeleng, "Tapi yang satu ini beda."


"Karena Hamzah Ishak yang nembak Papa waktu pengepungan pasukan gabungan?" tebaknya dengan mata penat. Permasalahan ini bukan hanya tentang adik kecilnya yang hamil di usia muda, tapi tentang perseteruan dua pria dengan latar belakang berlawanan. Papa mereka dan Ayah Cakra.


Mas Tama menghembuskan napas panjang, "Aku nggak bisa bayangin reaksi Papa kalau sembuh nanti begitu tahu Anja....."


"Apa Papa masih bisa mengingat semua?" kejadian tersebut sudah berlalu puluhan tahun silam. Bahkan jauh sebelum Anja dan Cakra dilahirkan. Ketika Papa baru merintis karier di korps nya dengan ditempatkan di daerah yang sedang menerapkan operasi militer. Sementara Ayah Cakra pastinya menjadi panglima muda GNM paling pemberani dan sulit diringkus yang pernah ada.


"Kejadian itu jelas menjadi titik nadir awal karier Papa. Operasi gabungan yang disusun hampir sempurna gagal total ditambah Papa hampir terbunuh."


Mereka kemudian sama-sama terdiam, mencoba memikirkan jalan keluar terbaik. Ia memilih menyantap roti bakar untuk membuka cakrawala, sementara Mas Tama menyesap rokok dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Hingga asap putih mengelilingi udara sekitar tempat mereka duduk.


"Tapi dia bisa lolos waktu senggolan sama Gabriel," gumamnya mengingat satu catatan penting tentang Cakra.


"Faktor luck," jawab Mas Tama yakin. "Kalau dia berani lawan palingan udah habis sama kayak kasus di tempat lain."


Dalam rekam jejak disebutkan, Cakra yang cerdas dan tak memiliki banyak teman sempat berurusan dengan beberapa anak orang berpengaruh. Karena kehadirannya di Pusaka Bangsa langsung merubah standar tingkat kecerdasan yang biasanya diduduki oleh anak-anak tersebut.


Cakra sebagai anak baru diluar perkiraan siapapun justru berhasil meraih banyak kejuaraan bergengsi, puncaknya gold medal OSN tingkat nasional. Jauh mengungguli anak-anak tersebut. Menimbulkan rasa marah dan ketersinggungan.


Ia tahu pasti Cakra hampir saja dihabisi oleh anak-anak tersebut. Tapi rupanya faktor luck masih menaungi, karena Cakra justru memilih untuk menghancurkan diri sendiri dengan -berlagak- menjadi siswa bo doh dan bermasalah di sekolah daripada harus melawan dengan menunjukkan kemampuan yang dimiliki.


Ia bahkan tak habis pikir, Cakra yang telah diperlakukan sangat tak adil, bahkan dihancurkan sedemikian rupa tapi masih bisa bertahan. Apa namanya kalau bukan, darah pejuang benar-benar mengalir di nadinya?


Dan kini, ABG tanggung berkepribadian kuat itu telah menghancurkan masa depan Anja. Unbelievable story. Jika saja Cakra hanya seorang ABG biasa kebanyakan, bukan anak Hamzah Ishak dan tak memiliki track record yang pernah menyerempet bahaya. Ia dan kakaknya mungkin bisa menyelesaikan permasalahan dengan cepat dan senyap. Tapi dengan masalah sekompleks ini?


"Gimana kalau kita pakai rencana awal?" Mas Tama mencoba memberi pilihan. "Rencana kamu yang pertama?"


***


Cakra


Tepat jam 9 pagi, setelah mengantar Mamak ke lantai 3 untuk bertemu dengan Mama Anja, kemudian beranjak ke lantai 8 guna mengantarkan sekotak ayam tangkap dan kue cucur yang masih hangat untuk Anja. Barulah ia bisa bertemu dengan Mas Tama dan Mas Sada di lantai 3. Sengaja memilih lantai yang sama karena ia sempat mendengar Mama Anja berpesan pada Mas Tama agar, "Jangan jauh-jauh, Tam. Nanti kita harus ngumpul berlima."


Kini ia duduk di atas sofa seperti seorang pesakitan. Berhadapan dengan Mas Tama dan Mas Sada yang seakan sedang mengulitinya habis-habisan.


"Dengarkan baik-baik, karena saya nggak akan mengulang untuk yang kedua kalinya," begitu Mas Sada membuka forum penghakiman dirinya tanpa mukadimah.


"Kalau ada yang perlu ditanyakan simpan dulu sampai saya selesai bicara!"


Ia mengangguk.


"Papa fixed pindah hari Senin pagi. Kami baru dapat pemberitahuannya satu jam yang lalu."


"Mengejutkan memang. Karena jauh lebih cepat dari jadwal yang kemarin diperkirakan oleh pihak rumah sakit, sekitar hari Rabu atau Kamis."


"Jadi kalian sudah harus menikah besok."


Ia terperanjat.


"Waktunya siang atau sore. Nunggu slot kosong dari penghulu. Kabarnya menyusul."


"Kamu tahu sendiri weekend di bulan-bulan ini banyak orang yang melangsungkan pernikahan."


"Sebenarnya yang penting bagi kami bukan momen pernikahannya. Tapi kehidupan sesudah pernikahan."


"Pernikahan, apapun yang terjadi pasti harus dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab kamu. Tapi kehidupan setelah pernikahan, ini yang mau kita bahas."


Ia mulai mengerti arah pembicaraan Mas Sada. Jujur saja, jauh di dalam lubuk hatinya sempat terbersit hal seperti ini. Menikah tapi tak sesungguhnya menikah. Apa istilahnya? Menikah di atas kertas?


Ia paham betul, selain karena Anja yang terkadung hamil, sebenarnya tak ada alasan lain bagi keluarga Anja untuk menerima kehadirannya dengan tangan terbuka.


Apalagi kalau bukan karena perbedaan status sosial mereka -klise memang- yang jauh membentang lebar. Kenyataan bahwa ia adalah anak kandung dari seorang Hamzah Ishak turut berpengaruh besar.


Ya, mana mungkin Papa Anja yang pernah tergabung dalam pasukan gabungan TNI/Polri untuk meringkus gerilyawan pemberontak hampir puluhan tahun silam, hingga mengakibatkan Papa Anja hampir meregang nyawa karena tertembak timah panas bidikan ayahnya, mau menyetujui pernikahan ini. Impossible.


Ia masih terlindungi dari kehancuran karena Papa Anja kini tengah terbaring sakit. Jika semua dalam keadaan normal, bisa dipastikan ia takkan bisa melakukan apapun selain pasrah menerima nasib yang pastinya akan lebih buruk dibanding kehidupan mengerikannya selama 4 tahun di Pusaka Bangsa.


"Untuk sekarang belum bisa pakai hitam di atas putih," ujar Mas Sada kembali melanjutkan. "Ribet dan terlalu mendadak."


"Nggak tahu besok kalau urusan perpindahan Papa sudah selesai."


"Sekarang kamu bisa dipegang omongannya nggak?!"


"Bisa," ia mengangguk.


"Bagus! Dan saya rasa kamu tahu apa konsekuensinya kalau berbohong kepada kami berdua?!"


"Tahu, Mas," lagi-lagi ia mengangguk. Tahu pasti takkan bisa berkutik di hadapan dua reserse senior seperti dua kakak Anja ini.


"Mungkin nanti Mama kami akan mengatakan hal-hal lain yang berbeda. Kita harus bekerja sama disini," ujar Mas Sada sembari menatapnya tajam.


"Kamu iyakan saja semua perkataan Mama."


"Tapi yang jadi pedoman adalah ucapan kami berdua."


"Kalian menikah, tetap sekolah seperti biasa sampai ujian selesai."


"Kalian boleh berkomunikasi secukupnya hanya agar Mama tak curiga, tapi kamu!" telunjuk Mas Sada mengarah padanya. "Tetap tinggal di rumah kamu sendiri!"


"Nggak ada itu namanya tinggal bersama!"


"Nanti begitu anaknya lahir, kalian nikah ulang!"


Ia mengernyit.


"Ustadzah yang biasa diikuti kajiannya oleh Mama yang merekomendasikan."


"Saya pikir sebenarnya nggak perlu, toh setelah urusan surat menyurat anak selesai, kalian juga akan bercerai."


Ini sudah bisa diduga dari awal, tapi tetap tak percaya mendengar kalimat menyakitkan seperti ini diucapkan langsung dan didengar oleh telinganya tanpa tedeng aling-aling.


"Tapi Mama maunya begini. Ya sudah kita ikuti saja."


"Kamu jelas kan posisi kamu dimana?" Mas Sada menatapnya lekat-lekat persis seperti seorang penyidik yang sedang menginterogasi tersangka.


"Jelas, Mas," jawabnya dengan lidah kelu.


"Sekarang mau tanya apa?"


Ia berdehem sebentar guna menghilangkan grogi, untuk kemudian berkata pelan, "Maaf, tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat. Nanti saya harus mempersiapkan dana berapa untuk acara pernikahan?"


***


Sada


Sejak pertama kali melihat keberadaannya di rumah sakit ketika hendak menjenguk Papa ketika terkena serangan stroke yang pertama seminggu lalu, ia sudah memiliki penilaian lain terhadap Cakra. Sorot matanya terlihat berbeda dibanding anak-anak seusianya. Cakra jelas memiliki sorot mata yang tajam, kuat, tapi menyimpan banyak luka dan kemarahan. Well, kalau Dara mendengar pendapatnya ini pasti akan tertawa.


"Sok tahu deh," begitu pasti komentar Dara. "Harus teruji secara klinis, Mas."


Namun dengan senang hati ia pasti akan menjabarkan secara detail penglihatannya. Tajam jelas menandakan karakter Cakra yang tak mudah terintimidasi oleh orang lain dan tak sudi berada di bawah perlakuan semena-mena orang lain. Terbukti dengan kasus lamanya bersama Gabriel.


Kuat, menginterpretasikan kepribadian yang tangguh, karena meski seluruh dunia bergerak memusuhinya, ia tetap bisa bertahan tanpa harus kehilangan marwah diri. Luar biasa sebenarnya. Jarang-jarang ada ABG tanggung memiliki karakter sekuat ini. Jelas bibit potensial. Sayangnya Cakra telah dengan lancang menghamili Anja, dan sayang seribu sayang lagi dia anak keturunan Hamzah Ishak. Double killed!


Sementara mata penuh amarah dan luka tak perlu dijelaskan lagi, sudah nyata terbukti dengan pengalaman hidup yang selama ini dialami oleh Cakra.


Dan analisanya terbukti dengan sikap teguh Cakra yang berniat menghandle biaya pernikahan. Ia hampir terbahak namun masih bisa ditahan. Karena Mas Tama yang akhirnya angkat bicara, "Kamu cukup bayar biaya administrasi resmi untuk ke KUA. Yang lain biar kami yang tangani."


"Nggak tahu berapa biaya resminya?" Mas Tama balik bertanya. "Sama! Saya juga nggak tahu!"


"Coba kamu cek aja ke situs resmi atau ke KUA nya langsung," lanjut Mas Tama lagi.


"Kamu cukup bawa mas kawin," ia menambahkan. "Ya semampu kamu."


***


Mama Anja


"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang telah diperbuat oleh anak saya," begitu kalimat pertama yang diucapkan oleh seorang wanita berperawakan kurus namun masih menyisakan garis-garis kecantikan di wajahnya.


Wanita itu kembali hendak mengucapkan sesuatu, tapi ia keburu menyentuh tangannya sekilas, "Anak kita berdua sama-sama telah melakukan kesalahan. Bukan Cakra saja."


"Sekarang yang bisa kita lakukan adalah membantu mereka untuk keluar dari semua permasalahan ini dengan cara yang baik."


Wanita itu mengangguk, "Agam akan bertanggungjawab."


Ia ikut mengangguk, "Saya tahu."


"Kapanpun Agam siap," ujar wanita itu lagi. Yang meski berpenampilan sangat sederhana, tapi pembawaannya begitu tenang dan meyakinkan. Tak jauh berbeda seperti pembawaan para istri PJU (pejabat utama) yang terbiasa tampil di depan orang banyak. Membuat hatinya sedikit bertanya, siapa sebenarnya orangtua Cakra ini?


Ia menghela napas sebentar, "Suami saya akan dipindah ke rumah sakit lain. Jadwal semula hari Rabu atau Kamis. Cukup waktu untuk kita membicarakan banyak hal."


"Tapi sekitar sejam yang lalu, ada pemberitahuan kalau suami saya akan dipindahkan hari Senin. Lebih cepat dari jadwal semula."


"Jadi, saya ingin.....pernikahan dilakukan sebelum suami saya dipindahkan perawatannya."


"Dan hanya ada hari besok."


Wanita di hadapannya tersenyum mengangguk, "Baik, besok Cakra akan menikahi Anjani."


***


Anja


Ia sendirian dan gelisah menunggu di ruangan hanya ditemani oleh Nemo dan Grizzly. Sambil melahap ayam tangkap buatan ibunya Cakra yang lezat dan kue cucur yang terasa manis.


"Makan ya," begitu kata Cakra yang jam 9 lewat sedikit tadi, menyempatkan diri datang kesini hanya untuk menyerahkan sekotak ayam tangkap dan kue cucur. Selepas itu langsung pergi lagi.


"Mau ketemu Wakasek kesiswaan," begitu seloroh Cakra. "Doain ya."


Ia tersenyum sendiri demi mengingat Cakra tak lagi semuram seperti hari kemarin. Sudah bisa melempar canda meski garing dan receh.


Kini pikirannya semakin berkelana kemana-mana, kira-kira apa yang sedang dibicarakan oleh semua orang? Pasti sedang membicarakan tentang dirinya. Tapi ia sama sekali tak diajak bicara. Menyebalkan.


Namun tak berselang lama, Teh Dara sudah muncul di ruang perawatannya sambil tersenyum lebar, "Pagi, cantiiiik."


"Apa sih, Teh," ia bersungut-sungut.


"Kata Perawat di depan, kamu besok udah boleh pulang," jawab Teh Dara dengan wajah sumringah.


"Tapi sebelum itu, nanti sore periksa kandungan dulu ya," lanjut Teh Dara. "Mau ditemani sama siapa?"


Membuatnya memberengut.


"Ditemani Cakra ya?" seloroh Teh Dara seraya mengerling kearahnya.


Ia hanya mengangkat bahu.


"Kamu mau jadwal yang jam berapa?" tanya Teh Dara lagi. "Jam empat atau tujuh malam? Biar sekarang Teteh daftarin."


Lagi-lagi ia mengangkat bahu.


"Jam tujuh malam aja ya, gimana? Karena siang sampai sore kita berdua mau pergi."


"Kita berdua?" ia mengernyit heran.


Teh Dara tampak mengu lum senyum, "Iya, barusan sebelum kesini Teteh lihat Mama dulu. Eh, ternyata Mama lagi ngobrol berdua sama mertua kamu," sambil menjentikkan jari ke ujung hidungnya.


"Teteh ih," ia memberengut.


"Jadi ya, Teteh langsung kesini khawatir ganggu acara ramah tamah," ujar Teh Dara dengan ekspresi kocak. "Tapi sebelum pergi, sama Mama dibisikkin. Teteh diminta nyiapin baju buat acara besok."


"Baju?" ia mengernyit. "Acara besok apa?"


"Menikah lah, apalagi," jawab Teh Dara dengan wajah sumringah. "Kamu besok mau pakai gaun yang mana? Atau mau beli yang baru? Kebetulan siang ini Teteh mau keluar sama Cakra. Biar sekalian."


"Menikah?" tanyanya heran. "Besok?"