Beautifully Painful

Beautifully Painful
96. You're Always on My Mind



Cakra


Aktivitas training dimulai usai Subuh. Seluruh peserta diharuskan berlari mengelilingi lapangan sebanyak lima putaran. Kemudian melakukan senam pagi bersama.


Setelah itu diberi waktu sekitar 30 menit untuk urusan pribadi. Yaitu mandi dan sarapan. Lalu tepat pukul 07.00 WIB mereka kembali menuju ke lapangan guna mengikuti apel pagi.


Dilanjutkan dengan latihan PBB (peraturan baris berbaris). Kemudian pembekalan materi di dalam kelas.


Dimana mereka memperoleh materi tentang sejarah berdirinya PT AxHM, visi dan misi perusahaan, corporate profile, nilai satu jiwa. Hingga sikap kerja yang baik, perilaku seorang karyawan, juga pembekalan safety riding.


Siang hari mereka mendapat jatah waktu istirahat selama satu jam. Yang biasanya dipergunakan untuk tidur. Karena saking padatnya jadwal kegiatan yang diikuti. Membuat kondisi fisik harus selalu prima. Jadi tidur siang menjadi menu wajib bagi mereka yang ingin mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik.


Sementara sore hingga malam hari mereka lebih banyak melakukan orientasi dan kegiatan fisik. Seperti melakoni bermacam games team building guna membentuk karakter. Juga rafling dan wall climbing.


Ditambah kejutan yang acap kali diberikan oleh instruktur. Berupa tugas baru atau aktivitas fisik lainnya. Membuat mereka harus selalu on dan siap sedia mengerjakan instruksi mendadak yang diberikan.


"Kita gini-gini amat ya," keluh Udin sambil telentang di atas tempat tidur. Kelelahan sebab disuruh push up dan skot jump oleh instruktur usai orientasi malam.


"Emang kita mau kerja apa sih di AxHM. Sampai trainingnya seberat ini," lanjut Udin lagi. "Kayak mau jadi TNI aja."


"Iya," sahut Mamat yang tempat tidurnya tepat berada di atas tempat tidur Udin. "TNI enak abdi negara dapat pensiun. Kita?"


"Kontrak per 12 bulan," sambung Mamat sambil menghela napas. "Habis itu harap-harap cemas masuk lagi atau enggak."


"Ini terlalu lebay nji r," Theo ikut bersuara. "Mau kerja di pabrik apa wajib militer."


"Nanti pas kerja beneran juga nggak gini-gini amat."


"Yang disiplin mah disiplin. Yang bandel ya tetep aja bandel."


Kemudian semua orang yang ada di ruangan mulai bicara secara bersamaan. Ada yang setuju dengan pendapat Udin cs. Tapi ada juga yang tidak setuju.


Alasannya kurang lebih karena tak semua orang memiliki kesempatan seperti mereka.


"Ini tuh pengalaman woy! Nggak akan terulang. Mana gratis lagi."


"Elah cemen amat cuma disuruh push up 20 kali langsung ngedrop."


"Ini baru hari kedua, Slur! Perjalanan masih panjang."


Sementara ia sama sekali tak ingin ambil pusing. Hanya diam dan lebih memilih untuk memandangi foto Anja yang sedang tersenyum lebar.


Foto ukuran 2R hasil screenshot ketika ia merekam Anja di dalam Taxi Online sepulang dari Pasar Malam menuju hotel tempat mereka menginap beberapa waktu lalu.


"Apaan nih!"


Dalam sekejap foto Anja telah lenyap dari genggaman tangannya.


"Wuidih, gila! Cakep banget," seru Sarip membuat semua orang tertarik untuk mengerubungi.


"Apaan?"


"Foto siapa?"


"Mana lihat?"


Semua bergerak mendekati Sarip penuh rasa ingin tahu.


"Bawa foto begituan ntar kena razia sama instruktur," komentar seseorang.


"Foto begituan apaan? Bacot lu!" gerutu Sarip tak setuju. "Lihat dulu foto tentang apa."


"Wah, siapa tuh?"


"Cakep ji rr."


"Bening."


Dengan tanpa mengatakan apapun ia buru-buru bangkit untuk merebut kembali foto Anja dari tangan Sarip.


"Yah, kok diambil sih."


"Siapa, Cak?"


"Cewek lu?"


"Nyari dimana tuh bisa dapat yang bening begitu?"


"Masih ada stok nggak yang kayak gitu?"


Ia hanya tertawa sumbang. Sama sekali tak berniat menjawab rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang dengan tingkat kekepoan tertinggi.


Sedangkan Sarip mulai menghalau kerumunan agar kembali ke tempat tidur masing-masing, "Bubar! Bubar!"


Setelah suasana lebih kondusif, Sarip yang tempat tidurnya bersebelahan dengannya mulai tertawa mengejek, "Dasar bucin lu!"


Ia balas tertawa.


"Cewek lu?" tebak Sarip kepo. "Nggak mungkin adek lu kan?"


"Atau kakak adek an?" seloroh Sarip. "Kedok biar bisa pdkt."


Ia kembali tertawa. Kemudian berkata sambil tersenyum bangga, "Bini gua."


"Ji rr!" Sarip justru tergelak. "Bucin halu!"


Keesokan hari ia kembali melalui rutinitas yang sama. Beribadah, lari keliling lapangan, senam pagi, apel pagi, latihan PBB, materi di dalam kelas.


Meski melelahkan dan cukup menguras tenaga, namun semua ia lakukan dengan sepenuh hati. Benar-benar menaruh harapan besar ia bisa langsung diterima bekerja usai training berakhir.


Agar bisa mempunyai pegangan uang untuk biaya melahirkan Anja kelak. Karena saat ini ia benar-benar tak memiliki tabungan sepeserpun untuk persiapan bekal melahirkan. Gaji terakhir dari Retrouvailles bisa dipastikan langsung ludes untuk membayar biaya periksa kandungan Anja minggu depan.


"Push up dulu!" seru para instruktur ketika siang ini mereka tengah berbaris rapi menuju ruang makan.


Praktis sebanyak 3 kali sehari selama 5 hari training, mereka melakukan rutinitas serupa. Yaitu push up sebelum menikmati makanan paling hits berjuluk bubur Cileungsi.


Bukan bubur dalam arti sebenarnya. Tapi ini adalah istilah untuk nasi yang dicampur dengan semua lauk yang ada. Kemudian diedarkan secara berurutan dari tangan ke tangan. Barulah mereka makan secara bersama-sama.


Unik memang. Sekaligus membentuk rasa kebersamaan dan persaudaraan yang cukup tinggi selama mereka mengikuti training.


Atau kegiatan orientasi di danau persahabatan. Dimana mereka berendam di kolam sedalam 1 M. Mendengarkan apa yang disampaikan oleh instruktur.


"Ini adalah tempat untuk menempa diri dan membentuk sikap!"


"Dimana waktu 24 jam yang kalian miliki harus dipergunakan dengan optimal."


"Tidak ada yang terbuang sia-sia."


"Karena setiap detik yang kalian lewati itu sangat berharga. Dan harus menghasilkan output yang nyata."


Dan yang tak kalah seru pastinya yel-yel penyemangat yang senantiasa mereka dengungkan dalam setiap kesempatan. Serta kegiatan pamungkas di penghujung waktu training. Yaitu renungan malam.


Dimana mereka berkumpul di tengah lapangan. Mengelilingi api unggun. Sambil mendengarkan kalimat motivasi yang diberikan oleh para instruktur.


"Semoga banyak hal positif yang bisa kalian ambil selama 5 hari di sini."


"Ingat, kawan. Dimanapun kita berada, selalu lakukan yang terbaik dengan sepenuh hati."


"Karena usaha takkan mengkhianati hasil."


"Tetaplah menebar kebaikan."


"Dan jangan pernah lelah untuk selalu memberikan yang terbaik."


Membuat waktu 5 hari tak terasa telah mereka lalui. Dalam kebersamaan, persaudaraan, juga rasa suka dan duka.


Kini ia tengah tersenyum-senyum sendiri sambil membereskan barang-barang di dalam lemari. Sebelum nanti mengikuti upacara penutupan. Lalu pulang ke rumah masing-masing.


Sama seperti yang lain. Ia pun tak sabar untuk segera pulang ke rumah. Kembali bertemu dengan Anjanya tersayang.


Kira-kira selama 5 hari ini apa saja kegiatan yang Anja lakukan? Apakah cemberut seharian karena ia tak kunjung pulang? Atau ngomel tak jelas karena mereka benar-benar tak bisa berkomunikasi selama 5 hari ke belakang?


Sungguh ia sudah teramat rindu ingin segera memandang wajah yang selalu membuat hatinya terasa penuh itu.


Upacara penutupan mereka lalui dengan penuh sukacita. Ditutup dengan yel-yel penyemangat yang membuat semangat mereka berkobar.


'Datang akan pergi


Lewat kan berlalu


Ada kan tiada bertemu akan berpisah


Awal kan berakhir


Terbit kan tenggelam


Pasang akan surut bertemu akan berpisah'


Usai upacara penutupan, mereka saling bersalaman satu sama lain. Termasuk dengan para instruktur.


Saling memaafkan, bertukar nomor, atau sekedar berfoto bersama untuk kenang-kenangan.


"Sampai ketemu lagi di Sunter hari Senin besok," seloroh mereka semua dengan wajah sumringah.


Karena dalam seleksi tahap kedua ini, seluruh peserta dipastikan lolos. Dan berhak untuk melakukan penandatanganan kontrak kerja pada hari Senin mendatang.


Alhamdulillah.


Itu artinya satu fase telah berhasil ia lewati. Selanjutnya tinggal melalui jalan yang telah terbentang di depan. Sekaligus melakukan yang terbaik.


Saat ini ia sedang berjalan pulang menuju ke pintu gerbang keluar. Beriringan bersama Sarip, Theo, dan Sidik. Ketika dari kejauhan matanya berhasil melihat penampakan sebuah kendaraan yang cukup familiar.


"Begitu kan? Kalau lu gimana?" tanya Theo padanya yang sama sekali tak digubris. Karena ia tengah memperhatikan kendaraan yang terparkir di samping pintu gerbang keluar dengan seksama.


"Kunaon (kenapa)?" Sidik mengikuti arah pandangan matanya penuh rasa ingin tahu.


"Kayak kenal," gumamnya sedikit ragu karena masih belum yakin.


Yang langsung disambut oleh gelak tawa Sarip. "Ah elah, Cak! Paling mobilnya Pak Efraim atau orang Axtra yang lagi nunggu."


"Sotoy!" Sarip masih terbahak. Sementara Theo dan Sidik hanya bergumam tak jelas sambil ikut memperhatikan kendaraan prestisius yang cukup menarik perhatian.


Dan begitu langkahnya kian mendekat. Matanya langsung menangkap sosok tak kalah familiar sedang berdiri di samping kendaraan tersebut.


"Pak Cipto?" gumamnya senang.


"Pak Cipto siapa?" Sarip segera menghentikan tawanya. "Orang Axtra?"


"Lu kenal orang dalam?" Theo malah ikut menuduh.


Tapi ia tak menggubris. Terus saja melangkahkan kaki panjang-panjang mendekati kendaraan yang terparkir di samping pintu gerbang keluar sambil berseru dengan riang,


"Pak Cipto?"


***


Anja


Entah mengapa ia merasa sangat betah tinggal di rumah Cakra. Meski sepanjang hari kepanasan karena tak ada AC. Membuatnya harus selalu stand by di depan kipas angin agar tak bermandikan keringat.


Lalu jika malam tiba, nyamuk segede kebo akan mengerubuti. Hingga tiap bangun pagi selalu muncul bekas gigitan berwarna merah di sepanjang kaki juga tangannya. Akibat tak pernah memakai lotion anti nyamuk karena tak mau mencium aroma lotion yang menusuk hidung.


Namun ia tetap merasa senang.


Seperti ada perasaan damai yang melingkupi, begitu?


Mengikuti rutinitas kehidupan penuh kesederhanaan di rumah Cakra. Kini ia bahkan sudah hapal dengan suara seretan sandal Mamak usai mengambil air wudhu yang selalu ia dengar tiap jam 1 pagi. Disusul oleh Kak Pocut yang mulai beraktivitas memasak di dapur sekitar jam 2.30 pagi.


Tak lama kemudian ia akan mendengar suara adzan Subuh berkumandang dan bersahutan dari kejauhan. Lalu Icad, Umay, dan Sasa mulai terbangun. Tak jarang mereka bertiga harus bertengkar terlebih dahulu untuk memutuskan siapa yang pertama masuk ke kamar mandi.


"Aku pertama!"


"Aku dulu!"


"Aku!"


"Aku mau duluan!"


"Mamaaaa! Abang dorong-dorong!" jerit Sasa sambil menangis.


Lalu sarapan. Siap-siap berangkat ke sekolah. Tak lama berselang Mamak pergi ke Keude. Sementara Kak Pocut masih menyelesaikan beberapa menu masakan di rumah. Sebelum nanti sekitar jam 9 an menyusul pergi ke Keude.


Dan seharian ia akan ikut menunggu di Keude. Hari pertama ia masih duduk diam sambil memperhatikan keadaan. Sekaligus merasa malu karena banyak pembeli yang menanyakan jati dirinya.


Hari kedua ia mulai terbiasa dan ingin membantu Mamak melayani pembeli.


Hari ketiga ia sudah mendapat tugas menjadi kasir. Alangkah senangnya.


Lalu sore hari ia pulang ke rumah terlebih dahulu bersama Kak Pocut. Istirahat sebentar sebelum Kak Pocut mulai memasak lagi untuk memenuhi pesanan orang-orang. Sementara ia bermain Barbie dengan Sasa.


Kemudian malam hari usai sholat Isya, Mamak mulai mengajarinya merajut.


"Bisa seperti memegang pensil," ucap Mamak seraya memberikan contoh cara memegang hakpen.


"Atau memegang pisau," lanjut Mamak. "Dua-duanya sama. Nggak ada yang paling benar atau salah."


"Kalau udah enak pegangnya, sekarang kita latihan membuat simpul."


"Begini."


"Iya benar."


"Susah, Mak?" ia meringis tak mengerti.


"Tak apa, coba saja."


"Kalau simpul sudah, sekarang kita latihan membuat rantai."


"Kusut, Mak?" ia hampir menyerah karena sama sekali tak memiliki intuisi.


"Nggak apa-apa. Nanti lama kelamaan Anjani bisa tahu kapan harus menahan benang supaya tak terlalu longgar atau terlalu rapat."


Namun sudah bisa ditebak, 5 menit kemudian ia akan menyerah. Lebih memilih untuk menonton Mamak yang dengan cekatan merajut jaket mungil yang lucu.


Usai merajut ia akan menonton TV sebentar sambil bermain tebak-tebakan dengan Icad. Tepat jam 9 malam ia sudah masuk ke dalam kamar bersiap untuk tidur.


Meski pada kenyataannya lebih sering nyalang memandangi langit-langit kamar Cakra yang telah usang. Sembari membayangkan kira-kira apa yang sedang Cakra kerjakan di tempat training.


Begitu terus berulang setiap hari tanpa pernah merasa bosan. Hingga akhirnya hari Jum'at yang dinanti pun tiba.


Semalam ia sudah menelepon Pak Cipto untuk menjemputnya ke rumah Cakra. Lalu mengantarkan ke Cileungsi.


Ya, ia akan memberi kejutan dengan menjemput Cakra tepat di depan gerbang tempat diadakannya training. Menyenangkan bukan?


"Cakra udah kelihatan belum, Pak?" tanyanya tak sabar setelah mereka menunggu selama hampir setengah jam.


"Belum, Neng," jawab Pak Cipto yang berdiri di samping mobil memperhatikan satu persatu orang yang baru saja keluar dari pintu gerbang.


"Ini saya juga bingung, karena wajahnya sama semua."


"Sama gimana, Pak?"


"Itu rambutnya pada botak semua. Jadi wajahnya terlihat sama. Susah bedainnya."


Ia tertawa sambil memperhatikan sekelompok orang berkemeja putih yang baru saja keluar dari pintu gerbang.


"Nanti kalau Cakra udah kelihatan, kasih tahu ya Pak."


"Baik, Neng."


Ia pun menunggu kedatangan Cakra sembari ngemil oat cookies yang chewy dan menonton We Bare Bears.


Ketika sudah mulai bosan dan mati gaya, matanya tak sengaja menangkap bayangan sesosok jangkung yang sangat dikenalnya melalui rear vision mirror.


Sedang berjalan dengan beberapa orang dan memandang lekat-lekat mobil yang ditumpanginya.


"Pak Cipto?"


Begitu telinganya mendengar suara paling menyenangkan yang sangat dirindukan. Serta merta ia membuka pintu mobil dan beranjak keluar.


"Bisa sampai sini Pak Cipto?" tanya Cakra heran. Sementara tiga orang teman yang berjalan di samping kanan dan kiri Cakra hanya bisa terbengong-bengong.


Namun sebelum Pak Cipto sempat menjawab, Cakra telah lebih dulu melihat kemunculannya dari dalam mobil.


"Anja?" bisik Cakra lirih sambil menatapnya tak percaya.


Tapi ia masih bisa mendengar dengan jelas.


Dengan tergesa Cakra berjalan menghampirinya yang berdiri di sisi mobil.


Kini mereka telah berdiri berhadap-hadapan dalam jarak kurang dari dua meter.


Bibirnya spontan menyunggingkan senyum begitu melihat penampilan baru Cakra.


"Ja?" Cakra menatapnya lekat-lekat sambil mengulum senyum.


Namun ia justru tertawa. "Rambut kamu kemana?"


Cakra ikut tertawa sambil mengusap kepala yang hanya ditumbuhi rambut sepanjang 1 Milimeter.


Kini mereka kembali saling menatap sambil sama-sama mengu lum senyum.