Beautifully Painful

Beautifully Painful
156. How It Started



Anja


"Anjani? Lagi ngapain?"


Ia sontak menoleh ke arah suara. Dan langsung tersenyum senang begitu mendapati Salma. Tengah berdiri dengan kening mengernyit. Melihat ke arahnya dan Erzal secara bergantian.


"Bisa sampai di sini?" Salma masih mengernyit seraya mengambil duduk di sebelahnya.


"Lagi ngerjain tugas interview buat OKKJ," jawabnya sambil tersenyum lebar.


"Nginterview Erzal?" Salma balas tersenyum.


Ia mengangguk.


"Kalian berdua...udah saling kenal?" Erzal balik memandanginya dan Salma dengan kening berkerut. Seperti sedang mengingat sesuatu.


"Kenal dong," seloroh Salma sembari setengah merangkul bahunya. "Siapa sih yang nggak kenal sama Anjani."


"Ish," ia mendecak tak setuju. "Berlebihan ah."


"Iya...aku tahu," sahut Erzal cepat. "She caught my eye too (dia -Anja- juga menarik perhatianku)."


"Tapi...kita kayak pernah ketemu di suatu tempat nggak sih?" lanjut Erzal lagi.


"Mas Erzal kan udah bilang waktu regis kemarin?" ia justru balik bertanya. Meski benar-benar tak ingat, sebelumnya pernah bertemu dengan Erzal di mana.


"Bukan...bukan...," Erzal menggeleng. "Sebelum itu."


"Hmm...," Salma tertawa sumbang. "Kita kan emang udah pernah ketemu sebelumnya."


"Di?" cecar Erzal penasaran.


"Pasar kaget hari Minggu pagi," Salma mengangkat alis. "Waktu kamu lagi kegiatan pengmas (pengabdian masyarakat)."


"Oh....," Erzal menganggukkan kepala berkali-kali sambil tertawa. "I see...i see...."


"Kalian berdua udah aku kenalin kok waktu itu," terang Salma sambil memandang Erzal yang terus tertawa.


"Iya...iya...aku ingat sekarang," Erzal masih tertawa. "Kamu yang jualan nasi gurih bukan?"


"Bukan Anjani yang jualan," sergah Salma tak setuju. "Kak Pocut yang punya lapak. Anjani cuma ikut bantuin doang."


"Whatever (apapun)...whatever...," Erzal tersenyum. "Yang pasti nasi gurihnya enak banget. Masih kebayang rasanya sampai sekarang. Top markotop."


"Iyalah," Salma mencibir. "Udah terkenal di seantero Kecamatan kalau nasi gurih Mak Agam tuh rasanya paling endes."


Sementara ia masih terus mengernyit. Sembari saling berpandangan dengan Dipa. Yang hanya mengangkat bahu sambil menggelengkan kepala tak mengerti.


"Aku ganggu dong," kini Salma memasang wajah menyesal.


"Enggak," ia buru-buru menggeleng. "Enggak ganggu kok, Sal."


"Ini masih nyusun script. Take nya nanti kalau script udah beres. Dan di acc sama Mas Erzal," selorohnya.


"Langsung aku acc semuanyaaa," jawab Erzal tersenyum simpul.


Namun ia hanya tertawa bingung melihat keantusiasan Erzal.


Sementara Salma tersenyum mengangguk. Lalu menepuk bahunya pelan, "Lancar interviewnya, Anjani."


"Aku ke sekre dulu."


"Lho," keningnya mengernyit. "Nggak makan dulu?"


"Udahan," Salma tertawa. "Barusan lagi jalan mau ke sekre...eh, lihat kamu ada di sini. Jadi nyamperin dulu."


"Ternyata beneran kamu," Salma tersenyum.


"Oya, sekre Farmasi tetanggaan sama sekrenya Erzal kok," lanjut Salma. "Nanti sebelum pulang, mampir dulu ya. Ditunggu lho."


***


Dipa


Ia memandangi kepergian gadis yang dipanggil Salma oleh Anja dengan mata menyipit. Sounds familiar (terdengar akrab), huh?


Namun belum bisa menemukan clue (petunjuk) tentang di mana mereka pernah bertemu dan kapan. Tapi ia yakin 105%, jika sebelumnya pernah bertemu dengan gadis berwajah lembut itu.


Ia pun kembali menghabiskan Zuppa Soup yang tersisa. Sementara Anja melanjutkan memberi sederet pertanyaan pada Erzal.


Begitu Anja dan Erzal menyepakati materi apa saja yang akan dibahas saat pengambilan gambar, mereka segera beranjak menuju ke gymnasium yang terletak lantai 1.


"Ngng...tapi sori, gue ke toilet dulu, Dip, Mas," Anja melipir ke toilet sembari mencangklong tas berwarna biru. Yang entah isinya apa. Tapi terlihat lumayan berat.


"Ditunggu nggak, Ja?" ia menawarkan untuk menunggu.


Tapi Anja menolak, "Nggak usah, makasih. Gue rada lama soalnya."


"Lo duluan aja. Ntar gue nyusul."


Akhirnya ia dan Erzal berjalan lebih dulu menuju ke gymnasium. Tempat dimana akan dilakukan pengambilan gambar.


Dan sepanjang perjalanan menuju ke gymnasium itu pula, ia dan Erzal memperbincangkan banyak hal. Terutama tentang kehidupan kampus dan suka duka menjadi anak FK.


"Eril anak Menwa (resimen mahasiswa)?" Erzal balik bertanya ketika ia menanyakan keberadaan Eril di kampus.


"Mungkin."


"Iya," Erzal mengangguk yakin. "Satu-satunya nama Eril yang kukenal, ya Eril Menwa."


Begitu sampai di gymnasium, ia langsung mempersiapkan peralatan yang akan dipergunakan untuk merekam. Sementara Erzal terlihat sibuk menerima telepon.


Awalnya ia mendirikan tripod. Mengatur agar ketiga kaki dapat berdiri dengan rata, seimbang, dan stabil. Kemudian mulai mengatur ketinggiannya.


Setelah tinggi tripod dirasa pas untuk pengambilan angle yang sempurna, ia kembali memeriksa jika seluruh bagian sudah terkunci dengan aman.


Kemudian barulah ia memasang kamera DSLR miliknya. Bukan yang dibawa Anja.


Ia mengencangkan sekrup yang berfungsi untuk menahan kamera agar tetap stabil. Lalu kembali memasang plat kamera yang tadi sempat dilepas saat memasang tripod.


Ketika ia tengah memeriksa kejernihan gambar yang berhasil ditangkap oleh kamera, Anja telah berjalan menghampirinya dan juga Erzal. Yang masih belum selesai menerima panggilan telepon.


"Sori lama," ucap Anja seraya menyimpan tas berwarna biru dan sling bag ke tribun penonton.


"Ini baru masang kamera," jawabnya yang masih mengecek kemampuan kamera untuk berputar.


Lalu Anja mulai memasang microphone jenis lavs (lavaliere) miliknya. Yang sering digunakan oleh pembawa acara di televisi. Karena bagus untuk merekam interview.


Anja menjepitkan microphone ke dalam baju. Merapikan kabelnya agar tak terlihat mencolok ataupun aneh di depan kamera. Kemudian mulai mengetes kejernihan suara.


Erzal yang telah selesai menerima panggilan telepon kini ikut bergabung bersama mereka. Menerima microphone yang diulurkan oleh Anja. Lalu mulai memasangnya.


"Oke, Anjani...santai aja...ini cuma interview 10 menit," seloroh Erzal demi melihat wajah tegang Anja.


Anja tertawa meski terdengar sumbang di telinganya.


Ia pun ikut memberi arahan, "Rileks, Ja. Jangan lupa senyum."


Rupanya berteman cukup dekat dengan anak-anak cinematography seperti Yasser dan Marshall, banyak memberi manfaat baginya. Terbukti, ia bisa membantu Anja melakukan pengambilan gambar dengan cukup baik.


"Oke, Ja. Ready (siap)?"


Anja mengangguk.


"One, two, three...action!"


 -----------


Pengambilan gambar dan interview berjalan lancar. Tak sampai satu jam lamanya. Tanpa harus sering mengulang. Good job.


"Makasih banyak, Mas Erzal," Anja berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Erzal.


"Sama-sama Anjani...sama-sama," Erzal tersenyum mengangguk.


"Jangan lupa tugas OKKJ yang lain juga dikerjakan," sambung Erzal. "Biar nggak diincar sama komdis (komisi disiplin)."


Anja tertawa, "Iya, Mas. Pastinya."


Erzal pamit undur diri terlebih dahulu, "Sori nih, duluan. Mau rakor sama anak-anak."


Sementara ia masih membereskan perlengkapan. Dengan Anja yang ikut membantu.


"Besok mau sekalian nggak?" tawarnya pada Anja yang sedang membantu memasukkan kamera.


"Kebetulan anak-anak alumni PB mau pada ngumpul," lanjutnya sambil menyebut satu nama cafe kekinian yang terletak di sebuah Mall. Tempat nongkrong favorit anak-anak gaul Jakarta.


"Gue jadi ngerepotin elo lagi," Anja mencibir sembari terus membantunya membereskan peralatan.


"Ja...Ja....," ia tertawa seraya menggelengkan kepala. "Kayak sama siapa aja."


"Kalau lo mau, ntar gue kontak anak-anak yang mau diinterview."


Anja menatapnya sebentar dengan wajah bingung. Namun sejurus kemudian mengangguk, "Boleh deh. Gue beneran nggak ada ide soalnya."


Dari gymnasium, Anja mengajaknya kembali naik ke lantai 4.


"Kita ke tempat Salma dulu ya, Dip," ucap Anja. "Nggak enak tadi udah ditawarin soalnya."


Dengan senang hati, jawabnya dalam hati.


Sebab ia jadi memiliki kesempatan untuk kembali bertemu sekaligus mengingat, kira-kira di mana ia pernah melihat gadis berwajah lembut itu. Karena sampai sekarang, ingatannya belum bisa diajak untuk bekerja sama.


"Sori, Dip," Anja meringis ke arahnya. "Lo jadi bawa-bawa kamera sama tripod kemana-mana."


Ia tertawa, "Sekarang lo jadi sering banget minta maaf, Ja."


Mata Anja langsung membulat begitu mendengar kalimat yang diucapkannya.


"Aneh kah?" tanya Anja dengan wajah penuh rasa ingin tahu.


Ia mengangguk yakin, "Pastinya."


Wajah Anja tiba-tiba mengkerut, "Berarti dulu...gue jarang minta maaf?"


"Nggak pernah malah," jawabnya spontan. Namun sedetik kemudian terbahak.


"Sialan!" gerutu Anja sambil mendelik. "Gue nggak se cold blooded (berdarah dingin) itu ah."


Kini mereka berjalan melewati koridor di lantai 4. Dengan angin yang berhembus cukup kencang. Mempermainkan anak rambutnya juga Anja menjadi tak beraturan.


Lambat laun seiring dengan langkah mereka yang melewati deretan pintu di student center ini, sayup-sayup mulai terdengar suara gesekan biola yang sangat lembut.


Telinganya mendadak berdiri tegak. Memasang pendengaran baik-baik. Berusaha keras mengenali suara gesekan biola, yang makin lama suaranya kian terasa dekat.


"Wah, keren banget yang main biola," gumam Anja sebelum mengetuk pintu berwarna putih bertuliskan BEM Fakultas Farmasi.


Ia tak menjawab. Sebab masih berusaha menajamkan telinga. Mengikuti gesekan biola yang mengalun indah.


"Kak Salmanya ada?" tanya Anja begitu pintu dibuka dari arah dalam.


"Ada," jawab orang tersebut. "Masuk aja."


Ia mengekori langkah Anja memasuki ruang sekretariat. Dimana penataan ruangnya tak beda jauh dengan sekretariat BEM FK.


Namun di sini tak terdapat sofa. Hanya seperangkat kursi tamu yang berdesain minimalis.


"Duduk dulu," ujar orang yang mempersilakan mereka masuk.


Anja lebih dulu mengambil duduk. Namun ia masih saja berdiri. Lebih tertarik untuk memperhatikan sekelompok orang, yang tengah duduk melingkar di salah satu sudut ruangan. Mengelilingi seorang gadis yang duduk di tengah-tengahnya. Sedang memainkan biola dengan beberapa orang ikut bernyanyi.


'Melambai lambai


Nyiur di pantai


Berbisik bisik


Raja Kelana


Memuja pulau


Nan indah permai


Tanah Airku


Indonesia'


(Ismail Marzuki, Rayuan Pulau Kelapa)


Alunan lagu Rayuan Pulau Kelapa benar-benar mengalun indah. Terdengar sangat menyenangkan dan menenangkan.


Namun yang membuatnya hampir berteriak senang adalah, ketika ingatan tumpulnya sedikit menajam. Mulai mengingat jika gadis yang kini sedang memainkan Rayuan Pulau Kelapa dengan apik, yang bernama Salma, adalah gadis yang ia temui di The Para.


***


Anja


"Makasih banyak, Dip," ucapnya ketika Dipa menghentikan mobil di halaman depan rumahnya.


"Belum, Ja, belum di edit," Dipa tertawa.


"Makasihnya kalau udah beres," seloroh Dipa.


"Ntar malam baru gue edit, biar besok bisa langsung rilis sama tugas Halo Kakak," lanjut Dipa seraya membuka seat belt, namun belum mematikan mesin.


"Ya tetep aja," ia mencibir. "Makasihnya di cicil biar nggak berat di akhir."


Dipa tergelak.


Ia pun mengikuti langkah Dipa membuka seat belt. Kemudian mulai mengemasi barang-barang yang dibawanya.


"Ehm, Ja."


"Yap," ia tak menoleh ke arah Dipa. Sebab masih berusaha membereskan barang bawaan agar bisa dibawa dalam sekali turun.


"Gue mau nanya sesuatu."


Aktivitasnya langsung terhenti begitu mendengar nada serius dalam suara Dipa.


"Nanya apa?" tanyanya tak mengerti.


"Lo kenal baik sama Salma?"


Ia semakin menatap Dipa tak mengerti, "Maybe yes...maybe no...."


Dipa tertawa mendengar jawabannya.


"Yes nya?" pertanyaan kedua yang dilontarkan Dipa sontak membuatnya memutar bola mata.


"Iya, gue kenal sama Salma," jawabnya dengan setengah mencibir. Sebab bayangan lembaran buku bertulisan tangan yang berbunyi "Special for Agam" mendadak melintas di kepalanya.


"No nya?"


Ia menatap Dipa curiga, "Lo lagi nginterview gue?!" semburnya sebal.


Dipa kembali tertawa, "Just wanna know (hanya ingin tahu)."


Ia terdiam sejenak.


Namun sebelum sempat menjawab, Dipa lebih dulu bertanya, "Salma mantannya Cakra?"


Pertanyaan to the point Dipa sontak membuatnya melotot, "Kok jadi nuduh sih?!"


Dipa terkekeh, "Nebak aja. Am i right (gue bener kan)?"


Ia mencibir lalu menyalak sebal, "Kalau mantan emang kenapa?!"


Dipa mengangguk-angguk sambil tersenyum.


"Lo ngapain nanya-nanya Salma?!" desisnya tak mengerti.


"Dunia memang sebegitu lucunya," gumam Dipa hampir tak terdengar.


"Bagian mana yang lucu?!" sergahnya sambil terus mencibir.


Dipa menghembuskan napas panjang. Lalu menatapnya sungguh-sungguh.


"Menurut lo, Salma gimana?"


"Gimana apanya?!" ia mengkerut.


"Sifatnya, sikapnya, karakternya," Dipa mengangkat bahu.


Membuatnya menggaruk kepala yang tak gatal.


"So far so good (sejauh ini oke) sih," jawabnya jujur.


"For your information nih ya," ia kembali berkata. "Salma bukan mantannya Cakra."


"Mereka cuma sahabat."


"Friends with benefit?" Dipa tertawa.


Ia mengangkat bahu. Sebab tak tertarik untuk mengingatnya. Apalagi membahasnya.


"Menurut lo...dia worth it (pantas)?"


Kali ini ia mengernyit, "Maksudnya?"


"Gua minta saran sama lo," Dipa menghentikan kalimatnya sejenak. Lalu tersenyum.


"Saran apa?!"


"Apa Salma worth it buat gue deketin?"


Seketika itu juga tawanya langsung meledak. Bahkan tak bisa berhenti sampai beberapa lama.


"Lo ngetawain gue?" Dipa menggelengkan kepala berkali-kali.


"Sori...sori....," ujarnya di sela-sela sisa tawa yang tak tertahankan.


"Lo tertarik sama Salma?" tanyanya dengan nada penuh kehati-hatian usai menuntaskan tawa.


Dipa mengangkat bahu.


"Sejak sederet kejadian nggak mengenakkan kemarin....," Dipa menghembuskan napas panjang sebelum kembali berkata.


"Gue beneran mati rasa."


"Ah, serius lo," ia menatap Dipa sambil mengkerut. "Mati rasa gimana?!?"


"Yaa...gue sama sekali nggak minat untuk have a relationship (memiliki kekasih)."


Ia menganggukkan kepala tanda mengerti. Sebab rentetan kejadian beberapa bulan terakhir juga sangat mengejutkannya.


Namun ia lebih beruntung dibandingkan Dipa. Sebab hal yang awalnya tragis kini telah berakhir membahagiakan.


Tentu saja tentang kebersamaan antara dirinya, Aran, dan juga Cakra.


"Lo suka sama Salma?" tanyanya ingin tahu.


Dipa kembali mengangkat bahu.


"Salma orangnya baik," ia tersenyum dengan mata menerawang.


"Keren lagi," lanjutnya sambil tetap tersenyum.


Kemudian ia menatap Dipa sungguh-sungguh sembari berkata, "Go get her (ayo kejar dia)."


Dipa tertawa, "Jadi...lo mau bantuin gue?"


"Sama Salma?" tebaknya sambil memainkan alis naik turun.


Namun sebelum Dipa menjawab, ia lebih dulu berseru, "Absolutely yes (pastinya dong)!"


 


***


Keterangan :


How it started. : awal mulanya