
Anja
Sabtu, 4 Juli 2xxx
Ia terbangun karena perut yang terasa mulas. Dengan bunyi kruwuk-kruwuk sebagai pertanda jika ia harus segera membuang hajat.
Perlahan ia berusaha bangkit. Dalam suasana kamar yang cukup temaram. Karena hanya diterangi oleh lampu tidur berwarna kuning. Menancap pada stop kontak yang menempel di dinding dekat pintu.
Sementara kipas angin duduk yang tersimpan di atas meja masih terus berputar. Menimbulkan bunyi mendesis dan suara 'cetek' tiap kali berubah haluan.
Dan melalui pengeras suara Masjid, sayup-sayup terdengar suara orang sedang membaca Al-Qur'an. Menandakan jika sebentar lagi waktu Subuh hampir tiba.
Begitu keluar dari dalam kamar, ia langsung mendapati Icad dan Umay yang masih terlelap di depan TV. Hanya beralaskan kasur Palembang tipis.
Membuatnya harus sedikit berhati-hati dalam melangkah. Agar tak sampai menginjak tubuh mereka yang bergelimpangan di lantai.
Ketika sampai di dapur, dilihatnya Mamak dan Kak Pocut sudah sibuk memasak.
"Anjani sudah bangun?" sapa Kak Pocut yang sedang mengaduk masakan di atas wajan besar. Meruarkan aroma harum rempah yang gurih dan pastinya lezat itu.
"Mau ke kamar mandi, Kak," jawabnya sambil masuk ke kamar mandi.
Namun setelah berada di dalam, hasrat berhajatnya justru hilang. Meski perutnya masih saja berbunyi 'kruwuk-kruwuk.'
Usai sholat Subuh ia mendekati Mamak dan Kak Pocut yang sedang memasuk-masukkan ayam tangkap ke dalam wadah plastik.
"Banyak pesanan, Mak?" tanyanya sambil memperhatikan barisan wadah yang telah terisi.
"Pesanan dari Bu guru Sri yang tinggal di ujung gang," jawab Mamak sambil terus memasukkan potongan ayam tangkap ke dalam wadah.
"Katanya buat dijual lagi lewat online," imbuh Kak Pocut. "Sebab banyak rumah yang ditinggal khadimat (pekerja rumah tangga) nya mudik. Jadi tak ada yang memasak. Praktis tinggal beli saja."
"Oh," ia menganggukkan kepala tanda mengerti. Karena tiap lebaran, Mama juga rutin menyetok frozen food dari Selera Persada selama Bi Enok pulang ke Cihideung.
"Aku bantu ya, Kak," tawarnya sungguh-sungguh.
"Sudah mau selesai," tapi justru Mamak yang menjawab. "Anjani duduk-duduk saja di depan. Sambil nunggu Agam pulang."
Ia pun melirik jam dinding yang menempel di dinding kayu kusam dapur. Baru jam 05.00 WIB. Sementara Cakra biasanya baru pulang jam delapan an.
"Masih lama, Mak," kernyitnya. "Aku bantu hitung ya Mak."
Mamak menatapnya sejenak sebelum menganggukkan kepala, "Boleh."
Sekitar pukul 07.10 WIB, orang suruhan Bu guru Sri datang untuk mengambil pesanan ayam tangkap. Dan sebanyak 100 box ayam tangkap berhasil dimasukkan semua ke dalam tas kurir motor warna hitam.
"Makasih, Mak," orang suruhan Bu guru Sri berpamitan.
Tepat ketika perutnya kembali terasa mulas. Namun begitu sudah berada di dalam kamar mandi, rasa mulas berangsur hilang.
"Anjani kenapa bolak-balik ke kamar mandi?" tanya Kak Pocut heran.
"Sakit perut, Kak," jawabnya sambil mengusap perutnya yang membuncit.
"Diare?" tanya Kak Pocut lagi dengan nada penuh kekhawatiran.
"Tapi nggak keluar," ia menggelengkan kepala.
"Mungkin kemarin salah makan," Mamak berusaha menengahi.
"Atau karena kipas angin," tebak Kak Pocut. "Berputar semalaman lama-lama menyebabkan perut kembung."
Ia hanya menggelengkan kepala tak mengerti.
"Kemarin Anjani sempat menyicip gulai pliek?" kini gantian Mamak yang bertanya.
"Icip sedikit, Mak."
"Oh ya, gulainya memang terasa asam dan agak pedas," sambung Kak Pocut mengangguk mengerti.
"Istirahat saja di kamar, Anjani," ujar Mamak kemudian. "Nanti Mamak buatkan air jahe."
Ia pun mengikuti nasehat Mamak. Masuk ke dalam kamar dan mendudukkan diri di atas tempat tidur.
Ketika ia tengah menscroll layar ponsel mengecek notifikasi sosmed. Mamak masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas air jahe dan sebuah kantong pemanas berwarna hijau tua.
"Minum dulu," ujar Mamak sambil menyerahkan segelas air jahe padanya.
"Makasih banyak, Mak," ia segera menyesap air jahe yang masih suam-suam kuku.
Dan rasa hangat pun langsung menjalari mulut, faring, esofagus, juga lambungnya. Terasa sangat nyaman sekaligus menenangkan.
"Pakai ini mau?" tawar Mamak seraya memperlihatkan kantong pemanas. "Untuk mengurangi rasa sakit perut."
Ia menganggukkan kepala tanda setuju. Kemudian mulai merebahkan diri di atas tempat tidur. Dengan posisi menyamping ke sebelah kiri.
Setelah posisi tidurnya terasa nyaman. Mamak mulai menyentuhkan kantong pemanas ke permukaan perutnya.
"Anjani mau melahirkan tanggal 11?" tanya Mamak memecah keheningan. Setelah mereka sempat berdiam diri selama beberapa saat.
Ia menganggukkan kepala sambil tersipu, "Biar tanggal lahirnya sama kayak Cak..eh Agam...."
Ucapannya sontak membuat Mamak ikut tersenyum.
"Dulu....menurut perhitungan Mak bidan, Agam akan lahir di akhir bulan Agustus," ujar Mamak kemudian.
"Tapi jadinya lahir tanggal 11 Mak?" tanyanya ingin tahu.
Mamak mengangguk, "Waktu itu kami sedang dalam perjalanan menuju Tualang. Karena Ayah dipindah tugaskan ke sana." (**)
"Kami hanya berenam dalam satu rombongan."
"Ayah, Mamak, Is, Azis, Umar, dan Latif."
Ia memperhatikan wajah Mamak yang mendadak berubah keruh.
"Kami mau jalan lewat laut menuju Jeunieb, lalu menyeberang ke Tapaktuan,” lanjut Mamak dengan suara yang mulai tersendat.
"Karena menurut Azis, itu jalan paling aman. Jauh dari jangkauan para TNI yang berpatroli."
"Siang itu kami sedang mengambil wudhu untuk sholat Dhuhur di pinggir sungai yang tersembunyi."
"Letaknya di lembah dan dikelilingi perbukitan."
"Tiba-tiba dari atas bukit terdengar letusan senjata."
"Ternyata pasukan TNI berhasil melacak keberadaan kami."
Ia pun harus menelan ludah berkali-kali sambil terus menatap wajah Mamak.
"Suara peluru mulai berdesing di sekitar kami."
"Latif melindungi Mamak dan Is. Sementara Azis dan Umar membantu Ayah membalas tembakan TNI."
"Karena keadaan sudah tak memungkinkan untuk bertahan di sungai. Kami langsung lari ke perkebunan sawit."
"Di sanalah kami berlindung."
Kini ia bahkan sudah membelalakkan mata demi mendengar cerita Mamak.
"Semua selamat, Mak?" tanyanya cemas. Seakan bisa membayangkan suasana mencekam di tengah berondongan peluru tentara.
Mamak tersenyum mengangguk, "Kami lebih tahu medan. Jadi bisa lolos."
"Hanya lengan Azis sobek karena terkena tembakan peluru."
"Untungnya tak terlalu dalam. Masih bisa diobati begitu kami sampai di Tualang."
Ia pun ikut bernapas lega.
"Mungkin karena kaget dengan kejadian di siang hari. Atau memang sudah waktunya lahir."
"Selepas Isya perut Mamak mulai terasa mulas."
"Mulas?" ia pun mengernyit.
Apakah sama seperti rasa mulas yang kini sedang dirasakannya sejak Subuh tadi?
"Jam sembilan malam kurang sepuluh menit Agam sudah lahir ke dunia," kali ini Mamak tersenyum sambil memindahkan letak kantong pemanas ke sisi lain perutnya.
Ia pun balas tersenyum lega.
"Lebih cepat dua puluhan hari lebih dari perkiraan Mak bidan."
"Sakit, Mak?" tanyanya spontan.
"Apanya?" Mamak balas bertanya. "Melahirkannya?"
Ia menganggukkan kepala.
Tapi Mamak justru tersenyum dan balik bertanya, "Anjani pernah dengar ungkapan orang Jawa tentang sabdo pandito ratu?"
Lagi-lagi ia menganggukkan kepala. Karena memang pernah mendengarnya ketika pelajaran sejarah di sekolah.
"Seorang ibu itu seperti sabdo pandito ratu," lanjut Mamak sembari menatapnya dalam-dalam.
"Termuliakan sebagai manusia."
"Istimewa tak ada duanya."
"Dan kalimat yang diucapkan seorang ibu adalah doa yang paling mujarab."
"Itulah mengapa seorang ibu harus senantiasa menjaga setiap ucapannya."
"Semarah apapun terhadap anak."
Ia menatap wajah Mamak yang berubah teduh.
"Seorang ibu juga akan rela bertaruh nyawa untuk keluarga dan keturunannya."
"Salah satunya saat berjuang melahirkan seorang anak."
Hatinya mendadak tercekat. Bertepatan dengan Mamak yang meraih tangannya lalu menggenggamnya erat.
"Di dunia ini tidak ada proses perubahan yang tidak menyakitkan, Anjani," Mamak meremas tangannya lembut.
"Tapi Allah menganugerahkan kita rasa lupa."
"Karena begitu menggendong bayi yang baru kita lahirkan, rasa sakit akan hilang begitu saja."
"Berganti dengan rasa bahagia penuh kesyukuran."
Ia mengerutkan kening sambil menatap Mamak dengan ragu-ragu, "Tapi aku nggak mau kesakitan, Mak."
"Kalau lihat adegan orang melahirkan tuh kayak yang sakit banget."
Ia menggelengkan kepala, "Aku takut. Aku nggak mau begitu."
Mamak kembali tersenyum sambil mengusap tangannya perlahan, "Kalau sedang merasa takut, kita punya Allah tempat untuk memohon."
Tapi ia tetap menggelengkan kepala.
Mamak menghela napas panjang sebelum kembali tersenyum menatapnya, "Tidak apa kalau memang Anjani sudah memutuskan untuk melahirkan secara operasi Caesar."
"Itu hak Anjani."
"Karena Anjani sendiri yang mau merasakannya."
Kini ia mulai bisa tersenyum memandang Mamak.
"Anjani tak perlu khawatir."
"Karena seorang ibu tetap disebut sebagai ibu."
"Bagaimana pun cara melahirkannya."
"Mau secara normal atau caesar."
"Tidak ada yang paling mulia di antara keduanya."
"Dua-duanya sama-sama bertaruh nyawa."
Dan kalimat terakhir yang diucapkan Mamak berhasil memancingnya untuk bangkit. Lalu memeluk tubuh kurus Mamak dengan sepenuh hati.
"Mamak selalu berdoa, semoga Anjani bisa melahirkan dengan mudah, lancar, sehat, selamat semuanya," ujar Mamak seraya mengusap punggungnya lembut.
Membuat isak tertahannya tak terbendung lagi. Pecah bersamaan dengan derai airmata yang menganak sungai.
***
Cakra
Sambil bersiul riang ia menaikkan motor ke atas teras. Agar tak menghalangi orang yang berjalan melewati gang.
Setelah menyelesaikan tugas di shift ketiga pada jam 00.00 - 07.00 WIB. Ia segera pulang ke rumah.
Namun sempat berhenti sebentar di nenek penjual surabi. Yang di hari ketiga Lebaran ini sudah mangkal di depan gerbang AxHM. Bersama sederet penjual makanan lainnya.
Mereka seolah tak terpengaruh dengan euforia mudik lebaran dan perayaan hari raya. Tetap setia mengais rezeki untuk menyambung hidup.
"Assalamualaikum!" sapanya dengan suara yang cukup keras.
"Wa'alaikumsalam," jawab Icad yang sedang duduk menggambar di ruang tamu.
"Kok sepi, Cad?" kernyitnya heran. Demi melihat di ruang tamu hanya ada Icad seorang.
"Yang lain pada kemana?" tanyanya sambil meletakkan kresek putih berisi surabi ke atas meja.
"Umay sama Sasa lagi main ke rumah Adang."
"Nenek masak di dapur."
"Mama lagi ke Keude ambil apa gitu lupa."
"Kalau Kak Anja ke mana?" tanyanya benar-benar ingin tahu. Sambil melepas kaos kaki. Kemudian menyimpannya di dalam sepatu yang telah tersimpan di atas rak.
"Di kamar," jawab Icad singkat.
"Jam segini belum bangun?" gumamnya heran.
Namun Icad tak menjawab gumamannya. Lebih tertarik untuk membahas kresek putih yang menguarkan aroma harum.
"Yah Bit bawa apa tuh?"
"Tolong ambil piring sama mangkok, Cad," jawabnya justru menyuruh Icad. Seraya meraih kresek putih dan mulai membukanya.
"Kita makan surabi hangat sama-sama."
"Oke!" Icad segera beranjak ke dapur untuk mengambil piring dan mangkok.
"Jangan lupa sendok, Cad!"
"Iya!" jawab Icad setengah berteriak dari arah dapur.
Tak lama kemudian Icad kembali muncul di ruang tamu sambil membawa piring, mangkok, juga sendok.
Tapi Icad tak sendiri. Karena ada Mamak yang berjalan menyusul di belakang.
"Sudah pulang?" tanya Mamak sambil mendudukkan diri di hadapannya.
"Barusan," jawabnya seraya mengambil alih piring, mangkok, dan sendok dari tangan Icad.
"Makasih, Cad," ujarnya ke arah Icad yang sudah tak sabar ingin menyantap surabi.
"Aku mau yang kuah kinca," seru Icad sebelum ia sempat bertanya.
"Ambil," jawabnya sembari menyusun surabi cokelat dan oncom di atas piring.
"Mak mau yang mana?" tanyanya ke arah Mamak yang entah mengapa sedang menatapnya masygul.
"Kuah apa oncom?"
"Apa yang putih polos?"
Mamak memang lebih suka menyantap surabi putih polos dibanding yang lain.
Namun Mamak tak menjawab satu pun pertanyaannya. Justru mengatakan hal yang berbeda, "Tadi Subuh Anjani sakit perut."
"Diare?" tanya heran. Padahal seingatnya Anja tak memakan yang aneh-aneh selama dua hari terakhir.
"Perutnya sudah turun ke bawah," kata Mamak lagi-lagi tak menjawab pertanyaannya.
"Benar kata Fatma kemarin."
Ucapan Mamak segera menghentikan kegiatannya menuang kuah kinca ke dalam mangkok.
"Sini aku aja Yah Bit," Icad berinisiatif mengambil alih plastik berisi kuah kinca dari tangannya.
"Jadwal melahirkannya tanggal 11," ujarnya sambil menelan ludah.
"Sudah ditentukan?" tanya Mamak.
Ia mengangguk. "Sudah pesan kamar."
Mamak menghela napas.
"Papa Mama Anja pulang dari Singapura hari Rabu, tanggal 8," lanjutnya lagi.
"Pesan kamar di Rumah Sakit mana?" Mamak balik bertanya.
Ia pun menyebut nama rumah sakit tempat Anja hendak melahirkan kelak.
Mata Mamak langsung terbelalak, "Rumah Sakit bagus."
Ia mengangguk lemah.
"Kau sudah punya uang untuk membayar biayanya?"
Ia menggelengkan kepala.
Membuat Mamak kembali menghela napas panjang. "Lalu mau kau bayar pakai apa?!"
Pertanyaan Mamak membuat kepalanya semakin menunduk. Dan ruang tamu mendadak hening.
"Yah Bit, aku mau surabi lagi ya yang cokelat," tiba-tiba suara Icad memecah kesunyian.
"Boleh," jawabnya singkat. "Sisakan buat yang lain."
"Iya, Yah Bit," jawab Icad yakin sembari mencomot surabi cokelat dari atas piring.
"Kalau rencana melahirkan tanggal 11, berarti sekarang sudah masuk sembilan bulan?"
Pertanyaan Mamak membuat kepalanya mendongak.
"Iya," ia mengangguk. "Kalau tak salah dokter bilang mau operasi di minggu ke 40."
"Berarti sekarang minggu ke 39?" Mamak kembali bertanya.
Lagi-lagi ia mengangguk.
"Kalian bawa perlengkapan melahirkan?" selidik Mamak dengan wajah ingin tahu.
Kali ini ia menggelengkan kepala. "Kami belum beli apa-apa untuk persiapan melahirkan, Mak."
"Baru ada barang-barang hadiah dari Kakaknya yang di Surabaya sama Jogja."
"Sama kerabat yang lain waktu kami membagikan bingkisan 7 bulanan."
"Itu juga belum ada satupun yang dibuka."
"Karena rencana melahirkan tanggal sebela...."
"Kalau nanti Anjani bangun dan masih mengeluh sakit perut," Mamak memotong kalimatnya.
"Cepat kamu hubungi dokter yang memeriksa Anjani untuk berkonsultasi."
"Kenapa?" tanyanya tak mengerti.
"Sejak mengeluh sakit perut tadi pagi, setiap Mamak pegang perut Anjani sering terasa kencang seperti sedang kontraksi."
"Banyak keluar keringat dingin juga sebab menahan rasa sakit."
"Jadi Mamak rasa, sebentar lagi Anjani bakal melahirkan."
"Apa?!?"
***
Keterangan :
(**). : diambil dari sumber majalah Acehkini, September 2007
Tualang. : salah satu gampong yang ada di kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur
Jeunieb. : sebuah kecamatan di Kabupaten Bireun
Tapaktuan. : wilayah setingkat kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan