
Anja
Ia masih tersenyum penuh kemenangan karena Cakra akhirnya mau berjanji untuk mendaftar SBMPTN. Sembari matanya menelusuri jadwal US (Ujian Sekolah) dan USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) yang tertera di dalam kertas A3.
Kamis, 26 Maret
07.30 - 09.30 Pendidikan Agama
10.00 - 12.00 Bahasa Indonesia
Jum'at, 27 Maret
07. 30 - 09.30 Biologi
10.00 - 11.30 Pendidikan Kewarganegaraan
Senin, 30 Maret
07.30 - 09.30 Matematika
10.00 - 12.00 Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
Selasa, 31 Maret
Ketika Cakra yang beberapa menit lalu beranjak masuk ke dalam kamar tamu, telah mendudukkan diri di sebelahnya. Kemudian mengangsurkan sebuah amplop berwarna cokelat. Membuatnya mengurungkan niat untuk membaca jadwal USBN hari Selasa.
"Apaan?" tanyanya tak mengerti.
"Coba buka," jawab Cakra sambil tersenyum.
Membuat keningnya makin mengernyit. Namun tetap mengikuti saran Cakra untuk membuka amplop warna cokelat tersebut.
"Buku tabungan?" tanyanya bertambah bingung. Demi mendapati buku tabungan berlogo Bank milik pemerintah berwarna biru dan sebuah kartu ATM dengan warna yang sama.
"Hari ini tanggal 25," jawab Cakra seraya mengu lum senyum. "Waktunya gajian."
"Oh," ia tertawa mengerti. "Eh, tapi kenapa dikasihin ke aku?!?" kini ia kembali tak mengerti.
"Biar kamu yang pegang."
"Aku kan udah punya kartu dari Mama?!"
"Tapi belum punya dari aku?"
Kalimat yang diucapkan Cakra sontak berhasil memancing tawanya. "Kenapa mesti punya dari kamu? Uang dari Mama lebih dari cukup bua...."
"Karena kamu istriku."
Tawanya mendadak berhenti. Berganti dengan tatapan tak mengerti sekaligus kesal.
"Kita udah sepuluh hari menikah," gumam Cakra yang juga menatapnya lekat-lekat. "Tapi aku belum pernah sekalipun kasih nafkah ke kamu."
"Selama ini kita tinggal gratis, makan gratis, sek...."
"Kamu selalu bayarin semua keperluanku tiap kita jalan!" jawabnya cepat. "Ongkos Taxi, beli jajanan, be....."
"Kamu yang pegang," potong Cakra seraya menggenggamkan kartu ATM ke telapak tangannya.
"Memang nggak seberapa," lanjut Cakra sembari tersenyum getir.
Ia pun menatap masygul kartu ATM berwarna biru yang kini berada dalam genggaman tangannya. Kemudian beralih mengambil buku tabungan lalu membukanya.
Di sana tertulis transaksi yang terjadi dalam dua bulan terakhir. Dengan saldo terakhir berjumlah 7 digit.
"Itu gajiku sebulan di Retrouvailles," ujar Cakra berusaha menjelaskan.
"Setelah dipotong pinjaman," lanjut Cakra kembali tersenyum getir.
Ia tak menjawab dan hanya bisa menelan ludah berkali-kali. Jumlah rupiah yang tertera di baris terakhir buku tabungan milik Cakra, setara dengan pengeluarannya tiap kali jalan ke Mall ataupun nongkrong di cafe. Bahkan kurang jika disertai dengan membeli produk fashion keluaran terbaru.
"Kamu nggak harus kayak gini," bisiknya dengan leher tercekat.
"Nanti kalau ujian udah selesai, aku bakal cari kerja yang lebih baik," namun Cakra sama sekali tak menghiraukan kemasygulannya.
Membuatnya menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian meraih amplop cokelat, bermaksud memasukkan kembali buku tabungan dan kartu ATM. Tapi justru ada benda lain yang meluncur dari dalam amplop kemudian jatuh di atas meja.
Benda itu berupa kartu berwarna hitam yang sangat dikenalnya. Yaitu credit card milik Mama.
"Itu disimpan sama kamu aja. Aku nggak berhak pakai," gumam Cakra seolah tahu apa yang ada dalam pikirannya.
Ia menatap Cakra yang juga tengah memandanginya lekat-lekat. Sepasang bola mata berwarna cokelat yang memancarkan sorot tajam itu terlihat sangat bersungguh-sungguh. Menjadikan wajah pemiliknya menjadi semakin menawan.
Sorot yang menampakkan ketegasan sekaligus kelembutan dalam satu waktu itu berhasil menggetarkan relung hatinya. Memancing impulsnya untuk beranjak pergi. Namun tak lama kemudian kembali. Dengan membawa dompet miliknya.
Cakra masih diam memperhatikan tiap geriknya. Membuka dompet, menarik kartu platinum, kemudian meletakkannya di atas meja berdampingan dengan kartu warna hitam yang berasal dari dalam amplop.
Lalu mengambil kartu ATM warna biru milik Cakra, dan menyimpannya di dalam dompet. Di bekas tempat kartu platinum milik Mama tersimpan.
Cakra hanya tersenyum simpul memperhatikannya. Terlebih ketika ia memasukkan dua kartu platinum ke dalam amplop cokelat. Dan menutupnya rapat-rapat.
"Kalau gitu kita simpan semua credit card punya Mama," ujarnya memecah kesunyian.
"Biar nggak tergoda buat pakai."
Cakra menganggukkan kepala tanda setuju.
"Nanti aku simpan di kotak pandora trus taruh rak paling atas," lanjutnya lagi membuat Cakra menahan tawa.
"Biar lupa dan susah ngambilnya."
Kali ini Cakra tak bisa menahan tawa. Seraya mengulurkan tangan guna mengusap pipinya dengan lembut dan perlahan. Yang dalam sekejap berhasil membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Ah, enough.
"Tapi....," namun ia memberengut meski selalu menyukai tiap kali Cakra bersikap manis seperti sekarang ini. Karena ada hal lain yang berkecamuk di pikiran.
"Kalau ATM punyaku jangan ya. Tetap kusimpan di dompet," ujarnya pelan. Khawatir Cakra tersinggung.
Namun Cakra justru tersenyum, "Kenapa?"
"Jangan di simpan di kotak Pandora. Soalnya ATM itu harta karunku," jawabnya dengan wajah memelas.
"Uang saku sebulan, uang jajan dari Mas Tama, Mas Sada, Teh Dara, kadang ada dari Om, Tante...."
Cakra tertawa, "Kamu buka rekening peduli kasih? Kok banyak amat yang nyumbang ke ATM kamu?!"
"Ih!" ia buru-buru mendecak sebal. "Males banget sih!"
Sontak membuat Cakra kian tergelak. Namun sembari tetap mengusap pipinya.
"Aku belum bisa ngelarang," gumam Cakra dengan wajah tertunduk malu.
"Karena aku tahu, jumlah nominal yang ada di buku tabungan sama sekali nggak cukup untuk hidup kita berdua selama sebulan."
"Jadi...boleh ya ATM masih kusimpan?" tanyanya dengan mata berbinar.
Ia sesekali masih ingin melakukan hobi, jalan ke Mall, membeli ini itu, hang out ke tempat favorit. Yang pastinya takkan cukup jika menggantungkan diri pada isi ATM Cakra yang tak seberapa.
Cakra menganggukkan kepala. "Tapi kalau bisa jangan sering-sering dipakai."
"Maksudnya?!" ia kembali memberengut.
"Maaf kalau kamu harus terbiasa hidup seadanya, Ja," jawab Cakra sembari menundukkan kepala.
"Aku nggak mau nanti kamu kaget."
"Apalagi kalau anak kita udah lahir."
"Pasti butuh lebih banyak biaya."
Membuatnya memberanikan diri untuk mengusap rahang kokoh dari wajah menawan di hadapannya.
"Iya," gumamnya mencoba tersenyum. "Aku bakalan pakai ATM kamu dulu."
"Nanti kalau kurang, baru deh pakai ATM punyaku."
"Yang penting kam...."
Kalimatnya terpotong di udara karena Cakra keburu menyentuhkan wajah mereka berdua. Kemudian menenggelamkan diri dalam-dalam.
Di malam hari mereka pun mulai meniti terjalnya our journey dengan belajar bersama. Namun karena mata pelajaran yang akan diujikan esok hari adalah Pendidikan Agama yang mengandalkan kemampuan menghapal. Dan Bahasa Indonesia lebih ke penalaran logis yang menguji kemampuan logika. Maka mereka pun hanya mengerjakan latihan soal. Kemudian saling mengoreksi. Tanpa adanya diskusi ataupun perdebatan.
Dan hari pertama USBN akhirnya tiba. Cakra sejak pukul 06.30 WIB sudah berangkat ke sekolah. Sementara ia menunggu kedatangan Miss Liana di rumah. Yang akan membawakan soal sekaligus bertindak sebagai pengawas ujian baginya.
"Santai saja ya, Anjani. Anggap kita sedang ujian di sekolah," begitu Miss Liana berusaha membesarkan hatinya.
Entah apa yang harus ia lakukan untuk membalas kebaikan Mas Tama dan Mas Sada. Yang mengusahakan dirinya agar bisa mengikuti ujian tepat waktu di rumah. Tanpa harus pergi ke sekolah.
Mungkin bersungguh-sungguh dalam mengerjakan soal ujian agar mendapatkan nilai bagus bisa sedikit menghibur hati dua kakak tersayangnya itu. Setelah dalam satu bulan terakhir direcoki dengan permasalahan yang menimpanya.
Dan pemikiran ini langsung memompa semangat belajarnya hingga meningkat tajam. Seperti malam ini. Dimana ia tengah berdebat dengan Cakra tentang jawaban dari pertanyaan,
Komponen dan konsentrasi dalam urin :
Air +++++
Na+. +++
Cl+. +++
Albumin. -
Asam amino. -
Glukosa. ++
Amonia +++
Berdasarkan gejala dan hasil tes urin, pasien tersebut mengalami gangguan pada bagian?
Ketika ponsel yang disimpan di atas meja menggelepar-gelepar tanda ada panggilan masuk.
Namun ia tak peduli, masih ngotot dengan pilihan jawabannya. Meski Cakra sejak awal sudah menerangkan dengan penuh ketenangan. Sama sekali tak terusik dengan gaya diskusinya yang cukup bar bar.
"Dalam urin pria itu masih ditemukan glukosa, Ja."
"Dan glukosa harusnya diserap kembali oleh tubulus proksimal dalam proses reabsorbsi."
"Jadi gangguan jelas ada di tubulus proksimal."
"Enggak dong!" ia tetap keras kepala. Tak rela jawabannya dianggap keliru.
Tapi ponsel yang terus menggelepar jelas mengacaukan konsentrasinya untuk mendebat pendapat Cakra.
Membuatnya mencibir dan buru-buru meraih ponsel. Sempat mengernyit sebentar demi melihat nama Mama yang terpampang di dalam layar. Sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Halo? Anja kangen sama Mama....."
Setelah saling melepas rindu dan berbagi kabar, Mama mulai menjelaskan tentang acara 4 bulanannya yang hampir terlupakan.
"Udah empat bulan belum ya, sayang?"
"Nggak tahu, Ma," jawabnya sembari meringis malu.
"Apa malah udah lewat?"
Ia menggelengkan kepala karena benar-benar tak tahu.
"Kalau menurut perhitungan ukuran janin waktu USG, kayaknya udah lewat jauh dari 4 bulan ya, Ja?"
"Mama tahu ukuran janinku?" tanyanya kagum. Ia saja tak ingat dimana tempat menyimpan buku Catatan Kesehatan Ibu yang berisi print out USG miliknya.
"Ya tahu, sayang. Kan calon cucu Mama," jawab Mama dengan suara seperti orang sedang tersenyum.
"Ini Mama bawa kemana-mana print outnya," lanjut Mama dengan nada penuh antusiasme.
"Tiap pagi kalau lagi jalan-jalan di taman suka Mama kasih lihat ke Papa."
Membuatnya tak bisa berkata apa-apa lagi. Mama memang the best mom ever had.
"Kita syukuran kecil-kecilan aja ya, sayang."
"Harus banget ya Ma, empat bulanan? Udah kelewat lagi," kernyitnya tak mengerti.
"Aku lagi ujian soalnya. Mesti belajar."
"Memang nggak wajib, sayang. Sebagai wujud ungkapan rasa syukur karena sebentar lagi, Anja dan Cakra akan mendapat amanah."
"Ya udah, nanti biar semua diatur sama Tante Iren."
"Sekarang Cakra mana? Mama mau bicara."
***
Cakra
Hari Jum'at siang, seperti yang telah dijelaskan oleh Mama semalam. Ia ikut membantu mendistribusikan bingkisan tasyakuran 4 bulanan usia kandungan Anja ke dua panti asuhan yang alamatnya berada tak jauh dari kompleks tempat tinggal Anja.
Sementara pendistribusian bingkisan ke tempat lain yang lebih jauh, termasuk bingkisan untuk keluarga dan segelintir tetangganya. Telah di handle oleh orang-orang dari Selera Persada.
Sebelum nanti selepas Ashar, ia dan Anja akan silaturahmi ke salah satu Rumah Tahfidz dan Yatim Piatu di daerah Kebayoran baru. Tempat dimana Mama Anja biasa memberikan donasi setiap bulannya.
"Semakin banyak yang mendoakan kebaikan, semakin baik," begitu kata Mama semalam.
"Karena kita tidak tahu, doa mana yang akan dikabulkan."
Dan sepanjang acara berlangsung, ia dan Anja menyimak hafalan Al-Qur'an Surat Lukman, Yusuf, dan Maryam yang dilantunkan oleh para hafidz dengan khidmat.
Ia bahkan beberapa kali memergoki Anja menyusut air mata dengan tissue. Membuatnya menggenggam tangan Anja untuk meyakinkan jika mereka akan selalu bersama apapun yang terjadi.
Entahlah. Suasana ruangan yang begitu syahdu karena dipenuhi oleh suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, seakan menyirami mereka berdua dengan limpahan rahmat dan kasih sayang. Sekaligus membuat hati sedikit membiru. Demi mengingat jika mereka pernah buta mata dan hati hingga terbujuk oleh rayuan setan.
Usai acara syukuran 4 bulanan yang mungkin sudah lewat dari waktu sesungguhnya. Mereka kembali disibukkan dengan persiapan USBN hari ketiga dan seterusnya.
"Fungsi interval, barisan geometri, sama trigonometri," ujar Anja yakin. "Susah banget soal-soalnya."
"A di kuadran 4. Cos nya positif, tan nya negatif," ia pun berusaha menerangkan dengan kalimat paling sederhana.
"Cos A \=12/13. Jadi, panjang sisi samping sudutnya 12. Panjang sisi hipotenusanya 13."
"De \= √13^2 - 12^2....."
"Hasilnya Tan \= - 5/12."
Untungnya di pelajaran Matematika, Anja tak seberapi-api seperti di pelajaran lain. Jadi ia bisa dengan tenang menerangkan pembahasan soal tanpa harus berhenti di tengah jalan karena di interupsi oleh protes Anja yang tak sependapat dengan konsep mengerjakan serta jawaban yang diberikannya.
"Iyalah, aku tahu diri," begitu Anja selalu mencibir jika ia menggoda mengapa tak pernah memprotes konsep dan jawabannya.
"Yang anak OSN gold medal," gerutu Anja seringkali.
Membuatnya menggelengkan kepala. Padahal ia sendiri tak terlalu yakin dengan setiap konsep dan jawaban yang diberikan. Tapi Anja sama sekali tak pernah protes.
Sampai akhirnya ia mencoba untuk memberikan konsep yang salah. Agar Anja tersadar jika ia bukanlah Dewa Matematika. Masih bisa melakukan kesalahan hitung atau konsep.
Namun Anja tetap tak bergeming. Mengiyakan saja semua penjelasannya. Padahal jelas-jelas salah.
"Kamu jahat banget sih ngasih tahu konsep yang salah!" Anja mulai memukuli lengannya ketika tahu kedoknya terbongkar.
"Kalau aku ngerjain soalnya pas ujian salah gimana?!" sungut Anja yang terus saja memukuli lengannya tanpa ampun. "Kamu mau tanggung jawab?!?"
Membuatnya harus segera menghindar karena Anja benar-benar marah dan memukulinya keras-keras. "Ampun, Ja. Ampun."
"Tega banget sih!" Anja masih memberengut. "Orang udah percaya juga malah dibohongin!"
"Moral storynya adalah kit...."
"Nggak ada moral story moral story an!" sungut Anja sambil melotot kesal. Membuatnya terbahak.
"Yang ada kamu terangin ke aku konsep yang paling mudah dan logis! Nggak usah sok sok ngetes pengetahuanku segala!"
"Kepalaku udah mau meledak tahu, dari kemarin stripping belajar!!"
Berbeda dengan pelajaran lain. Fisika misalnya. Waktu sepuluh menit bisa mereka habiskan hanya untuk memperdebatkan konsep menghitung resultan gaya.
"Harus dicari komponen gayanya satu per satu."
"Enggak lah! F1 udah jelas segini," Anja mulai mencorat-coret di atas kertas dengan berapi-api. "Sekarang tinggal nyari....."
"Tanda min menunjukkan arah gaya ke sumbu X, Ja. Jadi F1 bukan segitu."
"Lho, iya ini aku udah tulis min."
"Tapi bukan begitu."
Dan ujung-ujungnya Anja akan tersipu malu karena konsep pengerjaannya memang keliru.
"Ngomong dong dari tadi!" meski tersipu malu Anja masih bisa bersungut-sungut kesal. "Jadi aku nggak cape-cape ngerjain sampai selesai!"
"Kan udah dibilang dari awal kalau...."
"Telat!!"
Ia hanya menggelengkan kepala sambil tertawa tak mengerti. Sama seperti sekarang ini, ketika jam di ruang tengah telah menunjukkan pukul 23.51 WIB. Anja sudah terlelap tak berdaya di atas meja makan. Dengan kepala bertumpu pada buku latihan soal Matematika yang setebal bantal.
"Study hard, Neng?" gumamnya geli seraya merapikan anak rambut Anja yang jatuh menutupi kening.
Kemudian membelai rambut berkilau itu seraya berbisik dengan penuh kesungguhan, "Dokter gigi cantik kesayangan kita semua."