
Cakra
Karena tadi Bening keburu terisak. Tak sempat menjelaskan duduk persoalan. Ia juga langsung menutup sambungan telepon, akibat terlalu panik. Ia pun sadar jika tak memiliki bekal informasi yang cukup tentang masalah yang sedang menimpa Anja.
Namun karena ia sama sekali tak memiliki teman dekat di sekolah. Membuatnya memutuskan untuk mengechat Hanum guna mencari tahu.
Cakra. : "Anja kenapa?"
Tapi ia tak memiliki waktu untuk menunggu jawaban dari Hanum. Karena keburu tancap gas. Melarikan motor dengan kecepatan maksimal. Berharap bisa segera sampai di sekolah.
Syukurlah lalu lintas jelang siang dari rumah Anja menuju ke sekolahnya lumayan lancar. Tak ada tumpukan kendaraan di langganan titik kemacetan. Membuatnya bisa menempuh jarak sejauh kurang lebih 5 Km hanya dalam waktu 10 menit.
Setelah memarkir motor, ia langsung mengecek ponsel. Tapi tak terdapat jawaban chat dari Hanum. Membuatnya kembali menelpon Pak Cipto.
"Neng Anja belum ke mobil, Den."
Begitu jawaban Pak Cipto. Membuatnya segera menghambur ke halaman sekolah. Dimana matanya langsung menangkap kerumunan puluhan siswa di sepanjang koridor ruang guru.
"Ada apa?!" tanyanya pada seorang siswa yang lewat. Entah kelas berapa. Ia bahkan sama sekali tak mengenalnya.
Namun siswa tersebut hanya meringis. Sambil menyerahkan selebaran berwarna biru padanya.
"Apaa....," pertanyaannya menggantung di udara demi melihat isi selebaran.
"Hot news....hot news....," seru beberapa siswa yang melewatinya. Juga tengah membawa setumpuk selebaran berwarna pink.
"Yang hangat....yang hangat....."
"Bad news is a good news....," seloroh seorang siswa sembari menyeringai.
Memaksanya berjalan mendekat, hanya untuk menarik paksa selembar kertas berwarna pink yang sedang dibawa.
"Eh!" sergah siswa tersebut marah. "Yang sopan dong!"
Namun ia tak peduli. Buru-buru membaca isi selebaran. Yang ternyata tak kalah sampahnya dengan yang berwarna biru tadi.
Menampilkan foto editan keji. Dengan wajah Anja dan tulisan paling nista yang pernah dibacanya.
Memacu langkahnya untuk berlari menuju ruang Lab komputer. Dimana simulasi UNBK untuk kelas IPA dilaksanakan.
Namun ia tak menemukan siapapun. Karena siswa dengan jadwal simulasi sesi pertama kemungkinan besar sudah pulang ke rumah masing-masing. Dan peserta simulasi sesi kedua sudah berada di dalam ruang ujian. Sementara siswa dengan jadwal sesi ketiga kebanyakan belum datang ke sekolah.
Ia justru menemukan kertas warna biru, pink, juga hijau yang berserakan di sepanjang selasar Lab Komputer. Selebaran paling menjijikkan tentang Anja yang membuat darahnya naik hingga mampu meledakkan isi kepala.
Membuatnya cepat-cepat memunguti seluruh selebaran keji tersebut. Kemudian membuangnya ke tempat sampah.
Namun karena saking banyaknya selebaran. Seakan semua lembaran tercurah dari langit bak air hujan. Membuatnya sedikit kewalahan. Karena masih banyak sampah selebaran yang belum berhasil ia pungut.
Ia masih berusaha memungut dan membuang semua selebaran yang berserakan di lantai, ketika matanya tak sengaja menangkap sosok Bening yang tengah duduk melamun di salah satu sudut koridor Lab Bahasa.
Ia pun segera berlari mendekat untuk bertanya dengan napas memburu, "Anja di mana??"
Bening hanya menggelengkan kepala dengan wajah penuh air mata.
"Ngapain lo di sini?!?" bentak Bening dengan suara terisak. "Buruan cari Anja!!"
Membuatnya kembali berlari. Menyusuri seluruh koridor yang berada di gedung barat ini. Tapi hasilnya tetap nihil.
Ia pun beralih menelusuri tiap sisi gedung timur. Lagi-lagi tak berhasil menemukan sosok Anja.
Taman, gazebo, UKS, hingga ruang ganti siswa. Tak ada yang luput dari pencariannya. Tapi Anja tak jua didapati. Seolah gadis mungil itu hilang ditelan bumi.
Kini tinggal tersisa satu tempat yang belum ia singgahi, yaitu perpustakaan. Tapi ia terlebih dahulu harus berjalan melewati koridor ruang guru. Yang masih dipenuhi oleh puluhan siswa sedang berkerumun. Sambil mengusung poster mencolok bertuliskan,
...TAK ADA TOLERANSI...
...UNTUK KEBOBROKAN MORAL...
...SANKSI TEGAS UNTUK PELAJAR HAMIL...
...SISWI HAMIL SEHARUSNYA DILARANG IKUT UN...
Isi poster yang begitu menyulut emosi. Membuat darahnya langsung mendidih. Mendorong langkahnya untuk menerobos kerumunan siswa berposter itu dengan gerakan kasar.
Hingga menyebabkan beberapa siswa terdorong ke belakang dan ke samping. Menimbulkan kegaduhan yang berhasil menarik perhatian guru piket.
"Ada apa itu di belakang?!?"
Namun ia hanya menoleh sekilas. Tak bermaksud menuntaskan kemarahan. Karena kepalanya hanya dipenuhi oleh pikiran, harus segera menemukan Anja.
Meski begitu matanya masih sempat merekam bagaimana Aldi berada di barisan paling depan. Tengah berbicara dengan berapi-api pada guru piket dan Wakasek bidang Kesiswaan.
Tapi keinginan menemukan Anja memaksanya untuk segera meninggalkan kerumunan. Memacu langkah panjangnya menuju ke Perpustakaan.
Dimana ia mendapati Dipa dan Agung tengah membuka kaca Mading. Kemudian merobek semua poster dan selebaran tentang Anja yang menempel di sana.
Tak ketinggalan Faza dan Bumi. Sedang berusaha mengumpulkan seluruh selebaran yang berserakan di halaman Perpustakaan. Dengan dibantu oleh dua orang petugas cleaning service sekolah.
Tanpa mengatakan apapun ia segera memasuki lobby Perpustakaan. Tapi seseorang keburu mencegahnya.
"Anja nggak ada di sini!" seru Dipa dengan mata memerah.
Sama menyalanya dengan dirinya. Mungkin jika amarah mereka berdua digabungkan, akan mampu menghancurkan semua yang ada hanya dalam satu kedipan mata.
"Nggak ada dimana-mana," Agung menambahkan dengan mimik menyesal. "Gue udah nyari nggak ketemu."
Tapi ia tak peduli. Tetap berlari memasuki Perpustakaan. Dengan tergesa menyentuhkan jempol kanan ke mesin absensi. Kemudian menatap nyalang layar monitor besar yang terletak di depan meja resepsionis.
Ruang Koleksi - Tidak ada
Ruang Baca - Tidak ada
Ruang Diskusi - Tidak ada
Ruang Audio visual - Tidak ada
Ruang Digital - Tidak ada
Ia bahkan menyengajakan untuk mengecek langsung setiap ruang yang terdapat di gedung berlantai 2 ini. Berharap bisa menemukan Anja di salah satu sudut.
Mungkin Anja sedang bersembunyi ketakutan di antara deretan puluhan rak di ruang koleksi. Atau menenangkan diri di ruang audio visual.
Tapi lagi-lagi tidak. Usahanya mengelilingi dua lantai bahkan sama sekali tak membuahkan hasil. Harus keluar dari Perpustakaan dengan tangan kosong.
Sementara di halaman Perpustakaan, kesibukan Dipa, Agung, Faza, Bumi dan petugas cleaning service belum juga usai.
Meski mereka telah mengumpulkan 4 kantong sampah berisi selebaran dan poster. Namun belum berhasil membersihkan seluruh kekacauan yang ada.
Dipa menjadi orang pertama yang menyadari kehadirannya kembali langsung menatap nyalang.
"Bang sa t lo, ngapain masih di sini?!?" bentak Dipa yang setengah berlari ke arahnya hanya untuk melayangkan pukulan.
Namun Dipa harus puas hanya mengenai angin karena ia keburu menghindar. Acap kali mendapat bogem mentah dalam beberapa kurun waktu terakhir, membuat gerak refleksnya sedikit terlatih. Tak lagi diam untuk pasrah pada keadaan.
"Brengsek lo!" maki Dipa dengan wajah geram. Kembali bersiap melayangkan pukulan.
"Dip! Dip! Dip!" Namun Faza dan Bumi buru-buru meraih lengan Dipa agar mengurungkan niat untuk menghajarnya.
"Jangan di sini!" seru Faza sungguh-sungguh.
Tapi Dipa jelas tak terima ditahan sedemikian rupa. Terus berusah memberontak melepaskan diri. Membuat Faza dan Bumi sedikit kewalahan.
"Ini yang lo mau hah?!?" telunjuk Dipa mengarah tepat ke wajahnya.
"Suruhan siapa lo sampai ngancurin Anja begini?!?" bentak Dipa sambil mendorong bahunya dengan kasar.
"Dip!" Faza kembali berusaha menahan Dipa. Begitu juga Bumi. Sementara Agung hanya memperhatikan mereka dengan wajah lelah.
"Ini semua akibat bacotan nggak penting lo kemarin malam!!" Dipa kembali mengacungkan telunjuk dengan mata menyala.
"Pakai ngaku udah kawin segala!!" bentak Dipa yang kembali mendorong bahunya dengan kasar hingga ia setengah terjengkang ke belakang.
"Kenapa?!? Ngerasa menang lo bisa dapatin Anja?!?"
"Dengar...," ia mencoba menjelaskan.
Namun Dipa keburu memotong kalimatnya dan kembali berteriak. "Puas lo sekarang udah ngasih ide buat orang lain ngancurin hidup Anja?!?"
"Dip!" Faza menarik lengan Dipa agar menjaga jarak dengannya. Bertepatan dengan munculnya Miss Agnetta dari dalam lobby Perpustakaan.
"Faza....Adipati...ada apa ini?" tegur Miss Agnetta.
"Teriakan kalian terdengar sampai ke dalam Perpustakaan."
"Maaf, Miss," Faza mendekat ke arah Miss Agnetta dengan gerik penuh santun. "Ada sedikit kesalahpahaman."
Miss Agnetta menatap mereka satu per satu dengan penuh selidik.
"Tapi sudah berhasil kami selesaikan," terang Faza berusaha meyakinkan.
"Kalian bukannya anak kelas XII semua?" mata Miss Agnetta kembali mengabsen mereka satu persatu.
Membuat mereka berlima menganggukkan kepala.
"Kalau sudah selesai simulasi silakan langsung pulang ke rumah masing-masing," seru Miss Agnetta cepat.
"Jangan buat keributan di lingkungan sekolah!"
Setelah Miss Agnetta kembali masuk ke dalam lobby Perpustakaan, ia langsung beranjak pergi.
Tapi Dipa masih sempat berteriak marah padanya, "Kalau sampai Anja kenapa-napa, gue bakal buat perhitungan sama lo!"
Namun ia sama sekali tak mempedulikan amarah Dipa. Lebih memilih untuk berlari menyusuri koridor ruang ekskul. Berharap bisa menemukan Anja di sana.
Sembari tangannya meraih ponsel dari dalam saku. Kembali mendial angka 1, guna memanggil Anja.
Tuut! Tuut! Tuut!
Tut! Tut! Tut! Tuuuuuuuuut!
Tapi lagi-lagi panggilan terputus dengan sendirinya. Membuat kepalanya seakan meledak berkali-kali karena saking khawatirnya.
Ia bahkan mencari hingga sudut terjauh. Yaitu aula, ruang kesenian tradisional, ruang musik, ruang orchestra, hingga lapangan indoor. Semua tak luput dari pencariannya. Namun Anja tak juga diketemukan.
Ia pun berniat mengulangi pencarian. Khawatir tadi ada ruangan yang terlewat. Sembari tangannya kembali mendial angka 1. Berharap Anja sudi mengangkat panggilan darinya.
Tapi lagi-lagi ia harus menemui jalan buntu. Anja tak ada dimanapun. Dan panggilan darinya tak sekalipun ada yang diangkat.
Memaksa otaknya untuk bekerja keras. Memikirkan dimana kemungkinan Anja berada. Karena seluruh ruangan yang ada bahkan telah ia periksa. Tapi hasilnya tetap nihil.
Dan perlahan namun pasti. Kerja keras otaknya mulai mendapatkan hasil. Menemukan tempat yang belum sempat ia telusuri sebelumnya. Yaitu toilet perempuan.
Ya, kemana lagi Anja akan menuju. Toilet jelas bisa menjadi tempat persembunyian yang cukup sempurna. Dan ia pun bisa memeriksanya dengan seksama. Karena saat ini sedang jam pelajaran. Tak ada lalu lalang siswi yang keluar masuk toilet. Kecuali satu dua orang.
"Anja...Anja....."
Ia bahkan nekat memasuki toilet perempuan. Kemudian membuka tiap pintunya. Berharap bisa menemukan Anja di sana.
Akan tetapi kepercayaan dirinya harus kembali terhempas. Karena dari 4 bangunan toilet perempuan yang menyebar di sudut sekolah, tak satupun yang menjadi tempat pelarian Anja.
Membuatnya kembali harus memutar otak. Guna memikirkan kemungkinan tempat atau ruang di sekolah yang kira-kira akan didatangi Anja dalam keadaan semenyedihkan ini.
Ia masih berusaha mendial angka 1, sembari kakinya melangkah gontai menyusuri koridor sunyi di sekeliling aula. Ketika matanya tak sengaja menangkap bangunan tua yang terletak persis di belakang aula.
Namun terhalang oleh sebaris taman yang ditumbuhi oleh beberapa tanaman bunga indah. Berhasil mengkamuflasekan suasana halaman belakang aula. Hingga membuat gudang tempat penyimpanan peralatan sekolah yang tak terpakai menjadi sama sekali tak terlihat. Sekaligus tak mudah ditemukan.
Dengan berlari sekencang-kencangnya ia berusaha membelah taman di belakang aula. Menerobos sederet tanaman bunga mawar berduri yang berhasil menggores tangannya akibat terlambat menghindar.
Kemudian tergesa-gesa melangkahkan kaki menyusuri koridor gudang yang lantainya kotor tak terawat.
Dipenuhi oleh bunga pinus yang berserakan dimana-mana. Juga biji pohon saga yang berwarna merah seperti biji kopi. Dua jenis pohon yang banyak tumbuh di bagian paling belakang sekolahnya ini.
Biji pohon saga yang banyak berhamburan bahkan menempel di lantai bekas terinjak-injak. Kemungkinan besar oleh para siswa Pusaka Bangsa yang menjadi pengunjung tetap bangunan tua ini.
Karena kabur dari kelas atau hanya sekedar numpang merokok sebatang dua batang saat jam istirahat. Berdasar pengalamannya dulu ketika menjadi berandal. Yang juga sering kabur ke tempat ini.
Ah ya, betapa bo doh dirinya. Sampai tak ingat ada gudang di belakang sekolah. Yang pastinya menjadi tempat pelarian sempurna dari hiruk pikuk sekolah.
Sungguh menyesali diri kenapa tidak sedari awal ia menuju ke tempat ini. Tak harus membuang waktu sia-sia hingga membuat Anja harus menunggu lama.
Karena ketika ia memasuki satu-satunya pintu gudang yang terbuka, matanya langsung disambut oleh pemandangan paling memilukan yang pernah ada.
"Ja?" ia menghembuskan napas panjang saking leganya mendapati Anja tengah duduk dengan menelungkupkan kepala di atas sebuah meja yang telah rusak.
***
Anja
Kakinya terus melangkah meski tak tahu kemana. Berusaha sejauh mungkin pergi dari hal paling mengerikan yang baru kali ini terjadi dalam hidupnya.
Melewati koridor panjang yang sepi. Melintasi aula yang lengang karena sedang tak ada kegiatan. Menyusuri tanaman bunga yang membuatnya merasa tersembunyi dari dunia luar.
Hingga tanpa sengaja berhasil menemukan tempat terbaik untuknya saat ini. Yaitu sebuah bangunan tua berbentuk gudang yang tak terawat. Ia bahkan baru mengetahui ada tempat seperti ini di sekolah.
Sedikit menakutkan karena bangunan tua ini terkesan suram dan gelap. Dengan bunga pinus berserakan di seluruh penjuru lantai koridor.
Hingga tiap kali ia melangkah, pasti tak sengaja menendang atau menginjak bunga berbentuk unik dan bertekstur keras itu.
Juga kotoran berwarna merah dan kuning. Akibat bunga pohon saga yang jatuh berguguran kemudian terinjak. Menempel di sepanjang lantai koridor.
Namun meski merasa sedikit takut dengan aura seram yang mengelilingi gedung tua ini. Ia tetap meneguhkan diri melanjutkan langkah untuk memasuki satu-satunya pintu yang terbuka.
Karena hatinya merasa jauh lebih aman jika berada di sini. Daripada di tengah kerumunan dimana semua orang bahkan mencemooh dan menyudutkan dirinya tanpa ampun.
Kemudian memilih untuk mendudukkan diri di sebuah kursi tua yang telah usang dimakan waktu, meski belum rusak. Dengan air mata yang kembali berderai demi mengingat kejadian paling mengerikan yang baru saja ia alami di selasar Lab Komputer beberapa menit lalu.
Tidak! Tidak! Tidak!
Apa itu tadi?
Apakah kini semua orang membencinya?
Menyalahkannya atas kesalahan yang diperbuat?
Apakah setelah semua ini ia masih bisa melanjutkan hidup?
Atau ini adalah akhir dari dunia?
Air matanya seolah tak bisa berhenti mengalir. Terus berderai hingga ia tak tahu lagi, berapa lama waktu yang dihabiskan untuk menangis. Sembari menelungkupkan wajah ke atas meja. Berharap kesakitannya luruh bersamaan dengan deraian air mata yang keluar.
Namun tiba-tiba telinganya mendengar suara yang begitu familiar. Suara yang tanpa sadar telah menjadi favoritnya belakangan ini.
"Ja?"
Kepalanya bahkan langsung mendongak. Jauh sebelum jaringan neuron di dalam otaknya memberi perintah.
Dan di sana, di depan pintu yang memang terbuka karena telah rusak. Mata berairnya menangkap sosok Cakra tengah berdiri menjulang dengan napas tersengal.
Seperti orang habis berlari mengelilingi lapangan sepakbola sebanyak sekian putaran sekaligus. Hingga beberapa titik keringat jatuh di sekitar kening. Lengkap dengan rambut berantakan yang membuat hatinya mencelos.
Tanpa mengatakan apapun Cakra segera berlari menghampiri. Kemudian berlutut dan memeluknya erat. Hingga wajah Cakra bisa mencium perutnya. Lalu bertanya dengan penuh kelegaan.
"Kamu nggak apa-apa?"