
Cakra
"Jadi...mau jalan ke mana nih kita?" selorohnya sambil melajukan kemudi keluar dari tempat parkir gedung PMT.
Tapi Anja tak menjawab. Sebab mulutnya sedang penuh mengunyah roti bakar yang dibawakan oleh Bi Enok.
"Kamu lagi pingin makan di mana? Mall?" tanyanya lagi sambil memperhatikan jalan di depan yang telah mengular dipenuhi oleh antrean panjang kendaraan.
Namun Anja tetap tak menjawab. Masih terus mengunyah roti bakar dalam potongan besar.
"Kamu lapar banget?" ia tertawa demi melihat ekspresi makan Anja yang terlalu rakus.
Lalu kembali memperhatikan jalanan di depan. Penasaran mengapa gerak kendaraan hanya bisa melaju sepanjang dua sampai tiga meter. Lalu berhenti. Begitu seterusnya.
"Ka....," ia ingin bertanya lagi pada Anja namun kalimatnya terpotong di udara. Sebab Anja telah lebih dulu menjejalkan sepotong roti bakar rasa cokelat keju ke dalam mulutnya.
Ia tersenyum sambil menggelengkan kepala. Lalu mengunyah roti bakar yang baru saja disuapkan oleh Anja.
"Makan!" sungut Anja dengan mulut yang masih dipenuhi oleh potongan besar roti bakar. "Jangan ngomong melulu."
Ia hanya tersenyum seraya mengerling ke arah Anja.
"Lagi?" tawar Anja begitu melihatnya selesai menelan roti bakar suapan pertama. Sembari menyuapkan sepotong roti bakar lagi ke depan mulutnya.
Ia pun segera menyambut suapan Anja. Seraya kembali melajukan kemudi. Sebab kendaraan di depan mulai bergerak maju.
Anja masih terus menyantap roti bakar sekaligus menyuapinya. Sampai seluruh isi box licin tandas berpindah ke perut mereka berdua.
"Minum nih," Anja mengangsurkan sebotol air mineral yang tinggal tersisa setengahnya. Sebab sudah lebih dulu diminum oleh Anja.
Ia tersenyum sambil menerima uluran air mineral. Meminum sampai habis. Lalu menyimpan botol yang telah kosong di samping pintu.
"Mau ke mana Neng?" selorohnya seraya mengerling ke arah Anja. "Nanti Abang antar."
Anja tertawa, "Pulang aja deh, Bang."
Ia mengernyit, "Nggak mau jalan dulu?"
"Hari terakhir aku di Jakarta nih," selorohnya sambil mengedipkan sebelah mata.
Sontak berhasil membuat tawa Anja semakin meledak.
"Maaf, Bang," Anja menggelengkan kepala. "Neng lagi nggak mau jalan."
"Mau langsung pulang," lanjut Anja kali ini dengan sungguh-sungguh. "Udah kangen sama anak."
Ia langsung tersenyum bangga begitu mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Anja, "Oh....so sweet (manisnya)...."
Tapi Anja justru memukul lengannya sambil bersungut-sungut, "Gaje, ih, kamu!"
Ia hanya terkekeh mendapati reaksi Anja. Lalu mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala yang dihiasi rambut tebal dan halus itu.
"Mampir juga enggak?" tanyanya sekedar untuk memastikan. "Kamu pingin jajan mungkin? Kita bisa ambil yang take away."
Tapi Anja menggelengkan kepala, "Pulang, Abaaaang."
Ia kembali tertawa mendengar jawaban Anja dengan nada yang dibuat-buat.
"Aku udah nggak nyaman banget nih," lanjut Anja sambil mengendikkan bahu.
"Breast pad ku udah basah banget kena ASI."
Ia menepuk dahi karena lupa, "Oiya, kamu kan mesti mompa ASI tiap dua jam sekali."
"Ini udah lebih dua jam dari kamu terakhir mompa tadi kan?"
"Mau berhenti dulu di suatu tempat biar kamu bisa mompa ASI dulu?"
Lagi-lagi Anja menggelengkan kepala, "Langsung pulang, Abaaang. Nggak usah mampir mampir."
"Oke....oke....," ia mengangguk tanda mengerti. Lalu kembali memusatkan konsentrasi pada jalanan di depan. Yang hingga saat ini masih saja dipenuhi oleh antrean kendaraan. Sama-sama hendak keluar dari kawasan Kampus Jakun.
***
Ia sedang memeriksa isi travel bag untuk memastikan tak ada barang yang tertinggal.
Sementara Anja tengah mengASIhi Aran. Yang begitu mendengar suara mereka saat baru pulang tadi, langsung menyambut dengan lengkingan tangis yang sangat kencang. Seolah Aran tahu jika baru saja ditinggal pergi oleh Ayah Bundanya.
"Dia tahu kali ya kalau barusan kita pergi," gumam Anja.
"Kayaknya," jawabnya sambil memeriksa satu per satu berkas pendaftaran yang tersimpan di dalam file holder.
"Aku jadi ingat Mamak."
Gumaman Anja kali ini langsung menghentikan kegiatannya memeriksa kelengkapan berkas. Dan dalam hitungan detik, disimpannya file holder ke atas travel bag yang masih terbuka. Lalu beranjak mendekati Anja.
"Kemarin habis aqiqah, sebelum pulang Mamak bilang, kalau sekarang aku udah jadi ibu. Jadi, harus bisa menjaga suasana hati."
Ia mengambil duduk tepat di samping Anja. Memperhatikan Aran yang tengah mencecapi sumber kehidupan dengan rakusnya. Lalu mengusap pipi bulat bayi merah itu melalui ujung jari.
Sesaat Aran sempat melepas sumber kehidupan tempatnya bergantung. Seakan tahu jika ia yang sedang menyentuh pipinya. Aran bahkan seolah mengatakan, "Last Day (hari terakhir), Ayah?"
Namun sedetik kemudian, Aran kembali melanjutkan nennya. Tak kalah rakus dibanding sebelumnya. Lebih malah.
"Mamak bilang, aku harus tenang dan bahagia...."
Ia mencium rambut Anja. Hingga aroma keharuman favoritnya menguar memenuhi keseluruhan rongga hidung.
"Sebab ikatan batin antara aku dan Aran udah terbentuk," lanjut Anja lagi.
"Aran bakal tahu, ngerasa dan ngerespon tiap emosi yang kurasakan."
Ia meraih bahu Anja lalu meremasnya lembut. Dengan hidung masih menempel di salur-salur halus dan lembut rambut Anja.
"Nyambung gitu apa yang sedang aku rasakan ke Aran," Anja mendongak untuk menatapnya. Hingga ia terpaksa harus melepaskan sentuhan di rambut wangi milik Anja.
"Terus terang waktu pergi regis tadi, aku ngerasa nggak nyaman," ujar Anja dengan mata mereka yang masih saling bertautan.
"Kayak berat mau ninggalin Aran di rumah."
Ia tersenyum mengangguk mencoba mengerti kegundahan hati Anja.
"Kayak yang....," Anja kembali menundukkan kepala. Lalu dengan lembut mengusap pipi bulat seperti tomat yang berada dalam buaiannya.
"Kebayang-bayang terus sama Aran."
Ia semakin meremas bahu Anja.
"Pinginnya Aran dibawa kemanapun aku pergi."
Ia tersenyum sembari mengecup puncak kepala Anja.
"Terus tadi Mama bilang, Aran sempet rewel nggak mau minum ASIP pakai dot."
Anja kembali mendongak ke arahnya, "Memang Aran belum sempat dilatih nen pakai dot sih."
"Tapi akhirnya mau nen?" ia jadi ingin tahu.
Anja mengangguk, "Mau tapi disuapin pakai pipet kata Mama."
Ia kembali meremas bahu Anja.
"Aku nggak bisa bayangin gimana nanti, kalau udah mulai orientasi maba," gumam Anja dengan nada suara yang jelas-jelas menggambarkan kegalauan.
"Terus kuliah...."
"Menurut Abang...aku bisa nggak ya ngejalanin ini semua?"
Ia menatap mata bulat dan indah milik Anja sambil mengu lum senyum. Panggilan kata "Abang" jelas membuatnya tersanjung.
"Bisa," bisiknya pada akhirnya. "Pasti bisa."
"Ini karena baru pertama kali," lanjutnya sambil terus mengusap bahu Anja.
"Jadi kamu masih grogi. Karena belum terbiasa."
Anja tersenyum samar seraya berucap, "Doain aku bisa rileks ya."
"Sumpah tadi sepanjang jalan aku keinget Aran terus," lanjut Anja dengan wajah menyesal.
"Mungkin itu yang bikin Aran jadi rewel."
Ia mengeratkan rengkuhan di bahu Anja sembari berbisik, "Anjani, the most calmest girl in the whole world (gadis paling tenang di seluruh dunia)."
"And me (dan aku)....," ia tersenyum sebelum kembali berkata. "The luckiest guy in the whole wide world (orang paling beruntung di seluruh dunia)."
"Cos have you both (karena memiliki kalian berdua)."
"Belajar dimana tuh jadi lancar nyepik begitu?"
"Sebel!" sungut Anja setengah mencibir.
Membuatnya langsung tergelak sambil kembali mencium rambut Anja. Lalu berbisik dengan nada provokatif, "Bakat alami...."
***
Jelang petang ia ikut bergabung di ruang tengah. Dimana Papa dan Mama Anja tengah bercengkerama menikmati kudapan sore. Sambil sesekali mengajak Aran yang tengah terbelalak di atas bouncer bermain-main.
"Jadi, ke Bandung kapan?" tanya Papa Anja.
"Nanti malam, Pa."
Dua hari lalu ia telah memesan tiket kereta api Argo Parahyangan melalui jasa layanan tiket online. Dan memilih jam keberangkatan pada pukul sepuluh malam.
"Nanti biar diantar sama Pak Cipto," lanjut Papa Anja.
Ia sebenarnya ingin menolak, sebab tak mau merepotkan orang lain. Toh dari rumah Anja, ia bisa naik ojek online ke Stasiun.
Tapi demi menghargai Papa Anja, ia memilih untuk menganggukkan kepala tanda setuju. Dengan tanpa melontarkan keberatan sepatah katapun.
"Nanti di rumah Bandung, ada Teh Juju sama suami dan anak-anaknya," terang Mama Anja.
"Teh Juju itu anak pertamanya Bi Enok. Kakaknya Teh Cucun," bisik Anja di telinganya. Mungkin tahu jika ia sedang bertanya-tanya dalam hati, tentang Siapa Teh Juju?
"Kalau perlu apa-apa bisa minta tolong sama mereka," lanjut Mama Anja lagi. "Jangan sungkan."
"Kemarin Mama udah nelepon Teh Juju, ngasih tahu kalau kamu mau datang."
"Baik, Ma," ia tersenyum mengangguk.
Malam hari, sepulang dari Masjid usai menunaikan ibadah sholat Isya, ia berniat untuk mulai berkemas. Tapi Anja mengajaknya makan terlebih dahulu.
"Makan dulu yuk, lapar nih."
Mereka berdua makan dalam diam. Meski sesekali sambil saling melempar senyum samar. Seolah sama-sama merasa berat dan enggan, sebab saat perpisahan akan segera tiba.
"Nyampai Bandung jam berapa?" tanya Anja ketika ia meraih sweater berhoodie yang kemarin dipilihkan oleh Anja.
"Kalau di jadwal sih jam setengah duaan," jawabnya sambil memakai sweater. Lalu kembali mengecek isi file folder. Memastikan untuk yang terakhir kali agar jangan sampai ada yang tertinggal.
"Dini hari begitu naik apa dari Stasiun ke rumah?" suara Anja terdengar khawatir.
Ia tersenyum menenangkan, "Taxi, Opang, Ojol, banyak, Ja."
"Kamu mepet banget sih milih keretanya," sungut Anja yang sedang bertopang dagu memperhatikannya berkemas.
"Maunya malah besok pagi," ia berseloroh.
"Idih!" Anja mendelik. "Kamu tuh ya senengnya mepet mepet begitu! Cari masalah tahu! Ntar kalau telat gimana?!"
"Tapi jadwal keberangkatan Argo Parahyangan dari Gambir, paling pagi jam enam," jawabnya sambil menahan tawa demi melihat wajah kesal Anja.
"Sementara regis mulai jam delapan," sambungnya seraya mengangkat bahu.
"Mau nggak mau harus berangkat malam ini."
Anja masih saja cemberut. Tapi segera bangkit dan berdiri begitu melihatnya telah selesai berkemas. Meyakini jika tak ada barang yang tertinggal.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Anja yang kini telah berdiri tepat di hadapannya. Mengulurkan tangan bermaksud untuk merapikan bagian leher sweater yang terlipat ke dalam.
Ia tersenyum, "Titip Aran ya."
Anja menganggukkan kepala berkali-kali meski tanpa suara.
Ia pun merangkum pipi Anja dengan lembut. Lalu menengadahkannya. Hingga ia bisa memandangi wajah cantik dengan sepasang mata indah yang kini telah dipenuhi oleh kaca. Siap luruh kapan saja.
Ia masih memandangi wajah yang teramat berarti dalam hidupnya. Wajah yang terakhir kali diingatnya sebelum terlelap. Sekaligus wajah yang pertama kali dicarinya ketika membuka mata di pagi hari. Wajah istrinya tercinta.
Anja balas menatapnya sembari menggigit bibir. Dengan buliran bening air mata yang mulai berjatuhan membasahi pipi.
Membuatnya segera meraih tubuh mungil Anja ke dalam rengkuhan. Mendekapnya erat seolah enggan terlepas.
"Baik-baik di sana ya," bisik Anja dengan suara tersendat.
"Kamu dan Aran juga baik-baik di sini ya," bisiknya sambil memejamkan mata. Berusaha menghirup dalam-dalam keharuman khas Anja yang pasti akan dirindukannya.
Mereka masih saling merengkuh. Dalam dan lama. Sampai bisa mendengar suara detak jantung masing-masing. Seolah tengah menyelami kedalaman hati yang sama-sama enggan untuk berpisah.
"Nanti kamu ketinggalan kereta," bisikan Anja membuat mereka harus rela saling melepaskan.
Ia tersenyum sembari mengusap pipi Anja yang selembut bayi. Lalu mulai menyentuhkan wajah mereka berdua.
Halus, perlahan, menenangkan.
Namun lambat laun berubah menjadi penuh irama, dalam, menggebu, menuntut, sekaligus memabukkan.
Tapi kemampuan maksimal dalam menahan napas membuat mereka terpaksa harus rela untuk saling melepaskan.
Ia tersenyum menatap Anja yang kini kembali menggigit bibir dengan ekspresi gelisah.
Membuatnya kembali meraih Anja ke dalam rengkuhan. Sembari mencium keningnya dalam-dalam.
Hingga sepasang lengan mungil yang mengelilingi pinggangnya terasa semakin erat mencengkeram.
"Aku pamitan sama Aran dulu," ujarnya dengan berat hati. Sebab mereka mau tak mau harus benar-benar saling melepaskan.
Ia menciumi pipi, kening, dan hidung Aran dengan segenap perasaan. Lalu berbisik dengan suara bergetar, "Baik-baik di sini sama Bunda ya."
Ia kembali mencium kening Aran dalam-dalam. Sebelum akhirnya beranjak keluar kamar. Menarik travel bag sembari tetap saling memeluk dengan Anja.
"Sudah siap semuanya?" sambut Papa Anja begitu mereka sampai di ruang tengah.
"Sudah, Pa," ia mengangguk.
Kemudian Papa Anja berjalan mendekat. Membuatnya harus melepaskan pelukan di pinggang Anja.
Ia masih berdiri ketika Papa Anja bergerak maju untuk memeluknya. Lalu menepuk punggungnya beberapa kali.
"Selamat berjuang di Bandung," gumam Papa Anja.
"Nggak usah kepikiran sama yang di sini," sambung Papa Anja sambil tersenyum.
"Anak istrimu akan baik-baik saja bersama kami."
Ia mengangguk dengan mulut kaku. Tak mampu menyunggingkan seulas senyum lagi. Lalu berkata dengan suara terbata, "Titip Anja dan Aran, Pa. Maaf merepotkan."
Papa Anja menepuk bahunya keras sambil tersenyum.
Kemudian ia beralih memeluk Mama Anja yang telah berurai air mata.
"Cuma mau pergi ke Bandung tapi sedihnya begini ya, Cakra," bisik Mama Anja setengah menangis setengah tertawa.
Ia yang mulai larut dalam suasana jadi ikut tertawa.
"Kayak mau pergi ke medan perang aja," seloroh Mama Anja sembari menyusut sudut mata.
"Cuma tas ini barangnya, Den?" tiba-tiba suara Mang Jaja terdengar memecah keharuan yang kini tengah menguar memenuhi udara di atas mereka.
"Iya, Mang," ia mengangguk membenarkan.
"Itu Mama bawakan stok makanan buat sebulan," Mama Anja memegang bahunya.
"Nanti langsung kasih ke Teh Juju aja. Biar dia yang ngurus."
"Baik, Ma," ia mengangguk. Sama sekali tak menyangka jika stok makanan yang dimaksud oleh Mama Anja berupa dua buah kardus berukuran besar yang memenuhi bagasi.
"Ma?" Anja mengernyit heran. "Nanti Cakra bawanya gimana banyak gini?"
"Bawa apa?" Mama Anja justru balik bertanya.
"Cakra kan mau naik kereta. Nanti bawanya gimana barangnya segede gaban gini?" ulang Anja dengan kening mengkerut.
"Nggak apa-apa, Ja," ia berusaha menenangkan. "Nanti bisa minta tolong porter di Stasiun."
"Lho, siapa yang mau naik kereta?" kini gantian Mama Anja yang mengkerut.
"Cakra kan mau diantar Pak Cipto sampai ke Bandung. Iya kan, Pa?" tanya Mama Anja ke arah Papa Anja yang menganggukkan kepala.
***
Keterangan :
The luckiest guy. : orang yang paling beruntung