
Cakra
Ia telah selesai memasukkan semua mobil ke garasi. Lalu mencuci tangan. Dan segera duduk di teras samping dimana Mas Sada dan Teh Dara tengah bercengkrama.
Dengan latar belakang suasana riuh Arka, Yasa juga Lana yang kini sedang berkejaran di halaman samping dengan menggunakan otopet.
"Mas," ia tersenyum dan mengangguk. Karena tak ingin mengganggu.
"Si Cakra nih, udah nyusun acara aqiqah sendiri nggak ngobrol dulu!" gerutu Mas Sada begitu melihatnya.
"Wah, bagus dong," ujar Teh Dara senang.
Sementara ia hanya bisa meringis sambil menelan ludah.
"Bagus gimana?! Udah beli kambing segala!" nada suara Mas Sada masih tetap tinggi.
"Padahal Mama ada rencana sekalian syukuran kepulangan Papa," lanjut Mas Sada dengan muka masam.
"Belum rencana nikah ulang."
"Lho, mereka mau nikah ulang?" kini giliran Teh Dara menatap Mas Sada tak mengerti.
"Mama maunya begitu."
Teh Dara masih mengernyit namun tak lagi berkata apa-apa. Sementara sebagai objek yang sedang dibahas, ia hanya menjadi pendengar setia.
"Memang kamu punya duit buat aqiqah?" tanya Mas Sada tanpa tedeng aling-aling.
"Mas....," Teh Dara langsung menyentuh lengan Mas Sada dengan pandangan tak setuju.
Tapi sepertinya Mas Sada tak peduli, "Belum biaya persalinan kemarin. Kamu punya tabungan berapa banyak?"
"Mas....," Teh Dara lagi-lagi memberi pandangan memperingatkan.
"Gini," Mas Sada jelas sudah terlalu gusar. Sama sekali tak menghiraukan Teh Dara yang menatapnya iba.
"Kamu ingat pembicaraan kita bertiga tempo hari?"
"Pembicaraan apa?" sahut Teh Dara cepat dengan tatapan awas.
Ia mengangguk.
"Berarti kamu tahu, sampai di titik ini, kami sudah sangat sangat longgar dan mengerti," Mas Sada menatapnya tajam. Sama sekali tak berusaha menjawab keingintahuan Teh Dara.
"Sampai sini paham?"
Ia menelan ludah dengan cepat sebelum kembali mengangguk.
"Asal kamu tahu, kalian itu hidup nggak cuma berdua sama Anja atau bertiga sama Aran."
"Ada kami keluarganya!"
"Jadi, bisa menghargai kami dengan mendiskusikan semua hal yang berhubungan dengan Anja dan Aran?"
"Bukan membuat keputusan sepihak."
"Kalau begini kamu sendiri yang rugi."
"Udah keluar duit berapa buat DP kambing?"
"Terus kamu mau nyusun acara aqiqah seperti apa?"
"Kamu tahu kan kolega Papa sama Mama segitu banyaknya."
Ia kembali menelan ludah sebelum angkat bicara, "S-saya minta maaf Mas, karena telah lancang membuat keputusan sendiri. Saya pik..."
"Komunikasi, koordinasi, itu intinya!" sergah Mas Sada memotong ucapannya.
"Nggak jalan sendiri kayak nggak punya keluarga."
"Mas....," Teh Dara kembali menyentuh lengan Mas Sada lembut. "Kita dengar dulu deh Cakra mau ngomong apa."
Ia hanya bisa tersenyum kecut sambil berkali-kali menelan ludah. Kemudian memberanikan diri untuk berkata,
"Saya minta maaf karena telah lancang membuat keputusan sendiri."
"Saya dan Anja tak ingin merepotkan Mas, Teteh apalagi Mama dan Papa."
"Kebetulan kemarin, Bidan Karunia membebaskan seluruh biaya persalinan Anja."
"Wah?" Teh Dara langsung berbinar menatapnya. Sementara wajah Mas Sada justru bertambah masam.
"Jadi, uang yang rencananya untuk membayar persalinan. Saya pakai untuk menyelenggarakan aqiqah."
"Good," Teh Dara mengacungkan jempol ke arahnya.
"Tapi kalau memang Mas kurang berkenan," ia harus kembali menelan sebelum melanjutkan kalimat.
"Nanti saya kontak teman saya untuk cancel pembelian kambing."
"Wah, nanti kamu kena charge berapa?" tanya Teh Dara tak setuju.
"Belum tahu, Teh," jawabnya mencoba tersenyum.
"Keren tuh Mas, Cakra punya inisiatif," Teh Dara jelas sedang berusaha menjadi penengah.
"Inisiatif tanpa komunikasi artinya semau gue! Nggak menghargai anggota keluarga yang lain," namun Mas Sada sepertinya masih kesal dengan keputusan sepihaknya.
"Kita juga sama, Mas, nggak ngajak ngobrol Cakra dulu tentang rencana kita. Idealnya komunikasi dua arah kan?"
Kini ia semakin paham, jika Teh Dara selalu bisa menempatkan diri saat keadaan mulai genting. Sungguh dukungan moral terbaik untuknya. Bagai pertolongan yang jatuh secara cuma-cuma dari langit.
"Ya kan rencananya nanti setelah Mama datang. Baru ngobrol," sergah Mas Sada tetap pada pendiriannya.
"Lagian masih ada dua hari sebelum waktu aqiqah," lanjut Mas Sada lagi. "Masih ada spare waktu."
"Kalau jalan dua-duanya gimana, Mas?" suara Teh Dara mendadak riang.
"Jalan dua-duanya gimana?"
"Cakra tetep lanjutin rencana aqiqah. Kita tinggal urus syukuran kepulangan Papa sama nikah ulang."
"Biar nanti, aqiqah yang dari Cakra dibagikan ke sekitar rumah Cakra. Ya Cak?"
Ia mengangguk.
"Kalau yang di sini, di handle sama kita."
"Syukuran aqiqah Aran, kepulangan Papa, nikah ulang."
"Dapat semuanya kan?"
"Oya, jangan lupa dengan Bu Bidan ya, Cak. Kita undang beliau secara khusus ke sini pas aqiqah."
Ia kembali menganggukkan kepala.
"Win win solution?" kerling Teh Dara ke arah Mas Sada yang masih saja mengkerut.
***
Mas Sada
Begitu Cakra beranjak dari teras samping, Dara langsung meraih tangannya dan menggenggam erat.
"Mas tiap ngobrol sama Cakra kenapa berubah jadi macan sih?"
Ia tertawa mendengar gerutuan Dara.
"Kasihan, Mas."
"Jangan galak-galak lah."
"Untuk cowok usia segitu, karakter Cakra termasuk jenis langka."
Ia mendesis sebal mendengar ucapan Dara.
"Baik dan kuat dalam satu kuadran. Yes?"
"Tapi dia sama sekali belum paham gimana caranya berkehidupan sosial," elaknya namun sembari melingkarkan lengan ke bahu istrinya.
"Makanya kamu jangan serem-serem. Jadi dia jiper duluan kalau mau buka obrolan."
Ia hanya tertawa sumbang.
"Aku lagi nyari celah, klik nya dimana sama tuh bocah," ujarnya yakin.
"Aku sih udah klik dari dulu," jawab Dara sambil tersenyum.
Membuatnya kembali tertawa sumbang, "Bukan karena penampilan luar kan?"
Dara ikut tertawa, lalu bergumam seraya mengacungkan jempol, "His character, attitude...."
"Cara dia ngetreat Anja," lanjut Dara sambil menghela napas. "Mas tahu sendiri Anja. Manjanya, keras kepalanya...."
Kini pandangannya menerawang jauh ke depan. Memperhatikan daun dari rumpun bambu Jepang yang bergoyang melambai-lambai akibat tertiup angin sepoi.
Sementara ketiga anaknya masih asyik berkejaran menggunakan otopet. Melintasi halaman samping lalu berputar hingga ke halaman depan. Sambil saling bercanda dan tertawa.
"Aku juga salut sama Mamaknya Cakra," gumam Dara membuatnya kembali menajamkan telinga.
"Beliau benar-benar memperlakukan Anja dengan penuh kasih sayang."
"Sampai Anja mau dengan sukarela minum ramuan tiap hari."
"Anja?" tanyanya tak percaya. Karena ia tahu betul jika Anja tak pernah menyukai hal-hal tradisi yang rasanya pahit dan tak enak di lidah.
Dara tersenyum mengangguk, "Surprise kan?"
"Mau di bengkung seharian."
"Badannya dioles segala rempah sama bedak tradisional."
"Seolah tanpa Mamak bicara panjang lebar menjelaskan segala manfaat dan semacamnya, Anja udah iya-iya aja mau nurut."
"Karena semua yang dilakukan dari hati, akan langsung masuk ke hati."
Kini ia melempar pandangan pada dedaunan pohon jambu kristal yang tetap tampak hijau dan segar. Meski ditinggal mudik lebaran oleh Mang Jaja selama hampir seminggu.
Kira-kira siapa yang merawat pohon jambu kristal kesayangan Papa selama ditinggal mudik? batinnya ingin tahu.
"Kayaknya cara masuk Cakra ke keluarga kita yang bikin kamu terluka, Mas."
Ia mendecak sambil tertawa sinis meski tanpa suara.
"Cara masuk Cakra yang dipaksakan. Membuat Mas merasa dikhianati dan tak dihargai."
Kini ia menghembuskan napas panjang.
"Jadi, sepositif apapun kesan yang ditampilkan Cakra. Otomatis langsung tertolak."
Kalimat yang diucapkan Dara membuatnya menoleh. Hingga mata mereka saling bertautan.
"Aku nggak mau....suamiku yang baik ini...," Dara mengusap pipinya lembut. "Hidup dengan menyimpan luka."
"Apa sih," ia tertawa sumbang dan kembali melemparkan pandangan pada sederet tanaman hias koleksi Mama. Yang juga tak kalah terawatnya.
"Obatnya satu, Mas....," gumam Dara seraya merebahkan kepala di bahunya.
"Memaafkan....."
Ia hanya menghela napas panjang sambil tetap memusatkan perhatian pada deretan tanaman hias. Sama sekali tak berniat menanggapi perkataan Dara.
***
Cakra
Dari teras samping ia menuju ke ruang tengah. Namun suasana sepi. Tak ada seorangpun di sana.
Dan sebelum kakinya berbelok menuju ke kamar Anja. Matanya lebih dulu menangkap bayangan Mamak melintas ke dapur. Membuatnya memutuskan untuk melangkah mengikuti Mamak.
"Den," sapa Bi Enok sumringah. "Ini saya lagi diajari Mamak masak makanan khas Aceh yang enak-enak."
Ia tersenyum.
"Nanti Den Cakra jadi tukang icip ya," seloroh Bi Enok. "Rasanya udah pas di lidah belum."
Kali ini ia tertawa. "Siap, Bi."
"Kita ini barter ilmu lho, Den," lanjut Bi Enok lagi dengan hidung terkembang.
"Nanti habis ini gantian saya ajari Mamak masak liwet peda merah sama ulukutek leunca."
"Wah, mantap, Bi," ia mengacungkan jempol ke arah Bi Enok yang tertawa senang.
"Anja mana, Mak?" tanyanya ke arah Mamak yang sedang memotong-motong ayam.
"Tadi lagi nen in Dekgam (adik laki-laki) di kamar."
"Oh," ia mengangguk dan beranjak pergi.
"Den, nanti ke sini lagi buat icip masakan Bibi ya," seloroh Bi Enok membuatnya mengangguk sembari terkekeh.
Setelah mengetuk sebanyak tiga kali. Tanpa menunggu dipersilakan masuk, ia langsung membuka pintu kamar dengan perlahan. Dan menjumpai tiga pasang mata sedang menatapnya tajam.
"Ponselku di mana?" tanya Anja cepat begitu melihatnya di depan pintu.
"Di meja," jawabnya sambil mengernyit melihat kegugupan Anja.
"Kok dari tadi aku cari nggak ada?" gerutu Anja sambil berjalan ke arah meja belajar dan mulai mencari.
Dengan langkah panjang ia menyusuri kamar menuju meja belajar.
"Selamat ya, Cak," ujar Hanum dan Bening bersamaan ketika ia berjalan melewati mereka berdua.
"Baby nya ganteng banget," ucap Hanum seraya mengacungkan jempol.
"Siap produksi massal nih, Cak. Biar warga good looking semakin bertambah," seloroh Bening membuatnya tertawa.
"Makasih banyak," jawabnya seraya mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel di atas meja belajar Anja.
"Ini," ujarnya sambil mengangsurkan ponsel ke arah Anja yang masih kebingungan mencari.
"Ya ampun, aku dari tadi nyari kok nggak nemu sih?" Anja menerima ponsel dari tangannya dengan senyum lebar.
"Kehalang sama kotak tissue," jawabnya tersenyum simpul. Sembari menatap wajah Anja lekat-lekat. Yang tiap kali gugup justru terlihat kian menggemaskan baginya.
"Aku kalau panik jadi gini deh," sungut Anja lebih ke diri sendiri. "Jadi lieur (pusing) sendiri."
"Panik kenapa?" tanyanya heran. Sambil matanya memperhatikan Aran yang tertidur pulas di atas tempat tidur.
"Aran nggak rewel kan?"
Anja menggeleng, "Bukan Aran. Tapi aku."
"Kamu kenapa?" ia mengernyit. Khawatir Anja merasa sakit atau mendapat masalah.
"Bisa lupa banget kalau kemarin pengumuman SBMPTN," jawab Anja sambil menunduk melihat layar ponsel.
Membuatnya tertawa.
"Kenapa ketawa?!" salak Anja dengan wajah cemberut. "Kamu nggak ingatin aku!"
"Aku sama sekali nggak ingat kalau ada pengumuman," jawabnya jujur.
Karena kepalanya telah dipenuhi tentang Anja yang dalam sekejap menjadi lembut keibuan. Lalu Aran yang tangisannya melengking memekakkan telinga. Juga aqiqah, bekerja. Tak sempat lagi memikirkan hal lain.
"Aku nyimpan kartu peserta kok di sini," gumam Anja tak menanggapi jawabannya. "Mana ya?"
Sambil tersenyum ia mengangkat tangan melewati kepala Anja. Untuk mengambil kartu tanda peserta SBMPTN mereka berdua yang tersimpan di rak bagian atas.
"Ini," ujarnya sembari menyerahkan kartu tanda peserta SBMPTN ke arah Anja.
"Wah, makasih," Anja tersenyum menatapnya.
"Kenapa pakai ponsel?" tanyanya seraya kembali mengangkat tangan untuk mengambil laptopnya yang tersimpan di rak bagian atas.
"Pakai laptop biar lebih jelas," ujarnya sambil meletakkan laptop ke atas meja belajar. Dan mulai menyalakannya.
"Oh, iya ya," Anja menepuk dahi dan tertawa malu.
"Gini nih, kalau gue panik jadi kacau semua," sungut Anja sembari mendudukkan diri di kursi yang telah ia sediakan. Dan mulai menatap layar laptop dengan wajah cemas.
Karena Hanum dan Bening ikut berkerumun di belakang punggung Anja. Ia akhirnya memilih untuk mendekati tempat tidur dan memperhatikan Aran yang tengah tertidur pulas dengan wajah damai.
Ketika ia sedang mengusap pipi Aran yang makin hari makin bertambah bulat dengan ujung jari. Pekikan tertahan terdengar dari arah meja belajar.
Membuatnya menggelengkan kepala. Sambil terus mengelus pipi bulat Aran dengan ujung jari.
Namun aktivitas menyenangkan ini harus terhenti karena Anja keburu menghambur dan menubruknya. Lalu melingkarkan lengan erat-erat mengelilingi tubuhnya.
"Ja?" ia mengernyit tak mengerti. Dengan jantung yang berdegup kencang karena khawatir telah terjadi sesuatu.
Tapi kekhawatirannya tak beralasan. Ketika Hanum berinisiatif untuk mengangkat laptop dari atas meja belajar. Kemudian mengarahkan layar padanya.
Dan di sana, di dalam layar laptop terpampang laman warna putih dengan kop berwarna biru bertuliskan.
-------
Laman Resmi
SBMPTN 2xxx
Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI SBMPTN 2xxx
Nomor peserta. : 118 - 3000 - 13087
Nama. : Anjani Prameswari
Tanggal lahir. : 21 - 03 - 2xxx
Selamat! Anda dinyatakan lulus SBMPTN 2xxx di
PTN. : 321 - Kampus Jakun
Program Studi. : 3211013 - Pendidikan Dokter Gigi
Persyaratan pendaftaran ulang calon mahasiswa baru dapat dilihat di sini
Anda dapat mencetak kembali Kartu Tanda Peserta SBMPTN 2xxx di sini
UNDUH SK PESERTA LULUS SBMPTN 2xxx (PDF)
-------
"Alhamdulillah....," gumamnya spontan begitu membaca tulisan di dalam layar laptop. Kemudian segera mendekap erat Anja yang telah terisak di dadanya.
Sementara Hanum dan Bening hanya bisa memperhatikan dirinya merengkuh Anja erat-erat dengan ekspresi takjub.
Namun sejurus kemudian Hanum dan Bening memutuskan untuk saling berpelukan dengan penuh kebahagiaan.
"Selamat ya, Ja...."
"Dapat double grand prize, Ja. Baby Aran plus FKG Jakun....."
"Drg. Anjani Prameswari, soon to be...," bisiknya di telinga Anja yang masih saja berderai airmata.
***
Keterangan :
Dekgam. : adik laki-laki (bahasa Aceh). Gam singkatan dari Agam (anak laki-laki)