
Pocut
Ia segera memasukkan ponsel ke dalam tas dengan napas memburu sebab menahan kesal. Meski ia sendiri tak tahu kesal pada siapa.
Agam?
Suara Agam di seberang sana jelas jujur dan tak dibuat-buat. Bahkan sangat mungkin jika saat ini Agam sedang bingung sendiri karena ia tiba-tiba mengomel tak jelas.
Mas Tama?
Ia mendecak kesal. Berusaha keras mengenyahkan bayangan wajah maskulin pria berkemeja putih yang lengannya digulung hingga siku itu.
Lalu buru-buru mencuci tangan dengan gerakan cepat. Memakai hand soap hingga tak ada celah di antara jemari tangannya yang terlewat. Kemudian membilasnya dengan gerakan yang sangat pelan dan juga lambat.
Kini, dipandanginya wajah lelah campur kuyu yang terpantul dari dalam cermin. Lalu mengambil selembar tissue untuk mengeringkan tangan. Karena ia tak terbiasa menggunakan hand dryer (pengering tangan).
Selama itu pula ia masih memandangi pantulan diri di dalam cermin. Menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Sasa mau hadiah apa?"
Ingatannya tiba-tiba kembali melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu. Sebelum ia pergi ke toilet.
"Mama Sasa bilang, kita nggak boleh minta hadiah dari orang lain," jawab Sasa dengan nada sok tahu. Sementara ia mulai gelisah dengan melihat ke arah kanan juga kiri.
Mas Tama tertawa. Dan ini membuatnya semakin gelisah.
"Oke, Om kasih hadiah mainan, mau?"
Sasa langsung menganggukkan kepala dengan sangat yakin.
Sementara ia buru-buru menyela dengan nada suara tercekik, "Maaf, tapi kami mau langsung pulang."
"Ma?" Sasa mendadak menarik-narik rok yang sedang dipakainya.
"Mama pernah bilang, kalau kita harus menghargai kebaikan orang lain. Tapi kenapa Mama menolak kebaikan Om?"
"Ada Mall di dekat sini. Hanya sekitar lima menit an menuju ke sana. Mungkin kita bis...."
Tapi ia sudah keburu memasang wajah mengkerut. Dengan alis saling bertaut tanda tak nyaman.
"Boleh ya Ma?" Sasa semakin keras menarik-narik bagian samping roknya. "Sasa kan belum pernah ke Mall."
Mata Mas Tama sontak membulat mendengar ucapan Sasa, "Sasa belum pernah ke Mall?"
"Belum...," jawab Sasa sambil menggelengkan kepala.
"Kalau sama Mama," lanjut Sasa sembari terkikik. Membuat kegelisahannya semakin menjadi.
"Tapi kalau sama Yah Bit udah pernah."
Sasa mendadak terdiam seperti sedang mengingat sesuatu hal. Sejurus kemudian sudah mengacungkan jari membentuk angka tiga, "Tiga kali."
"Waktu Abang Icad ulang tahun, waktu Abang Umay ulang tahun, waktu Sasa ulang tahun," lanjut Sasa yang kembali terkikik.
Sementara ia hanya bisa menghembuskan napas dengan kesal. Meski lagi-lagi tak tahu kesal pada siapa.
"Yah Bit?" kening Mas Tama mendadak mengkerut.
"Ayahnya Dekgam," jawab Sasa cepat.
"Ayahnya Dekgam?" Mas Tama mendadak tertawa dengan wajah tetap mengkerut.
"Agam," sahutnya cepat. "Maksudnya...Cakra."
Mas Tama yang sedari tadi masih berlutut di hadapan Sasa kini telah berdiri. Lalu mengusap puncak kepala Sasa sambil tertawa,
"Oh, jadi Yah Bit itu Om Cakra?"
Sasa mengangguk-angguk. Lalu dengan wajah sok tahu kembali berkata, "Yah Bit namanya banyak, Om."
"Nenek sama Mama manggil Yah Bit, Agam. Lana manggil Yah Bit, Om Cakra."
"Sama kayak Sasa...nama Sasa juga banyak, Om."
"Sasa!" ia buru-buru mengingatkan. Sebab jika tidak di stop, Sasa akan terus berceloteh entah sampai kapan.
Mas Tama memandangnya gugup, "Mallnya dekat. Hanya sekitar lima me...."
Tapi ia menggeleng.
"Maaf," ucapnya sambil menunduk. "Kami benar-benar harus segera pulang."
Sama sekali tak mempedulikan Sasa yang terus saja menarik-narik roknya sambil memasang wajah memohon.
Mas Tama menggaruk-garuk kepala yang pastinya tak gatal.
"Permisi, kami haru...."
"Tunggu sebentar," suara Mas Tama memotong kalimat perpisahannya.
Ia kembali menghembuskan napas gelisah. Sementara Mas Tama melihat pergelangan tangan kanan dimana arloji berada. Kemudian kembali berlutut di hadapan Sasa.
"Sasa....," ucap Mas Tama sambil mendongak ke arahnya. Membuatnya buru-buru membuang pandangan ke arah lain.
"Om lupa."
"Lupa apa, Om?"
"Kira-kira satu jam lagi, Om sudah harus pergi ke Bandara."
Ia menelan ludah sebanyak dua kali sekaligus begitu mendengar kalimat yang diucapkan oleh Mas Tama.
"Kalau nggak, nanti Om bisa ketinggalan pesawat."
"Om mau naik pesawat?" kedua bola mata Sasa mendadak berbinar.
Mas Tama tersenyum mengangguk.
"Jadi...gimana kalau hadiahnya kita beli di sini saja?" lanjut Mas Tama seraya menunjuk toko mainan yang berada tepat di sisi kanan main lobby. Bersebelahan dengan sebuah cafe yang ramai dipenuhi oleh pengunjung.
Membuatnya terkadang merasa bingung jika datang kemari. Sebab tempat ini sama sekali tak nampak seperti sebuah rumah sakit. Lebih mirip pusat perbelanjaan kalangan elite malah. Lengkap dengan adanya toko mainan, galeri, cafe, bahkan minimarket.
"Nanti habis kita beli mainan, Om traktir Sasa makan es krim di situ tuh," kali ini tangan Mas Tama menunjuk ke arah Cafe.
"Es krim?" mata Sasa kembali membulat senang.
Mas Tama mengangguk. "Es krimnya enak. Ada waf...."
"Maaf sebelumnya, tapi kami benar-benar harus pulang sekarang," potongnya cepat sebelum Mas Tama mengatakan hal lain yang membuat Sasa semakin tertarik.
Mas Tama langsung berdiri dan menatapnya tak mengerti.
Tapi ia buru-buru mengangguk sebagai bentuk sopan santun, "Ayo, Sasa. Kita pulang."
Ia langsung meraih tangan Sasa dan segera menarik agar berjalan menjauh dari Mas Tama. Dengan tujuan utama adalah ruang tunggu di main lobby. Sebab ia harus menunggu datangnya Taxi Online yang bahkan baru akan dipesan.
Ia berjalan dengan langkah tergesa. Menggandeng tangan Sasa yang semula dikira akan menolak ajakannya, tapi ternyata menurut saja tanpa banyak protes.
Ia pun menghembuskan napas lega ketika merasa sudah melangkah jauh meninggalkan Mas Tama. Lalu mendudukkan diri di sofa ruang tunggu yang berwarna merah.
"Kita duduk di sini dulu ya," ucapnya sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Berniat untuk memesan Taxi Online.
Sasa tak merespon ucapannya. Bahkan tak menjawab sepatah katapun. Tapi ia tak memahami kesunyian yang tiba-tiba menyergap. Sebab langsung serius membuka aplikasi dan mulai melakukan pemesanan Taxi.
Namun ketika sedang mengetik alamat tujuan di form pemesanan, terdengar suara isak tertahan dari arah samping.
***
Tama
Ia menatap kepergian tergesa Pocut yang menggandeng tangan Sasa dengan masygul. Hatinya jelas ingin mengejar. Terlebih saat melihat Sasa terus menengok ke belakang, menatapnya dengan mata berkaca.
Tapi akal sehat berhasil memaku kedua kakinya untuk tetap tinggal. Dan membiarkan Pocut berlalu begitu saja.
Baiklah.
Ia jelas bukan anak kemarin sore yang sedang mengharap atensi dari gadis pujaan.
Bullshit (omong kosong)!
Sebab ia bahkan masih berstatus seorang suami, sekaligus ayah dari seorang anak laki-laki.
Sungguh membingungkan jika menilik apa yang sedang dilakukannya saat ini.
Hal paling bo doh dan naif? Pastinya.
Tapi untuk saat ini, terus terang ia menyukai melakukan sesuatu hal yang bo doh. Whatever (Terserah).
Ia pun memilih untuk berjalan berlawanan arah dengan Pocut dan Sasa. Meski ia juga harusnya pergi ke ruang tunggu di main lobby. Menanti kedatangan Taxi yang akan membawanya pergi ke bandara.
Tapi itu bisa dilakukan nanti. Sebab sekarang, ia jelas memerlukan secangkir kopi untuk menyegarkan pikiran yang ruwet seperti benang kusut.
"OM!"
Ia mengernyit mendengar suara teriakan yang sepertinya tak asing. Tapi tetap melanjutkan langkah.
"OM!"
"OM! Tunggu, Om!!"
Namun kali ini ia tak kuasa untuk tak menoleh.
"Sasa?" ia mengernyit heran ketika melihat Sasa sedang berlari ke arahnya. Refleks membuatnya berbalik arah. Untuk melangkah mendekati Sasa.
"Om!" kini Sasa telah sampai di hadapannya dengan napas terengah-engah.
Sasa sempat menyusut sudut mata yang masih menyisakan jejak air mata sebelum berkata dengan napas memburu, "Om! Kata...Mama..., Sasa...boleh...dapat...hadiah...dari...Om."
Ia berlutut di hadapan Sasa agar bisa sejajar dan menatap mata Sasa.
"Mama bilang...."
"Maaf," suara yang sangat merdu tiba-tiba mampir di telinganya.
"Tuh...kan, Om. Mama datang...," seru Sasa riang. "Mama ikut ke toko mainan ya, Ma?"
Ia pun segera berdiri.
"Saya ke toilet dulu," ucap Pocut dengan wajah setengah menunduk.
"Kalau sudah selesai tolong antarkan Sasa ke ruang tunggu," lanjut Pocut yang sepertinya sama sekali tak tertarik untuk melihat ke arahnya.
"Saya tunggu di sana."
"Em....," ia jelas sudah terlatih dalam berbagai situasi sempit dan tak menguntungkan di lapangan. Yang kesemuanya bisa dilewati dengan gemilang.
Jadi, ia masih tetap memiliki optimisme. Bisa menaklukkan keadaan sulit dan tak menguntungkan yang sekarang ini sedang terjadi.
"Di sebelah toko mainan ada Cafe. Mungkin kita bisa mi...."
Tapi Pocut tetap menggeleng.
Definisi nyata dari pengenalan medan yang buruk.
"Saya mau ke toilet. Permisi."
Dan tanpa menunggu respon darinya, Pocut sudah setengah berlari meninggalkannya. Pergi ke salah satu sudut, dimana terdapat papan petunjuk menuju ke Toilet.
"Om," panggil Sasa sambil menarik-narik garis samping celananya. "Ayo, Om. Katanya kita mau ke toko mainan."
***
Pocut
Ia masih menatap bayangan wajah dirinya dari pantulan kaca wastafel di dalam toilet. Sembari menghitung dalam hati entah sampai bilangan ke berapa.
Ketika dua orang gadis usia sekitar 20an masuk ke dalam toilet sambil bercakap cukup keras.
"Nggak nyangka sumpah babynya si Ninis lucu banget."
"Banget banget," sahut gadis yang satunya lagi.
"Padahal dulu sempet mau digugurin kan? Untung nggak jadi."
Dua gadis yang kini berdiri tepat di sebelahnya masih terus mengobrol sambil sesekali tertawa bersama. Membuatnya segera menyudahi acara perenungan di depan kaca wastafel. Lalu berusaha merapikan ujung hijab yang dirasa kurang simetris.
Setelah yakin semua terlihat rapi, ia pun segera melangkah keluar dari dalam toilet. Meninggalkan dua gadis yang masih saja asyik mengobrolkan tentang bayi lucunya Ninis.
Dan begitu ia sampai di ujung lorong dari arah toilet, terlihat jelas keseluruhan sudut ruangan main lobby. Termasuk toko mainan dan Cafe yang letaknya bersebelahan.
Oh, tidak, hanya Sasa. Jelas ia mencari sosok Sasa seorang. Tanpa orang lain.
Tapi sayang, matanya tak juga berhasil menemukan gadis mungilnya itu. Membuatnya memutuskan untuk berjalan menuju ke sofa ruang tunggu.
***
Tama
Sepertinya Sasa jarang membeli mainan. Karena begitu masuk ke dalam toko, Sasa hanya terbengong-bengong dengan mata yang berkali-kali mengerjap takjub.
Padahal toko mainan di main lobby ini hanya berupa sebuah gerai kecil. Dengan isi mainan yang tak terlalu banyak bahkan tak lengkap. Namun telah berhasil membuat Sasa menghela napas kagum berkali-kali.
"Sasa boleh pilih mainan yang mana aja," ujarnya sambil menunjuk ke arah deretan boneka Barbie. "Itu bagus."
Tapi Sasa menggeleng, "Sasa udah punya banyak boneka Barbie, Om."
"Oya?" mungkin tebakannya tentang Sasa tak pernah membeli mainan adalah salah. Terbukti Sasa banyak memiliki boneka Barbie dan tak tertarik ketika ia menawarinya.
"Mama yang beliin?"
Lagi-lagi Sasa menggeleng, "Bukan dibeliin sama Mama, Om."
"Tapi dikasih sama Tante Anja."
"Banyaaaaak, Om," kini Sasa menggerakkan sebelah lengan untuk menggambarkan jumlah boneka Barbie yang katanya banyak itu.
"Apalagi baju Barbienya. Lebih banyaaaaak lagi."
Ia tersenyum mengangguk. Tebakannya tentang Sasa tak pernah membeli mainan di Toys Shop kini semakin menguat.
Setelah memutari seluruh isi toko dan melihat-lihat semua mainan yang dipajang, akhirnya Sasa menjatuhkan pilihan pada seperangkat mainan Medical Playset.
"Om," bisik Sasa sebelum mereka beranjak ke kasir.
"Ya?" ia mendekatkan telinga ke wajah Sasa. "Kenapa? Sasa mau nambah mainan lagi? Boleh kok."
Tapi Sasa menggeleng keras-keras, "Bukaaaan."
"Terus apa?" ia mengernyit tak mengerti.
"Mainan yang Sasa pilih mahal nggak, Om? Harganya berapa?"
"Soalnya Mama selalu bilang, Sasa boleh beli mainan yang harganya paling mahal dua puluh ribu."
"Mainan yang Sasa pilih ini harganya nggak lebih dari dua puluh ribu kan, Om?"
"Kalau lebih dari dua puluh ribu kita balikkin aja, Om."
"Nanti Sasa pilih mainan yang lain."
Ia bukanlah jenis pria cengeng yang gampang terharu. Tapi ucapan Sasa telah berhasil menohok ulu hatinya berkali-kali hanya dalam satu waktu.
---------------
Ia sedang mengantre di depan kasir. Ketika matanya tak sengaja mengedarkan pandangan ke seantero sudut main lobby. Dan langsung tertumbuk pada seseorang yang tengah duduk di sofa ruang tunggu.
"Silakan, Pak."
Ia masih terpesona dengan pemandangan yang berhasil tertangkap oleh retina. Ketika Sasa menarik-narik celananya dengan cukup keras.
"Om! Om! Disuruh maju sama Tante."
Dengan terpaksa ia buru-buru mengalihkan pandangan. Lalu tersenyum ke arah Sasa. Dan segera menyelesaikan pembayaran di kasir.
"Sasa mau makan es krim?" tawarnya begitu mereka keluar dari dalam toko mainan.
Sasa mengangguk sambil tersenyum lebar.
Ia pun menggandeng tangan Sasa menuju Cafe yang berada tepat di samping toko mainan. Kemudian mengambil tempat duduk yang dirasa paling strategis.
"Strawberryyy!!" seru Sasa riang ketika pegawai Cafe menanyakan rasa es krim yang hendak dipesan.
Ia memesan satu scoop besar es krim rasa strawberry dengan taburan topping potongan cokelat rasa almond dan sepiring waffle saus karamel untuk Sasa. Secangkir Americano untuk dirinya.
Serta satu box besar berisi klepon, arem-arem, baso tahu, martabak, dan onigiri. Sederet cemilan yang terkenal lezat dan menjadi favorit di Cafe ini.
"Terimakasih, Om," ucap Sasa tulus ketika pesanan mereka datang. "Sudah beliin Sasa mainan sama es krim."
Ia tersenyum, "Sama-sama, Sasa. Sama-sama."
Sasa menikmati es krim dan wafflenya dengan antusias. Sementara ia menyesap Americano sambil memperhatikan seseorang yang tengah duduk di ruang tunggu.
***
Pocut
Ia berkali-kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri dengan gelisah.
"Lama sekali," gumamnya antara kesal campur gugup. Sebab Sasa dan Mas Tama tak kunjung menghampirinya di ruang tunggu.
Setelah menimbang-nimbang, ia akhirnya memutuskan untuk menyusul ke Cafe. Karena tenggat waktu yang dibuatnya sendiri telah lama terlampaui. Ia tentu tak ingin Mamak menunggu kepulangannya dan Sasa dengan cemas. Lantaran hari sudah hampir beranjak malam.
Namun ketika ia sedang berkemas memasukkan ponsel ke dalam tas, suara riang Sasa tiba-tiba terdengar mendekat.
"Mamaaaa!!!"
Ia menyunggingkan senyum ketika melihat Sasa sedang berlari ke arahnya sambil membawa sebuah bungkusan besar.
"Udah?" tanyanya seraya membelai rambut Sasa.
Sasa mengangguk.
"Mobilnya udah nunggu di lobby," ujar Mas Tama yang datang menyusul di belakang Sasa.
Ia mengangguk dengan kikuk. Antara mau tersenyum dan berterima kasih. Atau tetap memasang wajah bermusuhan dan tak mengatakan apapun.
"Terimakasih," mulutnya jelas tak terkoordinasi dengan baik. "Padahal saya bisa pesan sendiri."
Mas Tama hanya tersenyum sambil mempersilakannya dengan tangan kanan.
Ia pun terpaksa bangkit dan berjalan menuju ke lobby mendahului Mas Tama.
"Om pulang sama Sasa, Om?" tanya Sasa yang terus saja menoleh ke belakang meski ia telah menggenggam erat tangan mungil Sasa.
"Enggak, Sasa," suara Mas Tama terdengar campur tertawa. "Om habis ini langsung pulang ke Surabaya."
"Wah?" Sasa membelalakkan mata lebar-lebar dengan kepala tetap menoleh ke belakang. "Surabaya jauh ya, Om?"
"Lumayan," kali ini Mas Tama jelas tertawa.
"Mobilnya yang warna silver," terang Mas Tama sembari menyebutkan nomor plat mobil.
Ia sempat mengedarkan pandangan menyapu keseluruhan lobby. Dan langsung menemukan mobil yang dimaksud oleh Mas Tama.
"Pak Wiratama?" tanya pengemudi Taxi ketika Mas Tama membuka pintu mobil dan mempersilakannya juga Sasa untuk masuk ke dalam
"Ya, Saya," jawab Mas Tama singkat.
"Ke Basmol ya, Pak?"
"Ya, betul."
Ia hampir meraih handle pintu untuk menutupnya. Namun urung karena Mas Tama masih menahan dengan sebelah tangan.
"Ini buat Nenek jangan ketinggalan, Sasa," seru Mas Tama seraya mengangsurkan kantong plastik putih berisi sebuah box dengan ukuran yang cukup besar.
Ia berniat untuk menolak, namun Mas Tama keburu meletakkan kantong plastik putih tersebut di pangkuannya.
"Dah Sasa!" seru Mas Tama melambaikan tangan ke arah Sasa.
Kemudian mengangguk padanya.
"Hati-hati bawanya, Pak," menjadi ucapan terakhir Mas Tama sebelum menutup pintu mobil.
"Dadah Om!!!" teriak Sasa sembari melambaikan tangan dengan penuh semangat. Bahkan sampai mobil yang mereka tumpangi keluar dari halaman rumah sakit. Melaju menembus padatnya arus lalu lintas pada petang hari.
***
Cakra
Ia menatap layar ponsel yang sengaja diarahkan Anja kepada Aran.
Sontak langsung memancing senyumnya demi melihat wajah Aran yang telah terlelap.
[Credit photo : @officialjguill]
"Kira-kira Aran lagi mikirin apa, Ja?" ia tertawa. "Sampai ngerut gitu tidurnya?!"
Anja ikut tertawa, "Tahu tuh. Tadi tidur sama Uti."
"Akunya masih nyelesaiin tugas sama Dipa."
Tanpa sadar ia menghela napas panjang.
"Kok diem?" kini layar ponsel telah beralih memperlihatkan wajah Anja.
Tetap cantik seperti biasa. Makin cantik malah.
"How much i miss you (betapa aku merindukanmu)," gumamnya sambil menghembuskan napas panjang.
"Miss you every single day (merindukanmu setiap hari)," jawab Anja sembari menatapnya lekat-lekat.
Dan seperti yang sudah-sudah. Mereka hanya akan saling memandang tanpa mengatakan sepatah katapun.
Dan hal seperti ini akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Dimana mata mereka saling bertautan. Seolah sedang menyelami kedalaman hati masing-masing. Tanpa adanya bahasa verbal yang terucap.
"Gathering beres?" Anja bersuara terlebih dahulu.
Ia mengangguk, "Ketemu banyak orang keren."
Anja tertawa, "Pastikan kamu adalah orang keren berikutnya."
Membuatnya ikut tertawa, "Hope so (kuharap juga begitu)."
"Tugas beres?" ia balik bertanya.
"Finally (akhirnya) bisa beres," gumam Anja dengan penuh kelegaan.
"Thanks to Dipa," selorohnya.
"Jangan mulai deh," Anja mengkerut.
Ia pun tergelak. "Lho, iya dong. Kan Dipa yang bantuin kamu selama ini."
"Iya deh, iya deh," Anja mencibir. "Ini bukan kode kamu lagi jealous kan?"
Ia kembali tergelak, "Sampai kapanpun aku bakalan tetep jealous kalau menyangkut tentang kamu, Ja."
Anja semakin mencibir, "Stop bahas hal nggak penting!"
Ia tertawa kecil. Mendadak teringat sesuatu, "Mas Tama masih di rumah atau udah pulang?"
"Pulang?" Anja justru balik bertanya seraya mengernyit tak mengerti. "Pulang ke mana?"
"Ke Surabaya?"
"Memang Mas Tama dari mana?"
"Jakarta."
"Mas Tama lagi di Jakarta?!"
"Kamu nggak tahu?"
Anja menggeleng, "Nggak. Nggak ada Mas Tama ke rumah."
"Tadi sore Mas Tama nelepon, katanya lagi tugas di Jakarta," kini giliran dirinya yang mengernyit bingung.
Tapi Anja hanya mengangkat bahu.
Membuatnya mulai memikirkan kemungkinan lain. Meski menurut hati kecilnya jelas hal paling mustahil.
***