
...Setelah sekian musim berganti,...
...waktu pun terus berjalan.......
( I )
Anja
Ia sedang meletakkan semangkuk nasi gurih, sepiring telur dadar iris dan bihun goreng ke atas meja makan. Ketika Aran yang telah mengenakan seragam sekolah muncul di dapur. Lalu mengambil duduk di meja makan.
"Morning (pagi), Bunda."
Ia tersenyum, "Morning, Cutbang."
Kemudian ia pun kembali menuju pantry. Berjibaku menyelesaikan menu sarapan yang lain.
"Heh, bayi! Lagi apa bayi?" terdengar suara Aran yang menyapa Eltan.
"Ta ta ta ta...da da da....," dan suara celotehan Eltan menjadi musik pengiring paling menyenangkan di hari yang masih sepagi ini.
Bayi mon tok berusia delapan jalan sembilan bulan itu, kini tengah asyik menyemburkan ludah sambil memukul-mukulkan mainan ke atas meja high chair.
"Wah, nasi gurih?" seru Aran riang. "Kesukaan aku."
"Makasih, Bun."
Ia tersenyum, "Kembali kasih, Abang."
"Pagiiii, Bundaaa....," suara riang yang cukup nyaring, kembali menyeruak memenuhi udara di seluruh ruangan. Terasa kian menghangatkan suasana.
"Pagi, cantik," ia berbalik ke meja makan hanya untuk mengusap kepala Ei, putrinya yang baru duduk di kelas satu SD.
Lalu melempar senyum ke arah Ankaa, yang juga sedang tersenyum padanya, "Pagi, Bun."
"Pagi, sayang."
Kini kursi di meja makan telah terisi penuh. Suasana riuh pun tak terhindarkan. Terdengar suara dengungan Aran dan Anka yang sedang memperdebatkan science projects tugas dari sekolah.
"Aku mau pakai natural way (cara alami)."
"Repot, Kaa," Aran menggeleng. "Kamu mesti pilih ayam betina buat mengerami telur. Nyiapin tempatnya."
"Belum kalau ayam betinanya kabur kaburan kayak ayam punya Bi Cucun dulu. Idih, repot banget."
Ia tersenyum sendiri mendengar penuturan Aran. Hampir semua orang tahu, Aran adalah duplikasi sempurna dari kombinasi kecerdasan sang ayah dan sok mengaturnya bunda.
Haha, you got it, Ja?
"Aku udah ijin kok sama Bunda mau pelihara ayam betina. Boleh kan, Bun?" seru Ankaa padanya.
Ia yang sedang memotong roti lapis mengangguk, "Yap. Ijin dari bos besar (Cakra) sudah turun, sayang."
"Tuh kan," hidung Ankaa mengembang penuh kemenangan.
"Tapi tetap ingat term and conditions (syarat dan ketentuan berlaku)nya ya," ia mencoba mengingatkan tentang kesepakatan yang telah mereka buat sebelum ijin diberikan.
"I'll take it (aku akan melakukannya -bertanggungjawab-), Bun," jawab Ankaa dengan sangat meyakinkan.
Tapi Aran tetap menggeleng, "Ntar aku lagi yang kena. Disuruh Bunda buat beresin kekacauan yang kamu buat."
"Like usual (seperti biasanya)," cibir Aran tak rela.
"Mending pakai lampu. Lebih praktis."
"Ntar aku bantuin bikin inkubator sama kelistrikannya."
Ia tertawa untuk yang satu ini. Sebab merasa sedang mendengarkan diri sendiri yang berbicara.
Dan jika Aran menuruni jiwa mengatur darinya. Maka Ankaa jelas mengadopsi sifat keras kepala darinya. Mutlak absolut.
Aran dan Ankaa masih terus berdebat tentang ayam betina atau membuat inkubator. Sementara Ei sedari tadi asyik menggoda Eltan. Membuat bayi bulat berambut lebat itu tergelak-gelak dengan riangnya.
"Ini diaaa...sarapan favorit Cutda," ia meletakkan sepiring roti lapis isi telur ke atas meja makan.
"Dan request Kakak," lanjutnya seraya meletakkan sepiring penuh pancake saus vla susu ke hadapan Ei.
Well, begitulah. Untuk hari yang cukup spesial. Empat anak berarti empat menu yang berbeda.
Padahal biasanya, ia tak semurah hati ini. Menu sarapan jelas dipukul rata. Sama semua.
Ia bahkan sudah menulis daftar menu selama dua minggu ke depan. Ditempel di pintu kulkas. No debat. Semua harus memakan apapun yang disajikan di atas meja.
Bukti nyata, jika jiwa mengaturnya dimanfaatkan dengan sangat baik di tempat yang tepat.
"Makasih, Bunda," Ankaa melempar senyum padanya. Sebagai tanda menyudahi perdebatan tak berujung dengan sang kakak. Langsung mengambil sepotong roti lapis isi telur, kemudian melahapnya.
"Jangan lupa berdoa dulu," ia mengingatkan Ankaa yang mulutnya telah penuh dijejali roti lapis isi telur.
"Dalam hati, Bun," jawab Ankaa cepat. Lebih seperti alasan.
Ia tak mengatakan apapun. Namun memberi tatapan mengingatkan pada Ankaa. Agar tak lupa untuk berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Yang disambut dengan ringisan meminta maaf Ankaa.
"Makasih, Bundaaa," kini giliran Ei yang berseru riang. Sengaja bangkit hanya untuk mengalungkan kedua tangan ke lehernya. Sekaligus memberikan ciuman di pipi.
"Aku...sayang bunda...setinggiiii langit."
Ia tertawa seraya balas mengecup pipi Ei, "Bunda juga sayang sama Ei."
Ei jelas their affectionate lil girl, ever (gadis kecil penuh kasih sayang milik mereka). Versi terbaik dari dirinya dan Cakra.
"Bunda mau lihat ayah dulu," ujarnya sambil beranjak. "Tolong awasi Eltan."
Eltan jelas sedang lasak-lasaknya dan memiliki keinginan segudang yang jauh melebihi kemampuannya. Jadi, menitipkan bayi pada para kakak, jelas menjadi solusi yang cukup baik. Agar ada yang membantu mengawasi saat ia harus mengerjakan hal lain.
-----------------------
"Belum siap?" tanyanya heran. Ketika mendapati Cakra, ternyata baru hendak mengenakan kemeja.
"Baru selesai koordinasi," jawab Cakra sambil berusaha mengancingkan kemeja.
Dilihatnya layar televisi yang menempel di salah satu sisi dinding kamar, masih menampakkan jejak sisa tele conference yang sepertinya belum lama usai.
Ia tersenyum mengangguk. Lalu berjalan mendekat. Mencoba membantu Cakra untuk mengancingkan kemeja.
Hingga Cakra bisa melakukan hal lain, seperti mengeringkan rambut menggunakan handuk misalnya. Namun terlambat, karena beberapa titik air sudah keburu jatuh membasahi leher dan bahu Cakra.
Ia hanya mencibir, menyadari jika selama ini Cakra tak pernah berubah. Selalu memakai pakaian ketika belum tuntas mengeringkan rambut. Walhasil air cipratan rambut menetes kemana-mana.
Kini ia telah selesai menyematkan seluruh kancing kemeja. Sementara Cakra sedang menyemprotkan parfum ke leher dan pergelangan tangan.
Ia tersenyum sambil mengusap bahu bidang Cakra dengan kedua tangan, "Siap?"
Cakra terkekeh. Meletakkan botol parfum ke atas meja rias. Lalu mengecup keningnya sekilas.
"Anak-anak udah siap?"
"Tinggal nunggu Abang," jawabnya sambil mengusap rahang Cakra, yang terasa halus karena baru bercukur.
Cakra tersenyum menatapnya.
Ia pun beralih menelusuri garis cambang Cakra. Lalu menyentuh batang hidung runcing, dimana terdapat garis halus bekas luka.
Tak terlalu kentara memang jika dilihat secara sekilas. Luka akibat kecelakaan motor yang menimpa Cakra di tahun pertama kuliah. Berhasil mematahkan tulang hidung runcing favoritnya itu. Jelas menjadi salah satu pengalaman menjalani long distance marriage yang tak terlupakan.
Ia bahkan masih ingat betul, suara Cakra yang terdengar terlampau tenang di telinganya. Untuk seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan sepeda motor. Padahal ia sudah ketakutan setengah mati. Khawatir Cakra mendapatkan luka yang parah.
"Nggak apa-apa," begitu kata Cakra di pagi hari yang suram bertahun silam. "Cuma patah tulang hidung doang,"
"Kata dokter patahnya bagus."
"Jadi dibiarin juga nggak akan kenapa-napa."
Tulang hidung patah tapi masih bisa dibilang bagus? Ia hanya menggelengkan kepala tiap kali mengingat kejadian tersebut.
Cakra masih tersenyum menatapnya. Kali ini seraya menangkup kedua pipinya dengan telapak tangan yang lebar juga hangat.
Lalu menyentuhkan mereka berdua secara perlahan.
"Aku lihat Mamak dulu," ucapnya begitu berhasil melepaskan diri.
Cakra mengangguk.
Sebelum menutup pintu kamar, dilihatnya Cakra sedang berusaha memasukkan kemeja dan mengenakan sabuk.
----------------------------
Ia tersenyum melihat Mamak yang tengah duduk menghadap kiblat. Masih mengenakan mukena dengan tangan memegang Al Qur'an.
Ia pun mengambil duduk di sebelah Mamak. Lalu berbisik pelan, "Sarapan dulu, Mak."
--------------------------
Ia menggamit lengan Mamak untuk sama-sama menuju ke meja makan. Ketika terdengar suara sorakan riang anak-anak,
"Horeee... berangkat sama Ayah!!!"
"Abang nganter anak-anak?" kernyitnya heran. Usai menarik kursi untuk diduduki oleh Mamak.
"Pagi, Neeek...."
Anak-anak langsung ramai menyapa Mamak. Ei, seperti biasa, kembali bangkit hanya untuk memberikan ciuman di pipi Mamak.
"Pagi, neuk (nak). Pagi....," jawab Mamak dengan wajah cerah dan senyum terkembang.
Meski telah berusia cukup lanjut. Tapi ia dan Cakra bersyukur, karena kondisi Mamak tergolong sehat untuk orang seusia beliau.
Mungkin karena kebiasaan Mamak, yang selama hidup banyak melakukan aktivitas fisik. Sehingga tubuh terlatih untuk terus bergerak.
Namun menurutnya, yang paling utama pastinya sikap senantiasa bersyukur yang dimiliki Mamak. Jelas menjadi kekuatan batin paling tak terbantahkan. Hingga raga pun turut segar bugar meski telah lanjut usia.
"Nggak diantar sama Ucup aja?" tanyanya mencoba memastikan. "Nanti Abang telat."
Cakra menggeleng, "Nggak. Masih banyak waktu."
Ia mengangguk tanda mengerti. Lalu beralih menyiapkan sarapan untuk Mamak. Namun seseorang keburu mencegahnya.
Ia sempat ingin protes begitu menyadari jika Cakra yang menarik lengannya. Tapi urung, ketika Cakra memberi kode dengan kedipan mata agar melihat ke salah satu sisi meja makan.
Dimana Ei sedang meletakkan piring di hadapan Mamak. Lalu bertanya dengan wajah yang teramat manis, "Nenek mau coba sarapan pancake kesukaan Ei?"
"Boleh," Mamak mengangguk. "Tapi sausnya sedikit saja ya, nak. Gigi nenek linu kalau makan makanan manis."
Ia dan Cakra hanya bisa saling melempar pandang sambil tertawa tanpa suara. Kehangatan hati Ei memang tak ada duanya di rumah ini.
Mereka makan dalam suasana yang cukup riuh. Ia menyuapi Eltan. Sementara Mamak dan Ei saling berbisik entah sedang membicarakan apa. Sedangkan Cakra tengah dikeroyok oleh pendapat Aran dan Ankaa tentang science projects menetaskan telur ayam.
Kini semua sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Sembari menggendong Eltan, ia melepas kepergian Cakra dan anak-anak hingga ke teras depan.
"Habis ngantar anak-anak, aku mau mampir ke tempat Papa sama Mama sebentar," gumam Cakra sambil mencium keningnya dalam-dalam.
Ia sempat menghela napas. Namun sejurus kemudian bisa kembali tersenyum dan berkata, "Salam buat Papa sama Mama, Bang. Bilangin kalau aku kangen banget."
Cakra tak mengatakan apapun. Namun merengkuhnya erat-erat sebagai bentuk sebuah jawaban.
"Dadah Bundaaaa!!!" seru anak-anak yang melambaikan tangan dari dalam mobil.
Ia tersenyum lebar, "Have fun di sekolah yaaa...."
Ia kembali ke ruang makan sambil bercanda dengan Eltan. Bayi berpipi bulat itu tergelak-gelak ketika ia menggelitik leher beraroma segar minyak telon dengan menciumnya secara bertubi-tubi.
"Kekekekeekk...Kekekekeekk...."
Ia masih menciumi leher Eltan, ketika mendapati Teh Cucun sedang membereskan meja makan. Sementara Mamak memperhatikan layar televisi. Yang kini tengah menayangkan siaran berita pagi.
"Presiden dikabarkan akan mengumumkan beberapa menteri dan pejabat setingkat menteri yang baru," begitu narasi yang dibacakan oleh news anchor. ©©
"Setelah sebelumnya, Kepala Sekretariat Presiden, Riyadh Dotulong, menyebutkan jika Presiden telah memanggil beberapa calon menteri dan pejabat baru terkait rencana reshuffle kabinet ke Istana Negara."
"Iya. Sebelum pelantikan akan diperkenalkan kepada publik terlebih dahulu oleh bapak presiden. Tentu waktunya menyesuaikan dengan jadwal Presiden. Bisa siang ini atau bahkan sore," ujar Riyadh yang diwawancarai oleh para awak media.
-----------------
"Nggak mau cabut gigi!!" rengek Yuko sambil menggelengkan kepala keras-keras dan menatapnya dengan ekspresi takut.
"Cuma sebentar dan nggak sakit kok," ia berusaha tersenyum meyakinkan.
"Nanti...gigi Yuko, dokter semprot pakai yang dingin-dingin dulu. Jadi...pas dicabut nggak akan terasa sakit."
"Rasa strawberry lho."
Tapi Yuko tetap menolak sambil menutup mulutnya rapat-rapat, "Aku nggak suka strawberry!"
"Oiya," ia mendadak teringat sesuatu. "Kalau gigi Yuko sudah dicabut, bisa langsung dapat hadiah ice cream," bujuknya seraya memasang senyum lebar.
"Nanti Yuko ambil sama Kakak yang jaga di depan ya."
Tapi Yuko tetap bergeming.
Setelah melewati sesi negosiasi yang cukup alot dan lama, Yuko akhirnya mau kembali duduk di kursi pesawat. Begitu julukannya untuk dental chair, saat membujuk pasien anak kecil yang merasa ketakutan.
Dengan dibantu oleh Mama Yuko yang setengah memeluk putrinya, ia menyemprotkan pembius ke gusi. Lalu mencabut dua gigi susu sekaligus.
Darah sempat mengucur. Namun langsung ditutup perban.
"Boleh digigit ya sayang," ucapnya sambil tersenyum.
Tak harus menunggu lama, Yuko sudah tertawa riang karena mendapat hadiah kalung lucu darinya.
Kalung dengan liontin berbentuk gigi itu bisa di buka. Ia pun mengisinya dengan 2 gigi yang baru saja di cabut.
"Ice creamnya ambil di depan ya," ujarnya sambil mengusap kepala Yuko. "Minta sama Kakak yang jaga."
"Terimakasih, dokter. Ternyata cabut gigi nggak sakit hehehehe....," seru Yuko yang kini tengah tertawa lebar. Memperlihatkan dengan jelas deretan gigi ompongnya.
Membuat dirinya dan Mama Yuko sama-sama tertawa.
"Iya dong," kini ia mengajak Yuko untuk berhigh five. "Seru kan ke dokter gigi?"
Yuko menganggukkan kepala beberapa kali, "Seru banget."
"Nanti kalau sudah besar, aku juga mau jadi dokter gigi."
Ia dan Mama Yuko kembali tertawa.
-------------------------------
Ia keluar dari ruangan bertuliskan, drg. Anjani, Sp.KGA (spesialis kesehatan gigi anak) di jam istirahat.
"Sudah ditunggu sama dokter Tamim di meeting room, Dok," Hilvi mengingatkan, jika siang ini ia memiliki janji temu dengan Tamim dan beberapa kolega. Guna membahas proyek sosial mereka di Klinik Kampung Koneng.
"Oh, ya. Rapatnya sudah mulai belum?"
Hilvi menggeleng, "Sepertinya belum. Dokter Tamim juga baru datang."
"Ok, kalau gitu saya sholat dulu sebentar."
"Baik, Dok," Hilvi mengangguk.
Dari ruang praktek, ia berjalan menuju tangga yang terletak di ujung lorong. Melewati ruang tunggu yang suara siaran televisinya menyala dengan volume cukup keras.
"Dok...," panggil beberapa orang perawat sekaligus, yang berada di balik meja resepsionis. "Ada Pak Cakra, Dok."
Ia mengernyit tak mengerti.
Salah satu perawat tersebut, yang ia ketahui bernama Myrna, kemudian menunjuk ke arah layar televisi. Membuatnya menghentikan langkah dan ikut memperhatikan tayangan televisi.
"Riyadh tidak menyebut lebih detail ihwal siapa kandidat dan posisi apa saja yang akan diisi para calon menteri dan pejabat baru ini," begitu narasi yang sedang dibacakan oleh news anchor.
Sementara gambar yang terlihat, sama persis seperti yang dilihatnya di berita tadi pagi. Yaitu saat Riyadh diwawancarai oleh para awak media.
"Yang jelas, tiga kursi di kabinet saat ini kosong. Usai ditinggal eks Menteri Kelautan dan Perikanan dan eks Menteri Sosial yang tersangkut kasus korupsi."
"Serta Kepala BRTN (Badan Riset dan Teknologi Nasional). Yang mengundurkan diri dari jabatan."
"Sejumlah pengamat menyebutkan, akan ada kandidat baru, menteri yang digeser, dan tentunya yang akan tersingkir dari kabinet."
"Berikut nama yang selama seminggu terakhir beredar luas dan digadang-gadang akan menduduki jabatan tersebut."
Ia tersenyum, "Istirahat dulu, Myr. Udah pada maksi belum?"
Tapi Myrna menggeleng, "Sebentar lagi Pak Cakra muncul, Dok."
"Itu, Dok! Itu!" seru seluruh perawat yang berada di balik meja resepsionis dengan antusias.
Membuatnya kembali memperhatikan layar televisi.
"Kandidat terakhir adalah nama yang terhitung baru. Yaitu Cakradonya Ishak."
"Kandidat dengan usia paling muda tersebut, saat ini masih menjabat sebagai deputi bidang penguatan riset dan pengembangan teknologi."
***
Keterangan :
Love of my life. : cinta dalam hidupku
©©. : terinspirasi dan dikutip dari berita yang terbit di nasional.tempo.co edisi 22 Desember 2020