
Cakra
"Sal?" panggilnya heran karena Salma masih tetap merebahkan kepala di bahunya. Padahal sejak beberapa menit yang lalu ia telah menepikan motor di depan pintu pagar rumah Salma.
"Kita udah sampai."
Namun Salma hanya merespon dengan gumaman pelan. Bukannya beranjak turun tapi justru makin mengeratkan pelukan di pinggangnya.
"Salma," ujarnya dengan rahang mengeras. "Ini udah malam, kamu harus cepat masuk ke dalam."
Salma kembali bergumam pelan. Seraya menautkan jari jemari membuat tubuhnya terkunci dengan sempurna hingga tak bisa bergerak sedikitpun.
"Sal," ia berusaha melepaskan tautan jemari Salma yang menempel di pinggangnya. Tapi Salma tak bergeming. Justru semakin mengeratkan pelukan.
"Aku masih belum puas, Gam," gumam Salma lirih.
"Karena begitu pelukan ini kulepas, kamu bakalan pergi jauh," lanjut Salma dengan kepala masih bersandar di bahunya.
"Lalu kita akan berubah menjadi dua orang yang berbeda."
"Nggak bisa seperti dulu lagi."
Ia harus menghembuskan napas panjang sebelum berkata, "Kita tetap sahabat, Sal."
"Aku nggak mau kita cuma tetap sahabat," sahut Salma cepat.
Mendorongnya untuk menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan, "Kita lebih dari sahabat, Sal. Kita saudara."
"Saudara?" desis Salma dengan nada sinis.
"Saudara seiman," jawabnya mencoba tersenyum.
"Kamu masih sempat bercanda di situasi serius begini!" suara Salma terdengar menggerutu.
Ia hanya bisa menelan saliva karena Salma tetap bersikukuh dengan posisi mereka berdua saat ini.
"Sal," ia kembali berusaha melepaskan tautan jemari Salma dengan perlahan, khawatir akan menyakiti perasaaan sahabatnya itu karena tersinggung merasa tertolak.
"Kalau ada orang yang lihat kita begini, nanti bisa salah paham," lanjutnya sungguh-sungguh dengan rasa khawatir yang tak bisa ditutupi.
Rumah Salma berada persis di tepi jalan raya. Dimana siapapun tanpa kecuali bisa lewat di jalan ini. Ia tentu tak ingin mengambil resiko seseorang melihat Salma memeluknya sedemikian rupa. Terlebih jika orang tersebut mengetahui status pernikahannya dengan Anja. Worst thing ever.
"Kita kan nggak ngapa-ngapain," gumam Salma tetap tak bergeming.
"Aku cuma ingin di saat terakhir ini bisa dekat secara fisik sama kamu."
"Biar aku bisa menyimpan semua kenangan indah tentang kamu tanpa kecuali."
"Tentang kebersamaan kita selama ini."
"Tentang hal-hal yang pernah kita lakukan bersama."
"Tentang rasa yang baru kusa..."
"Maaf, Sal," gumamnya dengan terpaksa karena tak ada cara lain lagi.
"Anja udah nunggu di rumah. Aku nggak mau dia jadi kelamaan nunggu, gara-gara aku nggak pulang-pulang."
Serta merta membuat Salma melepaskan pelukan ke tubuhnya dengan sentakan yang cukup kasar. Memberinya kesempatan untuk menyetandar motor kemudian turun meski Salma masih duduk di boncengan.
"Ayo kuantar ke dalam," ujarnya sambil tersenyum. Bagaimanapun mereka berdua bukanlah orang lain. Telah saling mengenal sejak lama.
Bahkan sejak duduk di bangku TK karena mereka bersekolah di tempat yang sama. Meski memang baru akrab ketika SD. Hingga saat ini ia hampir lulus dari SMA, sementara Salma sudah duduk di semester 2 jurusan Farmasi Kampus Jakun.
Ikatan persahabatan mereka yang telah terjalin sekian lama. Bahkan melebihi jumlah tahun program wajib belajar bagi warga negara. Membuatnya tak mampu untuk bersikap tegas karena khawatir akan semakin menyakiti hati Salma.
"Apa yang bikin kamu yakin dan lebih milih Anja daripada aku?" tanya Salma sekonyong-konyong sambil turun dari boncengan motornya.
Tapi ia memilih untuk diam tak menjawab.
"Kamu jatuh cinta sama dia?"
"Sal," ujarnya dengan kening berkerut. "Ini beneran udah malam. Kamu har...."
"Kamu tinggal jawab aja susah amat sih?!" suara Salma mendadak berubah menjadi kaku.
"Kamu cinta sama Anja?!"
Ia lebih memilih untuk membuka selot pintu pagar yang tak terkunci. Kemudian berjalan mendahului masuk ke halaman rumah.
"Agam!" teriak Salma yang pastinya merasa tak senang karena telah diacuhkan.
"Kalau aku jawab, bakalan bikin kamu bahagia atau sedih?" tanyanya dengan terpaksa.
Kali ini Salma justru tertawa sumbang, "Kamu tinggal jawab aja nggak usah mikirin perasaanku!"
"Lagian, sekarang kamu tiba-tiba married begini, jadi bukti nyata kan kalau kamu sebenarnya sama sekali nggak mikirin perasaanku!" lanjut Salma dengan nada suara tajam.
Membuatnya menggelengkan kepala dan lebih memilih untuk memencet bel pintu daripada harus berdebat dengan Salma.
"Kamu cinta dia?" Salma kembali mengulangi pertanyaan yang sama.
Karena pintu rumah tak kunjung terbuka, membuatnya dengan sangat terpaksa menganggukkan kepala. Disusul oleh suara helaan napas penuh kekecewaan yang tentu saja berasal dari mulut Salma.
"Apa yang membuat kamu cinta sama dia?"
Kali ini ia menatap Salma dengan pandangan tak percaya.
"Jawab aja, Gam!' gerutu Salma demi melihatnya tak kunjung menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan.
Sembari menggelengkan kepala dan menghembuskan napas panjang ia bergumam pelan, "Love has no reason."
Gumaman kekecewaan dari Salma kembali terdengar, disusul dengan pertanyaan lain, "Dia juga cinta sama kamu?"
Saat itulah pintu rumah Salma terbuka dari dalam, diikuti dengan munculnya wajah Mba Darmi, pekerja rumah tangga keluarga Salma sejak mereka masih duduk di bangku SD.
"Owalah, Kakak?" pekik Mba Darmi senang ke arah Salma yang masih saja memasang wajah murung. "Dicariin sama Bunda dari tadi."
Dengan tanpa menoleh ke arah Mba Darmi, Salma menjawab, "Mba masuk dulu ke dalam, nanti aku nyusul."
Mba Darmi tersenyum mengangguk dan langsung berbalik pergi kembali masuk ke dalam rumah.
Ia hampir mengucapkan kalimat perpisahan ketika Salma telah terlebih dahulu mengulurkan tangan kanan padanya seraya berucap, "Setiap pertemuan pasti ada perpisahan."
"Ini sebagai tanda dari salam perpisahan kita mungkin?"
Ia hanya diam mematung tak menyambut uluran tangan Salma.
Membuat Salma berinisiatif untuk menarik tangan kanannya agar mereka berdua bisa berjabat tangan.
"Happy wedding, Agam," gumam Salma dengan mata berkaca-kaca. "Wishing you a long and happy marriage."
"Kadonya nyusul....," lanjut Salma dengan suara tercekat sembari terisak kemudian menubruk dadanya.
"Bahagia selalu, Agam," bisik Salma sambil terisak di dadanya. "Bahagia selalu."
Ia membiarkan Salma menghabiskan kesedihan dan kekecewaan di dadanya. Tak sanggup melakukan apapun untuk sekedar menolak apalagi mencegah. Bagaimanapun juga Salma adalah sahabatnya sedari kecil. Tak mungkin ia bersikap kasar terlebih di saat Salma sedang dilanda kesedihan seperti sekarang ini.
"Maaf, Salma, tapi aku mencintai Anja," batinnya merasa tak enak hati dengan kedua tangan terjatuh di samping. Sama sekali tak ada niatan untuk menenangkan Salma yang bahunya terus saja berguncang naik turun akibat menangis.
Begitu Salma masuk ke dalam rumah, dengan setengah berlari ia melewati halaman rumah Salma menuju motornya yang terparkir di luar pagar.
Sekilas dilihatnya pergelangan tangan kanan, 22.40 WIB.
"Maaf Ja, kamu harus menunggu selama ini," gumamnya sambil menyalakan mesin kemudian memacunya secepat mungkin. Menembus gelapnya malam yang dingin. Berharap bisa segera sampai di rumah Anja.
"Tadi ditanyain sama Neng Anja, Den," menjadi kalimat pertama yang menyambutnya begitu ia masuk ke dalam rumah melalui pintu garasi.
"Sekarang Anjanya dimana?" tanyanya gugup sembari menyimpan helm dan melepas jaket.
"Tadi sih kata istri saya sempat ketiduran di sofa ruang tengah," jawab Mang Jaja sambil menutup pintu garasi.
"Tapi udah pindah ke kamar," lanjut Mang Jaja yang kali ini sedang membetulkan letak motornya agar tak menghalangi jalan keluar.
"Anja ada bilang sesuatu nggak?" tanyanya seraya melepas sepatu lalu menyimpannya ke dalam rak.
"Enggak, Den," jawaban Mang Jaja membuatnya sedikit bernapas lega.
"Tapi katanya nggak usah."
Ia mengangguk-angguk tanda mengerti, "Makasih, Mang."
Lalu dengan langkah panjang-panjang berjalan menuju ke kamarnya. Menyimpan ransel sekaligus menyempatkan diri untuk mencuci tangan dan kaki. Setelah itu barulah mengetuk pintu kamar Anja yang masih memancarkan seberkas sinar terang.
"Ja?"
Namun tak ada jawaban. Membuatnya kembali mengetuk pintu berwarna putih tulang itu.
"Anja?"
Ketukan yang cukup keras membuat pintu yang tak tertutup rapat menjadi terbuka dengan sendirinya. Memperlihatkan Anja yang tengah tertidur dengan posisi miring memunggungi pintu masuk.
"Kamu udah tidur, Ja?" tanyanya hati-hati sambil tetap berdiri di depan pintu.
Namun punggung cantik itu tak memberi reaksi apapun. Membuatnya memberanikan diri melangkah masuk ke dalam kamar Anja untuk pertama kalinya.
"Aku boleh masuk ya, Ja," ia mencoba meminta ijin khawatir akan membuat Anja semakin berang.
Tapi lagi-lagi Anja tak memberikan respon.
Dengan perlahan dan sedikit ragu, dilangkahkan kakinya menyusuri lantai marmer putih yang membentang di dalam kamar. Melewati deretan rak setinggi langit-langit yang di dalamnya penuh berisi koleksi bermacam buku dari berbagai genre.
Juga lemari kaca yang di dalamnya tersimpan puluhan boneka bulu paling menarik yang pernah dilihatnya. Sudah tentu jauh lebih mahal dibanding boneka Nemo dan Grizzly pemberian darinya tempo hari.
Tak ketinggalan walk in closet yang menjadi daya tarik utama terletak di salah satu sisi kamar. Kemudian seperangkat meja belajar bergaya futuristik yang dipastikan akan membuat betah siapapun yang duduk dan belajar di sana.
Pemandangan yang membuatnya menelan ludah dengan gugup. Selain karena kamar Anja tiga kali lipat lebih besar dibanding kamar tamu yang kini ditempatinya. Luas kamar Anja juga hampir bisa dipastikan menghabiskan keseluruhan ruangan yang ada di dalam rumah Mamak.
Kamar Anja seorang ibarat gabungan dari ruang tamu, ruang makan, dapur, tiga kamar tidur, sekat kecil sebagai tempat beribadah, teras, halaman belakang tempat jemuran rumah Mamak. Bahkan lebih. Satu kamar bagi Anja adalah satu rumah bagi keluarganya. Definisi nyata dari bagaikan bumi dan langit.
Sembari menarik napas panjang ia pun memberanikan diri untuk berjalan mendekati punggung Anja yang sama sekali tak bergeming sedikitpun.
"Syukurlah kalau kamu udah tidur," ujarnya gugup. "Aku kesini cuma mau bilang...."
"Aku belum tidur!" jawaban ketus tiba-tiba terdengar dari punggung yang tetap tak bergerak itu.
Membuatnya tersenyum lega untuk kemudian berkata, "Kenapa belum tidur? Ini udah malam."
"Kamunya nggak pulang-pulang!"
Ia kembali tersenyum, meski tahu Anja tak bisa melihat senyumnya. "Maaf, tadi seharian ponsel kusimpan di loker. Retrouvailles juga lagi rame banget. Nggak ketahuan kalau ada telepon dan chat dari kamu."
Tiba-tiba Anja membalikkan badan dan menatapnya dengan pandangan kesal, "Dulu kamu bawa ponsel waktu kerja! Kenapa malam ini enggak?!"
Membuat keningnya sontak mengkerut.
"Kamu sengaja nggak mau jawab teleponku?!"
Kening berkerutnya mendadak berubah menjadi helaan napas panjang. "Aku cape baru pulang, Ja...."
"Aku juga cape nungguin kamu pulang!" sahut Anja cepat sekaligus marah.
"Aku nggak mau berantem," ia menggelengkan kepala.
"Siapa yang lagi berantem?!" sungut Anja penuh amarah. "Justru kamu yang ngajak berantem!"
Ia hanya bisa menelan ludah beberapa kali karena benar-benar merasa lelah. Sementara Anja masih memandanginya dengan sebal.
"Ya udah," ujarnya mengalah memecah kesunyian. "Nungguin aku pulang ada apa?"
"Perlu sesuatu?" tanyanya sungguh-sungguh. "Atau kamu pingin sesuatu?"
Anja tak langsung menjawab, justru kembali memunggunginya.
"Aku nggak bisa tidur!" jawab Anja ketus setelah mereka sempat saling berdiam diri selama hampir lima menit lamanya.
Membuatnya menghembuskan napas lega kemudian tersenyum. Karena tadi sempat gugup dan khawatir Anja sangat membutuhkan bantuannya. Tapi ternyata persoalannya semudah ini.
"Kamu mau dibacain cerita?" ia masih tersenyum.
Anja hanya mengangkat bahu dengan posisi tetap memunggunginya.
Ia pun berinisiatif untuk mengambil kursi dari meja belajar, kemudian menempatkannya di depan Anja.
"Mau lanjutin Totto Chan?" tanyanya sembari mendudukkan diri di kursi.
"Tahu!" jawab Anja ketus.
"Koleksi buku kamu lumayan banyak juga," ujarnya sambil menunjuk rak kaca setinggi langit-langit yang berisi ratusan buku.
"Mau dibacain salah satunya?" tawarnya. "Kamu yang pilih bukunya."
Namun Anja justru melotot marah, "Udah nggak usah banyak gaya! Buruan bacain apa yang ada!"
"Ini udah jam sebelas malam!" lanjut Anja lagi masih dengan nada marah. "Udah lewat jam tidurku!"
"Aku nggak mau besok bangun pagi jadi punya mata panda gara-gara tidur kemalaman!"
Refleks membuatnya tertawa, "Berarti lanjutin Totto Chan? Tapi aku ambil ponsel dulu di ka...."
"Terserah!"
"Tunggu sebentar," ia pun segera beranjak pergi guna mengambil ponsel yang tersimpan di atas nakas kamar yang ditempatinya.
Lalu dalam sekejap kembali mendudukkan diri di kursi tepat di hadapan Anja yang sedang tertidur miring sembari memeluk Nemo.
"Kemarin sampai mana?" tanyanya benar-benar tak ingat.
"Yang mana aja deh!" jawab Anja cepat. "Buru ih, udah mau tidur juga!"
Membuat sejurus tawa tak mampu dicegah kembali lolos dari mulutnya.
"Kamu ngetawain aku?!" salak Anja cepat.
"Enggak," ia menggelengkan kepala sambil memusatkan konsentrasi di depan layar ponsel, memeriksa bab-bab yang ada di dalam buku Totto Chan.
"Kamu tuh udahlah salah karena pulang telat, masih berani cengar-cengir!" sungut Anja kesal.
"Kan aku baru pulang kerja," jawabnya membela diri.
"Trus tadi nganterin teman kemana sampai baru pulang jam segini?!"
"Mampir ke warung kopi?!"
Ia tersenyum menggeleng.
"Bikin orang nggak bisa tidur aja!"
"Barusan nganterin Salma pulang ke rumah," jawabnya memberanikan diri untuk berterus terang. Ia tentu tak harus berjudi dengan keadaan yang bisa mengancam keberlangsungan hubungannya dengan Anja di masa depan.
Kalimat yang baru saja diucapkan sontak membuat kedua mata Anja melotot seperti hendak keluar dari tempatnya. Namun sedetik kemudian berubah sikap menjadi -pura-pura- tak peduli.
"Salma datang ke Retrouvailles ma...."
"Nggak usah cerita!" potong Anja cepat dengan ekspresi wajah muram.
"Kupikir kamu perlu tah....."
"Aku nggak mau tahu!" sahut Anja lagi memotong kalimatnya.
"Aku nggak mau kalau suatu saat kamu salah sangka."
"Justru sekarang aku jadi salah sangka!" salak Anja dengan nada emosional.
"Jadi aku harus gimana?" tanyanya bingung. Benar-benar tak memiliki ide tentang cara paling efektif bagaimana melakukan percakapan normal dengan Anja yang tak bakal memicu pertengkaran atau kesalahpahaman.
"Kamu tuh bikin mood aku jadi jelek tahu nggak sih!" sungut Anja dengan tatapan menuduh.
"Udah mau tidur juga bukannya ngomong yang indah indah malah cerita yang begituan!"
"Kalau aku jadi makin susah tidur gara-gara cerita barusan, kamu mau tanggung jawab?!"