
Anja
Kamis, 2 Juli 2xxx
Jam 6 kurang Cakra telah mengunci pintu rumah. Kemudian mereka semua berjalan kaki menuju Masjid Uswatun Hasanah untuk melaksanakan sholat Id.
Masjid yang berada satu deret dengan SD Negeri 112 Pagi dan Kantor Kelurahan itu menjadi tempat terdekat dari rumah Cakra yang mengadakan Sholat Id.
Di sepanjang gang yang mereka lewati, orang-orang juga berbondong-bondong menuju ke Masjid untuk mengikuti sholat Id. Tua, muda, laki-laki, perempuan, semua hanyut dalam suasana fitri yang menentramkan.
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar
Allaahu Akbar Walillaahilhamd
Dari kejauhan suara takbir terus menggema bersahut-sahutan. Membuat mereka juga turut mengumandangkan takbir sepanjang perjalanan menuju ke Masjid.
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar
Allaahu Akbar Walillaahilhamd
Mamak dan Kak Pocut berjalan di depan. Lalu menyusul Icad, Umay, dan Sasa yang sedari tadi asyik berceloteh sambil tertawa-tawa riang. Sementara ia dan Cakra berada di paling belakang.
Sesampainya di halaman Masjid yang telah dipenuhi jama'ah, mereka berpisah. Ia, Mamak, Kak Pocut dan Sasa berjalan menuju pintu masuk untuk Akhwat (wanita). Sedangkan Cakra, Icad, dan Umay memasuki pintu yang bertuliskan Ikhwan (laki-laki).
Karena berangkat cukup pagi dari rumah. Membuat mereka bisa memperoleh shaf di selasar Masjid. Jika terlambat beberapa menit saja. Bisa dipastikan mereka harus sholat di halaman masjid yang telah ditutupi oleh tenda dan dialasi kain terpal.
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar
Allaahu Akbar Walillaahilhamd
Ia mendengar suara Mamak lamat-lamat turut mengumandangkan takbir. Sementara Kak Pocut disibukkan oleh Sasa yang merengek karena ikat rambutnya terlepas.
Tepat pukul 06.30 WIB, salah seorang takmir (pengurus) Masjid mulai berbicara di depan para jama'ah. Menjelaskan tentang jumlah perolehan zakat fitrah dan zakat maal yang berhasil diterima oleh panitia hari raya Masjid Uswatun Hasanah tahun ini. Sekaligus penyalurannya.
Disambung dengan penjelasan tata cara sholat Id yang akan mereka lakukan secara berjama'ah.
Tak lama kemudian, persiapan untuk melaksanakan sholat Idul Fitri pun dimulai. Namun sebelum melakukan takbir pertama, matanya sempat berkaca-kaca. Demi mengingat Papa, Mama, Mas Tama, dan Mas Sada.
Yang biasanya mereka selalu berkumpul bersama setiap hari raya. Kini untuk pertama kali, ia harus terpisah seorang diri karena keadaan.
Selamat Lebaran Pa, Ma, Mas, bisiknya dalam hati. Anja kangen banget sama kalian.
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar
Allaahu Akbar Walillaahilhamd
"Ramadhan merupakan salah satu sarana untuk memperbaiki akhlak manusia." **
Kini mereka tengah mendengarkan khatib memberikan khotbah usai pelaksanaan sholat Idul Fitri.
"Ramadhan harus mampu mengubah diri manusia menjadi pribadi berakhlak baik (akhlakul karimah)."
"Karena membangun bangsa bermartabat harus diawali dengan membangun akhlak manusia."
"Dan salah satu bentuk akhlak yang mulia adalah keikhlasan."
"Seorang yang ikhlas akan bekerja atau beribadah tanpa mengharap pujian dari manusia."
"Dan orang yang ikhlas adalah orang yang paling berbahagia dan paling mulia."
Selama khotbah Idul Fitri berlangsung, Mamak meraih tangannya. Kemudian mengusap dengan perlahan.
Sedangkan Kak Pocut masih disibukkan oleh berbagai pertanyaan Sasa tentang Lebaran. Seperti,
"Ma, kenapa tiba-tiba Masjid jadi penuh kalau Lebaran? Biasanya kan sepi."
Lalu,
"Ma, kenapa sholat tadi takbirnya banyak?"
Dan,
"Ma, nanti cokelat warna biru, yang ada di parcel paling besar, buat aku ya. Jangan bagi ke Abang."
Usai khotbah Idul Fitri berakhir, mereka mulai berkemas untuk pulang. Setelah sebelumnya saling bersalaman dan bermaafan dengan orang-orang yang ada di samping kiri dan kanan.
Ketika ia dituntun oleh Mamak keluar dari Masjid, terlihat Cakra telah berdiri menunggu di halaman Masjid. Sambil sesekali bersalaman dan tertawa-tawa dengan beberapa orang teman-temannya.
Namun begitu melihat mereka menuruni tangga Masjid untuk memakai sandal, Cakra langsung menghampiri.
Kini ia tak lagi dituntun oleh Mamak yang sedang bersalaman dengan sekumpulan ibu-ibu. Dengan Icad, Umay, dan Sasa yang bergelendotan di samping Mamak. Membuat Cakra langsung meraih tangannya lalu menggenggamnya erat-erat.
"Langsung pulang?" tanya Cakra ke arah Kak Pocut yang berjalan di sebelahnya.
"Iya. Nanti biar kebagian salaman di awal," jawab Kak Pocut sambil terus berjalan.
"Salaman?" tanyanya tak mengerti.
"Setiap Idul Fitri, di RW kami ada salaman keliling kampung," terang Cakra sambil mengeratkan genggaman tangan mereka.
"Mulai dari sesepuh, yang tua-tua dulu. Kalau anak muda paling belakang."
"Antre yang panjangnya melebihi ular naga," seloroh Cakra membuatnya tertawa.
Ketika mereka tengah berjalan menuju pintu gerbang keluar Masjid, dari sudut mata tertangkap bayangan Salma yang juga hendak berjalan keluar.
"Taqabalallahu minna wa minkum, Mak," tanpa diduga Salma menghampiri hanya untuk mencium tangan Mamak dengan takzim.
"Aamiin," jawab Mamak.
"Mohon maaf lahir bathin," lanjut Salma sambil tersenyum ke arah Mamak.
Mamak balas tersenyum sembari mengusap lengan Salma, "Maaf lahir bathin juga, Salma. Mamak sebagai orangtua banyak kesalahan."
Namun Salma menggelengkan kepala, "Enggak, Mak. Kami yang muda jauh lebih banyak kesalahannya."
Kemudian Salma beralih menyalami Kak Pocut yang bertanya, "Nggak mudik ke Palembang, Sal? Atau Solo?"
"Nenek Kakek yang di Palembang udah nggak ada semua, Kak."
"Oh."
"Jadi paling nanti siang mau ke Solo," lanjut Salma yang kini beralih menatap Cakra.
"Ayah sama Bunda mana?" tanya Kak Pocut. Membuat pandangan Salma beralih dari Cakra.
"Nanti ikut salaman di RW kan?" sambung Kak Pocut.
"Ikut, Kak. Itu tadi udah jalan duluan di depan sama Sarah sama Safa," jawab Salma menyebut nama dua adik perempuannya.
"Oh ya, nanti bisa ketemu di RW," Kak Pocut tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian Kak Pocut beralih untuk bersalaman dengan beberapa ibu-ibu muda yang telah mengerumuni Mamak.
"Minal aidzin, Cut."
"Iya, sama-sama. Maaf lahir bathin juga, Mpok."
Kini Salma telah menghadap ke arah mereka berdua. Membuat ia dan Cakra langsung melepas genggaman tangan secara bersamaan.
"Maaf lahir bathin, Sal," Cakra terlebih dahulu mengulurkan tangan ke arah Salma.
Yang langsung disambut dengan senyuman oleh Salma, "Sama-sama, Gam. Maaf lahir bathin juga ya."
Karena Cakra telah berinisiatif lebih dulu, ia pun mengikuti langkah Cakra dengan mengulurkan tangan pada Salma.
"Maaf lahir bathin," ujarnya mencoba tersenyum.
Diluar dugaan, Salma menyambut uluran tangannya lalu menarik tubuhnya hingga akhirnya mereka berdua berpelukan.
"Maaf lahir bathin, Anja," bisik Salma dengan suara bergetar. "Semoga lahirannya lancar."
"Makasih," jawabnya sambil tersenyum sungguhan. Karena merasa tersentuh dengan kebesaran hati Salma barusan.
Namun suasana kaku dan asing mendadak melingkupi mereka bertiga. Membuat masing-masing jadi salah tingkah.
Tapi ia jelas mempunyai sesuatu yang harus disampaikan. Yaitu, "Makasih banyak kadonya, Sal."
Salma dan Cakra sama-sama terlihat kaget. Namun sedetik kemudian Salma tersenyum, "Sama-sama, Anja. Semoga bermanfaat."
"Banget," jawabnya cepat. Juga sambil tersenyum.
"Mm....," Salma kembali terlihat salah tingkah. "Kalau gitu aku ke....sana dulu ya....," tunjuk Salma ke sembarang arah.
Ia dan Cakra sama-sama menganggukkan kepala. Dan begitu Salma berlalu, Cakra langsung menatapnya curiga, "Kado apa?"
"Hmmm....," ia hanya mencibir.
"Happy wedding, Agam," lanjutnya sambil mendelik.
"Oh," Cakra mengangguk-anggukkan kepala sambil tertawa. "Kado itu udah kamu buka?"
Namun sebelum ia sempat menjawab, Cakra telah melingkarkan lengan ke bahunya sambil berkata, "Yuk jalan, Mamak sama Kak Pocut udah jauh tuh di depan."
Dan perkataan Cakra terbukti. Karena begitu mereka memasuki gang menuju rumah Cakra, antrean orang yang ingin bersalaman telah mengular.
"Wah, telat nih keluarga Mak Agam!" seloroh orang-orang ketika mereka berjalan melewati mereka dengan sedikit tergesa.
Begitu mereka sampai di depan langgar (Masjid), Mamak terlihat menyerahkan sajadah dan mukena pada Kak Pocut. Lalu berjalan memasuki halaman langgar yang telah ramai dipenuhi orang. Dengan diikuti oleh Icad, Umay, dan Sasa. Yang sejak tadi terus mengekor pada Mamak.
"Mamak mau ke mana?" tanyanya heran karena ia, Cakra, dan Kak Pocut tetap melanjutkan langkah menuju ke rumah. Tak ikut memasuki halaman langgar.
"Mamak termasuk orangtua di sini, jadi salamannya di awal sama sesepuh yang lebih tua," jawab Cakra.
"Nanti tinggal duduk manis di kursi, nunggu yang muda-muda datang buat salaman," lanjut Cakra.
"Oh," ia menganggukkan kepala tanda mengerti.
Begitu sampai di rumah, Kak Pocut segera menyimpan mukena dan sajadah ke dalam bilik. Kemudian langsung pergi.
"Anjani, Kakak duluan ya," pamit Kak Pocut yang tak menunggu jawabannya sudah keburu melangkah.
"Kenapa Kak Pocut buru-buru?" tanyanya heran.
"Biasa....," jawab Cakra santai sambil melepas kopiah hitam lalu menggantungkannya di samping buffet.
"Ibu-ibu mau ngurus konsumsi," lanjut Cakra yang kini berjalan mendekati meja di ruang tamu.
"Oh," ia lagi-lagi mengangguk. Namun sejurus kemudian mengernyit, "Terus kamu....kenapa santai-santai? Nggak ikut salaman?!"
"Ikut lah," jawab Cakra seraya menyendok kacang bawang dari dalam toples. Kemudian menyimpannya di telapak tangan.
"Tapi nanti belakangan," lanjut Cakra yang kini telah mendudukkan diri sembari mengunyah kacang bawang.
"Anak muda giliran terakhir," imbuh Cakra lagi.
"Oh," ia menganggukkan kepala tanda mengerti. Lalu mulai melepas mukena.
"Panas ya?" tanya Cakra begitu melihat rambutnya lepek karena keringat.
Kemudian dengan tanpa bertanya, Cakra buru-buru menghidupkan stand fan yang ada di ruang tamu.
"Anginnya kegedean nggak?" tanya Cakra yang telah menyetel kipas angin di tombol angka 2, middle.
Ia menggelengkan kepala.
"Pas, makasih," jawabnya sambil mendudukkan diri di kursi rotan.
Sambil memandangi meja ruang tamu yang dipenuhi oleh berbagai makanan dan cemilan. Mulai dari makanan khas Aceh sampai kue kering dan juga lapis legit.
-----
Semalam ia sempat menanyakan nama-nama makanan yang terhidang di atas meja ruang tamu pada Mamak. Karena terlihat aneh dan baru kali ini dijumpainya.
"Ini namanya Halwa. Orang banyak bilang seperti dodol," terang Mamak sambil menunjuk piring berisi makanan seperti dodol.
"Tapi Halwa teksturnya lebih kasar. Karena dibuat dari beras ketan yang ditumbuk kasar dan kelapa parut," lanjut Mamak.
"Kalau ini Keukarah," kini Mamak menunjuk makanan yang tersimpan di sebelah kue Halwa.
"Mirip sarang burung," terang Mamak. "Rasanya renyah, manis, garing, dan rapuh."
"Terbuat dari campuran tepung dan santan."
Ia berpikir sebentar mencoba mengingat sesuatu. "Seperti yang dibawa waktu aku menikah ya, Mak?"
"Iya," Mamak menganggukkan kepala. "Iya, itu Keukarah."
"Anjani masih ingat?"
Ia tersenyum mengangguk.
"Kalau yang berbalut daun pisang itu namanya timphan," terang Mamak seraya menunjuk piring berisi makanan berbentuk panjang dan berbalut daun pisang.
"Bentuknya kayak lontong apa leupeut ya, Mak?" tanyanya heran sambil memperhatikan timphan yang berbentuk panjang seperti bentuk lontong ataupun leupeut.
Yang setiap Lebaran sering ditemuinya tersaji di hampir tiap rumah keluarga besar Mama yang sama-sama berasal dari Tasikmalaya.
"Apa nagasari ya Mak?" tanyanya lagi.
"Iya, bentuknya mirip leupet. Tapi kalau leupeut terbuat dari beras ketan dan dibungkus pakai daun janur."
"Kalau timphan dibungkus pakai daun pisang. Terbuat dari tepung beras ketan, pisang, labu kuning, santan kental, garam."
"Isinya parutan kelapa atau srikaya."
"Agam paling suka isi srikaya. Jadi Mamak buatkan."
Ia pun mengambil sepotong timphan dan mulai membuka daunnya.
"Iya Mak, isinya kayak nagasari," ujarnya sembari mengunyah timphan. "Enak."
Mamak tersenyum, "Anjani suka?"
"Suka," jawabnya sambil mengunyah timphan. Enak, manis.
"Kapan-kapan kita buat bersama," lanjut Mamak sambil tetap tersenyum.
"Kita buat sendiri Mak?" tanyanya tak mengerti. Terdengar menakutkan baginya yang selama ini hanya tinggal "hap" tanpa perlu memasak terlebih dahulu.
"Iya, kita buat sendiri," Mamak mengangguk.
"Ini salah satu makanan kesukaan Agam. Biar nanti kalau Mamak sudah tak ada. Cucu Mamak masih bisa merasakan makanan kesukaan ayahnya," lanjut Mamak kembali tersenyum.
Sementara ia hanya bisa meringis bingung.
"Kalau yang di toples itu namanya seupeut kuwet," lanjut Mamak yang sama sekali tak membahas wajah bengongnya. Sembari menunjuk toples bening berisi kue kering seperti kue semprong namun yang ini dilipat.
"Kue kering khas lebaran di tempat asal kami," imbuh Mamak sambil tersenyum.
"Dibuat dari tepung terigu, santan, gula, garam."
"Aromanya harum, Mak," ujarnya yang telah mengambil sepotong seupeut kuwet.
"Iya," Mamak tersenyum. "Aromanya khas. Anjani mau coba?"
-----
Kini ia mengulurkan tangan untuk merogoh toples berisi seupeut kuwet. Mengambil satu lalu mulai menggigitnya.
"Mau makan dulu nggak sebelum kita salaman?" tanya Cakra yang kembali menyendok kacang bawang entah untuk yang ke berapa kalinya.
"Nggak ah," tolaknya. "Belum lapar."
"Salamannya lama lho, nanti kamu kecapekan," seloroh Cakra.
"Makan dulu ya," ujar Cakra sembari bangkit menuju ke dapur.
"Mau lontong sayur apa rendang, Ja?" seru Cakra dari arah dapur.
Membuatnya ikut beranjak masuk ke dapur. Dan tertawa demi melihat Cakra telah mengambil sepiring penuh lontong sayur.
"Ini sih kamu yang lapar!" cibirnya sambil tertawa.
"Asli sejak dari Cileungsi jadi lapar terus," jawab Cakra sembari mendudukkan diri di kursi.
"Alasan!" cibirnya lagi. Kali ini seraya memutar bola mata.
"Gimana nggak lapar, Ja, kerjaanku double," jawab Cakra namun dengan mata mengerling ke arahnya.
"Double gimana?"
"Kerja di pabrik iya," Cakra kembali mengerling. "Kerja membajak sawah iya."
Ia sempat bengong sebentar karena tak mengerti maksud dari membajak sawah.
Namun ketika Cakra tergelak dengan wajah memerah, barulah ia tahu. Jika arti dari membajak sawah yang dimaksud Cakra adalah....
"Ish!" ia langsung melotot sebal. "Dasar!"
Cakra masih saja tertawa, tapi kali ini sambil menarik tangannya.
"Duduk sini. Aku suapin."
"Nggak ah," tolaknya meski menurut untuk duduk di sebelah Cakra.
"Nanti kita bakalan berdiri lama buat salaman," lanjut Cakra yang mulai menyuapinya.
***
Keterangan :
Shaf. : barisan dalam shalat. Aturan posisi dalam sholat, dalam keadaan sejajar dengan jamaah lainnya dan menghadap kiblat.
**. : diambil dari cuplikan khotbah Idul Fitri yang disampaikan di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada tanggal 15 Juni 2018.
Taqabalallahu minna wa minkum : semoga Allah menerima (puasa dan amal) dari kami dan (puasa dan amal) dari kalian.