Beautifully Painful

Beautifully Painful
140. "Selamat Datang di Rumah Kami."



Readers tersayang 🤗


Apakabarnya semua 😍


Apakah semua yang ada di sini I Love Monday 😍🤗


Karena pagi-pagi author sudah mendapat kejutan yang luar biasa mencengangkan namun membahagiakan 😍 yaitu BP masuk rank atas 😍😭🙏


Alhamdulillahirabbil'alamiin


Oh, My 😭


Speechless 🤗


Readers tersayang 😍 pushrank nya bener-bener luar biasa 😍😭😭 no words can describe betapa bahagianya author mendapat dukungan sedemikian luar biasa dari readers tersayang 😭😍🤗🤗


Mood booster paling bermakna bagi author, agar bisa terus menuliskan karya yang lebih baik lagi tiap harinya. Aamiin.


Terimakasih banyak


Matursuwun Sanget


Haturnuhun Pisan


Teurimong Gaseh


BIG HUG untuk readers tersayang semuanya 🤗 duet minsya 🤗 yang telah berjibaku mengumpulkan poin demi poin, menuntaskan misi, promo kesana kemari demi BP 😭🤗, memobilisasi massa (halah 😁). How can i not love you readers tersayang 🤗


Perjalanan memang masih panjang 💪. Sangat sangat panjang 💪. Garis finish juga masih teramat jauh.


Tapi paling tidak, kini author paham...sedalam apa readers tersayang mencintai BP. Ini yang menjadi sangat berarti 😭😍🤗🤗.


With love,


Sephinasera 🤗


----------- 


Cakra


Malam kian beranjak larut, hujan yang turun juga bertambah deras. Seolah seluruh air tercurah ke atas bumi. Lengkap dengan suara guntur yang beberapa kali terdengar menggelegar membelah kegelapan malam.


Membuat Anja sedari tadi memposisikan diri di samping Aran. Karena khawatir Aran terkejut ketika mendengar suara petir.


Tapi yang dikhawatirkan ternyata tak terjadi. Karena Aran tetap terlelap dengan nyenyaknya. Sama sekali tak terpengaruh oleh suara geluduk yang cukup keras.


Dan seusai sholat Isya tadi, Mama Anja telah meminta Mamak untuk beristirahat di kamar tamu.


"Nanti Pocut dan Sasa pulang ke sini lagi Bu Cut," ucap Mama Anja. "Biar sekarang Bu Cut istirahat saja dulu."


"Sudah mempersiapkan acara selama dua hari, pasti lelah."


Sementara Icad dan Umay masih asyik merakit Lego bersama Arka, Yasa, dan para saudara sepupu yang lain.


"Sasa kok lama nggak pulang-pulang ya?" gumam Anja dengan nada penuh kekhawatiran.


Ia yang sedang berbaring di belakang punggung Anja tak menjawab apapun.


Cerita tentang Sasa yang jari tangannya terjepit mainan jungkat-jungkit sama sekali tak bisa dibayangkan.


Dan sepanjang petang tadi, ia sempat duduk bersama dengan Mas Sada, Teh Dara dan kerabat yang lain. Menunggu kabar tentang Sasa. Tapi ponsel Mas Tama sama sekali tak bisa dihubungi. Ponsel Kak Pocut bahkan tertinggal di sini.


"Semoga lukanya nggak parah," lanjut Anja sambil membalikkan badan.


"Atau karena langsung di opname?" Anja menghela napas panjang. "Makanya nggak pulang-pulang."


"Mungkin," ia balas menoleh dan menatap Anja lekat-lekat.


Dan turunnya air hujan yang menimbulkan suara gemuruh di luar, udara hangat yang melingkupi seantero kamar, serta suasana yang cukup sunyi, membuatnya refleks meraih kepala Anja ke dalam rengkuhan.


"Kasihan Sasa," gumam Anja lagi. "Pasti sakit banget."


"Aku sempat lihat darahnya waktu digendong sama Mas Tama...," kali ini Anja bergidik ngeri. Mungkin membayangkan kecelakaan yang tadi menimpa Sasa.


Ia tak menjawab apapun. Hanya terus mengusap lengan Anja yang berada dalam rengkuhannya.


Suasana kembali sunyi. Di antara mereka tak ada lagi yang berbicara. Sementara Anja semakin menenggelamkan wajah di sepanjang lehernya.


"Aku tadi ngobrol sama Dipa."


Ia masih diam dan tak menjawab.


"Dipa minta maaf," lanjut Anja.


"Aku juga minta maaf ke Dipa," sambung Anja cepat.


Ia tetap diam namun sambil mendengarkan.


"Kayak ada sesuatu yang....," Anja memegang dadanya sembari menengadahkan wajah. "Lega di sini."


"Iya nggak sih?" tanya Anja dengan wajah yang masih menengadah.


Ia terus terdiam. Lebih memilih untuk menyentuhkan diri ke wajah Anja.


"Ish!" Anja langsung memukul dadanya. "Orang lagi ngomong serius malah...."


Ucapan Anja terpotong di udara, karena ia kembali menyentuhkan diri. Perlahan, halus, namun dalam dan pastinya lama.


"Ini artinya...kamu nggak masalah dengan apa yang barusan kuceritakan?" tanya Anja dengan napas tersengal akibat sentuhannya yang terlalu lama.


Ia hanya tersenyum. Tak menjawab apapun. Karena baginya, action (beraksi) lebih menguntungkan dan menyenangkan daripada talk only (hanya bicara).


If you know what i mean (jika kau tahu apa yang kumaksud).


Anja tak lagi menengadahkan wajah untuk menatapnya. Lebih memilih kembali menenggelamkan diri ke dalam dadanya.


"Aku juga tadi sempet ngobrol bareng Faza sama Christy (anak IPA2, yang diterima di FSRD -fakultas seni rupa dan desain- Ganapati)," gumam Anja lagi.


"Mereka udah ngisi data camaba (calon mahasiswa baru) di laman Ganapati."


"Oh," Anja tiba-tiba teringat sesuatu. "Kalau Faza sih emang udah dari bulan Mei ya. Anak SNM (masuk lewat jalur SNMPTN) kan dia."


"Oya, Christy juga cerita kalau jadwal regis (registrasi, daftar ulang) udah keluar."


"Tanggal 28 sampai 31 Juli."


"FSRD jadwal regis di hari ketiga."


"Kalo kamu....," Anja mendongak ke arahnya.


"Tadi Christy bilang....kalau nggak salah ingat, jadwal regis STEI di hari kedua."


"Coba nanti kamu cek sendiri. Bener nggak hari kedua."


Selama Anja berbicara, ia hanya diam mendengarkan. Tak tahu harus menjawab apa. Karena hari Sabtu besok, ia sudah harus kembali bekerja untuk dua shift sekaligus.


"Kalau aku....," Anja terdiam sejenak sambil mempermainkan kancing kemeja di bagian dadanya.


"Besok udah mulai Pra Regis (pra registrasi)."


"Online kok tenang aja," sambung Anja cepat. "Biar bisa dapat NPM (nomor pokok mahasiswa) sama jadwal pemeriksaan kesehatan."


Lalu Anja terdiam. Meski masih mempermainkan kancing kemejanya dengan membuka kancing-menutup-membukanya lagi- buru-buru ditutup, begitu seterusnya berulangkali.


"Cakra...."


"Hmmm...."


"Kamu kok diem sih?!" suara Anja mulai terdengar menggerutu. "Kamu dengerin aku nggak?!"


"Dengerin...," jawabnya sambil mencium puncak kepala Anja.


"Kalau dengerin...jawab dong!"


Ia terkekeh, "Nggak tahu mesti jawab apa."


"Ish!" kini Anja memukul dadanya. "Kamu tuh ya dari dulu pasti begini! Nggak pernah berubah!"


"Aku kan konsisten orangnya," sahutnya asal.


"Setia," kalau yang ini ia sedang serius.


Anja tertawa sambil terus memukuli dadanya, "Nyebelin!"


"Oya, kemarin aku, Mama sama Teh Dara sempet ngobrol tentang Aran."


Ia menunduk untuk menatap Anja. Tapi Anja tak menengadah. Tetap asyik mempermainkan kancing kemejanya.


"Kata Mama....gimana kalau kita pakai baby sitter buat Aran. Karena aku kan mesti kuliah...terus...."


Ia sudah berniat untuk menyanggah, tapi Anja keburu berkata, "Eh, dengerin dulu!"


"Iya, aku tahu, kamu pasti nggak mau."


"Masalah biaya selalu bikin kamu keberatan," nada suara Anja terdengar penuh penyesalan.


Membuatnya menghela napas panjang sekaligus menelan saliva dalam satu urutan waktu.


"Mama yang gaji baby sitternya," ujar Anja cepat sebelum ia sempat menyahut.


"Ja...."


"Kamu...nggak tersinggung kan?"


"Ja...."


"Aku mesti kuliah, Aran harus ada yang jaga," Anja kembali memotong ucapannya.


"Nggak mungkin Mama yang jaga kan?" Anja menengadahkan wajah ke atas tepat ketika ia menunduk ke bawah. Membuat mata mereka saling bertautan.


Namun meski begitu, tak ada satupun yang berucap. Masing-masing hanya terdiam, dengan mata yang terus saling memandang satu sama lain.


"Titip ke Kak Pocut sama Mamak," gumamnya sambil menatap Anja lekat-lekat.


Tapi Anja menggeleng tak setuju, "Jangan ngerepotin!"


"Mamak sama Kak Pocut udah sibuk di keude tiap ha...."


"Resep Mamak kepakai sama Selera Persada. Ke depannya keude bakal dilepas. Mamak lebih banyak di rumah," ia buru-buru memotong kalimat Anja.


"Nah!" Anja memijit hidungnya. "Karena kepakai itulah Om Raka dan team udah nyusun project berikutnya."


"Bakalan lebih sibuk."


"Dan Kak Pocut kemungkinan besar bakal sering ke Selera Persada, apa malah ngantor di sana!"


"Begitu mau nitipin Aran!"


Mata mereka masih saling bertautan tapi dengan jalan pikiran yang pastinya jauh berbeda.


"Ya udah, kalau kamu memang mau pakai baby sitter...."


"Paling nanti aku bakal sering ambil over time (lembur)," ia akhirnya mengalah demi memandangi wajah penuh permohonan Anja.


"Biar kita bayar baby sitter sendiri," sambungnya cepat. "Jangan pakai uang Mama."


Mata Anja berbinar namun sejurus kemudian melotot tanpa ampun, "Ambil over time gimana?!"


"Kamu kan mau kuliah!"


"Ja...."


"Besok datang langsung dari Cihideung."


"Lebih cepat datang lebih baik."


"Biar bisa adaptasi sama Aran."


"Sekalian mau di training dikit sama Teh Dara."


"Sebelum Mas Sada sekeluarga pulang ke Jogja."


Ia sudah hampir membalas ucapan Anja namun urung karena pintu kamar mereka keburu diketok dari luar.


Tok! Tok! Tok!


"Anja!"


Tok! Tok! Tok!


Itu suara Teh Dara.


"Ya, Teh?" Anja langsung beringsut dari dadanya dan berjalan ke arah pintu.


"Cakra ada di sini?" tanya Teh Dara begitu Anja membuka pintu kamar.


"Tuh," Anja menunjuk ke arahnya yang sedang membungkuk karena berniat untuk mengusap pipi bulat Aran.


"Cakra, dipanggil Papa."


***


Cakra


Ia berjalan mengekori Teh Dara. Melewati ruang tengah yang masih dipenuhi oleh banyak orang.


Ada Mas Sada, Om Raka (yang ternyata belum pulang karena Shaina keburu ketiduran), Om Baldan, Om Laksmana, dan kerabat dekat lainnya. Masih asyik bercengkerama satu sama lain.


"Masuk aja," ujar Teh Dara ke arahnya. Setelah mengetuk pintu ruang perpustakaan dan langsung membukanya tanpa menunggu dipersilakan.


Ia pun mengangguk.


Dan dengan hati yang sedikit bertanya-tanya, dilangkahkan kakinya memasuki ruang Perpustakaan. Yang entah mengapa malam ini berhawa lumayan hangat. Berbanding terbalik dengan derasnya air hujan di luar sana.


"Duduk," ucap Papa Anja begitu melihatnya memasuki ruang Perpustakaan. Sembari menepuk sofa yang sedang diduduki.


Ia tersenyum mengangguk. Lalu mengambil duduk tepat di sebelah Papa Anja.


"Gimana Anja?"


Ia mengernyit tak mengerti. Sebelum akhirnya menjawab sambil meringis, "Gimana apanya, Pa?"


Papa Anja tertawa, "Selain manja dan keras kepala, apalagi?"


Kini ia tertawa lega. Karena tadi sempat mengira, Papa Anja bertanya tentang hal yang lebih serius.


"Kalau tertawa berarti benar ucapan Papa barusan."


Ia pun langsung menghentikan tawa dengan gugup. Dan menjadi salah tingkah.


Tapi tawa Papa Anja justru kian lebar.


Sejurus kemudian suasana mendadak hening. Karena tak ada yang bersuara. Papa Anja bahkan berkali-kali menghela napas panjang. Membuatnya semakin bertambah grogi.


"Kamu pernah ketemu sama Ayah kamu?" suara Papa Anja tiba-tiba terdengar memecah kesunyian ruang Perpustakaan.


Ia tak langsung menjawab. Karena memang lupa seperti apa sosok Ayah.


"Punya foto beliau?"


Ia mengangguk. Teringat akan foto berpigura yang tersimpan rapi di dalam lemari pakaian Mamak.


"Persis seperti kamu."


Untuk yang satu ini, ia kurang sependapat. Karena menurutnya, sosok Ayah jauh lebih gagah dibandingkan dengan dirinya.


"Ibu kamu pernah cerita tentang beliau?"


"Sering," jawabnya jujur.


Dulu, ketika ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sebagai pengantar tidur, Mamak acap kali bercerita tentang Ayah dan juga pasukannya.


Pasukan paling pemberani yang hidupnya berpindah-pindah dari satu hutan ke hutan lainnya. Dari gunung yang satu ke gunung yang lain. Bukit ini dan bukit itu. Menapaki sudut-sudut terpencil. Dilindungi oleh (sebagian) rakyat tapi di cap sebagai pengkhianat negara.


"Kamu...bangga dengan Ayah kamu?"


Kali ini ia tak bisa langsung menjawab. Hanya terdiam sambil menundukkan kepala dalam-dalam.


"Kamu harus bangga dengan Ayah kamu!" Papa Anja tiba-tiba menepuk bahunya.


Entah mengapa rahangnya langsung mengeras. Begitu teringat akan pendapat kebanyakan orang tentang Ayahnya.


"Seperti Papa....," Papa Anja memegang dadanya sendiri. "Yang bangga karena pernah bersahabat dengan Ayah kamu."


Kata sahabat membuatnya mendongak.


"Ibu kamu nggak pernah cerita?" tanya Papa Anja ketika melihatnya terpana.


"Cerita....tentang apa, Pa?" tanyanya sedikit ragu.


Karena Mamak hanya sering menceritakan tentang, bagaimana kehidupan Ayah dan pasukannya ketika mereka berpindah tempat tinggal dari hutan ke hutan. Bagaimana mereka menghidupi diri sendiri dalam kondisi yang serba terbatas. Dan seberapa erat kekerabatan satu sama lain selama berada dalam pelarian.


Namun Papa Anja justru tersenyum dan mengangguk, "Ya, pasti ibu kamu nggak akan cerita."


"Ibu yang hebat," Papa Anja kembali menepuk bahunya sebanyak dua kali.


"Tidak melibatkan anaknya ke dalam pusaran masa lalu."


Ia sudah hampir menyahut tapi urung. Karena benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Papa Anja.


"Cakra...."


"Waktu pulang dari Singapura hari Rabu kemarin, Papa masih sering mengalami disorientasi."


"Efek dari serangan stroke yang masih tersisa."


Ia mengangguk mengerti.


"Papa sering lupa waktu, tempat, orang, kejadian....."


"Kadang ingat, tapi nanti lupa lagi."


"Begitu terus berulang."


"Tapi....waktu malam itu juga, Papa secara tak sengaja membaca sebaris tulisan...."


Papa Anja terdiam sebentar. Membuatnya menebak kira-kira menuju kemana arah dari pembicaraan ini.


"Ternyata bisa membangkitkan memori Papa. Hingga bisa mengingat kembali tentang berbagai kejadian di masa lalu."


"Yang selama ini coba Papa simpan sendiri."


Pasti Papa Anja sebentar lagi akan marah padanya, batinnya cemas. Begitu tahu jika Ayahnya lah yang menembak Papa Anja pada operasi gabungan belasan tahun silam.


"Coba Papa lupakan karena terlalu menyedihkan."


Mungkin dunianya akan runtuh dalam sekejap, batinnya kian bertambah cemas.


"Sampai akhirnya....disorientasi Papa banyak berkurang dua hari ini."


"Papa sangat bersyukur."


"Terima kasih sudah datang ke rumah kami," ucap Papa Anja dengan mata berkaca-kaca. Yang membuatnya semakin bertambah bingung.


"Menjadi jalan Papa bisa berdamai dengan masa lalu."


Kini Papa Anja bahkan telah meneteskan air mata.


"Memang caranya sangat tidak mengenakkan bagi kami."


Ia kembali mengeraskan rahang. Merasa malu akan perbuatan tercelanya terhadap Anja hingga menghasilkan Aran.


"Tapi tidak mengapa."


"Memang ini yang harus Papa terima. Sebab pernah melakukan kekeliruan di masa lalu."


"Papa terima...."


Dan karena Papa Anja telah berlinangan air mata. Ia pun berinisiatif untuk mengulurkan tangan ke atas meja. Berusaha mendekatkan kotak tissue ke hadapan Papa Anja. Agar lebih mudah untuk diraih.


Setelah menyusut sudut mata, Papa Anja kembali menepuk bahunya perlahan.


"Papa minta kamu ke sini cuma mau bilang tiga hal."


Ia memandang Papa Anja tak mengerti.


"Pertama, kamu harus bangga dengan Ayah kamu!"


Ia menundukkan kepala saat nama Ayah kembali disebut. Seperti ada beban tersendiri yang menggumpal di dada.


"Yang kedua....," Papa Anja mengulurkan tangan padanya.


"Selamat datang di rumah kami."


Ia mendongak lalu membalas jabatan tangan Papa Anja meski dengan sedikit ragu.


Papa Anja tersenyum sebelum melanjutkan kalimat dengan, "Terakhir....apa mimpi kamu?"


Mimpinya?


Mimpinya tak terhitung karena saking banyaknya.


Membahagiakan Anja dan Aran jelas menduduki peringkat pertama. Lalu me....


"Dari situ kamu bisa membuat pilihan yang terbaik."


Ia tercekat.


"Kamu ingin meneruskan pekerjaan. Tapi Anja ingin kamu kuliah. Sementara semua orang di sekitar kamu, juga punya pendapat mereka sendiri."


"Termasuk Papa."


Ia menghembuskan napas panjang dengan gelisah.


"Tapi Papa tidak akan mempengaruhi."


"Kamu sendiri yang harus memutuskan."


"Dan bertanggungjawab terhadap apapun keputusan yang kamu ambil."


"Pahami apa mimpi kamu.....dari sana kamu bisa temukan keputusan terbaik."


Sekembalinya ke dalam kamar, ia masih terus memikirkan sederet kalimat yang diucapkan oleh Papa Anja. Dan mendapati Anja juga Aran telah terlelap dengan nyaman.


Membuatnya iseng mengecek ponsel yang sedang di charge di atas meja belajar.


Tapi langsung terkejut, begitu mengaktifkan ponsel yang sejak petang dimatikan daya. Karena notifikasi menyebutkan, terdapat 5 missed calls yang berasal dari satu nomor. Yaitu nomor ponsel Mas Tama.