Beautifully Painful

Beautifully Painful
53. Mencari Rekam Jejak



Anja


Pagi ini ia terbangun dalam keadaan segar dan bersemangat. Setelah selama dua pekan terakhir selalu bangun tidur dengan kepala pening, karena dirinya terlalu dipenuhi oleh perasaan takut dan khawatir. Kemudian melalui hari-hari penuh ketidakpastian yang membingungkan. Begitu menguras energi. Namun kini, semua telah berlalu. Ia siap kembali beraktivitas normal sebagaimana biasa, sama seperti sebelum semuanya terjadi.


Seraya menyunggingkan senyum ia melangkah keluar kamar. Dan penglihatannya langsung tertumbuk pada pintu kayu berwarna putih tulang yang hanya berjarak beberapa meter di hadapannya. Iya, pintu kamar tamu. Kamar yang sekarang ditempati oleh Cakra.


Selintas mengingat si empunya nama, membuat hati mendadak bersuka cita. Namun pintu bercat putih tulang itu tertutup rapat. Sunyi dan sepi. Seolah tak ada kehidupan apapun di dalamnya.


"Idih, jam segini belum bangun," cibirnya sembari menatap arloji di pergelangan tangan kiri, pukul 05.30. Dimana dalam waktu satu jam ke depan, bel masuk sekolah akan berbunyi. Tapi hingga detik ini, Cakra bahkan belum bangun tidur. Dasar!


Eh, tapi sebentar. Apa mungkin Cakra terlalu kecapaian setelah semalam pulang larut?


Apa ia harus membangunkannya?


Kira-kira hal paling masuk akal apa yang bisa dijadikan alasan untuk membangunkan Cakra? Anyone knows?


Otaknya masih dipenuhi oleh peperangan sengit antara opsi membangunkan Cakra atau tidak ketika sebuah suara mengejutkan mendadak mampir di telinganya,


"Lagi ngapain, Ja? Pagi-pagi udah ngelamun?"


Tubuhnya refleks berputar 90° agar bisa menghadap kearah suara. Pandangan matanya langsung menjumpai sosok Cakra yang sedang berdiri tak jauh darinya sembari tersenyum.


Hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Dengan rambut dan wajah yang basah oleh keringat. Setitik air bahkan jatuh menghiasi kening Cakra yang kini sedang sibuk melipat selembar kanebo berwarna kuning.


Untuk menutupi rasa terkejut dan juga gugup, dengan cepat diangkatnya ujung bibir keatas. Kemudian buru-buru berlalu ke ruang makan. Melewati Cakra yang memperhatikan setiap langkahnya.


Ia memilih untuk bersikap pura-pura tak peduli, agar pikirannya tak terdistrak terlalu lama demi menyaksikan penampilan rumahan Cakra yang entah mengapa membuat hati kembali berdesir.


"Wilujeng enjing, Neng (selamat pagi)," sapa Bi Enok dengan sumringah di meja makan.


"Sarapan dulu?" tawar Bi Enok sembari menata nasi goreng kampung di atas meja. Fresh from the oven, baru matang dan masih mengepulkan uap panas. Lengkap dengan telor mata sapi sebagai topping. Hmm, sepertinya lezat.


Ia tersenyum mengangguk sembari mendudukkan diri di kursi. Sementara sudut matanya dengan gesit sempat menangkap bayangan Cakra yang masuk ke kamar tamu kemudian menutup pintunya.


"Dia udah bangun dari tadi?" tanyanya dengan volume suara yang sengaja dikecilkan karena khawatir Cakra bisa mendengar pertanyaannya. Malu dong kalau ketahuan nanyain.


"Siapa, Neng? Den Cakra?"


Ia mengangguk.


"Tos ti Subuh, Neng (sudah dari Subuh)," jawab Bi Enok dengan mata berbinar. "Habis pulang dari Masjid langsung ikut bantuin Pak Cipto bersihin sama nyuci mobil."


Membuat keningnya mengernyit.


"Udah dilarang-larang sama Pak Cipto. Tapi Den Cakranya tetep mau bantuin."


"Selesai nyuci mobil langsung nyuci motor. Itu barusan selesai."


"Oh," ia mencibir sembari memandangi pintu berwarna putih tulang yang masih tertutup rapat. Mulai menyantap nasi goreng buatan Bi Enok yang aroma kelezatannya begitu harum menggoda.


Tepat di suapan yang kedua, pintu berwarna putih tulang itu mendadak terbuka. Disusul dengan keluarnya Cakra yang telah memakai seragam sekolah, lengkap dengan tas ransel di bahu sebelah kiri. Berjalan tenang menuju ke ruang makan tempat ia sedang duduk.


Cakra masih menarik kursi ketika tiba-tiba ia merasa mual ingin muntah akibat mencium aroma bawang yang cukup tajam, berasal dari nasi goreng. Membuatnya cepat-cepat menyorongkan piring sedikit menjauh untuk menghentikan mual.


"Bi!" panggilnya dengan suara keras. "Bibiii!"


"Ya, Neng?" Bi Enok datang tergopoh-gopoh dari arah dapur. "Kunaon (kenapa), Neng?"


"Bikinin saya roti bakar."


"Nggak suka nasi gorengnya, Neng?" tanya Bi Enok heran.


Kepalanya menggeleng, "Bukan nggak suka...."


"Ini kan nasi goreng kampung kesukaan Neng Anja?" Bi Enok masih terheran-heran melihatnya tak berminat menyantap nasi goreng.


"Nggak kuat sama bau bawang," keluhnya. "Aku sarapan roti bakar aja deh, tolong bikinin."


"Muhun (baik), Neng, muhun," jawab Bi Enok cepat sembari membereskan piring nasi goreng bekas makannya. Namun langsung dicegah oleh Cakra.


"Biar disini aja, Bi," begitu kata Cakra yang membuat keningnya dan Bi Enok mengkerut secara bersamaan.


"Saya yang makan," lanjut Cakra seraya mengambil piring nasi goreng bekas makannya dari tangan Bi Enok. Kemudian tanpa ragu sedikitpun mulai menyantap isinya dengan lahap dan tanpa risih sedikitpun.


"Kenapa kamu makan bekas punyaku? Yang baru juga masih banyak," gerutunya ketika Bi Enok telah beranjak ke dapur.


"Biar nggak mubazir," jawab Cakra sembari terus melahap nasi goreng.


Membuatnya mencibir.


"Selain itu juga ada nilai plusnya," lanjut Cakra cepat.


"Apa?" tanyanya penasaran dengan mata menatap curiga. Pasti mau ngeledek nih.


Bibir Cakra menyunggingkan seulas senyum tertahan sebelum akhirnya berkata, "Makan pakai sendok bekas kamu, bikin cita rasa makanan jadi makin enak."


"Hah??" sontak membuatnya tertawa sekaligus mencibir.


"Amit-amit!" sungutnya sambil menggerutu panjang pendek.


Namun Cakra justru kian tersenyum lebar sembari terus menyantap nasi goreng dengan lahap, seolah itu adalah satu-satunya makanan yang tersisa di atas bumi ini.


Ia masih mendesis-desis sebal ketika Bi Enok datang membawa sepiring roti bakar favoritnya yang masih berasap, "Ini Neng, roti bakarnya."


"Makasih, Bi," ia tersenyum senang menerima piring berisi roti bakar dari Bi Enok.


"Sama susu mau, Neng?" tawar Bi Enok yang sedang menuangkan susu ke dalam gelas.


Ia mengangguk, "Boleh."


Setelah mengangsurkan segelas susu padanya, Bi Enok berniat menuang lagi ke dalam gelas lain.


"Aden mau?" tawar Bi Enok kearah Cakra yang masih mengunyah nasi gorengnya.


Tapi Cakra menggeleng, "Makasih, Bi. Nggak usah. Nanti biar saya ambil sendiri."


"Oh, muhun atuh," jawab Bi Enok langsung berlalu ke dapur.


Ia mengunyah roti bakar dalam diam. Begitupun Cakra yang menghabiskan nasi goreng tanpa bersuara.


Namun baru juga tiga gigitan roti bakar masuk ke dalam perut, ia sudah merasa kenyang. Membuatnya menjauhkan piring berisi roti bakar lalu menggantinya dengan segelas susu.


Tapi rupanya, pagi ini perut sedang tak bisa diajak kompromi. Karena begitu menyesap susu, rasa mual kembali menyerang. Membuatnya buru-buru meletakkan gelas susu ke atas meja.


"Kenapa?" tanya Cakra heran.


Tapi ia tak menjawab. Lebih memilih untuk mengecek isi tas sekolahnya, apakah buku yang dibawanya sudah sesuai dengan jadwal intensifikasi hari ini atau belum.


"Nggak dihabisin?" tanya Cakra lagi.


"Enek," jawabnya singkat sembari mencangklong tas bersiap untuk berangkat ke sekolah.


Ketika berdiri, sudut matanya masih sempat menangkap gerakan Cakra yang mengambil piring roti bakarnya juga gelas susu yang tak dihabiskannya.


"Makanan harus dihabiskan, Neng," begitu kata Cakra seraya melahap roti bakar sisanya tadi. "Nanti ayamnya pada mati."


Namun ia hanya mencibir sembari memeletkan lidah, "Aku nggak punya ayam peliharaan. Wek."


Lalu buru-buru melangkah keluar menemui Pak Cipto yang telah siap di balik kemudi.


"Jalan, Pak," ujarnya demi melihat Pak Cipto masih anteng di balik kemudi padahal mesin telah menyala sedari tadi.


"Lho, nggak bareng sama Den Cakra, Neng?" tanya Pak Cipto keheranan.


"Dia naik motor," jawabnya singkat.


Kening Pak Cipto masih mengkerut bingung demi mendengar jawaban yang diberikannya. Pak Cipto bahkan terlihat ingin bertanya, namun diurungkan. Segera melakukan perintahnya dengan menjalankan kemudi.


Sesaat begitu mobil melaju, dari kaca spion ia bisa melihat Cakra yang baru saja keluar dari dalam rumah dan langsung berjalan menuju motornya.


"Kok berangkatnya nggak sekalian, Neng?" tanya Pak Cipto heran yang sepertinya masih penasaran.


"Dia maunya naik motor," jawabnya singkat.


"Oh," Pak Cipto mengangguk-anggukkan kepala. "Orang seperti Den Cakra itu langka, Neng."


"Maksudnya?" kini gantian ia yang mengernyit heran. "Langka kayak binatang buas yang dilindungi pemerintah, begitu Pak?" tanyanya asal.


Membuat Pak Cipto tertawa, "Bukan. Maksudnya langka itu unik."


"Langka dan unik?" ia kembali mengulangi kalimat Pak Cipto. "Benda bersejarah dong?" tebaknya garing.


Kali ini tawa Pak Cipto makin keras, "Bukan, Neng. Maksud saya unik itu, beda sama kebanyakan anak muda lainnya."


"Beda apanya?"


"Ya kalau kebanyakan anak muda kan pasti seneng sama kendaraan bagus. Terlihat keren."


"Tapi Den Cakra tetap pede meski pakai motor tua."


Ia hanya mencibir sembari di dalam kepalanya melintas bayangan wajah -menggoda- Cakra yang berkeringat. Oh, My God, Anja?!


"Padahal sudah dikasih mobil sama Mas Tama, tapi lebih milih pakai motor sendiri. Nggak merasa malu gitu padahal motornya bukan motor jaman sekarang."


"Kata siapa dikasih mobil?" keningnya kembali mengernyit.


"Kemarin Mas Tama bilang ke saya, kalau mobil yang putih itu punyanya Den Cakra."


Membuatnya kembali mencibir.


"Tadi juga Den Cakra ikut bantuin saya nyuci semua mobil, Neng," tambah Pak Cipto sumringah. "Padahal udah saya larang tapi keukeuh (memaksa)."


"Ya biarin aja Pak. Daripada dia nggak ada kerjaan di rumah," jawabnya asal.


Sementara Pak Cipto hanya tertawa, "Nanti tolong kasih tahu Den Cakra, Neng. Nggak usah repot-repot bantuin. Orang sudah menjadi tugas saya."


"Den Cakra cukup ngurus mobilnya sendiri saja kalau tetap memaksa."


"Nanti kalau sampai ketahuan ibu sama bapak kan saya jadi nggak enak."


Namun ia tak berkomentar apapun, karena tengah asyik berbalas-balasan chat dengan Hanum dan Bening yang juga sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah.


Tepat lima menit sebelum bel masuk berdentang, ia turun dari mobil yang dikemudikan oleh Pak Cipto. Ketika kakinya mulai melangkah menyusuri halaman sekolah, matanya sempat menangkap sekelebatan punggung berbalut jaket navy tengah berjalan menyusuri sisi luar lapangan basket. Hm, Cakra telah sampai terlebih dahulu rupanya. Yaiyalah pakai motor, nggak kena macet, batinnya cepat pada diri sendiri.


Sudut matanya masih sempat menangkap bayangan punggung Cakra memasuki kelas XII IPA6 ketika Hanum dan Bening berteriak girang menyambut kedatangannya.


"Anjakuuuu!"


Disusul dengan pelukan erat mereka berdua terhadapnya.


"Kangeeen ih!"


"Kangen bangeeet!"


Ia balas memeluk mereka berdua sambil berkata, "Aku juga kangen banget sama kalian berduaaa."


"Lo masih sakit?" tanya Hanum begitu mereka berjalan beriringan menuju ke mejanya. "Kok pakai sweater?"


Ia sempatkan menelan ludah sebelum menjawab sambil lalu, "Enggak, udah sembuh kok. Cuman lagi ngerasa dingin aja."


Padahal ia sengaja memakai sweater karena mulai merasa tak yakin dengan kondisi perut yang sepertinya makin hari kian membesar. So sad.


"Tapi lo masih kelihatan pucat," komentar Bening -yang biasanya paling jeli- sambil memperhatikan wajahnya lekat-lekat.


"Pucat banget asli," lanjut Bening sambil mengkerut. "Sumpah."


Namun sebelum Bening mulai berkomentar lebih jauh lagi, ia diselamatkan oleh bunyi bel masuk sekolah yang berdentang-dentang dari kejauhan.


Ia pun mengikuti kelas intensifikasi jelang UN seperti layaknya siswa kelas XII pada umumnya. Mengerjakan deretan soal-soal latihan, menanyakan soal yang terasa sulit kepada guru, dan terakhir menganalisa jenis soal seperti apa yang masih membutuhkan pemahaman lebih.


Ketika istirahat pertama tiba, Hanum dan Bening langsung mengajaknya pergi ke kantin. Ia pun tak menolak. Selain karena sudah kembali lapar, ia juga kangen dengan suasana kantin.


Namun rupanya ada satu hal yang dilupakan. Yaitu perjalanan dari kelas menuju ke kantin harus melewati selasar panjang tepat di depan kelas XII IPA6. Yeah, kelasnya Cakra.


Sembari sesekali menelan ludah, ia mulai berjalan menyusuri selasar di depan kelas XII IPA6 sambil -pura-pura- asyik bercanda dengan Hanum dan Bening. Berharap tak sampai bertemu muka dengan Cakra.


Tapi keinginannya langsung tertolak mentah-mentah. Karena Cakra jelas-jelas terlihat sedang duduk di salah satu sisi selasar bersama sekelompok cowok-cowok IPA6 yang memiliki hobi aneh yaitu menggoda setiap orang yang melewati selasar. Tak terkecuali mereka bertiga.


"Oi, Anja! Lama nggak kelihatan?" panggil seseorang ketika mereka lewat.


"Hanum!" panggil yang lain lagi.


"Bening!" Bening juga tak luput dari absen para cowok iseng.


"Anja...dicari Aldi nih," teriak seseorang sambil tertawa menggoda.


Namun ia sama sekali tak menggubris. Lebih memilih untuk menambah kecepatan langkah agar segera lolos dari selasar rasa gang senggol itu.


"Dicariin suruh ngapain?" namun tidak dengan Hanum, yang justru meladeni selorohan anak-anak IPA6.


"Masih ngarepin Anja, Al?" begitu pula dengan Bening. Ikut menanggapi pertanyaan Hanum.


Membuatnya buru-buru menarik lengan mereka berdua agar segera pergi dari selasar. Dan sesaat sebelum benar-benar beranjak, sudut matanya masih sempat menangkap bayangan Cakra yang tersenyum seraya memperhatikan dirinya lekat-lekat. Ih!


Ketika sampai di kantin, mereka bertiga langsung menuju meja favorit yang terletak di salah satu sudut. Kebetulan masih kosong.


Ia -seperti biasa- memesan semangkok bakso. Hanum rupanya belum sarapan jadi memilih nasi uduk. Sementara Bening setia dengan siomay tanpa parenya.


Sembari menunggu pesanan datang, Hanum dan Bening asyik berceloteh sambil tertawa-tawa. Sementara ia lebih memilih mengedarkan pandangan ke seantero kantin, untuk melepas rindu pada suasana jam istirahat yang ramai.


Tanpa sengaja ketika sedang berkeliling, matanya langsung tertumbuk pada seorang cowok yang sedang duduk tak jauh dari meja mereka bertiga. Spontan membuat kepalanya memikirkan sesuatu. Tring! Ide cemerlang mendadak bersinar di dalam pikirannya, yaitu mencari rekam jejak seseorang.


"Eh, bentar ya," ujarnya sambil bangkit.


"Mau kemana, Ja?" tanya Hanum heran.


"Bentar lagi pesanan kita datang," Bening juga mengernyit.


"Bentar," jawabnya singkat sambil melangkah mendekati meja cowok tersebut. Yang tak lain dan tak bukan adalah Faza, mantan Ketua OSIS.


"Za," sapanya cepat.


"Eh, Anja?" Faza tersenyum begitu melihat kehadirannya di meja para cowok.


"Istirahat kedua ada waktu nggak? Ada yang mau gue tanyain."


"Bisa...bisa."


Ia tersenyum mengangguk, "Di Perpus?"


"Oke," Faza mengacungkan jempol tanda setuju.


Begitu kembali ke mejanya, Hanum dan Bening langsung memberondong dengan banyak pertanyaan.


"Ngapain, Ja?" Bening mengernyit ingin tahu.


"Lo deketin Faza demi gue, Ja?" tanya Hanum penuh harap.


Namun ia menggeleng sambil tertawa, "Enggak. Cuma mau nanya tentang TO," jawabnya jelas berbohong.


"Oh," Hanum dan Bening secara bersamaan ber oh panjang. Tak lagi berminat untuk bertanya-tanya.


Dan ketika istirahat kedua, sebelum disadari oleh Hanum dan Bening, ia buru-buru pergi menuju Perpustakaan. Dimana Faza terlihat telah duduk menunggu di salah satu kursi baca.


"Kita ke ruang diskusi yuk," ajaknya. "Gue mau ngobrol. Kalau disini nanti ganggu orang."


Faza mengangguk setuju. Dan berjalan mengikutinya menuju ke ruang diskusi. Yang kebetulan terletak di lantai 2 perpustakaan.


Begitu mendudukkan diri di salah satu meja, Faza langsung bertanya, "Sendirian? Biasanya bertiga sama....," kalimat Faza menggantung di udara.


"Sama siapa?" potongnya cepat. "Elo tuh ya kalau emang suka sama Hanum terus terang dong, jangan tarik ulur kek layangan gini," cibirnya sebal.


Membuat Faza tertawa, "Next time, setelah semua selesai. Sekarang gue lagi konsen UN sama SBM."


"Ntar keburu diambil orang tahu rasa," ia masih mencibir.


Faza kembali tertawa, "Belum jodoh berarti."


"Idih!" gerutunya sebal. "Masa kalah sebelum bertanding sih."


Lagi-lagi Faza tertawa, "Lo mau nanya apa?"


Membuatnya mulai menyusun kata-kata.


"Lo tahu cerita tentang skandal olimpiade nggak?" tanyanya hati-hati. Ia tentu harus bergerak se smooth mungkin agar Faza tak menaruh curiga terhadapnya.


"Setahun sebelum kita masuk," lanjutnya memberi penjelasan.


"Oh, Cakra? OSN?" di luar dugaan Faza langsung merespon dengan cepat.


"Nggak tahu ya," ia jelas berbohong. "Gue cuma denger ada skandal di PB tentang olimpiade, pingin tahu aja dari versi elo, yang notabene dekat sama pihak sekolah."


Faza tertawa, "Gue juga kan waktu itu belum masuk."


"Ya tapi minimal lo pernah dengar versi rilis resminya dari pihak sekolah atau dari anak-anak OSIS lama."


Faza sempat menghela napas sebelum akhirnya mulai bercerita, "Awalnya Cakra bisa masuk PB karena dapat privilege sebagai pemenang OSN SMP," ujar Faza. "Beasiswa full sampai lulus."


"Jangan dilihat Cakra yang sekarang," Faza tertawa. "Sekarang dia udah beda banget dibanding pertama masuk sini dulu."


Ia ikut tertawa sumbang, "Terus?"


"Tahun pertama, Cakra langsung masuk team OSN sekolah. Selalu dapat medali mulai dari tingkat kota sampai nasional."


"Serius?" ia -jelas pura-pura- memasang wajah terkejut.


"Emas," jawab Faza dengan mimik meyakinkan. "Nggak nyangka kan lo?"


"Banget."


"Cuma di tahun itu ada kakel (kakak kelas) yang jadi center of spotlight," Faza memberi isyarat dengan kedua tangan membentuk tanda kutip. "Yang nggak rela kesaing sama anak baru."


"Mereka sama-sama perwakilan OSN dari PB. Sialnya malah Cakra yang dapat medali, bukan si center of spotlight."


"Udah di grand design sih kalau menurut gue."


"Karena nggak ada yang pernah tahu kronologis sebenarnya, tiba-tiba Cakra udah ngamuk di ruang guru. Sampai banyak kaca yang pecah gara-gara dilempar sama kursi."


"Seriously?!" kali ini ia benar-benar terkejut.


"Gossipnya kecewa karena nggak di support sama pihak sekolah waktu training OSN nasional di Ganapati."


Persis seperti cerita Kak Pocut tempo hari.


"Ya, karena pengaruh dari backingan center of spotlight itu," kali ini Faza menggelengkan kepala. "If you know what i mean."


"And who is he or she?!" ia benar-benar penasaran.


"Lo kenal kok sama dia."


"Hah?! Siapa?!" ia semakin penasaran.


"Cari aja siswa berprestasi dua tahun di atas kita," jawab Faza sambil tersenyum simpul.


"Siapa ya?" ia pun berpikir keras. "Gue udah lupa sama kakak kelas."


Faza tertawa, lalu kembali melanjutkan, "Sampai yang paling epic sih ngelawan Pak Purnomo trus teriak-teriakan sama Pak Indrajaya."


"Akhirnya bikin dia nggak naik kelas. Nggak tahu memang nggak naik kelas dari sejak milih ikut training di Ganapati atau konsekuensi dari mecahin kaca di ruang guru. Who knows," Faza mengangkat bahu.


"Kenapa dia nggak pindah sekolah aja ya?" kernyitnya heran. "Biasanya kalau nggak naik kelas kan bisa pindah ke sekolah lain biar naik kelas."


"Bagi penerima beasiswa prestasi utama, di awal masuk udah sign surat pernyataan, wajib ganti seluruh uang beasiswa yang telah diterima tanpa kecuali kalau sampai keluar dari PB."


"Really?!" gila ini sih, gila. Nggak adil banget, batinnya tak percaya. Ia bahkan baru kali ini mendengar ada peraturan seperti ini di Pusaka Bangsa.


"Lo nggak tahu kalau setiap yang masuk lewat jalur prestasi beasiswa penuh wajib sign surat pernyataan?"


Ia menggelengkan kepala karena benar-benar tidak tahu.


"Intinya sih karena kalah backing," gumam Faza miris. "Sampai sekarang jadi hancur kek gitu."


"Kenapa malah milih hancur?" ia mengkerut. "Harusnya tunjukkan kemampuan dong."


Namun Faza menggeleng, "Ja...Ja...Cakra nggak bundir aja udah untung."


"Hah?!"


"Bayangin lo udah ngasih kebanggaan buat sekolah tapi justru dipinggirkan sedemikian rupa sampai nggak naik kelas. Gimana rasanya?"