
Anja
Usai Cakra menelepon, believe it or not (percaya atau tidak), Aran tak lagi merengek dan sering terbangun.
Terhitung, Aran hanya menangis sebanyak dua kali sampai menjelang Subuh. Itu juga karena ingin nen. Begitu kenyang langsung tertidur dengan nyenyak.
Hm, sepertinya ini sebuah pertanda, jika ia harus mulai mengelola hati dengan baik. Jangan sampai over thinking (berpikir berlebihan). Yang justru akan menimbulkan ketidaknyamanan suasana. Lalu berimbas pada feeling (perasaan) Aran. Hingga akhirnya memicu kerewelan.
Terlebih minggu depan, ia sudah mulai melakukan serangkaian Kamaru (kegiatan mahasiswa baru). Dari pagi sampai sore. Harus meninggalkan Aran di rumah.
Apakah ia bisa?
"Neng," Teh Cucun terdengar memanggilnya usai suara ketokan pintu sebanyak tiga kali.
"Waktunya Den Aran moyan (berjemur)."
Ia menatap Aran yang masih mencecap dengan rakus. Lalu mengusap pipi bulat Aran melalui ujung jarinya.
"Owalah, nen keneh (masih nen)?" tanya Teh Cucun yang sedikit membungkukkan punggung agar bisa memperhatikan Aran dengan jelas.
"Iya, Teh."
Teh Cucun tersenyum. Lalu beranjak dan mulai mempersiapkan stroller yang akan dipergunakan untuk berjemur.
"Neng, ibu barusan bilang, kalau semalam Den Aran rewel," ujar Teh Cucun yang kini tengah merapikan stroller pad (alas).
"Iya, Teh. Bangun bangun terus."
"Kalau Neng Anja nggak keberatan, biar nanti malam saya tidur di sini buat nemenin."
"Boleh...boleh," ia langsung mengangguk setuju.
Daripada merepotkan Mama karena harus berkali-kali bangun dan bolak-balik pergi ke kamarnya ketika Aran menangis. Mungkin lebih baik jika ia ditemani oleh Teh Cucun saja.
Teh Cucun tersenyum melihat respon cepatnya.
Bersamaan dengan Aran yang melepaskan diri. Ia pun segera memposisikan Aran agar bersendawa.
Begitu selesai, Teh Cucun dengan sigap menerima Aran darinya. Lalu mengganti dengan baju tipis yang biasa dipakai ketika sunbathing (berjemur).
"Aku moyan dulu Bunda....," ucap Teh Cucun dengan suara yang dibuat menyerupai anak kecil.
Ia pun tertawa sembari melambaikan tangan pada Aran yang tengah terbelalak, "Dadah Aran...baik-baik sama Teh Cucun ya."
Sepeninggal Teh Cucun dan Aran, ia segera menyambar ponsel yang tersimpan di atas nakas. Guna mengecek notifikasi dari seseorang. Namun yang diharapkan ternyata belum ada.
Dilihatnya angka penunjuk jam yang tertera di dalam layar ponsel, 07.48 WIB. Mungkin Cakra masih on the way (dalam perjalanan) menuju ke Sabupa. Atau malah sedang antre di loket daftar ulang.
Ia akhirnya memilih untuk melihat-lihat status dari nomor-nomor yang tersimpan di dalam ponsel.
Hm, anak-anak alumni IPA2 Pusaka Bangsa kebanyakan memasang status tentang proses registrasi di Kampus masing-masing.
Ada juga yang memposting tentang liburan dan wisata bersama keluarga.
Namun ia mengernyit ketika melihat stories Hanum dan Bening. Sama-sama sedang on the way di hari yang masih sepagi ini.
"Mau ke mana?" tanyanya ingin tahu melalui sambungan telepon.
"Hei, Ja," suara Hanum terdengar sangat renyah. "Kangeeen...."
"Bangeeet....," jawabnya sambil mendesah. Terakhir kali mereka bertiga bertemu, sepertinya waktu aqiqah Aran. Dan itu sudah lebih dari dua minggu yang lalu.
Sejurus kemudian, Hanum mengubah sambungan telepon menjadi video call.
"Hello mommy kece?" wajah ceria Hanum tiba-tiba saja sudah memenuhi layar ponselnya.
Ia hanya mencibir. Begitu menyadari ada orang lain yang duduk di samping Hanum.
"Si Faza belum ke Bandung?" ia masih mencibir sebab Hanum mengarahkan layar ponsel pada Faza yang sedang mengemudi.
"Say hi ke Anja nih."
Ia masih bisa mendengar suara Hanum meski layar ponsel jelas-jelas memperlihatkan wajah Faza.
"Hai, Ja?" Faza mengangkat tangan kanan sambil tersenyum.
"Lo belum ke Bandung?" tanyanya heran.
"Besok," jawab Faza.
Oya, ia lupa jika Faza lolos melalui SNMPTN. Jadi sudah melakukan proses registrasi terlebih dahulu di bulan Mei lalu.
"Cakra udah ke Bandung?"
"Udah, semalam. Pagi ini jadwal regisnya."
"Sip! Ntar kita ketemu di sana."
"Mau kemana pagi-pagi kerajinan amat?" tanyanya kemudian begitu layar ponsel kembali memperlihatkan wajah Hanum.
"Ke Serang."
"Eh, busyet, piknik lo?" ia tertawa.
"Ngejar kating (kakak tingkat) nih buat tugas OKKJ (Orientasi Kehidupan Kampus Jakun)," jawab Hanum sambil mengangkat bahu.
Matanya langsung membulat, "Emang ada tugas apa buat OKKJ?"
"Tugas interview sama kating lah, apalagi. Lo udah ngerjain?"
"Bukannya tugas buat minggu depan?"
"Ya, gue ngejar waktu biar bisa dibantuin sama my hunny bunny," seloroh Hanum seraya mengerling ke arah Faza yang hanya menggelengkan kepala sambil tertawa.
Ia ikut tertawa seperti Faza. Tapi tawa sebal. Iya deh iya deh yang lagi fall in love (jatuh cinta).
"Faza besok udah ke Bandung dan nggak tahu balik ke sini lagi kapan," lanjut Hanum mencoba menerangkan.
"Sementara kating incaran gue, masih pulang kampung sampai pertengahan Agustus."
"Kalau nggak sekarang, gimana nasib gue?"
"Oh," mulutnya membulat tanda mengerti. "Lagian elo susah amat sih nyari narasumber?!"
"Nggak pilih yang stay (tinggal) di sekitaran sini aja?"
"Dia mapres (mahasiswa berprestasi) FIB dua tahun lalu bo. Masuk big three (tiga besar) mapres utama."
"Bukan narsum kaleng-kaleng."
"Iya deh, iya deh. Ttdj aja buat kalian berdua."
Usai melakukan video call dengan Hanum, ia kembali melihat-lihat isi stories beberapa orang temannya. Termasuk Bening yang memperlihatkan Bumi sedang sibuk mengatur tripod untuk kamera.
Hm, semua orang dibantu kekasih hati saat mengerjakan tugas ospek. Sementara dirinya harus mandiri sebab Cakra tak ada di sini.
Pasti bisa. Harus bisa, gumamnya pada diri sendiri.
Namun sebelum berhasil menyimpan ponsel kembali ke atas nakas, tiba-tiba matanya menangkap notifikasi masuk dari seseorang yang paling ditunggu.
Cakra
2 Unread Messages
Cakra. : 'Lagi apa, Ja?'
Cakra. : 'Miss you much (sangat merindukanmu).'
Ia tersenyum sendiri dan buru-buru mengetik chat balasan.
Anja. : 'Mau mandi -emoticon tertawa lebar-'
Anja. : 'Miss you more than anything (sangat merindukanmu melebihi apapun).'
Anja. : 'Regis beres?'
***
Ia keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah sehabis keramas. Dan langsung mendapati Aran yang tengah bermain-main dengan Mama.
"Tuh...Bunda udah selesai mandi," ucap Mama sambil menunjuk ke arahnya. Namun tetap memandangi Aran sembari tersenyum.
"Sekarang giliran ncep Aran ibak nyaa (Aran ganteng mandi ya)....," seloroh Mama.
Ia berjalan melewati Teh Cucun yang sedang mempersiapkan perlengkapan mandi untuk Aran. Lalu berkata dengan penuh keyakinan,
"Biar aku yang mandiin, Ma."
Maka hari ini menjadi kali pertamanya memandikan Aran.
"Jangan kaku," Mama menggeleng tanda tak setuju. "Nanti terasa nggak enak ke Arannya."
"Lemes aja peganginnya....," Mama memberitahu posisi tangan yang nyaman untuk memegangi Aran.
"Lemes," ulang Mama. "Nah, begitu...."
"Jangan takut....," lanjut Mama lagi. "Aran nggak akan jatuh. Kan ada pengamannya."
Dengan gerakan yang sangat kaku dan pastinya waktu mandi yang lebih lama. Dibanding ketika Aran dimandikan oleh Mama, Teh Cucun, bahkan Cakra. Ia akhirnya berhasil menyelesaikan sesi memandikan dengan sempurna.
"Eleuh...sampai kesang kieu (berkeringat begini)," Mama terkekeh sambil mengusapkan tissue ke sekitar kening dan pelipisnya yang dibanjiri oleh keringat.
"Kerja keras ini, Ma," jawabnya sambil tertawa.
"Besok juga udah mulai terbiasa," Mama tersenyum menenangkan.
Kini Aran telah tampil rapi mengenakan jumper bermotif ikan lumba-lumba. Namun langsung merengek-rengek begitu ia selesai menyisir rambut bayi berpipi bulat itu.
"Lapar lagi?" ia tertawa setengah mencibir.
"Ngantuk mungkin," justru Mama yang menjawab.
Ia pun segera mendudukkan diri di atas sofa, lalu memposisikan Aran agar bisa nen dengan nyaman.
"Gimana Cakra? Sampai jam berapa?" tanya Mama yang duduk di bagian tangan sofa. Sembari mengusap paha dan kaki Aran.
"Jam sebelasan kayaknya. Soalnya semalam nelpon jam setengah dua belas."
Mama mengangguk dan tak bertanya lagi. Terus saja mengusapi sepanjang paha hingga telapak kaki Aran.
Kombinasi antara nen dan pijatan lembut Mama, ternyata berhasil melenakan Aran. Tanpa harus menunggu lama, bayi tampan itu telah terlelap dengan mulut yang sesekali masih mencecap.
Mama tersenyum sambil membelai rambut Aran.
"Nanti kalau udah bisa di boboin, kamu langsung sarapan ya sayang," ucap Mama sambil bangkit dari duduk.
"Dari tadi belum sempat sarapan kan?"
Ia menggeleng lalu mengangguk.
"Mama mau lihatin Papa dulu," lanjut Mama sebelum beranjak keluar. "Tadi lagi olahraga ringan di halaman. Masih nggak nih kira-kira."
"Teh," ujar Mama ke arah Teh Cucun yang sedang membereskan perlengkapan mandi Aran.
"Ngke pami tos rengse nyusul ka payun nya (nanti kalau sudah selesai menyusul ke depan ya)."
"Muhun (baik)," jawab Teh Cucun seraya mengangguk.
Sepeninggal Mama dan Teh Cucun, Aran masih saja mencecap dengan kencang. Setelah menunggu selama hampir 10 sampai 15 menit. Barulah Aran benar-benar melepaskan diri.
Dengan langkah perlahan dan sehati-hati mungkin, diletakkannya Aran ke dalam box bayi hadiah dari Mama Dipa. Lalu menyelimutinya dengan kain halus. Kemudian menutup kelambu rapat-rapat.
Jika ditinggal makan atau melakukan aktivitas lain di siang hari, ia memang selalu menempatkan Aran di dalam box bayi. Menjaga agar Aran tetap aman dan nyaman jika sewaktu-waktu terbangun lalu menangis.
Namun di malam hari, ia masih belum rela melepaskan Aran tidur sendiri di dalam box bayi. Lebih suka menidurkan Aran di sisinya. Tentu agar ia bisa terus memeluk buah hatinya itu sepanjang malam.
Setelah memastikan posisi Aran aman dan nyaman, barulah ia beranjak keluar kamar.
"Pagi ini masak apa, Bi?" tanyanya pada Bi Enok yang berjalan dari arah ruang makan menuju ke dapur.
"Spesial permintaan Bapak, Neng. Nasi gurih khas Aceh," jawab Bi Enok sambil memperlihatkan tumpukan piring kotor yang sedang dibawa.
"Memang Bi Enok bisa masaknya?" ia tertawa.
"Pan (kan) Bibi sudah kursus sama Mamak Cut," jawab Bi Enok dengan penuh percaya diri.
"Kata Bapak sama Ibu rasanya begini," sambung Bi Enok sambil mengacungkan jempol kemudian berlalu.
Ia masih tertawa sambil menggelengkan kepala. Namun langkahnya mendadak terhenti ketika melihat orang yang sedang duduk di meja makan bersama Mama dan Papa.
"Anja," panggil Mama begitu menyadari kehadirannya. "Ini dicari sama Dipa."
Ia sempat tersenyum kaku ketika Dipa melihat ke arahnya. Lalu sambil mengangkat bahu mulai berjalan menuju ke meja makan.
Ia mengambil duduk di sebelah Dipa. Sebab tak ada tempat lain lagi.
Dilihatnya Dipa sedang menyantap sepiring nasi gurih yang masih hangat.
"Hei, Ja," sapa Dipa dengan mulut penuh.
Ia kembali tersenyum kaku ke arah Dipa. Lalu menyendokkan nasi gurih ke dalam piringnya sendiri. Dan mulai mengambil lauk.
"Pagi-pagi udah nganterin bolu gulung kesukaan kamu nih, Ja," ucap Mama sembari menunjuk bolu gulung di atas meja. Jelas masih hangat fresh from the oven. Sekaligus menguarkan aroma harum yang begitu menggoda.
"Tante Rita pagi-pagi udah baking," gumamnya sambil menyesap segelas air putih sebelum mulai menyantap nasi gurih.
"Ceu Rita mah memang hobi ya, Dip," seloroh Mama ke arah Dipa.
"Mama nggak ada kerjaan Tante," Dipa tertawa kecil. "Jadinya riweuh (sibuk) sendiri di dapur."
Tapi ia tak menanggapi. Terus saja mengunyah nasi gurih buatan Bi Enok. Yang ternyata tak kalah lezat dibandingkan dengan nasi gurih buatan Mamak. Jago juga Bi Enok berguru pada Mamak, batinnya geli.
Ah ya, ia jadi kangen Mamak.
"Ya sudah, Papa mau lihatin tanaman sebentar," ujar Papa sambil beranjak diikuti oleh Mama.
"Makan yang banyak Dipa," seloroh Papa sebelum meninggalkan meja makan. "Nambah kalau perlu."
"Ini masakan enak khas Aceh," lanjut Papa.
"Belum pernah nyoba sarapan dengan menu nasi gurih kan?"
Dipa tertawa dengan mulut penuh, "Makasih, Om."
"Iya, Om. Ini beneran enak banget," sambung Dipa tapi sambil mengerling ke arahnya.
Begitu Papa dan Mama pergi ke teras samping, ia dan Dipa hanya saling berdiam diri. Sama-sama sibuk makan. Berkonsentrasi penuh dengan isi piring masing-masing.
"Cakra udah berangkat ke Bandung?"
Pertanyaan yang Dipa lontarkan serta merta membuatnya menoleh ke samping. Sebab ini menjadi kali pertama Dipa menyebutkan nama Cakra dengan nada yang nyaman terdengar di telinga.
"Semalam," jawabnya yang kembali berkonsentrasi mengunyah sembari menatap nasi gurih di dalam piring.
Tapi tiba-tiba saja Dipa mengalihkan topik pembicaraan, "Eh, lo udah ngerjain tugas OKKJ belum?"
Ia menggeleng lemah, "Mama bilang, lo udah sibuk dari kemarin ya?"
Dipa tertawa, "Ya lah daripada gabut (tidak ada kerjaan) di rumah."
Ia terus mengunyah nasi gurih dengan perlahan. Sembari mengingat sederet tugas untuk OKKJ.
"Essay tiga sama interview kan?" tanyanya mencoba memastikan.
"Yes," Dipa mengangguk. "Tugas besarnya cuma itu doang sih."
"Eh, interview kan ada dua, Ja," sergah Dipa mendadak teringat sesuatu.
"Berguru pada pendahulu sama Halo Kakak," lanjut Dipa. "Lo udah ngerjain dua-duanya?"
Ia langsung menepuk dahi begitu mendengar ucapan Dipa, "Ya ampun, yang Halo Kakak gue beneran lupa. Asli."
"Gue tebak, lo pasti udah ngerjain semua tugas?" tebakannya jelas menjadi pertanyaan penuh tuduhan.
Dan seperti yang bisa diduga, Dipa mengangguk, "Tapi yang Berguru pada pendahulu masih proses editing."
"Ck!" ia mendecak. "Pantesan Hanum bela-belain ngandelin Faza. Ternyata tugasnya serempong ini."
"Lo udah punya kandidat mau nginterview siapa?" suara Dipa terdengar menyelidik.
Ia menggeleng, "Belum."
Meski tak menoleh, ia tahu jika Dipa sedang menatapnya iba.
"Mungkin lo bisa ngerjain Halo Kakak dulu," gumam Dipa. "Gampang tinggal nyari alumni PB yang kuliah di Jakun."
Matanya mendadak berbinar, "Oiya ya. Bener...bener!"
"Ngapain ribet susah susah nyari kating (kakak tingkat) baru buat kenalan. Mending nginterview alumni PB. Ya nggak?" lanjutnya gembira.
Sebab ia takkan kesulitan mencari alumni Pusaka Bangsa yang melanjutkan studi di Kampus Jakun. Karena saking banyaknya.
"Thanks, Dip."
Namun sedetik kemudian keriaannya kembali meredup, "Tapi...untuk Berguru pada pendahulu, harus milih rising star (bintang cemerlang) ya?"
Dipa mengangguk, "Minimal prestasinya tingkat Uni (universitas). Syukur-syukur yang skala nasional apa internasional."
Ia menghembuskan napas panjang, "Lo nginterview siapa?"
Dipa tersenyum, "Lulusan terbaik FK tahun lalu."
"Keren."
"Dia sama timnya pernah menang di IMSC (Indonesian Medical Students Competition)," imbuh Dipa.
"Puncaknya jadi juara di AMSC (Asian Medical Student Conferrence)," sambung Dipa yang terdengar semakin bersemangat.
Ia kembali berdecak kagum, "Keren...keren!"
"Di mana lo bisa nemu narasumber sekeren itu?" tanyanya heran.
"Jadi waktu habis regis SNM, kita sempet ada gathering sama kating gitu deh," jawab Dipa yang kini telah menghabiskan nasi gurih hingga licin tandas.
"Kenalannya di situ," sambung Dipa sambil mengangkat bahu.
"Lucky for me (keberuntungan gue) tuh kating masih stay di Jakarta," Dipa tersenyum. "Jadi bisa gue kejar."
Ia menyesap air putih untuk menyegarkan kerongkongan.
"Alumni PB ada yang bersinar nggak di Jakun?" ia seperti bertanya pada diri sendiri.
"Banyak," jawab Dipa cepat. "Tapi bukan anak FK."
"Ada Kak Syahdan anak hukum. Dia keren banget," lanjut Dipa. "Prestasinya nggak kaleng-kaleng."
"Terus ada Kak Moza anak Komunikasi," Dipa mulai menghitung alumni Pusaka Bangsa yang bersinar di bangku kuliah.
"Dia juga keren abis."
Ia terus mendengarkan Dipa yang tengah mengabsen beberapa rising star alumnus Pusaka Bangsa. Tanpa ada niatan untuk menyela.
"Sekarang pilihan ada di elo," Dipa menoleh ke arahnya tepat ketika ia juga menengok ke samping.
"Mau nginterview ekstra fakultas apa intra fakultas."
Ia menerawang, "Yang gampang aja deh. Tapi...."
"Pingin idealis juga sih nginterview yang kating FK," gumamnya cepat.
Dipa terdiam sejenak. Lalu kembali memandanginya sambil tersenyum, "Gue baru ingat kalau sempat kenalan sama kating FKU yang berprestasi."
"Tapi bukan anak PB."
Ia balas menatap Dipa, "Serius?"
"Gue asli pingin nginterview anak FK," lanjutnya dengan mata berbinar. "Ya...biar kontennya nyambung sama hal-hal yang akan kita hadapi waktu kuliah nanti."
Dipa tersenyum mengangguk, "Kalau lo mau...ntar kita janjian sama katingnya."
Ia balas tersenyum, "Mau banget."
***
Keterangan :
When you're not around. : saat kau tak di sisi
Ncep. : atau bisa juga cep. Dari kata kasep yang artinya bagus, tampan (bahasa Sunda)