Beautifully Painful

Beautifully Painful
Dibuang Sayang (2)



(3)


Anja


Jadi, cowok berandal brengsek itu peraih medali emas OSN? Yang benar saja. Penampilan dan cara bicaranya sama sekali tak mencerminkan "orang pintar". Dia terlihat seperti anak SMA kebanyakan yang tak memikirkan masa depan, apatis, lengkap dengan gaya yang slengean.


Lihat saja rambut yang setengah gondrong dan cenderung acak-acakan, pakaian yang tak pernah rapi, dan cara bicara yang nggak ada sopan-santunnya sama sekali. Begitu peraih medali bergengsi? Impossible.


Semua kedenialan ini membuatnya kembali teringat gossip yang beredar saat kelas XI, ketika Cakra kembali di skors untuk entah yang keberapa kalinya. Kala itu (menurut gosssip yang beredar) karena Cakra menjadi tersangka utama penggelapan uang iuran kelas XI IPA7 saat event Pusaka Bangsa Fair berlangsung.


Tuh lihat, kasus yang menimpa si berandal itu beranekaragam. Mulai dari merusak fasilitas sekolah, bertengkar dengan guru, melawan kepala sekolah, sampai menggelapkan dana. Tak salah kan kalau ia ngotot menagih uang 6 jutanya yang hilang gara-gara aborsi yang gagal?


Tapi, ada sesuatu yang aneh. Missed something nggak sih? Maksudnya begini, satu sisi si berandal sudah terkenal di seantero sekolah sebagai siswa bermasalah langganan ruang kesiswaan dengan seabrek catatan hitam. Tapi, di sisi lain, si berandal juga memiliki prestasi mentereng di bidang akademik. OSN gila. Nggak semua anak bisa ikut OSN, apalagi menjadi peraih medali emas.


Ditambah cerita Kak Pocut tadi, tentang perlakuan diskriminatif dari pihak sekolah. Believe it or not? Masa sih pihak sekolah sejahat itu sama siswanya sendiri. Siswa berprestasi pula. Tapi Kak Pocut juga tak mungkin sedang mengatakan cerita bohong padanya bukan?


Jadi, mana yang harus ia percayai?


Label yang melekat di publik dan telah menjadi stigma atau apa yang ia lihat dengan mata kepala sendiri?


Karena yang ia lihat, Cakra adalah seorang anak SMA yang tak biasa, karena mau mengisi hari libur dengan bekerja. Seorang cowok yang terkenal player juga berandal tapi justru melarangnya membeli bir kalengan, masih duduk menjauh meski mereka berada di kamar hotel yang sama, dan baru mendekat saat ia memanggilnya.


Lalu sejak mengetahui jika ia hamil, perlakuan si berandal itu sedikit berubah. Yang awalnya tiap kali bicara selalu bernada tinggi dan nyolot, sekarang lebih banyak diam dan mengalah. Bahkan bersedia menuruti semua keinginannya.


Ya tentu. Pastinya itu sebagai refleksi dari perasaan bersalah karena telah menghancurkan masa depannya. Jadi ia tak boleh terlalu terkesan dengan yang satu ini.


Tapi perkataan ibunya tadi,


"Maafkan Mak ya nak."


"Sudah gagal mendidik anak."


"Sudah membuat kau sengsara seperti ini."


Ia bahkan tak kuasa menahan air mata yang berlesakan keluar tatkala mendengar kalimat tersebut diucapkan dengan nada suara tercekat. Sungguh membuatnya langsung jatuh cinta pada pertemuan pertama.


Tapi tentu tidak dengan anaknya. Ia tetap harus membuat perhitungan dengan si berandal brengsek itu. Yang telah membuat masa depan terang benderangnya berubah menjadi gelap gulita hanya dalam sekejap mata. Damn!


Dan sambil memandangi deretan buah mangga, jambu, anggur, apel, dan jeruk pemberian dari ibunya Cakra yang sengaja ia simpan di atas meja belajar, pikirannya bekerja cepat memikirkan sesuatu.


Yang akhirnya bisa di realisasikan esok hari. Sore sebelum masuk kelas bimbel, ia janjian dengan Faza, mantan Ketua OSIS crush nya Hanum, di sebuah tempat makan kekinian yang terletak tak terlalu jauh dari tempat bimbel.


Sengaja memilih bertemu di tempat makan, agar rasa lapar yang akhir-akhir ini sering melanda -ya, ia selalu merasa lapar. Sesuatu yang ada di dalam perut pasti yang menjadi penyebab semua ini- bisa terakomodir dengan baik. Ia bahkan sengaja memesan dua porsi makanan dan minuman sekaligus sebelum Faza datang.


"Sori telat," ujar Faza yang datang dengan terburu-buru. "Barusan mesti koordinasi dulu sama anak-anak (OSIS) baru."


"Santai aja," jawabnya dengan mulut penuh mengunyah makanan. "Lo mo makan apa? Pesen sendiri ya, ntar gue bayarin kok, tenang."


Faza tertawa, "Lo abis nggak makan seminggu, Ja?" mungkin karena melihat ia menyanding piring berisi makanan yang begitu banyak.


"Gue lagi lapar sumpah," jawabnya cuek.


"Eh, elo sendirian? Biasanya bertiga sama....," kalimat Faza menggantung di udara.


"Sama siapa?" potongnya cepat. "Elo tuh ya kalau emang suka sama Hanum terus terang dong, jangan tarik ulur kek layangan gini," cibirnya sebal.


Lagi-lagi Faza tertawa, "Next time, setelah semua selesai. Sekarang gue lagi konsen UN sama SBM."


"Ntar keburu diambil orang tahu rasa," ia masih mencibir.


"Eh, gue pesen makan dulu ya, lapar," ujar Faza tiba-tiba ngeles kayak bajaj, langsung mengalihkan topik pembicaraan. Dasar cowok!


Sambil makan mereka pun mengobrol. Faza sebenarnya bukan orang asing baginya. Selain satu SMP, ayah Faza dulunya adalah salah satu staf Papa waktu masih aktif berdinas, dan beberapa kali keluarga Faza juga sempat berkunjung ke rumah mereka.


"Lo tahu cerita tentang skandal olimpiade nggak?" tanyanya hati-hati. Ia tentu harus bergerak se smooth mungkin agar Faza tak menaruh curiga terhadapnya.


"Setahun sebelum kita masuk," lanjutnya memberi penjelasan.


"Oh, Cakra? OSN?" di luar dugaan Faza langsung merespon dengan cepat.


"Nggak tahu ya," ia jelas berbohong. "Gue cuma denger ada skandal di PB tentang olimpiade, pingin tahu aja dari versi elo, yang notabene dekat sama pihak sekolah."


Faza tertawa, "Gue juga kan waktu itu belum masuk."


"Ya tapi minimal lo pernah dengar versi rilis resminya dari pihak sekolah atau dari anak-anak OSIS lama."


Faza sempat menghela napas sebelum akhirnya mulai bercerita, "Awalnya Cakra bisa masuk PB karena dapat privilege sebagai pemenang OSN SMP," ujar Faza. "Beasiswa full sampai lulus."


"Beneran Cakra anak OSN?" gumamnya masih tak percaya.


"Jangan dilihat Cakra yang sekarang," Faza tertawa.


Ia ikut tertawa sumbang, "Terus?"


"Tahun pertama, Cakra langsung masuk team OSN sekolah. Selalu dapat medali mulai dari tingkat kota sampai nasional."


"Serius?" ia -jelas pura-pura- memasang wajah terkejut.


"Emas," jawab Faza dengan mimik meyakinkan. "Nggak nyangka kan lo?"


"Banget."


"Cuma di tahun itu ada kakel (kakak kelas) yang jadi center of spotlight," Faza memberi isyarat dengan kedua tangan membentuk tanda kutip. "Yang nggak rela kesaing sama anak baru."


"Mereka sama-sama team OSN, sialnya malah Cakra yang dapat medali, bukan si center of spotlight."


"Udah di grand design sih kalau menurut gue."


"Karena nggak ada yang pernah tahu kronologis sebenarnya, tiba-tiba Cakra ngamuk di ruang guru sampai banyak kaca yang pecah gara-gara dilempar sama kursi."


"Seriously?!" kali ini ia benar-benar terkejut.


"Gossipnya karena nggak di support sama pihak sekolah waktu training di Ganapati."


Persis seperti cerita Kak Pocut.


"Ya, karena pengaruh center of spotlight itu," kali ini Faza menggelengkan kepala. "If you know what i mean."


"And who is he or she?!" ia benar-benar penasaran.


"Lo kenal kok sama dia."


"Hah?! Siapa?!" ia semakin penasaran.


"Cari aja siswa berprestasi dua tahun di atas kita," jawab Faza sambil tersenyum simpul.


"Siapa ya?" ia pun berpikir keras. "Gue udah lupa sama kakak kelas."


Faza tertawa, lalu kembali melanjutkan, "Sampai yang paling epic sih ngelawan Pak Purnomo trus teriak-teriakan sama Pak Indrajaya."


"Akhirnya bikin dia nggak naik kelas. Nggak tahu memang nggak naik kelas dari sejak milih ikut training di Ganapati atau karena mecahin kaca ruang guru. Who knows," Faza mengangkat bahu.


"Kenapa dia nggak pindah sekolah?" kernyitnya heran. "Biasanya kalau nggak naik kelas kan bisa pindah ke sekolah lain biar naik kelas."


"Di awal masuk kan udah sign bakalan ganti seluruh uang beasiswa kalau sampai keluar dari PB."


"Really?!" gila ini sih, gila. Nggak adil banget.


"Lo nggak tahu kalau setiap yang masuk lewat jalur prestasi beasiswa penuh wajib sign surat pernyataan?"


"Intinya kalah backing," gumam Faza miris. "Sampai sekarang jadi hancur kek gitu."


"Kenapa malah milih hancur?" ia mengkerut. "Harusnya tunjukkin kemampuan dong."


Namun Faza menggeleng, "Ja...Ja...Cakra nggak bundir aja udah untung."


"Hah?!"


"Bayangin lo ngasih kebanggaan buat sekolah tapi justru dipinggirkan sedemikian rupa sampai nggak naik kelas. Gimana rasanya?"


Penuturan versi Faza membuat cara pandangnya terhadap si berandal mulai sedikit berubah. Sedikiiit saja. Karena jujur ia masih amat sangat marah dengan apa yang telah dilakukan si berandal itu terhadap dirinya.


Dan untuk lebih meyakinkan penilaiannya, ia pun meminta setumpuk soal matematika, fisika, dan kimia standar mahasiswa master kepada tutor bimbelnya.


"Soal yang paaaling susah. Yang kakak juga nggak bisa jawab," ujarnya yakin membuat tutor bimbelnya mengernyit heran.


"Kalau aku nggak bisa jawab, gimana caranya tahu jawaban kamu benar atau salah?" tutor bimbelnya yang mahasiswa Fisika Kampus Jakun tertawa.


"Ya cari soal yang udah ada kunci jawabannya dong Kak. Soal standar mahasiswa S3 kalau bisa," ujarnya yakin.


Lalu mengirim pesan chat kepada si berandal agar menemuinya di sudut baca perpustakaan sekolah. Tempat paling sepi dan jauh diluar jangkauan teman-temannya.


"Lo mo utang lo yang 6 juta lunas?"


"Hah?"


"Nih gue lagi banyak tugas dari bimbel," sungutnya sambil melempar amplop cokelat berisi soal-soal ke atas meja diantara mereka berdua.


"Apaan nih?"


"Kerjain semua, besok kasih ke gue lagi!"


"Apa?!"


Keesokan hari mereka pun kembali bertemu di tempat yang sama, sudut baca perpustakaan. Sepertinya akan menjadi tempat kedua mereka setelah cafe lansia di pinggiran kota.


"Ini soal yang kemarin," ujar si berandal sambil mengangsurkan amplop cokelat kearahnya.


"Kalau boleh tahu lo bimbel dimana?" sebelum ia menjawab, si berandal kembali bertanya terlebih dahulu.


"Kenapa nanya-nanya?!" salaknya sengit.


"Soal-soal yang lo kasih terlalu aneh buat ukuran bimbel."


"Lo ngehina gue?!"


Dan menurut tutor bimbelnya, jawaban si berandal 80% adalah benar. Hmmm.


Namun keesokan hari giliran si berandal yang meminta mereka bertemu di sudut baca, hanya untuk menyerahkan sekotak makanan, "Ini ada titipan dari Mamak."


"Makasih," jawabnya ketus sambil membuka kotak tersebut dan langsung terpikat dengan aroma keharumannya.


"Ini yang ibu lo bilang ayam panggang spesial?" tanyanya sambil mengkerut.


Cakra mengangguk.


Ia pun mengambil sepotong lalu menggigitnya. Hmm, enak. Rasa ayam yang gurih membuatnya kembali mengambil sepotong yang lain.


"Kamu suka?" Cakra tersenyum.


Tanpa sadar ia tersenyum mengangguk, "Enak banget."


Senyum Cakra semakin lebar, "Kalau kamu mau, besok aku bawain lagi."


"Eh, jangan!" ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Gue beli aja ke elo," ujarnya sambil mengambil potongan yang ketiga.


"Kenapa beli?" Cakra mengernyit.


"Ini bukannya jualan ibu sama kakak lo?!" sungutnya. "Kalau dikasih gratis terus, bisa rugi dong."


Cakra tersenyum, "Enggak rugi. Emang Mamak sengaja masakkin buat kamu."


"Nggak nggak!" tolaknya cepat. "Gue nggak mau hutang sama lo. Gue mau nerima kalau beli. Kalau gratisan mending nggak usah ngasih!"


Cakra terdiam sejenak kemudian menghela napas, "Kamu boleh beli, tapi bayarnya nggak pakai uang."


Ucapan Cakra membuatnya mengkerut, "Maksudnya?!"


Cakra tersenyum, "Bayarnya pakai...," sambil menunjuk perutnya.


Membuatnya spontan menarik ujung cardigan untuk menutupi perut. Ya, sejak ketahuan hamil, ia selalu memakai cardigan, outer, jaket, ataupun sweater kemanapun hendak pergi. Apalagi saat berangkat ke sekolah.


"Enak aja!" bentaknya kesal. "Nih gue balikin makanannya! Gue nggak mau nerima apa-apa lagi!!"


Namun keesokan pagi, ketika ia baru sampai di kelas, sekotak ayam panggang telah tersimpan di atas mejanya.


"Wah, apaan Ja?" tanya Hanum penasaran. "Kayaknya enak tuh. Bagi dong."


Akhirnya sekotak dada ayam panggang licin tandas dimakan oleh Hanum dan Bening saat jam istirahat.


"Enak banget sumpah, lo beli dimana?" tanya Hanum semakin penasaran.


"Beli apa dikasih?" sahut Bening heran. "Perasaan tadi tiba-tiba udah ada di atas meja elo, Ja."


"Wah, ada surprise dari siapa nih?" seloroh Hanum. "Secret admirer."


Namun ia hanya mencibir.


***


(A) :


Oke ... jikalau ini yang author up dan published ... langsung kita buat daftar, siapa saja readers tersayang yang ingin :


a. Menenggelamkan Anja


b. Menyleding Anja


c. Sebel banget pangkat tiga sama Anja, 7 turunan, 8 tikungan, 9 tanjakan


d. Ngambek nggak mau lanjutin baca BP 😭😭


🙈😁✌ïļ(berdasarkan survey ini readers tersayang 🙈✌ïļ)


Skip skip next ya gengs ... kurang greget kalau Anja tahu skandal olimpiade sejak awal, tapi Anjanya masih tetep kepala batu dan galak sama Cakra ðŸĪ§


Terus kalimatnya, nggak enak banget buat dibaca ya ðŸĪ§ kayaknya author nulis ini dalam keadaan bete deh ðŸĪŠðŸĪ§


Terus kenapa sekarang di up malih?


Yaaa ... kan daripada author ditagih Pak Pici terus 🙈🙈 mending diisi dengan dibuang sayang ðŸĪ§


#kabuuuur 🙈🏃🏃🏃


***