
Dipa
Yasser langsung menepuk punggungnya begitu ia mendudukkan diri di kursi. Namun segera dienyahkannya dengan mengendikkan bahu karena berusaha menghindar.
Dan acara say it with love masih berlangsung hingga entah berapa lama. Saking panjangnya antrean yang hendak maju ke atas panggung.
Seolah semua ingin mencurahkan isi hati terdalam di saat terakhir kebersamaan mereka selama di bangku sekolah.
Menutup masa remaja ceria dengan kesan terbaik. Meninggalkan kenangan indah masa-masa SMA tanpa rasa terpendam yang belum terselesaikan.
Agar langkah mereka selanjutnya tak terlalu berat dalam menggapai masa depan gemilang. Akibat masih dihantui oleh kesalahan yang pernah diperbuat ataupun rasa penyesalan di kala SMA.
"Karena sekali kita berteman....selamanya adalah teman....," seru Dave dari atas panggung yang langsung disambut oleh gemuruh tepuk tangan dari semua yang hadir.
"Sekali sahabat....sahabat untuk selamanya....," lanjut Lakesya yang juga kembali mendapat sambutan tepuk tangan meriah.
'Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya'
(Ipang, Sahabat Kecil -OST Laskar Pelangi-)
Beberapa orang mulai saling berpelukan. Tindakan sederhana namun berhasil memancing sebagian orang untuk melakukan hal yang sama.
Kini, tanpa harus menunggu, semua yang ada di ballroom telah saling berpelukan satu sama lain. Lengkap dengan suara desisan isak tangis dan uraian air mata yang tak lagi bisa terbendung.
Menyadarkan mereka, jika masa 3 tahun yang penuh warna ternyata benar-benar telah berakhir. Detik waktu rupanya berjalan lebih cepat dari yang dibayangkan. Kebersamaan yang terjalin seperti baru kemarin harus terhenti cukup sampai di sini.
Mungkin di masa depan mereka akan bertemu lagi. Di lain tempat, di waktu berbeda, dengan kisah yang tak lagi sama.
"Sorry, bro!" Yasser menepuk-nepuk punggungnya. "Untuk tiga tahun yang tak selalu mudah."
Ia pun balas menepuk punggung Yasser, "Lo keren, Yas!"
"Gue tunggu special invitation premiere film box office lo!" lanjutnya sungguh-sungguh.
Karena Yasser memang seorang sutradara muda penuh talenta. Kemajuan pesat ekskul Cinema dan keberhasilan meraih juara di ajang Garuda Award (kompetisi bagi insan perfilman Indonesia, terutama generasi muda, yang mengkhususkan pada film dokumenter) adalah bukti nyata kapabilitas seorang Yasser.
"Aamiin...aamiin!" jawab Yasser mantap. "See you there, Dok!"
Kalimat singkat namun berhasil membuatnya terbahak. Hope so, bro!
Suasana ballroom masih larut dalam kesedihan dan isak tangis, namun ia memutuskan untuk segera pergi meninggalkan acara.
"Lho, mau kemana?!" tanya Marshall heran. "Habis ini kita mau seru-seruan."
"Kli maksnya belum, bro," seloroh Yasser. "Masih sore elah."
Yang dimaksud kli maks tentu saja acara puncak prom yaitu penampilan disc jockey kenamaan yang khusus diundang oleh panitia untuk memanaskan lantai prom malam ini.
Tapi ia hanya tertawa sumbang. Sama sekali tak tertarik meski DJ yang akan tampil sedang naik daun dan baru saja pulang dari mengisi acara Music Festival Korea bersama Martin Garick dan Avicii.
"Gue cabut dulu," jawabnya seraya menggelengkan kepala. "Have fun lo pada!"
"Ah, payah lo Dip!" sungut Marshall. "Terakhir kali nih jadi partygoers, sebelum lo menderita ngadepin diktat kuliah yang setebal bantal!"
Ucapan Marshall sontak membuatnya tergelak. Namun ia tetap berlalu. Meski telinganya masih sempat mendengar Yasser berseru dengan riangnya, "Kalau berubah pikiran langsung gabung, Man!"
"No shy shy!"
Tapi ia tetap melangkahkan kaki membelah ballroom. Melewati orang-orang yang masih saja saling berpelukan sambil terisak.
"Woi, Dip!"
Beberapa kali langkahnya harus terhenti karena ada yang menepuk bahu. Atau mengajak berpelukan sambil saling meminta maaf. Membuat perjalanannya menuju pintu keluar memakan waktu lebih lama.
Dan diantara riuh rendah suara koor orang-orang di dalam Grand Ballroom menyanyikan lagu Sahabat Kecil, ia akhirnya berhasil mencapai pintu keluar.
'Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi
Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli'
(Ipang, Sahabat Kecil -OST Laskar Pelangi-)
Kini ia melangkah perlahan menyusuri lantai yang terbuat dari marmer biru dengan aksen lukisan berwarna putih.
Melewati deretan pilar yang berdiri kokoh di sepanjang koridor. Meninggalkan suasana penuh haru yang menguar memenuhi udara di seantero ballroom.
Sekaligus bernapas lega usai mampu mengalahkan ego. Berdiri di hadapan semua orang guna mengakui kepandirannya selama ini. Hingga menerbitkan perasaan menyesal yang tak kunjung berkesudahan.
Ia masih berjalan menyusuri koridor panjang menuju ke tempat parkir. Sama sekali belum mempunyai alternatif tempat tujuan terbaik untuk menenangkan diri. Suatu tempat yang mampu menghapus semua kegundahan.
Ketika di ujung koridor yang berlawanan arah dengannya, terlihat seorang gadis tengah berjalan dengan penuh ketergesaan.
Dua lengan gadis tersebut dipenuhi oleh berbagai barang yang menggantung. Dua buah tote bag dan sebuah tas selempang berukuran besar.
Sedangkan tangan kanan gadis tersebut menjinjing dua paperbag yang tak kalah besar. Serta sebuah kotak berwarna merah yang cukup mencolok. Jika dilihat dari bentuk dan ukuran, ia menebak itu adalah violin case.
Entah seperti sudah ada yang mengatur. Berjarak sekitar tiga meter sebelum mereka bersilangan jalan. Gadis tersebut tiba-tiba tersandung angin. Membuat kedua lutut mendarat di atas lantai terlebih dahulu.
Kejadian cepat dan paling tak terduga yang berhasil menghamburkan seluruh isi tote bag juga paperbag ke segala penjuru. Termasuk menggelindingkan dua buah lipstik hingga menyentuh ujung sepatunya.
"Aduh!"
Ia yang masih terbengong-bengong mendadak tersadar demi mendengar suara seseorang yang menggerutu panjang pendek.
Ternyata gadis yang barusan terjatuh sedang berusaha membereskan kekacauan yang ada. Dengan meraup sekenanya semua barang yang berhamburan keluar.
Dengan sigap ia pun meraih dua buah lipstik dari atas lantai kemudian menyerahkan pada pemiliknya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya sungguh-sungguh demi melihat kernyitan di kening gadis tersebut. Suara lutut ketika jatuh tadi terdengar cukup keras menghantam lantai. Sepertinya lumayan menyakitkan.
"Nggak apa-apa," jawab gadis itu cepat sembari memasuk-masukkan barang sekenanya ke dalam paperbag dan tote bag.
Demi sopan santun ia pun ikut membantu membereskan beberapa alat kosmetik yang tercecer. Termasuk makanan dan minuman ringan.
"Nggak apa-apa...biar saya beresin sendiri," cegah gadis tersebut ketika tangannya berusaha meraih aksesoris yang ikut tercecer.
"Ya ampun, Sal!"
Sebuah suara lain yang baru datang mengagetkan mereka berdua. Membuatnya refleks menengok ke arah suara. Dimana seorang berpakaian resmi sedang setengah berlari menghampiri mereka.
"Lo kenapa?!" tanya orang tersebut yang langsung berjongkok membantu membereskan barang.
"Gue kejebak macet!" jawab gadis tersebut sembari mencangklong tote bag yang telah selesai dibereskan. "Kenapa mendadak gini sih?! Kiran kenapa?!"
"Iya, sori," orang berpakaian resmi itu membantu mencangklong tote bag yang satu lagi serta meraih violin case.
"Kiran asmanya kambuh. Udah nggak bisa diapa-apain. Harus ganti orang," lanjut orang tersebut dengan suara tergesa.
"Udah yuk buruan, setengah jam lagi giliran lo tampil," ujar orang itu lagi seraya menarik tangan gadis yang baru saja terjatuh agar bisa berdiri.
"Ah, yang bener lo!" gadis tersebut sedikit meringis ketika berdiri. "Ini sih penodongan."
Namun orang berpakaian resmi keburu menarik lengan gadis tersebut agar berjalan menyusuri koridor.
"Gue mesti make up dan ganti baju."
"Bisa lo lakuin kurang dari setengah jam kan?"
Telinganya bisa mendengar dengan jelas gadis yang terjatuh dan orang berpakaian resmi berbicara saling bersahutan mempertahankan argumen masing-masing.
...Jakarta Young Musician Performance...
...May, 2 - 3...
...The PARA - The Suite Ballroom...
Dengan gambar beberapa orang sedang memegang alat musik populer seperti piano, gitar, biola, dan juga flute.
Sementara di bagian bawah banner terdapat sederet logo sekolah musik kenamaan dan beberapa nama komunitas musik yang ia ketahui berpusat di Jakarta.
Dan salah satu gambar paling menarik perhatian adalah logo sekolah musik yang dulu pernah diikutinya ketika masih duduk di bangku SD hingga SMP kelas VIII.
Karena ketika di kelas IX, ia lebih memilih untuk menyeriusi basket daripada harus melanjutkan kemampuan bermain pianonya di sekolah musik tersebut.
Hmmm, kini kepalanya mendadak dipenuhi oleh hal yang cukup menarik. Hingga berhasil membelokkan langkahnya untuk berjalan menyusuri koridor menuju The Suite Ballroom. Yang berada tak jauh dari The Grand Ballroom, tempat yang baru saja ditinggalkannya.
***
Anja
Meski Cakra meyakinkannya jika datang ke prom night adalah hal mudah. Namun ia sedikit ragu. Sama sekali tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika ia kembali bertemu dengan wajah-wajah yang telah menertawakan dan menghakiminya beberapa waktu lalu. Sepertinya takkan sanggup.
"Kenapa nggak jadi?" tanya Cakra heran. "Nanti aku tungguin sampai selesai."
Tapi ia tetap menggelengkan kepala, "Aku nggak tahu apa bisa ketemu sama anak-anak setelah....."
Hingga akhirnya ia lebih memilih untuk mengisi waktu dengan memanggil Dahayu Home Service. Salon kecantikan langganan Mama yang menyediakan jasa perawatan maternity care.
"Aku tuh udah lama banget lagi nggak perawatan gitu gitu," ujarnya usai membuat janji dengan customer service Dahayu yang akan mengirim petugas ke rumahnya.
"Sampai rambutku lepek kayak gini," lanjutnya sembari menyisir rambut dengan jemari.
"Tuh, komedo juga ada dimana-mana," sungutnya seraya mengusap cuping hidung yang terasa kasar akibat tumpukan sel kulit mati.
"Sama ini nih," kali ini ia menunjukkan kuku jari tangan yang bentuknya tak beraturan karena digigit ataupun sobek dengan sendirinya.
Namun Cakra hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala tak percaya, "Cantik begini dibilang lepek."
"Gombal!" cibirnya sebal meski dengan hati berbunga-bunga.
Tapi sejurus kemudian mendadak teringat sesuatu, "Ngngng....boleh perawatan di rumah...pakai....kartu debit punyaku kan?"
Setelah sempat terdiam beberapa saat, Cakra menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Dan keputusannya memanggil team home service Dahayu benar-benar tepat. Karena ia jadi merasa lebih rileks setelah melakukan perawatan creambath. Sepertinya pijatan lembut telah berhasil melancarkan peredaran darah di kepala.
Seluruh rangkaian perawatan me time maternity care akhirnya ditutup dengan manicure pedicure yang membuat tubuhnya benar-benar terasa nyaman. Siap kembali beraktivitas. Berkutat dengan setumpuk latihan soal demi mempersiapkan SBMPTN yang akan berlangsung hari Selasa besok.
Kini hari telah beranjak malam, ketika ia tengah terkantuk-kantuk menonton film berjudul The Gifted Hands yang mengisahkan kehidupan seorang ahli bedah saraf terkenal di dunia, yaitu Ben Carson dari tahun 1961 sampai 1987.
Film produksi tahun 2009 namun baru kali ini sempat dilihatnya. Film yang menjadi pilihan utama Cakra usai menang suit dengannya. Suit yang mereka lakukan untuk memutuskan siapa yang berhak memilih judul film yang akan ditonton.
Namun suasana tenang dan nyaman harus terusik. Ketika tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon yang cukup mengejutkan. Membuatnya harus sedikit beringsut dari posisi nyaman meringkuk di lengan Cakra. Agar si empunya lengan bisa bangkit untuk mengangkat gagang telepon.
"Iya Pak Wardi?" sapa Cakra di telepon.
Membuatnya kembali memejamkan mata dengan menyandarkan kepala di sofa karena tak tertarik dengan pembicaraan Cakra di telepon.
"Anak-anak mau ke sini," gumam Cakra yang berhasil memancing matanya untuk terbuka lebar.
"Anak-anak siapa?!"
Sepuluh menit kemudian Hanum dan Bening memasuki ruang tengah sambil berteriak gembira. Sementara Faza dan Bumi mengikuti dari belakang.
"Anjaaaa sayangkuuu....," Hanum langsung menubruknya.
Sementara Bening memamerkan sebuah plakat berbentuk unik yang transparan bertuliskan,
...Proudly present :...
...Anja, Hanum, Bening...
...Best Friend Forever...
...Pusaka Bangsa...
...Batch 15...
"Kita menang yeeee!" Bening ikut menubruknya sembari mengangkat plakat transparan itu tinggi-tinggi.
"Pokoknya nggak ada yang bisa mengalahkan kesolidan kita bertiga," seloroh Hanum dengan mata berkaca-kaca. "Best friend forever."
Membuatnya tertawa senang sambil mengusap-usap punggung Hanum dan Bening.
"Kalian....kenapa tiba-tiba ke sini?" tanyanya tak mengerti sambil menunjuk ke arah jam dinding. "Ini baru jam berapa? Udah selesai acaranya?"
"Bukannya mau ada Bevarra?!" tanyanya lagi karena penasaran.
"Kita mau seru-seruan di sini sama kamu....," jawab Hanum dengan mata berbinar.
"Sama Cakra....," kini Hanum melirik ke arah Cakra yang tengah terbahak bersama Faza dan Bumi. Entah sedang membicarakan apa.
"Dan sama our lovely niece.....," seru Bening seraya mengusap perutnya.
"Kalian....," matanya mendadak berkaca-kaca demi mengetahui dua sahabatnya rela pulang awal dari prom night hanya untuk menemuinya.
"Barusan juga Faza udah order makanan," lanjut Hanum yang melirik Faza dengan penuh rasa bangga. Maklum, baru jadian kan. Masih menggebu-gebu serasa berada di atas awan.
"Bentar lagi datang," imbuh Hanum excited. "Biar party kita semakin lengkapppp!"
"Iya dooong," Bening ikut menyahut. "Kita pindahkan euforia The PARA ke sini."
"Eh, Bumi bisa nge DJ lho dikit dikit....," kini gantian Bening yang melirik Bumi dengan rasa bangga.
"Kalau lo mau kita ajib ajib di sini. Bisa bangeeeet. Nggak bakal terdengar sampai ke tetangga kan? Rumahnya segede-gede bagong gini," lanjut Bening sembari meliuk-liukkan badan seperti orang sedang asyik ajojing di club.
Tapi ia lebih memilih meminta Cakra untuk mengambilkan gitar milik Mas Tama dan Mas Sada yang tersimpan di gudang. Sementara ia mulai bersiap di depan piano kesayangan.
"Aku nggak bisa main gitar," bisik Cakra ketika datang dengan membawa gitar yang diinginkannya.
Namun ia hanya tersenyum malu, "Kamu cukup temani aku di sini."
"Gitar buat Faza sama Bumi," lanjutnya yang tak dapat menyembunyikan ketersipuan wajah karena Cakra tersenyum lebar demi mendengar jawaban pertamanya.
Ia pun mulai menarikan jemari di atas piano dengan lincah. Sementara Cakra duduk di sebelahnya sambil tak pernah berhenti tersenyum. Hmm. Sedangkan Faza dan Bumi memetik gitar.
Kini entah sudah berapa lagu yang mereka mainkan. Mulai dari yang sedang hits sampai dangdut.
Dari yang membangkitkan kesedihan karena ini adalah tanda dimana mereka harus berpisah setelah kebersamaan selama 3 tahun di sekolah.
Hingga jenis lagu yang membuat mereka berenam harus terbahak tiada henti saking merasa geli dan konyol.
"Lagu jadul dong," pintanya antusias. "Biar suasananya lebih kerasa."
"Apa sih yang enggak buat calon mommy yang syantik," seloroh Bening.
"Tarik maaang.....," imbuh Bening seraya melirik ke arah Bumi yang tertawa seraya menggelengkan kepala.
'Nostalgia SMA kita
Indah lucu banyak cerita
Masa-masa remaja ceria
Masa paling indah
Nostalgia SMA kita
Takkan hilang begitu saja
Walau kini kita berdua
Menyusuri cinta'
(Paramitha Rusady, Nostalgia di SMA)