Beautifully Painful

Beautifully Painful
90. You're More Than What You Think (2)



Cakra


Anja tak mengatakan apapun setelah membaca email yang disodorkannya. Juga tak menolak saat ia yang tengah dalam euforia kebahagiaan karena mendapat panggilan psikotest meraih tubuh mungil Anja ke dalam rengkuhan.


Anja juga menurut saja ketika ia mulai memberi sentuhan halus. Namun sebelum berhasil melakukan hal yang lebih jauh lagi, Anja keburu berbisik dengan suara menahan marah,


"Cakra, please deh! Ini di ruang tengah. Kamu mau semua orang lih...."


Oh ya, tentu saja. Saking dikuasai euforia, ia sampai mengalami disorientasi ruang. Jadi sebelum Anja menyelesaikan kalimatnya, ia pun segera meraih dan membawa Anja ke tempat tersembunyi. Agar mereka bisa melakukan hal menyenangkan yang sedari tadi mendesak ingin segera direalisasikan.


Ini adalah satu hal unik yang terjadi semenjak menikah. Tatkala ia mengalami hal yang memacu adrenalin. Maka renjana kian tak terbendung. Dan hanya memiliki satu cara untuk meluapkan kebahagiaan yang membuncah. Yaitu dengan menciptakan kebahagiaan sendiri bersama yang tercinta.


If you know what i mean.


"Cakra ih?!?" Anja sempat menarik diri dengan wajah memerah menahan malu.


Namun ia tak peduli. Terus saja melakukan hal yang menurut jiwa Erosnya adalah gentleman's territory.


***


Anja


Ungkapan tak setuju dan amarah hampir terlontar begitu ia membaca email di layar ponsel. Namun menguap begitu saja ketika Cakra dengan penuh antusiasme mulai menyentuhnya. Lembut namun penuh hasrat. Begitu memuja sekaligus menginginkan. Benar-benar pesona tak terbantahkan.


Ia bahkan hanya bisa menggumamkan kalimat tak jelas sembari kedua tangannya panik mencari tumpuan.


Berusaha meraih apa saja yang berada dalam jangkauan. Ketika Cakra mulai memberi sentuhan termanis seperti kali pertama mereka melakukannya di kamar nomor 27. Dengan sederet kalimat yang masih ia ingat betul,


"Survey membuktikan, seorang cewek nggak akan pernah bisa melupakan cowok yang melakukan ini terhadapnya," bisik Cakra dengan suara serak sambil mengedipkan sebelah mata.


Bahkan meski Cakra telah melakukannya berulang kali pun, ia masih saja merasa kelabakan seolah ini adalah yang pertama. Tetap tersipu dan memerah menahan malu.


Seperti baru pernah mengetahui tentang surga tersembunyi. Menyusuri telaga keindahan, sungai kenikmatan, serta lautan hasrat yang dipenuhi oleh arus memabukkan. Untuk membawanya mengayun terbang tinggi hingga mencapai batas cakrawala. Kemudian berdiam di sana selamanya.


Jadi ketika Cakra menuntaskan tugas dengan penuh kecemerlangan, ia sudah tak mampu lagi untuk meluapkan ketaksetujuan dan amarah perihal email psikotest.


"Tadi aku udah ijin sama Kak Riany buat hari Kamis," gumam Cakra seraya mencium puncak kepalanya.


Sementara ia hanya bisa mengangguk lemah tanpa daya sedikitpun.


***


Cakra


Hari Kamis, 14 Mei, menjadi hari yang paling dinanti. Meski aplikasi lalu lintas dan navigasi yang terinstal di dalam ponselnya menyebutkan jika jarak sejauh 20 KM lebih bisa ditempuh hanya dalam waktu setengah jam.


Namun ia tak mau berjudi. Tetap berangkat lebih awal guna mengantisipasi hal di luar kuasa yang mungkin saja terjadi.


Anja mengantarnya hingga ke depan teras usai memasukkan sekotak tempat bekal dan sebotol air mineral ke dalam ranselnya.


Tak mengatakan apapun namun masih tersenyum ketika ia mengecup keningnya sekilas sambil bergumam, "Wish me luck."


Dan lambaian tangan Anja yang sempat dilihatnya melalui kaca spion motor jelas menjadi bahan bakar paling ampuh untuk menghadapi hari.


Sempat terjebak tumpukan kendaraan di beberapa titik kemacetan. Akhirnya tepat pukul 07.12 WIB ia berhasil memasuki halaman sebuah gedung bertingkat yang berada tak jauh dari jembatan penyeberangan. Gedung dengan dominasi warna putih bertuliskan PT Axtra Homda Motor.


Sebelum memasuki gedung, ia harus menyerahkan kartu identitas kepada petugas yang berjaga. Kemudian menyerahkan berkas-berkas yang di minta di meja resepsionis.


Setelah semua lengkap, barulah ia diarahkan untuk naik menuju ke ruang makan AxHM yang terletak lantai dua gedung.


Dimana langsung disuguhi oleh pemandangan ratusan orang dengan penampilan yang sama seperti dirinya. Yaitu mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana hitam. Duduk dengan tertib menunggu pengumuman selanjutnya.


Tepat pukul 08.00 WIB seorang pria berkemeja biru dengan id card menggantung mulai membuka acara. Setelah perkenalan singkat dan sedikit pengantar. Kini beberapa petugas mulai membagikan soal-soal ujian.


Sebelum mulai mengerjakan soal, seorang petugas terlebih dahulu memberi penjelasan tentang jenis tes yang akan mereka hadapi sekaligus petunjuk pengerjaannya.


Dan yang pertama harus dikerjakan adalah TIU (Tes Intelegensi Umum) 5. Kemudian disusul Kraepelin, Tes Wartegg, Army Alpha. Hingga yang terakhir mereka diminta untuk menggambar pohon dan manusia.


Usai mengerjakan seluruh rangkaian psikotest yang telah dijadwalkan. Para peserta diminta untuk menunggu hasilnya.


Beberapa peserta tampak duduk berkelompok dan saling bercanda dengan akrab satu sama lain. Sepertinya mereka berasal dari sekolah atau daerah yang sama. Karena ia sempat mendengar beberapa bahasa daerah berbeda yang digunakan untuk bercakap-cakap.


"Kowe sinau ora mau bengi (kamu sempat belajar tidak semalam)?"


Atau


"Saha wae nu asup ka dieu (siapa saja yang masuk ke sini)?"


Bahkan,


"Dio wong P'lembang jugo. Wong kito galo (dia orang Palembang juga. Orang kita semua)."


Sepertinya antusiasme para pencari kerja bagi lulusan sekolah menengah seperti dirinya cukup tinggi. Membuatnya makin berharap dengan penuh kesungguhan, semoga ia menjadi salah satu peserta tes yang bisa lolos dan diterima bekerja. Karena ia benar-benar membutuhkan pekerjaan ini.


Ia masih duduk diam di baris paling belakang. Memperhatikan orang-orang yang saling bercanda. Ketika seseorang yang duduk di sebelahnya tiba-tiba menyapa, "Lu anak mana?"


Ia pun menyebut nama daerah tempat tinggalnya.


"An jir, rumah gua di Kalideres."


"Tetangga," jawabnya sambil tertawa.


"Gua Sarip," orang tersebut mengulurkan tangan.


"Cakra," ia membalas uluran tangan tersebut.


"Anak SMK mana lu? Gua kagak pernah lihat."


"Gua dari SMA," jawabnya singkat. Sama sekali tak berminat untuk menjelaskan tentang asal sekolahnya.


Lambat laun obrolan kian mengalir. Mulai dari tawuran yang beberapa waktu lalu sempat terjadi di Palmerah hingga menewaskan dua orang siswa SMK. Sampai membahas jawaban tes yang baru saja mereka kerjakan.


Akhirnya setelah menunggu selama hampir dua jam, seorang petugas kembali maju ke depan. Menginformasikan jika pengumuman hasil psikotest telah keluar. Dan bisa dilihat di dekat pintu masuk menuju ruang makan.


"Bagi yang namanya tercantum di papan pengumuman, silakan kembali ke sini untuk makan siang bersama," begitu kata petugas tersebut.


"Namun bagi yang tidak, diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing."


"Terimakasih telah mengikuti rangkaian rekrutmen di Axtra Homda Motor."


Beberapa orang dengan antusias mulai antre keluar guna melihat hasil pengumuman. Namun ia dan Sarip masih saja mengobrol sambil menunggu kepadatan berkurang.


Dan ia bisa sedikit bernapas lega ketika melihat nama Teuku Cakradonya Ishak tercantum di barisan tengah papan pengumuman.


"Lu lolos nggak?!" seru Sarip ketika melihatnya tersenyum.


Ia mengangguk, "Lu?"


Dengan wajah bangga Sarip menunjuk papan pengumuman di nomor 67. Sarifudin Barja. "Gua juga lolos!"


Mereka langsung ber high five. Kemudian kembali masuk ke ruang makan untuk menikmati makan siang gratis.


Ia sempat pergi ke Masjid untuk melakukan ibadah sholat Dzuhur sebelum kembali menunggu antrean untuk dipanggil masuk ke dalam ruang interview.


Namanya dipanggil oleh petugas sekitar pukul 14.30 WIB. Dengan hati berdebar ia pun memasuki ruangan.


Di sana terdapat lima meja penginterview. Dan ia mendapat meja ke empat. Dimana peserta interview dari meja kedua dan ketiga tengah melakukan push up.


"Mau push up juga?" tawar petugas berkemeja biru yang menjadi penginterviewnya. Bahkan sebelum ia sempat meminta ijin untuk duduk.


"Push up dulu!" lanjut petugas tersebut tanpa menunggu jawaban darinya.


"Biasa push up berapa kali? Seratus?" tanya petugas lagi.


Meski heran dengan pertanyaan yang dilontarkan, namun ia tetap menjawab, "Bisa, Pak."


"Bagus! Sekarang push up 25 kali!"


Begitu ia menyelesaikan push up ke 25 dan berdiri, petugas kembali bertanya, "Kalau sit up biasa berapa kali?"


"Seratus bisa," jawabnya semakin heran sekaligus bertanya-tanya. Kira-kira jenis pekerjaan seperti apa yang akan dilakoni seorang operator produksi hingga harus melakukan tes fisik semacam ini.


"Kalau begitu nggak usah," ujar petugas dengan entengnya. "Silakan duduk."


Ia pun menganggukkan kepala dan mendudukkan diri di kursi yang telah tersedia.


"Teungku Cakradonya Ishak," gumam petugas membaca berkas yang ada di hadapannya.


"Baru lulus SMA ya?"


"Iya, Pak."


"Coba sekarang ceritakan kegiatan sehari-hari kamu seperti apa."


Ia harus menelan ludah sebelum mulai menceritakan rutinitas harian yang dilakukannya. Termasuk melakoni pekerjaan di Retrouvailles.


"Jadi sekarang kamu masih kerja di tempat lain?"


"Masih, Pak."


"Kalau diterima di sini, gimana? Mau ambil yang mana?"


Petugas itu mengangguk-anggukkan kepala. Lalu kembali menatapnya penuh selidik, "SMA Pusaka Bangsa?"


Ia menganggukkan kepala.


"Wah, sekolah elite itu. Bisa sekolah di sana? Orangtua kamu kaya?"


Ia menggelengkan kepala, "Beasiswa, Pak."


"Wah...," petugas tersebut kembali menggelengkan kepala.


"Ini SKHUN kamu?!" sambil menunjukkan lembar fotocopy SKHUN miliknya.


"Betul, Pak."


"Nggak salah kamu melamar di sini?!" petugas itu tercengang.


"Tidak, Pak."


"100. 100. 100," petugas itu berdecak kagum sambil terus menggelengkan kepala.


"Bukan di sini nya yang salah," ralat petugas tersebut. "Di sini juga banyak orang-orang hebat."


"Tapi di level middle and top manajemen. Bukan pekerja kontrak seperti ini," lanjut petugas tersebut sambil menghela napas.


Sementara ia hanya tersenyum getir.


"Sekarang ceritakan kegiatan kamu selama sekolah dulu," ujar petugas sambil menatapnya penuh selidik.


"Ikut kegiatan apa saja di Pusaka Bangsa?"


"Itu sekolah isinya anak pejabat semua kan?"


"Pernah PKL di mana?"


"Oh, istilahnya internship ya di sana?"


"Udah melamar ke mana saja?"


"Tes barusan gimana? Pasti gampang lah untuk orang seperti kamu."


"Bagaimana pendapat kamu tentang Axtra Homda Motor?"


"Apa yang kamu ketahui tentang Axtra Homda Motor?"


"Sudah tahu deskripsi pekerjaan operator produksi seperti apa?"


"Ini pekerjaan yang menuntut ketahanan fisik."


"Pendapat kamu tentang bisnis manufaktur otomotif di Indonesia?"


"Mau digaji berapa?"


Ia masih menjawab sederet pertanyaan petugas berkemeja biru yang seolah tak ada habisnya. Sementara meja di samping kiri dan kanannya telah berganti peserta interview berkali-kali. Ketika seorang pria berkacamata dengan wajah oriental tiba-tiba telah berdiri di samping petugas berkemeja biru.


"Pak Fidel," ujar petugas berkemeja biru yang langsung berdiri dan menyalami pria berkacamata tersebut.


"Kamu Cakradonya?" tanya pria berkacamata tersebut to the point.


"Iya, saya Cakradonya."


"Mana titipan dari Irwin?"


Ia sempat tertegun sebentar.


"Irwin Labodas ada titip sesuatu buat saya?"


"Oh," ia menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Ada di dalam tas, saya simpan di luar," tadi yang dikumpulkan di meja resepsionis hanyalah berkas-berkas yang diminta. Seperti fotocopy KTP hingga SKHUN. Sementara surat rekomendasi dari Pak Irwin masih ia simpan di dalam ransel.


"Ambil," ujar pria berkacamata. "Saya tunggu di sini."


"Baik, Pak," ia pun bergegas ke luar untuk mengambil surat rekomendasi. Dan segera kembali secepat mungkin.


"Ini surat rekomendasi dari Pak Irwin," ujarnya seraya mengangsurkan lembaran surat rekomendasi ke atas meja.


Kini yang duduk di hadapannya bukan lagi petugas berkemeja biru. Tapi pria berkacamata yang meminta surat rekomendasi. Sementara petugas berkemeja biru berdiri di samping meja.


"Kenapa mau kerja?" tanya pria berkacamata menatapnya penuh selidik. "Bukannya kuliah."


"Dengan nilai sebagus ini pasti bisa lolos di PTN," kali ini pria berkacamata melambaikan lembaran fotocopyan raport dan SKHUN miliknya.


"Saya harus bekerja, Pak," jawabnya merasa tak enak hati.


"Ikut SBMPTN nggak kemarin?"


"Ikut, Pak."


"Ambil mana?"


Ia harus menelan ludah pahit sebelum menjawab dengan canggung, "Bandung sama Jakarta, Pak."


"Iya, kampus mana?"


Ia kembali menelan ludah. Namun belum sempat menjawab, pria berkacamata kembali berkata, "Ganapati?"


Ia menganggukkan kepala.


"Kalau diterima di Ganapati gimana? Sementara pengumuman di sini minggu depan."


"Saya tetap bekerja di sini, Pak," jawabnya yakin.


"Ganapati ditinggalin?!"


Ia menganggukkan kepala.


"Ribuan orang berlomba-lomba ingin masuk Ganapati, kamu malah mau ninggalin!"


"Saya nggak punya biaya untuk kuliah, Pak," jawabnya getir.


"Nggak ikut Bidikmisi?!?"


Ia sempat melongo karena terheran-heran dengan atensi pria berkacamata terhadapnya. Namun buru-buru menjawab, "Tidak, Pak."


Pria berkacamata terdiam sebentar sebelum berkata, "Jadi kamu yakin mau tetap kerja di sini?"


"Yakin, Pak."


Pria berkacamata tersebut menganggukkan kepala, kemudian berdiri dan berkata pada petugas berkemeja biru, "Silakan dilanjut Pak Teddy."


"Baik, Pak Fidel," petugas berkemeja biru mengangguk sopan. "Terimakasih."


Usai sesi interview yang berlangsung cukup lama. Petugas berkemeja biru memberinya sebuah link untuk mengecek pengumuman hasil interview. Dan menyuruhnya untuk pulang.


Hari Senin, tanggal 18 Mei, barulah ia mendapat kepastian dari link pengumuman yang diberikan. Jika ia lolos sesi interview. Dan wajib mengikuti MCU (medical check up) di sebuah Klinik yang telah ditunjuk oleh PT Axtra Homda Motor pada hari Rabu, tanggal 20 Mei.


Dan malam ini, H-1 sebelum keesokan hari menjalani MCU. Ia baru pulang dari shift malam di Retrouvailles. Ketika mendapati Anja tengah tertidur di sofa ruang tengah.


"Dari tadi nungguin Aden pulang," begitu kata Bi Enok dengan wajah cemas yang duduk menunggui Anja.


"Saya suruh pindah ke kamar nggak mau," lanjut Bi Enok lagi.


"Makasih, Bi," ia tersenyum mengangguk.


Dan setelah Bi Enok pergi ke bagian belakang rumah, ia segera berlutut di hadapan Anja yang telah terlelap. Dengan airpods menempel di telinga.


Yang ketika ia ambil dan dengarkan, ternyata Anja tengah mendengarkan podcast buatannya beberapa waktu lalu tentang kisah Lima Sekawan nya Enid Blyton.


Membuatnya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mengangkat Anja dan memindahkan ke kamar. Karena tak tega harus membangunkan wajah pulas Anja.


Namun baru juga berhasil mengangkat tubuh mungil Anja yang ternyata lumayan berat. Tiba-tiba sepasang mata indah membelalak kaget menatapnya.


"Kamu udah pulang?!"


Ia hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Ya ampun, ternyata lumayan juga gendong dua orang sekaligus."


Yang langsung disambut dengan pukulan Anja di dadanya. "Cakra, ih!!"


***


Keterangan :


TIU 5. : yaitu tes mencocokkan gambar berupa gambar-gambar atau bentuk-bentuk seperti kotak, lingkaran, setengah lingkaran, segitiga, dan lain-lainnya


Kraepelin. : atau tes angka, yaitu tes yang bertujuan untuk mengukur perhatian seseorang dalam jangka waktu yang singkat


Tes Wartegg. : atau tes melengkapi gambar, yaitu tes yang bertujuan untuk mengetahui karakter seseorang dari segi imajinasi, emosi, dinamisme, reality function, dan kemampuannya dalam mengontrol sesuatu


Army Alpha. : yaitu tes yang bertujuan untuk menilai tingkat konsentrasi, ketelitian, dan kecerdasan seseorang