Beautifully Painful

Beautifully Painful
164. Semua Karena Cinta (2)



Anja


"Selamat datang dan sukses untuk para mahasiswa baru FKG Jakun."


Menjadi kalimat penutup sambutan yang diberikan oleh Dekan FKG, pada acara pengenalan sistem akademik fakultas.


Selanjutnya adalah sambutan sekaligus pengarahan. yang disampaikan oleh Manajer Pendidikan dan Manajer Kemahasiswaan.


"Saya harap kalian fokus mengisi masa studi di FKG dengan mengukir prestasi, baik akademik maupun non-akademik," pesan Manajer Kemahasiswaan. Sebelum dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.


Usai serangkaian pengarahan dari pihak kampus, acara diambil alih oleh kating BEM FKG. Yang menjelaskan tentang kegiatan Mabimwaru (Masa bimbingan mahasiswa baru). Yaitu sejenis kegiatan ospek fakultas, yang wajib diikuti oleh seluruh maba FKG.


Jadwal Mabimwaru sendiri jatuh pada setiap hari Sabtu. Selama hampir tiga bulan ke depan.


"Saya ingatkan kembali, di Mabimwaru kami memiliki standar kelulusan," ucap Husni, Ketua BEMF (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas) memberi penjelasan.


"Dan salah satu tolok ukurnya adalah pemenuhan presensi."


"Jika kehadiran kalian selama tiga bulan ke depan tak masuk dalam prosentase batas minimal....," Husni mengangkat bahu.


"Dengan terpaksa tidak bisa kami luluskan."


"Konsekuensinya adalah, selama setahun ke depan, kalian tidak boleh mendaftar, mengikuti kegiatan atau menjadi anggota aktif dari UKM (unit kegiatan mahasiswa) atau Badan-badan (seperti BEM) yang ada di FKG."


"Kalian bisa aktif berdinamika di kampus, jika telah mengulang kembali Mabimwaru tahun depan. Dan dinyatakan lulus."


Mereka terbagi menjadi lima kelompok. Dan masing-masing kelompok dipandu oleh dua kating fasilitator. Bersama Airin, ia termasuk ke dalam kelompok 5.


"Hai semuanya, perkenalkan nama gue Hafidz."


"Dan gue Aeleyah."


"Kami berdua yang akan menjadi fasilitator kalian selama tiga bulan ke depan."


"Dan akan menemani selama proses Mabimwaru."


Lalu para maba dipersilakan untuk memperkenalkan diri masing-masing. Menceritakan secuil harapan tentang menjadi maba FKG serta apa yang ingin mereka raih ke depannya.


Sekilas diskusi rupanya telah berhasil mengubah suasana yang awalnya kaku karena banyak yang baru saling mengenal, menjadi lebih cair dan akrab.


Setelah itu, barulah Hafidz dan Aeleyah menjelaskan tugas-tugas apa saja yang harus mereka kerjakan selama Mabimwaru.


"Kita di sini ada tugas untuk menginterview kakak tingkat, dosen, membuat riset."


"Tenang aja, tugasnya bersifat kelompok. Jadi kalian bisa saling bekerja sama," Aeleyah tersenyum menenangkan.


"Kalau pesan gue sih, jangan banyak bolos," imbuh Hafidz.


"Karena di sini kalian akan dapat banyak materi."


"Mulai dari tips and trick agar bisa survive di FKG."


"Penjelasan tentang kurikulum, keorganisasian, kepemimpinan."


"Bahkan manajerial."


"Sampai materi tentang beasiswa."


"Intinya dinikmati saja ya," seloroh Aeleyah. "Karena masa-masa Mabimwaru benar-benar takkan terlupakan."


Tengah hari bolong, barulah seluruh rangkaian acara selesai. Dimana ia mendapati Dipa tengah menunggu di lobby.


"Eh, busyet," sergah Airin ketika melihat Dipa melambaikan tangan ke arahnya. "Lo bukannya kemarin bangga-banggain suami lo?"


"Kenapa sekarang malah dijemput sama si most wanted to die fornya FK?"


Ia hanya mencibir, "Gue kenalin yuk."


 --------------------------------------


Kini ia telah duduk di samping kiri Dipa. Yang tengah mengarahkan kemudi keluar dari Gerbatama.


Selama kegiatan Orientasi belajar dan pengenalan studi, ia tak lagi diantar oleh Pak Cipto. Tapi ikut dengan Dipa. Sebab jadwal masuk tak sepagi OKKJ. Begitu pula jadwal pulang. Sesiang ini mereka sudah bisa meluncur menuju ke rumah.


"Lo beken banget di FKG tahu nggak sih," selorohnya sambil menyesap juice alpukat yang tadi sempat dibelinya di kantin, sebagai penghilang rasa haus.


Dipa hanya tertawa. Dengan mata tetap berkonsentrasi pada arus lalu lintas di depan.


"Gue udah jadi informan aja buat cewek-cewek FKG," lanjutnya seraya menggoyangkan gelas juice agar endapannya tak menutupi sedotan.


Dipa kembali tertawa, "Gue malah udah jadi kurir, Ja."


"Kurir apaan?!" ia mengernyit tak mengerti.


"Apa lagi," kini gantian Dipa yang mengerling ke arahnya.


"Kurir adalah penyampai pesan," Dipa berucap dengan nada seperti sedang membaca tulisan di white board.


"Jasanya tiada tara," seloroh Dipa lagi.


Membuatnya ikut tertawa, "Maksudnya apaan tuh?"


"Ada salam dari kating yang kemarin almetnya lo pakai," jawab Dipa sambil mempermainkan alis naik turun.


"Sampai jadi trending topic di antara maba FK," lanjut Dipa.


"Trending topic gimana?!" salaknya sebal.


"Kalau ada maba FKG yang bisa bikin ketua BEMF kita terpesona," jawab Dipa seraya mengerling.


"Sampai dipinjamin almet. Ahahaahaha...."


"Ck! Ih!" ia langsung mendecak. "Apaan sih, Dip!"


Namun decakannya justru membuat Dipa semakin bersemangat untuk menggoda, "His eyes can only see youuuu (matanya -Erzal- hanya bisa melihatmu)."


Ia hanya tertawa sumbang. Lalu berkata dengan sebal, "Bisa ngebut nggak? Gue mesti cepet-cepet sampai rumah nih."


Dipa menggeleng seraya tertawa.


"Serius Dipa!" ia melirik Dipa dengan ekspresi lebih sebal. "Gue mau ke Bandung."


"Keburu macet kena arus mudik."


"Trus nasib kurir gimana? Harus jawab apa ke pemilik almet itu?" tanya Dipa setengah menyeringai.


Ia pun mendecih sebal, "Bilangin, kalau gue udah punya suami dan anak!"


Dipa yang masih menyeringai tiba-tiba tersenyum menatapnya, "He's the lucky one (dia -Cakra- beruntung)."


Tapi ia menggeleng, "I'm the luckiest (gue yang lebih beruntung)."


Dipa langsung memukul kemudi lalu memegangi dadanya sendiri sambil berucap lirih, "I'm dead (gue mati)."


"Definitely (pastinya)!" cibirnya sebal.


Namun sedetik kemudian, tawa mereka justru meledak bersama.


"Envy (iri) sumpah," gumam Dipa diantara tawa mereka berdua. "Kali ini gue beneran envy sama lo, Cakra!"


"Gggrrghrhrh!" sambung Dipa sembari mengepalkan tangan kiri lalu memukul udara.


Tapi ia hanya tertawa. Sebab tahu jika Dipa hanya bercanda.


 ----------------------------------


Begitu sampai di rumah, semuanya telah bersiap untuk pergi ke Bandung. Termasuk Aran. Yang terlihat begitu antusias. Tengah menendang-nendang dengan tangan terkepal meninju udara.


"Aduuuh, yang mau jalan-jalan," selorohnya demi melihat kedua kaki Aran yang seolah sedang mengayuh sepeda dengan kencang.


"Seneng mau jalan-jalan? Iya?" selorohnya lagi sambil mencuci tangan di wastafel.


"Dari tadi nggak bobo, Neng," jawab Teh Cucun. "Mungkin Den Aran tahu kalau mau ketemu sama Ayahnya."


"Aduuuuu," ia kembali berseloroh. "Yang anak Ayah."


Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. Disusul kemunculan Mama.


"Sudah ngasih tahu Cakra, kalau kita mau ke Bandung?"


Ia menggeleng, "Ntar aja kalau udah di jalan, Ma."


Mama mengangguk, "Ya udah, sekarang siap-siap dulu."


Kemudian Mama mengangkat Aran, "Biar incu (cucu) ganteng digendong sama Uti dulu yaaa."


"Kita tunggu Bunda di luar," lanjut Mama seraya meninggalkan kamar. Dengan diikuti oleh Teh Cucun di belakangnya.


 --------------------------------------


"Sudah ngasih tahu Cakra?" tanya Mama untuk yang ke sekian kalinya ingin tahu. Ketika mobil yang mereka tumpangi tengah mengantre di Gerbang Tol Grogol.


"Udah, tapi nggak nyambung," jawabnya sambil membuai Aran yang merengek meminta nen. Sepertinya Aran mulai mengantuk.


"Masih di kampus?" tanya Mama lagi.


"Kayaknya. Habis nggak diangkat," jawabnya seraya mengusap pipi bulat Aran yang tengah mencecap dengan rakus.


"Cakra nggak ada rencana pulang ke Jakarta kan?" Papa rupanya juga ingin tahu.


Ia menggeleng, "Enggak, Pa. Soalnya tanggung kalau mau pulang. Cuma libur sehari."


"Trus besoknya ada kuliah pagi."


Papa mengangguk-angguk.


Sementara ia kembali berkonsentrasi pada Aran. Yang matanya mulai terkantuk-kantuk. Sebab terbuai dengan kenyamanan yang dirasa. Hingga akhirnya Aran benar-benar terlelap dalam mimpi indah.


---------------------------------- 


"Kemacetan terjadi di tol Cikampek arah Bandung. Karena ada penumpukan kendaraan di simpang Cikampek menuju Cipularang."


Suara news anchor radio Elcinta yang empuk, menjadi teman perjalanan mereka.


"Ehekehekehekehek!!!"


Aran yang sejak lima menit lalu mulai menggeliat-geliat, kini benar-benar menangis.


"Ehekehekehekehek!!!"


"Ehekehekehekehek!!!"


"Kenapa sayang?" Mama yang duduk di sebelahnya ikut menepuk-nepuk paha Aran agar kembali tenang.


"Oh...Aran pup, Ma," jawabnya usai memeriksa pospak (popok sekali pakai) yang dipakai Aran.


"Kenapa?" tanya Papa menoleh ke belakang. "Rewel Aran?"


"Incu ganteng pup, Akung," jawab Mama yang mulai mempersiapkan perlengkapan untuk membersihkan pup Aran.


"Buang air?" tanya Papa lagi. "Mau mampir ke rest area?"


Karena ia merasa kerepotan sekaligus kurang nyaman jika membersihkan Aran di dalam kendaraan yang bergerak, Pak Cipto akhirnya membelokkan kemudi memasuki rest area di Km 57.


------------------------------------------- 


Ia memandang pergelangan tangan kiri sambil mengulum senyum. Sekarang jam 20.54 WIB. Tepat ketika Pak Cipto mengarahkan kemudi keluar dari Gerbang Tol Pasteur.


Sementara Aran yang sejak mereka keluar dari rest area tertidur nyenyak. Kini mulai menggeliat dan merengek. Mungkin tahu jika sebentar lagi mereka akan tiba di tempat tujuan.


Dan yang lebih menyenangkan dari semua ini adalah, mereka akan bertemu kembali dengan Cakra. Setelah hampir tiga minggu berpisah.


"Wah, Bandung malam takbiran macet, Pak," seloroh Pak Cipto. Ketika kendaraan mereka tersendat di depan sebuah Kampus, yang terletak di Jl. Surya Sumantri.


"Nggak apa-apa. Sudah dekat ini," gumam Papa santai.


"Antrean masuk ke Lemah Neundeut, Pak," sambung Pak Cipto mencoba menebak.


"Kemungkinan," jawab Papa. "Nanti di depan juga lancar lagi."


 -----------------------------------


DIN! DIN!


Pak Cipto harus membunyikan klakson karena tak seorangpun yang membukakan pintu gerbang.


Matanya menyipit memperhatikan halaman depan rumah yang sepi. Dengan pintu garasi yang tertutup rapat.


Pak Cipto bahkan harus turun dari mobil untuk membuka pintu gerbang sendiri. Tapi gagal. Karena telah dikunci dari dalam.


Saat itulah muncul Mang Ujang dari dalam garasi dengan tergopoh-gopoh.


Begitu Pak Cipto menghentikan mobil di halaman rumah, ia langsung bersiap untuk turun.


"Sini," Mama berusaha meraih Aran yang sedang membelalakkan mata sembari mengemut jari dari pangkuannya. "Biar Aran turun sama Uti yaa."


Ia pun membiarkan Mama mengangkat Aran. Bersamaan dengan datangnya Teh Juju dari dalam rumah.


"Aduh, Ibu sareng (dan) Bapak," gumam Teh Juju yang tak mampu menyembunyikan rasa terkejut, demi melihat Papa turun dari mobil dengan dibantu oleh Pak Cipto.


"Neng Anja sareng Den Aran oge (juga)?" Teh Juju semakin terkejut ketika melihat Mama turun sambil menggendong Aran.


"Jam segini udah sepi, Teh?" tanya Mama heran.


Teh Juju hanya meringis tak menjawab.


"Abang mana?" ia yang turun paling akhir bersama Teh Cucun, celingak-celinguk memperhatikan keadaan rumah dengan penuh tanda tanya.


Bayangan tentang seorang bertubuh jangkung, berwajah bersih, yang menyambutnya di depan pintu. Langsung sirna dalam sekejap.


Terlebih ketika Teh Juju menatapnya dengan wajah pias. Teh Juju bahkan tak langsung menjawab pertanyaannya. Justru saling melempar pandangan dengan Mang Ujang yang juga terlihat bingung.


"D-den Cakra katanya pulang ke Jakarta, Neng," jawab Teh Juju dengan wajah yang semakin pias.


"Baru berangkat habis Isya tadi."


***


Cakra


Sejak beberapa menit lalu, entah sudah berapa kali ia meremas tengkuk guna mengusir rasa kantuk.


Kondisi lalu lintas jalan tol yang ramai lancar, justru membuat rasa bosan semakin mendera. Meski ia telah menyalakan gelombang radio. Yang kini tengah memutarkan lagu-lagu easy listening.


'They can imitate you


But they can't duplicate you


Cause you got something special


That makes me wanna taste you


I want it all day long


I'm addicted like it's wrong


I want it all day long


I'm addicted like it's wrong'


(Dawin, Dessert)


Musik yang cukup menghentak rupanya berhasil membuat rasa kantuk sedikit menguap. Dan untuk lebih menyegarkan mata lagi, ia pun mencabut charger ponsel. Kemudian mengaktifkannya.


Dddrrrttttttt!


Sebuah pesan masuk langsung menyerbu begitu ponsel berhasil diaktifkan.


"Anja?" gumamnya heran ketika melihat nama pengirim.


Ia baru hendak membuka pesan dari Anja, ketika ponsel kembali bergetar tanda ada panggilan masuk.


Dddrrrttttttt!


Dddrrrttttttt!


Anja Calling


Ia yang sebenarnya hendak memberi kejutan dengan mendadak pulang ke Jakarta, mau tak mau mengangkat panggilan telepon dari Anja.


"Ya, Ja?"


"Abang di mana?!?!" serbu Anja dengan suara yang memburu. "Udah sampai mana?!?"


Ia mengernyit, "Kenapa?"


"Abangng...aku sama Aran udah di Bandung!!"


"Di....," ia mendadak tercekat. "Di mana?! Bandung?!?"


"Buruan putar balik!" seru Anja dengan nada suara tak sabar.


"Sebentar...sebentar....," ia masih tak mengerti dengan apa yang sedang mereka bicarakan.


"Abangng...aku, Aran, Papa, sama Mama mau lebaran Idul Adha di Bandung!"


"Abang kenapa mau pulang ke Jakarta nggak bilang-bilang?!!!"


"Kemarin bukannya nggak akan pulang karena banyak tugas?! Trus besoknya ada kuliah pagi?!?"


"Oke...oke....," ia mengerti. "Sori...sori...mendadak."


"Udah nggak kuat nahan kangen soalnya," lanjutnya dengan sepenuh hati.


"Ih!" tapi suara Anja justru terdengar menggerutu. "Buruan putar balik!"


"Sekarang Abang udah sampai mana?!"


"Oke...oke....," ia mulai memperhatikan rambu di median jalan yang menunjukkan jumlah kilometer. Kemudian memeriksa GPS.


"Abang udah sampai di mana sekarang?!" suara Anja terdengar semakin memburu.


"Yah, kelewat," gumamnya ketika memeriksa aplikasi lalu lintas.


"Kelewat apanya?!?"


"Exit tol Jatiluhur udah kelewat jauh. Sekarang...Sadang...yaaah," ia mendesis tak percaya.


"Kenapa?!?"


"Barusan Sadang kelewat," gumamnya kembali berkonsentrasi ke jalan tol. "Mesti lanjut sampai Karawang Timur baru bisa putar balik."


Anja terdengar mendesah, "Duh, mana arah ke Bandung macet lagi."


"Oke, sayang," namun ia bergumam yakin. "Sebentar lagi di depan bisa putar balik."


"Neng tidur aja dulu," lanjutnya sembari mengu lum senyum. "Nggak usah nungguin."


***


Anja


Ia memperhatikan jam yang menempel di salah satu sisi dinding kamar dengan gelisah.


Jam 01.15 WIB. Dan sama sekali belum ada tanda-tanda kepulangan Cakra.


Ia pun menghembuskan napas panjang. Lalu kembali berusaha keras untuk memejamkan mata. Karena esok harus bangun pagi. Guna mengikuti sholat Idul Adha.


***


Cakra


"Volume kendaraan yang padat, diperparah dengan keluar-masuknya kendaraan di rest area. Dan kejadian truk patah as roda."


"Membuat tol arah Bandung macet hampir sepanjang 15 Km."


Ia menggelengkan kepala tak percaya, mendengar pemberitaan yang dibacakan oleh news anchor radio. Diliriknya jam digital yang menempel di dashboard, 01.15 WIB.



"Hoaaahhhm," ia menguap sambil merentangkan kedua tangan ke atas. Karena kendaraan di depan tak kunjung bergerak.


Sepertinya ia benar-benar akan bermalam di jalan.


--------------------------------- 


Setelah melalui kemacetan yang menggila. Juga rasa kantuk tak tertahankan. Akhirnya ia bisa bernapas lega. Sebab kini tengah mengarahkan kemudi memasuki halaman rumah.


Ia pun membuka kaca samping untuk menyapa Mang Ujang. Yang telah membukakan pintu gerbang.


"Nuhun, Mang."


Mang Ujang tersenyum mengangguk, "Mangga, Den."


Ia segera mematikan mesin mobil dan melangkah keluar.


Bersamaan dengan suara pintu ruang tamu yang terbuka dari arah dalam. Disusul kemunculan seseorang yang begitu dirindukan. Menghambur ke depan teras dengan wajah cemas.


"Abang?" gumam Anja ketika ia meraih tubuh mungil itu ke dalam rengkuhan.


Ia bahkan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Hanya bisa mencium puncak kepala yang dihiasi oleh sulur halus itu dalam-dalam.


Lalu menghirup aroma keharuman yang memabukkan. Berusaha menyimpan sebanyak mungkin di rongga dada. Berharap bisa menetap di dalam diri selamanya.


Dengan sepasang tangan mungil yang halus, terasa melingkari pinggangnya erat-erat.


Sementara dari kejauhan, sayup-sayup mulai terdengar suara adzan Subuh berkumandang.


***


Keterangan :


##Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk readers tersayang Mam Wulan, yang telah bersedia meluangkan waktu, berkisah tentang suka duka LDR. Makasih banyak, Mam 🤗.