
(8)
Anja
Dan ketika ia tengah menyuap nasi goreng kali ketiga ke dalam mulut, pintu berwarna putih tulang itu terbuka. Disusul dengan keluarnya Cakra yang telah memakai seragam sekolah, lengkap dengan tas ransel di bahu sebelah kiri. Berjalan menuju ke dapur.
Tak lama berselang, Cakra tiba-tiba sudah mendudukkan diri di hadapannya. Dengan tangan kanan membawa kotak bekal makan berisi nasi goreng yang masih mengepulkan asap, sementara tangan kiri memegang segelas susu putih.
"Kalau susu cokelat suka nggak? Atau strawberry?" tanya Cakra sembari meneguk susu di dalam gelas.
"Maksudnya?" ia mengernyit.
"Itu barusan Bi Enok bilang, kamu enek kalau minum susu," jawab Cakra sembari meletakkan gelas susu yang kosong karena sudah habis diminum. Hei, apakah itu gelas susunya yang tadi tak jadi diminum? Sontak membuatnya kembali mencibir.
"Iya," jawabnya sambil terus makan. "Rasanya mau muntah kalau minum susu apapun rasanya."
Cakra yang kini sedang mengoles roti dengan selai nanas hanya terdiam mendengar jawabannya. Namun sejurus kemudian berkata, "Aku buatin air jahe mau? Atau lemon?"
Ia kembali mengernyit.
"Atau mau bekal infused water ke sekolah?"
Namun ia justru semakin tak mengerti.
"Kondisi kayak kamu harus banyak minum. Biar nggak dehidrasi."
"Sotoy!" sahutnya cepat, namun dengan pipi memanas karena hati berbunga.
"Mulai besok aku buatin ya. Kalau sekarang nggak keburu," ujar Cakra sembari melihat pergelangan tangan kanan. "Mau jahe atau lemon?"
"Aku punya maag," jawabnya sambil terus menunduk. Berusaha menyembunyikan wajah yang pastinya sudah seperti kepiting rebus.
"Kalau gitu air jahe," tukas Cakra cepat.
"Mentimun juga segar. Kamu suka mentimun nggak?" tanya Cakra lagi.
Ia hanya mengangguk. Buru-buru menelan suapan nasi goreng yang terakhir kemudian meminum air putih. Tak ingin berlama-lama duduk berhadapan dengan Cakra. Karena berefek tidak baik bagi suasana hatinya yang mendadak berdesir-desir aneh.
"Nggak dihabisin sarapannya?" kening Cakra berkerut demi melihatnya bangkit dari duduk.
"Kenyang," jawabnya singkat seraya mencangklong tas.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Cakra lagi terheran-heran.
Ia hanya mengangguk dan langsung berlalu.
"Sampai ketemu di sekolah, Ja," begitu suara Cakra masih sempat terdengar ketika ia berjalan melewati ruang tengah.
***
(A) :
Scene sarapan pertama Cakra di rumah Anja ... ngng ... terlalu giung ya gengs adegannya ๐คช๐คง.
What the meaning of giung? ๐ Coba tanya ke yang duduk di sebelah ๐ค.
Cakra too much banget perlakuannya ke Anja. No no no, belum waktunya mereka berdua bergiung ria ๐๐ค
SKIP! NEXT!!
***
(9)
Cakra
Kini satu hal tentang Anja mulai dicatat baik-baik dalam benaknya. Yaitu, Anja tipikal mudah terlelap kapanpun dan dimanapun. Sama seperti seminggu lalu sepulang dari Pasar Malam, kini Anja juga sudah tertidur di lengannya.
Benar-benar gadis pemimpi alias putri tidur, batinnya geli seraya menundukkan kepala agar bisa melihat wajah Anja dengan lebih jelas. Wajah sepolos bayi yang dihiasi kelopak mata bulat dan bibir penuh itu terlihat damai juga sangat menyenangkan. Berbanding terbalik saat dalam keadaan sadar. Wajah cantik itu akan menjadi sangat menyulitkannya.
"Ja...," kali ini ia juga harus membangunkan Anja ketika Taxi telah menepi di tempat tujuan.
"Udah sampai...."
Anja tergeragap sebentar sebelum akhirnya keluar dari dalam Taxi dan berjalan terlebih dahulu ke dalam rumah. Sama sekali tak menunggunya yang sedang membayar tarif Taxi.
"Wah, pulang sore, Den?" sapa Pak Karman yang sore ini kebagian tugas berjaga di pos begitu melihatnya keluar dari dalam Taxi.
"Iya, Pak," ia tersenyum mengangguk.
Dan tak menjumpai keberadaan Anja di dalam rumah.
"Anja nggak makan, Bi?" tanyanya heran sembari memperhatikan pintu kamar Anja yang tertutup rapat.
"Biasa, Den," jawab Bi Enok yang tengah menyiapkan lauk untuknya di meja makan.
"Kalau pulang sekolah pasti langsung masuk ke kamar," lanjut Bi Enok. "Nanti jelang malam baru keluar."
"Nggak pernah makan?"
"Ya makan, Den," Bi Enok tersenyum. "Makannya suka-suka. Nggak mau kalau disuruh-suruh. Pasti marah meskipun Ibu yang ngajak makan."
"Oh...."
"Kemarin
***
(A) :
Tadinya scene mereka pulang bareng naik Taxi dari sekolah begini hehe ... tapi seperti ada yang kurang ya gengs ๐คง
Oke ... Next!
***
(10)
Cakra
Begitu keluar dari kamar Anja, telinganya langsung mendengar keributan tengah terjadi di ruang tamu. Yang paling keras tentu saja suara Aldi dan Dipa. Namun ketika ia hendak menghampiri, Faza lebih dulu mencegahnya.
"Bentar lagi kita cabut," ujar Faza yang menahan langkahnya bahkan ketika ia masih menyusuri ruang tengah.
"Gue bisa jelasin...."
Kalimatnya terpotong di udara karena Faza keburu menyahut, "Lo nggak perlu jelasin!"
Sementara di ruang tamu Dipa dan Aldi masih saling berteriak.
"Kita nggak mau ada ribut di rumah orang," ujar Faza sungguh-sungguh. "Apalagi dini hari begini."
"Bisa jadi masalah besar di kompleks yang isinya banyak mantan petinggi."
Ia mengerti arah pembicaraan Faza.
"Si Aldi udah di handle Dipa," lanjut Faza. "Habis ini kita langsung cabut."
"Oya," Faza sudah berajnak dua langkah tapi kembali berbalik. "Sekarang gue ngerti alasan Anja nanya-nanya kemarin."
Keningnya mengkerut. "Nanya apa?"
Namun Faza tak menjawab, justru berkata, "Congrats, berhasil dapatin mutiara nya PB." Dan langsung berlalu.
Disusul suara pintu mobil yang dibanting dan deru mesin meninggalkan halaman rumah.
***
(A) :
Yhaaa ... nggak ada adegan adu mulut dan baku hantam mah kurang seru ya readers tersayang ๐คช๐คงโ๏ธ
Lempeng kek penggaris besi ๐คง
NEXT!
***
(11)
Cakra
Arus lalu lintas yang lumayan padat membuat laju kendaraan mereka cukup tersendat. Hingga jarak sejauh 4 km lebih harus ditempuh dalam kurun waktu hampir satu jam.
"Mmm...," Anja tersenyum menatapnya. "Kita keliling dulu ya. Ambil kuenya pas mau pulang."
"Tadi katanya pegal-pegal?" cibirnya. "Sekarang semangat 45."
"Bawel ah!" Anja balas mencibir.
Dari tempat parkir mereka langsung menuju ke lantai 3, dimana terdapat beberapa gerai mainan anak terkemuka.
"Tuh kan, lagi ada diskon sampai 70%," seru Anja kegirangan begitu mereka memasuki gerai pertama.
"Aku tuh udah lama banget lagi nggak kesini," imbuh Anja yang langsung menghambur ke etalase yang paling dekat dengan pintu masuk dengan tulisan Cmiggle di atasnya.
"Lucu kan?" Anja mendekatkan sebuah kotak pensil berwarna pink dengan desain mencolok ke arahnya.
"Dipakai Sasa pasti lucu nih," gumam Anja yang kembali mendekatkan sebuah kotak pensil berwarna bling bling ke arahnya. "Lucu banget kan?"
Namun ia tak berkomentar apapun. Hanya berjalan mengekori Anja yang kini tengah nyalang menelusuri seluruh isi etalase.
"Ya ampuuun, ini yang terbaru," pekik Anja antusias seraya mengambil sebuah botol minum -lagi-lagi berwarna pink bling-bling- lalu mendekatkan ke arahnya.
"Kamu katanya mau lihat barbie? Kenapa malah berhenti di sini?" pertanyaan iseng darinya yang langsung berbuah pukulan telak dari Anja.
"Berisik ah! Bawel amat jadi orang!" salak Anja sambil memelototinya.
"Aku mau ngasih kado buat Sasa sama kakaknya," lanjut Anja yang kali ini tengah memeriksa sebuah kotak bekal makan.
"Yang bisa kepakai buat sekolah," imbuh Anja lagi. "Biar makin semangat ke sekolahnya."
"Kamu kan udah pernah ngasih kado ke mereka."
"Dulu waktu kamu borong baju di Mall."
Tapi Anja tetap mengerutkan kening tanda tak mengingat apapun.
"Lupa," jawab Anja sambil lalu dan kembali memeriksa tiap barang yang dipajang di etalase.
"Jangan foya-foya, Ja," gumamnya sungguh-sungguh. "Aku nggak bisa bayarin semua."
"Diskon 70% aja harganya masih segini," lanjutnya seraya menunjukkan label harga dimana Dee tertera jumlah rupiah sebanyak tiga kali lipat dari pendapatan hariannya di tempat Bang Fahri.
"Eh!" Anja kembali memukul lengannya sambil melotot. "Aku bayar sendiri! Nggak minta ke kamu!"
"Iya tahu," jawabnya cepat. "Tapi kamu kan istri aku, harusnya semua pengeluaran tanggung jawabku."
"CK!" Anja mendecak marah sembari menghentakkan kaki ke lantai. "Kamu berisik banget sih!" kemudian berlalu dari etalase Cmiggle dan beralih ke bagian dalam.
"Kamu pakai credit card yang dikasih Mama kamu?" tanyanya hati-hati.
"Kalau iya kenapa?!?" Anja menatapnya kesal.
Ia tersenyum seraya mengusap pipi Anja, "Aku boleh minta satu hal sama kamu?"
Anja masih menatapnya kesal meski tak menolak ia menangkup pipinya di tempat umum.
"Jangan pakai credit card Mama kamu untuk kebutuhan sekunder apalagi tersier."
"Apalagi buat beli mainan untuk anak-anak Kak Pocut."
"Jangan, Ja."
"Kenapa nggak boleh?" wajah Anja berubah keruh.
"Karena itu uang Mama kamu."
"Seharusnya kamu pakai untuk hal-hal utama. Bukan dihamburkan nggak jelas begini."
Wajah keruh Anja dalam sekejap berubah menjadi berkaca-kaca. "Kamu pikir aku ngabis-abisin uang Mama. Begitu?!"
Ia menggelengkan kepala, "Bukan, Ja."
"Kan belum juga belinya," ia mencoba tersenyum menenangkan.
"Mainan yang kamu bawa di mobil itu udah banyak banget, Ja."
"Sasa, Umay, bahkan Ichad, pasti seneng banget dapat mainan sebanyak itu. Masih bagus-bagus pula."
"Nah, kalau untuk peralatan sekolah," ia kembali mengusap pipi Anja agar wajah murung itu bisa sedikit tersenyum.
"Mereka masih punya lengkap kok."
"Lagian mereka bertiga juga udah punya KJP (kartu Jakarta pintar). Yang menjamin bisa punya peralatan sekolah lengkap."
Ia kembali tersenyum, "Kamu kalau mau ngasih kado bisa di momen tertentu. Ulang tahun misalnya."
"Itu bisa le....," kalimatnya terpotong karena Anja keburu menarik lengannya untuk berjalan keluar dari gerai.
Dan sampai mereka turun melalui eskalator, Anja tetap diam membisu.
"Ja?" tanyanya dengan perasaan tak enak. Khawatir jika kalimat yang diucapkannya tadi terlalu to the point dan membuat Anja tersinggung.
"Apa?!?" Namun diluar dugaan Anja justru menyalak galak lengkap dengan mata melotot.
"Kamu bawel banget sih?! Mood shopping aku jadi menguap tahu nggak?!?" lanjut Anja cepat dengan mulut mengerucut marah.
Membuatnya tersenyum lega dan berinisiatif untuk meraih bahu Anja seraya berbisik pelan, "Sorry."
Tapi Anja hanya mendecih sebal. Sama sekali tak menolak rengkuhan lengannya.
***
(A) :
Aduh ... udahlah Cakra banyak dapat ujian. Mulai dari digebukin duo baku hantam sampai dikucilkan di sekolah. Eh, sekarang gaya bicara Cakra udah kek Bapack Bapack ๐ญ jauh melebihi usianya. Maapkeun readers ... jiwa makemak yang selalu menerapkan prinsip ekonomi ternyata begitu melekat di jiwa ๐คง๐คง๐คช๐ sampai kebawa-bawa nyempil di karakter Cakra ๐ฃ๐ฃ๐คช๐โ๏ธ.
SKIP!
NEXT!!!
***
(12)
Anja
"Lo belajar nggak?" tanya Bening yang berada satu sesi dengannya. Sementara Hanum mendapatkan jadwal di sesi kedua.
Namun ia hanya tersenyum simpul. Tak menjawab apapun. Karena semalam, ia sama sekali tak belajar saking terlalu sibuknya bermain-main dengan Cakra.
Oh, ya ampun. Kini wajahnya mendadak memanas demi mengingat peristiwa semalam. Bagaimana Cakra memanjakan dan melambungkannya hingga menembus batas cakrawala. Mena....
"Ja!" Bening menepuk bahunya pelan. "Kok malah senyum senyum sendiri sih?!"
"Curiga ini sih habis ngapa-ngapain!" Bening mencibir namun memasang wajah kepo maksimal.
Ia pun balas mencibir, "Belajar habis Subuh bentar."
"Belajar bareng Cakra ya?" kedua mata Bening kian membulat ingin tahu.
"Duh, uwunyaaaa....," mata Bening mendadak berbinar meski ia belum menjawab apapun.
"Cuteness overload," lanjut Bening lagi dengan kedua mata yang terus berbinar.
Setelah Subuh ia memang sempat belajar sebentar bersama Cakra. Tapi pada kenyataannya bukan belajar. Ia malah terhipnotis memandangi wajah Cakra yang setengah menunduk karena sedang mengerjakan soal sembari menerangkan padanya.
Satu yang menyuguhkan pemandangan melenakan. Membuat pikirannya justru terfokus pada visual paling menawan hati. Sama sekali tak mempedulikan soal tentang persamaan kuadrat yang sedang dibahas Cakra. Hmm.
***
(A) :
Ini scene yang mana ya? Sampai lupa ๐คง
NEXT!!
***
(13)
Cakra
"Dulu waktu rumah orangtua saya di kampung hancur terkena longsoran pembangunan villa mewah, Neng Anja langsung ngasih uang tabungan pribadinya ke Mamang buat betulin rumah," ujar Mang Jaja dengan semangat.
"Serius?" ia tertawa hampir tak percaya.
"Eh, Den, manja manja gitu Neng Anja tuh bageur pisan (baik hati sekali)," tukas Mang Jaja berusaha menghapus keraguannya.
"Apa tuh artinya?" tanyanya tak mengerti.
"Baik hati."
"Oh," ia pun mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Waktu itu Neng Anja masih budak leutik keneh (anak kecil). Masih SD, Den."
"Waktu Anja ngasih semua tabungannya ke Mamang?"
"Iya," jawab Mang Jaja. "Ya, meski Mamang tahu, tabungan Neng Anja pasti diganti diam-diam sama Ibu."
"Dan tanpa Neng Anja ngasih uang tabungannya juga, pasti saya dibantu lah sama Bapak buat memperbaiki rumah orangtua."
"Tapi maksud saya gini, Den. Meskipun Neng Anja dari kecil udah beunghar (kaya). Tapi nggak sombong. Punya hati."
"Selalu membantu kalau ada di antara kami yang kerja di sini sedang kesusahan."
"Padahal ya pasti kami sudah dibantu sama Bapak Ibu."
***
(A) :
Ceritanya Cakra ngepoin Anja ke Mang Jaja hehe ... tapi skip aja ya ... Ngapain kepo, orang bisa nanya langsung ke Anja eheheh ....
***
(14)
Cakra
Membuatnya berinisiatif untuk merengkuh rubuh mungil Anja dan membawanya ke dalam kamar. Karena tak tega jika harus membangunkan.
"Kamu mau ngapain?" suara Anja terdengar parau karena sudah setengah terlelap ketika ia berusaha merengkuhnya.
"Enggak ngapa-ngapain," jawabnya seraya mengangkat Anja ke dalam rengkuhan.
Hmm, berapa kira-kira berat badan Anja? Tubuh semungil ini ternyata lumayan berat juga, batinnya geli sambil tertawa.
"Jangan ekt
***
(A) :
Scene gendong menggendong too mainstream ya gengs ๐คง
Sudah kita lewati saja hyung!
Next!
***