
Cakra
Kini ia tengah duduk dengan hati gelisah, sembari tangannya tak lepas menggenggam tangan Mamak yang sedang melamar Anja secara resmi.
"Sebelumnya saya harus meminta maaf terlebih dahulu kepada kedua orangtua Anjani, yang saat ini diwakili oleh Bu Yuniar," begitu Mamak bicara dengan tenang seolah tak terpengaruh tatapan tajam penuh rasa ingin tahu Mas Tama dan Mas Sada yang duduk di seberang mereka.
"Karena perbuatan tercela anak kami yang bernama Cakradonya, membuat masa depan Anjani berubah drastis."
Mama Anja tersenyum dengan wajah penuh pengertian ke arah Mamak. Tapi tidak dengan Mas Tama dan Mas Sada yang terus saja mengernyit terheran-heran melihat Mamak bisa bicara dengan lugas dan lancar.
"Terima kasih juga kami ucapkan pada keluarga besar Anjani, karena telah menerima kedatangan kami dengan tangan terbuka," Mamak kembali melanjutkan.
"Maaf, kami hanya bisa datang berdua. Karena Ayah Agam....maksud saya Cakra, sudah meninggal lima belas tahun yang lalu."
"Sebenarnya kami masih memiliki saudara yang lebih tua. Tapi karena pertemuan bertempat di rumah sakit, mungkin lebih baik jika tak terlalu banyak orang yang datang."
Mama Anja kembali mengangguk sambil tersenyum. Tapi lagi-lagi tidak untuk Mas Tama dan Mas Sada yang masih saja terpukau melihat Mamak berbicara.
"Saya, Cut Rosyida, ibu kandung dari Cakradonya....."
Ia semakin mengeratkan genggaman ke tangan Mamak.
"Dengan ini mengajukan pinangan pada putri Ibu Yuniar dan Bapak, yang bernama Anjani...."
"Prameswari," bisiknya di telinga Mamak.
"Anjani Prameswari," ulang Mamak dengan suara yakin. "Tapi mohon maaf, karena kami belum memiliki persiapan apapun. Tak membawa apa-apa kesini sebagai tanda pengikat...."
Mama Anja tertawa sembari menitikkan air mata "Nggak papa," begitu kata Mama Anja dengan suara serak. "Nggak papa."
Mas Tama dengan cepat mengulurkan selembar tissue kearah Mama Anja. Kemudian berpindah duduk menjadi lebih dekat sembari merangkul bahu Mama Anja dan mengusapnya perlahan.
"Terima kasih atas kehadiran ibu dan Cakra disini," lanjut Mama Anja seraya beberapa kali menyusut sudut mata. "Maaf serba terbatas."
Mamak tersenyum mengangguk penuh permakluman.
Sementara Mama Anja kembali menyusut air mata yang kini justru semakin menganak sungai. Membuat Mas Tama kembali mengusap-usap lengan Mama Anja sembari membisikkan sesuatu.
Dalam sekejap suasana mendadak berubah menjadi mengharu biru. Beberapa kali Mamak juga ikut menyusut sudut mata meski tak sampai berlinangan.
Selama kurang lebih sepuluh menit, Mama Anja hanya terdiam sembari terus terisak. Namun sesekali mengangguk-anggukkan kepala saat mendengar bisikan dari Mas Tama. Sementara Mas Sada berkali-kali mengusap dan menepuk-nepuk punggung Mama Anja.
Selang beberapa saat kemudian, setelah tangis Mama Anja mulai mereda, barulah Mas Tama angkat bicara.
"Terima kasih banyak atas kehadiran ananda Cakra dan Ibu di rumah sakit tempat Papa kami dirawat."
Kali ini suara Mas Tama terdengar lebih ramah dan menyenangkan, jauh berbeda dibanding ketika berbicara dengannya selama ini. Yang selalu tegas bahkan setengah membentak.
"Saya, mewakili kedua orangtua kami, menerima pinangan yang tadi disampaikan oleh Ibu Cut Rosyida," lanjut Mas Tama.
"Semoga dengan adanya pertemuan dua keluarga ini, bisa semakin mempermudah dan memperlancar hal-hal yang akan dilakukan kedepannya."
Setelah acara setengah resmi dengan bahasa Indonesia yang baku dan sedikit kaku usai, Mamak kembali berbincang-bincang dengan Mama Anja. Kali ini lebih santai sembari sesekali diselingi senyum dan tawa kecil.
Sementara ia duduk di ujung meja, dengan diawasi oleh Mas Sada. Sedang mengisi lembaran formulir persyaratan untuk melakukan pernikahan, yang dibawakan oleh seseorang yang tadi memperkenalkan diri sebagai Pak Waluyo, orang yang biasa mengurus hal-hal yang berhubungan dengan administrasi apapun di lingkungan tempat tinggal Anja.
Untuk pertama-tama, ia harus mengisi surat pernyataan belum pernah menikah (masih jejaka) diatas materai sebesar Rp 6.000,-.
Kemudian ia mengisi surat keterangan model N1, N2, N4. Dan terakhir, ia mengisi formulir model N5, sebagai surat ijin dari orangtua karena ia masih berusia kurang dari 21 tahun.
"Jangan lupa fotocopy KTP sama KK," ujar Pak Waluyo mengingatkan. "Sudah punya KTP kan?"
"Sudah, Pak," jawabnya sambil mengangguk. "Tapi belum saya fotocopy. Sama KK juga masih di rumah."
"Nyusul aja bisa kan, Pak?" tanya Mas Sada sambil mengernyit.
"Oh, bisa, Mas....bisa," jawab Pak Waluyo cepat. "Besok saja nggak papa sekalian ke Pak Penghulunya. Yang penting formulir sudah diisi lengkap."
"Nanti malam juga bisa saya antarkan, Mas," ujarnya sambil melihat kearah Mas Sada. "Saya kesini lagi."
"Ah, bolak balik," Mas Sada menggeleng tak setuju. "Besok aja sekalian."
"Iya, besok sekalian Mas," ujar Pak Waluyo kearah Mas Sada tapi sambil menepuk-nepuk punggungnya. "Besok aja nggak papa."
Ia mengangguk. "Kalau untuk biaya nikahnya, apa harus sekarang?"
Mas Sada terlihat mengeraskan rahang dan tak suka mendengar pertanyaan yang dilontarkannya, tapi Pak Waluyo langsung menjawab dengan tangkas, "Oh, sekarang juga bisa dititipkan ke saya. Jadi besok tinggal akad nikah saja nggak harus bayar-bayar. Ini sekalian mau setor formulir yang baru diisi ke kantor KUA."
Ia sempat melihat kearah Mas Sada yang membuang muka dengan wajah masam, ketika Pak Waluyo kembali berbicara, "Sekarang aja biar sekalian, Dek."
Membuatnya mengeluarkan dompet dan mengambil 6 lembar dari 11 lembar uang berwarna merah yang ada di dalam dompet, hasil menguras ATM nya tadi pagi sebelum berangkat ke rumah sakit.
"Enam ratus ribu ya, Pak?" tanyanya pada Pak Waluyo yang mengernyit melihatnya menyerahkan 6 lembar uang berwarna merah.
"Biaya resminya berapa?" Mas Sada kembali berada diantara mereka dan bertanya kearah Pak Waluyo yang sedang bengong melihat uang yang masih disodorkannya.
"Resminya sih memang enam ratus ribu, Mas. Tapi kalau menikahnya di KUA, kalau di luar beda lagi," Pak Waluyo masih melihat kearahnya dengan kening berkerut.
"Tolong terima dulu, Pak," ujar Mas Sada menunjuk kearahnya. "Resmi enam ratus ribu?"
Pak Waluyo mengangguk sambil menerima uang darinya dengan wajah bengong.
"Nanti yang lain menyusul," lanjut Mas Sada. "Urusannya sama saya."
"Oh....," Pak Waluyo mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti, lengkap dengan senyum lebar. "Baik, Mas."
Kini giliran dirinya yang kurang paham, meski akhirnya tahu pasti jika uang yang harus dikeluarkan untuk mengurus persyaratan pernikahan sejatinya tak hanya sebesar enam ratus ribu rupiah. Tapi ia juga tak mampu berbuat apapun. Karena uang di dalam dompetnya bahkan tinggal 5 lembaran merah. Sementara ia masih harus membeli mahar untuk pernikahan besok. Entahlah.
Setelah urusan mengisi formulir selesai dan Pak Waluyo pamit pulang, Mas Sada mendekatinya sambil berkata, "Naik apa kesini?"
"Motor, Mas."
"Motor tinggal disini dulu. Ibu kamu biar diantar pulang sama Pak Cipto. Terus kamu pergi sama Dara untuk persiapan besok."
Ia bahkan masih tak mengerti sampai saat ini tengah berada di dalam lift untuk turun ke parkir basement bersama Teh Dara yang terus saja mengu lum senyum.
"Kamu nggak nanya kenapa saya senyum-senyum?" ujar Teh Dara sambil tertawa ketika mereka tengah berjalan melewati deretan mobil yang terparkir di basement.
"Enggak, Kak," ia menggeleng tak mengerti.
"Panggil Teh aja," ujar Teh Dara sambil memencet remote hingga bunyi khas terdengar dari mobil yang terparkir tepat di depan mereka. Mobil yang berbeda dengan yang pernah dikendarainya sewaktu mengantar Papa Anja yang terkena serangan stroke pertama seminggu lalu.
"Semua orang manggil Teteh ke saya," lanjut Teh Dara sembari melempar remote kearahnya. "Kamu yang bawa ya."
Ia mulai menyalakan mesin dan memakai seatbelt ketika Teh Dara menunjukkan sebuah kartu berwarna hitam dengan tulisan Platinum yang mencolok dan logo Visa di bagian kanan bawah.
Ia hanya tersenyum tak mengerti dan mulai melajukan kendaraan meninggalkan tempat parkir basement.
"Kita buat kalian berdua jadi raja dan ratu sehari. Gimana?" Teh Dara masih tersenyum sumringah. Sementara ia hanya menggelengkan kepala tak mengerti.
"Kita mau kemana Ka eh...Teh?" tanyanya ketika Dara hanya memintanya untuk pergi ke daerah Bundaran HI.
"Belanja dooong," jawab Teh Dara makin sumringah. "Mamak mamak gitu lho, kalau udah urusan belanja belanji pasti hepi," lanjut Teh Dara sambil tertawa senang. "Lumayan...sekalian refreshing."
Membuatnya ikut tertawa, "Belanja apa Teh?"
"Ya buat acara pernikahan kalian besok lah!" jawab Teh Dara sambil mengernyitkan dahi kearahnya. "Gaun, baju, sama printilan. Kalau bingkisan sih udah kupesenin ama temenku. Tinggal kirim tahu beres."
Kini giliran ia yang mengernyit.
"Cukup pakai jas sama kebaya praktis aja kali ya. Biar nggak ribet," lanjut Teh Dara sambil memperhatikan dirinya dari samping. "Jas apa Tuxedo? Hmmm...."
"Jas saya sudah punya Kak," ujarnya sungguh-sungguh. Besok ia berniat memakai jas kesayangan yang sering dipakainya untuk sholat Id. Hasil membeli jas second di Senen yang awalnya sering dipakai saat event-event spesial berlangsung. Seperti jika EO tempatnya bekerja part time mengadakan pameran di hotel-hotel berbintang atau JCC.
Teh Dara mengernyit kearahnya.
"Kemeja putih juga saya ada," ia mendadak teringat dengan kemeja lengan panjang putih entah hadiah dari siapa yang masih tersimpan rapi di dalam kotak kemasannya.
"Peci juga ada," ujarnya lagi. Peci beludru hitam yang juga masih baru pemberian Bang Fahri beberapa waktu lalu.
Membuat Teh Dara makin mengernyit kearahnya. Lalu berkata sambil menggelengkan kepala, "Ini ada budget resmi dari pemerintah pusat, jangan ditolak," diiringi tawa lebar Teh Dara. "Kita beli jas baru buat kamu."
Begitu sampai di pusat perbelanjaan menengah keatas yang dimaksud, Teh Dara langsung mengajaknya menuju sebuah gerai pakaian formal pria ternama di lantai Upper Ground.
"Teh Dara," ia sempat ragu demi membaca nama yang tertulis di atas gerai, persis seperti nama yang sering dibacanya di credit title busana news anchor pria di prime time news, Vvong Hang Tailor. Bisa dipastikan uang di dalam dompetnya takkan cukup untuk membayar pakaian yang hendak dibeli. Malahan uang di dalam dompet, palingan hanya 10% nya dari rata-rata harga pakaian yang dijual disana.
"Eh, ayo!" Teh Dara justru menarik tangannya agar segera memasuki gerai.
"Ya ampun, Daraa?" seorang wanita cantik berpakaian elegan langsung menyambut Teh Dara dengan senyuman. "Apakabar?"
"Baiiik," Teh Dara dan wanita tersebut langsung berpelukan. "Meni sono ih (kangen)."
"Iya, kamu lama nggak kesini. Sada sama anak-anak apakabar?"
"Baik, Alhamdulillah," jawab Teh Dara.
"Lagi mudik nih ceritanya?"
Teh Dara tertawa, "Iya, mendadak mudik. Papa mertua kan masuk rumah sakit."
"Ya ampun," wanita itu menutup mulut tanda terkejut. "Om Yuwono? Sakit apa? Kok kita pada nggak ada yang tahu?"
"Stroke."
"Ya ampun."
"Baru seminggu, emang banyak yang nggak tahu. Wong terakhir Papa sempat ikut acara yang di Hambalang itu kan?"
"Iya bener...bener," wanita itu mengangguk. "Sebulan lalu juga Om kesini masih segar bugar kok sekarang dengar masuk rumah sakit. So sorry...."
Teh Dara tersenyum, "Doakan cepat pulih ya, Mba. Hari Senin rencana Papa mau dipindah ke ME (Mount Elizabeth)."
"Iya, pasti kudoain, semoga cepat sehat seperti sedia kala."
"Aamiin," Teh Dara lalu menarik lengannya. "Make over in adik iparku dong, Mba. Oiya, sori, sampai lupa," Teh Dara tertawa.
"Kenalin nih....Mba Cantika-Cakra, Cakra-Mba Cantika," Teh Dara memperkenalkannya pada wanita bernama Cantika itu.
"Adik ipar?!" Cantika mengernyit sembari memperhatikannya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu dan menyelidik, mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Cowoknya Anja?!"
Teh Dara tersenyum sembari mengangguk.
"Ya ampun, bocah piyik itu udah punya pacar sekarang?!" Cantika tertawa sambil menggelengkan kepala berkali-kali. "Emang boleh sama Om?"
"Udah lolos screening Mas-mas nya belum?" seloroh Cantika kearahnya, kemudian diikuti oleh ledakan tawa Teh Dara dan Cantika.
"Pastinya," jawab Teh Dara. "Udah kutenteng tenteng gini sih udah lolos seleksi lah ya."
"Itu?" Cantika menunjuk wajahnya sambil melongo. "Bonyok begitu hasil screening?!"
Teh Dara tertawa sumbang, "Bisa jadi."
"Ya ampun, Sada," Cantika menggelengkan kepala tanda tak mengerti. "Hari gini masih main hantam."
"Sada apa Tama, nih?" tanya Cantika dengan wajah tak percaya.
Namun Teh Dara masih saja tertawa sumbang sambil berkata, "Ditambah habis kelahi sama saingan berat lagi."
"Ya ampun?" Cantika lagi-lagi menutup mulut dengan tangan tanda terkejut. "Dipa?"
Teh Dara makin keras tertawanya.
"Kamu habis berantem sama Dipa??" ulang Cantika kearahnya sembari menggelengkan kepala. "Bocah....bocah...."
"Enggak, Mba," ia menggeleng dengan rikuh. "Habis jatuh sendiri." lanjutnya sambil berdiri dengan wajah bingung mendengar obrolan tak mengenakkan dua wanita di depannya.
"Penuh perjuangan banget ya kamu deketin Anja," komentar Cantika sambil memperhatikan wajahnya dengan penuh rasa iba.
"Sabar ya anak muda," kali ini suara Cantika terdengar lebih seperti selorohan.
"Kuat dia mah," sambung Teh Dara. "Jagoan."
Cantika menganggukkan kepala sembari menepuk-nepuk bahunya perlahan, "Doaku menyertai mu."
Membuatnya meringis malu sambil mengusap tengkuk yang tiba-tiba terasa tak nyaman.
"Eh, Mas Mue mana nih?" tanya Teh Dara mengalihkan topik pembicaraan.
"Tuh, lagi ada yang konsul," tunjuk Cantika kearah seorang pria berpakaian rapi yang sedang berbicara serius dengan sepasang muda mudi, sebentar....sepertinya ia pernah melihat mereka berdua, tapi...dimana ya?
Beberapa detik kemudian ia baru teringat, jika muda mudi tersebut adalah pasangan selebritis, aktor film papan atas dan seorang penyanyi RnB cantik. Ia masih ingat karena pernah menjadi asisten fotografer saat mereka berdua melakukan pemotretan sebuah project iklan produk elektronik yang diperuntukkan bagi media cetak. Hm, sepertinya sesi pemotretan berlanjut sampai sekarang.
"Cakra?" suara Teh Dara membuyarkan lamunannya.
"I-iya, Teh?"
"Ikut sama Mba Cantika ya, Teteh tunggu disini," ujar Teh Dara sembari berjalan melihat-lihat deretan pakaian yang dipajang.
Ia menganggukkan kepala kemudian buru-buru mengikuti Cantika yang telah lebih dulu berjalan masuk ke ruangan dalam gerai.