
Anja
"Kak, aku boleh nanya nggak?" tanyanya pada Kak Pocut setelah mereka menunaikan sholat Isya berjamaah. Sedangkan Mamak masih melanjutkan dengan tadarus Al Qur'an di dalam bilik.
"Boleh," jawab Kak Pocut sambil tersenyum. "Mau nanya apa?"
"Ma....ini bajuku begini."
Namun sebelum ia sempat melontarkan pertanyaan, Sasa lebih dulu menyeruak di antara mereka sambil merengek-rengek karena tali bajunya terlepas.
"Tinggal diikat," Kak Pocut menggelengkan kepala sembari mengikat tali baju ke belakang punggung Sasa.
"Nah, udah. Sana main lagi."
"Makasih, Ma."
Begitu Sasa kembali asyik bermain boneka Barbie di lantai, dengan sedikit ragu ia bertanya, "Dulu Cak...eh, Agam....," ia belum terbiasa memanggil Cakra dengan nama kecil.
"Pernah dekat sama Mai?" pungkasnya dengan wajah memerah menahan malu.
Kak Pocut menatapnya sambil tersenyum, "Dekat seperti teman saja, Anjani."
"Sering main ke rumah. Sama kayak Salma."
"Belajar bersama."
"Banyakan sama yang lain juga."
"Dulu waktu Agam masih duduk di bangku SD sampai SMP, rumah ini selalu ramai sama anak-anak yang belajar bersama."
"Tapi sejak masuk Pusaka Bangsa Agam jadi sedikit berubah. Sampai akhirnya anak-anak mulai jarang datang ke sini lagi."
"Paling tinggal Salma saja yang masih sering main."
"Yang lain pada nggak tahu kemana."
"Termasuk si Mai."
Ia menganggukkan kepala mencoba mengerti. Tapi masih ada sedikit yang mengganjal. Namun ia jelas tak bisa menunggu sampai hari Jum'at untuk mendengar jawaban dari Cakra.
Jadi, ia harus bertanya pada orang lain.
Yang terpercaya tentunya.
Dan karena selama ini Kak Pocut selalu bersikap baik dan lembut padanya. Sama seperti Teh Dara. Maka dengan menekan rasa malu demi menuntaskan rasa penasaran, ia kembali bertanya.
"Dulu Agam pernah jalan sama Mai ya, Kak?"
"Jalan?" Kak Pocut mengernyit tak mengerti. "Pergi bareng maksudnya?"
"Bukan," ia tertawa. "Ngng....pacaran maksudnya."
"Oh," Kak Pocut tertawa cukup keras dan lama. Sampai-sampai keluar airmata.
"Kakak ngetawain aku," gumamnya sambil merengut.
"Bukan ngetawain Anjani," Kak Pocut buru-buru menghentikan tawanya.
"Kakak ngetawain diri sendiri karena nggak paham kalau jalan itu artinya pacaran," lanjut Kak Pocut sambil menggelengkan kepala.
Ia hanya menunduk malu.
"Anjani," kini Kak Pocut mengusap lengannya lembut. "Terus terang Kakak nggak pernah tahu Agam pernah jalan sama siapa saja."
"Selama ini Agam nggak pernah memperkenalkan secara khusus teman-teman perempuannya."
"Semua sama."
"Nggak ada yang sengaja diperkenalkan spesial pada Kakak atau Mamak."
"Baru Anjani yang Agam perkenalkan pada kami."
"Itu saja membuat kami kaget karena memperkenalkannya pakai cara yang nggak biasa," gumam Kak Pocut sambil menggelengkan kepala.
Ia jadi tersenyum sendiri. "Memang Agam ngenalin aku nya gimana Kak?"
Kak Pocut menghela napas sambil menggelengkan kepala, "Dia bawa-bawa foto USG buat dikasih lihat ke kami."
"Kakak sampai mau pingsan begitu tahu itu foto USG milik siapa."
Tapi ia justru terus tersenyum senang. Demi membayangkan Cakra membawa-bawa print out USG miliknya untuk diperlihatkan pada Mamak dan Kak Pocut.
Tindakan sederhana yang membuatnya tersanjung. Karena itu berarti Cakra tak lari dari masalah. Seperti yang sempat dikhawatirkannya usai pertemuan awkward mereka di taman kota. Ketika ia dengan amarah memuncak melemparkan sejumlah test pack tepat mengenai wajah Cakra.
"Tolong maafkan Agam ya Anjani," kini Kak Pocut memandanginya iba. "Sudah membuat Anjani jadi begini."
"Semoga setelah Agam masuk kerja nanti bisa lebih bertanggungjawab sama Anjani."
Namun ia menggelengkan kepala, "Enggak, Kak. Kami berdua sama-sama salah. Bukan cuma Agam."
Kalau Kak Pocut sudah minta maaf begini, suasana hatinya pasti langsung memburuk. Seolah kebahagiaan yang dirasakannya mutlak menjadi tanggung jawab Cakra.
Membuatnya memilih untuk masuk ke dalam kamar dengan alasan sudah mengantuk.
"Kak Anja mau bobo sekarang?" tanya Sasa tak percaya. "Elsa sama Anna kan belum minum teh bersama?!"
Ia tertawa, "Kakak mau ganti baju dulu ya. Nanti habis ini Elsa datang ke night tea party nya Anna."
"Wah?" kedua bola mata Sasa membeliak takjub. "Keren banget nama pestanya Kak? Apa tadi? Nait ti...."
"Night tea party," jawabnya sambil tersenyum. "Tunggu ya."
Ia pun segera masuk ke dalam kamar Cakra. Kemudian mulai membuka lemari milik Cakra. Memilih-milih baju yang memungkinkan untuk dipakainya.
Ia memang sengaja tak membawa baju ganti. Sejak awal berniat ingin mengenakan baju milik Cakra. Karena itu membuatnya merasa tenang dan nyaman. Serasa berada dalam dekapan yang punya baju, begitu?
Sambil tersenyum-senyum sendiri tangannya mulai menarik kaos warna putih dan celana pendek warna hitam yang terlihat paling menarik. Kemudian melepas dress yang sedang dipakai. Dan menggantinya dengan baju milik Cakra yang barusan dipilih.
Benar saja. Aroma maskulin Cakra seolah tertinggal dalam kaos yang kini telah dikenakannya. Membuat kedua lengannya spontan memeluk diri sendiri. Mencoba merasai jika sang empunya baju sedang merengkuhnya.
Miss you like crazy.
"Tiga hari lagi kamu baru pulang", gumamnya sambil terus memeluk diri sendiri. "Masih lama."
Tok! Tok! Tok!
Namun kemelankolisannya harus terhenti karena sebuah ketukan di pintu.
"Anjani, ini Mamak."
Ia pun buru-buru membuka pintu, "Iya, Mak?"
"Boleh Mamak masuk?"
Ia menganggukkan kepala sambil membuka pintu kamar lebar-lebar. Kemudian mereka sama-sama mendudukkan diri di atas tempat tidur.
"Mamak sudah selesai buat ini," ujar Mamak sambil mengangsurkan sepasang sepatu bayi dan selimut yang sama-sama berwarna putih.
"Mamak....," ia spontan memeluk Mamak sambil berbisik haru, "Makasih banyak."
"Nanti tinggal buat jaket, topi, sama selimut satu lagi buat ganti," Mamak tersenyum sambil mengusap punggungnya lembut.
"Nanti ajari aku merajut ya Mak."
"In syaAllah," Mamak menganggukkan kepala. Kemudian menggenggam erat tangannya. Lalu mengusap perlahan.
"Anjani nggak bawa baju ganti?" tanya Mamak yang keheranan melihatnya memakai kaos milik Cakra.
"Enggak, Mak," jawabnya sambil tersipu. "Memang sengaja mau pakai baju Cak...eh...Agam...."
Mamak tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Anjani sudah ngantuk?"
Ia menggelengkan kepala, "Belum terlalu."
"Mamak mau cerita sedikit."
Ia menganggukkan kepala tanda setuju.
Namun Mamak justru menatapnya dengan mata berkaca-kaca seraya mengusap pipinya. Hingga permukaan telapak tangan yang kasar dan sedikit keriput terasa kontras menyentuh pipinya.
"Tadi Mamak dengar, Anjani bertanya tentang Mai ke Pocut."
Ia menganggukkan kepala sambil tersipu malu.
Mamak masih mengusap pipinya dengan lembut. Membuat pipinya serasa sedang diparut.
"Semua orang punya masa lalu," kali ini Mamak beralih menggenggam tangannya.
"Ada yang baik, ada yang buruk."
"Kadang menyenangkan, tapi yang menyedihkan juga pasti ada."
"Iya, Mak," ia menganggukkan kepala tanda mengerti. "Aku nggak permasalahin Mai kok. Cuma penasaran aja hehe...."
"Soalnya Cak...eh...Agam, dulu kalau marah suka manggil aku Maemunah Maemunah. Kan kesel Mak?"
Kedua bola mata Mamak terbelalak, "Agam pernah marah sama Anjani?"
"Eh, bukan marah sih. Apa ya istilahnya....," ia berpikir keras berusaha menemukan kalimat yang tepat.
"Marah karena apa?"
"Bukan marah sih, Mak," ia mendadak tersipu malu. "Tapi ngutuk-ngutuk gitu."
"E...aduh," ia menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. "Apa ya?"
"Kapan Agam marah-marah dan mengutuk-ngutuk Anjani?" tanya Mamak dengan suara bergetar.
"Udah lama Mak," ia mendadak tertawa malu. "Lamaaa banget. Waktu pertama ketemu Agam gitu deh Mak."
"Waktu pertama kali ngobrol berdua."
"Waktu aku lari dari GO....," namun ia mendadak tercekat. "Mmm....udah lama banget pokoknya."
"Sebelum tahu kalau aku lagi.....," ia kembali menghentikan kalimat dengan wajah malu.
Kemudian buru-buru meralat, "Kalau sekarang sih Agam udah nggak pernah marah Mak. Hehe....."
"Anjani langsung kasih tahu Mamak kalau Agam bersikap buruk."
Ia menganggukkan kepala dengan cepat berkali-kali.
"Sekarang Mamak mau cerita tentang masa lalu keluarga kami...."
Ia segera menghentikan anggukan kepala dan mulai memandangi wajah Mamak lekat-lekat. Menunggu dengan harap-harap cemas tentang masa lalu apa yang akan diceritakan.
"Ayah Agam dulunya...."
"Oh," ia tersenyum sembari menganggukkan kepala. "Kalau yang ini, aku udah tahu Mak."
"Anjani sudah tahu?" Mamak kembali terbelalak heran. "Siapa yang cerita? Agam saja belum tahu."
Ia menggelengkan kepala, "Bukan Agam yang cerita. Tapi aku tahu sendiri dari file di portal berita online."
"File portal berita online?" Mamak mengulangi kalimatnya dengan wajah bingung. "Itu sejenis informasi terbatas atau apa?"
Ia tertawa, "Bukan, Mak. Semua orang bebas mengaksesnya kok."
"Tinggal klik....keluar deh beritanya."
Mamak semakin mengerutkan dahi, "Semua orang bisa tahu? Bagaimana bisa?"
"Namanya juga berita di internet Mak. Semua orang bisa tahu."
Mamak masih saja mengerutkan dahi, "Memang apa yang ditulis di berita internet?"
Ia meringis kaku, "Kalau Ayah Agam panglima GNM yang tew...maksudnya meninggal waktu operasi gabungan TNI-POLRI?"
Mamak tersenyum sambil mengusap tangannya, "Iya, berita itu benar."
"Jadi Anjani sudah tahu tentang Ayah Agam yang di cap sebagai pemberontak?"
Ia menganggukkan kepala.
"Keluarga Anjani juga tahu?"
Ia tersenyum, "Pasti juga udah tahu. Nggak mungkin Mas Tama sama Mas Sada nggak tahu."
"Kalau Papa dan Mama Anjani?"
Ia masih tersenyum, "Mama nggak pernah ngurus yang begitu, Mak. Kalau Mama mah yang penting aku seneng. Ya udah. Ikutin aja."
"Tapi kalau Papa...," ia menundukkan kepala karena teringat Papa. "Papa nggak sempat kenalan sama Cakra. Cuma pernah ketemu sekali. Habis itu keburu Papa kena stroke."
Mamak semakin erat menggenggam tangannya. "Keluarga kami punya masa lalu yang tak begitu baik."
"Kalau tak mau dibilang buruk."
"Semoga Anjani ikhlas menerima masa lalu kami."
Ia tersenyum menenangkan, "Yang penting kan sekarang, Mak. Lagian waktu kejadian itu, Cak...eh...Agam masih bayi kan? Belum ngerti apa-apa."
Kini Mamak membelai rambutnya, "Terimakasih, Anjani sudah mau menerima Agam apa adanya."
"Sabar sedikit ya Anjani. Semoga Allah karuniakan keluarga kecil Agam dan Anjani rezeki yang halal, berkah, melimpah."
"Aamiin," bisiknya lirih sambil menundukkan kepala karena haru.
"Anjani jangan ragu bilang ke Mamak. Kalau Agam bersikap kasar atau memperlakukan Anjani dengan tak baik."
"Nanti biar Mamak ingatkan Agam."
"Karena para pria di keluarga kami hampir semua memiliki watak yang keras. Adatnya juga keras."
"Mamak khawatir Agam juga begitu."
"Harus langsung diingatkan jangan sampai kebablasan lalu menyesal."
Ia tersenyum sambil mengangguk-angguk memandang Mamak.
Kemudian Mamak beralih mengusap perutnya, "Rewel nggak cucu Mamak yang satu ini?"
Ia menggelengkan kepala.
"Anjani sudah mulai pegal-pegal ya? Susah tidur?"
Ia tertawa.
"Kakinya bengkak nggak?"
Ia langsung memperlihatkan kakinya yang tak mengalami perubahan berarti. Masih terlihat sama seperti sebelum hamil.
"Minggu depan sudah bulan Ramadhan...."
"Aku puasa jangan, Mak?"
"Anjani yang tahu kondisi tubuh sendiri. Mungkin bisa tanya ke dokter yang lebih paham ilmunya untuk menguatkan," Mamak masih mengusap perutnya sambil tersenyum.
"Iya, Mak. Minggu depan sebelum puasa ada jadwal periksa ke dokter. Nanti sekalian aku tanyain."
"Dulu Mamak waktu hamil Agam juga pas bulan Ramadhan."
"Terus Mamak puasa?" tanyanya ingin tahu.
Mamak menggelengkan kepala, "Kalau nggak salah ingat sempat shaum (puasa) sehari dua hari. Selepas itu bayar fidyah."
"Fidyah?"
"Nanti tolong ingatkan Agam untuk bayar fidyah kalau memang Anjani nggak bisa shaum."
Ia menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Sekarang yang penting Anjani dan bayinya sehat. Nanti melahirkan lancar, sehat, selamat."
"Aamiin," gumamnya sambil tersenyum.
"Sekarang Anjani istirahat saja. Sudah malam," Mamak beranjak dari duduknya.
"Aku tadi janji mau main tea party sama Sasa, Mak," ingatnya sambil tertawa.
Namun begitu keluar kamar, ternyata Sasa sudah tertidur di depan TV. Membuatnya mendudukkan diri di sebelah Sasa lalu membelai kepala kecil itu perlahan.
"Nungguin Kak Anja sampai ketiduran ya?" bisiknya sambil tertawa. "Besok ya kita main tea party nya."
"Memang sudah ngantuk dari tadi Anjani," seloroh Kak Pocut yang sedang membaluri tangan dan kaki Sasa dengan lotion anti nyamuk.
"Kecapekan main seharian lari-larian terus."
Ia masih membelai rambut Sasa ketika Kak Pocut bertanya, "Di kamar banyak nyamuk nggak Anjani? Dari sore sudah dipasang obat nyamuk."
"Enggak kayaknya Kak."
"Mau pakai lotion?" tawar Kak Pocut seraya mengangsurkan satu sachet lotion anti nyamuk.
Namun karena tak biasa memakai, ia hanya menggelengkan kepala. "Enggak usah Kak."
"Nanti biar nggak berisik, pakai kipas angin yang di bawah saja."
"Kipas angin gantungnya belum sempat diperbaiki. Bunyi kletek-kleteknya makin keras."
"Iya, Kak. Makasih."
Kemudian ia beranjak ke kamar. Lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Memeluk guling yang terasa dingin karena lama tak ditempati.
Sembari pikirannya mengingat semua perkataan Mamak tadi. Mungkin benar apa yang Teh Dara katakan dulu waktu ia dirawat di Rumah Sakit.
"Rezeki baby karena orang-orang di sekeliling kamu dilembutkan hatinya oleh Sang pemilik hati."
"Kenapa Teteh bilang ini rezeki, karena nggak semua orang yang mengalami masalah yang sama seperti kamu....juga dikelilingi oleh orang-orang yang berhati lembut."
"Yang mensupport apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaannya."
Keterusterangan Mamak tentang masa lalu Ayah Cakra. Juga sikap lembut Mamak yang membuatnya merasa seperti sedang bicara dengan Mamanya sendiri. Membuat hatinya mendadak penuh diliputi kebahagiaan.
Sembari kepalanya mengingat wajah seseorang yang sudah dua hari tak ditemuinya.
"Kamu lagi apa di sana?"
"Kangen sama aku nggak?"
***
Keterangan :
Fidyah. : diambil dari kata "fadaa" artinya mengganti atau menebus.
Bagi beberapa orang yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa dengan kriteria tertentu, diperbolehkan tidak berpuasa serta tidak harus menggantinya di lain waktu. Namun, sebagai gantinya diwajibkan untuk membayar fidyah.