Beautifully Painful

Beautifully Painful
74. Mulai Membaik Atau Tetap Sama?



Cakra


Telinganya bisa mendengar dengan jelas keriaan Anja dan Teh Dara yang sedang bercengkerama di ruang tengah. Saling bercerita dengan suara yang cukup keras dan heboh. Bahkan sesekali diselingi gelak tawa. Terdengar begitu menarik dan menyenangkan.


Jauh berbeda dengan dirinya yang sejak dua puluh menit lalu hanya bisa duduk diam di kursi teras samping. Memperhatikan deretan tanaman bunga milik Mama Anja yang terawat dengan baik hingga terlihat begitu indah.


Namun dengan background sosok Mas Sada yang sedang merokok. Sambil sesekali menyesap kopi buatan Teh Dara. Lengkap dengan sepasang mata yang sedari tadi hanya terfokus pada layar ponsel. Mengacuhkannya dalam diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Awalnya ia berbaik sangka, sempat mengira jika Mas Sada masih mengalami jetlag. Karena baru mendarat dari Singapura dan menyempatkan untuk mampir kemari sebelum nantinya kembali terbang ke Jogja.


Ya, meski hanya sekitar 45 menit perjalanan menggunakan pesawat. Tapi mungkin saja kan? Terlebih jika ditambah dengan kondisi tubuh dan pikiran yang lelah karena tekanan pekerjaan sebagai Wadiresnarkoba. Kombinasi sempurna yang bisa melatarbelakangi Mas Sada hanya diam membisu. Malas untuk berbicara. Terlebih padanya.


Meski sebenarnya ia ingin berbasa-basi untuk memecah kesunyian. Namun sama sekali tak memiliki ide tentang topik yang aman sekaligus menyenangkan untuk dibahas.


Harus aman agar tak memancing amarah Mas Sada. Dan menyenangkan, ini yang paling sulit. Karena semenyenangkan apapun suatu hal, akan berubah menjadi kurang mengenakkan jika lawan bicaranya adalah Mas Sada.


"Teteh kemarin habis i...."


"Ya, ampun. Seru banget..."


"Iya, malahan...."


"Ih, Teteh tahu nggak kalau...."


"Masa sih, Ja?"


"Iya lagi, kan...."


Suara riang Anja dan Teh Dara masih bersahutan memenuhi gendang telinga. Membuatnya makin tertarik untuk ikut bergabung ke ruang tengah.


Tapi tentu tak mungkin ia nyelonong pergi begitu saja, sementara Mas Sada masih duduk manis di sini bukan? Mau menambah masalah baru dengan bersikap tak sopan pada kakak ipar?


Dan semua ketidakpastian ini membuatnya menyerah. Menggerakkan tangannya untuk mengambil ponsel dari dalam saku. Saking sudah merasa bosan hanya memandangi taman halaman samping dalam suasana membisu.


Namun baru juga jarinya menekan tombol power untuk menyalakan ponsel, Mas Sada tiba-tiba berdehem.


"Urusan sama Om Raka beres?"


Pikirannya terlebih dahulu harus mengingat siapa Om Raka, karena nama yang terdengar cukup asing. Namun sejurus kemudian ia mulai paham. Jika yang dimaksud oleh Mas Sada adalah Pak Raka dari PT. Selera Persada, usaha kuliner milik Mama Anja.


"Belum. Kemarin baru sekali ketemu. Masih perkenalan," jawabnya sedikit lega. Karena pada akhirnya Mas Sada bersuara juga. Dipikir tadi sampai pulang mereka akan tetap berdiam diri.


"Kemungkinan minggu ini team QC (quality control) melihat langsung proses produksi," lanjutnya lagi.


"Target berapa lama?" tanya Mas Sada datar dengan asap putih mengepul mengelilingi udara di atas mereka.


"Kalau dari rundown yang kemarin disepakati kurang lebih empat sampai lima minggu."


"Waktu segitu sampai keluar SOP?" tanya Mas Sada lagi. Persis seperti sedang melakukan job interview dengan interviewer killer. Terlalu resmi dan kaku.


"Iya," ia menganggukkan kepala.


"Kalau dari pembicaraan dengan Pak Raka kemarin, sampai keluar food cost," tambahnya.


"Menurut kamu ini prospektif nggak?" tanya Mas Sada di luar perkiraan.


Membuatnya meringis tak mengerti, "Saya nggak tahu. Sama sekali nggak punya pengalaman."


"Nggak pengalaman bukan berarti nggak bisa baca peluang kan?" tanya Mas Sada lagi.


"Kamu bukannya sekarang kerja di bidang kuliner? Minimal bisa baca peluang sebuah produk bisa eksis nggak di target market tertentu."


Ia sempat tertegun sebentar, karena pembicaraan Mas Sada jauh di luar ekspektasi. Secara sejak awal, dirinya sudah diliputi oleh kekhawatiran jika Mas Sada akan meluapkan amarah akibat janji yang telah tercederai. Namun ternyata Mas Sada justru membahas hal lain.


"Dara cerita kalau kamu kerja di cafe."


Ia menganggukkan kepala, "Cuma waiter Mas. Belum bisa menganalisa sampai sejauh itu."


"Belajar dong. Kamu bisa sekalian cari ilmu di tempat kerja. Nggak melulu cari duit."


"Jadi kalau suatu saat dibutuhkan, udah siap sama ilmunya."


"Karena kalau secara konsep kamu udah matang. Itu lebih mudah."


"Tinggal prakteknya."


Ia benar-benar tak mengerti ke arah mana pembicaraan Mas Sada menuju. Karena kini Mas Sada bahkan mulai membicarakan tentang kemungkinan untuk membuka unit usaha baru di bawah bendera PT. Selera Persada milik Mama Anja. Selain Dapur Mitoha dan Raja Raos yang memang telah eksis selama lebih dari satu dasawarsa.


"Masih belum banyak orang yang menyediakan produk makanan khas Melayu kecuali masakan Padang," ujar Mas Sada.


"Memang sih, akhir-akhir ini di Jakarta Bandung banyak menjamur kedai mie Aceh atau kopi Aceh dan sejenisnya."


"Tapi menurutku belum menggali semua kelezatan makanan yang ada."


"Menurut kamu, bisa nggak kita buat makanan Aceh jadi friendly di lidah orang kebanyakan seperti masakan Padang?"


Ia masih mendengarkan penuturan Mas Sada sambil sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan, ketika Teh Dara keluar dari ruang tengah dan muncul di antara mereka berdua.


"Eleuh...eleuh...bapak-bapak masih asyik ngobrol ternyata," seloroh Teh Dara sambil mendudukkan diri di sebelah Mas Sada. Yang langsung mematikan rokok demi melihat Anja juga menyusul duduk di sebelahnya.


"Udah mau setengah lima nih," Teh Dara menunjuk pergelangan tangan kiri tempat arloji berada. "Khawatir kena macet di jalan."


Mas Sada menganggukkan kepala, "Kadonya udah?"


"Udah dooong," jawab Teh Dara sembari saling melempar senyum dengan Anja yang menganggukkan kepala penuh antusiasme.


"Ya udah," Mas Sada merubah posisi duduk. Kemudian beralih ke arah Anja, "Pak Cipto belum datang?"


"Belum," jawab Anja seraya menggelengkan kepala. "Paling besok Subuh."


"Kamu udah pesan Taxi?" Mas Sada mengerling ke arah Teh Dara yang menggeleng.


"Ini baru mau," jawab Teh Dara seraya meraih ponsel.


Membuatnya memiliki ide yang entah cemerlang entah keliru, namun sudah keburu terucap, "Biar saya aja yang antar ke bandara."


Tak lama kemudian, Anja dan Teh Dara mulai saling berpelukan. Sementara ia membantu mengeluarkan barang yang akan dibawa ke Jogja. Tak banyak memang. Hanya beberapa tas berisi oleh-oleh.


"Makasih banyak Teh, udah mampir ke sini," gumam Anja yang masih memeluk erat Teh Dara.


"Iya, sama sama," Teh Dara mengusap punggung Anja lembut. "Yang penting kamu jaga kesehatan. Jangan neko neko."


"Papa di sana juga lagi berusaha keras untuk sembuh," lanjut Teh Dara. "Biar bisa kumpul lagi."


Ia sedang membantu menaikkan barang ke atas kendaraan ketika dari sudut mata menangkap bayangan Anja yang tengah berpelukan dengan Mas Sada.


Ketika semua telah siap untuk berangkat, Anja tiba-tiba berseru, "Teteh....lupa...."


"Apa?" tanya Teh Dara bingung.


"Tunggu sebentar."


Anja buru-buru masuk ke dalam rumah. Membuatnya mengernyit tak mengerti. Namun ketika hendak menyusul ke dalam guna mencari tahu, Anja telah lebih dulu keluar sembari tangan kanannya membawa sebuah kotak yang sangat dikenal.


"Ini buat dibawa ke Jogja Teh," ujar Anja penuh semangat. "Ayam tangkap masih hangat, fresh from the oven."


"Mamak baru aja bikin. Pas baru matang pas kita mau pulang."


"Belum kesampaian buat nyoba seporsi penuh kan?" seloroh Anja sambil menyerahkan sekotak ayam tangkap pada Teh Dara.


"Dulu waktu di rumah sakit cuma sempat icip sedikit," tambah Anja lagi.


"Wah, serius? Asyiiik, dapat rezeki," jawab Teh Dara yang dengan gembira menerima kotak dari tangan Anja.


"Ini semua serius?" tanya Teh Dara sedikit ragu.


"Adaaaa," jawab Anja cepat. "Tenang aja, tadi aku dibawain banyak sama Mamak."


"Oke deh, makasih ya Anja sayang...."


Dan ketika Teh Dara mulai menaiki kendaraan, sementara Mas Sada masih bercakap-cakap dengan Mang Jaja, ia sempatkan berbisik, "Aku antar Mas Sada dulu."


Anja tersenyum mengangguk dengan mata berbinar, "Hati-hati di jalan. Jangan ngebut."


Ia pun balas tersenyum. Namun dengan hati berdebar saking sukacitanya mendengar jawaban Anja. Hanya sederet kalimat biasa yang sering diucapkan oleh banyak orang. Tapi kali ini terasa begitu berbeda karena Anja yang mengucapkannya. Lengkap dengan tatapan penuh bintang. Terasa nyess di hati.


Sekitar setengah jam kemudian, ia telah melajukan kemudi memasuki gerbang tol Kembangan Utara. Untuk melewati Jl. Tol JORR (Jakarta outer ringroad). Dengan arus lalu lintas yang terpantau cukup lancar.


Sementara Mas Sada dan Teh Dara asyik bercengkrama. Sembari sesekali Teh Dara mengikutsertakannya dalam arus pembicaraan dan jokes lucu. Ia pun hanya menjawab dan menimpali seperlu. Selebihnya konsentrasi pada jalanan di depan.


Namun kendaraan mereka sempat tertahan selama hampir dua puluh menit lamanya di KM 22 Tol Bandara. Akibat ada satu unit bus terguling yang melintang di tengah jalan dan belum di evakuasi.


Tapi untungnya tak menjadikan mereka terlambat sampai di Bandara. Karena kini ia telah menepikan kemudi ke sebelah kiri. Ke lobby terminal 3 keberangkatan domestik.


Dan ketika Teh Dara turun dari mobil terlebih dahulu sembari menerima panggilan telepon, Mas Sada buru-buru mencekal lengannya yang hendak keluar untuk membantu menurunkan barang.


Dengan tanpa ekspresi Mas Sada bertanya, "Kamu masih pegang janji waktu di rumah sakit?"


Ia hanya bisa menelan ludah.


Mas Sada langsung menghembuskan napas panjang begitu mendapati reaksi kagetnya. Persis seperti maling yang terpergok oleh pemilik rumah.


"Kemarin kamu berkelahi sama teman-teman Anja di rumah?" tanya Mas Sada lagi yang dalam sekejap berubah wujud dari kakak ipar kaku menjadi reserse handal.


"Waktu itu saya...."


"Dengar," Mas Sada sengaja memelankan suara sambil memperhatikan Teh Dara yang masih sibuk menerima telepon.


"Urusanku lagi banyak. Kamu jangan ikut nambahin!"


Ia menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Sejak awal memang nggak boleh percaya sama kucing garong. Sementara ada ikan segar di depannya," gumam Mas Sada sinis.


"Sekarang gini," Mas Sada kembali memperhatikan Teh Dara dengan gelisah.


"Terserah kamu mau menjalani pernikahan seperti apa."


"Tapi satu!" Mas Sada mengangkat telunjuk tepat di depan wajahnya.


"Jangan sampai Anja terluka!"


"Kalau kamu ingkar lagi di sini....," Mas Sada menatapnya tajam.


"Aku rasa kamu tahu apa akibatnya!"


Ia cepat-cepat menganggukkan kepala tanda mengerti. Ia mencintai Anja. Tak mungkin melukainya.


"Aduuuh," seloroh Teh Dara yang berjalan menghampiri usai menerima telepon.


"Masih asyik ngobrol aja nih berdua. Udah best friend nih ceritanya," kerling Teh Dara ke arah Mas Sada yang buru-buru menjaga jarak dengannya dengan rahang mengeras. Kemudian keluar dari mobil.


Ia pun segera menyusul keluar untuk membantu menurunkan barang.


"Titip Anja ya, Cakra....," ujar Teh Dara sambil tersenyum setelah semua barang diturunkan dan bersiap memasuki gate.


"Jangan lupa jadwal periksa ke dokter. Sama asupan nutrisi dijaga," lanjut Teh Dara seraya menepuk lengannya. Sementara Mas Sada telah berjalan lebih dulu di depan. Tak menghiraukannya sama sekali.


Ia pun menganggukkan kepala balas tersenyum, "Baik, Teh."


Dari bandara ia langsung pulang ke rumah. Setelah sebelumnya menyempatkan diri menelepon Anja. Untuk bertanya jika menginginkan sesuatu. Ia bisa mampir sebentar. Tapi Anja menolak.


"Pulang aja deh. Banyak makanan di rumah."


Membuatnya melajukan kemudi dengan kecepatan maksimum agar bisa cepat sampai di rumah. Dan benar saja, begitu sampai, Anja telah menyambutnya di depan pintu sambil tersenyum manis.


"Nungguin?" tanyanya balas tersenyum.


Anja menganggukkan kepala, "Makan yuk. Lapar nih."


Namun ia harus mencuci tangan dan kaki terlebih dahulu. Dan begitu sampai di meja makan, mendapati Anja tengah melahap nasi putih dengan lauk ayam tangkap buatan Mamak. Bahkan sampai menambah nasi sebanyak dua kali. Kejadian sederhana yang membuat acara makan terasa kian menyenangkan.


Usai makan ia pergi ke Masjid untuk menunaikan ibadah sholat Isya. Kemudian menyempatkan diri ikut duduk di pos jaga. Menyapa Pak Karman dan Mang Jaja yang sedang asyik ngobrol membicarakan banyak hal.


Namun ketika ia mulai larut dalam obrolan seru sambil sesekali tergelak, telepon di pos jaga berdering. Yang langsung diangkat oleh Pak Karman.


"Den, dicari Neng Anja," begitu kata Pak Karman seraya menutup telepon.


Membuatnya buru-buru pamit untuk masuk ke dalam rumah. Dan mendapati Anja tengah duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.


Ia pun segera mendudukkan diri di sebelah Anja. Dan sebelum sempat bertanya, Anja telah mengangsurkan sebuah kotak lumayan besar berwarna ungu muda dengan pita senada. Serta kotak yang lebih kecil berwarna merah muda di atasnya.


Ia masih mengernyit heran ketika Anja berkata, "Ini kado dari Mas Tama sama Mas Sada."


"Oh," ia tersenyum mengerti. "Mau dibuka?"


"Buat kamu," jawab Anja balas tersenyum.


Ia menunjuk dadanya sendiri sambil mengerutkan dahi tak mengerti.


"Mau dibukain?" tanyanya masih tak mengerti.


"Bukan mau dibukain," Anja tertawa. "Tapi ini kado buat kamu."


"Aku udah punya, malah dikasih lagi beginian. Jadi double kan?" lanjut Anja dengan senyum terkembang.


"Emang kamu tahu apa isinya?" ia balik bertanya sambil tertawa. "Dibuka aja belum."


"Kalau isinya gaun mau dikasih ke aku juga?" selorohnya seraya menggelengkan kepala.


"Tanpa dibuka juga udah tahu apa isinya!" cibir Anja sembari memutar bola mata.


"Kamu sejenis cenayang?" tawanya kian meledak.


"Udah, bawel ah!" sungut Anja dengan wajah cemberut. "Intinya itu buat kamu!"


Sembari terus menggelengkan kepala ia pun menarik simpul pita dan mulai membuka kotak. Yang begitu melihat isinya, langsung membuat gelengan kepalanya makin menjadi.


Kotak yang lumayan besar berwarna ungu muda ternyata berisi sebuah kardus putih bergambar laptop warna silver yang terbuka setengahnya.


Dengan sederet tulisan warna hitam di sisi kardus bagian depan. Yang membuatnya terkesiap karena jelas salah satu jenis barang paling mustahil untuk dimiliki.


Sementara kotak yang lebih kecil, berisi kardus warna hitam bergambar sebuah ponsel pintar dengan logo buah yang ujungnya tergigit separuh. Lagi-lagi jenis barang tak terjangkau baginya.


"Ja?" ia menggelengkan kepala tak setuju. Karena dua barang canggih ini adalah kado ulangtahun dari para kakak tercinta untuk Anja.


Tapi Anja bersikeras, "Ponsel kamu udah harus ganti tuh!"


"Lagian sebentar lagi kamu kuliah," lanjut Anja sembari menyandarkan kepala di bahunya.


"Nggak mungkin pakai laptop fasilitas sekolah keluaran empat tahun lalu kan??" cibir Anja sambil menggonta-ganti channel televisi. Sama sekali tak meladeni protesnya.


***


Keterangan :


Food Cost (FC) : adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi makanan (atau minuman) dengan standar resep tertentu hingga siap dijual per satu porsi