
Cakra
Ia baru saja selesai menunaikan sholat Dzuhur dan kembali ke ruang perawatan. Dimana Ceu Mar dan Bidan Karunia terlihat sedang memasang berlapis kain di atas tempat tidur Anja.
"Kenapa Mak?" tanyanya heran ke arah Mamak yang sedang mengusap-usap punggung Anja di atas tempat tidur lain yang kosong.
"Barusan sudah bukaan 9," jawab Mamak setengah berbisik. "Bu bidan sedang menyiapkan tempat."
Ia mengangguk tanda mengerti. Lalu mengambil alih mengusap-usap punggung Anja.
"Haus," bisik Anja lirih.
Membuatnya membantu Anja untuk duduk. Kemudian mengangsurkan segelas air putih dengan sedotan.
"Tempatnya sudah siap," ujar Bidan Karunia dengan wajah sumringah.
"Sudah bisa ditempati," lanjut Bidan Karunia sembari menyiapkan peralatan.
"Nanti kalau kontraksinya sudah semakin sering. Kasih tahu ibu ya, cantik," pungkas Bidan Karunia sembari menunjuk ke arah jam dinding. Yang saat ini menunjukkan pukul 12.50 WIB.
"Kemungkinan setengah jam lagi bukaannya sudah penuh."
"Nggak usah nunggu Ashar ya. Biar gangsar," seloroh Bidan Kurnia dengan wajah meyakinkan.
Setelah Bidan Karunia keluar ruangan, Anja kembali berbisik di telinganya, "Mau ke kamar mandi."
Ia menganggukkan kepala.
"Ingin buang air kecil atau air besar, cantik?" Ceu Mar ikut memanggil Anja dengan sebutan cantik.
Sebutan yang sangat pantas memang, batinnya dalam hati. Karena meski sedang menahan rasa sakit akibat kontraksi, wajah Anja justru terlihat makin bersinar bak pualam. Cantik sekali.
Anja hanya mengangguk lemah menjawab pertanyaan Ceu Mar.
"Ini....kalau mau buang air kecil, pakai ini," Ceu Mar menyerahkan sebuah pispot berwarna putih. "Biar nggak susah."
Ia pun menerima pispot dari tangan Ceu Mar.
Namun begitu masuk ke dalam kamar mandi, Anja langsung menyuruhnya keluar.
"Bisa sendiri?" tanyanya tak yakin. Karena Anja terlihat sudah sangat kerepotan.
Anja mengangguk lemah.
"Aku bantuin."
Tapi Anja menggelengkan kepala sambil mendelik, "Malu tahu!"
Ia hanya bisa terkekeh. Merasa geli karena Anja masih bisa bersikap galak di saat menegangkan seperti sekarang ini.
Ia pun menunggu di depan pintu kamar mandi dengan cemas. Karena Anja tak kunjung keluar.
"Ja?" panggilnya tak sabar.
"Iya! Iya! Sebentar!" gerutuan Anja sontak membuatnya bernapas lega.
"Kau tak boleh panik," tiba-tiba terdengar Mamak bersuara. "Nanti Anjani bisa ikut terbawa panik. Bahaya."
Ia mengangguk tanda mengerti. Bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka.
"Udah?" tanyanya seraya mengambil alih pispot yang telah bersih dari tangan Anja.
Anja menganggukkan kepala.
Kemudian ia merengkuh lengan Anja. Membantu menaiki tempat tidur. Hingga Anja berbaring dengan posisi miring ke kiri.
Ia pun kembali mengusap-usap pinggang Anja hingga ke punggung. Sementara Mamak melangkah keluar. Mungkin mencari udara segar.
"Cakra," bisik Anja lirih.
"Ya?" ia mendekatkan diri ke wajah Anja.
"Kenapa?"
"Mau minum?"
"Atau mau ke kamar mandi lagi?"
Tapi Anja menggelengkan kepala.
"Maafin aku ya," bisik Anja dengan mata berkaca-kaca.
"Selama ini sering ja...."
"Sssttt," ia meletakkan telunjuk di bibir Anja.
Lalu dengan cepat segera menunduk. Menyatukan wajah mereka berdua. Dalam dan lama. Sampai ia bisa mencecapi rasa asin yang berasal dari airmata Anja.
"I love you," bisiknya seraya mencium kelopak mata Anja yang dipenuhi airmata.
"Always."
"Forever."
***
Anja
Ia menggigit bibir keras-keras. Masih terasa sisa panas akibat sengatan tak terduga yang dilakukan Cakra barusan. Namun tetap tak cukup berhasil untuk menahan tangis. Karena kini ia kembali terisak usai mendengar pernyataan cinta yang diucapkan Cakra.
"Kita lalui ini sama-sama," bisik Cakra seraya mencium kelopak matanya yang satu lagi.
Membuat ingatannya kembali melayang pada saat ia memasuki Retrouvailles dalam kondisi paling kacau.
"Kenapa? Habis putus?"
Seringai menyebalkan tanpa empati Cakra bahkan belum lekang dari ingatan.
Tapi setelah itu kejadian demi kejadian seolah berlalu dalam mode fast forward. Ia tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamar nomor 27. Melakukan hal paling terlarang.
Kemudian tak berselang lama, ia pun mulai merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya. Hingga ia melemparkan segepok test pack ke wajah Cakra dengan kemarahan memuncak.
Lalu cafe di pinggiran kota yang seluruhnya berisi orang lanjut usia. Serta perdebatan panjang mereka yang tak pernah sampai pada titik temu.
Hingga ia terdampar di klinik aborsi dengan cat kusam yang mengelupas disana sini. Juga pria berwajah kusut berjas dokter kekuningan.
Dan tiba-tiba saja ia sudah berada di rumah Cakra. Tengah memandangi deretan piagam dan medali yang menyilaukan mata.
Ah, semua kejadian itu seperti baru kemarin. Bagai mimpi panjang yang tak kunjung usai.
"Sakit lagi nggak?" bisik Cakra sambil mencium pipinya.
Membuat kilasan ingatan tentang hari kemarin buyar dalam sekejap.
***
Cakra
Ia terus menggenggam tangan Anja yang kini tengah berbaring sambil meringis menahan sakit. Sementara Bidan Karunia dan Ceu Mar telah siap di samping tempat tidur.
Sedangkan Mamak terlihat komat kamit di belakang Bidan Karunia. Mungkin sedang melangitkan doa agar proses persalinan Anja berjalan lancar.
Ia pun sedari tadi terus melafalkan doa di dalam hati. Semua doa yang bisa diingatnya. Sembari memohon dengan sangat, semoga Anja bisa melalui proses persalinan dengan mudah dan lancar.
"Sudah terasa seperti mau buang air besar?" tanya Bidan Karunia untuk yang kesekian kalinya.
Anja mengangguk sambil berbisik, "Rasanya mau keluar."
"Jangan dulu," sergah Bidan Karunia tak setuju.
"Harus sampai bukaannya lengkap."
"Tahan dulu sedikit ya, cantik."
"Sedikit lagi."
Ia hanya bisa menghembuskan napas panjang. Sembari terus mengusap pinggang Anja yang sesekali mendesis lirih, "Ssshhhh."
"Sssshhhhh."
"Sssshhhhh."
Ia harus menelan ludah berkali-kali untuk mendistraksi pikiran yang semakin kacau. Demi melihat wajah pucat Anja meringis kesakitan.
Awalnya ia sempat mengira Anja akan berteriak-teriak saat merasa kesakitan. Atau memukul-mukul dadanya seperti biasa. Atau melakukan apapun yang mencerminkan karakter meledak-ledak Anja selama ini.
Tapi ternyata ia keliru. Karena Anja sama sekali tak berteriak, memukul, atau bersikap histeris seperti yang sempat dikhawatirkannya.
Anja hanya sesekali mendesis lirih ketika rasa sakit akibat kontraksi datang melanda. Sembari mengeratkan genggaman tangan mereka berdua. Hingga telapak tangannya mulai terasa kebas karena cengkeraman erat Anja.
Namun yang paling diluar dugaannya adalah, bibir mungil Anja berkali-kali membisikkan lafal istighfar.
"Astaghfirullah....."
"Astaghfirullah....."
Membuat kepalanya seperti mau meledak saking disesaki oleh rasa cemas, takut, khawatir. Dan sederet perasaan tak menentu lainnya.
Karena jika sesuatu yang buruk menimpa Anja. Ia pasti takkan bisa memaafkan diri sendiri. Till the end.
"Kalau kontraksinya datang, tarik napas panjang melalui hidung," begitu instruksi yang diberikan oleh Bidan Karunia.
"Lalu keluarkan lewat mulut."
"Hhhhh."
"Ffuuuuu."
"Ya, betul begitu cantik," Bidan Karunia mengacungkan jempol sambil tersenyum.
"Terus begitu ya."
Dan setiap kali kontraksi datang, Anja pun melakukan hal persis seperti yang diinstruksikan oleh Bidan Karunia.
"Hhhhh."
"Ffuuuuu."
"Hhhhh."
"Ffuuuuu."
Sementara ia terus mengusap dan memijat lembut sekeliling pinggang Anja.
"Ibu....," bisik Anja lirih.
Membuatnya mengeratkan genggaman pada tangan Anja.
"Kenapa cantik?" Bidan Karunia yang sedang bercakap-cakap dengan Mamak mendekati tempat tidur Anja.
"Seperti mau keluar....."
"Tahan dulu. Sedikit lagi."
"Nggak kuat," Anja menggelengkan kepala. "Seperti ada yang dorong dari dalam."
Ia pun kembali mengeratkan genggaman pada tangan Anja. Mencoba mentransfer sisa kekuatan yang ia miliki meski tahu itu mustahil.
"Iya, cantik. Iya. Tahan sebentar ya. Nanti sepuluh menit lagi Ibu periksa," ujar Bidan Karunia bermaksud menenangkan hati.
"Tadi masih belum lengkap bukaannya."
"Nanti kalau terlalu sering ditengok juga nggak bagus."
"Hhhhh."
"Ffuuuuu."
Anja menurut dengan kembali mempraktekkan pola pernapasan yang diinstruksikan oleh Bidan Karunia.
Namun belum sampai lima menit, Anja kembali berbisik lirih, "Ibuuu....."
"Iya, cantik?"
"Nggak kuat, Bu."
"Ada yang dorong dari dalam," bisik Anja dengan bibir gemetaran.
Membuat Mamak berjalan mendekat. Lalu mengusap bahu Anja sambil berbisik pelan.
"Anjani mau buang air besar?"
"Nggak apa-apa keluarkan saja."
"Malu, Mak," bisik Anja lirih.
"Nggak apa-apa," Mamak menyeka peluh Anja di sekitar dahi dengan menggunakan tissue.
"Mamak bawa kain banyak untuk ganti."
Lima menit kemudian, Bidan Karunia dengan dibantu Ceu Mar mulai mengganti kain alas yang telah kotor.
"Nggak apa-apa sayang," bisik Mamak berkali-kali. "Nggak apa-apa."
"Nggak usah malu," ujar Mamak pelan seraya membelai rambut Anja.
"Nggak apa-apa, cantik," seloroh Bidan Karunia. "Memang begini orang mau melahirkan."
Setelah kain alas diganti dengan yang baru. Kali ini sengaja dibuat rangkap tiga dengan yang menyelimuti Anja. Bidan Karunia pun mulai bersiap untuk melakukan PD (periksa dalam).
"Sudah lengkap bukaan 10," seru Bidan Karunia dengan wajah sumringah.
"Tunggu sampai kepalanya benar-benar turun ya. Ini masih agak keatas sedikit."
"Nanti kalau kontraksi datang lagi, kasih tahu ibu ya, cantik."
Kemudian mereka pun kembali menunggu. Ia masih terus mengusap dan memijat lembut sekeliling pinggang Anja. Sementara Mamak menyeka peluh yang membanjiri wajah Anja.
"Sebentar lagi," bisik Mamak berusaha menenangkan. "Anjani pasti bisa."
Suasana kembali hening. Membuat pergerakan halus jarum jam yang menempel di dinding mendadak terdengar begitu keras. Bagai prosesi hitung mundur yang memilukan.
"Ibuuu.....," Anja kembali berbisik lirih.
"Kontraksi lagi?" tanya Bidan Karunia yang menginstruksikan pada Ceu Mar untuk bersiap.
Anja mengangguk lemah.
Bidan Karunia dengan sigap segera mengambil posisi.
"Anjani cantik mau melahirkan dalam posisi apa?" tanya Bidan Karunia dengan tangkas.
"Berbaring begini saja?"
"Atau setengah duduk?"
"Miring? Jongkok? Berlutut?"
Anja menggelengkan kepala keras-keras dengan wajah pias. Sebagai pertanda tak bisa lagi menahan rasa sakit akibat kontraksi.
"Setengah duduk saja ya biar tenaganya lebih kuat," Bidan Karunia mengambil keputusan sepihak dengan cepat.
"Biar ada bantuan dari gaya gravitasi bumi," lanjut Bidan Karunia yakin.
"Selain itu, jalan lahir yang di tempuh dede bayi untuk keluar jadi lebih pendek. Membuat suplai oksigen dari Mama ke bayi dapat berjalan dengan optimal," sambung Bidan Karunia lebih rinci lagi.
Membuatnya bisa sedikit bernapas lega. Meski tetap dicekam oleh kekhawatiran.
"Sekarang kita lihat...."
"Bagus."
"Wah, ketubannya belum pecah. Masih utuh."
"Sebentar ya."
Bidan Karunia bergegas mengambil sebungkus plastik sejenis warna aluminium foil bertuliskan, Amnicot.
Kemudian memakainya di jari telunjuk. Dan mulai bersiap di hadapan Anja.
"Tenang saja, cantik."
"Nggak sakit kok."
"Rileks....lemas....sekarang ibu pecahkan dulu kantong ketubannya ya...."
Cass!
Dalam sekejap kain alas yang berada di bawah tubuh Anja menjadi basah akibat kantong ketuban yang baru saja dipecahkan.
"Sekarang kita tunggu kontraksi datang lagi," ujar Bidan Karunia.
"Sambil menunggu kita siap-siap."
"Setengah duduk ya, cantik?"
Ia pun membantu Anja untuk sedikit menegakkan punggung.
"Agam, tolong pegangi punggung istrinya ya," seru Bidan Karunia dengan cepat dan taktis.
"Ya terus begitu."
"Sama kakinya ditekuk."
"Nah, ya seperti itu."
"Nanti kalau mengejan, panggulnya jangan ngangkat ya, biar nggak sobek."
"Tetap nempel di kasur."
Ia yang sama sekali tak memahami maksud dari kalimat yang diucapkan oleh Bidan Karunia, hanya bisa mencium kening Anja dengan bibir gemetaran.
Tak berapa lama Anja kembali merintih, "Sssshhhhh."
"Agam pegang punggung sama kaki," seru Bidan Karunia dengan suara tegas.
"Ditahan."
"Ya begitu."
"Nanti ikuti aba-aba saya ya," Bidan Karunia mulai bersiap.
"Kalau saya bilang mengejan..."
"Anjani cantik langsung mengejan ya."
"Mengejannya pakai tenaga."
"Bokong tetap nempel."
"Seperti mengejan kalau kita mau buang air besar."
Ia yang tidak sedang merasa kesakitan saja tak mampu mengingat semua instruksi cepat yang diucapkan oleh Bidan Karunia. Lalu bagaimana dengan Anja?
"Dorong!" seru Bidan Karunia cepat.
Namun Anja justru terlihat kelelahan.
"Ya nggak apa-apa....," Bidan Karunia berusaha menenangkan.
"Kita istirahat dulu."
"Anjani cantik, mengejannya sambil menutup mulut rapat-rapat ya. Tak usah bersuara."
"Tapi juga nggak boleh sambil tutup mata."
"Matanya coba melihat ke arah bayi mau keluar ya."
"Agam tolong agak ditahan punggung dan kaki Anjani."
"Ya, begitu."
"Pegangi terus yang kuat ya."
"Ya....sekarang kita mulai lagi....."
"Kumpulkan tenaga...."
"Tarik napas dalam-dalam...."
"Dorong!"
"Hhhhh!"
Namun Anja hanya bisa mengejan sebentar. Dan terlihat semakin kelelahan.
Membuatnya mencoba menahan punggung dan memegangi kaki Anja dengan lebih lekat.
"Sedikit lagi, sayang," bisiknya di telinga Anja.
"Iya, tinggal sedikit lagi kok," Bidan Karunia mengiyakan bisikannya.
"Sekali ngejan bisa langsung keluar."
"Udah siap lagi, cantik?"
"Tarik napas....."
"Ya, bagus....."
"Sekarang dorong!"
***
Mamak Cakra
Setelah mengejan untuk yang ketiga kalinya. Tepat pukul 13.40 WIB. Suara tangis bayi yang sangat kencang pecah memenuhi seluruh ruangan.
"Alhamdulillah...," seru Bidan Karunia dengan suara lantang.
"Alhamdulillahirabbil'alamiin.....," bisiknya seraya menyusut sudut mata yang mulai basah.
"Tolong di buka baju atasnya," ujar Bidan Karunia ke arah Agam yang sedang membantu membaringkan Anjani di atas bantal. Di sela lengkingan tangis bayi yang begitu kencang.
"Habis ini kita langsung IMD (inisiasi menyusu dini)," lanjut Bidan Karunia.
Setelah menunggu sekitar beberapa menit sampai darah mengalir sempurna, Bidan Karunia mulai memotong tali pusat.
Kemudian mengeringkan muka, kepala, dan bagian tubuh lain bayi dari darah dan len dir. Kecuali kedua tangan (agar bau air ketuban tetap melekat)**.
Juga melakukan tes APGAR. Menimbang berat bayi.
"Beratnya tiga kilo pas," ujar Bidan Karunia yakin.
Lalu Bidan Karunia pun menempatkan bayi merah berambut lebat yang baru saja dilahirkan ke atas perut Anjani.
"Bayinya ganteng tuh, kayak Papanya," seloroh Bidan Karunia usai menempatkan bayi merah berambut lebat di atas perut Anjani yang sedang tersenyum bahagia.
Sementara Agam melihat ke arahnya dengan mata memerah sambil tersenyum simpul.
Ia pun hanya bisa menjawab tatapan Agam dengan anggukkan kepala sembari tersenyum. Saking tak kuasa menahan haru.
"Laki-laki. Sehat. Normal. Lengkap tidak kurang suatu apa," imbuh Bidan Karunia dengan riang.
"Sekarang mungkin agak mulas lagi ya, cantik."
"Ibu mau ambil ari-ari sekaligus membersihkan."
"Tapi nggak ada apa-apanya dibanding yang barusan."
Kini ia bisa tersenyum sambil berkali-kali mengucap syukur. Memperhatikan Agam dan Anjani yang sedang saling bertukar pandang dengan wajah dipenuhi kebahagiaan.
"Wah, ari-arinya bagus nih, cantik. Besar dan sehat," seloroh Bidan Karunia yang langsung memasukkan ari-ari ke dalam kendi yang telah disiapkan oleh Ceu Mar.
Lalu dengan gerak cekatan mulai membereskan kain alas bekas proses persalinan yang terkena cipratan darah. Dan menyerahkannya pada Ceu Mar yang telah siap sedia.
"Dede gantengnya sudah bisa meraih pu ting Mama cantik belum?" tanya Bidan Karunia dengan antusias.
"Kalau belum nggak apa-apa. Masih usaha ya dede ganteng?"
"Sambil nunggu IMD, sambil ibu jahit ya cantik."
"Nggak sakit kok."
"Cuma kayak digigit semut sedikiiiiit."
***
Cakra
Ia sedang memperhatikan lekat-lekat bayi mungil berkulit merah dan berambut lebat yang sedang telungkup di dada Anja.
Dialah bintang paling terang. Putra pertamanya. Buah cintanya dengan Anja tersayang.
Tak lagi menangis kencang seperti saat pertama kali dilahirkan tadi. Kini bayi mungil berkulit merah itu sedang berusaha menggapai sumber kehidupannya sendiri.
Ketika Anja tiba-tiba mencengkeram lengannya erat-erat sambil mendesis dengan gigi gemeletuk,
"Ibuuu....semutnya segede apa Bu?"
"Kok rasanya ngilu."
Bidan Karunia, Ceu Mar, dan Mamak sontak tertawa.
Hanya ia sendiri yang tak tertawa. Selain karena tak mengerti alasan mengapa harus tertawa. Ia juga tengah berkonsentrasi mengusapi tangan Anja yang sedang mencengkeram erat-erat lengannya.
"Ibuuu....saya nggak mau digigit semut."
Desisan Anja lagi-lagi membuat Bidan Karunia, Ceu Mar, dan Mamak tersenyum.
"Sedikit lagi ya, cantik. Sebentar kok. Habis ini semutnya ibu suruh pergi."
***
Keterangan :
Amnicot. : alat untuk merobek kantong ketuban
**. : bau air ketuban di tangan bayi ini penting. Pasalnya bau air ketuban pada tangan bayi inilah yang akan memandu bayi menemukan pu ting ibu yang mempunyai bau yang sama. Jadi jangan sampai bau ini hilang karena dibersihkan (sumber : kumparan.com)
Tes APGAR. : tes yang dilakukan untuk menilai keadaan bayi pada menit pertama dan menit kelima setelah tali pusat dipotong.
Penilaian dilakukan berdasarkan denyut jantung, pernapasan, tonus otot, refleks gerak, dan warna kulit.
Nilai APGAR berkisar dari 0 sampai 10. Bayi yang mendapatkan nilai di atas 7, umumnya bayi yang dianggap sehat. Sebagian besar bayi mendapat nilai 8 atau 9 (sumber : hellosehat.com)