
(4)
Sada
Esok pagi ketika ia dalam perjalanan berangkat ke kantor, barulah ada panggilan masuk yang berasal dari Mas Tama.
"Kamu di mana?"
"Otw kantor."
"Jadi hari ini ke Jakarta?"
"Baru bisa sore. Masih ada yang harus diurus."
"Oke. Tapi bisa ya?"
"Bisa."
"Anja beneran sakit?"
"Iyalah," jawabnya sambil mengernyit. "Kemarin Dara yang bawa ke rumah sakit."
Suara hembusan napas panjang lagi-lagi terdengar dari seberang telepon.
"Aku masih harus stay di sini sampai beres, belum bisa ke Jakarta."
"Oke," ia mengerti. "Tapi weekend kita jadi ketemu kan? Mama udah desak aku terus tentang Singapur."
"Iya, ke aku juga."
"Weekend juga sebenernya belum pasti bisa ke Jakarta. Ini kasus jadi melebar kemana-mana," suara Mas Tama terdengar berat.
Tapi ia tetap mengangguk mengerti, "Jadi?"
"Kamu setuju Papa dibawa ke Singapur?"
"Kalau untuk kesembuhan, dibawa kemanapun aku setuju aja."
"Oke, nanti biar aku yang bilang ke Mama."
"Tapi kita mesti ada orang yang ikut ke sana buat nemenin Mama."
"Dara oke, tapi nggak bisa stay lama. Anak-anak mesti diurus."
"Iya, aku tahu. Kita cari orang aja."
"Kita obrolin ke Mama dulu. Khawatirnya Mama nggak setuju."
"Oke. Nanti aku ngomong tentang ini juga sama Mama."
"Oya, tentang Anja, kamu yang handle ya."
"Maksudnya?"
"Apa yang mesti dilakukan biar Anja sehat dan masalah beres."
"Kalau biar Anja sehat, aku oke," jawabnya setuju. "Tapi kalau masalah beres, kayaknya kamu deh Mas, sebagai anak tertua. Mewakili Papa."
Di seberang sana lagi-lagi terdengar helaan napas panjang dan berat.
"Masih bisa nunggu sampai aku beresin kasus? Udah berapa bulan hamilnya?"
Ia menggeleng, "Nggak tahu. Nanti kutanya sama Dara."
"Kalau Anja masih bisa nunggu, mungkin Minggu depan aku bisa leluasa ke Jakarta."
"Begitu lebih baik," kali ini ia benar-benar setuju. Memutuskan masalah sekrusial ini jelas bukan ranahnya.
"Kalau gitu, tolong urus tuh anak. Jangan sampai hilang ....
***
(A) :
Tadinya mau dibuat scene "diskusi" antara duet maut ๐, Cakra mau langsung "dieksekusi" atau "dititip" di Pol res ๐ sampai Mas Tama datang dari Surabaya.
Tapi ... jadi nggak seru ya gengs ... mending gerebek langsung biar dapat feelnya ๐ญ๐๐คช๐คง
Skip! Next!!!
***
(5)
Teh Dara
Malam ini ia tidur menemani Anja di rumah sakit. Sambil sesekali turun ke lantai bawah, untuk menengok Mama yang masih setia menemani Papa di ruang ICU. Sementara anak-anak tinggal di rumah Mama bersama Bi Enok dan Mang Jaja. Juga Dipa yang menawarkan diri untuk ikut menemani. Membuatnya merasa lebih tenang, karena meski tak bisa memantau anak-anak dengan mata kepala sendiri, tapi mereka dikelilingi oleh orang-orang yang terpercaya.
Seharian ini pula Anja masih saja tersedu sedan.
***
(A) :
Kayaknya nggak perlu dinarasikan, semua juga tahu kalau Teh Dara yang nungguin Anja di RS ๐ค
Oke ... skip next again ๐ค
***
(6)
Dipa
Tak lama setelah kedatangan Teh Dara dan anak-anaknya dari Jogja, ia langsung pulang setelah seharian menemani dan membujuk Anja agar mau makan, namun selalu gagal. Ketika seseorang telah menunggu di ruang tamu rumahnya, Nigel.
"Elo?" ia mengernyit heran karena mereka tak pernah berteman sebelumnya. Hanya saling tahu sama tahu sebagai sesama anak kelas XII Pusaka Bangsa.
"Lo masih jalan sama Tiara?"
"Kenapa?"
Ia dan Tiara resmi jadian beberapa hari sebelum gelaran Final HSBL West Region berlangsung. Dan hubungan mereka masih sangat menyenangkan hingga saat ini. Tiara benar-benar girl friend material. Selain -tentu saja- cantik dan tak membosankan jika dipandang, Tiara juga mampu memanjakan perutnya dengan aneka masakan kreasi sendiri yang memiliki cita rasa luar biasa lezatnya.
***
(A) :
Yes ... ini scene Dipa ๐ public enemy para readers kece ๐คช๐คง oke ... tenang ... tarik napas ... hembuskan ...
๐๐๐
Tadinya scene Tiara ketahuan selingkuh, karena Nigel yang terus terang ke Dipa.
Tapi ... kurang greget ya gengs ... kurang nyahok gitu buat Dipa ๐๐ apeu coba ๐๐คงโ๏ธ
Skip again and again ... Next!
***
(7)
Anja
Ia sama sekali tak mendengarkan ucapan Teh Dara dan terus mengelus boneka Nemo sambil pikirannya berkelana entah kemana, ketika seseorang tiba-tiba memanggil namanya, "Anja...."
Jenis suara berat dan dalam yang sangat khas membuat kepalanya menoleh dan mendapati Cakra telah berdiri di depan pintu sambil tersenyum kikuk.
"Katanya kamu ngedrop....," ujar Cakra sambil berjalan mendekat.
Secara keseluruhan penampilan Cakra terlihat sehat dan bugar. Tak ada luka menganga yang menimbulkan cacat fisik, seperti yang selalu ditakutkannya selama tiga hari ini. Cakra bahkan terlihat semakin fresh dengan potongan rambut baru yang lebih pendek dan rapi.
"Maaf, baru bisa jenguk sekarang," lanjut Cakra yang kini telah berdiri di hadapannya, dengan tangan kanan membawa tas belanja warna hijau bergambar bola dunia bertuliskan Reduce, Reuse, Go Green yang bisa diperoleh dengan mudah hampir di tiap Supermarket, persis seperti tas belanja yang sering dibawa oleh Bi Enok ketika berbelanja ke Pasar tradisional.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" Cakra tersenyum sambil meletakkan tas belanja warna hijau tersebut ke atas meja.
"Semoga udah baikan," Cakra masih tersenyum sambil menatap matanya dalam-dalam.
Membuat matanya yang telah memanas sejak awal kemunculan Cakra di depan pintu, kini makin merebak berkaca-kaca. Bahkan dalam sekejap telah dipenuhi genangan air yang siap tumpah kapan saja. Hingga mengaburkan pandangan yang membuat tampilan Cakra menjadi berbayang. Kini seperti ada tiga orang Cakra sekaligus yang sedang menatap matanya lekat-lekat.
"Kenapa nangis?"
Ia masih sempat mendengar ungkapan keheranan Cakra sebelum akhirnya sebuah lengan kokoh merengkuh bahunya lembut. Menenggelamkan kepalanya dalam pelukan hangat yang menentramkan.
"Aku datang kesini pingin lihat kamu senyum, bukan nangis," bisik Cakra sambil meremas tengkuknya perlahan. Membuat bibirnya meloloskan sebuah isakan kecil.
"It's fine....," bisik Cakra lagi. "I'm here...."
Namun bisikan Cakra justru semakin membuat isakannya menjadi. Sesenggukan dengan air mata berlinang dalam rengkuhan lengan kokoh yang terasa hangat dan menentramkan.
Entah berapa lama waktu yang dihabiskan untuk menenggelamkan diri dalam pelukan menenangkan dengan usapan lembut di belakang kepala ketika ia merasa air mata telah mengering. Dengan pipi yang terasa memanas karena terlalu lama menempel di dada Cakra. Membuatnya perlahan mulai melepaskan diri dengan kedua pipi terbakar oleh rasa malu.
Menyadari dirinya tak lagi berderai-derai, Cakra mengambil tisu untuk menyusut sudut matanya, "Sampai mata bengkak gini, nangisin siapa sih?" seloroh Cakra yang kini beralih menyusut ujung hidungnya.
Selorohan Cakra sontak membuat kekesalannya muncul, "Udah deh. Nggak usah ngeledek kenapa sih?!"
Namun Cakra justru terkekeh sambil mengusap pipinya lembut, "Mulai sekarang....aku pingin lihat Anja yang selalu tersenyum. Nggak ada nangis-nangis atau sedih-sedih lagi."
Membuatnya memukul lengan Cakra kesal, "Kamu kemana aja sih?!"
"Di chat nggak terkirim!"
"Di telepon nggak ada nada sambung!"
"Kamu diculik sama reserse reserse itu?!"
"Ini luka baru?!" sambil menunjuk memar di sudut bibir Cakra yang berwarna kebiruan. "Mas Tama yang ngelakuin ini?! Iya?!"
Tapi Cakra justru tersenyum, "Ini kan luka lama waktu hari Minggu dulu."
Namun ia buru-buru mencibir, "Kamu terkenal nakal tapi nggak jago bohong!"
Membuat Cakra tergelak, "Bohong gimana?!" sambil sibuk memeriksa isi tas belanja. Memang apa sih yang Cakra bawa? batinnya penasaran ingin tahu.
"Barusan kamu bohong banget!" sungutnya kesal dengan sudut mata yang tetap mengikuti gerak gerik Cakra.
"Kamu dibawa ke mana sama anak buah Mas Tama?! Digebukinnya dimana?!"
"Ngaku aja!"
Cakra tersenyum samar, "Maaf, aku lupa ngasih tahu kamu, kalau hari Rabu kemarin tuh, ada event di JCC yang bikin aku harus nginap di venue sama anak-anak buat nyetting tempat."
Namun ia justru memberengut tak mau percaya begitu saja, "Event apa?! Kok mendadak?!"
"Mana hari sekolah lagi!"
"Jadi, selama ini kamu sering bolos sekolah gara-gara ikut event di luar?!"
Cakra menganggukkan kepala. Membuat intuisi detektifnya semakin menjadi.
"Tapi kalau lagi event, kenapa ponsel kamu malah nggak bisa dihubung?!"
"Harusnya ponsel stand by dong buat komunikasi sama team kamu?!"
Cakra menghela napas lalu berkata canggung, "Ponselku sempat mati nggak bisa nyala gara-gara jatuh ke bak mandi."
"Jadi selama event pegang HT."
***
(A) :
Feelnya kurang se ons ya gengs? ๐คง๐คช
Oke ... siaaap ... lanjut next!
***