
Cakra
Rabu, 20 Mei 2xxx
Anja diam seribu bahasa ketika ia mencium kening sehalus pualam itu saat hendak berangkat mengikuti MCU (Medical Check Up). Anja juga tak menolak ketika ia merengkuh tubuh mungil itu lebih dalam dan lama dibanding biasanya.
Karena ia tengah berusaha mencari kekuatan agar bisa melalui hari dengan sempurna. Ia bahkan sempat mengusap perut Anja yang kian membuncit dan tak lagi bisa disembunyikan.
"Doain lancar ya," ujarnya sebelum menarik resleting jaket kemudian memakai helm.
Lagi-lagi Anja diam seribu bahasa dan hanya tersenyum mengangguk. Namun baginya sudah lebih dari cukup memacu semangat untuk memulai hari dengan hati meluap penuh cinta. Ia pun melajukan motor keluar dari pintu gerbang rumah Anja dengan perasaan bahagia.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya. Melewati titik-titik langganan kemacetan di pagi hari. Sampailah ia di daerah Cempaka Mas, Kemayoran.
Kemudian membelokkan motor ke sebelah kiri ke deretan ruko Cempaka Mas. Dimana Sehat Waras Health Clinic -tempat dilaksanakannya MCU- berada.
Begitu menyimpan motor di tempat parkir dan berjalan ke bagian depan klinik. Ia langsung mendapati puluhan calon peserta MCU telah menunggu.
Saling berkelompok dan bercakap-cakap. Sebagian besar terlihat membawa botol air mineral, Bear Brand, bahkan botol kecap. Sepertinya peralatan tempur bagi para perokok atau orang yang ragu dengan kondisi tubuh sendiri. Karena mungkin pernah mengkonsumsi jenis obat-obatan tertentu yang bisa menghambat lolos MCU.
Tepat pukul 08.00 WIB, seorang petugas mulai mengarahkan para peserta MCU untuk mengumpulkan kartu identitas masing-masing di sebuah keranjang kecil. Kemudian dua orang petugas lain mulai memanggil nama mereka sesuai dengan nomor urut antrean.
"Nomor 47, Teuku Cakradonya Ishak!" seorang petugas memanggil namanya ketika ia mulai merasa bosan menunggu.
"Lahir tanggal berapa?" tanya petugas itu begitu ia berdiri di depan meja.
"11 Agustus ...."
"Asli mana?"
"Jakarta."
"Silakan berdiri di sana," petugas tersebut menunjuk dengan tangan kanannya. "Wajah menghadap kamera."
Cekrek!
Setelah pemotretan selesai, kemudian petugas memberinya sebundel kertas. Berisi lembaran MCU yang harus dilakoninya. Surat pernyataan kesediaan mengikuti seluruh proses MCU. Serta surat persetujuan cek seluruh tubuh.
"Dua lembar terakhir langsung diisi dan ditandatangani. Kalau sudah silakan naik ke lantai dua," petugas tersebut memberinya instruksi sebelum kembali memanggil antrean berikutnya. "Nomor 49...."
Setelah mengisi dan menandatangani formulir yang dimaksud, ia pun naik ke lantai 2. Langsung disambut oleh petugas yang mengukur tinggi dan berat badan. Juga mengecek tekanan darah.
"120/80," ujar petugas. "Bagus."
"Silakan antre di sebelah sana," lanjut petugas seraya menunjuk antrean untuk melakukan tes mata.
Di sini ia harus menyebutkan huruf-huruf dari jarak sekitar 5 meter. Dengan mata terbuka, kemudian satu mata tertutup, dan terakhir menyebutkan angka yang berada di dalam lingkaran berwarna untuk tes buta warna.
Dari tes mata ia kembali bergabung ke dalam antrean untuk melakukan foto rontgent torax, tes urine, tes darah. Lalu terakhir tes kejujuran dan check all body yang dilakukan oleh seorang dokter.
"Sakit berat apa yang pernah diderita?" tanya dokter sebelum melakukan check all body.
"Pernah mengalami kecelakaan atau patah tulang?" tanya dokter lagi.
Setelah menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh dokter yang bertugas. Ia pun diminta untuk melepas seluruh pakaian yang tengah dikenakan.
Sempat tertegun sebentar akibat terkejut. Karena tak mengira jika check all body hanya menyisakan pakaian dalam.
Namun karena dokter telah memberinya perintah sebanyak tiga kali. Ia juga sudah menandatangani formulir persetujuan cek seluruh tubuh. Mau tak mau perintah dokter harus diikutinya. Meski dengan penuh keraguan.
Kini ia tengah berbaring telentang. Dengan siku kanan kiri dan lutut kanan kiri diketok-ketok oleh sebuah alat. Kemudian di cek keadaan mata, telinga, mulut dan gigi tanpa kecuali. Serta yang terakhir adalah check body.
Benar-benar pengalaman luar biasa yang baru kali ini dialaminya. Yang pasti tak akan terlupakan karena hanya mengenakan pakaian dalam di depan orang lain selain....Anja tentunya. Yeah.
"Bagi yang sudah menyelesaikan seluruh rangkaian medical check up, dipersilakan pulang ke rumah masing-masing," begitu informasi yang diberikan oleh petugas ketika ia keluar dari ruang periksa dokter tepat pukul 16.50 WIB.
"Pengumuman selanjutnya bisa dilihat di website resmi atau klik link yang kemarin kami berikan."
-------
Kamis, 21 Mei 2xxx
Ia telah mengajukan surat resign secara resmi ke Retrouvailles sejak mendapat pengumuman lolos psikotest. Dan terhitung hari ini, ia tak lagi menjadi bagian dari Retrouvailles.
"Setelah beberapa bulan lalu Hanin resign, sekarang kamu," keluh Riany sambil menepuk bahunya.
"Dua orang berdedikasi tinggi asset Retrouvailles," lanjut Riany yang diikuti oleh anggukan kepala semua orang.
"There's always a way back, Cak," seru Barra, chef senior dan andalan Retrouvailles yang bergerak maju untuk menyalaminya.
"Makasih, Bang," ia tersenyum mengangguk.
Langkah Chef Barra kemudian diikuti oleh seluruh punggawa Retrouvailles lainnya. Ia jadi merasa seperti sedang berpamitan dengan keluarga besar untuk pergi ke tanah rantau. Sungguh seperti berada di keluarga sendiri.
"Sukses di tempat baru," Restu meninju lengannya.
"Sukses juga bro," jawabnya sambil tersenyum.
"Wes, mau jadi budak korporat yang sesungguhnya nih," seloroh Malik membuatnya terbahak.
"Sering main ke sini ya, Cak," ujar Novi dan Alika hampir bersamaan.
"Ajakin dong istri kamu sekali-kali," lanjut Novi sambil tersenyum.
"Iya nih, belum sempat dikenalin ke kita-kita kan?" Alika ikut menimpali.
"Yang kata si Malik beeeeniiiiiing bangeeeet.....," seloroh Novi membuatnya menggelengkan kepala sambil tertawa sumbang.
Sementara Malik memelototi Novi seraya menggerutu, "Semua orang juga tahu, kalau jelek itu relatif. Dan cakep itu mutlak."
"Bini lo memang....," namun Malik tak melanjutkan kalimat. Justru mengacungkan jempol ke arahnya dengan wajah malu.
Membuatnya kian menggelengkan kepala.
Malam hari ketika ia menyelesaikan tugas terakhir sekaligus menemani Riany mengunci pintu Retrouvailles. Ia sadar jika tempat ini akan menjadi kenangan terindah yang tak terlupakan.
Bagaimana Retrouvailles bisa mengubah sikap masa bodoh dan apatisnya terhadap dunia sejak kematian tragis Bang Iskandar.
Bagaimana Retrouvailles dengan segala kehectican di tiap rush hour dan keanekaragaman pelanggan. Secara perlahan namun pasti mampu mengubah sikap kekanakkan dan emosionalnya menjadi lebih bertanggungjawab.
Dan yang paling epic tentu saja, bagaimana Retrouvailles menjadi saksi bisu pertemuan pertamanya dengan Anja. Hingga mereka bisa melangkah sampai sejauh ini.
Sungguh tempat yang takkan tergantikan.
-------
Jum'at, 22 Mei 2xxx
Praktis hari ini menjadi hari pertamanya menjadi seorang jobless. Membuatnya memilih untuk mengisi waktu pagi dengan membantu Mang Jaja merapikan kebun.
Kemudian bahu membahu dengan Pak Cipto membersihkan dan memanaskan sederet mobil yang selama berminggu-minggu hanya berdiam di garasi hingga berdebu.
Setelah semua selesai barulah ia mencuci tangan dan kaki. Lalu masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Dan mendapati Anja tengah melakukan video call dengan Teh Dara.
"Harus ikut ya Teh?" tanya Anja dengan mata menatap layar ponsel ketika ia melewati ruang tengah untuk mengambil segelas air di atas meja makan.
"Enggak harus, sayang."
Telinganya masih sempat mendengar sayup-sayup suara Teh Dara. Ketika Bi Enok muncul dari arah dapur dengan membawa sepiring ulen (ketan) goreng yang masih mengepulkan asap.
"Sarapan dulu, Den," ujar Bi Enok sambil menunjuk meja makan yang telah dipenuhi oleh menu sarapan. Yaitu nasi uduk dengan lauk lengkap yang terlihat begitu menggoda selera.
"Neng udah sarapan belum?" tunjuknya ke arah Anja yang masih asyik ber video call ria.
"Belum," jawab Bi Enok sambil menata piring di atas meja makan. "Mau nunggu Aden katanya."
Ia menganggukkan kepala, "Makasih banyak, Bi. Habis ini kami sarapan."
Bi Enok tersenyum mengangguk.
Setelah meneguk segelas air putih, ia beranjak ke ruang tengah dan mendudukkan diri di sebelah Anja.
"Tapi, kalau kita ikut senam hamil secara teratur. Itu banyak manfaatnya. Bisa bikin tidur lebih nyenyak, meredakan pegal dan rasa tak nyaman lain."
"Iya, Teh," sungut Anja. "Sekarang aja udah terasa berat banget kalau mau ngapa-ngapain."
"Bawaannya mager."
Membuatnya tertawa sambil mengusap puncak kepala Anja. Kemudian meraih remote televisi dan mulai mencari chanel yang menurutnya paling menarik.
Kini ia tengah memusatkan perhatian pada layar televisi. Menonton headline news yang sedang menayangkan kronologi OTT (operasi tangkap tangan) seorang pejabat tinggi negara. Ketika Anja mengakhiri video call nya dengan Teh Dara.
"Udahan?" ia sengaja meletakkan lengan di punggung sofa agar Anja bisa bersandar dengan nyaman di atasnya.
Nah, trust me, it's (always) work! batinnya senang.
"Teh Dara mau ngantar anak-anak ke sekolah dulu," sambung Anja kemudian.
"Oh," ia pun ikut menganggukkan kepala. "Mau sarapan sekarang?"
Anja menggelengkan kepala, "Belum lapar. Barusan habis ngemil crackers."
"Oh," ia kembali menganggukkan kepala. "Ngobrol apa aja? Kayaknya asyik banget."
"Idih, kepo!" Anja mencibir sambil mendorong cuping hidungnya.
"Teh Dara minta kamu ngapain?"
Anja menghela napas, "Aku disuruh ikut senam hamil."
"Kalau gitu ikut aja."
"Males ah."
"Aku antar."
Anja kembali mencibir. "Mager banget tahu mau kemana-mana tuh."
"Kapan jadwalnya? Harus daftar dulu nggak? Ayo kalau mau sekarang. Mumpung lagi jadi pengangguran," selorohnya yang langsung disambut dengan dorongan telunjuk Anja di cuping hidungnya lagi.
"Sama tujuh bulanan," namun Anja justru mengatakan hal lain.
"Kapan?"
Anja hanya mengangkat bahu. "Tahu. Mama sama Teh Dara yang handle. Aku tinggal ikut aja."
"Mau ada acara?"
Anja menggelengkan kepala, "Di rumah? Enggak sih kayaknya. Orang nggak ada siapa-siapa. Cuma ada kita berdua."
"Terus tujuh bulanannya ngapain?"
"Paling kayak pas empat bulanan kemarin. Teh Dara bilang kalau bisa sebelum puasa."
"Oh," ia menganggukkan kepala. "Sebentar lagi dong?"
Anja kembali mengangkat bahu sambil lalu.
Membuatnya lebih memusatkan perhatian pada layar televisi. Yang kini tengah menayangkan berita terkini dari seluruh dunia. Sementara Anja memainkan ponsel sambil bersandar di bahunya.
Keheningan seketika menyeruak. Hanya terdengar suara anchor news yang tengah membacakan berita. Tapi ia benar-benar menikmati suasana seperti ini.
Duduk diam berdua dengan Anja tanpa saling bicara. Namun entah mengapa hatinya terasa penuh seolah mereka tengah asyik membicarakan banyak hal.
Ia masih menikmati suasana nyaman yang melenakan. Ketika ponsel miliknya yang tersimpan di atas meja menggelepar tanda ada notifikasi masuk.
"Sarip siapa?" tanya Anja usai meraih ponsel miliknya dan melihat notifikasi yang baru saja masuk.
"Oh, teman waktu sama-sama ikut psikotest kemarin. Kenapa?"
Anja hanya mengulurkan ponsel miliknya tanpa menjawab sepatah kata pun. Jelas masih enggan untuk membahas semua hal yang berhubungan dengan bekerja, psikotest, dan sejenisnya.
Ia pun menerima ponsel sambil tersenyum kecut. Berusaha mengabaikan wajah Anja yang mendadak berubah masam. Kemudian melihat layar ponsel yang ternyata memang notifikasi pesan masuk dari Sarip.
Sarip. : 'Link udah ada.'
Sarip. : 'Buru lihat nama lu ada nggak?'
Tanpa menunggu ia segera membuka link rekrutmen di laman resmi PT Axtra Homda Motor. Dan hasilnya adalah,
Alhamdulillahirabbil'alamiin.
Namanya ada dalam daftar 50 peserta yang lolos MCU. Dan wajib untuk mengikuti briefing terakhir di Axtra Homda Motor Sunter pada hari Sabtu, 23 Mei 2xxx.
"Kenapa?" Anja mendongakkan kepala melihat wajahnya.
"Aku lolos MCU," jawabnya dengan senyum terkembang.
Namun wajah Anja justru semakin keruh.
-------
Sabtu, 23 Mei 2xxx
Ia berangkat ke Sunter lebih pagi agar jangan sampai terlambat di tempat tujuan. Namun kali ini Anja tak mengantarnya hingga ke teras. Hanya menganggukkan kepala singkat ketika ia berpamitan usai mereka sarapan di meja makan.
Seperti biasa begitu sampai di lobby, ia diharuskan mengumpulkan kartu identitas. Sebelum dipersilakan naik ke ruang makan di lantai 2.
"Welcome to the club!" seloroh Sarip begitu melihatnya datang.
"Selamat untuk kita berdua!" lanjut Sarip lagi sambil mengajaknya bersalaman.
Tepat pukul 08.00 WIB, petugas yang sama seperti kali pertama ia mengikuti psikotest tempo hari, mulai memberi pengarahan di depan.
Sebagai permulaan tentu saja petugas mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka mengalahkan ratusan peserta ujian lain yang sama-sama ingin masuk menjadi bagian dari Axtra Homda Motor.
Selebihnya petugas memberi penjelasan tentang hal teknis apa saja yang harus mereka lakukan. Sebelum nantinya resmi diterima bekerja dan menandatangani kontrak.
Pertama, mereka harus melengkapi beberapa berkas pendukung antara lain SIM C, NPWP, dan nilai raport 2 semester terakhir.
Kedua, mereka wajib mengikuti training selama 5 hari di sebuah akademi pelatihan yang terletak di daerah Cileungsi.
Dan ketiga, training di Cileungsi akan dimulai pada hari Senin mendatang.
"Training?!" dua bola mata indah milik Anja mendadak melotot tanpa ampun ketika ia menceritakan hal yang harus dikerjakan dalam waktu dekat.
"Iya, training," jawabnya sambil mengusap tengkuk karena nervous melihat reaksi Anja yang tak mengenakkan.
"Jadi kamu udah resmi diterima kerja di Axtra?" tanya Anja dengan wajah masam.
"Secara teknis iya. Tapi secara administratif belum," jawabnya sambil menelan ludah.
"Mengikuti training ini jadi salah satu syarat resmi diterima bekerja," lanjutnya ketika Anja beranjak pergi menuju jendela besar yang berada di ruang tengah.
"Setelah ikut training baru bisa tanda tangan kontrak," imbuhnya lagi meski Anja kini berdiri menjauh dan memunggunginya.
"Berapa lama?" tanya Anja bersamaan dengan suara helaan napas panjang.
"Lima hari," jawabnya makin merasa tak enak.
"Selama lima hari itu ponsel dan seluruh alat komunikasi disita. Jadi...."
"Disita? Kenapa?!" Anja mendadak membalikkan badan dan menatapnya marah.
"Aturannya begitu," jawabnya getir.
"Terus kalau aku pingin ngomong sama kamu gimana?!" salak Anja.
Ia hanya bisa meringis bingung.
"Nggak bisa?!" salak Anja lagi kian meradang.
"Jadi selama lima hari kita nggak akan bisa berkomunikasi?!?" lanjut Anja berapi-api dengan tatapan tak percaya.
"Iya, Ja. Ka...."
Tapi Anja justru berjalan dengan langkah tergesa melewatinya.
"Ja?" ia pun segera mengejar Anja yang melangkahkan kaki panjang-panjang menuju ke kamar.
"Ini cuma lima hari," ujarnya cepat sebelum Anja berhasil mencapai pintu kamar.
"Cileungsi dekat. Aku bakal pulang dalam lima har...."
BRAK!
Namun Anja telah membanting pintu tepat di depan hidungnya. Bahkan sebelum ia berhasil menyelesaikan kalimat pembelaan.
***
Keterangan :
Pernyataan bahwa meminum kecap atau susu beruang bisa membersihkan paru-paru (agar lolos medical check up) adalah hal yang tidak benar dan belum terbukti secara medis (mitos).
(sumber : www.alodokter.com)