
..........Flashback..........
Mamak Cakra
"Sudah kuperkirakan jarak tembak dan kecepatan peluru."
"Seharusnya hanya menyerempet."
"Tak sampai masuk ke dalam," pungkas Cutbang yang kini memejamkan mata. Sembari menghirup napas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya secara perlahan.
Dan sebelum berkemas lalu bersiap untuk pergi, Cutbang lebih dulu mengutus Yusya. Anggota kelompok yang termuda. Baru berusia sekitar 16 tahun. Memiliki ciri khas postur tubuh kecil seperti anak usia SD.
Tapi jangan ditanya tentang keberanian Yusya. Tak usah diragukan lagi. Yusya bahkan sering menawarkan diri untuk berada di garis terdepan setiap kali kelompok Cutbang melakukan operasi penyerangan.
Alasannya tentu saja karena ingin membalas dendam pada para tentara. Sebab dua tahun silam, ayah dan ibunya tewas terkena peluru nyasar para tentara. Saat terjadi kontak senjata antara tentara dan pasukan GNM di perbukitan Sudan, Matang Kumbang, Bireuen.
Cutbang meminta secara khusus kepada Yusya untuk turun ke kota. Guna mencari informasi tentang keadaan Kapten polisi Setyo.
Dan usai Subuh, mereka mulai bergerak meninggalkan markas yang terletak di tengah hutan. Tempat persembunyian mereka selama dua minggu terakhir ini.
Cutbang memerintahkan mereka semua untuk terus berjalan ke arah utara. Menelusuri jalan setapak licin yang kanan kirinya diapit jurang.
"Hati-hati Cut Da!" begitu Latif seringkali memperingatinya. Ketika ia secara tak sengaja terantuk batu atau mulai berjalan terhuyung-huyung akibat pencahayaan yang terbatas.
Membuat Cutbang yang berjalan persis di depannya sembari menggendong Is. Senantiasa menyiagakan punggung agar menjadi tumpuan baginya. Supaya jangan sampai tergelincir ketika terpeleset.
Ia pun terus berjalan mengikuti langkah kaki Cutbang. Menembus rerimbunan pohon yang pucuk-pucuk daun dan batangnya mulai basah oleh embun.
Sementara langit yang awalnya gelap. Kini mulai menampakkan semburat warna merah, oranye, juga biru. Disusul munculnya sinar berwarna kuning kemerahan di atas horizon sebelah timur. Tanda bahwa sebentar lagi matahari akan terbit.
---------
Kurang lebih sekitar seminggu kemudian, barulah Yusya kembali bergabung dengan mereka di sebuah pulau kecil. Dan membawa berita gembira untuk Cutbang.
"Kapten polisi itu selamat."
"Hanya terserempet."
"Terakhir kudengar kabar dia dipindahtugaskan ke Padang."
Sejak saat itu ia tak pernah mendengar kabar Kapten polisi Setyo lagi.
Sampai berpuluh tahun kemudian.
Tanpa pernah menyangka sekalipun.
Ketika perbuatan tercela yang telah dilakukan oleh Agam, mengharuskannya mendatangi sebuah Rumah Sakit. Karena Ayah sang gadis tengah dirawat di sana.
Dan jantungnya hampir berhenti berdetak, tatkala melihat sosok yang terbaring lemah di ruang ICU adalah.....Kapten polisi Setyo.
----------
..........Masa Sekarang..........
Ia segera mengambil barang yang dimaksud. Kemudian membungkusnya dengan kertas payung warna cokelat pemberian dari Pocut. Sepertinya sisa membuat sampul buku anak-anak.
Setelah terbungkus rapi, disimpannya barang tersebut di atas meja. Lalu ia pun buru-buru menutup kotak kaleng. Dan menyimpannya kembali di lemari bagian paling bawah.
Seperti bagaimana ia menyimpan semua kenangan tentang Cutbang. Di ruang hati yang terdalam.
***
Cakra
Setelah menyimpan motor di garasi, sambil bersiul ia bergegas masuk ke dalam rumah melalui halaman samping. Dimana Mas Tama, Mas Sada, Arka, dan Yasa tengah bermain basket.
"Hai Om Cakra, baru pulang Om?" sapa Yasa ke arahnya. Tepat ketika Mas Tama melakukan lemparan three point.
Ia tersenyum dan mengangguk ke arah Yasa.
"IN!" teriak Mas Tama. Yang langsung berhigh five dengan Yasa.
"18-16!" seru Yasa dengan wajah sumringah.
"Yasa main nggak main tetep menang nih kalau satu tim sama Pakde," seloroh Arka sambil menangkap bola yang dilemparkan oleh Mas Sada.
"Tenang, Mas," ujar Mas Sada yang mulai bergerak menusuk ke daerah pertahanan lawan. "Kita kalahkan mereka!"
"YAH!" teriak Arka.
Dengan sigap Mas Sada menangkap bola lemparan dari Arka. Kemudian melakukan pivot untuk menghindari hadangan Mas Tama. Lalu shoot! In.
Kini giliran Mas Sada dan Arka yang saling berhigh five.
Ia tersenyum-senyum sendiri melewati pertandingan basket Ayah-anak dan Pakde-keponakan itu. Ketika melihat Papa Anja sedang berjemur dengan ditemani oleh Mama Anja. Dan kini tengah melakukan gerakan tangan dan kaki ringan di bawah hangatnya sinar matahari pagi.
Ia pun tersenyum dan mengangguk ketika melewati Papa dan Mama Anja. Tapi di luar dugaan, Papa Anja justru memanggil namanya.
"Cakra."
Ia langsung menghentikan langkah. Lalu berjalan mendekati Papa Anja.
"Ada apa, Pa?" tanyanya tak mengerti. Karena Papa Anja hanya memandanginya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kini setelah beberapa saat berlalu, Papa Anja bahkan masih terus memandanginya. Lengkap dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Sungguh keadaan yang membuat hatinya semakin bingung tak mengerti.
Apakah ia telah melakukan kesalahan? Hingga membuat Papa Anja marah?
Atau....
Bermacam pikiran buruk mulai memenuhi kepala. Membuat jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang.
Apakah ini pertanda buruk atau.....
Sementara di lapangan basket masih terdengar teriakan saling bersahutan saat ada yang berhasil mencetak angka.
Ketika tiba-tiba Papa Anja mengulurkan tangan ke arahnya.
Ia sempat termangu sebentar, sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Papa Anja dengan hati tak karuan.
Dan sejurus kemudian kepalanya hampir meledak, ketika Papa Anja tiba-tiba saja sudah berlinangan air mata. Dengan tangan mereka yang masih saling berjabat tangan.
"E....," ia menelan ludah berkali-kali untuk menutupi rasa gugup. Benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
Membuatnya melihat ke arah Mama Anja. Yang kini tengah memeluk lengan kiri Papa Anja sembari menyunggingkan seulas senyum padanya.
Hal kontradiktif yang diperlihatkan oleh Papa dan Mama Anja tentu saja membuat kepalanya langsung dijejali oleh berbagai pertanyaan yang cukup membingungkan.
Mengapa Papa Anja menangis tapi Mama Anja justru tersenyum manis?
Apakah ia telah melakukan kesalahan? Kekeliruan yang tak disengaja? Telah mengecewakan? Atau...telah melakukan perbuatan yang tak berkenan di hati Papa Anja?
Namun pertanyaan yang dilontarkan oleh Papa Anja ternyata jauh di luar ekspektasi, "Kamu...pernah ketemu dengan Ayah kamu?"
Ia menggeleng dan mengangguk dalam satu waktu.
Ia pasti pernah bertemu dengan Ayah. Meski sama sekali tak pernah bisa mengingat momen tersebut.
Papa Anja melepaskan jabatan tangan mereka berdua. Lalu menepuk bahunya beberapa kali.
"Kamu persis seperti Ayah kamu."
Ini membuatnya terkesiap. Kalau Papa Anja bisa mengatakan jika ia persis Ayah berarti....
"Biar Cakra masuk dulu, Pa," ujar Mama Anja seraya tersenyum.
"Baru pulang kerja kan masih cape."
"Oya, Cakra....Pak penghulu bisa datang ke sininya setelah Ashar. Nanti kamu siap-siap ya."
Ia tersenyum mengangguk, "Baik, Ma."
Ia pun melangkah menuju ke teras samping dengan hati yang masih bertanya-tanya. Sementara Mama Anja terlihat berbisik di telinga Papa Anja sembari mengusap-usap punggung. Sedangkan lapangan basket masih saja riuh oleh suara teriakan.
Sambil sesekali masih menengok ke arah Papa Anja dengan perasaan bingung, ia mencuci tangan di bawah kran air. Kemudian masuk ke dalam rumah melalui ruang tengah. Dimana Anja terlihat memangku Aran, tengah duduk di sofa sambil bercakap-cakap dengan Teh Dara.
"Eh, Ayah udah pulang...," seru Anja riang begitu melihatnya masuk ke ruang tengah.
Wajahnya mendadak memerah campur tersipu mendengar sambutan menyenangkan Anja. Sementara hidungnya langsung mencium aroma keharuman bayi yang khas sekaligus menyegarkan.
Membuatnya tak sabar untuk mendekati dua pemilik hatinya. Namun urung begitu ingat jika ia masih memakai seragam kerja.
"Aku...ganti baju dulu ya," ujarnya seraya tersenyum.
Ia hanya tertawa dan buru-buru masuk ke dalam kamar. Ingin cepat-cepat mandi dan berganti baju. Agar bisa segera menimang dan bermain-main dengan Aran.
***
Mamak Cakra
Jam satu siang Pak Cipto datang mengetuk pintu rumah mereka. Padahal ia sudah mengatakan pada Agam melalui telepon, jika mereka hendak pergi ke rumah Anjani dengan menggunakan Taxi Online.
"Papa Anja yang minta Pak Cipto untuk menjemput Mamak di rumah," begitu kata Agam. "Bukan aku yang minta."
Dengan dibantu oleh Anwar dan Ella untuk ikut membawakan barang bawaan yang cukup banyak. Mereka pun berjalan beriringan menyusuri gang.
"Wah, mau pada kemane nih Mak Agam?"
Seloroh orang-orang yang mereka lewati. Ia hanya menjawab seperlunya sembari terus menebar senyum.
Setelah semua barang tersusun di dalam bagasi, mereka segera bertolak menuju ke rumah Anjani.
"Asyik...asyik...asyik! Mau ketemu Dekgam...Yeeee....," seru Sasa yang sepanjang perjalanan terus tertawa riang.
***
Papa Anja
Ia tengah duduk di ruang tengah bersama Niar dan yang lainnya. Ketika Jaja dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah melalui teras samping.
"Tamunya sudah datang, Pak."
Niar segera membantunya untuk berdiri. Lalu mereka berjalan menuju ke ruang tamu. Dimana Tama, Sada, dan Dara telah berdiri di depan pintu. Siap menyambut rombongan yang baru datang.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap seseorang yang langsung dijawab oleh ketiga anak menantunya serempak.
"Waalaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Selamat datang di kediaman orangtua kami," begitu sambutan pertama yang diberikan oleh Tama.
Disusul dengan Jaja, Enok, dan Cipto yang silih berganti memasuki ruang tamu membawakan barang-barang bawaan.
"Tolong disimpan di ruang tengah saja, Bi," ujar Dara memberi instruksi. "Di atas meja yang tadi saya kasih tahu."
"Baik, Neng."
Tama, Sada, dan Dara kini tengah bersalaman dengan para tamu sambil saling tersenyum dan menyapa. Hingga akhirnya, sosok wanita yang terlihat sangat asing masuk ke ruang tamu seraya menyunggingkan senyum.
Niar sempat mengeratkan genggaman tangan mereka berdua. Namun air matanya sudah keburu berlompatan keluar.
Sesosok bertubuh kurus yang baru saja memasuki ruang tamu itu, jelas jauh berbeda dengan yang berada di sisi Hamzah saat resepsi pernikahan puluhan tahun silam. Yang berhasil membuat rekan-rekannya saling berseloroh membahas kecantikan yang dimiliki oleh sang mempelai wanita.
Namun garis wajah yang dimiliki jelas menandakan jika mereka adalah orang yang sama. Hanya kini, terlihat sangat kurus dan jauh lebih tua dibanding usia yang sebenarnya.
Wanita kurus dan tua itu, istri Hamzah, tersenyum sembari menganggukkan kepala ke arahnya. Menjadi adegan yang sama persis seperti yang diingatnya. Ketika ia menyerahkan kardus berisi bahan kebutuhan pokok sebelum pergi berdinas ke Banda Aceh.
Sebelum tragedi memilukan yang menimpa Cut Sarah terjadi.
Sebelum akhirnya persahabatan mereka harus diuji.
"Silakan duduk," Dara mempersilakan tamu yang berjumlah dua orang wanita dewasa dan tiga anak-anak itu untuk duduk.
Sementara ia masih berdiri mematung dengan air mata berlinang.
***
Tama
Ia segera berbisik ke arah Sada agar membawa tamu selain ibu Cakra ke ruang tengah. Demi melihat Papa sedari tadi tak berhenti meneteskan air mata.
"Pa...Ma...kami ke dalam dulu," pamit Dara setelah mendapat bisikan dari Sada.
Yang dijawab dengan anggukan oleh Mama. Sedangkan Papa masih saja menangis.
"Eh, anak-anak...ada banyak mainan seru lho di dalam," lanjut Dara dengan suara riang. "Ayo kita kemon!"
Ajakan Dara langsung disambut oleh wajah-wajah sumringah penuh rasa ingin tahu dari tiga bocah yang baru datang.
"Kak...kita ke dalam dulu yuk," tak lupa Dara juga mengajak wanita cantik yang datang bersama ibu Cakra.
Wait, what?
Yeah, terserahlah. Dalam first impressionnya wanita itu memang cantik kok.
"Lana....ini ada teman baru sayang.....," seru Dara yang telah meninggalkan ruang tamu. "Kita kenalan yuuuk...."
Setelah semua beranjak ke ruang tengah, kini tinggal Papa, Mama, ibu Cakra yang juga istri Hamzah Ishak, dirinya, dan Sada.
Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Hanya terdengar suara Papa yang berkali-kali menyusut hidung akibat menangis. Sementara ia sama sekali tak memiliki bahan yang tepat untuk memulai pembicaraan.
"Wah...kita ketemu lagi ya," Mama berusaha mencairkan suasana. "Apakabar Bu Cut?"
"Alhamdulillah baik, Bu Niar. Sebaliknya apakabar juga ibu dan bapak?"
"Alhamdulillah kami juga baik....," Mama tersenyum lebar. "Baik sekali. Ya kan, Pa?" seloroh Mama ke arah Papa yang masih berusaha menguasai diri.
"Saya minta maaf....," gumam Papa tiba-tiba dengan suara serak karena sisa tangis.
"Atas apa yang terjadi puluhan tahun silam....."
"Tak ada yang perlu dimintakan maaf," ujar Ibu Cakra yang matanya mulai berkaca-kaca. Seraya mengambil sesuatu dari dalam Tote bag yang tersimpan di kursi. Kemudian meletakkannya di atas meja.
"Semua sudah takdir dari Yang Maha Kuasa....."
Kalimat yang diucapkan oleh ibu Cakra justru membuat Papa kembali meneteskan air mata. Kali ini ditambah Mama juga.
Sementara ia dan Sada hanya bisa menjadi penonton tanpa suara.
"Ini.....Saya serahkan amanah dari almarhum....," ujar ibu Cakra seraya menyorongkan bungkusan berwarna cokelat ke arah Papa.
"Semoga berkenan......"
Ia pun berinisiatif untuk mengambil bungkusan tersebut. Lalu menyerahkannya kepada Papa.
"Almarhum merasa sangat menyesal karena telah menembak waktu itu....," ucap ibu Cakra dengan suara tersendat.
"Tidak ada niatan unt....."
"Saya tahu....," potong Papa cepat sambil menyusut air mata. "Hamzah terpaksa melakukannya."
"Saya tahu."
"Pelurunya hanya menyerempet," lanjut Papa mencoba tersenyum. "Tidak sampai tembus."
"Hanya ada luka akibat serpihan."
"Waktu itu juga langsung mendapat perawatan dari dokter di Puskesmas terdekat......"
Ibu Cakra menganggukkan kepala dengan air mata berlinang.
"Saya...turut berdukacita atas wafatnya Hamzah....," ucap Papa pelan.
Ibu Cakra kembali menganggukkan kepala.
Keadaan yang membuat Sada berinisiatif untuk menyimpan kotak tissue tepat di hadapan ibu Cakra.
"Terimakasih," gumam ibu Cakra ke arah Sada, seraya mengambil selembar tissue guna menyusut air mata.
"Dan saya minta maaf atas apa yang terjadi di saat sekarang....," ujar ibu Cakra dengan nada suara penuh penyesalan.
"Karena perbuatan tercela putra saya....telah membuat Anjani...."
"Memang sudah jalannya harus begini...," potong Papa cepat.
"Tidak ada yang harus disalahkan atau disesali....."
"Kita berdoa saja....semoga ini adalah akhir dari kisah menyedihkan di masa lalu...."
"Dan semoga....rumah tangga anak-anak kita, diliputi oleh kebahagiaan sampai akhir hayat...."
"Aamiin...," gumam mereka semua yang ada di sana dengan penuh pengharapan.
Jujur ia tak pernah menyangka, jika persoalan yang menurutnya paling pelik, justru bisa diselesaikan dengan begitu mudah. Seolah jalan terbuka dengan sendirinya.
Persoalan yang menurut pemikiran terbatasnya sebagai manusia akan membawa pada kesedihan dan rasa sakit hati, justru menimbulkan kelegaan yang luar biasa.
Persoalan yang baginya adalah akhir dari perjalanan kisah Anjanya tersayang dengan Cakra, justru menjadi titik awal bagi mereka semua.