
Tama
Ia sedang duduk dan merokok di teras samping. Sambil sesekali memperhatikan para pekerja vendor yang tengah memasang aksesori, lapisan, tirai, dan penutup tenda. Serta menghias dengan detail menarik yang elegan.
Ketika Sada muncul dari arah ruang tengah. Meregangkan tubuh sebentar di depan pintu. Sebelum akhirnya ikut mendudukkan diri di kursi teras.
Malam semakin beranjak. Entah jam berapa sekarang. Mungkin 10 atau 11?
Kondisi rumah sunyi dan sepi. Karena hampir seluruh penghuni telah berada di kamar masing-masing. Namun sesekali masih terdengar suara denting besi dan bebatan kain. Berasal dari para pekerja vendor yang masih berusaha menyelesaikan pekerjaannya.
Selama beberapa menit mereka berdua hanya saling berdiam diri. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sejurus kemudian Sada mengikuti jejaknya. Menarik sebatang rokok lalu menyulutnya. Membuat teras samping semakin dipenuhi oleh asap putih.
"Sad story that ended with a happy ending?" gumam Sada sembari mengembuskan asap putih ke udara.
"Hah?" ia harus mengubah posisi duduk. Lamunannya sedikit terganggu akibat dari kalimat yang diucapkan oleh Sada barusan.
"Papa dan Hamzah Ishak," lanjut Sada tak mempedulikan kecengoannya. "Anja dan Cakra?"
"Ehem....," ia berdehem sebentar untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokan.
"Sekarang aku udah....," Sada mengangkat bahu. "Lepas tangan sama tuh bocah."
"Nggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," lanjut Sada sambil menjentikkan rokok ke dalam asbak untuk membuang abunya.
Ia hanya tertawa tanpa suara guna menanggapi ucapan Sada. Lalu kembali mengisap rokok dalam-dalam. Dan mengembuskan asap putih secara perlahan.
"Yang aku heran," Sada kembali angkat suara meski ia terkesan pasif. "Kenapa selama ini Papa merahasiakan kisah dengan Hamzah Ishak?"
"Bahkan kepada Mama."
"Too deep," ia menjawab sekenanya.
"Kalau Papa cerita dari dulu, mungkin kejadiannya nggak akan kayak gini," Sada mengembuskan napas panjang.
"Kalau Papa cerita dari dulu, kamu nggak akan hajar tuh bocah waktu tahu ngehamilin Anja?" desisnya setengah tertawa.
"Hajar tetep," jawab Sada cepat. "Enak aja kalau sampai lenggang kangkung!"
"Anja adik satu-satunya!" sungut Sada lagi. "Cari mati emang tuh bocah! Brengsek bener!"
Ia tertawa sumbang mendengar umpatan Sada.
Tak diragukan lagi, meski ia menjadi orang yang paling bertanggungjawab terhadap diri Anja. Namun ikatan batin antara Sada dan Anja jelas jauh lebih erat dan kuat.
"Yah...minimal kita nggak perlu repot-repot misahin mereka berdua," gumamnya enteng. "Karena Papa sendiri yang acc tuh bocah."
"Case closed," pungkasnya sembari melakukan isapan terakhir. Sebelum mematikan batang rokok yang hampir habis ke atas asbak.
"Tapi kisah Papa dan Hamzah bikin aku mikir," Sada menyipitkan mata.
"Jangan sampai apa yang kita lakukan di masa sekarang, berdampak buruk bagi keturunan kita kelak."
"Kebayang nggak sih, kalau ada orang yang nggak bersalah tapi tetap kita proses."
"Puluhan tahun kemudian, anaknya datang ke rumah melamar anak kita," Sada bergidik ngeri. "Jangan sampai."
"Berlebihan," gerutunya sambil menggelengkan kepala.
"Kasus kayak Papa sama Hamzah Ishak itu seribu satu," lanjutnya yakin. "Memang sudah takdir dan jalannya begini."
Sada hanya menghela napas panjang mendengar ucapannya. Lebih memilih untuk mengisap rokok dalam-dalam lalu mengembuskannya.
Sementara ia kembali menarik sebatang rokok dan menyulutnya lagi.
"Berarti setelah ini....kita kembali ke dunia masing-masing?"
Ia tak menjawab pertanyaan Sada. Karena tengah memperhatikan para pekerja vendor melakukan sentuhan terakhir pada dekorasi di bagian atas tenda.
"Back to real life," gumamnya dengan nada malas dan sumbang. "Rutinitas yang bisa membunuhmu."
Sada terbahak mendengar kalimat satirnya.
"Udah sih, kalau memang tertarik. Gasspol."
Ia mengernyit tak mengerti ke arah Sada, "Maksudnya?"
Sada justru kembali tergelak, "I know you so well."
"Cuma masalahnya, dia kakak ipar Cakra," lanjut Sada dengan mimik mengejek.
Membuatnya tersedak ludah sendiri hingga terbatuk-batuk.
"Dunia terbalik," Sada masih saja mengoceh dengan gaya paling menyebalkan.
"Bisa-bisa besok gantian Cakra yang ngospek."
"Pediiiih," Sada memegang dadanya sendiri dengan mimik berpura-pura sedang menahan rasa sakit. Lalu sejurus kemudian kembali terbahak penuh kemenangan.
"Brengsek!" sungutnya sebal.
"Tapi kuakui memang....," Sada mengacungkan jempol ke arahnya seraya mempermainkan alis turun naik. "Mancaaap."
"Ba ji ngan!" makinya sambil melempar Sada memakai korek gas yang diambilnya dari atas meja.
Tapi Sada keburu menghindar. Membuat lemparannya hanya mengenai angin. Dan korek gas langsung membentur dinding yang berada tepat di belakang punggung Sada. Lalu jatuh ke lantai.
Sada masih tertawa mengejek. Tapi ia pura-pura tak peduli.
"Jangan sampai kalah set sama om Raka," ujar Sada kali ini dengan mimik lebih serius.
"Om Raka juga lagi getol cari bini," lanjut Sada yang ocehannya terdengar kian menyebalkan.
"Secara tampilan, om Raka jelas di atas rata-rata. Saingan berat, man," Sada mengulurkan kedua tangan seperti gerakan sedang menaksir sesuatu.
"Jadi...," Sada sengaja menggantung kalimat. Jelas sedang menyiapkan amunisi guna menghabisinya.
"Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!" seru Sada sembari mengepalkan tangan ke atas.
"Wani (berani)! Wani! Wani!" Sada kembali berseru dan semakin mengepalkan tangan kanan ke atas.
"J ancuk!" makinya makin sebal. "Wong edyan (orang gila)!"
Tapi Sada justru kembali terbahak. Sementara ia hanya bersungut-sungut sambil mengumpat tak karuan.
"Haaaah....," kini Sada merentangkan kedua tangan ke atas. Lalu mematikan rokok ke dalam asbak.
"Kayaknya Dara lagi nungguin nih," Sada mengerling ke arahnya. "Siap-siap tugas malaaam."
"Ndasmu!!" ia kembali memaki sambil menendang lutut Sada yang sedang berjalan melewatinya.
Sada yang tak keburu menghindar dari tendangannya hanya tergelak. Terus berlalu memasuki ruang tengah sambil bersenandung, "Malam-malam aku sendiriiii...tanpa cint...."
"Ampun! Ampun!" teriak Sada cepat ketika ia berdiri hanya untuk memiting leher adik sialannya itu.
Membuat beberapa pekerja vendor menoleh ke arah mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Ia bukannya menghentikan pitingan di leher Sada, tapi justru semakin mengunci tubuh adiknya agar tak bisa berkutik lagi.
Tak lama lagi usianya genap 40 tahun. Sementara Sada tiga tahun di bawahnya. Tapi candaan mereka berdua masih seperti anak SD yang bertengkar sebab berebut mainan.
"Adow!" gerutu Sada karena ia benar-benar menguncinya.
Dan selama beberapa menit mereka saling berbalas untuk mengunci satu sama lain.
"Daraaaa!! Tolongin dong, tolongng!!" pekik Sada dengan suara dibuat-buat ketika ia hampir mengalahkannya.
"Anyone help me, please!"
Sejak kecil, Sada jelas tumbuh menjadi tipikal attention seeker kelas kakap. Hobi memutarbalikkan fakta terutama di depan Mama. Membuatnya sering diomeli Mama karena dianggap "nakal dan tak bisa menjaga adik sendiri." Sialan memang Sada.
Tapi teriakan Sada barusan membuat mereka berdua terbahak bersama. Lalu saling melepaskan kuncian masing-masing.
"Call me kalau butuh supporter," ujar Sada sebelum berlari memasuki ruang tengah sambil tertawa tanpa suara.
Sementara ia hanya bisa memaki dan kembali mendudukkan diri di kursi teras. Menyulut sebatang rokok lagi sekedar menghilangkan gundah. Namun berjanji pada diri sendiri, ini akan menjadi rokok yang terakhir untuk malam ini.
Sembari mengisap rokok dalam-dalam, matanya kembali memperhatikan para pekerja vendor yang masih hilir mudik. Namun pikirannya telah melanglang buana entah kemana.
---------
...........Flashback..........
Sebagai seorang perwira polisi, Papa mendidik dua anak lelakinya dengan penuh ketegasan dan kedisiplinan.
Pernah suatu sore, ia masih duduk di bangku kelas 5 SD waktu itu. Pergi bermain bola dengan teman-teman sampai tak ingat waktu mandi dan mengaji.
Sesampainya di rumah, tanpa berkata Papa langsung menariknya untuk masuk ke dalam kamar. Lalu menunjuk kapstok yang tergantung di balik pintu kamar.
"Mau pilih yang mana?!" ujar Papa dengan suara tegas sambil menunjuk ikat pinggang, hanger, dan kemoceng.
Ia yang tak mengerti asal saja menunjuk hanger.
Ia hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam.
"Sekarang jam berapa?" tanya Papa masih dengan suara datar.
"Hampir Maghrib."
"Jadwal ngaji jam berapa?"
"Setengah empat."
"Kalau pulang main jam segini masih bisa ikut ngaji nggak?"
Ia menggelengkan kepala.
"Sekarang tahu salahmu apa?!"
Ia mengangguk.
"Bagus," Papa berhenti sejenak untuk kemudian berkata.
"Sekarang pilih, kaki, paha, punggung?!"
Ia hanya terlolong tak percaya.
"Mau dipukul lima atau sepuluh kali?!"
Sore itu, Papa memukul paha sebelah kanannya menggunakan hanger sebanyak lima kali.
Ia tak menangis. Meski sabetan hanger di paha kanan meninggalkan rasa sakit dan pedas, yang bahkan masih terasa hingga malam hari. Namun kejadian 'bagaimana Papa memberi hukuman', tak pernah beranjak dari dalam benaknya.
"Kamu harus tahu! Setiap perbuatan ada akibatnya!" ujar Papa ketika menutup sesi persidangan sepihaknya.
Sejak saat itu, ia tak pernah terlambat lagi untuk pulang ke rumah.
Namun, janji tinggallah janji. Di kelas 3 SMP, tanpa sengaja ia kembali terlambat pulang ke rumah.
Waktu itu mereka sekeluarga masih tinggal di Malang. Di satu malam minggu, ia dan teman-teman ramai-ramai pergi menonton konser musik. Dengan bintang tamu GIGI, yang baru saja merilis album terbaru.
Dan jam malam yang telah disepakati bersama adalah, pukul 22.00 WIB. Tapi ia baru sampai di depan pagar rumah hampir tengah malam. Dan tak seorangpun yang membukakan pintu untuknya.
Cak Nan, salah satu pekerja rumah tangga mereka saat itu, hanya bisa menatapnya iba dari balik jendela ruang tamu.
Begitupun Sada. Semalaman ikut duduk menungguinya dari balik jendela ruang tamu.
Malam itu, untuk pertama kalinya ia tidur di teras rumah. Hanya beralaskan keset dan beratapkan gelapnya langit malam. Menggigil kedinginan seperti tuna wisma yang tak memiliki rumah.
Keesokan hari, Papa baru memperbolehkannya masuk ke dalam rumah setelah jam 10 pagi. Meski Mama sudah menatapnya dengan mata berkaca-kaca dari balik jendela ruang tamu karena tak tega.
"Enak tidur di luar?" tanya Papa ketika ia melangkahkan kaki ke dalam rumah.
Ia menggeleng dengan hati bergemuruh. Jiwa mudanya jelas memberontak karena merasa mendapat perlakuan yang sewenang-wenang.
Padahal banyak teman-temannya yang sesama anak perwira, tak masalah pulang terlambat. Bahkan banyak yang pulang pagi karena mulai senang berpetualang di malam hari.
"Selama seminggu, nggak ada motor!" begitu Papa memberi hukuman tambahan.
Meski Mama telah memohon-mohon, agar ia diperbolehkan untuk tetap menggunakan sepeda motor.
Sore itu juga, ia minggat dari rumah.
"Aku ikut," Sada bahkan telah bersiap dengan tas ranselnya.
Tapi ia menggeleng, "Ini urusan orang dewasa."
Selama berhari-hari ia hidup lontang lantung dari satu rumah teman ke rumah teman lainnya. Menumpang makan dan tidur. Selama itu pula ia tak masuk sekolah tanpa keterangan. Ia benar-benar marah dan sedang melancarkan protes keras.
"Pulang, Mas. Mama tiap hari nangis sampai sakit," bujuk Sada, tiap kali menemuinya di rumah teman yang menjadi tempat persinggahan.
Tapi ia menggeleng. Hatinya sudah bertekad, pantang pulang sebelum Papa merubah sikap dalam mendidik anak-anaknya. Menjadi lebih demokratis. Tidak kaku seperti yang selama ini ia rasakan.
Benar-benar periode keemasan masa pemberontakannya.
Namun hati yang masih diliputi oleh kemarahan dan hasrat ingin menunjukkan keakuan, langsung menguap di tengah jalan. Ketika ia mendengar kabar, jika Ayah Danang (sahabat karibnya waktu itu) yang juga anak buah Papa. Tewas ditembak oleh pelaku perampokan saat melakukan operasi penggrebekan.
Hari itu juga ia pulang ke rumah dengan sukarela.
Ia marah kepada Papa karena mendidiknya terlalu keras. Sangat marah. Tapi ia tak ingin kehilangan Papa seperti Danang kehilangan ayahnya. Karena ia menjadi saksi, bagaimana hancurnya perasaan Danang usai ditinggal wafat oleh sang ayah.
"Semakin kamu melawan, Papa juga semakin keras!" hardik Papa ketika ia menginjakkan kaki ke dalam rumah usai minggat.
Sejak momen itu, pikirannya mulai tertata menjadi lebih baik. Bahkan di dalam hati dan kepalanya telah terpatri, jika tujuan utama dalam hidup hanyalah satu, yaitu berbakti kepada orangtua.
Jadi ketika jelang kelulusan SMP Papa bertanya, "Mau lanjut SMA atau daftar PN?"
Ia menjawab PN (SMA Pemuda Nusantara). Karena tahu, Papa ingin anak-anaknya mengikuti jejak menjadi abdi negara. Meski hati kecil sangat ingin melanjutkan studi ke SMA biasa. Agar bisa tetap satu sekolah dengan sang pujaan hati.
Dan cinta pertamanya benar-benar harus kandas di tengah jalan. Ketika ia resmi menyandang status sebagai siswa PN. Harus menetap di asrama yang berada jauh di luar kota. Bahkan beda propinsi.
Begitu lulus dari SMA PN, ia langsung mendaftar Akpol seperti harapan Papa. Meski sempat mengikuti tes UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, saat ini disebut SBMPTN), walau gagal.
"Kayaknya kita nggak bisa lanjut," begitu kalimat singkat namun menyakitkan yang diucapkan oleh Alkena, tambatan hati di kala SMA.
"Aku nggak bisa kalau LDR an."
Begitu alasan yang diberikan Alkena ketika memutuskan hubungan mereka. Alkena yang juga siswi SMA PN, berhasil lulus UMPTN di jurusan Arsitektur Ganapati.
Ia marah dan tak terima. Baginya, jarak dan waktu bukanlah halangan.
Tapi ia juga menyadari, jika perasaan seseorang tak pernah bisa dipaksa.
Maka ditelan mentah-mentah saja semuanya.
Dan selama menjalani pendidikan di Akpol, ia tak pernah terlibat perasaan yang mendalam dengan seseorang. Hanya selingan waktu sepintas lalu. Tak ada yang berkesan di hati.
Bahkan sampai ia lulus dari Akpol dan mendapat tempat tugas pertama di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
Tahun kedua ketika ia telah dipindahtugaskan ke kota Manado, Papa dan Mama menyempatkan diri berkunjung. Hanya untuk bertanya sekaligus menginformasikan,
"Kapan kawin?" tanya Papa to the point.
"Ada tuh anak teman Papa, baru lulus FK (Fakultas Kedokteran)," lanjut Papa tanpa pernah diduganya.
"Anaknya baik, sopan," sambung Mama. "Cantik lagi."
Ia bukannya tak tertarik pada wanita. Begitu banyak wanita menarik berseliweran di kota Manado. Tapi belum ada yang mampu menyentuh hatinya.
Sekitar sebulan kemudian Papa dan Mama kembali mengunjunginya. Hanya untuk memastikan.
"Kenalan dulu ya," bujuk Mama. "Cuma kenalan ini."
Namanya Kinanti. Sosoknya persis seperti yang digambarkan oleh Mama. Baik, lembut, sopan, cerdas pastinya dan....cantik at the first sight.
Setahun kemudian mereka menikah.
Dua tahun usia pernikahan, kehidupan rumah tangganya bersama Kinanti semakin hangat dengan kelahiran putra pertama mereka, Gemintang Rekata Yuda.
Besar harapan jika kelak putranya bisa menjadi petunjuk bagi banyak orang, seperti gugusan bintang yang memandu perjalanan para pelaut jaman dahulu di tengah samudera.
Namun profesinya sebagai seorang abdi negara, mengharuskan untuk sering berpindah tempat tugas. Sedangkan Kinanti tengah disibukkan dengan studi spesialis matanya.
Tak ada yang mau mengalah. Tak ada titik temu. Tak ada jalan keluar.
Sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian. Mereka tak pernah lagi bersama. Meski masih terikat status pernikahan yang sah.
Terlebih Kinanti sempat harus menjalani fellowship di Perth (Australia) selama hampir setahun. Sebelum akhirnya resmi menyandang gelar Optalmologis termuda di Surabaya.
---------
***
Keterangan :
J ancuk. : kata makian khas Surabaya
Ndasmu. : kata makian, dari bahasa Jawa
PN : singkatan dari Pemuda Nusantara (perumpamaan).
Yaitu sebuah sekolah menengah atas yang berbasis semi militer. Menarik pelajar berprestasi dari seluruh Indonesia dengan beasiswa penuh
Fellowship. : beasiswa yang berfokus pada pengembangan kemampuan profesional seseorang pada bidang yang spesifik.
Fellowship digunakan untuk mendukung kegiatan akademik seperti penelitian pada isu tertentu sampai pengembangan organisasi atau inisiatif berorientasi kemasyarakatan (sumber : rencanamu.id)
Optalmologis. : sebutan untuk ahli optalmologi
Optalmologi : spesialisasi ilmu kedokteran yang berkonsentrasi pada diagnose penangan dan pencegahan dari kerusakan, cedera dan penyakit mata bagi semua individu dari segala umur.
Dokter yang mengambil spesialisasi dalam bidang optamologi ini mampu mendiagnosisi dan menangani segala aspek-aspek penyakit mata, serta dapat melakukan operasi rumit untuk menyelamatkan penglihatan pasien.
Optalmologi merupakan salah satu bidang kedokteran yang tidak biasa dan nyaris semua dokter yang mengambil spesialisasi ini adalah ahli di dua bidang mereka yaitu mereka bukan cuma spesialis mata, akan tetapi juga dokter bedah yang sangat terampil (sumber : rsisurabaya.com)