Beautifully Painful

Beautifully Painful
173. Love is You



Anja


"Aduh!"


Ia harus menahan tawa di sela hal menggebu yang sedang terjadi. Sebab acap kali punggung Cakra kedapatan membentur sudut rumah kayu. Kepala Cakra bahkan berulang kali terantuk langit-langit yang memang tak terlalu tinggi itu.


DUK!


Ia yang sedang melayang akibat sentuhan Cakra, dalam sepersekian detik harus rela terjun bebas. Seakan jatuh dari ketinggian. Lalu terlempar dengan keras ke atas tanah. Mau tak mau kembali pada kenyataan. Demi mendengar suara bagian tubuh Cakra, yang lagi-lagi membentur benda keras.


Ia terpaksa membuka mata dan melihat Cakra terkekeh, "Serasa Ryan Reynolds di Buried. Dak duk euy."


Tangannya terayun memukuli lengan Cakra seraya menggelengkan kepala tanda tak sepakat. Sebab dalam Buried, Ryan Reynolds dikisahkan terjebak di dalam peti mati yang terkubur.


"Kalau ngomong yang bener!" sungutnya tak setuju.


Cakra masih terkekeh, "Tapi seru juga."


"Nggak akan ada yang ngintip kan?"


Kali ini ia memukul otot bisep Cakra yang liat. Sebab sedang menopang berat tubuh agar tak memberatkan dirinya.


Tapi Cakra justru semakin menjadi.


Meja kecil yang sejak awal sengaja dipinggirkan hingga menempel ke salah satu sisi dinding kayu, juga tak luput dari sasaran aksi menggila Cakra selanjutnya.


"Abang?" ia terkesiap ketika sesuatu yang dingin terasa menyentuh kulit.


Rupanya Cakra tak sengaja menyenggol gelas. Hingga isinya tumpah dan berceceran kemana-mana.


"Sori...sori...," Cakra terkekeh dan langsung menegakkan gelas yang telah kosong. Kemudian menyusut air yang membasahi bahunya dengan satu sentuhan manis.


Aw!


Lalu kembali memusatkan perhatian pada keseluruhan dirinya. Tanpa ada niatan untuk menjeda kobaran yang pastinya kian dahsyat menggelora.


Tanpa memberinya kesempatan sedikitpun, Cakra terus merisak, menggapai, juga menerjang. Seolah tak ingin menyisakan celah sekecil apapun. Semakin merajalela.


Darahnya bergemuruh, bergejolak, meruap-ruap, dan teraduk-aduk. Sekujur tubuhnya kian berdenyut tak karuan. Saat gelombang besar ombak nan dahsyat mulai menggulung dan menenggelamkannya dalam pusaran melenakan yang begitu membuai.


Selama itu pula, ia harus berusaha keras menggapai tumpuan. Berpegangan erat pada leher, lengan, bahu bidang, punggung, bagian tubuh manapun yang dimiliki Cakra.


Hingga ia merasa, udara di dalam rumah kayu semakin pengap. Suhunya bahkan memanas hanya dalam sekejap. Sedangkan langit-langit yang terbuat dari kaca telah sepenuhnya tertutup embun.


Saat itulah ia merasa begitu dicintai.


Love is you (cinta adalah kamu).


***


Cakra


Ia menenggelamkan wajah dalam-dalam di sepanjang leher Anja. Seolah semua beban menguap, kemudian pecah di udara tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


Usai tadi siang mengemudi dengan kecepatan tinggi. Berharap bisa segera bertemu tambatan hati. Tapi kenyataan justru membawanya pada kemarahan yang menggelegak.


Satu pukulan telak Erzal bahkan masih menyisakan rasa pegal di sekitar rahangnya. Tapi itu bukan masalah berarti. Karena kesalahpahaman yang hampir meledakkan kepala, justru berhasil membuat mereka berdua bertumbuh bersama.


Semakin mengerti dan memahami satu sama lain. Sedikit banyak mulai tahu kapan harus bicara, diam, atau mengambil sikap.


"Abang nggak pakai caps lagi."


Gerutuan Anja membuatnya terkekeh, "Nggak punya."


"Beli, Abaaang!" suara Anja terdengar semakin menggerutu.


"Nggak ah," ia menggeleng di leher Anja. "Nggak enak kalau pakai itu."


Sebuah pukulan langsung mendarat di lengannya.


"Trust me (percayalah padaku)....," bisiknya dengan penuh perasaan. "Aku tahu cara mainnya."


Tapi pukulan kedua justru berhasil mendarat di lengan yang sama.


"Jadi...Case clear (kasus jelas)?" ia mengangkat wajah karena khawatir Anja tak sanggup lagi untuk menopang berat tubuhnya.


Anja tersenyum campur mencibir. Sembari memijit ujung hidungnya menggunakan ujung jari telunjuk, "Abang jangan lupa kasih kabar."


Ia tertawa.


"Aku nggak mau tahu, pokoknya nggak ada slowresp slowresp an lagi," lanjut Anja. Seraya mengangkat tangan, bermaksud menyisiri rambut panjangnya yang berjatuhan di sekitar kening.


Kali ini ia hanya mengu lum senyum.


"Aku juga nggak mau tahu....," Anja sengaja menggantungkan kalimat. "Tiap hari harus denger suara Abang."


"Kan ada podcast," ia tertawa.


Anja menggeleng, "Mau denger suara asli."


Ia masih tertawa. Lalu mengusap pipi halus Anja menggunakan ibu jari, "Hanya ada Pak Cipto di antara kita?"


Anja mengkerut, "Dipa?"


Ia menggeleng.


"Kalau misalnya kepepet. Hayo?!" Anja mencibir.


"Dipa aman kok," Anja menatapnya sungguh-sungguh seraya tetap menyisiri rambutnya. "Dijamin 101%."


Ia tertawa.


"Gonna ask for your permission (bakalan minta ijin dulu sama kamu kok)," Anja mengacungkan dua jari sebagai tanda berkomitmen.


Ia tersenyum. Lebih tertarik untuk membahas hal lain, "Nanti pas liburan...dilancarin lagi nyetirnya ya."


Anja mencibir, "Ntar ngadat lagi di pertigaan gimana?! Diomelin orang sekampung deh."


Ia tertawa, "Dua, tiga hari juga udah bisa lancar. Asal sering bawa."


"Biar Neng cantik bisa kemana-mana sendiri."


"Secara suaminya Bang Toyib jarang pulang."


Kini giliran Anja tertawa. Lalu mengangguk sebanyak dua kali. Dengan telunjuk yang bergerak menelusuri alisnya.


"Semangat kuliah ya," ia menyentuhkan cuping hidung mereka berdua. "Belajar yang rajin."


Kini sepasang telapak tangan mungil Anja terasa menangkup wajahnya, "Siapa takut?!"


"Kita balapan, siapa yang bakal lulus duluan?!" tantang Anja seraya menaik turunkan alis.


Ia tertawa, "Berat ini sih tantangannya."


"Deal," tiba-tiba saja Anja telah menautkan jari kelingking mereka berdua.


"Siapa cepat wisuda, dialah pemenangnya," gumam Anja dengan ekspresi penuh semangat.


 -----------------


Ia memperhatikan Anja yang kini sedang melahap churros con chocolate dengan ekspresi rakus.


"Lapar juga," gumam Anja dengan mulut penuh.


Ia tertawa.


"Mau?" Anja menempatkan sepotong churros con chocolate di depan mulutnya. Tapi ia menggeleng.


"Ya udah kalau nggak mau," Anja buru-buru melahap churros con chocolate yang baru saja ditawarkan padanya.


"Habisin semua, Neng," ia mengerling dengan penuh arti. "Biar ada tenaga kalau habis ini dikerjain lagi."


"Ish?!" Anja mendadak melotot. "Again (lagi)?!"


Ia mengedipkan sebelah mata dengan ekspresi wajah menggoda.


"Dasar!" Anja mencibir sembari terus melahap churros con chocolate.


Sambil menunggu Anja selesai makan, tangannya iseng meraih buku bersampul cokelat pemberian dari Papa Anja.


"Apaan tuh?"


Ia mengangkat bahu, "Dikasih sama Papa tadi."


Anja mendekatkan wajah padanya, "Buku?"


Ia mengusap bagian depan sampul buku yang telah lusuh itu seraya berucap, "Papa bilang, ini seperti buku takdir kita berdua."


Anja menghentikan kunyahan, lalu memandangnya tak mengerti. Sejurus kemudian justru mengambil buku bersampul cokelat dari tangannya.


"Coba kita lihat."


Ia meraih Anja ke dalam rengkuhan. Agar mereka bisa sama-sama melihat isi buku.


Dengan dagu menyandar di bahu Anja, ia bisa membaca dengan jelas, sederet kalimat yang tertulis di lembar pertama buku.


Keningnya mengernyit tanda berpikir keras. Begitu juga dengan Anja yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.


--------------- 


...Kepolisian Negara Republik Indonesia...


...Sektor Idi Rayeuk...


Pro Justicia


Salinan BAP (Berita Acara Pemeriksaan)


...(Tersangka 1)...


Pada hari ini....tanggal....tahun.....jam....


---------------- 


"BAP siapa?" Anja masih menatapnya dengan kening mengkerut.


Ia kembali mengulang membaca tulisan di lembar pertama. Lalu menggeleng tak mengerti.


Lalu Anja membuka lembar berikutnya. Sama-sama membaca setiap baris tulisan yang ada di sana.


Tapi lagi-lagi mereka hanya bisa saling berpandangan dengan penuh tanda tanya.


"Cut Sarah?" Anja menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Siapa Cut Sarah?"


Ia tetap menggeleng tak mengerti.


Dan ketika ia masih berpikir keras. Berusaha mengingat-ingat tentang siapakah Cut Sarah. Sepucuk amplop tiba-tiba terjatuh dari lembaran buku yang dibuka dengan gerakan cepat oleh Anja.


Dengan hati berdebar, diambilnya amplop dari atas lantai.


Kemudian tanpa bisa menebak apa yang akan mereka dapati, ia mulai membuka lipatan kertas yang telah usang itu.


 ------------------


Assalamualaikum,


Terimakasih banyak atas seluruh bantuan yang telah diberikan.


Tapi aku harus menyelesaikan sendiri apa yang telah kumulai.


Semoga seluruh anak keturunanmu senantiasa berada dalam lindungan Allah Ta'ala.


Wassalamualaikum,


Hamzah Ishak


---------------- 


***


Anja


Ia menyandarkan kepala di dada Cakra dengan kening mengkerut. Masih bertanya-tanya tentang isi buku dan surat yang baru saja dibacanya.


"Apa Papa dan Ayah kamu sebenarnya saling mengenal dengan baik?" tanyanya penasaran.


Cakra mengusap lengannya lembut seraya bergumam, "Aku juga nggak tahu."


"Tadi Papa belum cerita apa-apa."


"Katanya lain waktu saja kalau luang."


"Karena ceritanya panjang."


Jari telunjuknya membuat pola lingkaran dan kotak di atas dada Cakra, "Jadi tambah penasaran kan?"


"Ntar aku tanya ke Mama ah," mendadak ia punya ide cemerlang.


Cakra mengangguk setuju.


Telunjuknya masih terus membuat beberapa pola berbeda di dada Cakra, "Terus...tadi ngobrol apa aja sama Papa? Cuma dikasih buku doang?"


Helaan panjang dan hembusan napas berat lebih dulu terdengar dari mulut Cakra, sebelum menjawab pertanyaannya.


"Papa menghibahkan tanah di Cihideung untuk Aran."


Jari telunjuk yang kini sedang membuat pola segitiga di atas dada Cakra mendadak berhenti.


"Sama ngasih 10% saham Selera Persada buat Aran."


Ia mendongak hingga mata mereka saling bertautan.


Cakra mengecup keningnya terlebih dahulu. Sebelum mengatakan hal yang membuat hatinya bagai teriris sembilu.


"Papa ingin Aran mendapat haknya sedini mungkin."


"Karena status Aran sebagai....," Cakra tak melanjutkan kalimat.


Tapi ia tahu betul dengan apa yang dimaksud.


Tanpa sepatah katapun yang terucap, mata mereka tetap saling bertautan satu sama lain. Seolah mengerti kedalaman hati masing-masing.


Cakra mengusap pipinya lembut. Lalu bergumam dengan suara yang hampir tak terdengar, "Karena Aran nggak ikut nasabku (garis keturunan)."


Kini ia menatap Cakra dengan mata memanas hampir menangis, "Kesalahan kita ternyata sangat besar?"


"Sampai berimbas pada masa depan Aran."


***


Cakra


Ia hanya bisa menatap wajah penuh air mata Anja dengan perasaan tak berdaya.


"Apa kesalahan kita bisa termaafkan?" bisik Anja lirih.


Lidahnya kelu, bibirnya bahkan terkatup rapat. Namun ibu jari masih bisa mengusap lembut pipi Anja. Berusaha mentransfer keyakinan diri yang bahkan hampir musnah.


Ia jelas tak bisa menjawab apapun. Lebih memilih untuk merengkuh Anja dalam dekapan.


'Tuhan dosaku menggunung tinggi


Tapi rahmatMu melangit luas


Harga selautan syukurku


Hanyalah setitis nikmatMu di bumi


Tuhan walau taubat sering kumungkir


Namun pengampunanMu tak pernah bertepi


Bila selangkah kurapat padaMu


Seribu langkah Kau rapat padaku'


(Raihan, Mengemis Kasih)


"Apa kita masih punya kesempatan?" bisik Anja dengan suara tersendat.


Ia semakin mengeratkan rengkuhan.


"Apa kita bisa meraih bahagia walau jalan yang kita tempuh awalnya adalah kesalahan?"


Ia mencium puncak kepala Anja dalam-dalam.


Satu, dua, sepuluh. Bahkan hingga hitungan ke dua puluh sembilan, tak ada seorangpun yang bersuara. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Anja masih terisak. Sementara ia hanya terdiam. Seraya terus mengeratkan rengkuhan dan khusyu menciumi puncak kepala Anja.


Mewakili perasaan yang teraduk-aduk, hingga tak berbentuk lagi. Sebab telah hancur berkeping-keping. Berserakan tanpa daya.


Sementara di luar, malam terasa kian larut. Bahkan mungkin telah beranjak pagi. Dengan cuaca cerah, udara yang cenderung kering dan sedikit berangin.


Langit yang menggelap juga tak sepenuhnya terlihat pekat. Justru sedikit terang. Sebagai akibat sinaran dari cahaya bulan purnama di pertengahan waktu.


Ia semakin menarik selimut agar bisa melindungi mereka dari udara yang sedikit berangin. Berhembus memasuki celah rumah kayu, yang meski belum lapuk namun sudah termakan usia.


"Maafin aku....," desisan lirih Anja berhasil memecah keheningan yang mulai meresahkan.


"Karena mungkin...dulu aku yang memulai," Anja mendongak dan menatap tepat di kedua matanya.


Ia menggeleng tak mengerti.


"Kalau saja dulu aku nggak keras kepala, mau langsung pulang, nggak nekat beli minuman beralkohol, nggak ngajak Abang nginap di hotel...."


Ia masih menggeleng. Kali ini tanda tak setuju.


"Bukan hotel sih," ralat Anja dengan cibiran yang khas.


Ia yang hampir terhanyut dengan keadaan jelas tak mampu menahan tawa.


"Penginapan murahan yang panas, pengap, dindingnya tipis. Ish!"


Kali ini ia tertawa sungguhan, "Kamu nyesel?"


Anja kembali mendongak ke arahnya hanya untuk mengernyit, "Bukan," Anja menggeleng.


"Bukan nyesel."


"Lebih ke yang...oh, harusnya dulu aku nggak gitu biar jalannya nggak begini."


"Sama aja nyesel sih," gumamnya dengan senyum di ku lum.


"Beda, Abaaang," Anja kembali menggelengkan kepala.


"Coba kalau dulu aku mau diantar pulang. Mungkin besoknya kita bisa ketemu di sekolah. Trus jalannya nggak kayak begini."


Ia tersenyum samar, "Pastinya kalau ketemu di sekolah, kita berlagak seperti nggak pernah saling mengenal."


"Enggak lah," tolak Anja. "Kan aku udah tahu kalau Abang sebenarnya baik."


"Tahu dari mana?" ia terkekeh. "I'm a very bad guy (aku seorang yang buruk)."


"Ish," Anja mencibir.


"Jadi...ceritanya lagi nyesel nih, ketemu sama aku malam itu?"


"Bukan nyesel, Abaaang," Anja menyikut ulu hatinya. "Ini orang susah banget sik diajak ngobrol."


Ia tertawa, "Kalau aku sih yes."


"Yes apa tuh?!"


"Nyesel banget ketemu sama kamu malam itu."


Anja mendongak ke arahnya dengan wajah mengkerut.


"Mana pakai menawarkan diri buat mengambil alih tugas Kak Hanin nganterin makanan ke kamu."


"Nawarin pulang bareng lagi," ia menggelengkan kepala. Benar-benar tak bisa mempercayai sikap impulsifnya malam itu. Hanya karena melihat kekacauan yang dialami Anja.


Inikah yang namanya cinta?


Datang tanpa pernah kita sadari. Dan saat mulai merasa, kita justru telah tenggelam di dasarnya. Tanpa ada jalan keluar. Apalagi kesempatan untuk berputar halauan.


"Oh....," Anja menatapnya dengan pandangan marah. "Jadi begitu ceritanya?!"


"Sekarang nyesel, iya?!?" Anja mendadak menegakkan punggung hanya untuk menghadapnya langsung.


"Nyesel banget," gumamnya yakin. "Kenapa nggak ketemu kamu dari dulu."


"Bukannya ketemu di malam itu."


"Issshhh!!" Anja memukuli dadanya dengan mata mendelik. "Sebel ah!"


Ia tertawa senang karena berhasil mengerjai Anja. Lalu dengan gerakan halus berusaha meraih bahu seputih susu itu agar kembali berada dalam rengkuhan.


"Let by gone be by gone (yang lalu biarlah berlalu)," bisiknya yakin sambil mencium rambut Anja.


"Memang jalan ini yang harus kita lalui," ia menghela napas panjang.


"Meski kesalahan tetaplah kesalahan," kali ini ia sedang berusaha menegaskan pada diri sendiri.


"Semoga bisa termaafkan," bisik Anja dengan suara yang teramat lirih.


Ia mengulurkan tangan kanan ke arah Anja.


Dengan tanpa menoleh, Anja menyambut uluran tangannya.


Tanpa perlu menunggu, ia langsung menautkan jemari mereka berdua. Lalu menggenggamnya erat. Seolah enggan untuk melepaskan.


"Mau menemani aku sampai akhir?" bisiknya sambil menghirup keharuman rambut Anja.


"Sampai pemilik kehidupan berkata, waktumu telah tiba."


Kepala Anja mengangguk sebanyak beberapa kali.


"Love is you," gumamnya yakin, tepat di telinga Anja.


Anja kembali mengangguk.


"Once again (sekali lagi)?" ia jelas sedang berusaha menggoda.


Tapi Anja justru berbalik menatapnya dengan ekspresi wajah tak kalah menggoda, "Just for you, Abang."