Beautifully Painful

Beautifully Painful
86. "See You On Top!"



Cakra


Dari ruangan Pak Irwin, ia bergegas menuju ke Perpustakaan. Bermaksud untuk menyecan SKHUN dan surat rekomendasi. Sekaligus melamar pekerjaan via online, sesuai dengan kualifikasi yang diinformasikan oleh Andri beberapa hari lalu.


"Wah, yang jadi peraih nilai tertinggi," seloroh Kak Surya begitu melihatnya tengah menempelkan jempol ke mesin absensi.


"Congrats ya, Cak," timpal Kak Acha dari balik meja resepsionis. "Kereeeen," kali ini lengkap dengan acungan jempol.


"Makasih, Kak," ia hanya bisa tersenyum malu.


Usai menyecan SKHUN, ia pun langsung mengubah file hasil scan an menjadi format pdf dengan ukuran maksimal 500 KB. Sesuai dengan yang ditentukan.


Ia juga memeriksa format file lain agar ukurannya tak lebih dari 500 KB. Seperti KTP, Akta Kelahiran, Pas Foto, juga nilai raport terakhir.


Setelah check recheck, dan semuanya oke. Ia langsung login ke website resmi PT Axtra Homda Motor untuk membuat akun.


Selamat!


Akun Anda telah berhasil didaftarkan. Silahkan cek email Anda untuk melakukan aktivasi.


Begitu jawaban yang diperoleh usai meng klik tombol DAFTAR. Membuatnya segera mengecek inbox email.


Terimakasih telah mendaftar di Axtra Homda Motor. Klik link berikut ini untuk melakukan aktivasi akun anda.


Usai meng klik link yang dimaksud, ia pun dibawa menuju ke halaman aktivasi akun.


Aktivasi Akun


Anda hanya dapat melakukan aktivasi akun satu kali, harap mengisi nomor KTP (NIK) dengan benar.


Setelah memastikan mengisi nomor NIK KTP dengan benar di kolom yang tersedia. Kemudian ia meng klik tombol Aktivasi. Dan tanpa harus menunggu, ia sudah bisa log in dengan menggunakan username dan kata sandi email-nya.


Namun sebelum masuk ke halaman rekrutmen, ia terlebih dahulu mengganti kata sandinya. Kemudian kembali log in dengan menggunakan kata sandi yang baru.


Begitu berhasil log in, layar langsung memperlihatkan halaman utama website rekrutmen Axtra Homda Motor. Berupa bangunan pabrik yang besar dan berwarna putih.


Tak ingin menunggu lama, ia langsung meng klik ikon profil yang ada di sudut kanan atas laman situs. Dan mulai mengisi seluruh data yang di minta.


Mulai dari identitas, pendidikan, keluarga dan lingkungan, riwayat pekerjaan, minat dan konsep pribadi, aktivitas sosial, dan lain-lain.


Setelah semua terisi, sampailah ia di halaman terakhir. Yaitu waktunya meng upload semua dokumen yang telah dipersiapkannya tadi.


Tanpa kendala sedikit pun ia berhasil mengunggah dokumen yang di minta. Kemudian laman kembali membawanya untuk mengisi ID social media.


Namun karena ia tak memiliki sosmed, kolom tersebut ia kosongkan. Selanjutnya ia diminta untuk mengisi informasi tentang ukuran pakaian, ukuran celana, ukuran sepatu, dan lain-lain.


Setelah yakin semua data yang dberikan telah benar. Ia mencentang ceklist Ya, kemudian klik simpan.


Kemudian barulah ia mulai mencari lowongan yang sesuai dengan kualifikasi. Langsung meng klik menu untuk SMA/SMK. Lalu muncullah posisi yang tersedia. Beserta deskripsi pekerjaan sekaligus kualifikasi yang diminta.


Setelah mencermati seluruh posisi beserta deskripsi pekerjaan. Ia memutuskan untuk memilih satu yang paling memungkinkan. Lalu meng klik tombol Lamar.


Kini ia tinggal menunggu panggilan. Dan berharap itu terjadi secepatnya.


***


Anja


Jam dinding Mickey Mouse nya telah menunjukkan pukul 14.35 WIB. Tapi Cakra belum juga pulang ke rumah.


Padahal menurut informasi yang diperoleh dari grup kelas IPA2, acara pelepasan siswa telah berakhir sejak sebelum Dzuhur. Tapi kenapa Cakra belum pulang juga. Kira-kira pergi kemana dia?


Ia pun memilih untuk keluar kamar. Kemudian duduk di ayunan gantung teras samping. Menikmati angin sepoi-sepoi siang jelang sore hari yang terasa kering namun ternyata sedikit lembab.


Sembari menggigit sebatang cokelat almond kesukaannya. Sementara tangan kiri memegang selembar kertas doff warna hitam bertuliskan,


...The Senior Class of...


...Pusaka Bangsa High School...


...Cordially invites you to...


...Memories Forever...


...Love and Beyond...


...See You on Top!...


...on Saturday, May 2...


...at seven o'clock...


...in the evening...


...The PARA - The Grand Ballroom...


...Dharmawangsa Raya, Jakarta Selatan...


Iya, undangan prom night yang -dulu- begitu dinantikannya. Kini kembali mengusik.


Masih belum hilang dari ingatan, bagaimana excitednya mereka bertiga -ia, Hanum, Bening- mendaftar prom night. Meski harus merogoh kocek sebesar 999.000 agar bisa mengikuti acara puncak paling dinanti oleh sebagian besar siswa kelas XII di Pusaka Bangsa.


Ia bahkan telah memiliki desain gaun terbaik yang akan dipakainya di malam spesial tersebut. Namun sayang, kejadian di malam final HSBL yang membawanya memasuki Retrouvailles telah merubah segalanya.


Dan meski Line Grup trio Kwek Kwek mereka sepi. Karena Hanum dan Bening sama sekali tak pernah membahas apapun tentang prom night. Namun ia tahu pasti jika mereka sedang excited mempersiapkan penampilan untuk perhelatan nanti malam.


Terbukti Grup kelas IPA2 sejak tadi pagi sudah ramai dipenuhi oleh sahutan anak-anak yang membahas tentang prom night.


Ia masih memandangi kertas berwarna hitam itu dengan masygul ketika Cakra muncul dari arah garasi sembari menenteng helm.


"Eh, nungguin?" seloroh Cakra yang langsung meletakkan helm di lantai teras. Kemudian mencuci tangan di bawah kran air.


"Kamu dari mana?" cibirnya sambil memasukkan potongan terakhir cokelat almond ke dalam mulut.


"Ambil SKHUN," jawab Cakra yang kini telah mendudukkan diri di lantai teras sambil menyelonjorkan kaki.


"Banyak yang ambil?" tanyanya ingin tahu.


"Cuma aku," jawab Cakra sambil terkekeh. "Nggak tahu juga kalau ada anak lain yang ambil."


Ia kembali mencibir seraya memperlihatkan selembar kertas yang sedari tadi dipegangnya.


"Apaan?" Cakra bangkit untuk mengambil kertas dari tangannya.


Kemudian menatapnya dalam-dalam, "Kamu mau datang?"


"Kamu?" ia balik bertanya.


Namun tanpa siapapun bisa menduga, Cakra justru terbahak.


"Kenapa ketawa?!?" salaknya sebal.


"Aku nggak daftar, nggak punya tiketnya. Jadi...nggak bisa ikut," jawab Cakra seraya tersenyum.


"Tapi kalau kamu mau datang, nanti aku antar," lanjut Cakra cepat.


"Kenapa kamu nggak daftar?" tanyanya heran. "Semua anak excited pingin ikut prom."


"Ya, kecuali anak-anak Rohis (rohani Islam) seperti Khalid mungkin nggak akan ikut," ralatnya kemudian.


"Tapi kamu kan bukan anak Rohis," cibirnya sebal.


"Mantan kamu bukannya bertebaran dari ujung ke ujung?!" decihnya lagi sembari memutar bola mata.


Sontak membuat Cakra kembali tergelak. Namun sejurus kemudian berkata dengan mimik yang lebih serius, "Tiketnya nggak kebeli."


"Sayang, Ja," lanjut Cakra lagi. "Duit sebanyak itu bisa buat modal jualan Kak Pocut di pasar kaget hari Minggu pagi."


"Masih nyisa banyak malah," Cakra tersenyum. "Kalau kamu mau ke sana, nanti aku antar."


***


Dipa


Ia menepikan kemudi ke sebelah kiri jalan. Memasuki halaman sebuah gedung megah berarsitektur khas Yunani. Bertuliskan The PARA - The Grand Ballroom.


Sebuah gedung pertemuan di kawasan strategis Dharmawangsa yang memiliki desain arsitektur bergaya American Colonial ini bercat putih bersih. Dengan ciri khas berupa belasan pasang pilar kokoh ala Yunani yang berdiri elegan di area depan gedung.


Lengkap dengan ukiran dekoratif serta jendela-jendela yang tinggi menjulang. Elemen kemewahan khas Eropa yang berhasil membuat gedung ini terlihat kontras dengan bangunan lain yang ada di sekitarnya.


Setelah memarkir kendaraan sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh petugas. Ia mulai berjalan memasuki gedung.


Kehadirannya langsung disambut oleh kemegahan crystal ball chandelier berdesain mewah dengan sentuhan warna emas. Menggantung di langit-langit yang menjulang tinggi.


Dengan pemandangan seliweran anak-anak Pusaka Bangsa yang tampil stand out mengenakan gaun karya desainer ternama. Sementara para siswa laki-laki makin terlihat gagah dengan setelan jas lengkap atau tuxedo.


"Woii, Dip!" seseorang memanggil namanya.


Ternyata beberapa anak IPA1 tengah berfoto bersama dengan latar photobooth keren yang telah disiapkan oleh panitia.


Terlihat ada tiga buah photobooth yang lumayan menarik perhatian. Masing-masing memiliki tema berbeda. Ada memories forever yang berlatar lukisan kegiatan yang mereka lakukan sejak MOS hari pertama hingga serangkaian ujian kelulusan kemarin.


Kemudian Love and Beyond dengan latar penuh romantisme berhiaskan bunga segar dan segala pernik unik.


Terakhir See You on Top! Menggambarkan beberapa profesi masa depan yang diimpikan oleh sebagian besar anak lulusan SMA seperti mereka.


Namun entah mengapa, prom night kali ini benar-benar hambar. Sama sekali tak menarik.


Sejak awal ia bahkan hanya duduk diam sambil menikmati minuman bersoda. Tak mempedulikan hingar bingar keriuhan teman-temannya di lantai prom karena penampilan ciamik band pembuka dan dancer Pusaka Bangsa yang begitu atraktif.


Yang untuk ke sekian kali matanya kembali terhenti pada kolom komentar bertuliskan, "Congrats, Dipa."


Ucapan selamat dari Anja padanya usai pengumuman hasil seleksi SNMPTN rilis. Kalimat yang cukup singkat, padat dan jelas. Namun berhasil membuatnya tersenyum berkali-kali.


"Oiii!" seseorang tiba-tiba menepuk punggungnya dengan cukup keras. "Disini rupanya!"


Namun ia hanya menoleh sekilas ke arah Yasser yang telah mendudukkan diri di sebelah kanannya.


"Gila, cewek-cewek mendadak jadi Cinderella semua," gumam Yasser dengan mata penuh atensi menyisir keseluruhan orang yang berada di dalam ballroom.


"Si Tiara norak bet kek tante tante," ujar Marshall yang kini ikut mendudukkan diri di sebelah kirinya.


"Tapi seksi abissss," seloroh Yasser sambil terkekeh.


"Backless berbelahan dada rendah yang memperlihatkan kaki jenjang....," gumam Marshall sembari menggelengkan kepala.


"Wow! Si Nigel nggak perlu kerja keras buat throw them out," lanjut Marshall sambil terbahak. "Lovely....."


"Si an jir!" Yasser mencibir. "Otak lo isinya selang kangan mulu!"


Namun ia tetap tak bergeming. Lebih memilih untuk menscroll feed sosmed Anja. Daripada menanggapi jokes menjurus Yasser dan Marshall yang sama sekali tak menarik perhatiannya.


Sementara di panggung, Dave dan Lakesya yang didapuk menjadi MC. Tengah mengumumkan beberapa hasil pooling yang telah mereka kumpulkan sejak sebulan lalu.


Antara lain gelar best sosmed yang berhasil diraih oleh Camelia. Best Friends yang jatuh kepada Anja, Hanum, dan Bening.


Best Personality untuk Khalid. Namun sayang, karena Khalid tak mengikuti acara prom. Penyerahan selempang diwakili olehnya sebagai ketua kelas IPA1.


Kemudian ada best proposal yang pastinya direbut oleh Faza dan Hanum. Couple yang sempat terjebak dalam friendzone itu akhirnya memproklamirkan diri sebagai pasangan kekasih.


Sementara King and Queen baru akan diumumkan di akhir acara.


Kini mereka tengah menyaksikan pemutaran film akhir tahun yang digarap oleh anak-anak Cinema. Yang sejatinya dibintangi ia dan Anja. Namun di detik terakhir harus digantikan oleh Tiara.


Tapi Yasser sang sutradara masih menampilkan beberapa potong adegan yang sempat dilakoni Anja dalam scene dibuang sayang. Membuatnya kembali tersenyum sendiri mengingat masa-masa itu.


Usai pemutaran film akhir tahun juga tayangan kegiatan mereka selama 3 tahun menuntut ilmu di Pusaka Bangsa. Kini tibalah acara say it with love.


Berisi curahan hati mereka semua selama bersekolah di Pusaka Bangsa. Ada yang memanfaatkannya untuk menyatakan cinta. Namun lebih banyak lagi yang menjadikan say it with love sebagai ajang mengakui kesalahan sekaligus permintaan maaf.


Dan dari beberapa yang telah tampil, kini mulai terdengar suara isakan kecil atau tangis yang tertahan dari beberapa orang di sekelilingnya.


Suasana syahdu yang berhasil menggerakkan tangannya untuk menyimpan ponsel di dalam saku jas. Kemudian mulai memusatkan perhatian ke atas panggung.


Yang kini tengah menampilkan ucapan maaf dari Juna. Berandal dari berandalnya Pusaka Bangsa.


"Jujur gue memang brengsek," ujar Juna yang sehari-hari tampil sangar namun saat ini terlihat begitu penuh penyesalan.


"Tapi gue tahu kalau gue harus berterima kasih banyak ke beberapa anak di kelas gue," suara Juna mulai tercekat.


"Karena kalian selalu ingatin gue tentang masa depan."


"Meski gue acuh, gue nolak, bahkan gue bersikap kasar...."


Juna terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali berkata dengan suara yang hampir tak terdengar, "Gue di sini mau minta maaf sama siapapun yang pernah kecewa atau sakit hati karena sikap gue."


"So sorry guys...."


"See you all on top!"


Pernyataan isi hati paling tak terduga yang berhasil membuat suara isak tertahan di barisan para cewek semakin bertambah.


Dan permintaan maaf Juna lah yang berhasil menggali pikirannya tentang satu hal yang akhir-akhir ini cukup membuat hati gelisah. Namun harus terhenti karena Aldi telah lebih dulu berdiri di atas panggung.


"Gue mau minta maaf ke beberapa orang," gumam Aldi dengan kepala tertunduk dan ekspresi wajah yang tak terdefinisikan.


"Yang pertama, gue minta maaf ke kalian semua karena kemarin udah bikin heboh satu sekolah."


"Kedua, mungkin ucapan gue ini percuma."


"Tapi gue harap dia tahu, kalau gue ngaku salah."


"Dan gue minta maaf."


Mendorong impuls menggerakkan kakinya untuk melangkah panjang-panjang ke atas panggung.


"Eh, Dip!" Yasser terperanjat melihat geriknya.


"Mau kemana lo?!" Marshall pun tak kalah kagetnya.


Namun ia telah lebih dulu berlalu. Sama sekali tak menghiraukan keterkejutan Yasser dan Marshall.


"Woo, Dipa," seru Dave dengan dahi berkerut demi melihatnya langsung naik ke atas panggung. Sementara Aldi masih belum menyelesaikan ucapannya.


"Gue juga minta maaf kare....," Aldi rupanya memiliki sederet permintaan maaf yang lumayan panjang.


"Wait a minute bro," lanjut Dave berusaha menahan dadanya agar tak mendekat ke tengah panggung.


Ia pun mengangkat kedua tangan seraya tersenyum, "It's okay, Dave. Gue cuma mau ngomong habis Aldi."


"Oke," Dave mengangguk. "Tunggu sebentar."


Ia pun mengikuti saran Dave dengan berdiri di sisi panggung sambil menunggu Aldi menyelesaikan kalimatnya.


Begitu Aldi turun dari panggung melalui sisi yang lain. Hingga mereka tak harus saling berpapasan jalan. Ia langsung menyambar microphone dari tangan Dave. Kemudian mulai bicara.


"Ada dua cara paling alami dimana cinta bisa tumbuh." ®


"Pertama, cinta tumbuh saat seseorang mulai peduli."


"Dan yang kedua, cinta tumbuh saat orang yang selalu ada dan peduli....udah pergi dari kehidupan lo."


Ia sempat terdiam sebentar sebelum kembali bicara dengan nada suara yang sedikit berbeda, "Jadi kalau sekarang, di samping lo ada orang yang selalu memperhatikan."


"Selalu mempedulikan elo, lebih dari dia peduli pada dirinya sendiri."


"Selalu bersikap baik meski seburuk apapun sikap elo ke dia."


"Bahkan setelah elo sering bertingkah like a shit. Tapi dia masih menginginkan kebaikan terjadi dalam hidup elo."


"Sumpah, Man," suaranya mulai tertahan di tenggorokan. "Jangan jadi orang bodoh dengan mengabaikannya."


"Jangan jadi pecundang dengan selalu mengecewakannya!"


"Karena lo semua harus tahu. Ketika dia mulai nggak peduli."


"Mulai lelah nungguin elo bisa bersikap lebih gentle ke dia."


"Lo bakalan nyesel setengah mati!"


Meski matanya menatap nyalang ke seluruh audiens. Namun kepalanya justru dipenuhi oleh,


 -------------


Sekelebatan bayangan Anja yang menyeret boneka sambil tersenyum memperlihatkan sederet gigi gupis yang menghitam.


"Hai, Om, baru pindahan ya?"


"Dipa...Dipa...aku punya kucing baru namanya Candy. Lucu deh. Kamu mau lihat nggak?"


"Kamu olahraga kok males-malesan gitu sih. Percuma tahu nggak."


"Dipaaaa?!? Ya ampuun, kamu sekolah disini juga?" sambut Anja terlalu antusias begitu melihatnya memasuki kelas untuk pertama kali.


"Aku seneneeeng banget kita bisa sekelas," ujar Anja lagi dengan senyum merekah dari telinga ke telinga.


"Dipa, gue titip Kuro sama Chloe yaa," ujar Anja yang berdiri di depan pintu rumahnya sambil tersenyum lebar membawa dua ekor kucing.


"Baik baik sama Papap Dipa yaaaa......"


"Kuroo....Chloeee....," Anja mulai memanggil-manggil dua kucing kesayangannya. "Where are you nooow....."


Kemudian bayangan tentang Anja yang menangis, meraung, menghentak, mengamuk, begitu mengetahui jika Kuro dan Chloe telah mati seolah sedang diputar kembali di depan mata.


 -------------


Namun wajah-wajah penuh rasa ingin tahu yang menanti kelanjutan kalimatnya kembali melemparkan dirinya ke waktu sekarang.


"Dan kalau dia....ketemu orang lain yang lebih bisa menghargai."


"Lo bakalan lebih dari nyesel setengah mati, Man!"


"Alias lo bakalan nyesel seumur hidup!"


"Karena begitu menyadari perasaan elo yang sesungguhnya ke dia."


"It's too late...."


"Hatinya udah dimiliki orang lain."


"Dan nggak akan pernah kembali."


***


Keterangan :


®. : original briliant idea from lovely reader 🤗